
*Yusuf
Mentari pagi mulai menghangati kota. Kendaraan yang berlalu lalang mulai memadati arus jalan. Ia menatap lurus. Di depan sana lampu kuning pertanda hati-hati menyala. Ia memperlambat laju kendaraannya. Sejurus kemudian Ia menghentikan mobilnya sebab kini warna lampu lantas itu telah berubah merah.
Ia menunggu tak sabar, seperti biasa. Tetiba Ia teringat pesan Gery untuk membawa sleeping bag saat "Khuruj" nanti. Ia lalu mengeluarkan ponsel miliknya dan melakukan panggilan dengan seseorang.
"Rick, lo ke tempatnya Yudha, cariin gue sleepingbag. Bilang ke dia, harganya ntar gue transfer!" Ucapnya saat sambungan telepon tersambung.
Yudha, mahasiswa semester akhir jurusan sospol di FISIP, Unhalu. Tergabung dalam komunitas MaPaLa alias Mahasiswa Pencinta Alam. Saat Ia tau Yudha ternyata punya skill bisnis yang cukup baik, Ia berinisiatif memberinya modal untuk membangun usahanya jualan segala macam pernak-pernik peralatan outdoor yang di butuhkan para anggota komunitas mapala di mana Yudha aktif selama ini.
Meskipun gerai tersebut terbentuk berkat sumbangsih dana darinya, tapi Ia bukan type orang yang suka aji mumpung. Ia tetap membayar tiap belanjaannya di gerai milik Yudha meski pria itu selalu menolak.
"........."
"Skarang!"
"Gue tunggu lo di depan lorong bintang! jangan lama!"
"......"
Tin,, tin,, tinn
Klakson yang berbunyi bersahutan kembali menyadarkannya bahwa lampu telah berubah hijau. Masih dengan gaya santai dan cueknya__ tanpa peduli ocehan kekesalan dari pengguna jalan yang lainnya__ Ia pun menjalankan mobilnya. Meluncur cepat menuju kostan di mana Fathin menginap.
Dua puluh menit kemudian Ia tiba di depan kostan tersebut. Saat hendak turun dari mobil, Ia melihat Akram, sahabat Fathin sekaligus sumber informasi akuratnya selama ini.Ia buru-buru menurunkan kaca mobil dan berseru, bertanya,
"Fathin, ada?"
"Loh, Abang blum dikabarin ama Fathin? smalem kita langsung ngantarin mereka pulang ke kamar kostnya!" Akram menyahut nampak keheranan.
Semalam Ia memang tak menjemput pulang Fathin setelah acara makrab, sepulangnya dari acara "Ngopi", sebab Ia sudah mendapat info dari Herdin jika acara sudah berakhir dan semua peserta sudah kembali.
"Kostnya? di mana?" Tanyanya tak sabar.
"Di Lorong Kambu, pondok Srikandi. Kamar 01, Bang!"
"Itukan tempatnya si Arsyil?" Gumamnya pelan tapi masih bisa di dengar oleh Akram. Membuat pemuda itu menyahut cepat,
"Iya, Bang. Bener, Kostan itu di jaga ama Bang Arsyil!"
"Ya udah, gue ke sana skarang, thanks, yah?"
"Siap, Bang!"
Ia menutup kembali kaca mobilnya. Ia lalu memutar kembali keluar dari lorong tersebut. Di depan sana Ia sudah melihat Erick di atas motor sport__pemberian darinya hadiah ulang tahunnya setahun yang lalu. Pria muda itu masih duduk menanti bersama sleepingbag warna abu tua mix tosca yang masih tergulung bulat di punggungnya. Sudut bibirnya tertarik seketika.
"Anak ini emang paling bisa di andelin!" Gumamnya masih tersenyum.
"Nih, Bang! Product terbaiknya__Eiger mummy__sisa warna itu doang yang ready katanya!" Ucap Erick__pemuda energik yang selama ini menjadi kaki tangannya__ sembari menyodorkan barang pesanannya.
"Abang mau camping ke mana? tumben cari barang ginian?" Erick tidak tahan untuk bertanya.
