
*Mitha.
Sama halnya dengan Fathin, Ia begitu antusias menyambut acara makrab malam nanti. Sedari pagi Ia sibuk memilih kostum yang cocok untuk Ia kenakan di acara tersebut. Kali ini temanya bebas.
Ia sudah beberapa kali menghubungi nomor ponsel sahabatnya itu tapi hasilnya nihil. Jawaban dari operator seluler yang memberi info ketidak aktifan handphone Fathin praktis membuatnya kesal yang bertubi-tubi.
"Si Fathin kenapa, sih sebenarnya? suka banget ngilang akhir-akhir ini. Mana handphone nya nggak aktif lagi. Apa jangan-jangan dia dikerjain lagi sama tuh si gondrong?" Kesalnya tak henti bergumam kesal.
Ia sudah beberapa kali menyambangi semua ruangan bahasa tapi, hasilnya nihil. Sosok Fathin benar-benar bak ditelan bumi. Hingga di beberapa jam kemudian Ia mencoba menghubungi ponsel Fathin untuk kesekian kalinya. Dan kali ini Ia akhirnya bisa bernafas lega saat mendengar suara milik sahabatnya Itu menyahutinya.
"Iya, Mhit, kenapa?"
"Kenapa, kenapa, Kamu dimana sih, ngilang mulu. Aku udah seharian nih cariin kamu!"
"Ehm, Sory, Mhit! Aku lagi di Mall di suruh bantuin nih si Pemaksa nyariin kado buat bokapnya yang lagi ultah."
"Niat banget tuh orang ngerjain kamu kayaknya. Kenapa nggak nolak aja sih?"
"Aku nggak__"
"Ehem.."
Tuut tuut tuut..
Sambungan telepon itu tetiba diputus sepihak bersamaan dengan suara deheman dari seseorang. Ia yakin itu pasti si muka datar. Seketika Ia merasa khawatir perihal Fathin yang sedang bersama pria dengan aura mengintimidasi itu. Ia segera beranjak ke arah gedung jurusan penjaskes. Berniat mengajak Akram menyusul Fathin di Mall. Tapi, tiba-tiba langkahnya terhenti saat netranya menangkap sosok pangeran penolongnya di sebuah bundaran taman di depan sana. Sepertinya sedang mendiskusikan sesuatu, terlihat dari gestur tubuh mereka yang nampak begitu serius menyimak.
"Astaga, pas bangeeddd! Itu kan pangeran eikeeh, modus ahh, hihihi!" Ia cekikikan sendiri, merasa lucu dengan ide gesreknya.
Dengan gaya pede yang dipaksakan sebab jujur saja degup jantungnya kini tetiba seirama dengan langkah kakinya yang kian mendekati TKP, Ia pun sedikit berlari dan entah keberanian dari mana, Ia refleks menarik tangan sang pangeran. Aksi frontalnya itu sontak membuat pria itu sedikit gelagapan dan terkesiap saat manik keduanya bersitatap.
"Kak, ikut bentar, please..!" Ia berucap sedikit manja untuk memberi penjelasan pada tatapan menuduh dari rekan-rekan si pangeran. Setidaknya keduanya bisa berbohong jika mereka berdua adalah sepupu, bila situasinya mengancam keberlangsungan pertemanan mereka. Ia memang si banyak akal. Wajah si tampan itu seketika mengernyit seakan mencoba mengingati siapa dirinya, tapi sejurus kemudian,
"Ehmm, so sorry, gue permisi bentar, kayaknya ada yang penting!" Si pangeran memang jago mencairkan suasana, membuat lima pasang mata yang sedang menatap penuh curiga seketika tersenyum simpul menyaksikan adegan tersebut.
"It's ok, Bro! Silahkan. Kita lanjutin ntar malam bareng yang laen." Sahut salah satu dari mereka bersama alis yang dibuat naik turun berniat menggoda.
Ia seketika tersipu malu, menyadari Ia belum melepas tangan pria itu. Secepat kilat melepas pegangannya, Sejenak melirik wajah tampan penuh ramah-tamah yang sedang mengangguk ke arahnya bermaksud mengajaknya berlalu dari tempat itu. Keduanya berjalan menuju parkiran sesuai requestnya.
"Kak, sorry yah udah ganggu, tapi ini benner-benner emergency. Kakak mau yah bantuin, please..!" Ia menangkupkan kedua tangan di dada, sedikit memelas untuk lebih menyempurnakan aktingnya, berusaha meyakinkan pria itu dengan mencari prakata yang tepat sebelum ke inti berita, sesaat setelah mereka tiba di parkiran.
