
*Fathin
Seperti biasa setelah shalat shubuh, Ia akan memulai hari dengan membaca Al-Qur'an, Surah Yasin hingga selesai. Dengan niat semoga semua urusannya dimudahkan Allah SWT. Ini telah menjadi amalan harian yang istiqamah Ia lakukan selama beberapa tahun belakangan.
Berawal ketika Ia berkunjung ke rumah Nenek untuk temu kangen bibinya yang sedang liburan keluarga di kampung.
Ia mendapati Bibi sedang duduk melingkar bersama keluarga kecilnya di ruang tengah rumah Nenek. Mendengarkan paman Risyad, Suami Bibi, yang sedang membaca ayat-ayat suci Alquran dan Hadits- hadits Nabi SAW, dari kitab yang berjudul Fadhilah Amal. Menurutnya semacam dauroh yang biasa diikutinya di sekolah. Tapi beda versi.
Melihatnya datang, Bibi memberi kode yang menyuruhnya ikut duduk. Di menit kesekian, Ia mulai ikut terbawa suasana haru mendengar Om Risyad membacakan kisah pengorbanan ibunda Kahadijah R.ha saat menemani perjuangan Baginda Nabi SAW di awal-awal dakwah Beliau.
Salah satu yang Ia rasa menarik dan melekat di ingatannya kala itu adalah tentang fadhilah membaca Surah Yasin yang berbunyi,
"Barang siapa yang membaca surat yasin dari pagi hari, maka pekerjaan dihari itu dimudahkan dengan keberhasilan, dan jika membacanya diakhir suatu hari maka tugasnya hingga pagi hari berikutnya akan dimudahkan juga.” (Sunaan daarimi juz 2 halaman 549).
Sejak itu, Ia mulai menjadikan surah tersebut sebagai bacaan rutin tiap ba'da shubuh dan sebelum tidur jika sempat, hingga sekarang.
"Shadaqallaahul 'Adziim!" Ia mengakhiri bacaannya. Menutup Al_Qur'an itu dan menciumnya penuh takzim .
"Fathin, hari ini jadwal tes SPMB nya, yah?" Ayra bertanya sambil merapikan tempat tidur.
"Ia kak, doa'in, yah!" pintanya lalu beranjak meletakkan Al-Qur'an dan alat shalat di lemari box miliknya.
"Iyah, InsyaAllah kamu lulus! NEM kamu tinggi dan kakak yakin kamu bisa beresin soalnya dengan baik!" semangatinya Aira penuh optimis.
"Aamiin! trimakasih kak do'anya!" ucapnya tulus. Senyum terlampir di wajah cantiknya.
"Iyah, sama-sama, sayang! Ya udah, kamu siap-siap, gih! biar nggak telat ke kampusnya!" sahut Aira lembut. Membuatnya seakan mendapat tambahan injeksi spirit baru.
**
Ia sedang merapikan jilbab di depan cermin. Melihat pantulan wajah cantiknya di sana. Ia tersenyum manis melihat Zahra yang cengengesan di sana menatapnya lucu.
"Udah cantik Tuan putri! tuh, Pangeran berkuda nya udah dateng!" Zahra berucap menggodanya.
"Hehehe, bisa aja! Iya, kak, ini udah mau keluar, kok!" Ucapnya sembari merapikan isi tasnya .
Setelah berpamitan kepada seluruh penghuni rumah, Ia buru-buru keluar menemui Azhar yang setia menunggunya di atas motor besarnya. Kali ini Ia selamat lagi sebab Ibu Masyitah sedang ke luar kota. Jadi, aksi gilanya ikutan tes seleksi masih aman.
Azhar langsung memasang helm di kepalanya. Sekilas mereka seperti sepasang kekasih dengan adegan seperti itu. Tapi tidak, bagi mereka berempat, perlakuan seperti itu adalah hal biasa.
"Let's Go!"
Ia berpegang di bahu Azhar untuk memudahkannya naik di atas motor besar tersebut.