"Gue mau ikut Gery jadi "jamaah kompor" tiga hari. Gue cuman ikut aja instruksi Gery suruh bawa ginian!" Ucapnya dengan gaya santainnya.
"Gue dukung, Bang!"
"Hari ini lo mau ke mana?"
"Ada urusan sdikit di kampus, Bang!"
"Kalau besok, lo ada waktu nggak?"
"Ntar di liat. Emang Kenapa, Bang?"
"Nyusul Gue besok, ntar gue kabarin alamat masjidnya!"
"Siaap, Bang!"
"Ok, gue jalan dulu. Kalau ada anak-anak yang mau ikut, bawa sklian!"
"Siaap, Komandan!"
Keduanya terkekeh. Sejurus kemudian keduanya berpisah setelah adu kepalan tinju, fist bump.
**
"Pondok Srikandi""
Ia membaca tulisan besar di gerbang masuk kostan Fathin. Kendarannya masuk perlahan dan berhenti di pelataran bangunan panjang dua lantai itu.
Ia keluar dari mobil dan berjalan menuju teras kostan. Sejenak Ia terpaku membaca sebuah pamflet berisi S&K berlaku, untuk para penghuni. Ia berdecak pelan. Kurang setuju dengan aturan-aturan tersebut. Tidak fleksibel dan terkesan menekan penghuninya. Tapi Ia adalah si cuek Yusuf. Mana mau Ia peduli dengan aturan yang menurutnya konyol seperti itu.
Ia pun melenggang masuk dan mendapati kamar dengan kode 01 di jejeran pertama. Ia sempat merasa aneh sendiri, sebab sejak masuk Ia tak melihat atau mendengar suara seorangpun. Sunyi. Senyap. Tapi Ia tetap mencoba mengetuk pintu kamar Fathin.
Tok.. tokk ..tok..
Ia menunggu dengan harap cemas. Tapi sudut bibirnya seketika tertarik saat mendengar suara yang sangat dikenalnya menyahut dari dalam.
"Masuk aja, Mhit, pintunya nggak dikunci, kok!"
Ia terkekeh. Gadis itu pasti mengira Ia Mitha. Tapi Ia lagi-lagi tak perduli. Ia pun membuka pintu pelan.
Ceklek..
Ia menyapukan pandangannya dan,
Dag.. dig.. dug..
Dadanya berdetak cepat.
Glek..
Ia menelan saliva. Betapa tidak, pemandangan di hadapannya kini benar-benar menguji keimanannya. Bahkan junior di bawah sana mendadak tanpa bisa dicegah, ber ubah menjadi mode On dalam sekejap.
Gadis pujaannya sedang berdiri membelakang dengan kondisi agak terbuka. Celana pendek plus tanktop yang membungkus tubuh indah gadis itu. Rambut di cempol asal yang mengekspose leher jenjang nan putihnya. Belum lagi pinggang ramping dan betis putih mulus di bawah sana.
Bukannya menghindari pandangan itu, Ia malah maju, mendekat, dan tanpa basa-basi berucap,
"Blum siap?"
Hening...
Tiba-tiba...
"Aaaaaaaaaaa.......!"
***
*Fathin
Pagi beranjak matang. Ia dapat shift masak pagi untuk hari ini. Ia dan Mitha memang sepakat untuk mengatur scedule tugas masing-masing setiap harinya. Jika yang satu bertugas sebagai koki, maka yang satunya dapat bagian cleaning service. Sistemnya rolling pagi-petang.
Seperti biasa jika sedang di dalam kamar kost, Ia akan berkutat di dapur dengan pakaian santai seadanya. Celana pendek di atas lutut plus tanktop yang membentuk tubuhnya yang indah proporsional dengan kulit putih terawat dan halus. Rambutnya di kuncir asaI, di ikat cempol, memperlihatkan leher jenjangnya yang putih bersih.
Ia baru saja selesai dengan tugas menyiapkan sarapan untuknya dan Mitha. Sejenak menyeka peluh di kening dan leher. Cuaca hari ini cukup panas. Sepagi ini suhu di kamar tersebut sudah mulai panas. Saat hendak menyiapkan piring tiba-tiba ponselnya bergetar tanda ada pesan masuk.
