
*Fathin
Pagi-pagi Ia sudah dibuat pusing dengan kehebohan Mitha gegara urusan motor matic keluaran terbaru di parkiran kostan yang di bawa Erick semalam. Sedikit gregetan sebab ternyata Yusuf serius dengan ucapannya. Motor yang dijanjikannya benar-benar datang. Meski Mitha tak henti memberondongnya dengan banyak tanya, Ia tetap menyembunyikan alasan yang sesungguhnya Yusuf memberinya motor tersebut. Ia tidak ingin ada pihak lain yang tahu lantas salah faham atas sikap Yusuf tersebut.
Ah, belum lagi jika bertemu duo sahabat lakinya, Azhar dan Akram. Ia sudah bisa membayangkan rentetetan pertanyaan dari keduanya.Terlebih adanya motor itu maka praktis akan mengurangi ketergantunangannya pada kedua sahabatnya itu. Semoga Azhar dan akram tidak salah paham untuk ini, harapnya.
"Dasar pemaksa!" sungutnya dalam hati saat Erick menyerahkan kunci motor semalam.
Tapi meski dalam hati enggan menerima tapi Ia tetap berucap terima kasih dengan ramah pada Erick, tangan kanan kak Yusuf. Seakan tahu apa yang sedang dirasakannya, Erick sempat berucap sopan,
"Terima aja. Bang Yusuf kalau serius sama cewek ya, begini. Posesif dan pemaksa. Tapi satu hal yang harus kamu tahu, Abang orangnya baik. Kamu bisa tanya ama semua yang kenal sama beliau."
Ia jadi teringat cerita Mitha tentang Yusuf. Jika mau jujur sebenarnya Ia pun bisa merasakan kebaikan-kebaikan itu. Meski kadang terkesan cuek tapi Ia tak meragukan betapa perhatiannya Yusuf padanya. Pria itu akan rela melakukan apapun untuknya.
Fix, hari ini Ia dan Mitha akhirnya berangkat ke kampus dengan motor baru setelah penjelasan panjang kali lebar mengurai kekepoan Mitha. Sepanjang jalan sahabatnya itu tak henti mengoceh riang memuji Yusuf.
Tampanlah, tajirlah, baik dan nggak pelitlah, sholehlah. Mitha malah tak segan memberi label sempurna pada Yusuf, Idaman setiap wanita. Lagi-lagi Mitha menakut-nakutinya dengan memberi warning agar Ia hati-hati. Jangan sampai Yusuf terpikat dengan cewek lain yang lebih agresif darinya.
"Apaan, sih. Lo hobi banget nakutin gue kayak gitu. Kemaren-kemaren lo bilang Kak Yusuf itu type cowok setia, gimana, sih!" sungutnya cemberut.
"Hehehe. Cuma ngingetin doang, Beb. Jangan manyun, ih. Jadi jelek ntar Bang Yusuf belok beneran lho!" Mitha cengengesan seraya membuka helm sebab keduanya telah tiba di kampus.
"Eh, betewe, lo udah ngomong blum ke Azahar sama Akram soal motor ini?" Mitha kembali serius seraya menunggunya memarkirkan motor.
"Gue cuma bilang tadi nggak usah nganterin kita hari ini. Kita mau barengan naik motor. Azhar nggak nanya soalnya jadi gue nggak jelasin juga." sahutnya sembari berjalan mensejajari Mitha.
"Iyalah, Azhar, kan, nggak kepoan kayak Akram. Ya, udah, biar jadi surprise buat mereka. Hehehe."
"Tapi gue jadi nggak nyaman, Mhit. Gue juga takut!" keduanya berhenti dan memilih duduk di sebuah bundaran di bawah pohon akasia rindang depan gedung bahasa, sebab jam kuliah masih dua puluh menit lagi.
"Takut gimana?"
