MUJAHADAH CINTAKU

MUJAHADAH CINTAKU
#Episode 36. Jodoh, Titah Absolut Ilahi!


__ADS_3

*Yusuf


Sudah beberapa hari Fathin absen kuliah. Kondisinya belum sepenuhnya stabil sejak Ia menjemputnya sehabis tampil di acara opening yang lalu. Fathin drop akibat terlalu lelah latihan diforsir selama seminggu. Ia hendak membawa gadis itu ke rumah sakit tapi lagi-lagi Fathin menolak dengan alasan klise yang sama, "Tidak suka bau rumah sakit!"


Jadilah Ia bolak balik rumah_kampus_perpustakaan dan kostan Fathin untuk mengurus skripsi dan merawat Fathin sekaligus.


Seminggu berlalu begitu cepat. Hubungannya dengan Fathin kian dekat. Ia begitu khawatir dengan kondisi Fathin yang sampai demam tinggi. Ia yang mulai memahami dan berusaha menghargai privasi di kostan tersebut mencoba memberi pengertian pada Arsyil sang penjaga kostan, agar mengizinkannya masuk ke dalam kamar Fathin. Ia terpaksa terbuka akan semuanya jika Fathin adalah kekasihnya dan sebentar lagi akan Ia lamar. Awalnya Arsyil ragu tapi Ia tetaplah Yusuf si pemaksa yang tidak suka dengan penolakan.


"Lo tau Gue, Syil! Gue nggak suka di atur. Lo bilang aja ke anak-anak sini kalau gue tunangannya sekaligus dokter yang lagi nanganin Fathin!"


Arsyil yang sudah cukup kenal dengannya akhirnya cuma bisa pasrah dan setuju. Ia begitu telaten merawat Fathin. Ia bahkan tidak pulang dan tidak tidur semalaman menemani gadisnya di malam sakit Fathin yang sedikit parah. Semalaman gadis itu menggigil dan mengigau tak jelas akibat demam tinggi.


Ia duduk di tepian tempat tidur seraya tatapannya tak lepas dari wajah pucat Fathin yang terlelap. Tangannya pun tak pernah lepas dari genggaman tangan panas gadis tersebut. Sesekali Ia mengelus kepala Fathin lembut. Berkali-kali pula Ia menelan saliva susah payah tiap kali Fathin mengigau dan menarik lengannya lalu memeluknya. Bibir tipis yang sedikit terbuka benar-benar menggoda imannya.


Bohong jika Ia tidak tergoda. Detak jantungnya seakan berkejaran. Desiran di hatinya yang berpacu menyatu dengan bisikan syetan yang terkutuk membuatnya kelimpungan menahan gejolak dalam dirinya yang begitu menginginkan gadis itu. Untunglah Allah sang penjaga hati masih berkenan melindungi iman lemahnya. Sekuat-kuatnya Ia menahan diri. Memilih menjauh masuk ke dalam kamar mandi, berwudhu dan mendirikan shalat malam. Bermunajat kepada Sang Pencipta agar tetap menjaga hati dan imannya dari hal-hal buruk.


*


Ia cukup sibuk akhir-akhir ini. Berburu buku rujukan di segala arah, bolak balik konsultasi dengan dosen pembimbing. Belum lagi kesibukannya di lapangan menjumpai beberapa responden sebagai bahan penelitian pelengkap data juga referensi isi skripsinya.


Ya, judul yang diajukannya telah di Acc. Pilihannya jatuh pada judul skripsi "FAKTOR INTERNAL MOTIVASI, COPING, MOOD DAN RELAPS PADA KASUS PECANDU NARKOBA". Ia sengaja memilih judul tersebut sebab akan memudahkannya dalam mencari data valid sebab beberapa anggota gengnya pernah jadi pecandu zat adiktif itu.


Ia benar-benar serius dalam hal ini. Ingin segera merampungkan studynya, wisuda lalu melamar gadis pujaan hatinya. Sebuah ekspectasi yang sudah final di otak dan planing dalam blue printnya.