Awalnya Ia berniat mengabaikannya, tapi mendadak hatinya terusik. Sebab Ia tak bisa berbohong, sedari tadi Ia begitu berharap ada telfon dari Yusuf, setidaknya pesan singkat berisi sapaan romantis layaknya pasangan muda-mudi yang sedang di landa asmara pada umumnya.
Ia pun bergegas bangkit dan berjalan kearah rak sudut dimana ponselnya berada. Dengan hati berdesir bersama buncah harap, Ia membuka pesan singkat tersebut dan benar saja, itu dari Yusuf. Tapi seketika hatinya mencelos. Ia seperti terhempas jatuh setelah berada di ketinggian harapannya.
Kata-kata manis penuh rayuan cinta yang Ia harapkan, tapi yang datang malah kalimat perintah menyebalkan lengkap dengan embel-embel penekanan yang Ia sudah hafal mati, bahkan intonasinya saat Yusuf mengucapkannya.
From: Canebo kerink
__ADS_1
"Siap-siap. Aku jemput dalam 15 menit ke depan. Temani aku ke tempat yang kemaren! Aku nggak terima penolakan!"
Ia berdiri mematung bersama tatapan kosong ke arah layar ponselnya.
"Gimana kalau Kak Yusuf beneran punya sifat cuek, kaku, nggak romantis kayak yang di bilang Mbak Meisya smalem?" Sungutnya membatin.
"Kuat nggak yah, aku hadapin sifat cueknya Kak Yusuf gini?" Maniknya kembali sendu sedikit berkaca-kaca. Bagaimanapun Ia sering sekali disuguhi kisah cinta dengan seabrek hal-hal romantis membahagiakan saat jatuh cinta. Ia bukan sekali dua kali mendengar ataupun membaca ungkapan,
"Bahkan hal-hal kecil nan remehpun akan membuatmu tersenyum bahagia saat kau sedang jatuh cinta!"
Ia lalu menarik kesimpulan bahwa ternyata semuanya hanya ungkapan, hanya puisi, hanya goresan penghibur milik para pujangga. Tak selalu ada di dunia nyata.
Tok...tok.. tokk..
Ia sedikit terkesiap saat mendengar pintu di ketok dari luar. Ia fikir itu pasti Mitha. Tanpa menoleh Ia menyahut sedikit berteriak,
"Masuk aja, Mhit! pintunya nggak dikunci, kok!"
Ceklek..
Pintu terdengar dibuka oleh seseorang. Ia bergeming dengan posisi masih membelakangi pintu. Ia benar-benar yakin si tamu pasti Mitha yang baru kembali dari masjid setelah mengikuti ta'lim pagi sebagai salah satu S&K berlaku bagi seluruh penghuni kost, kecuali jika sedang berhalangan seperti dirinya saat ini.
"Blum siap?"
Sebuah bariton yang sangat Ia kenal tiba-tiba sudah terdengar persis di belakang telinganya.
Aroma maskulin yang sekejab memenuhi indera penciumannya ditambah wangi mint dari hembusan nafas si pemilik suara, Ia pasti tidak salah. Ia telah begitu hafal mati nada itu, aroma itu, Ia tidak mungkin salah. Si pengirim pesan singkat itu kini telah berada di belakangnya.
Ia meremang dan terkejut setengah mati. Mendadak jantungnya berdetak cepat tak beraturan, saling berkejaran seakan hendak melompat keluar dari dadanya.
Bukan hanya kaget, Ia juga panik yang amat sangat. Tak ada satupun pria yang boleh masuk di kamar kost para penghuni selain mereka yang berstatus keluarga. Ini akan jadi boomerang bagi Ia dan Mitha, jika sampai ada yang memergoki keduanya. Terlebih saat ini, satu-satunya penghuni yang tertinggal hanyalah dirinya seorang.