Masih ada waktu empat puluh lima menit sebelum jadwal ujiannya. Azhar melajukan motornya dengan kecepatan sedang di keramaian jalan kota. Saat berhenti di lampu merah tepat di depan Alun- Alun MTQ, Azhar tiba-tiba teringat sesuatu.
"Fhat, kita udah dapat tempat kostan yang bagus untuk kamu sama Mitha. Itu khusus untuk putri. tempatnya di lorong Kambu, deket masjid. Nggak jauh, kok, dari kampus!"
"Abis ujian ntar kita kesitu barengan semua!" Azhar sedikit berpaling kebelakang agar suaranya bisa terdengar olehnya.
"Oh ya? Thank's, yah, Zar! Kalian emang the best friends!" Ia pun melakukan hal yang sama, ikut mendekatkan wajah ke depan.
"Gombal!" teriak Azhar menggoda.
"Ihh, beneran, kalian yang terbaik pokoknya!" Ia tergelak bersama tepukan kecil di bahu sahabatnya itu. Azhar ikutan terbahak.
Mereka tiba di kampus beberapa menit sebelum ujian dimulai. Sudah banyak CaMaBa yang berjubel memenuhi setiap sudut kampus. Wajah-wajah itu sama, bahagia bercampur khawatir. Bahagia sebab akhirnya bisa berada di kampus idaman ini. Khawatir membayangkan bagaimana model ujiannya sebentar lagi.
"Kita disini dulu tunggu Akram ama mitha!" ucap Azhar setelah memarkirkan motornya.
Ia melihat Azhar merogoh saku, mengeluarkan ponsel hendak menelfon Akram, tapi tiba-tiba Ia mendengar suara Mitha memanggil.
"Baru mau ditelfon, orangnya dah nongol!" ucapnya sambil memeluk sahabatnya Mitha.
Setelah ber high five dan basa-basi sekedarnya, mereka pun bergegas menuju ruangan masing- masing.
"Perlu diantar nggak?" tawar Akram cengengesan.
"Ih, apaan, sih! Eh, kita tuh udah mau kuliah ya, guys! Aturan mainnya udah harus lebih fleksibel. Kita nggak mau ya, jadi jomblo sejati !" kerucuti Mitha bibirnya.
"Kamu aja kali yang bakal betah ngejomblo. Fathin kayaknya udah ada tuh yang keppoin!" balas Akram tidak ingin kalah.
"Eh, Maksudnya?" Ia mengernyit kearah Akram. Sejurus kemudian melirik Azhar yang masih dengan wajah datarnya, menandakan ketidak respekkannya.
"Kamu dicari-cari tuh ama Bang Fahry, waktu aksi kemaren di Bombana! Kayaknya si Abang suka ama situ, Neng!" Akram melampirkan senyum menyebalkannya.
Baru saja Mitha hendak menimpali tapi Azhar lebih dulu menyela,
"Udah, Cut, cut! Kita sambung nanti! Pulangnya kita kumpul di parkiran!"
Sebelum berpisah, mereka masih sempat mendengar Mitha berucap tidak puas,
"Eh, kalian masih utang penjelasan yah soal ini!"
"Dasar miss Keppo!" Ketiganya tergelak.
"Biarin!" Mitha mencebik.
Sepanjang koridor setiap gedung yang Ia lewati, semua dipenuhi para peserta tes seleksi. Ia sebisa mungkin menenangkan hatinya yang sedari tadi was-was membayangkan model soal tesnya.
Sembari melangkah, batinnya sibuk menggumankan sebait Do'a,
"Semoga Allah Swt berkenan mempermudah segalanya! Aamiin!"
Ia menaruh harapan besar dalam hal ini. Ia Ingin lulus. Lalu, kuliah tanpa membebani Ayah dan Ibu, dan kelak bisa membanggakan keduanya dengan prestasi terbaiknya.
"Semoga Ayah dan Ibu mengizinkan jika Aku lulus tes nanti ya Allah! Lembutkan hati keduanya untuk meridhoi ini ya Robb! Aamiin!"
