MUJAHADAH CINTAKU

MUJAHADAH CINTAKU
#Episode 40. Perjalanan Ke Kota Tho'if


__ADS_3

* Vero


Ia sudah hampir menjangkau pintu kamar sepulang dari masjid saat tiba-tiba terdengar suara Bang Yusuf memanggil di ujung sana.


"Ver, Kembar, jangan masuk dulu, temani Abang ta'lim bentar!"


Keningnya berkerut pertanda heran plus tak mengerti. Ta'lim? apa lagi itu?. Meski tak begitu faham tapi Ia pasrah kembali duduk di sebuah sova yang ada di sana. Si kembar yang tadinya sudah hampir menutup pintu, ikut kembali dan duduk bergabung dengannya di kursi yang lain.


"Abang ngajak kita apa tadi?" Shafa bertanya lirih pada Marwa yang nampak duduk acuh di sebelahnya.


"Ta'lim. Masa' lo nggak denger tadi?" Marwa menjawab malas.


"Ck, denger cuman nggak ngerti mau ngapain. Duduk aja gitu dengerin atau gimana?"


"Sama, gue juga nggak ngerti. Tuh tanyain Kak Vero, yang ngerti!"


"Ck, sama!" Shafa baru berniat bertanya tapi Ia sudah menyahut duluan, membuat adiknya itu mencebik jengah.


Semuanya diam saat Bang Yusuf menghampiri mereka seraya membawa sebuah kitab yang cukup tebal. Ia menatap dengan mimik ingin bertanya, tapi kemudian suara sang Abang membuatnya urung melakukannya,


"Sini, duduk melingkar!" seru bang Yusuf seraya menepuk pelan karpet yang sedang didudukinya.


Tanpa ba bi bu, ketiganya bangkit dan berjalan ke arena dan duduk manis sesuai instruksi si Pemanggil. Manik elangnya tak henti menilik setiap gerak gerik sang Abang yang pelan tapi pasti membuatnya bisa melihat sisi lain dari bang Yusuf, wajah yang seketika berubah teduh saat tangannya mengusap lembut kitab yang sedang dipegangnya.


Dalam hati Ia mulai takjub pada keseriusan Abangnya itu untuk berubah. Mulai menyadari juga jika tingkat cuek dan masa bodoh si Abang benar-benar turun drastis, terjun bebas di titik minimal, setidaknya untuk hal-hal yang menyangkut kebaikan untuknya juga si kembar. Amazing!


Di titik ini, Ia sedikit mulai penasaran dengan basic model khuruj yang diikuti Abangnya itu, yang menurutnya cukup praktis merubah seseorang dalam segala hal. Attitude, life style bahkan mindset hanya dalam kurun waktu yang teramat sangat singkat, tiga hari. Wow!


"Jangan ngelamun, make focus!" gelagapan Ia terkekeh keki saat suara berat si Abang menegur keterpakuannya.


Ia pun mulai membenahi posisi duduknya saat Ia lihat Bang yusuf mulai berbicara. Menunduk dalam dan khidmat berusaha meresapi setiap apa yang didengarnya. Sesekali Ia melirik si kembar yang bertingkah sama dengannya. Sejurus kemudian mereka mulai terbawa arus dan tenggelam dalam keagungan firman Allah swt dan sabda baginda Nabi saw tentang keutamaan amal-amal agama.


Ia mulai menikmati tiap ilmu baru yang didengarnya. Hingga tak terasa emosinya mulai tersentil, Ia bahkan ikut menitikkan air mata saat bacaan Bang yusuf tiba di part kisah fenomenal mengharu-biru perjalanan dakwah baginda Nabi ke kota Tho'if demi menjumpai sebuah kabilah besar bernama bani Tsaqif untuk mengajak mereka memeluk islam.


Berawal dari sebuah harapan besar menjadikan kota tersebut sebagai pusat penyebaran islam sebab di Mekkah kaum kafir Quraisy tak henti menyakiti Beliau dan umat islam. Akhirnya baginda Nabi pun berangkat ke kota tersebut untuk menjumpai beberapa tokoh kabilah tersebut dan mengajak mereka kepada agama Allah. Namun, alih-alih mendapat sambutan yang baik layaknya tamu sebagaimana adat bangsa Arab pada umumnya, Beliau malah diperlakukan dengan sangat buruk. Para pembesar dan penduduk kota tersebut bahkan menghina Nabi dengan ucapan yang buruk dan menyuruh para pemuda di sana melempari Beliau saw dengan batu di sepanjang jalan kota Tho'if.