Belum lagi saat ini Ia sedang dalam keadaan tanpa jilbab. Agak terbuka malah. Ia benar-benar merasa seperti sedang telanjang. Meski Jilbabnya masih mode "Bongkar-Pasang", tapi Ia tak pernah seterbuka ini di hadapan pria. Mendadak Ia ketakutan sendiri. Ia berteriak refleks tanpa sadar melempar ponselnya kesembarang arah.
"Aaaaaaaaaa......!"
Tanpa pikir panjang Ia langsung menyambar selimut yang terlipat di atas lemari lalu menutup badannya cepat.
Dengan gerakan gesit secepat kilat, Ia berbalik menatap tajam wajah tampan di hadapannya itu. Ia terpaku sejenak. Hatinya berdesir. Hampir saja Ia lupa akan niat awalnya, akibat bius pemikat dari wajah yang level ketampanannya naik berkali lipat pagi ini.
Entahlah! Yang jelas wajah tersebut nampak bercahaya, lebih beraura, lebih memikat, lebih menyihir dan lebih lebih yang lainnya dari sebelumnya.
Tanpa sadar Ia menarik tangan pria itu lalu menariknya dengan kuat dan berjalan keluar dengan langkah memburu, hingga keduanya tiba di teras kostan. Ia baru melepas tangan Yusuf dengan sedikit menyentaknya saat keduanya benar-benar sudah berada di luar.
"Kakak apa-apaan sih main nyelonong aja. Kalau sampai Bang Arsyil tau, kita berdua bisa diusir dari kostan ini tau nggak! Kakak nggak baca aturan di pamflet itu?" Ucapnya tanpa jeda sedikit emosional seraya menyilangkan tangannya di dada. Menunjuk selebaran yang terpampang di pintu utama dengan dagunya. Wajahnya kali ini serasa benar-benar kebas sebab malu bercampur kesal.
"Baca! Tapi aku nggak suka di atur!" Seperti biasa, pria itu tak pernah bisa di ajak bicara serius. Ia menggeram bersama seringai kejengkelannya.
Ia mengalihkan wajah ke samping bermaksud menghindari tatapan Yusuf yang sedari tadi menatap intens tanpa jeda.
"Aku siap-siap dulu. Kakak di sini aja nunggunya. Nggak usah ikutan masuk. Aku nggak mau ada yang salah faham sama kita berdua!" Titahnya kemudian, sebab selangkah lagi jika Ia tidak menghindar, Ia pasti akan kalah telak dengan aura mengintimidasi dari pria di hadapannya itu. Belum lagi Ia begitu bersusah payah mengatur degup bertalu-talu di dadanya sejak awal.
"Biarin aja. Bentar lagi kita juga bakal nikah." Lagi-lagi pria itu berucap datar, cuek. Membuatnya kembali berdecak tak habis pikir.
"Ck, tunggu di sini atau aku nggak ikut!" Ancamnya dengan mimik yang di buat tegas.
"Aku suka kamu begini. Calon istriku banget!"
"Apaan, sih!" Ia berjalan meninggalkan Yusuf yang masih tersenyum simpul seraya menatap kepergiannya. Ia masih sempat melirik Yusuf di sana sebelum akhirnya membuka pintu dan masuk cepat. Ia mengunci pintu agar Ia merasa aman. Berdiri lama menyandarkan punggungnya di balik pintu. Sedikit menengadah seraya memejam hendak mengurai gundah di hati.
Entahlah! Yang jelas Ia ingin marah. Ia kesal. Ingin menangis tapi bingung untuk apa dan pada siapa. Juga perasaan malu yang bertubi-tubi membayangkan bagaimana tadi Yusuf memergokinya dalam keadaan terbuka. Kesadarannya kini pulih. Ternyata Ia masih terbungkus selimut yang Ia jadikan pelindung tubuh sebelumnya.
Ia ingin marah untuk kasus yang satu ini. Tapi perasaan senangnya berjumpa lagi dengan si pemilik wajah tampan itu, mengalahkan semuanya.
"Apa emang seaneh ini yah kalau lagi jatuh cinta?" Gumamnya masih menyandarkan punggungnya di balik pintu.