Ia sudah bulat dalam keputusannya. Ia akan menjalani program Co-ast setelah menikah. Ia tidak ingin mengambil resiko ditikung karena terlalu banyak rem sana sini. Seperti kata Bang Thoriq,


"Menikah itu salah satu ibadah dan menunda ibadah itu sama dengan menolak kebaikan!"


Sudah dua hari Ia merasa kadang hadir semacam rasa khawatir, was-was entah sebab apa tiap kali Ia mengingat terlalu dekatnya dirinya dengan Fathin. Ada setitik bisikan berupa larangan tiap kali Ia ingin menyentuh gadisnya terutama setelah perbincangan panjangnya bersama Bang Thoriq dan Gery dua hari yang lalu sehabis musyawarah mingguan di masjid Markas.


"Masa muda adalah satu fase berat dalam perjalanan hidup manusia. Fase yang sangat ditekankan oleh Baginda Nabi untuk dipergunakan sebaik mungkin sebab kelak harus diertanggungjawabkan di hadapan Sang Khalik. Di habiskan untuk apa masa muda itu? apakah hanya dengan hura-hura dan sia-sia atau sibuk memperbaiki diri, meraup ilmu sebanyak-banyaknya untuk bekal hidup selanjutnya."


"Dan perkara besar yang selalu menjadi ujian bagi pemuda adalah ini!" Bang Thoriq berucap pelan seraya menyentuh dadanya.


"Hati!"


"Maksudnya Bang?"


"Allah swt tak pernah melarang kita jatuh cinta sebab ia adalah salah satu anugerah yang Allah kasi agar setiap hamba saling menyayangi. Tapi bagaimana kita menyalurkannya itu yang sangat ditekankan agar kita tidak terjatuh pada hal-hal yang dilarang. Kita ini makhluk lemah yang selain diberi akal, ada hawa nafsu juga yang menyertai kita. Ujian cinta ini berat. Jika sedikit saja syetan berhasil menggelincirkan iman kita maka kita akan binasa!" Tambahi Bang Thoriq.


Kali ini Ia mulai mengerti ke mana arah pembahasan itu. Ia seakan tertampar dengan penjabaran Bang Thoriq tersebut. Selama ini Ia sudah sedikit jauh berhubungan dengan Fathin. Ia bahkan sudah pernah sekali mencium kening gadis itu. Bahkan hingga saat ini lembut kening Fathin seperti masih terasa di bibirnya. Apalagi jika soal menyentuh tangan Fathin, Ia tak pernah membiarkan gadis tersebut barjalan di sampingnya tampa menggandeng tangannya.


"Astaghfirullahal 'Adziim!" Batinnya mulai merasa bersalah. Kembali teringat malam di mana hampir saja syetan menggelincirkannya andai Allah tidak menjaganya dan keberadaan Mitha di tempat yang sama membuatnya sedikit ragu berlaku jauh.


"Kalau Antum udah mulai faham, belum terlambat untuk menjadikan semua indah pada waktunya. Jatuh cinta pada hati dan raga yang halal itu jauh lebih indah. Setiap yang Antum lakukan akan bernilai ibadah dan berpahala di sisi Allah swt!" Kali ini Gery yang menimpali seraya menepuk pelan bahunya.


Ia menatap kedua wajah teduh berkharisma itu bergantian. Keduanya mengangguk seakan hendak meyakinkannya agar segera menghalalkan gadisnya itu.


"Lo pasti nggak akan kuat nahan diri lama-lama, Bro! Cewek Lo kelewat cantik!" Tambah Gery terkekeh.


"Ck, apaan sih Lo, awas jangan nikung gue Lo!"


Gery dan Bang Thoriq kembali tergelak seraya meninju pelan bahunya.


"Mana berani Gue nikung Lo! Preman kampus! Bisa mati konyol Gue digebukkin geng-geng Lo itu!" sahut Gery masih terkekeh pelan.


"Tolong kasi Gue nasihat yang bisa Gue jadiin pegangan!"


