MUJAHADAH CINTAKU

MUJAHADAH CINTAKU
#Episode 39. Melipir sejenak!


__ADS_3

*Yusuf


Setelah kesibukan panjang urusan skripsi, kini waktunya rehat sejenak. Saatnya untuk menepi, melipir sebentar dari hiruk pikuk dunia yang melenakan dan tak ada habisnya.


Telah berlalu sebulan setelah khuruj kemaren. Dua puluh tujuh hari sudah Ia tenggelam dan bergelut dengan urusan makhluk. Kini saatnya Sang Khalik menagih sepersepuluh waktu untuk mengurus Agama_Nya. Tiga hari versus dua puluh tujuh hari. Sungguh perbandingan waktu yang sangat berat sebelah. Tapi Dia adalah Allah, yang Maha Tahu apa yang terbaik untuk hamba_Nya.


Hari ini Ia begitu lelah. Bolak_balik kampus_kota untuk menjumpai para tasykilan baru, anggota-anggota gengnya yang berhasil Ia jaring. Ditambah beberapa pemuda di komplek rumah Papa yang belakangan sering Ia ajak diskusi lepas seusai shalat. Kali ini Ia bahkan berniat membawa serta Vero, sang adik.


Senja kian mendekati peraduan saat Ia kembali ke rumah. Rumah nampak sepi tak seperti biasanya. Hanya suara samar anak-anak Mbak Citra dari dalam kamar yang terdengar sesekali tertawa. Kakaknya yang satu itu memang manja. Ia bahkan tak berniat keluar dari rumah ini seperti kakak_kakaknya yang lain. Ia tak sanggup jika harus jauh dari Papa, satu_satunya orang tua yang mereka miliki.


Ia bergegas menuju kamar Vero di lantai atas yang terletak tak jauh dari kamarnya. Ia mengetuk pintu agak keras, sebab Ia sangat hafal kebiasaan buruk adiknya itu. Jika sudah di dalam kamar, Vero akan memasang earphone di telinga dan memutar penuh volume suara ponsel miliknya seraya mendengarkan lagu-lagu favoritenya. Selamat tinggal dunia luar!


"Vero, buka pintunya!"


"Gue mau ngomong bentar. Gue masuk, yah?" Teriaknya seraya mencoba memutar handle pintu dan,


Ceklek


Pintunya ternyata tidak terkunci. Ia pun mendorong pelan dan melebarkannya lalu berjalan mendekat. Vero masih belum sadar sebab terlalu asyik dengan goyangan kakinya yang seakan mewakili jingkrak tubuhnya yang sedang telentang dengan kaki menjuntai ke lantai.


Sesekali terdengar suaranya menirukan lagu yang sedang Ia dengar. Ia menggeleng berkali_kali dan sejurus kemudian tersenyum miring. Gaya cuek dan masa bodoh dengan dunia luar jika sudah di kamar seperti ini tetiba membawa ingatannya pada gaya hidupnya beberapa tahun lalu di awal-awal Ia menjadi mahasiswa.


"Like he like me!" Gumamnya masih dengan senyum miringnya.


Ia mengambil ponsel Vero di atas tempat tidur dan menekan tombol pause di sana. Aksinya tersebut sontak membuat manik elang Vero terbuka seketika. Melihatnya berdiri di sana dengan tatapan yang sama, Vero refleks terbangun dan terduduk keki.


"Eh, Abang, udah lama di sini?" Vero bertanya salah tingkah.


"Dari tadi. Kebiasaan, Lo!" Sahutnya datar sembari ikut duduk di tepian tempat tidur.


Vero yang nyengir kuda segera memperbaiki posisi duduknya dan berlagak menggaruk kepalanya yang tidak gatal.


"Abang ada perlu, tumben ke sini?"


"Besok Lo ada acara nggak?" Seperti biasa Ia tak suka basa_basi.


"Ehm, nggak ada, Bang!"


"Kelas bela diri?"


"Libur!"


"Kalau gitu, ikut Gue keluar khuruj tiga hari, belajar agama. Lo pernah ngomong pengen berubah, kan? Kalau gitu kita keluar sama_sama besok nyari hidayah, biar hidup kita lebih terarah!"


Ia menatap Vero yang nampak terkejut. Belum mengerti dengan apa yang sedang Ia bicarakan.


"Kita udah sama_sama dewasa, Ver! Kita nggak mungkin hidup gini_gini terus. Hidup itu bukan sekedar ngejalanin doang, tua, trus mati, selesai. Nggak! Banyak hal yang menjadi tugas dan tanggung jawab kita sebagai makhluk Tuhan. Hidup yang kita jalanin hari ini kelak akan dimintai pertanggungjawaban sama Yang Di Atas!" Ucapnya seraya telunjuknya menunjuk ke atas.


"Gue nggak pengen lo kayak gue. Ngehabisin banyak waktu muda dengan hal_hal yang nggak guna. Lo pasti pengen Mama bahagia di sana, kan?" Tanyanya dengan wajah mulai sendu. Vero perlahan mengangguk ikut sendu.