Tubuh baginda Rasul berlumuran darah. Keluar dari kota tersebut dengan langkah tatih penuh kesakitan. Hingga tibalah Beliau di sebuah kebun milik seseorang yang dirasa aman baginya. Duduk bersandar pada sebatang pohon kurma menahan sakit di sekujur tubuh yang teramat sangat. Saking sedihnya Beliau akhirnya berdoa kepada Allah swt, mengadukan kelemahan diri. Doa yang begitu menyentuh sampai membuat Arsy bergetar.


"Ya Allah, kepada-Mulah aku mengadukan lemahnya kekuatanku, kurangnya upayaku, dan kehinaanku dalam pandangan manusia. Wahai Yang Maha Penyayang dari sekalian penyayang, Engkaulah rabbnya orang-orang yang merasa lemah, dan Engkaulah Rabbku, kepada siapakah Engkau serahkan diriku. Kepada orang asing yang akan memandangku dengan muka masam atau kepada musuh yang Engkau berikan segala urusanku, tidak ada keberatan bagiku asalkan Engkau tidak marah kepadaku. Lindungan-Mu sudah cukup bagiku. Aku berlindung kepada-Mu dengan nur wajah-Mu yang menyinari segala kegelapan, dan dengannya menjadi baik dunia dan akhirat, dari turunnya murka-Mu kepadaku atau turunnya ketidakridhaan-Mu kepadaku. Jauhkanlah murka-Mu hingga Engkau ridha. Tiada daya dan upaya melainkan dengan-Mu."


Saking sedihnya do'a Nabi tersebut Allah swt langsung mengirim malaikat Jibril as dan dua malaikat penjaga gunung untuk mendatangi Baginda Nabi saw. Dua malaikat penjaga gunung tersebut meminta izin untuk membenturkan dua buah gunung yang mengapit kota Tho'if agar semua penduduknya binasa. Tapi Nabi adalah Rasul Allah. Nabi yang begitu penyayang. Beliau adalah rahmat bagi seluruh alam.


Beliau menolak keinginan dua malaikat itu. Beliau malah menjawab dengan hati seluas samudera,


"Jangan lakukan itu. Aku sudah memaafkan mereka. Apa yang mereka perbuat adalah sebab ketidaktahuan mereka. Aku hanya berharap kelak ada dari keturunan-keturunan mereka yang akan menyembah Allah swt."


"Dialah baginda Rasulullah saw. Sebaik-baik manusia yang Allah utus sebagai penyempurna akhlak bagi manusia. Hatinya bersih tiada cela. Tak pernah menyimpan dendam, berbuat semata karena mengharap ridha Allah SWT."

__ADS_1


Bang Yusuf menutup ulasannya. Perlahan menyusut air mata yang jatuh membasahi pipi, lalu menutup kitab ta'lim yang barusan dibacanya. Sejurus kemudian menatap mereka bergantian.


Ia masih tertunduk dalam dengan mata yang masih berair saat lamat-lamat telinganya menangkap suara Si kembar yang menangis sesunggukan. Ia menyeka cepat bulir bening yang mulai merembes keluar dari kelopak matanya dan buru-buru mengangkat wajahnya dan menatap jengah kedua adiknya itu. Wajah sembab yang menunjukkan jika keduanya telah menangis sedari tadi.


"Sedih sih sedih, tapi nggak usah sampe sesunggukkan gitu kalee kayak orang ditinggal kawin aja." batinnya jengah menilai lebay kedua adik manjanya itu.


"Kenapa nangis?" tiba-tiba Bang Yusuf bertanya lembut bersama senyum miringnya.


"Hiks,, hiks,, hikss, itu, kok mereka jahat banget sama Nabi, Bang?" Marwa menyahut terisak seraya mengucek matanya manja seperti biasa.


"Iya, Bang! napa nggak disuruh aja tuh malaikat gunung hancurin tuh orang-orang di situ biar tauk rasa! huuu,, huu,, huuu,, jahat banget!" Shafa menambahinya dengan lebih emosional.


Lagi-lagi Bang Yusuf menanggapi keduanya dengan tersenyum. Sejurus kemudian menatap ke arahnya masih dengan senyum tipisnya. Ia kembali menunduk mencoba mencari jawaban dari tangisnya barusan. Entahlah, hatinya sakit membayangkan kesakitan yang menimpa Baginda Nabi tersebut.


"Abang senang kalian ikut tersentuh dengan kisah ini. Itu artinya, sebenarnya kalian punya hati yang lembut. Bisa ikut merasakan kesakitan dan kesedihan yang dirasakan Rasulullah SAW. Semoga Allah berkenan ngasi kita hati selapang dan selembut hati baginda Rasul. Aamiinn!"