"Gue takut ntar ada gosip yang nggak enak. Lo tau sendiri, kan, di kampus ini banyak mahasiswa yang sekampung sama kita. Nggak nutup kemungkinan di antara mereka ada yang mikir macem-macem. Untuk ukuran mahasiswa kere kayak kita, motor tuh adalah barang mewah dan mahal." Ia akhirnya tak tahan untuk tidak mengutarakan kegundahan hatinya pada sahabatnya itu.
"Iya, yah. Gue kelewat senang, Fhat, makanya nggak sampe ke sana mikirnya." sahut Mitha dengan wajah sesalnya.
"Kemaren aja cuma diliat jalan doang sama Kak Yusuf, udah kesebar cepet katanya gue ke sini bukan niat kuliah tapi nyari pacar. Dan, itu nyampe di telinga bapak sama ibu di kampung."
"Kok lo baru ngomong ke gue sekarang soal ini? Trus Om sama tente bilang apa?"
"Gue nggak mau bikin lo ikut pusing sama masalah gue yang ini. Bapak sama Ibu sempat sedikit kemakan, sih, sama cerita itu dan ngasi warning untuk tidak bikin yang aneh-aneh selama di sini."
"Kita nggak aneh-aneh, kok. Motor ini juga kita nggak minta. Kamu malah dipaksa terima, kan?" Mitha memang si cuek bebek. Ia tidak mau memusingkan sesuatu yang belum terjadi.
"Apa nggak sebaiknya gue cerita aja soal kak Yusuf ke ibu sama bapak, Mhit?"
"Tapi kalau soal kayak gini menurut gue, lo harus ngomong langsung. Jangan lewat telfon. Gimana kalau pas pulkam lebaran aja lo sampein ini. Gue bakal bantu lo ngejelasin siapa kak Yusuf dan gimana orangnya sama mereka."
"Gitu, yah?"
"Iyah. Menurut gue bagusnya gitu."
"Tapi kalau gosip soal motor ini keburu sampe ke mereka, gimana?"
"Tenang, serahin ke gue. Kita bilang aja ini motor kakak gue, rebes, kan?" Mitha memainkan alisnya naik turun.
Ia pun tak bisa menahan senyum dengan tingkah sahabatnya itu. Mitha memang ahli untuk soal mencari ide gesrek dalam keadaan darurat.
__ADS_1
"Lo sama Akram emang paling bisa kalau soal ginian." Ia terkekeh pelan.
"Eits, itu modal krusial buat ngadepin dunia seribu bibir. Akal kita mesti selangkah lebih maju dari bibir mereka."
"Ahahaha. Bibir siapa, sih?" Ia tertawa seraya memukul paha Mitha yang sontak membuat Mitha memekik kecil. Kebiasaan buruknya sedang kambuh tanpa Ia sadari.
"Aoo, apaan, sih, Fhat. Lo kalau mau nampol ngomong dulu, dong, Beb, biar gue bisa siap-siap." Mitha meringis lucu seraya mengelus pahanya yang mungkin sudah memerah di balik celana panjangnya.
"Sorry, sorry, gue refleks, Mhit!" Ia cekikikan seraya ikut mengusap paha Mitha.
"Jangan bilang Lo kalau di depan Bang Yusuf suka refleks gini juga?"
Ia kembali tak bisa menahan tawa.
"Pernah sekali." Ia meringis malu.
"Ih, parah lo, Fhat."
"Lo tau Kak Yusuf ngomong apa waktu itu?"
"Apa?"
"Aku suka kamu begini. Kamu cantik kalau lagi tertawa." Ia menirukan gaya Yusuf dengan sedikit berlebihan. Membuat Mitha menyahut lebih lebay.
"Isshh, so sweet...! Abang Yusuf emang keren. Fhat, bilangin Bang Yusuf kalau masih ada stok temennya yang kayak dia, gue juga mau."
Ia kembali ingin memukul paha Mitha tapi kali ini sepertinya sang sahabat sudah lebih siap. Mitha langsung berdiri menghindar seraya berlari melambaikan tangannya.
