
*Fathin
Sudah tiga hari giat perkuliahan berjalan. Dan selama itu pula Yusuf stand by mengantar-jemputnya di kampus, sebab bertepatan pria itu juga sedang sibuk mengurus pengajuan judul skripsinya.
Azhar yang sudah tau sikon pun akhirnya memilih vacum dari tugas antar-jemput itu. Sahabatnya tersebut malah terkesan menghindarinya beberapa hari belakangan. Ia sampai kebingungan sendiri menyadari perubahan sikap Azhar padanya. Tapi untuk bertanya, Yusuf selalu tak memberinya celah untuk itu.
Setiap pulang kuliah si pemaksa itu selalu on time menunggu di parkiran facultas. Dan tentu saja tak ada acara mampir sana-sini setelah itu. Ia harus secepatnya pulang istrahat sebab setelahnya Ia masih harus latihan. Besok malam adalah hari dimana mereka akan tampil di acara opening MTQ jadi waktu latihan kian total.
Yusuf benar-benar memperhatikan bahkan pada hal-hal kecil tentangnya. Ia yang tidak boleh capek lah, tak boleh begadang, tak boleh telat makan, waktu belajar harus tetap jadi prioritas meski cuma sebentar dan yang paling sering diulang-ulang oleh si pemaksa itu adalah masalah shalat. Pria itu sama sekali tak memberinya kompensasi untuk menunda shalatnya. Menurutnya Yusuf sudah seperti Paman Risyad yang terlalu ketat mengatur masalah shalat dalam rumahnya.
Tapi Ia juga merasa bersyukur sebab Yusuf benar-benar berubah semenjak kembali dari khurujnya. Sifat cueknya turun di level minimal meski belum sepenuhnya hilang. Yah, Ia bisa mengerti sebab bagaimanapun merubah karakter orang itu bukan hal yang mudah.
Ia selalu mendadak tersenyum tanpa alasan saat ingatannya menghadirkan bayangan Yusuf. Bintik-bintik hitam yang mengawali tumbuhnya bulu-bulu halus di bagian dagunya menjadikan wajah tampan itu kian bercahaya dan memesona. Si pemaksa itu memang tampan. Pantaslah jika banyak wanita yang begitu tergila-gila padanya.
Membayangkan hal itu lagi hatinya kembali gelisah. Ia cemburu dan tentu saja takut suatu saat pria pujaannya itu direbut oleh yang lain. Rasanya Ia tak akan sanggup bahkan untuk sekedar membayangkannya saja.
"Emang gini yah kalau orang lagi jatuh bangun gegara cinta? suka senyam-senyum nggak jelas sendiri?" Celetuk Mitha saat keduanya sedang rebahan saat break latihan. membuat bayangan Yusuf sontak hilang dari hayalannya.
"Ishh, apaan, sih, gangguin aja. Orang lagi asyik-asyiknya juga! Gue tuh lagi ngebayangin wajah tampan Kak Yusuf yang menurut pengamatan gue, dia tuh tambah ganteng sejak abis khuruj tau nggak, sih!" Ia menimpuk pelan sahabatnya itu dengan bantal busa mini.
"Ya ya ya.. Baiklah, Si pemaksa itu emang guanteng. Makanya Lo harus ekstra hati-hati!" Mitha mulai menakutinya.
"Hati-hati? untuk?"
"Yah,, hati-hati jangan sampe di embat orang, Lo liat kan gimana ekspresi cewek-cewek kalau ketemu Abang itu?"
"Ish, nakutin gue aja Lo! serem tau!"
"Tapi kalau yang pernah gue denger, survey membuktikan, orang kayak Bang Yusuf itu type cowok setia."
"Maksud Lo?"
"Orang yang nggak gampang jatuh cinta itu biasanya kalau tiba-tiba suka sama cewek itu pasti setia dan tentu saja penyayang!" Mitha berucap seraya memainkan alisnya.
"Ummm, kalau penyayang sih iya. Tapi kadang nyebelin. Posesivnya itu Lho, Mhit, heuideh!"
"Posesiv itu sama dengan cinta mati! hihihihi!" Mitha terkikik sendiri, sementara Ia seketika mencebik mengerucuti bibir mungilnya.