"Temen saya lagi di kerjain ama senior jail, Kak! ini kan udah kelar ospeknya, kok masih ada acara peloncoan gitu. Bantuin dong!" Ucapnya kemudian.
"Hmm, siapa?" tanya si pria masih dengan gaya santai
"I_itu si gondrong, pemaksa menyebalkan."
"Namanya?"
"Itu dia, saya nggak tau namanya, Kak. Pokoknya orangnya gondrong, ganteng, suka maksain kehendak, mukanya super datar dan cuek trus tatapan matanya tuh nembus ke jantung!"
"Yusuf?" Wajah tampan di hadapannya kini seketika tersenyum simpul kala Ia menyebut ciri si pemaksa itu.
"Kalau itu beneran bang Yusuf, sepertinya kamu nggak usah khawatir. Nggak semua orang bisa dekat dengan beliau. Teman kamu aman, saya bisa jamin." Ia yang sebelumnya begitu antusias, seketika berubah down dengan wajah termangu penuh tanda tanya.
"T_tapi__," Ia hendak menyela tapi seketika Ia kembali tergagap sebab tangannya gantian di tarik oleh si tampan itu dan membawanya menjauhi parkiran menuju kantin fakultas.
"Karna kamu udah ganggu acara diskusi aku barusan, maka kamu harus bayar dengan temani aku makan siang. Aku lapar!"
"Trus sahabat saya gimana, Kak?" Ia masih khawatir perihal Fathin.
__ADS_1
"Serahin ama bang Yusuf. Paling ntar lagi kita dapat undangan merried. Bang yusuf itu orangnya nggak suka basa basi. Paling malas berurusan ama cewek, tapi kalau sampe bisa dekat gitu, pasti langsung di jadiin istri." jawab si tampan itu santai.
"What?? Ih apaan sih, Kak. Ngaco, deh! Fathin ke sini tuh mau kuliah, bukan mau cari jodoh."
"Merried kan nggak halangin orang kuliah. Malah bagus tuh di kampus ada yang jagain, ya kan?"
"Ih nggak bisa. Pokonya Fathin nggak boleh merid sebelum lulus jadi sarjana. Kita berdua udah comitment untuk ini."
"Hahaha..! Kamu ini kenapa sih, ini baru prediksi, sdikit berspekulasi nggak masalah kan. Lagian Bang Yusuf itu keren. Limited edition. Jadi penasaran gimana cantiknya sahabat kamu itu, sampe bisa bikin bang yusuf kepincut! " Pria itu tergelak membuat Ia mengendik pura-pura melampirkan wajah mencebiknya. Duduk malas pada kursi yang telah di tarik oleh si pangeran untuknya.
Ada sedikit rasa yang menggelitik di hatinya mendengar pangerannya ikutan kepo akan sahabatnya itu. Seketika Ia insecure akan dirinya. Ada rasa takut jika pangerannya itu ikutan terpikat dengan kecantikan Fathin. Harus Ia akui Fathin memang memiliki pesona tersendiri. Tatapan manik sendu selalu sukses membuat tidak sedikit dari banyak cogan bertekuk lutut mengharap dekat dengan Fathin.
Ia mendesah dilema.
"Kenapa?" Suara berat itu membuyarkan lamunannya.
"A_apanya? " Tanyanya tergagap.
"Tuh mukanya di tekuk gitu?"
"Hah, Ng_nggak kok, Kak! Ini.. Saya cuman masih kepikiran Fathin ajha." Sahutnya ber alibi.
"Udah, kamu tenang ajha. Sekarang kita makan dulu. Kamu pesen apa?" Ia mendadak tidak berselera.
"Saya nggak laper, Kak. Minum ajha." Sahutnya masih dengan ekspresi malas.
"Hey,, kamu kenapa? sakit? kok lemas gitu?" Ia mendadak dag dig dug saat sebuah sentuhan lembut dari punggung tangan si tampan menyentuh dahinya sebab hendak meyakinkan kondisinya.
"Ya Tuhan.. cobaan apalagi ini. Nggak peka banget sih jadi cowok!" Rutuknya membatin. Tatapan keduanya sesaat bertemu dan mengunci untuk persekian detik. Ia buru-buru mengalihkan pandangannya sebab aura memesona dari manik sang pangeran seketika membuat hatinya meleleh tak terelakkan.
