MUJAHADAH CINTAKU

MUJAHADAH CINTAKU
#Episode 29. Dejavu


__ADS_3

*Yusuf


"Kak, aku laper!" Fathin memegangi perutnya yang tetiba riuh bersuara tanpa mengindahkan perasaan tuannya. Sepertinya para makhluk parasit yang bersemayam di dalam sana, sudah tak sabar menanti asupan makanan yang masuk.


Seperti biasa, wajah cantik memelas seperti itu selalu praktis membuatnya tergelitik. Ia tersenyum miring. Tapi sejurus kemudian mengernyit, seketika menghentikan langkah dan menatap lekat wajah itu, keheranan.


"Kamu sering kayak gini? makan nggak teratur? udah jam segini blum sarapan?" Bukannya menyahuti, gadis tersebut malah mendengus tak terima lalu berucap sewot,


"Gimana mau sarapan, pagi-pagi udah ngirim instruksi deadline nyuruh siap-siap!"


"Tapi itu tadi udah jam brapa? ini terakhir kalinya kamu gini!" Tegasnya seraya kembali melangkah mendahului sembari manarik tangan Fathin.


Ia teringat di lantai ini ada sebuah tempat makan favorit para mahasiswa sebab harganya yang match untuk kantong tipis kalangan ini. Tapi meski patokan harganya murah bukan berarti murahan. Terbukti dengan banyaknya pengunjung mini resto itu tak sedikit juga yang berasal dari kalangan atas.


Tempatnya yang nyaman dengan design interior yang decoratif, menjadi nilai plus tempat tersebut. Keduanya berjalan masuk masih dengan tangan yang masih saling menaut. Ia memilih tempat yang sedikit privacy. Di sisi dinding kaca yang menghadap jalan raya. Ia sengaja menepi agar tetap bisa menatap keramaian jalan di luar sana.


Ia baru saja sukses mendaratkan bokongnya di kursi saat tiba-tiba telinganya mendengar seseorang memanggil namanya. Seketika Ia berpaling dan mendapati si pemanggil berjalan menghampiri meja dimana Ia dan Fathin berada. Ia tersenyum penuh penghargaan lalu segera berdiri menyalami pria gagah penuh karisma yang ternyata sang owner mini resto itu, Reno Barata.


"Hallo, Bang! gimana, nih, sehat?" Ia menyapa sembari menyalami dan seperti biasa saling mengadu kepalan tangan.


"Hallo juga, Bro! yah, seperti yang lo liat, gue sehat Alhamdulillah! lo gimana, udah bawa gandengan aja nih ternyata!" Sahut pria berpenampilan stylish itu mencoba mencandainya.


Ia tergelak dan sejurus kemudian berucap,


"Gue sehat! Ehm, kenalin, Bang, ini Fathin, calon bini gue! Fathin, ini Bang Reno, yang punya mini resto ini!" Selalu seperti itu. Ia memang tak berkawan dengan kata basa-basi. Dengan gaya cool plus santainya Ia mengenalkan keduanya. Fathin nampak sedikit gelagapan di sana, Membuatnya lagi-lagi tersenyum menyaksikan wajah gadis itu.


Raut wajah pria itu seketika sumringah. Dengan gagah Reno menyalami gadis yang sejak awal hanya diam dan sesekali tersenyum kaku.


"Reno!"


"Fathin!"


Setelah basa-basi secukupnya, Reno akhirnya pamit undur diri seraya berucap dramatis,


"Karna hari ini lo datang dengan kabar bahagia, hari ini gue yang bakal layanin lo berdua dengan menu terbaik kami and it's free!"


"Asal lo nggak nyesel ajha, soalnya kita berdua lagi laper-lapernya nih!" Keduanya serempak tertawa, sementara gadis itu nampak mendelik lucu ke arahnya. Membuatnya tak henti terkekeh.


"Kalau gitu, gue tinggal dulu. Bentar lagi makanannya datang, kok!" Ucap Reno akhirnya dan berbalik pergi meninggalkan keduanya setelah berhighfive seadanya.