"Apaan, sih! Eh, Mhit, btw, Lo ngerasa nggak sih kalau Azhar tuh kayak ngehindarin gue sejak malam markab itu?" Ia mengangkat sedikit kepalanya dengan bertumpu pada tangannya yang ditekuk.
"Iya juga yah! Iya bener, Gue juga feeling sih!"
"Menurut Lo, sebabnya apa yah? Sumpah Gue bingung dan sedih juga, soalnya Gue beneran nggak tau salah Gue apa?"
"Kayaknya Azhar cemburu, Fhat sama kedekatan Lo sama Bang Yusuf. Lo nggak liat gimana Azhar keukeh banget pengen tau gimana perasaan Lo ke Abang itu? Gue udah feeling dari dulu kalau Azhar tuh suka sama Lo!"
"Kok bisa?"
"Ya bisa lah, masa sih Lo nggak bisa ngerasain perhatian lebih Azhar ke elo selama ini?"
"Nggak, beneran, Gue kira itu semua cuma perhatian biasa seorang sahabat. Kita kan udah comitment untuk slalu menjaga persahabatan kita dengan saling menjaga, saling sayang dan saling bantu. Dan itu yang terjadi kan selama ini antara kita berempat?"
"Iya sih, tapi seringnya bersama itu kadang bisa numbuhin rasa yang lebih, Fhat!"
"Trus Gue harus gimana, dong?"
"Gue rasa Lo harus ngomong berdua dari hati ke hati. Lo harus bisa nyadarin Azhar kalau kita tuh sahabatan. Jangan gegara masalah ini kita jadi bubar. Kita udah seperti saudara malah. Kita masih akan jadi sahabat sampai kapanpun. Kalau soal perasaannya ke elo, bilang aja dia telat, kalah cepet ama bang Yusuf!"
"Lo yakin dia mau dengerin gue dan bisa trima smuanya?"
"Ck, gimana sih, Lo kan si ahli wise word, selama ini juga Lo kan yang slalu bisa jadi penengah dan pendamai di antara kita berempat? Gue yakin Lo pasti bisa!"
Ia hanya termangu mendengar ocehan Mitha selanjutnya yang tidak sepenuhnya bisa Ia dengar. Pikirannya malah melayang pada bayangan wajah datar Azhar yang selalu berdiri sebagai pengayom bagi mereka bertiga. Batinnya berkecamuk mulai mencari-cari padanan kata yang pas untuk menjelaskan dan membuat Azhar mengerti.
*
Kota kendari menjadi begitu sibuk dan riuh sejak pagi, terutama pada siang tadi. Bunyi kendaraan dari satuan keamanan gabungan dari beberapa instansi terkait menjadi pemicu keriuhan tersebut saat iring-iringan mobil yang menjemput Bapak presiden dan rombongan di Bandara Wolter Monginsidi menuju kediaman Bapak Gubernur Sultra, membelah kota.
Hampir sepanjang jalan orang-orang berdiri melambaikan tangan pada iring-iringan tersebut. Mereka begitu ingin melihat langsung wajah orang nomor wahid di negeri ini yang notabene hanya bisa dilihat di layar tv selama ini.
Bapak Presiden akan membuka Musabaqoh Tilawatil Quran (MTQ) tingkat nasional ke-21 tahun ini nanti malam pukul 20.00. Beliau beserta istrinya, Menteri Agama dan Gubernur Sultra akan meresmikan pembukaan MTQ.
Suasana di kota Kendari saat ini telah dihiasi oleh berbagai spanduk ucapan selamat datang untuk para kontingen dari 33 propinsi dan umbul-umbul berwarna-warni dari Bandara Wolter monginsidi hingga ke arena MTQ di Jalan Abunawas.
Sesuai gladi resik tadi malam, upacara pembukaan akan diisi dengan tarian kolosal oleh 1.200 pelajar SMP dan SMA kota Kendari.
Acara siang ini adalah defile para peserta yang berasal dari 33 propinsi. Ia dan Mitha bersama rombongan yang lainnya tak ketinggalan. Mereka bergabung di kontingen Sultra. Ia nampak anggun dengan setelan pakaian daerah yang di kenakannya.
