
* Yusuf
Hari ke dua di jalan Allah Ia sudah mulai bisa adaptasi dengan metode dakwah maupun setiap rogram khuruj. Sedikit demi sedikit Ia mulai mafhum (faham) bahwa stiap saat yang terlewat dalam hidup adalah peluang meraih kebaikan dan pahala.
Ia kian mengerti makna Islam yang sebenarnya bahwa setiap petunjuk yang datang kepada Baginda Rasul saw kemudian wujud sempurna dalam hidup beliau saw, itulah Islam. Dari hal-hal yang kecil hingga perkara yang besar. Dari ujung kaki sampai ujung rambut. Dari bangun hingga tidur kembali. So perfectly!
Ia mulai sedikit menyukai shalat dan ibadah-ibadah lain. Tafakkur mengingati Allah swt tiap ba'da ibadah wajibnya hingga di part kala tawajjuh tenggelam dalam muhasabah diri di tiap tahajjudnya. Ia bahkan sejenak lupa akan Fathin yang akhir-akhir ini banyak menyita peehatiannya.
*
Hari ini waktunya kembali. Tanpa terasa sudah tiga hari Ia dalam suasana syahdu di jalan Allah swt. Banyak hal yang menjadi bahan refleksi baginya selama mengikuti setiap program khuruj perdananya kali ini. Tentang kepasrahan, kesabaran, kekuatan hati terutama saat menghadapi orang-orang yang setiap hari menjadi target dakwah.
Sungguh menjadi pengalaman paling mengesankan sepanjang perjalanan hidupnya. Kadang terlintas pikiran yang Ia sendiri rasa begitu ironis. berusaha sekuat hati mengajak orang lain untuk bersama menapaki jalan yang lurus, sementara dirinya sendiri masih butuh dituntun.
Tapi penjelasan panjang lebar dari Bang Thoriq sang Amir khuruj, pada bayan shubuh tadi benar-benar membuatnya merasa diterpa angin segar yang datang sekejap menghalau ragu dan rasa insecurenya.
"Wallażīna jāhadụ fīnā lanahdiyannahum subulanā, wa innallāha lama'al-muḥsinīn"
"Dan orang-orang yang berjihad untuk (mencari keridhaan) Kami, benar-benar akan Kami tunjukkan kepada mereka jalan-jalan Kami. Dan sesungguhnya Allah benar-benar beserta orang-orang yang berbuat baik."
"Yaa ayyuhalladziina aaamanut taqullaha wa qulu qaulan sadida yushlih lakum a'maalakum wa yaghfirlakum dzunubakum wa mayyuti 'illaha wa rasulahu faqod faaza fauzan 'adzhiima."
"Hai orang-orang yang beriman, bertaqwalah kalian kepada Allah dan katakanlah dengan perkataan yang benar, niscaya Allah akan memperbaiki bagi kalian amal-amal kalian dan mengampuni bagi kalian dosa-dosa kalian. Dan barangsiapa mentaati Allah dan Rasul-Nya maka sesungguhnya ia telah mendapat kemenangan yang besar."(QS. Al Ahzab: 70-71).
Ucapan yang baik dalam hal ini yaitu kalimat Thoyyibah Laa Ilaaha Illa Allah atau ucapan mengajak manusia kepada Allah Azza waJalla. Dengan banyak mengajak manusia untuk kembali kepada jalan lurus maka janji Allah selain pahala adalah perbaikan iman dan amal juga ampunan atas dosa-dosa.
Itulah beberapa ulasan Bang Thoriq yang masih melekat di ingatannya. Sedikit banyak Ia mulai mengetahui beberapa hal, terutama tentang pentingnya menjaga adab dalam keseharian agar hidup selalu berkah dan dalam lindungan Allah swt.
Setiap aktifitas bila dilakukan sesuai adab dan sunnah sebagaimana yang telah dicontohkan oleh Baginda Rasulullah saw, maka jatuhnya adalah ibadah dan tentunya akan bernilai pahala di sisi Allah Azza wa Jalla.
Salah satu adab yang paling membuatnya Amaze adalah saat hendak Tandas atau keluar-masuk WC, di mana kaki pun diatur untuk ini yaitu melangkah masuk dengan kaki kiri lalu dengan kaki kanan saat keluar. Luar biasa! Ia sampai dibuat terkagum-kagun akan kesempurnaan risalah ini yang mengatur hingga hal yang kecil dan bahkan dianggap remeh.