Benar saja, mereka tak perlu menunggu lama, sebab makanan datang secepat sepelemparan batu. Satu paket combo menu andalan mini resto tersebut lengkap beserta dessert yang menggiurkan selera.


Lagi-lagi Ia terkekeh kecil menyaksikan ekspresi Fathin menatap hamparan makanan yang memenuhi seantero permukaan meja di hadapannya, dengan mata yang membola sempurna.


"Kak, ini makanannya kok banyak banget? kita kan cuma berdua, mana kuat ngehabisin makanan sebanyak ini?" Fathin melempar tatapan padanya bersama kerut di dahi.


"Pokonya makanan ini harus dihabisin semua. Nggak denger tadi, ini semua gratis. Jadi nggak boleh disisain! Mubadzir ntar." Hampir saja Ia terbahak demi menyaksikan wajah cantik itu mendadak berubah kecut.


"Emang Kakak nggak punya uang buat bayarin ini semua? pake trima gratisan bersyarat gini?" Gadis itu bertanya bersama seringai lucunya. Mencebik dan melipat tangan di dada.


"Hahaha! Just kidding sayang! Ayo makan! Aku udah di tungguin ma temen nih daritadi! Abis ini Aku antarin kamu pulang!" Fathin mengangguk patuh lalu mulai menikmati hampir kesemua makanan itu.


Ia yang sejatinya tak pernah puas menatap wajah cantik, teduh nan menggemaskan itu, tak ingin melewatkan moment berharga itu. Ia hanya beberapa kali menyuapkan makanannya, selebihnya Ia sibuk menatap tanpa jeda pada wajah memesona di hadapannya kini. Menyadari hal tersebut, Fathin nampak gelagapan salah tingkah.


"Kakak, kok nggak makan, malah liatin aku mulu daritadi? malu tauk!" Ia hanya menyahut dengan kekehan kecilnya.


"Udah kenyang liat muka kamu!" Sahutnya asal.


"Yah, mulai lagi! Dasar gombal!"


"Oh, ya, Kakak blum jelasin, baju segitu banyak tadi buat siapa, sih?" Gadis itu bertanya penuh selidik.


"Buat aku. Hari ini aku rencana mau ikut Bang Gery kluar belajar agama di masjid. Kalau kamu pernah dengar kelompok dakwah yang bernama jamaah tabligh sama model dauroh mereka, kamu pasti udah bisa nebak aku mau ngapain aja di sana ntar!"


"Hah? itu kan jemaah dakwah yang sering di ikutin ama Paman Risyad. Yang itu kan, yang biasa pindah dari masjid ke masjid sambil mikul ransel sama alat masak, bener nggak?" Ia mengangguk sebagai jawaban dari pertanyaan beruntun itu.


"Hah? jadi Kakak juga mau ikutan mikul kompor kayak gitu? emang Kakak nggak gengsi?"


"Malu, sih! tapi nggak ada salahnya kan nyoba?" Ucapnya santai.


"Tapi, kata Bibi, biasanya Paman perginya lama, bisa sampai berbulan-bulan. Ber__ar__ti__?" Fathin tak melanjutkan ucapannya, malah mendelik ke arahnya menanti penjelasan darinya. Sudut bibirnya lagi-lagi tertarik, lalu berucap pelan masih dengan gaya cuek,


"Blum sampe slama itu. Untuk pemula, Bang Gery bilang cukup tiga hari dulu!"


"Tiga hari juga lama!" Gadis itu mencebik, berucap pasrah.


"Kamu udah mulai nggak tahan yah, jauhan lama?" Tanyanya bersama senyum simpulnya. Seperti biasa wajah Fathin akan berubah memerah seketika jika Ia sudah mulai bersepik-sepik rasa gombal seperti itu.


"Apaan, sih! Nggak lucu!" Wajah itu kini berubah kesal. Manik sendu yang selalu bisa merontokkan hatinya itu nampak mulai berkaca-kaca.


"Heyy, jangan sedih dulu dong, blum brangkat juga. Dengerin dulu! gini__,"


Ia menjeda sejenak. Menatap lekat manik hitam di sana seraya mencari kata yang pas untuk memulai penjelasannya. Suasana mendadak hening sedikit melankolis. Mendung di manik sendu itu tak lagi bisa disembunyikan. Ia menghela nafas berat.