*
Ia mandi dengan mode SKS alias Sistem Kebut Semenit. Tak ingin mengundang perdebatan dengan Yusuf, Ia pun mempercepat gerakannya. Seperti biasa Ia tampil sederhana dengan polesan wajah seadanya. Pilihan ootd casual. Jilbab segitiga yang di ikat asal, tapi tak sedikitpun mengurangi kecantikannya. Lima belas menit kurang Ia sudah siap lalu membuka pintu hendak keluar.
"Ngapain aja di dalem, lama banget!" Suara berat itu lagi-lagi mengagetkannya. Ia mendelik kesal ke arah asal suara yang berada tepat di hadapannya kini. Ternyata Yusuf sedari tadi berdiri menunggunya di depan pintu.
"Apaan sih, kebiasaan deh, hoby banget ngagetin orang!" Sungutnya mencebik. Tangannya bergerak mengusap-usap dadanya sembari mengunci pintu lalu meletakkannya di bawah keranjang sampah yang berada di samping kanan pintu, seperti biasa.
"Ck, gitu aja kaget! Ayo, jalan!" Seperti yang sudah-sudah Yusuf dengan cepat menggandeng tangannya sambil melangkah mendahuluinya. Ia yang tak bisa menebak gerakan refleks pria itu mau tidak mau ikut melangkah berusaha mengimbangi langkah lebar Yusuf. Dalam hati tak henti mempertanyakan status hubungan ini.
"Kak Yusuf beneran cinta nggak sih? Sikapnya nggak ada manis-manisnya sdikitpun! Nyebelin!" Batinnya bertanya gusar.
Saat hendak menuju mobil Yusuf di parkiran, satu gerombolan penghuni kost baru saja kembali dari ritual ta'lim harian di masjid. Ia yang sebelumnya berwajah datar mendadak melampirkan wajah kesal tak suka. Bagaimana tidak, semua gadis itu menatap tak berkedip ke arah Yusuf. Meskipun ekspresi pria itu tetap seperti biasa, cuek dan datar tak terkesan dengan keadaan, tapi hatinya tetap tidak terima.
"Waooow.. ganteng banget!"
"Itu pacar si Fathin, yah?"
"Dapat di mana?"
"Kalau ganteng gitu mah, jadi selingkuhan Juga gue rela!"
"Stok cogan nya Fathin banyak banget, yah?"
Diantara bunyi suara kasak-kusuk yang masih bisa terdegar olehnya. Bahkan Yusuf tetiba mendelik kearahnya saat salah satu di antara penghuni kostan itu berucap seraya cekikikan.
"Yang ngapelin minggu kemaren juga ganteng, hihihihi!"
Ia yang langsung menyadari siapa yang mereka maksud, mendadak merasa takut sendiri. Entah mengapa Ia takut Yusuf mengetahui tentang Ia dan Fahry. Untuk mengalihkan focus pria itu, dengan segera, Ia pura-pura mengajak Yusuf masuk mobil. Beruntung pria itu menuruti nya dan langsung membukakan pintu untuknya. Berjalan memutari mobilnya lalu masuk dan duduk di jok kemudi.
Ia memasang sealbelt, lagi-lagi hanya untuk pengalihan focus. Mobil sudah mulai bergerak pelan keluar dari pelataran kostan tersebut. Melawati gerbang nya, bergerak perlahan keluar dari gang. Tak lama kemudian menyatu dengan keramaian pagi jalanan kota.
Ia memaksa diri setenang mungkin meski sebenarnya hatinya kini amat gelisah. Bagaimana tidak, Yusuf belum berucap sepatah katapun sedari tadi. Bahkan rahang itu nampak mengeras seperti menahan gejolak amarah di dalam sana. Ia memberanikan diri mencuri tatap pada wajah datar itu. Katakutannya kian besar.
Ia mulai mencari-cari lalu menghimpun jawaban yang akan diberikannya jika pria itu bertanya tentang Fahry. Apapun itu, Ia harus jujur. Berbohong bukan solusi menurutnya. Malah bisa jadi boomerang bila kelak sang waktu membukanya di kemudian hari.
Ia ingin memulai percakapan tapi nyalinya tak sebesar keinginannya. Hingga di menit di mana Ia sudah tak mampu menahan diri, Bibirnya tetiba berucap lirih,
"Maaf!"