Ia begitu asyiik melangkah dengan pikiran dan Doa-doanya, tiba-tiba,
Buugghhh....
Ya, ampuunn! Ia menabrak seseorang...
__ADS_1
____ _ __
* Fahry
Hari ini sebenarnya belum ada kegiatan yang berarti baginya di kampus. Tapi Ia memutuskan untuk tetap ke kampus mengingat ini hari pertama tes SPMB yang akan diikuti oleh puluhan ribu bakal mahasiswa baru. Berjuang memperebutkan kursi akademik di kampus hijau tersebut.
Pasti hari ini menjadi moment paling mendebarkan bagi mereka semua yang ada disana. Yahh! Ia tahu rasanya. Bagaimanapun Ia pernah di posisi itu tiga tahun silam.
Ia menjadi lebih bersemangat masuk kampus hari ini. Berharap bisa bertemu Fathin, si gadis baju kuning yang sukses membuatnya penasaran setelah dua tahun belakangan vacum dari dunia asmara.
Ia sedang berjalan di koridor gedung IPA menuju gedung aula FKIP, tiba-tiba ponselnya bergetar pertanda ada panggilan masuk. Ia menunduk merogoh saku berusaha mengambil ponselnya dan,
Bugghhh....
Ada seseorang yang menabraknya.
"Ya Allah! Shhsshshh!" Ia mendesis tertahan.
"Maaf, maaf, Kak! Saya nggak sengaja! Saya lagi buru-buru!" Ucap seorang gadis seraya menunduk memunguti ponsel miliknya yang jatuh akibat tubrukan barusan.
Ia tidak menyahut. Memilih membiarkan gadis itu dengan tatapan sedikit tajam.
"Ini, Kak! So sorry!"
Seketika pandangan keduanya beradu.
"Kamu!"
"Eh, Abang!"
Mendadak lidahnya kelu. Bahkan stock kata basa-basinya mendadak hilang. Hatinya seketika menghangat mendapati kenyataan, ternyata gadis yang menabraknya barusan adalah si gadis baju kuning yang sangat Ia harapkan untuk dijumpainya.
Ya, Fathin, gadis dengan tatapan mata sendunya tapi menghujam itu menatapnya. Kian menambah ritme keterpakuannya. Ia mulai melemahkan pandangan matanya.
"Cantik sekali!" Gumamnya kemudian.
"Ehhmm, permisi, ini ponselnya, Bang! Maaf skali lagi, saya bener-bener nggak sengaja!" Ucap Fathin sembari menyodorkan ponsel miliknya.
"Eh, oh, ya, It's Ok! Thanks! Ehhmm, btw, Kamu udah dapat ruangannya?" Ia berdehem mencoba menutupi keterpakuannya.
"Udah, Bang! Saya di ruangan Sejarah 1!"
"Kalau gitu, Saya duluan, ya, bang! Bentar lagi udah mau masuk soalnya!" Pamit Fathin padanya sambil mengangguk bersama senyum manisnya.
"Oh, Iya, silahkan! Slahkan! Good Luck!!" Ucapnya sembari memberi haluan agar gadis itu bisa lewat.
Ia masih menatap kepergian Fathin sembari menyenderkan bahunya di salah satu tiang koridor di sana. Menyilangkan tangannya di dada berlagak memijit ujung hidungnya, menyembunyikan senyum simpulnya.
"Sial! Kenapa senyumnya sebegitu membunuhnya, sih!" Gumamnya sambil geleng-geleng kepala masih dengan senyum simpulnya.
Ia teringat panggilan masuk di ponselnya sebelum insiden tubrukan tadi. Buru-buru Ia menghidupkan ponselnya dan memeriksa siapa yang memanggil. Dilihatnya nama Husnul di sana. Dia pun langsung mendial nomor tersebut.
"Iya, Nul?"
"Kampus, kenapa?"
"Hahahaaha! Niat banget, Bang, intelin tuh maba!" Husnul terbahak di sana.