"Aku pengen ngomongin semuanya sebelum pergi! Aku__,"


"Kakak apa-apaan, sih, ngomong gitu kayak nggak akan balik lagi! Aku nggak mau denger!" Fathin melepas kasar sendok dan garpu yang sedang di pegangnya, hingga menghasilkan bunyi denting yang agak keras.


"Dengerin dulu, sayang!"


"Kamu nggak tau gimana buruknya aku selama ini. Aku pengen brubah. Aku pengen jadi orang baik sebelum kita hidup bersama. Dan Aku liat, semenjak Gery ikut jamaah ini, dia bener-bener berubah. Aku pengen kayak Gery. Aku pengen mantasin diri dulu sebelum memulai semuanya!" Suaranya Ia buat selembut mungkin seraya meraih tangan lembut dan lentik milik Fathin dan menggenggamnya penuh penghargaan.


"Kita nggak pernah tau apa yang bakal terjadi abis ini. Aku ngomong ini smua biar kamu nggak mikir yang macem-macem ntar. Yang kamu harus inget adalah bahwa Aku nggak main-main dengan semua ini."


"Kamu keberatan nggak?"


"Nggak sama skali. Aku cuman nggak suka Kakak ngomong kayak tadi."


"Nggak tau, aku kayak ngerasa mau pergi jauh."


"Tuh, kan, ngomong itu lagi. Kakak nyebelin tau nggak!" Fathin menarik kasar tangannya dari genggamannya.

__ADS_1


Ia masih menunduk dalam saat dilihatnya bayangan Fathin berdiri dan sedikit berlari meninggalkannya. Ia terkesiap tak menduga sama sekali jika gadis itu benar-benar kesal padanya.


Tanpa pikir panjang Ia segera meraih kesemua paperbag belanjaannya lalu beranjak berdiri dan ikut berlari mengejar Fathin yang sudah kian jauh. Berkali-kali Ia berteriak memanggil nama Fathin tapi gadis tersebut tak menghiraukannya. Hingga saat dilihatnya Fathin berbelok ke arah kiri, Ia pun seketika mafhum, ternyata Fathin berlari mengarah ke toilet.


Ia pun memperlambat langkahnya bermaksud mengulur waktu sembari menunggu Fathin keluar dari dalam sana. Ia menyandarkan punggungnya pada sebuah dinding pemisah antara area toilet dan jejeran gerai di sana.


Saat pintu terbuka, Ia menatap lekat wajah cantik bermata sembab itu. Ia yakin Fathin baru saja menangis. Ia berjalan mendekat. Fathin nampak sedikit terkejut melihatnya muncul.


Manik keduanya bersitatap dan mengunci untuk sepersekian detik...


***


*Fathin


Ia menatap lama wajah sembabnya di balik cermin lebar di hadapannya. Terlalu lama meratap barusan membuat matanya sedikit membengkak. Ia membenak prasangka yang menggelisahkan.


Ucapan Yusuf barusan tentang perasaannya yang seperti hendak pergi jauh membuatnya merasa seperti sebuah Dejavu. Ia pernah berada di posisi seperti ini sebelumnya. Seseorang pernah berucap sama padanya dan benar saja, orang itu benar-benar pergi jauh, jauh yang sesungguhnya dan tak pernah kembali. Pergi untuk selamanya.


Memory tentang nasib tragis yang merenggut nyawa sahabat kecilnya, Tasya, kembali hadir memenuhi kepalanya. Rasa was-was mulai menguasai hatinya.


Masih sangat jelas diingatannya sebab semuanya tersimpan rapi di alam bawah sadarnya. Saat jam istirahat, Tasya bercerita penuh semangat. Ia meluahkan seluruh keluh-kesah juga banyak harapan yang ingin dicapainya. Tapi yang membuat Ia kaget dan sedih, adalah saat Tasya meraih tangannya dan berucap lirih,


"Kita sahabatan kan Fhat? Tolong jangan lupain aku yah? Aku yakin setelah ini kamu pasti bakal rindu banget sama aku!" Ia mengangkat alis, menatap heran pada sahabat kecilnya itu.