__ADS_1


"Caranya cuma satu. Kita berusaha jadi hamba yang baik, taat sama Allah, maka imbasnya akan jadi amal jariyah yang bakal nyelamatin Mama di sana. Kita nggak cukup beruntung dikasi waktu yng panjang untuk berbakti, membalas semua kebaikan Mama, tapi Allah ngasi cara membalas itu dengan menjadi anak yang sholeh. Lo mau kan ikut gue besok buat nyari itu semua?" Ia menatap intens wajah adiknya itu yang kian terlihat sendu.


"Tapi si kembar gimana? Papa pasti nggak bakal ngasi izin!"


"Yang itu biar gue yang urus asal lo siap ikut gue besok, gimana?"


Vero akhirnya mengangguk pasrah. Ia pun seketika tersenyum penuh kemenangan. Satu anggota keluarganya kini berhasil Ia ajak berjuang bersama.


"Thank's, yah! Lo siapin aja baju ganti, baju shalat ntar kita beli di tempat gue beli kemaren. Alas tidur gue suruh Yuda ntar antarin ke sini." Tambahnya seraya menepuk pelan lengan adiknya itu.


"Ya udah, Lo siap_siap! Kita shalat maghrib di masjid. Cowok tuh afdholnya shalat di masjid." Lagi-lagi Vero hanya bisa mengangguk pasrah.


"Kok lemes gitu, sih! Smangat, dong! Diajak untuk kebaikan juga!" Vero akhirnya terkekeh pelan.


"Ua udah, gue ke kamar dulu, mau mandi. Capek gue ngurus tuh skripsi!" Ia menggeleng membuat keduanya kembali terkekeh dan terakhir mengadu kepalan tinju seperti biasa.


Ia pun beranjak kembali ke kamarnya. Ia masuk dengan langkah gontai. Menghempaskan tubuh tegapnya di atas bed stylishnya. Sejenak menatap langit_langit kamar. Mendadak ingatannya membawanya pada bayangan wajah teduh Fathin.


Lama tak jumpa membuat rasa rindunya kian tak terperikan. Rasa hati Ingin menyapa. Mendengar suaranya atau paling tidak bertanya kabar lewat pesan singkat. Tapi, lagi-lagi semua ultimatum dari Bang Thoriq juga Gery sang sahabat kembali berputar di kepalanya.


"Kalau cuma kirim pesan, nggak apa-apa kali, ya? Setidaknya gue bisa tenang keluar khurujnya kalau gue tau dia baik-baik aja." Batinnya berkecamuk dilema.


Bagaimanapun Ia belumlah menjadi pria sholeh seutuhnya. Ia adalah pendosa yang sedang berusaha memperbaiki diri. Godaan-godaan kecil seperti ini akan selalu mengiringi tatih langkahnya menggapai hidayah.


Dengan masih berselimut ragu tangannya pelan terulur meraih ponselnya yang Ia lempar asal tadi sebelum menjatuhkan diri. Debaran dadanya seakan seirama dengan gerak tangannya yang ragu-ragu mengetik sesuatu di sana.


"Assalaamu'alaikum, Dek!"


Beberapa saat menunggu tiba-tiba ponselnya berdering keras membuatnya sedikit terlonjak kaget. Ia sampai beristighfar saking kagetnya. Tapi lebih kaget lagi saat melihat nama pemanggil yang tertera di layar ponselnya tersebut.


GadisQu memanggil.


Fathin tidak membalas pesannya tapi malah melakukan panggilan telepon. Ia gelagapan sendiri. Kembali dilema antara diangkat atau tidak. Takut kebablasan dan tak bisa menahan diri seperti kata Gery. Tapi Ia juga tidak ingin membuat Fathin salah paham kian dalam padanya. Akhirnya Iman lemahnya memaksa tangannya kemudian terulur dan menekan tombol terima, dan__


"Assalaamu'alaikum, Dek!" Sapanya pelan memulai percakapan.


Hening..


Hening..


"Hiks.. hiks.. hiks.. Kakak jahat!" Ia mencelos seketika mendengar isak tangis Fathin yang terdengar begitu emosional.


"Sorry! Maafkan aku!" Sahutnya pelan. Ia begitu tak tega mendengar tangis Fathin di sana. Ia bisa merasakan bagaimana perasaan gadisnya itu saat ini. Tapi Ia sungguh tak berdaya sama sekali.


"Kakak dari mana aja, sih? Ngapain pake ngilang gitu aja berminggu-minggu nggak ada kabar? Kakak udah bosan sama aku? Kakah udah dapet cewek yang sama tajirnya kayak kakak?" Fathin benar-benar meluahkan segalanya, bahkan kata-kata yang tak pernah terpikirkan olehnya selama ini.