"Aamiin!"


"Aamiinn!"


"Aamiin!"


Serentak ketiganya kompak mengamini.


Bang Yusuf masih menambahkan beberapa petuah singkat sebelum benar-benar mengakhiri. Yang paling ditekankannya yaitu imbauan untuk selalu menjaga shalat fardhu tepat waktu. Jangan menunda-nunda apalagi sampai meninggalkannya. Satu point penting yang menjadi perhatiannya yaitu maksud dari shalat itu, yaitu agar bisa membawa semua sifat taat dalam shalat ke dalam kehidupan sehari-hari. Seperti berdzikir membesarkar nama Allah saat takbir, rukuk tawadhu merendah di hadapan Allah, menutup aurat, bersalam dan lain-lain, maka dalam keseharianpun sifat-sifat tersebut mesti diaplikasikan.


"Kembar, besok sampe tiga hari ke depan kalian diantar sama Erick dulu, soalnya Vero mau Abang ajak khuruj nyari hidayah. Kalian nggak masalah, kan?"


"Khuruj? apaan itu, Bang?" seperti biasa Marwa si cerewet yang menyahut.


"Belajar agama di masjid!"


"Ooh, ya udah, nggak pa-pa, kok! kita malah seneng kalau Kakak absen dulu antar-jemput kita, soalnya suka nyebelin. Apa-apa nggak dibolehin. Huh!" sahut Shafa dengan mimik tanpa dosa.


"Eh, eh, maksud lo apa? lo berdua tuh yang banyak maunya. Diturutin satu mau yang lain lagi. Dassar!" Ia tak mau kalah.


"Tuh kan, Bang! Kakak emang nyebelin!"


Bang Yusuf lagi-lagi hanya terkekeh kecil seraya berjalan menjauh hendak menuju kamarnya. Refleks Ia akhirnya menatap sangar ke arah dua adiknya itu dan sontak keduanya berlarian masuk kamar seraya berteriak,


"Kaburrr....! ada macan mau ngamuk...!"


Ia tergelak sendiri dan ikut masuk kamar juga.


**


*Fathin

__ADS_1


Malam ini Ia begitu gelisah. Matanya sungguh sedang tak bisa diajak kompromi. Bayangan bagaimana esok Ia akan bertemu Bang yusuf benar-benar mengusik ketenangannya. Ia berusaha memejam mengundang kantuk, tapi yang muncul di hati dan pikirannya adalah bayangan wajah bersih sang pujaan hati.


Ia tak bisa mebohongi hatinya. Sungguh Ia rindu pada sosok menawan itu. Belum pernah Ia merasa segalau ini sebelumnya. Ia bahkan berharap malam ini berlalu cepat. Ingin rasanya Ia melipat waktu agar hari berganti segera. Entah sudah kali ke berapa Ia merubah posisi tidurnya. Menyamping ke kiri, ke kanan, telentang, kadang tengkurap.


"Ah, ya Tuhan, rasa ini nyiksa banget." gumamnya lirih.


Ia masih berusaha terlelap saat tiba-tiba ingatannya berlari pada ponsel yang sedang Ia charge. Ingin rasanya Ia menghubungi meski hanya bertanya kabar. Tapi lagi-lagi rasa malu masih bisa menahan tangannya yang hendak terulur.


Ia berbalik menatap Mitha yang begitu lelap tidur dengan wajah tanpa beban. Mitha memang si cuek bebek. Ia tidak pernah mau dibuat pusing dengan hal apapun. Ingin rasanya Ia membangunkan sahabatnya itu dan meluahkan gundah di hatinya saat ini, tapi Ia tak tega. Mitha sudah cukup sering mungkin sudah mulai bosan mendengar curhatannya yang senada setiap saat.


Ia pun mencoba lagi memejam seraya menghadirkan kembali ingatan akan moment-moment indahnya bersama Yusuf. Dimulai dari pertemuan pertama yang cukup heroik. Si Abang yang hadir sebagai penyelamat baginya. Sudut bibirnya tertarik mengingat masa itu. Lalu Ingatannya berlari pada pelukan erat di mall saat Ia hampir jatuh. Ia tetiba merona dan tersenyum. Dan, ah, kecupan pertama yang melambungkannya tanpa ampun dan hampir saja membuatnya kebablasan berharap lebih. Ya, ampun.. Ia benar-benar malu. Tangannya refleks menyentuh keningnya. Mendadak Ia merasakan lembut bibir Yusuf di sana.