"Emang kamu mau ke mana, Sya? Papa kamu pindah tugas?" Ia mencoba berspekulasi dengan positif thinking. Ia fikir mungkin saja papanya Tasya dimutasi ke kota lain yang mengharuskan keluarganya ikut pindah.


"Nggak, kok. Aku juga nggak ngerti, tapi aku ngerasa kalau aku bakal pergi yang jauh. Jauh banget!" Ia sampai tak mendengar lagi apa yang diucapkan oleh sahabatnya itu sebab shock yang menderanya. Ia tersentak bersama gelisah yang membuat hatinya tak bisa tenang.


Ia juga tidak pernah lupa bagaimana Tasya memeluknya dengan sangat erat dan cukup lama. Ternyata itu adalah pelukan bagi keduanya untuk yang terakhir kalinya. Ya,, kecelakaan beruntun yang terjadi di persimpangan jalan yang tak jauh dari sekolah, telah merenggut nyawa sahabatnya itu.


Ia seperti kehilangan kesadaran saat mendengar kabar duka itu. Semua ucapan Tasya saat jam istrahat tadi juga pelukan erat sahabatnya itu kembali bermain di benaknya. Tasya benar-benar "pamit pulang" yang sesungguhnya waktu itu.


Sejak itulah Fathin selalu menyimpan kenangan buruk tentang ucapan "seperti akan pergi jauh". Ia begitu takut mendengar ungkapan seperti itu. Terlebih jika kalimat itu diucapkan oleh seseorang yang Ia sangat berharap bisa bersama selamanya dengannya.


Ia tak punya alasan untuk membohongi hatinya saat ini, jika di dalam sana, setiap sudut dan relungnya telah terisi oleh bayangan seseorang, Yusuf. Pria yang Ia sebut si Pemaksa itu benar-benar telah menguasai seluruh perasaannya.


Mendadak Ia takut kehilangan sosok pria itu. Ia tak bisa membayangkan jika hal buruk yang menimpa Tasya, akan menimpa Pria pujaannya itu. Ia tak akan sanggup.


"Tolong jangan ambil Kak Yusuf dariku. Aku blum siap ya Allah! hiks,, hiks..!" Ia kembali menangis terisak.


Ia meluahkan kegundahan hati lewat tangis panjangnya. Berkali-kali menyeka airmata yang tak henti berlinang. Hingga di menit di mana Ia tetiba sadar jika Ia meninggalkan Yusuf sendiri di meja makan tanpa permisi, Ia pun menghentikan tangis. Mencoba memberi sugesti pada hati dan pikirannya bahwa semua akan baik-baik saja.


Ia lalu membasuh muka yang kini nampak berantakan akibat tangisannya barusan. Menarik nafas dalam-dalam untuk mengisi paru-parunya yang sesak dengan oksigen yang banyak lalu mengembuskannya pelan, berulangkali.


Ceklek..


Ia membuka pintu dan mendadak tersentak kaget saat menemukan sosok Yusuf di depan toilet itu. Pria itu berjalan mendekatinya. Tetiba perasaan was-was itu menghinggapinya. Ia tak berani menatap manik setajam elang itu. Tapi mendadak emosinya tersentil.


"Kakak ngapain di sini? Kakak mau pergi jauh kan? ya udah pergi sana!" Yusuf bahkan belum mengucap satu katapun tapi Ia itu sudah mengusirnya, lengkap beserta manik yang mulai mengaca.


"Kenapa nangis?" Suara pria tersebut kini kembali ke mode awal, datar dan tegas mengintimidasi.


"Nggak! siapa yang nangis? Jangan nuduh!" Ia mencoba menahan airmata agar tidak lolos keluar dari kelopaknya.


"Nggak kenapa-napa. Nggak usah dibahas. Nggak penting juga!"


"Kamu masih mau lanjutin makan atau mau pulang?" Suara datar itu menyahuti membuatnya ikutan kaku. Ia sampai tak mampu menjawab, malah menunduk dalam.