Dari sekian kalimat pembuka percakapan Ia hanya menemukan kata itu. Benar-benar refleks tanpa terfikir sebelumnya.
Hening..
Hening..
Yusuf tak menyahuti ucapannya. Ia kian keki. Bingung hendak berucap apa lagi. Hatinya mendadak sendu. Matanya mulai berkaca-kaca. Ia akhirnya berucap lagi, memanggil.
"Kak__!"
Ia menjeda sebab pria itu bahkan tak menyahutinya lagi. Tatapan mata yang kian tajam menatap lurus ke depan membuatnya tak mampu lagi menahan diri untuk tidak bersuara lagi.
"A_aku minta maaf, Kak, kalau ada salah! Please ja__,"
"Siapa cowok itu?" Yusuf tiba-tiba menyela, membuatnya tercekat tak melanjutkan ucapannya.
"Co_cowok yang mana, aku nggak nger__,"
"Aku paling nggak suka dibohongin!"
Wajah itu kian menegas. Yusuf sampai menginjak rem mendadak dan menepikan kendaraannya di bahu jalan. Menatapnya tajam penuh kilatan kemarahan. Ia menatap sekilas lalu menunduk tak berani bersitatap.
"Kamu ngomong skarang atau kamu nunggu aku tau dari orang lain dan kamu liat gimana cara aku ngingetin orang itu agar jangan coba-coba deketin kamu lagi!"
Suara Yusuf yang tadinya datar kini berubah keras sedikit membentak. Ia yang sejatinya tak pernah sekalipun mendapat perlakuan serupa dari siapapun, benar-benar kaget dengan ekspresi kemarahan pria itu. Air mata yang mengaca kini lolos akhirnya.
"Kakak salah paham, hikss,, hikss,,!" Ia ingin balik marah atau ikut membentak, tapi Ia tak bisa melakukannya. Selain karena sudah terlanjur takut, Ia memang punya sifat lemah lembut. Ia tak pernah bisa bersuara keras kepada siapapun meski sedang marah.
__ADS_1
"Aku nggak punya hubungan apa-apa sama Bang Fahry! Di__,"
"Oh, jadi si Fahry?" Yusuf menyela cepat.
"Tolong jangan bikin yang aneh-aneh, Kak. Sumpah!Kita nggak ada apa-apa. Bang Fahry emang pernah ke kostan kita tapi cuma skali itu doang. Itu juga cuman bawain koran pengumuman kelulusan, hiks.. hikss..!" Ia menangis tak tahan lagi.
Ia masih menunduk dalam. Tangannya sibuk memilin ujung bajunya. Ia masih terisak kecil saat tiba-tiba kepalanya di raih dengan lembut dan dibawa bersandar di bahu kokoh milik yusuf. Ia ingin menolak tapi sebagian kata hatinya juga menginginkannya.
Keduanya berdiam lama. Saling meresapi perasaan masing-masing.
"Maaf! Aku_aku nggak sengaja bentak kamu tadi. Aku terbawa perasaan denger ada cowok lain yang ngapelin kamu!" Suara itu akhirnya berucap datar seperti biasa.
"Aku_aku.... jujur aku cemburu! Aku nggak mau denger lagi Fahry atau siapapun ke tempat kamu dengan alasan apapun itu!" Suara itu menegas lagi.
Ia pun mengangguk pasrah.
"Maaf!" Ucapnya lagi yang kemudian di balas anggukan oleh Yusuf.
Hening..
Hening lagi.
"Kita jalan skarang?" Ucap Yusuf tiba-tiba bertanya.
"Ehh, ah, i_iya, ayo!" Ia gelagapan dan buru-buru menarik diri dan kembali duduk seperti semula.
"Bahu aku bikin nyaman yah? kamu suka betah banget nyender di sini!" Yusuf berucap seraya menepuk bahunya sendiri. Pria itu terkekeh kecil, membuatnya malu dengan pipi yang bersemu.
Ia menggeleng berkali-kali. Menunduk grogi tanpa mampu berucap.