Cuaca terik namun sedikit sejuk dengan hembusan angin yang sesekali menerpa wajah cantiknya membuatnya sedikit berkeringat. Ia pun terlihat berkali-kali menyeka wajah dengan tisyu. Tanpa sadar ternyata sedari tadi sebuah camera dari seorang pria tampan sibuk mengabadikan tiap gerak-geriknya. Siapa lagi kalau bukan sang pujaan hati, si pemaksa. Pria itu sengaja hadir di arena demi menyaksikannya saat pawai tersebut.
Ia tak bisa membohongi hatinya jika sedari tadi manik sendunya tak henti-hentinya mencari-cari keberadaan Yusuf. Ia ingin berswafoto bersama pria itu dengan pakaian adat Kabaena yang sedang dikenakannya saat ini sebagai kenang-kenangan. Hingga di ujung kepasrahannya Ia tiba-tiba dikagetkan oleh suara Mitha yang sedikit memekik seraya menunjuk ke satu arah.
"Fhat, itu Bang Yusuf!"
Pandangannya seketika beralih pada sosok di depan sana. Sejenak Ia terpana dengan penampilan Yusuf yang benar-benar berbeda. Pria itu seperti baru saja menghadiri sebuah acara formal dengan setelan celana bahan dan atasan batik berwarna Navy yang begitu pas di tubuh gagahnya begitu elegan dan nampak berwibawa. Rambut gondrongnya yang di ikat rapi. Jam tangan mahal yang melingkar di pergelangannya, juga sebuah camera canon dengan tali yang menggantung di leher, benar-benar membuat pria itu sempurna.
Ia baru saja hendak melangkah mendekat saat manik sendunya menangkap bayangan seorang wanita cantik dengan pakaian adat khas Sultra dengan sebuah slempang bertuliskan Putri Pariwisata Sultra, mendekati Yusuf dan dengan pedenya menutup mata pria itu dari belakang.
__ADS_1
Langkahnya mendadak terhenti. Ia yang masih shock dengan adegan tersebut hanya bisa terpaku dengan tatapan tajam ke depan sana di mana dua orang itu sedang saling melempar senyum dan berjabat tangan cukup lama. Sang wanita cantik itu tiada henti berucap entah apa seraya tak henti melampirkan senyum menawannya. Ia melihat Yusuf juga ikut tersenyum seraya mengangguk-angguk, dan wanita itu benar-benar tak membiarkan tangan Yusuf terlepas dari genggamannya.
Mendadak dadanya sesak. Hatinya bak di tusuk ribuan jarum tak kasat mata. Perih dan sakit tentu saja. Seketika ingatannya berlari mengingati setiap ucapan Mitha kemarin yang menyuruhnya ekstra hati-hati menjaga pujaan hatinya itu. Manik sendunya kembali tajam menatap wanita itu dari atas sampai bawah. Seketika hatinya seperti disentak dalam sekejap. Ia merasa insecure. Wanita itu benar-benar sempurna dari ujung kaki sampai ujung rambut.
Ia lagi-lagi menyeka peluh yang sedari tadi sudah membanjiri pelipisnya. Langkahnya perlahan mundur seraya mencari-cari tangan Mitha hendak mencari pegangan dan kekuatan.
"Mhit, i-itu siapa? Mereka kayaknya saling kenal Mhit, deket banget malah. Cewek itu cantik banget, Mhit! Kita balik skarang, Mhit!" Netra beningnya kini mulai berkaca-kaca. Ia menarik Mitha yang masih diam sedari tadi ikutan shock, menjauh dari tempat itu.
"Tapi yang lain blum pada pulang, Fhat! ntar Pak Radit nyariin kita gimana?" Mitha berusaha menahan langkah cepatnya yang membuat sahabatnya itu terseret-seret.
Ia pun menghentikan langkahnya dan menatap Mitha dengan tatapan sendunya.
"Ya udah, Lo ngomong ke Pak Radit sekarang kalau kita balik duluan! Gua tunggu di sini!"
"Ok! tunggu bentar. Gue ke sana dulu!" Ia menanggapinya dengan mengangguk pelan tanpa suara. Suaranya sungguh tercekat kali ini. Ia benar-benar sedang dilanda cemburu yang begitu sangat.