"Hehehe. Gue duluan, Beb. Dosennya udah dateng, tuh."
Ia masih terkekeh geli seraya ikut melihat ke arah yang ditunjuk Mitha. Ia akhirnya ikut melambaikan tangan.
"Ok! Bye!"
Keduanya pun berpisah. Ia juga memilih masuk ruangan sebab dari jauh Ia sudah melihat bayangan Pak Indra, dosen yang akan mengisi mata kuliah extensive reading on fiction hari ini.
Ia memasuki ruangan dan saat tatapan matanya bertemu dengan manik Rafael, ingatannya malah berlari pada wajah datar Yusuf kemarin. Ia duduk seraya mengulum senyum. Rindu yang berkurang sebab pertemuan singkat itu membuatnya lebih semangat mengikuti perkuliahan hari ini.
**
*Akram
Ia menatap wajah Azhar penuh selidik setelah melihat ada sebuah motor matic keluaran terbaru terparkir manis di depan kostan mereka. Azhar yang ditatap demikian langsung mengerutkan keningnya ikut bertanya-tanya dalam hati. Tapi kecurigaan keduanya sepertinya sama terutama saat tiba di depan pintu kamar yang sudah tak terkunci. Ada orang di dalam.
Keduanya saling tatap. Yang tahu letak kunci kamar mereka hanya duo sahabat rempongnya, Mitha dan Fathin.
Tanpa mengetuk keduanya langsung masuk dan kembali bengong menyaksikan dua orang yang sedang tertidur pulas di atas tempat tidur mereka. Keduanya sontak bersamaan tersenyum seraya geleng-geleng kepala.
"Dassar kebo! Bangun woi, udah sore." Ia yang suka iseng pun mulai berulah.
Meski suaranya sudah mirip toa masjid tapi kedua miss rempong itu tak sedikitpun terusik dengan teriakannya. Membuatnya kian tertantang untuk menjahili keduanya.
"Banjir... Banjir.. Woi, banjir..!"
Kali ini aksinya berhasil. Fathon dan Mitha seketika terbangun ikut berteriak banjir. Ia dan Azhar yang sedari tadi hanya berdiri bersedekap menyaksikan semua ulahnya kini tertawa terbahak-bahak melihat dua orang di depannya yang sibuk mencari barang miliknya seraya berteriak, banjir!
Hingga tak lama berselang keduanya sadar akan keusilan yang Ia buat. Fathin dan Mitha tanpa aba-aba lanhsung menyerangnya dengan melemparinya beberapa buah bantal seraya mengomel tak jelas.
__ADS_1
"Brengsek, lo. Untung aja kita nggak ada riwayat penyakit jantung. Kalau ada, lo mau tanggung jawab kalau kita berdua koit mendadak?" Mitha berdiri berkacak pinggang di hadapannya setelah puas melemparinya bantal.
Ia masih terkekeh dengan wajah tanpa dosa.
"Lagian lo berdua tidur mati kayak kebo. Gue udah kasi yang versi lembut dan sopan tapi nggak mempan."
"Ck, parah, lo! Sumpah! Gue pikir beberan banjir." Mitha masih mengoceh kesal.
"Udah, udah. Lo berdua mending makan dulu. Kita udah masakin tadi." Fathin akhirnya menengahi.
Ia yang memang sedang lapar buru-buru melangkah ke arah dapur. Sudah ada makanan yang tersaji di atas mini kitchen. Tak ingin membuat perutnya kian keroncongan Ia dan Azhar pun akhirnya menarik piring dan menyendok makanan dengan riang. Fathin dan Mitha memang paling mengerti untuk urusan seperti ini.
Keduanya jadi lupa rencana awalnya menanyakan perihal motor matic yang ada di depan kamar kost.
Azan ashar kini terdengar berkumandang. Seperti biasa Fathin dan Mitha bergantian masuk berwudhu di kamar mandi, melewati keduanya yang masih asik dengan makanannya.