Mobil kini kembali berjalan. Tak butuh waktu lama kendaraan roda empat itu memasuki area parkiran pusat perbelanjaan yang menjadi tujuan mereka.
Keduanya pun turun dan berjalan masuk. Lagi-lagi tangan Yusuf meraih tangannya dan menggenggamnya erat. Tak ingin berdebat di tempat ramai Ia akhirnya memilih diam dan membiarkannya.
Ia melirik penunjuk waktu yang melingkar manis di pergelangan tangannya. Ternyata sudah pukul 09 lebih 15 menit. Di jam-jam seperti ini, Suasana mall belum terlalu ramai. Ia menyapukan pandangannya sekeliling. Lagi-lagi mata liar para wanita yang mereka jumpai tak satupun yang tidak menatap Yusuf dengan tatapan mendamba. Ia kembali mendengus kesal. Ia melirik wajah tampan itu yang lagi-lagi tak memberi reaksi apapun. Ia pun berusaha cuek meski masih sedikit mendongkol.
Saat hendak menaiki tangga eskalator tiba-tiba Ia teringat insiden kemarin, saat Ia hampir saja jatuh lalu pinsan akibat phobianya yang kambuh. Tangannya refleks menahan lengan Yusuf sembari menggeleng saat keduanya bersitatap.
"Aku tunggu kakak di sini aja, yah? Nggak apa-apa kan? Aku belum berani naik ke atas!" Ucapnya memelas.
"Kita nggak usah naik ke atas. Kita cari di lantai ini aja. Pasti ada!" Sahut Yusuf menenangkannya. Ia pun mengangguk. Tersenyum melampirkan lesung pipi mungil di sudut bibirnya. Seketika Yusuf terpana sejenak.
"Kamu cantik!" Seperti biasa pria itu tidak pernah peduli dengan suasana apapun.
"Apaan sih, malu tauk di liatin orang tuh!" Ucapnya malu, sembali berjalan duluan menarik tangan Yusuf untuk mengikutinya. Pria itu lagi-lagi terkekeh kecil melihat tingkahnya.
Setelah beberapa lama berkeliling mereka akhirnya menemukan gerai muslim yang cukup lengkap. Keduanya masuk dan mulai mencari barang yang di inginkan Yusuf.
"Kakak, mau nyari apa, sih, sebenernya?" Tanyanya seraya melepas genggaman tangannya.
"Tunggu di sini, aku tanya dulu ama karyawannya."
"Mbak, bisa tolong cariin baju setelan yang kayak model itu?" Yusuf bertanya pada salah satu karyawan wanita berjilbab panjang sebetis, seraya menunjuk setelan gamis pria warna abu mix navy yang terpasang di sebuah manekin.
"Oh, iyah, butuh berapa setel, akhy?" Tanya karyawan tersebut dengan lembut.
Ia yang sejak awal nampak kurang respect dengan karyawan gerai itu yang beberapa kali tertangkap mata olehnya menatap Yusuf dengan malu-malu, menjadi kian resah. Wajahnya mencebik ke arah Yusuf yang sedang terkekeh kecil menertawakan dirinya. Seakan mengetahui dengan pasti apa yang sedang difikirkannya.
Saat pegawai cewek itu sedang sibuk mencari beberapa warna dan model yang berbeda sesuai pesanan Yusuf Ia pun mendekati pria itu.
"Ck, nyebelin!" Bisiknya gusar. Yusuf kembali terkekeh pelan.
"You're the one only!" Ucap Yusuf balas berbisik.
"Gombal!"
"Mau bukti?"
"Jangan ngadi-ngadi!" Sahutnya cepat, sebab Ia tau, selain cuek pria itu tak pernah main-main dengan ucapannya.
Pria itu tergelak. Ia mendelik lucu.
"Mari ikut saya akhy, ukhty, setelan gamisnya ada di bagian sebelah sana!" Ucapan sang karyawan berhijab besar seketika memutus rantai perdebatan keduannya.
"Baik! ayo!" Sahut Yusuf dan kembali meraih tangannya.