Masih dengan manik tertutup rapat Ia kembali tersenyum malu. Di ujung kesadarannya yang hampir hilang Ia kembali terbayang adegan foto ala prewed saat pawai tempo hari. Wajah yang berkali-kali bersentuhan yang membuatnya kelimpungan menahan debar-debar indah di hati. Ia masih sempat menyunggingkan senyum tipis sebelum benar-benar terlelap membawa sebagian ingatannya akan Yusuf ke alam mimpi.


Ah, cinta memang ambigu!


Kadang kita menganggap cinta itu sederhana. Kita mencintai karena kita memang mencintai, sesederhana urusan menyukai sesuatu, suka karena memang kita suka, atau berbicara karena memang ingin berbicara. Ternyata salah. Cinta tidak sesederhana itu.


Seiring bertambahnya usia, cinta berubah menjadi kebutuhan, perasaan memiliki, dengan segala intriknya. Cinta tidak lagi hanya sekedar kata di mulut atau rasa di hati. Cinta kini berbicara soal komitmen, soal menjaga perasaan, dan kesetiaan. CintaΒ  berevolusi menjadi semakin rumit, dan semakin tidak bisa ditebak.


Cinta disisi yang satu menyakiti, disisi lain menggairahkan. Baik dan buruk semuanya bercampur menjadi satu. Menghasilkan harmoni yang aneh, dengan kunci-kunci minor, augmented, dan diminish yang bertebaran dimana-mana. Bukan hanya sekedar kunci-kunci mayor yang menyenangkan dan mudah diingat.


Cinta bicara soal pengorbanan dan kesendirian. Soal merelakan manusia yang disayangi untuk bersama orang lain yang juga kalian sayangi. Menjauh dari manusia untuk menjaga perasaan manusia lainnya. Melihat orang lain hanya dari kejauhan. Atau bahkan menyayangi orang yang bahkan bertatapan muka saja juga tak pernah.


Namun semakin kita mengamati, kita akan semakin paham bahwa cinta itu anugerah.


Cinta membuat orang melupakan dirinya sendiri, meskipun banyak kesempatan untuk mengeluh. Cinta mengubah manusia untuk menempatkan orang lain lebih utama, walau harus menahan perih sendiri. Cinta memaksa kita untuk memberi kasih dan sayang, meski itu hanya dari kejauhan. Cinta memampukan kita untuk melangkah lebih jauh, melebihi apa yang kita tahu kita bisa. Cinta memampukan kita untuk melewati sakit tanpa rasa sakit.


Yang membuat kita merasa sakit, adalah ketika kita mulai mengasihani diri sendiri. Berpikir tentang sendiri. Membawa-bawa cinta padahal bicara tentang diri sendiri. Katanya bicara pengorbanan, padahal sebenarnya kita tidak rela berkorban. Menyakiti perasaan sendiri, padahal obatnya sudah ada di depan mata. Ibarat mencabut charge-an ponsel, padahal baterenya hanya tinggal tiga persen.


Manusia yang berkorban tidak pernah merasa berkorban. Manusia yang mencintai merasakan sakit, tetapi kemudian melupakannya. Karena cinta itu mengobati, bukan menyakiti.


Ah, lagi-lagi semuanya ambigu!


TBC>>>


#Note


Assalaamu'alaikum..... readers tersayang... 😘 gimana kabar kalian smua? sehat-sehat yah... InsyaAllah?..


Hmmm, Alhamdulillah Allah Yang Maha Baik masih memberi kesempatan untuk kita bersua kembali meski cuma melalui coretan receh ini. Maafkan yah, lama baru bisa up lagi. Kemaren abis dikasi ujian kecil. Allah Yang Maha Berkehendak atas segala sesuatunya. Author abis keguguran dan sempet dirawat di rumah sakit sebab pendarahan, sampe transfusi darah coz HBnya turun banget 7,4.


Tapi Alhamdulillah sekarang udah baikan. Aku ucapin trimakasih banyak yah yang pernah doain Author sehat2 trus. Bisa jadi ini asbab doa2 kalian yang Allah ijabah. Syukron.. Jazaakumullah khairan jazaa. Aku haturkan doa yang sama dan lebih baik untuk kalian semua. πŸ˜‡πŸ˜‡πŸ˜‡


Trimakasih juga sebab masih berkenan menunggu... Salam sayang untuk kalian semua... Uhibbukum fillah... πŸ˜‡πŸ˜‡πŸ˜‡πŸ˜πŸ˜πŸ˜πŸ˜˜πŸ˜˜πŸ˜˜πŸ™πŸ™πŸ™


Wassalam...

__ADS_1


__ADS_2