Mendadak rasa percaya dirinya menguap entah kemana. Ia menciut seketika. Ia menjadi merasa kurang pantas untuk si pemaksa yang harus Ia akui sempurna dalam segala hal. Membayangkan tangan wanita itu menggenggam erat tangan Yusuf tadi, hatinya kembali mencelos. Jika tidak takut make up nya akan berantakan, Ia pasti sudah menangis saat ini. Ternyata jatuh cinta itu tidak melulu tentang bahagia, tentang yang manis-manis saja. Ada kecut pahitnya juga.
Ia masih duduk menunduk di sebuah taman di sudut alun-alun MTQ tersebut seraya berusaha menahan tangis, saat tiba-tiba maniknya membulat melihat sepasang sepatu pantofel mengkilap tepat di hadapannya. Ia ingin mengabaikannya sebab perasaannya sedang begitu kacau saat ini. Tapi suara berat yang sangat Ia kenali itu tiba-tiba mendongak cepat.
"Kamu ngapain sendirian di sini? Aku udah kayak orang nggak waras tau nggak nyariin kamu di sana tadi?"
Ia buru-buru mengalihkan wajahnya ke sembarang arah. Bayangan adegan menyesakkan tadi kembali berputar di kepalanya. Ingin rasanya Ia meluahkan kekesalannya pada pria yang kini ikut duduk di sampingnya itu, Tapi lagi-lagi otak warasnya masih bisa diajak kompromi.
"Kamu kenapa?" Pria itu kembali bersuara sebab Ia belum bersuara sama sekali.
"Kenapa apanya?" Sahutnya datar masih berpaling.
"Kenapa diam?"
"Nggak! ini lagi ngomong!"
"Kamu abis liat yang tadi itu?"
"Nggak ngerti. Ngomong yang jelas!"
"Kamu bisa nggak kalau ada orang ngomong tuh di tatap mukanya!"
"Apaan, sih! ngomong aja, aku denger, kok!" Sahutnya kali ini dengan sedikit mencebik membuat Yusuf malah terkekeh pelan seraya meraih tangannya dan menggenggamnya hangat.
"Aku senang kamu cemburu. Itu artinya kamu udah terima aku sepenuhnya. Aku nggak ada hubungan apa-apa sama Dokter Vania. Aku cuma berusaha membalas sapaannya dengan baik, gimanapun dia pernah nyelamatin hidup aku waktu kecelakaan kemaren. Kami seangkatan. Cuman dia udah selesaiin semuanya, so dia udah jadi dokter sekarang!"
"Nggak nanya!" Jawabnya ketus.
Ia bertambah shock setelah mengetahui satu kelebihan lagi dari wanita cantik yang ternyata bernama Vania itu. Seorang dokter? astaga! Ia kian insecure akan hal ini. Tapi sejurus kemudian Ia malah bengong melihat Yusuf malah tertawa lepas setelah mendengar jawaban ketusnya.
"You're the one only, my future wife!" Yusuf berucap lembut seraya menambah erat tautan tangan mereka. Membuatnya sekejap melupakan kekesalan hatinya sebab desiran indah di uluhatinya kembali melambungkannya tanpa ampun.
"Udah nggak marah lagi?" Wajah tampan itu menatapnya intens. Ia yang sedari tadi sudah ingin memandang wajah itu kini berpaling membalas tatapan manik elang itu. Dadanya kembali berdesir.
"Masih! ngapain, sih harus pake pakaian gini ke sini? tuh liat kan akibatnya? Kakak jadi ganteng banget dan semua cewek di sini ngeliatin Kakak terus!" Sungutnya mencebik.
"Sorry! ini tadi nggak sempet gantian. Dari pagi sibuk nemenin Papa menyambut rombongan kontingen MTQ dari banyak propinsi di beberapa hotel. Makanya formal gini. Takut nggak dapat moment exclusive kamu tadi pas pawai!" Yusuf terkekeh pelan.
Ia kembali berbunga-bunga. Seketika Ia menjadi merasa bersalah telah begitu kesal pada pria tersebut yang telah bela-belain datang ke tempat ini demi dirinya.
"Sorry!" Ucapnya lirih.
"It's Ok! Kita ke tempat Fadhil dulu. Kamu pasti haus! Ayo!" Yusuf berdiri seraya membantunya ikut berdiri sebab pakaian yang dikenakannya cukup membuat gerakannya sedikit tak leluasa.