"Nggak kok. Aku emang blum laper, Kak! aku mau orange juice ajha."
"Oh ya, Kak, Btw Bang yusuf itu siapa sih? kok semua orang kayak tunduk ama dia!" Ia mencoba mengalihkan perhatian, sebelum pria itu menyadari perubahan suasana hatinya.
"Beliau emang idola sekaligus Mapala di kampus ini. Ganteng, cerdas, cuek tapi baik. skill interpersonalnya yang bisa In di komunitas manapun menambah nilai plus untuknya. Di juluki bad senior, preman kampus, beliau orang terdekat dengan kosong satu. Tapi gitu-gitu beliau calon dokter. tinggal nunggu dia nya mau trus wisuda, malah sengaja dipending truss. Nggak tau, betah banget di kampus." Ia ternganga bersama netra yang membulat sempurna mendengar penuturan si tampan kali ini.
"Astaga, bad senior? preman kampus? gimana critanya kakak bilang Fathin aman ama dia?" Protesnya sembari menutup mulut dengan kedua tangannya.
"Bad nya cuman pada hal-hal lain, Tapi dengan wanita No way! Bang yusuf itu nggak suka berurusan sama cewek. Punya delapan saudara cewek bikin beliau nggak berani mainin cewek. Takut sama karma katanya. Untuk yang satu ini aku bener-bener angkat topi untuknya. Salut!" lagi-lagi Ia ekscited mendengar ini. Kecemasannya kini berangsur hilang. Meski dalam hati Ia tetap menggaungkan doa agar Fathin slalu dijaga yang Maha Kuasa.
"Kakak bener. Bang Yusuf emang keren. Cowok yang kliatan baik ajha blum tentu bisa segitunya menghargai cewek demi menjagahm marwah saudaranya. Saya jadi ngerasa bersalah udah salah faham ama dia." Sesalnya lirih.
"Hmm, btw kita kayaknya blum saling kenal nama. Aku Arga, Tehnik sipil semester akhir!" Sedikit ragu namun akhirnya menyambut uluran tangan di hadapannya.
"Mitha, jurusan bahasa." Manik keduanya bersitatap tak berniat melepas tautan tangan yang saling menjabat erat. Seketika keduanya tersenyum. Namun, adegan tersebut tidak berlangsung lama meski keduanya masih enggan untuk saling melepas.
Plakkk....
Sebuah suara pekikkan bersama rasa perih di pipinya akibat tamparan dari seseorang, sontak membuat Ia sadar akan situasi terkini. Kaget campur malu mendapat perlakuan yang tidak sepantasnya Ia terima di depan puluhan mata yang sontak menoleh dalam hitungan detik ke arah suara ribut dari seorang mahasisiwi yang kini terlihat bergemuruh menahan gejolak amarah di dada.
"Dasar cewek ganjen. Berani banget ngerayu cowok gue. Baru juga masuk kampus udah belagu. Kebaca banget cewek kampungan!" Pekik gadis itu tak peduli dengan kasak kusuk orang seisi kantin.
"Kamu apa-apaan sih, main tampar ajha. Minta maaf sekarang!" Cowok yang menyebut dirinya Arga itu menarik paksa tangan gadis itu kearahnya, Tapi dengan cepat di sentak oleh si gadis.
"Nggak bakal. Enak ajha. Ini kan alasan kamu nggak mau kita ketemu?" Sarkas gadis itu menatap tajam ke arah Arga.
Ia yang belum sepenuhnya mengerti apa yang sedang terjadi hanya bisa meringis menahan panas dan perih di pipinya. Seketika hatinya panas dan tanpa dinyana oleh si gadis tak berakhlak di depannya itu, Ia langsung membalas dengan tamparan yang lebih keras diiringi suara pekikannya yang sekilas bak orang kesurupan.
"Brengsek, kamu kenapa nampar aku, ha? aku emang anak kampung tapi aku nggak serendah itu, ya! kamu siapa ha?" Ia yang sudah merasa kepalang tanggung sebab malu akan semua mata yang menyorot tajam kearah mereka bertiga, mulai mendorong keras gadis di hadapannya sampai hampir terjengkang ke belakang. Belum merasa puas membalas kesakitannya, Ia hendak maju berniat menjambak rambut gadis tersebut tapi sebuah tangan kekar datang menariknya dan membawanya menjauhi kerumunan para mahasiswa yang sudah mulai berjubel ingin menyaksikan keributan di kantin.