Pembahasanpun berakhir bersama petuah Bang Thoriq yang begitu mengena di hatinya sebagai penutup,


"Gue juga pernah di posisi Lo skarang. Udah hijrah tapi pacaran masih jalan. Sampe satu kali Gue khuruj empat bulan jalan kaki satu rombongan sama salah satu Ulama penanggung jawab Palu. Di hari terakhir sebelum Wabsy Gue seharian pepetin trus Beliau dan minta nasehat. Dan nasehat yang paling terkesan di hati Gue waktu itu Beliau ngomong gini__,"


"Nggak ada nasehat yang paling baik dan berguna bagi seorang pemuda kecuali perintah Ghadul Bashar. Tundukkan pandangan dari perkara yang dilarang darinya. Memandang aja udah sangat dilarang, apalagi menyentuh! dan tangan pemuda yang pernah menyentuh wanita yang tidak halal baginya maka api neraka lebih pantas baginya!" Kali ini Ia menelan saliva susah payah.

__ADS_1


Selama ini Ia begitu menganggap remeh hal-hal tersebut. Ia fikir larangan zina itu tidak sedetil itu. Selama bukan hubungan badan maka hal-hal kecil semacam pegangan tangan atau berciuman adalah sah-sah saja. Ternyata Ia salah. Semua hal yang bisa berpotensi membangkitkan syahwat pada lawan jenis yang tidak halal termasuk zina.


"Jodoh itu nggak akan pernah ketukar. Titah absolut Ilahi yang nggak ada satupun kekuatan di dunia ini yang bakal mampu merubahnya. Kalau udah ditentuin gitu, lalu ngapain kita buang-buang waktu dengan pacaran yang jelas-jelas itu jadi pintu menuju satu dosa besar. Zina itu bukan cuma hubungan badan, bahkan menatap wanita yang bukan muhrim itu merupakan zina oleh mata."


"So, halalin or tinggalin. Just it! Hijrah itu Black or White. Yes or No. Nggak boleh abu-abu. Harus jelas arahnya kita mau ke mana. Kalau beneran mau menuju Ridho Allah swt maka kita harus ninggalin segala habit buruk lama yang bisa mancing murka Allah. Jangan sampai Allah nilai kita nggak serius nerima hidayah ini trus Allah cabut lagi. Wanita itu adalah sesuatu yang sangat berharga dalam islam. Kita hanya diberi hak menyentuhnya jika Kita udah halalin pake mahar dan akad!"


Ia berkali-kali manggut-manggut pertanda faham dengan penjelasan panjang lebar dari Bang Thoriq. Dalam hati Ia membenarkan semua ucapan pria itu. Selama ini Ia sudah terlalu berani menyentuh Fathin. Padahal Gadis itu sering merasa risih tapi Ia tak pernah peduli.


"Tapi Gue pengen wisuda dulu abis itu Papa ke tempat orangtuanya buat lamaran. Dan itu masih beberapa bulan lagi."


"Sebisa mungkin hindari dulu interaksinya. Apalagi skarang kan Lo lagi sibuk ngurus skripsi. Dia pasti ngertilah!"


Ia kembali mengangguk mengiyakan.


"Gue usahain, Bang, InsyaAllah!"


**


Hari ini Ia baru saja bertemu tiga orang anggota gengnya yang pernah mengalami Relapse atau Kambuh. Relapse merupakan terjadinya kembali pola lama penyalahguna (adiksi) dimana pemakaian narkoba berlangsung kembali secara rutin. Ia melakukan beberapa tanya jawab terkait relapse yang mereka alami.


Ternyata banyak hal yang kadang bisa jadi pemicu pola kambuh para pecandu itu. Semuanya terklasifikasi dalam dua faktor yaitu internal (faktor yang berasal dari dalam diri individu) dan faktor eksternal (faktor yang berasal dari luar individu).