"Pelan-pelan!" Yusuf memang kadang begitu manis dengan perhatian-perhatian kecilnya. Sudut bibirnya tertarik melampirkan lesung pipi kecil di sudut bibirnya. Yusuf yang sekilas melihat senyumnya menjadi terpana dan seperti biasa akan mulai bersepik-sepik gombal.
"Kamu cantik banget hari ini! Jadi pengen meluk tapi takut dosa!" Keduanya sontak terkekeh pelan.
"Ihh, apaan, sih! nggak jelas banget deh!"
"Oh ya, tunggu bentar!"
Yusuf seketika melepas tangannya dan berlari kecil menjumpai sepasang muda-mudi yang sedang duduk di sebuah taman yang lain. Ia melihat pria itu berbicara pada cowok di sana dan tak lama keduanya berjalan ke arahnya.
"Sayang, kita foto berdua yah!" Ucap Yusuf seraya menyerahkan camera canon miliknya pada remaja yang datang bersamanya itu.
"Tolong, yah?"
"Siaap, Bang!"
Yusuf kembali meraih tangannya dan sedikit merangkulnya membuatnya kembali meremang dan berujung pada gerakannya menjadi kaku. Yusuf beberapa kali membisikinya agar rileks. dalam sekejap berkali-kali suara camera menangkap gambar telah berbunyi mengabadikan tiap pose sesuai arahan Yusuf. Berkali-kali pula kulit pipi keduanya bersentuhan. Lagi-lagi sebuah rasa menggelitik yang luar biasa menyerang perutnya bertubi-tubi. Kulitnya berkali-kali meremang bersama semburat merah yang membakar wajah cantiknya.
Posisi intim itu seketika menghadirkan kembali bayangan pelukan erat di mall tempo hari.
Blushhhhh..
Wajahnya kini entah sudah seperti apa merahnya menahan malu. Terlebih remaja sang fotografer dadakan di depan sana berkali-kali tersenyum simpul menatap keduanya.
"Peesiapan foto prewed yah, Bang?" Anak muda itu bertanya seakan ingin menggoda keduanya.
"InsyaAllah, Doain!" Yusuf si cuek bebek itu seperti biasa tak pernah peduli sikon menyahut asal, membuatnya sedikit menyikut pria pujaannya itu. Yusuf hanya terkekeh kecil.
__ADS_1
"Ok, cukup. Makasih, yah?"
"Sama-sama, Bang! kalau gitu saya permisi dulu!" Ucap pemuda itu ramah.
"Eh, btw, nama kamu siapa?"
"Faisal, Bang!"
"Yusuf dan ini Fathin calon istri saya!" Yusuf seketika beramahtamah dengan pemuda itu dan terakhir pria itu mengeluarkan dompetnya dan menarik keluar lima lembar uang seratus ribuan dan menyerahkannya pada pemuda itu. Refleks pemuda itu menolaknya dan seperti biasa si pemaksa itu tidak pernah terima penolakan. Pemuda itu pun akhirnya menerima pemberian itu meski dengan sedikit berat hati. Terakhir Yusuf memberi selembar kartu nama seraya berucap ramah,
"Kapan-kapan kalau lagi gabut, hubungi aja nomor itu!"
"Siaap, Bang! trimakasih, Bang!"
"Sama-sama!"