"Kami punya beberapa varian model sama brand baju muslim terbaik. Dan yang merk ...... sama ....... adalah brand paling terbaik." Terang karyawan tersebut sembari menyebut nama dua brand pakaian muslim terbaik di negeri ini.
"Kamu yang pilihin, tiga yang model setelan, trus yang panjang, jubah tiga!" Titah Yusuf padanya.
"Kok, banyak banget, buat siapa sih emang?" Tanyanya sebelum beraksi.
"Ntar, jelasinnya!" Sahut Yusuf singkat.
"Ck, ya, udah. Tunggu!"
"Permisi, Mbak!" Ucapnya pada karyawan wanita tadi.
"Silahkan, Ukhty!" Ia membalas kembali dengan senyuman.
Tangannya lalu mulai berselancar di deretan baju muslim pria yang tergantung rapi. Sesekali Ia menyandarkan baju pilihannya di tubuh tegap Yusuf. Postur tubuh Yusuf yang lebih tinggi berpuluh centi darinya, membuatnya berkali-kali harus berjinjit. Pria itu sampai terkekeh kecil tiap kali Ia seperti itu.
"Ih, jangan ledekin! aku nggak pendek yah, kakak aja yang kelewat tinggi!" Ia mencebik membuat Yusuf kian tergelak.
"Aku pen liat kakak coba yang ini! kayaknya keren deh. Pasti kakak bakal kayak Bang Arsyil!" Ucapnya seraya menyodorkan setelan gamis warna abu muda.
"Harus yah?"
"Harus!"
"Oh, yah, sekalian sama songkoknya, nih!" Ia kembali menyodorkan sebuah songkok warna abu gelap pada pria itu.
Meski berat hati, Yusuf tak punya pilihan lain selain mengikuti titahnya. Pria itupun masuk ke dalam ruang ganti yang ditunjukkan oleh sang karyawan. Sembari menunggu Ia menitahkan karyawan tersebut untuk memaket kesemua pilihan baju untuk Yusuf yang di sukainya.
Beberapa menit berlalu. Ia menunggu dag dig dug. Pintu tetiba terbuka dan tanpa sadar manik sendunya terbelalak penuh kekaguman. Hatinya berdesir menggelitik lagi. Ia benar-benar takjub akan ketampanan pria dengan balutan agamis di hadapannya kini.
Ia menelan saliva. Tanpa sadar melangkah mendekat.
"Tuh, kan, kakak udah kayak Bang Arsyil beneran kalau kayak gini. Sisa nunggu janggutnya tumbuh tuh!" Ia menangkup pipinya sendiri seraya berucap malu-malu.
"Gantengan gua dari si Arsyil!" Yusuf menyahut dengan gaya narsisnya. Ia terkekeh kecil. Dalam hati pun mengakui jika pria yang kian sering membuatnya berdesir indah itu, memang memiliki ketampanan yang paripurna.
"Ayo!"
"Tunggu, aku ke kasir dulu!"
"Aku ikut!" Sahutnya mencebik.
Lagi-lagi Yusuf terkekeh kecil menatapnya.
"You're the one only!"
Blushhh...
Semburat merah itu lagi-lagi menerpa pipinya. As usual!
TBC>>>
# Khuruj” atau “Khuruj fi Sabilillah” merupakan metode dakwah yang dilakukan secara berpindah-pindah tempat yang dilakukan kelompok dakwah Jamaah Tabligh. Mereka membentuk kelompok yang terdiri dari 6, 9, hingga 12 orang untuk berdakwah keluar kampung halaman dan mendatangi umat di daerah lain.
Metoda ini menggabungkan empat kekuatan amal sebagai penunjang gerakan ini yaitu DAKWAH, TA'LIM WATTA'LUM, DZIKIR WAL IBADAH & KHIDMAT.
Mereka keluar meninggalkan keluarga, kampung halaman, bahkan pekerjaan, tanpa di panggil, tanpa di gaji, benar-benar lillahi taala, panggilah hati sebagai representasi tanggungjawab sebagai umat baginda Rasulullah SAW, khairu ummah yakni sebagai penyeru kepada kebaikan dan mencegah dari kemungkaran.
__ADS_1