Faktor internal meliputi perasaan negatif, seperti perasaan sedih, cemburu, marah, kecewa, dll. Keadaan emosi yang beresiko tinggi, seperti sedih/bahagia yang berlebihan, merasa terlalu senang dan semangat, stres yang berlebihan, depresi, dll. Kebosanan, biasanya terjadi karena ketiadaan aktivitas. Masalah penyesuaian diri, terutama ketika selesai menjalani rehabilitasi rawat inap dan langsung kembali ke keluarga dan masyarakat.


Selain faktor internal, faktor eksternal juga memiliki pengaruh yang besar sebagai pemicu relapse. Beberapa hal diantaranya yaitu Situasi yang beresiko tinggi, yaitu saat-saat tertentu yang mengingatkan akan narkotika. Tekanan sosial, perasaan direndahkan oleh keluarga dan teman-teman. Konflik antarpribadi, misalnya konflik atau pertengakaran dengan istri, orangtua, teman, dll. Orang-orang tertentu, seperti teman pecandu, bandar narkoba, teman sharing saat masih aktif pakai, dll. Benda-benda tertentu, misalnya suntikan, pipet, bong (alat hisap), ataupun narkotika itu sendiri. Tempat-tempat tertentu, seperti diskotik, rumah bandar, tempat yang sering digunakan untuk memakai dan menyimpan narkoba saat masih aktif menggunakan narkotika, dll.


"Ok, cukup untuk hari ini. Thanks, Guys, untuk waktu Lo smua!" Ucapnya menutup sesi wawancaranya.


"Sama-sama, Bang! kapanpun Abang butuh, kita slalu siap, Bang!" David salah satu respondennya menyahut terkekeh.


"Ok, Gue cabut. udah mau maghrib, nih. Lo semua shalat!"


"Widiih, Jenderal kampus kita ternyata udah tobat, guys!" Kali ini Dion yang menimpali seraya tertawa lebar.


Ia hanya tertawa pelan menanggapinya. Meraih perekam suara, ponsel dan kunci mobilnya di atas meja dan bergegas berdiri.


"Siaap, nanti diliat. Moga aja ada waktu luang. Kita bertiga lagi sibuk nyiapin skripsi juga soalnya, Bang!"


"Ok! Gue cabut! Assalaamu'alaikum!"


"Wa'alaikumsalam!" Serempak ketiganya membalas salam tersebut seraya tersenyum simpul. Ada rasa takjub di hati ketiganya melihat perubahan nya yang begitu masif.


Merekapun berpisah setelah saling berhigh five, tos ala laki andalan, fist bump.


_____


*Fathin


Ia sudah mulai fit kembali. Yusuf benar-benar merawatnya dengan begitu baik. Membuatnya berfikir bahwa memiliki suami dokter pasti sangat menyenangkan. Ia tak perlu ke rumah sakit jika sakitnya kambuh sebab ada suami yang akan siaga tiap saat merawatnya di rumah.


Ia tersenyum kecut. Sekarang pria itu malah tak kelihatan batang hidungnya sejak Ia aktif masuk kampus lagi.


Hari ini Ia bahkan tidak begitu focus pada materi kuliah dasar PPD alias Perkembangan Peserta Didik. Pikirannya melayang ke segala arah. Sudah beberapa hari belakangan Yusuf tidak mengunjunginya. Nomor ponselnya bahkan tak bisa dihubungi.


Ia mendesah dengan suara berat yang dihembus kasar. Suara dari operator seluler yang menandai ketidak aktifan nomor yang didialnya membuatnya sedikit kesal.


Batinnya mulai menghimpun kecamuk menggelisahkan. Ia mulai resah. Terbiasa dengan kehadiran Yusuf di sampingnya membuatnya mulai berprasangka saat pria itu mendadak menghilng berhari-hari bak ditelan bumi.


Ia keluar dari ruangan dengan langkah gontai minus semangat. Melirik sejenak penunjuk waktu yang melingkar di pergelangan putihnya. Pukul 11.30. Sebentar lagi waktu dzuhur tiba. Ia memutuskan untuk menunggu waktu shalat di Mushala kampus seraya menunggu Mitha yang masih belajar.