"Kita perlu bicara untuk hal yang tadi." Tanpa menunggu tanggapan darinya, Yusuf menarik tangannya dan berjalan keluar dari tempat itu.


"Aku mau pulang, udah kenyang!"


Yusuf tak merespon ucapannya, malah kian mengeratkan tautan tangannya. Ia pun akhirnya memilih diam dan mengikuti langkah lebar Pria itu.


"Masuk!" Yusuf membukakan pintu di samping kemudi. Ia menatap sekilas wajah itu, hendak mencari tau suasana hati pria tersebut. Ia tak menemukan sesuatu di sana kecuali ekspresi datar berhias senyum kaku. Ia masuk dan duduk dengan gelisah. Ekor matanya mengikuti bayangan Yusuf yang melintas di depan memutari mobilnya lalu masuk menghempaskan diri di kursi kemudi.


Mereka hampir sampai di kostan tapi Yusuf masih belum bersuara. Dalam hati Ia bersungut kesal,


"Nih orang emang susah ditebak yah, kadang lembut, trus tiba-tiba datar, cuek. Kadang cerewet trus tiba-tiba diam. Dasar bipolar!" Umpatnya dalam hati.


"Nggak usah berlebihan. Aku cuma nggak suka kamu main pergi gitu aja kalau Aku lagi pengen ngomong serius kayak tadi. Blum lagi kamu ninggalin makanan gitu ajha. Nggak sopan!" Maniknya mendadak membola bersama bibir yang membulat. Ini kesekian kalinya Yusuf selalu tepat menebak apa yang sedang dipikirkannya. Tapi Ia cukup lega, setidaknya Pria itu sudah mau bersuara.


"Ma_maaf! Nggak sengaja. Abisnya ucapan Kakak tadi itu bikin bad mood! Ngeselin banget tau nggak!" Ia melempar pandangan ke sisi kiri. Menatap pada kendaraan yang lalu lalang di sana.


"Ucapan apa? yang mana?"


"Tauk. Nggak usah dibahas. Lagian abis ini Kakak mau niat pergi jauh kan? Ya udah ngapain kita seperti ini? Ngapain pake janji-janji segala? ngap__,"


"Ngomong apa sih? Kamu ada apa sih sebenernya, kenapa sampe melebar ke mana-mana?" Ia benar-benar tidak hapis pikir dengan ingatan Yusuf yang entah sedang lemah atau hanya pura-pura lupa.


"Ini serius nggak inget atau pura-pura lupa?"


"Beneran nggak inget!"


"Ngapain tadi pake ngomong kalau Kakak ngerasa kayak mau pergi jauh? Jadi apa maksudnya semua ini? Selama ini maksa aku terima Kakak? Kakak cuma mau mainin prasaan aku? Setelah bikin aku jatuh cinta trus Kakak bakal pergi ninggalin aku, gitu?"


"Astaga, Fathin, itu kan cuma prasaan aku aja. Ngapain kamu serius nanggepinnya?" Yusuf tergelak seraya memukul stir. Ia mengernyit menyaksikan sikap pria tersebut yang tidak terpengaruh sama sekali. Malah menganggap enteng ucapannya tadi. Mobil Yusuf kini sudah memasuki halaman luas kostannya. Berhenti di sana tapi keduanya tidak langsung keluar.


"Kakak masih bisa tertawa? Aku nggak mau Kakak pergi kayak Tasya? Nggak mau, Aku nggak mau denger kata-kata itu.. Aku nggak mau Kakak ditabrak mobil dan meninggal kayak Tasya. Aku takut.. hiks hiks!" Ia berucap sedikit histeris seraya menangkup telinganya dan terisak menangis. Ia menggelengkan kepalanya tiada henti.


"Hey, hey, Fathin, Kamu kenapa? ada apa? siapa yang mau pergi? siapa Tasya?" Yusuf meraih tangan dingin Fathin dan ikutan panik melihatnya seperti tertekan oleh sebuah masa lalu yang buruk yang pernah menimpanya.