"Kita duluan, yah, shalatnya. Kalian berdua masih makan juga." Fathin berucap pelan saat melewati mereka berdua. Ia dan Azhar hanya mengangguk.
"Motor Fathin." jawaban singkat Mitha saat Ia bertanya soal motor siapa di depan, seusai mereka menunaikan shalat.
"Punya Fathin?" Azhar malipat keningnya menatap penuh selidik.
Ia yang memang mudah peka dan nyambung seketika tersenyum simpul. Ia yakin motor itu pasti pemberian Bang Yusuf untuk Fathin.
"Lo lupa, kalau calon ipar kita orang tajir. Motor mah kecil buat mereka. Aku malah mikirnya kamu bakal dikasi mobil, Fhat!" Ia cengengesan seraya menatap sahabatnya itu.
"Eits, lo emang nggak salah mikirnya, Ram. Si Abang emang mau ngasi mobil tapi ditolak ama Fathin. Alasannya nggak bisa nyetir. Motor itu aja ditolak ama dia. Tapi namanya juga si pemaksa yang nggak terima penolakan, hihihi! Ya, udah, terpaksa Fathin terima." Mitha seperti biasa menimpali dengan semangat empat lima sembari terkikik.
Ia berdecak kagum seraya senyam senyum menyaksikan bagaimana reaksi Azhar selanjutnya. Dan, sesuai prediksi, wajah Azhar mendadak berubah seketika. Maklumlah, hati yang belum sepenuhnya move on memang seperti itu.
Fathin terlihat tak enak hati. Ia yakin sahabatnya itu ikut memikirkan perasaan Azhar mendengar ini.
"K-kalian nggak marah, kan, kalau kita berangkat kampusnya nggak barengan lagi?" Fathin bertanya hati-hati.
"Ya, nggak lah. Kita malah senang berasa merdeka dari kungkungan lo berdua." Ia menyahut terkekeh berniat mencairkan suasana.
"Ih, jahat lo emang, yah!" Mitha ikutan terkekeh seraya melempar pelan bantal ke arahnya.
Azhar hanya menggeleng bersama senyum kakunya.
"Alhamdulillah kalau gitu. Kita bisa rebahan pagi-pagi, Zhar, ggak harus buru- buru siap sebab masih harus jemput dua ibu negara ini." ucapnya lagi seraya menepuk pelan bahu Azhar yang kini mulai terkekeh kecil.
"Lo beneran serius ama Bang Yusuf, Fhat?" Azhar lagi-lagi masih ingin meyakinkan hatinya ternyata.
"Kita liat nanti, aja, Zhar. Kalau Kak Yusuf juga beneran serius sama gue, kayaknya sulit buat gue temuin alasan nolak dia. Dia sampai bertekad kuat pengen ngerubah diri jadi baik untuk ini, Zhar. So, gue harus hargai itu."
Ia menatap Fathin dan Azhar bergantian. Ia mendesah pelan membayangkan berada di posisi kedua sahabatnya itu. Pasti sangat tidak mengenakkan. Tapi, sudahlah. Semuanya pasti akan kembali saling menerima kenyataan dan normal seperti dulu seiring berjalannya waktu.
Obrolan receh dan absurd pun mengalir tak terasa. Ia memang tak suka dengan suasana kaku sehingga membuatnya tak henti bertingkah lucu yang menjadikan mereka berempat tak henti tertawa.
Hingga menjelang maghrib mereka pun akhirnya berpisah.
"Hati-hati, guys! Nggak usah ngebut, ntar motor barunya lecet kalau lo berdua jatuh." Ia masih sempat mencandai keduanya. Membuat Mitha melemparnya dengan kertas yang sedari tadi digulungnya.
"Jahat banget, lo, lebih musingin motor daripada kita berdua."
Mereka kembali tertawa sebelum akhirnya berpisah.
__ADS_1
TBC>>