"Jangan Fitnah!"
"Hahaha! Ayolah, Bang! I know you well!"
Ia tidak mengindahkan kicauan rekannya di seberang.
"Btw, dicari tuh sama Bang Hady WALHI (Wahana Lingkungan Hidup). Barusan beliau nelfon!"
"Katanya nomor Abang nggak aktif ditelfon dari semalem! Kawan-kawan di sana ngajak diskusi lepas soal efek tambang yang lagi jalan di Kabaena Timur!"
"Oh, bolehlah, kapan?"
"Ntar malam di Royal's Cofee sekitar jam delapanlah!"
"Ok! Kita sampein ke semua anak-anak pengurus!"
"Siyaaap, Bang!" husnul mengakhiri panggilan di sana.
___ ____ __
*Fathin
Ia bernafas lega saat dirinya keluar dari ruangan ujian. Hari pertama finish dengan membahagiakan walau sedikit melelahkan. Ia dengan mudah menjawab lembar- lembar soal yang diberikan.
Ia berjalan sambil merogoh tasnya mencari tisyu. Tapi tangannya meraba dompet di dalam sana dan seketika Ia teringat hari ini Ia harus bertemu kak Dian untuk mengembalikan uang yang dipinjamnya untuk mendaftar beberapa hari yang lalu.
"Tapi dimana Aku akan mencari kak Dian di kampus seluas ini?"
Lagian ini bukan hari aktif perkuliahan. ditambah lagi Ia tidak memiliki ponsel untuk menghubungi kak Dian untuk menanyakan posisinya. Akhirnya pilihan pertamanya Ia akan ke mushola dulu.
"Kak Dian kan aktifis. Kayaknya dia ikut rohis juga. Kemaren di Sekret Aku liat kak Dian berhijab besar!" Batinnya sambil mengayunkan langkahnya ke mushola.
Ia mengitarkan pandangannya dari teras hingga ke dalam. Benar saja, Ia mendapati Dian sedang berdiskusi bersama beberapa senior berhijab lainnya.
"Assalaamu'alaikum, ukhty!" Seorang gadis berhijab rapi tiba-tiba datang menghampiri dan menyalaminya.
Ia pun mencoba tersenyum ramah kepada gadis yang Ia duga pasti senior.
"Ada yang bisa dibantu? Ayo Masuk kedalam, dek!" Ajak gadis berhijab itu sambil mengangguk ke arahnya.
"I_iya Kak! Terimakasih, tapi maaf, Kak saya lagi berhalangan ( Haidh)! Saya ada perlu sedikit sama Kak Dian!"
Dian Mendengar namanya disebut langsung menoleh dan ketika melihatnya Ia tersenyum dan beranjak ke arahnya.
Gadis yang bersamanyapun meminta diri kembali ke dalam mushola. Ia pun tersenyum dan mengangguk ramah.
__ADS_1
"Eh, Fathin, Assalaamu'alaikum!" Dian menyalami dan memeluknya sambil cipika-cipiki ( Cium pipi kanan- cium pipi kiri ). Membuatnya sedikit canggung. Pasalnya selama ini dia hanya terbiasa berhighfive plus berpelukan dengan sahabatnya Mitha jika sedang hega atau melepas rindu kala berjumpa. Ia tersenyum dalam hati.
"Wa'alaikumsalaam, Kak!"
"Gimana tadi, Lancar?"
"Alhamdulillah, Kak lancar!"
"Ayo masuk! Kita ngobrolnya di dalem ajha!" Dian meraih tangannya hendak membawanya ke dalam.
"M_maaf, Kak, saya lagi halangan. saya cuma mau ngembaliin ini!" Ia merogoh tasnya dan mengambil Uang yang sudah diamplopnya dan menyerahkannya pada Dian.
"Trimakasih banyak yah, Kak!" Ucapnya tersenyum.
"Ooh, ini, nggak usah, Dek! Udah dibayar ama seseorang soalnya!" Dian berbinar bersama senyum terkulum.