Rombongan jamaahnya kini sedang bersiap kembali. Ia begitu antusias terlebih hari kedua, banyak dari anggota gengnya yang datang menyusul bersama Erick, membuat suasana kian riuh dan tentu saja membuatnya lebih semangat. Ketenangan lahir bathin yang Ia rasa selama khuruj praktis membuatnya seakan enggan untuk kembali. Tapi hidup harus berlanjut kan?
"Bang, ini udah boleh langsung pulang nggak nih?" Erick bertanya tak sabar saat mobil sudah mulai berjalan menuju masjid markas dimana semua jamaah khuruj akan bertemu untuk diberi bayan wabsy.
"Blum. Kita transit di masjid markas dulu dengar bayan wabsy. Semacan pembekalan pra pelapasan gitu lah untuk para pekerja dakwah sebelum kembali." Sahutnya santai masih focus menyetir.
"Oh, gitu? btw Abang tambah keren kalau kayak gini!" Erick terkekeh pelan.
"Yap, spakat!" Serentak hampir semua yang ada dalam mobil tersebut ikut bersuara.
"Ck, ck, ck.. Udah ganteng, punya sgalanya, sholeh calon dokter lagi..wuuiihh, coba gue punya adek cewek, gue bakal serahin sepenuh hati deh ke abang buat di jadiin bini! sayangnya gue anak tunggal!" Nicko, salah satu anggota gengnya berucap semangat. Membuat semua yang mendengar itu tergelak serentak.
"Bisa aja, lo. Gue udah punya calon ratu, Bro!"
"Widiihh.. gercep juga Jendral kita ini. Anak mana sih? jangan-jangan hasil perburuan di Ospek kemaren yah?" Lagi-lagi nicko dengan gaya kocaknya bertanya riuh.
"Lo nggak ke kampus waktu makrab kemaren?" Nathan ikut menimpali.
"Nggak, gue ada acara keluarga di Konawe. Emang ada apa sih? cerita dong!"
"Ck, Abang kita ngenalin calonnya di acara makrab FKIP. Anak baru, bening guyysss!" Nathan kembali menyahuti ikutan riuh.
Ia yang sedari tadi hanya menyimak kini ikutan tersenyum simpul sebab pembahasan di belakangnya praktis menghadirkan wajah cantik bermanik sendunya, Fathin. Mendadak Ia di landa sesal sebab tidak sempat memberi kabar pada gadisnya tersebut jika sudah kembali.
"Ntar aja deh kalau udah nyampe di masjid!" Gumamnya membatin.
Beberapa menit sebelum Adzan Ashar berkumandang semua rombongan jamaah tiba di masjid markas. Seperti biasa, shalat tahiyyatul masjid merupakan pembuka awalan. Semuanya pun akhirnya khusyuk pada ibadahnya masing-masing setelah wudhu.
Ia baru saja menyapu wajah seusai salam saat tetiba maniknya menangkap bayangan Gery sang sahabat yang berjalan menghampirinya. Ia pun berdiri menyalami Gery dan memeluknya haru.
"Assalaamu'alaikum, Bro! gimana nih tiga hari di rampas bentar kebebasannya?" Gery bertanya terkekeh seraya melayangkan tinju yang hendak diadu sebagai salam andalan mereka. Ia pun membalas dengan mengadu kepalan tinjunya pelan seraya berucap semangat,
"Wa'alaikumsalaam, Bro! Keren gila, Ger! gue sampe ketagihan nggak pengen balik. Takut Gue kecebur lagi di dunia kita yang kemaren!" Ia menggeleng berulangkali.
"Banyakin do'a dan yang terpenting jangan pernah lagi ninggalin shalat. Lo udah denger sendiri khan kemaren kalau shalat itu ampuh buat nyegah kita dari perbuatan yang nggak benner? so, konsisten alias istiqamah!" Gery berucap lembut seraya mengangguk-angguk bersama senyum lebarnya.
"Itu dia, Bro, gimana caranya biar bisa tetep istiqamah?Lo kan tau gimana dunia kita selama ini, gimana sih caranya? soalnya gue liat lo kayaknya anteng aja, malah shalat lo kayaknya ngalahin wali tau nggak!" Ia kembali terkekeh kecil.
"Cari komunitas yang bisa jadi control social lo, Bro! kita nih adalah orang-orang yang masih butuh dan bergantung banget sama suasana. Masih labil banget untuk nggak ketarik kembali ke sana. But, jika di sekitar kita adalah orang-orang yang se-server ma kita itu bisa ngebantu banget!"