Ia yang masih terkesima dengan adegan di depannya barusan menjadi kian bisa meliha"Ayo!""Ke mana?""Cari yang dingin-dingin. Lapar plus haus nih!" Ia pun mengangguk dan berjalan mengikuti langkah Yusuf masih dengan genggaman tangan pria itu.*Pukul empat tepat Ia sudah tiba di sebuah salon di mana Ia dan teamnya akan di make over. Yusuf mengantarnya masuk hingga ke dalam dan bertemu teamnya barulah pria itu kembali. Semua mata tertuju penuh selidik ke arahnya sebab Ia datang terlambat. Ia menyadari atmosfer yang sedang menyelimuti berusaha tersenyum kikuk dan melampirkan jarinya membentuk huruf Victory."Peace!"Pak Radit yang sempat bersitatap dengan Yusuf tadi tak henti menatapnya seakan meminta penjelasan. Ia menarik nafas berat dan berusaha serileks mungkin seraya memutar otak mencari jawaban jika sebentar lagi sang instruktur bertanya.Pukul 19.00 semua sudah kelar. Semua wajah yang sebelumnya biasa saja kini nampak cantik memesona nyaris tak di kenal. Terutama dirinya yang pada dasarnya memiliki paras yang memesona, Mitha sampai pangling menatapnya."Kamu cantik banget, Fhat! Bang Yusuf pasti bakal pangling liat kamu ntar!" Pekik Mitha tak sadar."Sshhttt... diliatin tuh sama yang lain!""Ck, biarin, biar tambah kebakar tuh yang suka sewot sama kita! dasar tukang sirik!" Mitha kembali ke mode bar-barnya. Ia buru-buru menarik tangan sahabatnya itu menjauh."Apaan, sih, Fhat, biarin aja mereka denger, mereka itu sirik emang sama kita berdua gegara pak Radit lebih merhatiin kita!""Udah, udah! Kita bentar lagi mau tampil, lho! mending kita vocus biar bisa tampil maksimal ntar! banyakin do'a!" Ucapnya lembut berusaha menenangkan Mitha yang dibalas anggukan oleh sang sahabat.***YusufIa berlari kecil menuju kamarnya sepulang dari shalat Isya berjamaah di masjid. Ia hendak bersiap-siap. Ia tidak ingin melewatkan moment penting Fathin yang akan tampil di acara opening MTQ malam ini. Ia sedikit tertegun saat melewati ruang tengah di mana keluarga besarnya telah siap berangkat menuju arena. Ternyata rencana Citra yang mengajak semua kakaknya untuk ikut menyaksikan penampilan Fathin."Loh, Kamu blum siap, Suf?" Teriak Citra ke arahnya yang sedang berlari menaiki tangga."Five minute!" Sahutnya tanpa menoleh.Ia bersiap-siap dengan mode kilat tapi tetap membuatnya maskulin. Mengenakan jam tangan mahalnya. Parfum musk di beberapa area wajib dan terakhir secepat kilat meraih jaket kulitnya, ponsel dan kunci mobil. Sedikit berlari menuruni tangga dan mengejar semua keluarga besarnya yang sudah di mobil masing-masing menyisakan Mbok Asih yang setia menunggunya di depan pintu hendak menutup pintu."Mari, Mbok!""Hati-hati, Den!"Ia kembali berlari kecil dan masuk ke dalam mobilnya. Dalam sekejap mobil keayangannya itu pun meluncur mulus keluar dari pelataran rumah besar tersebut, membelah jalanan kota yang ramai dan padat. Berkali-kali Ia memukul stering mobilnya sebab macet yang berkepanjangan. Jika sebelum-sebelumnya Ia akan mengumpat dengan segala sumpah serapah jika terjebak seperti ini, maka tidak untuk kali ini. Ia malah beristighfar berkali-kali seraya menyugar rambut gondrongnya yang halus lurus terurai.Berkali-kali memohon do'a agar Ia tidak terlambat tiba di arena. Dan bersyukur Do'anya terkabul. Acara masih berupa sambutan-sambutan. Ia harus berjalan kali menuju tempat pertunjukkan sebab mobilnya tidak bisa di bawa mendekat sebab hampir semua sisi dan sudut alun-alun telah dipenuhi kendaraan baik roda dua maupun empat.Ia celingak-celinguk mencari keberadaan Fathin tapi tak Ia temukan sebab ponsel Fathin sepertinya sedang mode silent. Hingga saat telinganya mendengar sang MC mengumumkan jika acara selanjutnya adalah hiburn yang akan di isi dengan tarian kolosal, beberapa tarian daerah dan