"Maksudnya, Kak, syp?" Ia mengernyit tak mengerti.
"Jadi waktu itu Saya ditelfon sama Bang Fahry, disuruh ngasi kamu uang, katanya kamu lupa bawa uang pendaftaran. Dia bilang nanti dia yang ganti, ya makanya saya kasi kamu, gitu!" terang Dian padanya.
"Kok bisa? Tapi saya nggak ngomong apa-apa ke Bang Fahry, kenapa dia bisa tau yah kalau Saya nggak bawa uang waktu itu?" Gumamnya dengan suara yang masih bisa terdengar oleh Dian.
"Kalau kamu mau kembaliin uangnya, langsung aja ketemu orangnya. Tuh di aula lagi ngumpul sama anak- anak HMJ (Himpunan Mahasiswa Jurusan )!" Ucap Dian sambil menunjuk ke arah gedung tingkat dua yang ada di depan mushola.
Setelah berbincang sedikit dengan Dian, Ia pun pamit dan seperti halnya saat bertemu, saat hendak berpisahpun ternyata ritual salam, berjabat tangan, berpelukan plus cipika-cipiki tetap harus berlaku sama.
Sudut bibirnya tertarik. Ia mulai faham dengan mode ini.
Dengan sedikit ragu akhirnya Ia melangkahkan kakinya menuju aula FKIP tempat di mana Fahry berada.
Ia berjalan menunduk dengan perasaan gugup. Pasalnya ucapan Akram tadi pagi sebelum berpencar kembali bermain di kepalanya. Belum lagi di sepanjang koridor yang Ia lewati hampir semua cowok yang dilaluinya memandangnya tak berkedip. Ia sampai menelisik penampilannya, khawatir ada yang salah. Tapi nyatanya semua biasa saja.
"Biasa aja kali Fathin kalau bang Fahry nanyain, dia kan ketua jadi itu bagian dari responsibility sebagai seorang pemimpin!" Batinnya merutuki kegeerannya.
Ia sampai di lantai dua gedung tersebut dan berjalan menuju aula. Tapi langkahnya terhenti ketika Ia mendengar gelak tawa bersamaan yang berasal dari dalam Aula. Ia jadi ragu sepertinya di dalam sedang banyak orang. Dan bisa dipastikan yang ada di dalam pasti semua adalah senior-senior.
Setelah menimbang-nimbang, akhirnya Ia memutuskan untuk menunggu di luar ruangan aula. Sepuluh menit kemudian Ia melihat gerombolan senior itu keluar dari sana.
Pandangannya seketika mendapati sosok yang dicarinya sedang berjalan sambil berbicara dengan salah satu dari mereka yang sejurus kemudian mengangkat wajah, melihat ke arahnya setelah mendengar beberapa dari mereka berteriak,
"Woyy, Ada yang bening, Guys!"
Demi menghindari tatapan buas dan gangguan para senior cowok itu, Ia pun langsung berjalan cepat ke arah Fahry yang yang sedang ikut menatapnya sedikit tajam.
"Fathin! Kamu ngapain di sini? Cari siapa?" Fahry berjalan menghampirinya dan dengan refleks meraih tangannya. Membawanya menjauhi kerumunan di sana.
Telinganya masih sempat menangkap suara-suara riuh tersebut yang mengatakan mereka berdua pasangan yang klop. Membuat kian memperbesar ruang kegeeran di kepalanya. Tapi buru-buru Ia tepis mengingat style Bang Fahry dari segala segi terlalu perfect untuk seorang yang biasa saja sepertinya.
"Sadar, Fathin! Sadar! Ngimpinya jangan kelewat tinggi. Babak belur ntar kalau jatuh!" Rutuknya dalam hati.
Mereka sampai di ujung balkon dan berhenti di sana.
"Bang, ini tangannya dilepas dulu!" Wajahnya meringis bersamaan matanya melirik ke arah tangannya yang digenggam erat oleh Fahry.