__ADS_1
Ia masih sempat memelototi gadis tersebut dan si tampan Arga yang berusaha menahan gadis tersebut untuk tidak membalas dirinya. Ada rasa tak terjelaskan melihat Arga lebih memilih menahan gadis itu. Maniknya seketika sendu melihat Arga ikutan menarik tangan si gadis keluar dari kantin. Berjalan tergesa dengan wajah menegak.
Ia berjalan mengikuti tangan kekar yang sedang berjalan membawanya ke arah parkiran. Berjalan menunduk tanpa melihat wajah si pria. Dadanya bergemuruh menahan emosi yang blum puas terlampiaskan.
"Kamu kenapa sampe bisa bermasalah sama Andin?" Suara berat itu mengagetkannya sebab Ia sangat mengenal siapa pemilik suara itu. Buru-buru Ia mengangkat wajahnya hendak memastikan dugaannya. Dan, yapp. suara itu memang milik bang Fahry, Ketua Hippelwana yang belakangan ingin mendekati Fathin. Tapi, entah kenapa beberapa hari ini Bang Fahri seakan hilang bak di telan bum. Dan hari Ini tiba-tiba muncul menjadi pelerai di ring tinju yang hampir saja terjadi di kantin barusan.
"Tauk! Nggak ngerti juga. Datang-datang langsung main pukul. Ya udah aku ladenin. Lagian dianya mukulnya keras banget. Nih pipi aku ampe kebas gini, Bang!" Adunya dengan mata yang mulai berkaca-kaca. Entah kenapa kata-kata menusuk dari gadis bernama Andin itu tiba-tiba menyeruak di relung hatinya. Membuatnya seketika baper dan ingin menangis.
"Sorry, udah ya, Kamu tenang dulu. Aku antarin kamu pulang skarang. Masalah ini biar aku yang ngomong ke Andin. Aku nggak ingin kalian bermasalah dengan dia. Dia orangnya nekat." Ia pun mengiyakan tanpa ingin memperpanjang pembahasan lagi.
Sepanjang perjalanan pulang Ia tak henti berfikir keras penuh tanda tanya, membuatnya lupa dalam sekejap dengan hal buruk yang barusan menimpanya. Bang fahri sepertinya benar-benar berubah. Biasanya selama ini bila mereka berjumpa, Ia pasti menanyakan segala ***** bengek perihal Fathin. Tapi kali ini tidak.
Hingga Bang fahry kembali setelah membawanya kembali ke kamar kos Azhar, tak sekalipun Bang Fahry menyinggung soal Fathin. Unbelieveable!
"Bang Fahry kenapa yah? apa jangan-jangan dia udah tau tentang Bang yusuf yang juga mulai dekatin Fathin?"
"Aduhhh..ck ck bingung gue!" Ia berdecak menggeleng kebingungan sendiri.
_____
* Arga
Di sebuah ruangan yang sepi tak berpenghuni. Wajah tampannya kini sedang menegak keras. Insiden yang terjadi di depan matanya barusan praktis membuat Ia hampir saja lepas kendali. Selama ini Ia sudah cukup bertahan menjalin hubungan dekat dengan Andin yang tingkat posesifnya benar-benar sudah di level kronis. Ia tidak diberi ruang sedikitpun bahkan untuk berinteraksi dengan sosok manapun jika ia berbentuk wanita. Menjadi sangat kontras dengan sifat humble nya dengan siapapun termasuk kebanyakan mahasiswi di kampus ini.
Entah kenapa kali ini Ia bereaksi cukup keras, tidak biasanya. Padahal ini bukan pertama kalinya Andin sang kekasih membuatnya malu dengan tingkah kekanak-kanakannya. Seperti ada perasaan tidak rela Mitha diperlakukan sekasar itu. Sebenarnya Ia ingin sekali membela gadis cantik itu, memberinya kekuatan dan mengobati pipinya yang memerah akibat tamparan Andin tadi. Tapi lagi-lagi sifat buruk Andin yang suka nekat berbuat diluar nalar membuatnya berusaha menahan diri. Lebih memilih membiarkan Mitha di bawa pergi oleh Fahry rekan seorganisasi di HMI meski sejujurnya ada rasa kurang nyaman di dalam sana yang entah sejak kapan mulai ada saat melihat tangan lentik itu digenggam orang lain. Tapi kali ini Ia tak berdaya.