Ia baru hendak berbelok ke arah Mushola saat tiba-tiba terdengar suara pria memanggilnya. Ia berbalik dan mendapati wajah yng tidak asing, si teman baru, Rafael.


"Hey, mau pulang skarang?" Rafael bertanya bersama senyum ramahnya.

__ADS_1


"Ehm, belum, Raf! Aku mau nungguin Mitha di Mushola skalian mau shalat. Bentar lagi dzuhur!" Sahutnya ramah.


"Oh, gitu. Padahal tadi Aku rencananya mau ajak kamu pulang bareng. Ya udah, Aku duluan, yah?"


"Sorry, yah!"


"It's Ok! bye!"


"Bye! hati-hati!"


Pemuda itu mengangguk bersama senyum manisnya dan sekejab berlalu dari sana. Fathin pun melanjutkan langkahnya menuju mushola. Ia Masuk ke dalam setelah sebelumnya berwudhu di tempat wudhu yang tersedia di sudut mushola.


Ia mengeluarkan alat shalat dari dalam tas ranselnya. Berdiri hendak menunaikan shalat tahiyatul masjid. Beberapa saat kemudian Ia sudah tenggelam dalam ibadah nafilnya. Setidaknya hatinya tak segundah tadi setelah Ia bermunajat dengan Tuhannya. Terlebih di saat yang sama Ia melihat Mitha yang baru saja kembali dari tempat wudhu dengan wajah basah.


Keduanya saling melempar senyum. Mitha memberi isyarat hendak shalat sunnah dulu. Ia pun mafhum dan mengangguk.


Masih dengan mukena yang menghiasi wajah cantik nan bersihnya, Ia duduk melipir di sudut Mushola. Kembali mencari-cari sebab perubahan Yusuf belakangan. Ingin rasanya Ia menyambangi Pria itu di fakultasnya sana tapi rasa malu yang besar masih bisa mencegahnya berbuat di luar nalar dan habitnya.


Ia tahu jika saat ini Yusuf sedang dibuat sibuk dengan urusan skripsinya. Tapi, menurutnya ini berlebihan jika sampai nomor ponselnyapun bahkan tak perah bisa dihubungi. Bukankah malah seharusnya Ia akan lebih menggunakan ponsel untuk berhubungan dengan pihak-pihak yang terkait dengan pengerjaan skripsinya itu? Ia tak henti menerka-nerka. Bahkan otak kotornya sampai mencurigai pria itu selingkuh.


"Astaga, apaan, sih, sampe sejauh ini mikirnya!" Ia menggeleng cepat. Berusaha membuang jauh pikiran buruknya yang bisa berpotensi merusak hatinya. Ia sudah cukup tersiksa dengan rasa rindu yang menderanya beberapa hari ini. Ia tidak ingin menambah beban hatinya dengan prasangka buruk yang belum tentu kebenarannya.


"Positif thinking!" Mitha tiba-tiba sudah duduk di sampingnya bersuara pelan seraya mengusap bahunya.


Mitha memang si tanggap sikon. Ia selalu tau apa yang tengah difikirkannya. Menurutnya Mitha sudah seperti si pemaksa itu, selalu bisa menebak isi hati dan otaknya. Bayangan Yusuf kembali hadir. Terutama hari-hari di mana Ia sakit dan pria itu benar-benar mencurahkan segala perhatian padanya. Perlakuan-perlakuan manis dan genggaman tangan yang setiap saat tak pernah lepas dari tangannya. Sungguh menjadikannya kian bucin pada pria itu.


"Jangan ngelamun trus, dong! ntar kesambet setan loh!" Mitha seketika membuyarkan lamunannya.


"Mhit, salah yah kalau Gue berharap lebih sama Kak Yusuf? Gue_gue benar-benar udah jatuh cinta yang terlalu dalam. Gue tersiksa, Mhit, nahan rindu ini!" Manik jernihnya mulai dipenuhi bulir air yang mengaca.