penampilan group qasidah rebana terbaik Sultra. Hatinya berdebar dan segera mendekat ke area pertunjukkan. Saat itulah manik elangnya melihat Fathin di sana sedang mendengar arahan dari sang instruktur.Ia berdiri terpaku di tempatnya. Fathin sungguh cantik sekali malam ini pikirnya. Lamunannya buyar seketika saat layar besar di beberapa sudut menampilkan wajah-wajah para pemain qasidah itu. Wajah cantik Fathin tak henti tersenyum di sana seraya mengitarkan pandangannya seakan hendak menyapa semua orang. Tiba-tiba terdengar suara salam dari Fathin menyusul suara musik yang menyatu dengan bunyi rebana. Mengalunkan melodi dari sebuah lagu bersya'ir arab, "Maghadir".Suara jernih Fathin benar-benar menghipnotisnya. Ia sungguh takjub seraya tak henti memuji dalam hati."I love you!" Batinnya masih menatap wajah cantik Fathin di balik layar besar di tiap sudut alun-alun.Malam kian beranjak larut. Ia kehilangan jejak Fathin sedari tadi. Berkali-kali Ia menghubungi nomor hp gadisnya tapi hasilnya nihil. Ia pun berjalan gontai menuju mobilnya yang terparkir jauh di sana.Ia sudah hampir keluar jauh dari area alun-alun saat tiba-tiba ponselnya berbunyi tanda panggilan masuk."Assalaamu'alaikum!" Ia sedikit terkejut sebab suara di seberang bukan suara Fathin tapi Mitha."Wa'alaikumsalaam, Mhit, Fathin mana?" Sahutnya buru-buru."Fathin lagi lemes banget, Kak. Tadi kepalanya tiba-tiba pusing pas balik. Ini udah kelar semuanya di sini dan katanya dia pengen pulang ke kostan!""Ya udah, Aku ke sana skarang! Kamu jagain bentar!""Baik, Kak!"Tanpa pikir panjang Ia langsung berbalik arah menuju rumah tempat Fatbin latihan selama ini. Hatinya sungguh diliputi gelisah dan khawatir pada gadisnya itu.TBC>>>
"Ayo!"
"Ke mana?"
"Cari yang dingin-dingin. Lapar plus haus nih!" Ia pun mengangguk dan berjalan mengikuti langkah Yusuf masih dengan genggaman tangan pria itu.
*
Pukul empat tepat Ia sudah tiba di sebuah salon di mana Ia dan teamnya akan di make over. Yusuf mengantarnya masuk hingga ke dalam dan bertemu teamnya barulah pria itu kembali. Semua mata tertuju penuh selidik ke arahnya sebab Ia datang terlambat. Ia menyadari atmosfer yang sedang menyelimuti berusaha tersenyum kikuk dan melampirkan jarinya membentuk huruf Victory.
"Peace!"
Pak Radit yang sempat bersitatap dengan Yusuf tadi tak henti menatapnya seakan meminta penjelasan. Ia menarik nafas berat dan berusaha serileks mungkin seraya memutar otak mencari jawaban jika sebentar lagi sang instruktur bertanya.
Pukul 19.00 semua sudah kelar. Semua wajah yang sebelumnya biasa saja kini nampak cantik memesona nyaris tak di kenal. Terutama dirinya yang pada dasarnya memiliki paras yang memesona, Mitha sampai pangling menatapnya.
"Kamu cantik banget, Fhat! Bang Yusuf pasti bakal pangling liat kamu ntar!" Pekik Mitha tak sadar.
"Sshhttt... diliatin tuh sama yang lain!"
"Ck, biarin, biar tambah kebakar tuh yang suka sewot sama kita! dasar tukang sirik!" Mitha kembali ke mode bar-barnya. Ia buru-buru menarik tangan sahabatnya itu menjauh.
"Apaan, sih, Fhat, biarin aja mereka denger, mereka itu sirik emang sama kita berdua gegara pak Radit lebih merhatiin kita!"
"Udah, udah! Kita bentar lagi mau tampil, lho! mending kita vocus biar bisa tampil maksimal ntar! banyakin do'a!" Ucapnya lembut berusaha menenangkan Mitha yang dibalas anggukan oleh sang sahabat.
**
*Yusuf
Ia berlari kecil menuju kamarnya sepulang dari shalat Isya berjamaah di masjid. Ia hendak bersiap-siap. Ia tidak ingin melewatkan moment penting Fathin yang akan tampil di acara opening MTQ malam ini. Ia sedikit tertegun saat melewati ruang tengah di mana keluarga besarnya telah siap berangkat menuju arena. Ternyata rencana Citra yang mengajak semua kakaknya untuk ikut menyaksikan penampilan Fathin.