"Kali ini Aku nggak akan sanggup kehilangan lagi untuk yang kedua kalinya. Aku nggak akan kuat, Kak! Tolong jangan pergi, please! hiks hiks" Ia kian terisak sembari meremas kuat genggaman tangan Yusuf.


"Fathin, hey,, Fathin, Kamu jangan kayak gini, dong! Kamu kenapa, siapa yang mau ninggalin Kamu? udah stengah mati didapet masa' mau ditinggalin, hum?" Satu tangan Yusuf terangkat dan menangkup pipi halus nan lembut miliknya. Tangan lembut itu menyeka air matanya yang tak henti tumpah dari kelopaknya.


"Aku udah janji sama kamu, janji sama Papa juga semua keluarga Aku bahwa Aku bakal jadiin kamu istri. Aku emang buruk, bebal tapi Aku nggak suka ingkar janji. Aku hanya pergi untuk tiga hari aja, abis itu aku akan pulang. Biar kamu nggak mikir yang macem-macem, Aku janji pas pulang nanti, kamu orang yang akan pertama aku temui!" Ucap Yusuf lembut berharap Ia tenang dan itu membuahkan hasil. Remasan tangannya perlahan melemah. Ia mulai bisa menatap wajah gagah di hadapannya itu. Tangan yang tadinya dingin kini perlahan menghangat.


"Promise?" Ucapnya bertanya masih ragu.


"I'm promise!" Yusuf mengangguk yakin masih bersama senyum hangatnya.

__ADS_1


"Tapi Kakak nggak beneran punya firasat mau pergi jauh, kan? itu tadi cuman salah ngomong, kan?" Keraguannya masih belum sepenuhnya sirna.


"Ng_nggak ada firasat apapun, itu tadi Aku juga nggak ngerti kenapa bisa ngomong begitu, beneran!" Ia melepas tangannya dari genggaman tangan Yusuf sebab dadanya mulai kembang-kempis oleh sentuhan lembut itu, bersamaan kesadarannya kini yang sudah kembali.


Ia menatap lurus ke depan dan melempar kembali ingatannya pada tragedi yang terjadi sembilan tahun yang lalu.


"Tasya kecelakaan dan meninggal pas abis ngomong kayak gitu ke aku. Sampe skarang Aku takut banget kalau denger orang ngomong mau pergi yang jauh!" Maniknya kembali berkaca-kaca. Perasaan rindu pada sahabat kecilnya tetiba menderanya begitu kuat.


"I miss you verry much, Tasya!" Air matanya kembali lolos.


"Udah, udah, nih, minum dulu. Kamu udah daritadi nangis, nggak capek? tenangin diri kamu dulu, abis itu kita ngomong baik-baik!" Sebenarnya Ia tidak ingin minum tapi permintaan Yusuf biasanya adalah perintah.


"Kalau udah tenang, bisa Aku ngomong sekarang?"


"Bukannya daritadi kita udah ngomong banyak?"


"Masih banyak yang mau Aku sampein ke kamu!"


Keduanya diam sejenak. Ia menatap rahang menegas yang mulai nampak bintik-bintik hitam bekas cukuran yang kembali tumbuh. Hatinya buncah dengan perasaan menunggu.


"Sekali lagi Aku cuma mau bikin kamu percaya kalau Aku beneran serius dengan niat Aku. Aku udah denger semua tentang kamu dari Akram. Aku nggak ingin ngerusak kamu dengan keburukan-keburukan aku slama ini. Kamu terlalu baik, sempurna untuk ukuran orang buruk kayak aku. Kamu cantik, baik, lembut, nurut sama orangtua, kamu juga taat sama Yang Di Atas. Aku pengen sperti kamu."


"Kita blum tau akan bagaimana Aku setelah kembali, makanya Aku minta sama kamu, tolong jangan berubah." Ia mengernyit, sama skali tak mengerti tapi Ia tidak ingin menyela apa yang ingin disampaikan Yusuf. Ia pun memilih diam dan menyimak dengan seksama.


"Aku nggak ingin kamu kerja dengan alasan apapun. Aku cuma pengen kamu kuliah dengan baik, selesaiin semuanya tepat waktu. Aku nggak mau kamu terbebani dengan urusan kerja dan juga kuliah bersamaan." Ia menatap tak terima pria itu yang kini sibuk mengeluarkan beberapa kartu dari dompetnya.