"Nggak ada yang salah dengan perasaan Lo. Wajar kalau Lo rindu. Selama ini Lo udah terbiasa dengan kehadiran Abang itu. So, saat ngilang gini Gue bisa ngerti perasaan Lo! yang sabar yah? Gue yakin Bang Yusuf pasti punya alasan untuk semua ini. Kamu jangan sampe mikir yang nggak-nggak. Gue bisa liat, Bang Yusuf itu beneran cinta dan sayang sama Lo! Lo ingat kan waktu pawai kemaren? Gue liat sendiri gimana frustasinya dia nyariin Lo. Makanya Gue kasitau di mana Lo dan karna nggak pengen gangguin Lo berdua, Gue akhirnya balik gabung sama anak-anak!"


Ia menatap intens sahabatnya itu. Mencoba mencari keseriusan dari ucapannya barusan. Dan yang Ia temukan adalah kejujuran. Hatinya pun seketika menghangat. Ia mengangguk pelan.


"Makasih, Mhit! Lo udah nguatin Gue!"


Mitha mengangguk seraya tersenyum hangat. Adzan pun berkumandang. Mushola sudah hampir penuh oleh mahasiswa-mahasiswi yang hendak menunaikan shalat dzuhur berjamaah. Beberapa senior di jurusannya melempar senyum ke arahnya. Ia pun balas tersenyum seraya mengangguk hormat.


Shalat dzuhurpun berlangsung takzim. Usai shalat salah satu senior yang Ia ketahui merupakan pengurus rohis mendekatinya seraya menyalaminya. Seperti biasa berjabat tangan, lalu cipika_cipiki.


"Assalaamu'alaikum, Ukhty!"


"Wa'alaikumsalaam, Kak!"


"Ukht, ntar sore kira-kira ada waktu nggak? ehm, ana mau ajakin anti berdua ikut tarbiyah di DPC!" Senior bernama Laila itu berucap ramah.


Ia melirik Mitha yang nampak ikut menyimak. Sekilas Mitha mengangguk samar memberi kode.


"A_ada kok, Kak! tapi DPC itu apa, eh maksud saya di mana?" Sahutnya terbata sebab jujur Ia masih awam dengan beberapa istilah dalam dunia yang satu ini. Senior bernama Laila itu malah tersenyum ramah mendengar pertanyaan polosnya.


"DPC maksudnya Dewan Pimpinan Cabang punya PKS. itu tempatnya di lorong Hikmah. Oh yah, kalian tinggal di mana kalau boleh tau?"


"Di lorong kambu, Kak! pondok Srikandi!" Mitha yang menyahut.


"Oh, di kostannya Bang Arsyil yah?"


"Iya, Kak!"


"Kebetulan tuh, tempatnya dekat dari situ. Tinggal nyebrang dua lorong, udah nyampe. Nanti kalau anti berdua udah depan lorong, hubungi nomor ana aja, ntar ana jemput! Kita tukeran nomor hp dulu, yuk!"


Keduanya mengangguk pasrah. Keramahan dan kelembutan senior tersebut seperti menghipnotis keduanya. Merekapun akhirnya saling memberi nomor ponsel masing-masing. Terakhir Laila sedikit memberi gambaran model tarbiyahnya. Ia pikir sepertinya tak jauh beda dengan model tarbiyah yang sering mereka ikuti di sekolah dulu.


Semuanya berpisah setelah diskusi ringan di teras mushola. Ia dan Mitha berjalan menuju gerbang. Hari ini keduanya sepakat untuk pulang naik angkot. Akram sepeetinya sedang sibuk sebab tak bisa menjemput Mitha pulang. Sementara Azhar, sahabatnya itu benar-benar susah di temui.

__ADS_1


Tanpa sadar sepasang mata elang sedari tadi mengikuti kemanapun langkah gontainya menuju. ya, Yusuf sedang menatapnya sendu bersama buncah rindu yang sama.


TBC>>>


__ADS_2