Bukan apa-apa, Ia sudah tak sanggup menenangkan degupan jantung yang sedari tadi Ia rasa hendak meletupkan dadanya. Keringat dingin mulai membulir di keningnya. Telapak tangannya mulai basah oleh keringat.
"Eehh, oh iya, So-sorry! Saya nggak sengaja! Itu tadi refleks soalnya saya nggak suka kamu digangguin sama anak-anak!" Fahry melepas genggamannya.
"Eh, Kamu kesakitan yah? Ini kamu sampe keringetan gini, Sorry!" Ia melihat dengan refleks Fahry menyeka keringatnya dengan telapak tangannya.
"Ya Ampun....! Ya Tuhan! Tolong Aku, Aku ingin pinsan!" Teriaknya membathin.
Bagaimana tidak, baginya ini adalah The First Touch From Someone.
"Kamu ngapain di sini?" Ulang Fahry pertanyaannya.
Fathin tersadar dari kegugupan yang hampir membunuhnya. Membuatnya seketika ingat akan tujuannya.
"I_ini, Bang! Saya mau ngembaliin yang ini!" Sahutnya bergetar sambil menyodorkan amplop yang sama yang diberikan pada Dian sebelumnya.
"Apa ini ?" Fahry mengernyit tak mengerti.
"Ini Uang yang dikasi pinjam sama Kak Dian kemaren, Saya udah kasi ke kak Dian tadi tapi katanya sudah diganti sama abang!"
"Trus katanya kalau emang niat ganti ngembaliinnya sama ABang aja. Ya udah saya akhirnya ke sini nyari Abang disuruh Kak Dian!" Terangnya sembari mencoba menetralisir kegugupannya dengan melampirkan senyum semanis madu.
"Astaga!! Senyum itu!" Fahry malah terbengong membatin di sana.
"Nih!" Fathin mengulang ucapannya.
"Ohh, itu, nggak usah! Itu sudah menjadi bagian dari tanggung jawab saya selaku ketua untuk memastikan semua anak-anak di Hippelwana merasa aman dan terayomi dengan baik. So, Saya harap kamu bisa menerima ini tanpa merasa terbebani!" Fahry berbicara panjang lebar sambil tersenyum ke arahnya berharap bisa mencairkan kecanggungan antara keduanya.
"T_tapi, Bang!"
"Udah, udah ya, Pokonya ini bukan permintaan tapi perintah!" Fahry memotongnya cepat. Membuatnya tidak bisa berkutik.
"Oh ya, abis ini kamu mau kemana?" Pertanyaan Fahry sontak mengingatkannya pada Azhar dan yang lain. Mereka pasti sudah lama menunggunya bersama omelan Mitha.
"Astaga! Sampe lupa, Saya janjian ama yang lain mau liat-liat tempat kost untuk Saya sama mitha!"
"Ya udah, sini saya antar kamu ke tempat mereka!" Fahry mengajaknya jalan.
Fathin sedikit ragu tapi pada akhirnya Ia hanya mampu mengangguk tanpa bisa protes. Memilih mengikuti langkah kaki Fahry di sampingnya.
Sepanjang jalan tak henti-hentinya para senior-senior yang mengenal Fahry menggoda mereka. Terang saja mereka mengenal Fahry. Wajah tampan dengan seabrek prestasi akademik. Sering mewakili kampus dalam beberapa debat bergengsi di beberapa kampus besar di Indonesia. Aktif di beberapa organisasi intra kampus, sedang menjabat ketua HMJ. Belum lagi pergaulannya yang begitu baik dengan klan-klan besar di kampus, membuat namanya di gadang-gadang akan diusung menjadi calon ketua BEM Fakultas menggantikan Herdin rekannya.
Dari jauh Ia bisa melihat ekspresi ketiga sahabatnya yang menatapnya penuh selidik. Mitha dengan wajah keponya. Akram seperti biasa dengan smirk menyebalkannya, dan tentu saja si Azhar dengan wajah datarnya. As Usual!
"What's Happen?"
*****
Next >>>
__ADS_1