"Nih, kamu pegang ini semua, terserah kamu mau pake yang mana. Pin nya udah Aku ganti pake tanggal lahir kamu. Kamu pake aja untuk semua kebutuhan kamu sama Mitha. Ka__,"


"Tapi, Kak__,"


"Nggak ada tapi-tapian. Kamu udah tau kan, Aku nggak pernah terima penolakan!" Yusuf meletakkan semua kartu itu di tangannya. Ia menatap bingung dan serbasalah.


"Kak__,"


"Kalau kamu nggak mau pake ini, Aku anggap Kamu nolak Aku!" Ia mendesis perlahan. Pria itu benar-benar keras kepala.


"Kamu jaga diri baik-baik. Selain Akram sama Azhar, Aku nggak ijinin siapapun cowok deketin kamu. Aku mungkin bakal matiin handphone selama tiga hari, so, kalau ada apa-apa hubungi Erick!"


"Sini handphone kamu, Aku save nomor ponsel Erick!" Meski enggan, tapi Ia tidak punya pilihan lain selain menuruti setiap titah si pemaksa itu.


Yusuf pun mengetik beberapa nomor di Ponselnya setelah Ia menyodorkannya. Berkali-kali Ia mendesah pasrah. Manik sendunya kembali menatap beberapa kartu debit di tangannya. Selama ini Ia sudah beberapa kali menyaksikan bagaimana model belanja Yusuf yang tak pernah mau membeli barang murahan, Ia sudah bisa membayangkan berapa banyak isi dari masing-masing kartu debit itu. Lagi-lagi Ia mendesah tak percaya.


Bagaimana bisa Pria itu bisa semudah itu percaya padanya. Tidak takutkah dia jika sewaktu-waktu Ia berubah pikiran dan menghamburkan uang itu ke sembarang tempat.


"Aku percaya sama kamu. Jika di hatimu udah ada Aku di sana, Aku percaya, kamu nggak akan menghianatiku!" Yusuf berucap telak lagi kearahnya seraya mengembalikan ponsel miliknya.


"Kakak indigo yah? Kok slalu tepat nebak apa yang aku pikirin?"


"Karna kita jodoh!" Ia tergelak bersama semburat merah di pipi. Sementara Yusuf tersenyum lebar, memperlihatkan deretan gigi putih nan rapinya.


"Oh, yah, kamu jangan sungkan kalau mau pake semua itu untuk urusan selain kebutuhan kuliah. Pake aja buat apa pun yang kalian inginkan. Sebenarnya Aku pengen cariin kalian rumah yang agak luas dari kamar kostan ini, Tapi blum sempet. Nanti yah, balik dari ini?" Ia sampai kehabisan kata untuk menyahuti setiap perintah Yusuf. Tapi permintaan yang terakhir ini Ia harus tolak. Bagaimanapun Ia sudah terlanjur nyaman tinggal di kostan ini. Ia tidak berniat mencari kebebasan di luar sana.


"Nggak usah, Kak. Kita udah terlanjur betah di sini!"


"Gitu? Ya udah, yang penting si Arsyil nggak macem-macem sama kamu!"


"Ck, apaan sih! Kalau gitu aku turun skarang, yah, nggak enak ama yang lain, ntar di kira kita ngapa-ngapain lagi!" Ucapnya sembari memasukkan kesemua kartu pemberian Yusuf juga ponselnya ke dalam mini bag slempangnya.


Ia hendak membuka pintu tapi tiba-tiba Yusuf meraih tangannya dan berucap lirih,


"Fhat, A-aku boleh minta sesuatu nggak?" Pria tersebut berucap ragu dan terbata. Ia menoleh ke samping dan mendapati wajah penuh permohonan dari Yusuf. Membuatnya ikut terbata menyahuti,


"M_minta A_apa, Kak?"