Netra coklatnya seketika berkilat menatap Andin yang kini ikutan memberinya tatapan tajam. Ingin rasanya Ia meluahkan semua ketidak respekkannya dengan tingkah Andin selama ini. Tapi yang keluar dari mulutnya hanya ******* penuh sesal. Ia mengusap wajahnya kasar.
"Sudah cukup! Aku udah capek dengan sifat kekanak-kanakan kamu selama ini. Tolong kamu hargai orang lain. Suatu saat sifat sombong kamu itu bakal jadi boomerang untuk diri kamu sendiri." Kecamnya tanpa melihat wajah Andin yang sedari tadi penuh emosi itu.
"Ooh gitu, gara-gara cewek kampung itu kan?" Andin menyahuti sinis.
"Terserah kamu mau ngomong apa. I Don't Care. Berubahlah sebelum kamu bener-bener menyesal dengan sifat kamu itu!" Ia berjalan kaluar meninggalkan ruangan kosong itu setelah berucap demikian. Melangkah panjang tanpa memperdulikan teriakan Andin yang memberi ancaman juga sumpah serapahnya seperti biasa. Menambah volume rasa muak di hatinya kian meluap-luap.
_____
*Fahry
Beberapa hari ini Ia sungguh di buat sibuk dengan urusan Shiren yang tiba-tiba hadir kembali dalam hidupnya. Sang kekasih hati yang hampir saja hilang dari ingatannya sejak kehadiran Fathin. Ia benar-benar dibuat dilema dalam posisi melanjutkan kisah kasih bersama Sherin yang sempat terjeda disebabkan latar belakang keluarga yang berbeda dalam semua sudut pandang, atau menoreh kisah baru bersama Fathin yang benihnya barusaja bersemai indah di hati.
Hari ini Ia bertekad menemui Fathin di kampus. Setidaknya Ia harus menegaskan perasaannya sendiri sebelum Ia memutuskan akan bersama siapa setelah ini. Tapi sepertinya pemandangan tak menyenangkan dari pasangan Fathin dan Bang yusuf siang ini, sudah cukup untuk menjadi alasannya lebih memilih memperjuangkan cintanya bersama Sherin di hadapan keluarga besar mereka, apapun resikonya. Daripada membuang waktu bersaing dengan sosok bang Yusuf, idola kampus itu. Ia merasa kalah telak sebelum bertarung. terlihat bak pecundang yang membiarkan sesuatu lepas dari jangkauan sebelum Ia berusaha berjuang. Tapi tidak. Ini bukan soal menang kalah. Tapi perkara hati yang mana pada siapa Ia akan jatuh tak satupun yang mampu memaksanya.
"Kamu sepertinya lebih bahagia bersama bang yusuf ketimbang ma aku Fhat!" Lirihnya dan berlalu bersama perasaan tak menentu di hatinya. Rasa yang bercampur aduk tak terdefinisi.
Bahkan saat hari ini Ia menyelamatkan Mitha, sahabat Fathin dari amukan Andin, anak dekan FKIP yang terkenal dengan sifat sombong dan semau gue nya, di kantin tadi, sedikitpun Ia tak berniat membahas atau sekedar menanyakan kabar Fathin. Ia bukan tak tahu akan Mitha sejak awal melampirkan wajah penuh tanda tanya akan sikap cueknya kali ini. Tapi ia pura-pura tidak tahu.
Ia memutuskan untuk kembali menemui sherin di hotel tempat Ia menginap. Malam ini Ia akan membawa Sherin di acara makrab kampus.
Ia masuk ke dalam kamar tempat Sherin berada dengan menggunakan kartu akses yang diberikan Sherin padanya. Tapi raut wajahnya tiba-tiba berubah saat mendapati kamar Sherin kosong. Tak ada kekasihnya itu di sana.
"Sherin!"
"Sayang.. kamu di mana?"
"Sherin..!" Ia seketika panik. Memanggil-manggil nama Sherin dan memeriksa semua ruangan, tapi hasilnya nihil. Bahkan pakaian Sherin ikutan raib. Pikiran-pikiran buruk mulai memenuhi kepalanya.
"Astaga. Apa lagi ini. Shiren kamu di mana sih?" Ia mengusap wajahnya kasar. Merutuki kelalaiannya menjaga Kekasihnya itu.
TBC...... >>>
__ADS_1