"So Sorry! Sshhh, please jangan ngomong gitu. Tolong jangan nangis, Sayang! Aku benar-benar minta maaf!" Ia ikut berkaca-kaca. Suara tangis di seberang benar-benar membuatnya lemah dalam sekejap.


Hatinya ikut sakit. Mendadak rindu yang selama ini Ia tahan, kian memuncak hingga di ubun-ubun. Berkali-kali Ia beristighfar dalam hati, memohon ampun sekaligus kekuatan dari Sang Penjaga Hati agar tak membuatnya kian terperosok ke dalam ilusi hati yang mencoba menipu akal sehatnya.

__ADS_1


Air matanya kini benar-benar lolos jatuh mendengar suara kekasih hatinya di sana tak henti menangis tanpa kata.


"Sayang, please! Jangan nangis gitu, dong, ntar kamu sakit. Besok Aku ke tempat kamu, kita perlu bicara biar kamu nggak salah paham kayak gini. Jangan marah, yah, please...!!" Ia masih bisa mendengar suara isak tangis Fathin di sana meski tak sekeras tadi.


"Kalau kamu udah tenang, Aku pamit, yah, mau mandi, Bentar lagi maghrib," ucapnya lagi pelan dan hati-hati, takut sang gadis kian salah paham.


Hening..


Hening..


"Fathin...,"


"Kamu masih di sana?"


"Sayang, Aku matiin, yah?"


"Assalaamu'alaikum..!"


"Wa'alaikumsalaam!" Akhirnya suara itu terdengar juga meski lirih. Suara yang sejujurnya sangat Ia rindukan beberapa minggu ini.


Ia bangkit dan berjalan masuk ke dalam kamar mandi. Menyalakan shower dan membasahi rambut gondrongnya. Sekejap otaknya ikut dingin. Meredam gejolak hatinya yang ingin menghianati tekad kuatnya yang sedang berusaha konsisten dengan hijrahnya.


Ia memejam lama. Berusaha memenuhi hatinya dengan nasehat-nasehat Bang Thoriq agar bisa mengenyahkan bisikan-bisikan syetan yang ingin menjerumuskannya kembali.


"Cukup! Cukup, Yusuf! Berhentilah sebelum Lo bener-bener "ditarbiyah" sama Allah!" Batinnya merutuki diri sendiri.


Ia masih ingin berlama-lama di sana, tapi lantunan shalawat dari masjid terdekat menyadarkannya jika Ia harus ke masjid. Waktu maghrib sebentar lagi. Ia pun mempercepat gerakan dan sejurus kemudian Ia sudah siap. Jubah warna putih bersih dan songkok warna senada yang berpadu warna cerah kulitnya benar-benar membuat wajah tampannya kian bercahaya.


Vero yang sedari tadi menunggunya terlihat menyunggingkan senyum takjub menatapnya. Keduanya pun berangkat bersama tatapan hangat dari hampir semua penghuni rumah.


"Bang, Abang, boleh nggak kita berdua ikut jama'ah ke masjid?" Tiba-tiba si kembar Shafa-Marwa berlarian ke arah mereka lengkap dengan pakaian shalatnya.


Ia hanya mengangguk sementara Vero berdecak pertanda kurang setuju.


"Ngapain, sih, ikut-ikut. Perempuan tuh shalatnya di rumah!" Vero bersungut seraya berjalan mengekorinya.


"Ih, apaan sih, Abang aja nggak masalah, kok kakak yang sewot? Dasar nyebelin!" Marwa si ceriwis tak mau kalah membuatnya lagi-lagi hanya bisa tersenyum melihat tingkah adik-adiknya itu yang selalu tak pernah akur jika bertemu.


"Iya, nih, kita kan cuma mau shalat, bukan mau bikin onar, iya kan, Bang?"


Ia mengangguk seraya terkekeh pelan. Tak terasa mereka sudah tiba di masjid tepat sesaat sebelum iqamat. Ia dan Vero langsung ke tempat laki-laki di depan, sementara si kembar masuk di pintu untuk wanita.


*


Ia berjalan cepat menaiki tangga seraya bershalawat pelan saat mendadak terbersit ide briliant mengajak adik-adiknya ikut ta'lim bersamanya. Selama ini biasanya Ia ta'lim sendirian di kamar. Kebiasaan baru yang sukses ditanamkan Gery padanya sepulang dari musyawarah mingguan beberapa waktu lalu.


"Menuntut ilmu (ilmu agama) itu wajib hukumnya bagi setiap muslim. Maka untuk menggugurkan kewajiban itu maka mimimal sehari ada firman Allah swt maupun hadist Nabi saw yang kita baca maupun dengarkan." Lagi-lagi ucapan Gery kembali terngiang di telinganya.


Ia pun akhirnya berbalik dan berseru ke arah Vero dan Si kembar yang sudah hampir menjangkau pintu kamarnya masing-masing.

__ADS_1


"Ver, Kembar, jangan masuk dulu. Temani Abang Ta'lim dulu!"


Tbc>>


__ADS_2