"Loh, Kamu blum siap, Suf?" Teriak Citra ke arahnya yang sedang berlari menaiki tangga.
"Five minute!" Sahutnya tanpa menoleh.
Ia bersiap-siap dengan mode kilat tapi tetap membuatnya maskulin. Mengenakan jam tangan mahalnya. Parfum musk di beberapa area wajib dan terakhir secepat kilat meraih jaket kulitnya, ponsel dan kunci mobil. Sedikit berlari menuruni tangga dan mengejar semua keluarga besarnya yang sudah di mobil masing-masing menyisakan Mbok Asih yang setia menunggunya di depan pintu hendak menutup pintu.
"Mari, Mbok!"
"Hati-hati, Den!"
Ia kembali berlari kecil dan masuk ke dalam mobilnya. Dalam sekejap mobil keayangannya itu pun meluncur mulus keluar dari pelataran rumah besar tersebut, membelah jalanan kota yang ramai dan padat. Berkali-kali Ia memukul stering mobilnya sebab macet yang berkepanjangan. Jika sebelum-sebelumnya Ia akan mengumpat dengan segala sumpah serapah jika terjebak seperti ini, maka tidak untuk kali ini. Ia malah beristighfar berkali-kali seraya menyugar rambut gondrongnya yang halus lurus terurai.
Berkali-kali memohon do'a agar Ia tidak terlambat tiba di arena. Dan bersyukur Do'anya terkabul. Acara masih berupa sambutan-sambutan. Ia harus berjalan kali menuju tempat pertunjukkan sebab mobilnya tidak bisa di bawa mendekat sebab hampir semua sisi dan sudut alun-alun telah dipenuhi kendaraan baik roda dua maupun empat.
Ia celingak-celinguk mencari keberadaan Fathin tapi tak Ia temukan sebab ponsel Fathin sepertinya sedang mode silent. Hingga saat telinganya mendengar sang MC mengumumkan jika acara selanjutnya adalah hiburn yang akan di isi dengan tarian kolosal, beberapa tarian daerah dan penampilan group qasidah rebana terbaik Sultra. Hatinya berdebar dan segera mendekat ke area pertunjukkan. Saat itulah manik elangnya melihat Fathin di sana sedang mendengar arahan dari sang instruktur.
Ia berdiri terpaku di tempatnya. Fathin sungguh cantik sekali malam ini pikirnya. Lamunannya buyar seketika saat layar besar di beberapa sudut menampilkan wajah-wajah para pemain qasidah itu. Wajah cantik Fathin tak henti tersenyum di sana seraya mengitarkan pandangannya seakan hendak menyapa semua orang. Tiba-tiba terdengar suara salam dari Fathin menyusul suara musik yang menyatu dengan bunyi rebana. Mengalunkan melodi dari sebuah lagu bersya'ir arab, "Maghadir".
Suara jernih Fathin benar-benar menghipnotisnya. Ia sungguh takjub seraya tak henti memuji dalam hati.
"I love you!" Batinnya masih menatap wajah cantik Fathin di balik layar besar di tiap sudut alun-alun.
Malam kian beranjak larut. Ia kehilangan jejak Fathin sedari tadi. Berkali-kali Ia menghubungi nomor hp gadisnya tapi hasilnya nihil. Ia pun berjalan gontai menuju mobilnya yang terparkir jauh di sana.
Ia sudah hampir keluar jauh dari area alun-alun saat tiba-tiba ponselnya berbunyi tanda panggilan masuk.
"Assalaamu'alaikum!" Ia sedikit terkejut sebab suara di seberang bukan suara Fathin tapi Mitha.
"Wa'alaikumsalaam, Mhit, Fathin mana?" Sahutnya buru-buru.
"Fathin lagi lemes banget, Kak. Tadi kepalanya tiba-tiba pusing pas balik. Ini udah kelar semuanya di sini dan katanya dia pengen pulang ke kostan!"
"Ya udah, Aku ke sana skarang! Kamu jagain bentar!"
"Baik, Kak!"
Tanpa pikir panjang Ia langsung berbalik arah menuju rumah tempat Fatbin latihan selama ini. Hatinya sungguh diliputi gelisah dan khawatir pada gadisnya itu.
__ADS_1
TBC>>>