"A_aku boleh peluk kamu, nggak?" Mendengar kata peluk, pikiran buruknya kembali berselancar pada memori pelukan erat terakhir Tasya untuknya. Dadanya kembali berdetak tak karuan. Ia menggeleng berkali-kali. Yusuf yang melihat reaksinya mengira Ia tidak mau berpelukan sebab malu dan sebagai upaya menjaga marwah diri. Pria itupun menyahut cepat,


"Ng-nggak apa-apa kalau kamu nggak mau, Aku nggak akan maksa. Aku ngerti. Maaf aku udah minta yang aneh-aneh!"


"Aku cuma takut ini pelukan kita yang terakhir kayak yang Tasya lakukan waktu itu. Aku takut!"


Tanpa pikir panjang Yusuf langsung meraihnya dalam pelukan eratnya tanpa bisa di cegah dan ditolak olehnya. Tubuhnya kembali meremang.


"Aku janji akan kembali setelah tiga hari. Aku nggak akan ninggalin kamu. Aku akan memohon sama Allah agar kita masih bisa bertemu lagi! Kamu jangan mikir yang macem-macem!" Pelukan itu berakhir dan berganti tangan yusuf yang menangkup wajah cantiknya. Ia tersenyum melampirkan lesung pipi kecil di sudut bibirnya.


"I love you!" Lirih Yusuf seraya menyapu setiap inci wajah selembut kulit bayi miliknya dengan pandangan manik tajamnya. Pipinya lagi-lagi bersemburat malu. Aroma mint dari harum nafas Yusuf selalu bisa membuat seluruh tubuhnya meremang. Ia begitu malu tapi Ia tak bisa menahan diri untuk tidak membalas ucapan pria pujaan hatinya itu,


"I love you, too!"


"Jaga diri baik-baik. Jaga kesehatan. Jangan telat makan lagi!" Ia hanya mengangguk tanpa menyahuti sebab Ia masih begitu terpesona dengan ketampanan wajah di hadapannya yng hanya berjarak Beberapa centi saja.


"Boleh?" Suara berat Yusuf kembali bersuara lirih. Ia menatap manik tajam yang tetiba melembut itu menatap keningnya sekilas, membuatnya maklum maksud dari pertanyaan barusan. Awalnya Ia ragu tapi sejurus kemudian Ia mengangguk malu. Dadanya tak henti berdetak keras dengan ritme cepat saling berkejaran. Bagaimanapun ini adalah yang pertama kali untuknya.


Pria itu tersenyum. Saat wajah keduanya kian dekat Ia mendadak ketakutan dan sekuat tenaga menutup matanya serapat mungkin.


Deg. .


Deg..


Ia menunggu tegang. Hingga saat bibir Yusuf mendarat sempurna di keningnya Ia seketika tersentak. Hatinya berdesir begitu indah. Ia merasa perutnya di gelitik jutaan kupu-kupu. Refleks tangannya meraba perutnya mencari keberadaan kupu-kupu itu, tapi nihil. Matanya masih terpejam sempurna. Ia meresapi kecupan lembut itu hingga tanpa sadar hatinya menuntut lebih. Tapi otak warasnya bekerja cepat. Malaikat di sisi kanannya berusaha mengembalikan kesadarannya. Dan,


"Maaf, Kak!" Buru-buru Ia menarik diri malu. Yusuf pun bertingkah sama. Keduanya mendadak saling salah tingkah.


"Maaf!" Yusuf berucap singkat. Ia mengangguk samar.


"Aku turun dulu. Hati-hati di jalan!" Tanpa menunggu jawaban dari Yusuf, Ia langsung membuka pintu mobil lalu keluar dan berlari tanpa berani menoleh lagi. Ia begitu malu. Tubuhnya bahkan masih meremang. Ia memegang keningnya sebab kecupan itu seperti masih terasa.


Ia berlari kecil dan sejurus kemudian menghilang di sebalik pintu utama kostan itu. Semetara di dalam mobil Yusuf menatap kepergiannya dengan senyum simpul yang menghiasi wajah tampannya. Ia menyentuh bibirnya. Ia seperti masih merasakan lembutnya kulit dahi gadisnya.


"I love you, Fathin!"


"Tunggu Aku kembali!"

__ADS_1


***


TBC>>>


__ADS_2