"Lo pasti udah dengar kan hadist Nabi saw yang nyuruh kita nyari teman tuh harus yang baik. Itu tuh analoginya kayak berteman atau deket sama penjual minyak wangi meskipun kita nggak make tapi wanginya pasti ikut ke kita juga. Sama halnya kalau kita deket-deket sama pandai besi, minimal bau asapnya tuh pasti imbas ke kita juga. Iya nggak?" Lagi-lagi Gery selalu membuatnya takjub.
"Yes, Agree! Lo makin keren ajha, Bro!" Ucapnya memuji tulus.
"Bisa aja, Lo!"
__ADS_1
"Trus apalagi yang bisa bikin kita istiqamah? Versi Lo deh, Lo khan udah Gue jadiin mentor!" Gery malah tertawa pelan.
"Jangan versi Gue lah. Posisi kita tuh sama, Bro, pendosa. Segala sesuatunya tuh rujukannya harus ngambil dari Allah dan Rasul-Nya!"
"Ck, Asli! Lo bener-bener keren, Bro!" Ia berdecak makin kagum pada sosok sahabatnya yang satu ini.
"Kata Nabi saw, ada dua nasehat yang paling ampuh bisa bikin kita tetep istiqamah, satu yang bicara dan yang satunya diam. Yang bicara adalah Kitabullah atau Al-Qur'an, dan yang diam itu mengingat satu perkara yang menjadi pemutus kenikmatan dunia yaitu maut!"
"Ingat mati, Bro!" Ucap Gery lagi.
Ia pun kembali manggut-manggut. Manik tajamnya bahkan tak sengaja ikut berkaca-kaca. Entahlah, perasaannya begitu peka dan melankolis beberapa hari ini.
"Gue yakin Lo pasti bisa, Suf! Gue jadi punya harapan besar dakwah ini bakal kian besar dengan ikutnya orang-orang kayak Lo! Dari ratusan anggota geng Lo itu kalau stengah aja yang ikut ambil bagian dalam kerja ini, lumayan, Bro! Iya nggak?"
"Lo bener. Dan InsyaAllah ini bakal jadi pe-er kita, Ger! Lo mesti bantuin Geu lah, Gue pengen mereka ikut bukan karna segan ma gue tapi beneran pengen berubah, dan menurut gue itu tuh nggak gampang! ngerubah pola pikir orang tuh nggak segampang ngerubah nasibnya, iya nggak?" Gery kembali mengangguk meski masih bersama senyum tipisnya.
"Optimis! man jadda wa jadaa. siapa yang sungguh-sungguh dia pasti bakal dapet. Hasil nggak pernah hianat sama usaha!"
"Yap, right. Thanks, Bro!"
"Jazaakalkah khair!"
"Apaan lagi tuh?"
"Semoga Allah swt membalasmu dengan jebaikan!"
"Gua jawabnya gimana tuh?"
"Waiyyaka. Semoga Allah membalasmu dengan hal yang serupa!"
"Btw, anak-anak pada ikut, Suf? Gua liat tadi ada Erick sama Nathan?" Gery bertanya seraya menyapukan pandangannya ke seantero masjid berniat mencari sosok-sosok tersebut.
"Iya, mereka nyusul di hari ke dua. Lumayan lah, ada lebih sepuluh orang untuk starter nya." Ia terkekeh.
"Tuh kan, Gua bilang juga apa, Lu pasti bisa deh jadi pionir!"
"InsyaAllah, semoga Allah mudahkan!"
"Aamiinn!"
Tak berselang lama Adzan Ashar pun berkumandang. Menggaungkan suara merdu sang Muadzin. Ia kembali teringat bayan maghrib hari kedua oleh Bang Thoriq yang mengatakan bahwa Adzan itu dzahirnya manusia yang sedang berseru memanggil tapi pada hakikatnya Allah lah yang memanggil semua jiwa-jiwa agar segera menghadap pada-Nya demi menyambut kemenangan.
**
Ia kembali tawajjuh dengan menunduk berusaha meresapi setiap ucapan sang pembicara. Di part yang ini sang Mutakallim lebih banyak menekankan tentang pentingnya menjaga ushul-ushul maupun asas dakwah. Anjuran memperbanyak Dzikir wal Ibadah, Ta'lim, dakwah dan khidmat lalu kurangi bicara maupun berlaku sia-sia, menghindari mubadzir, memakai barang orang lain tanpa izin. Bagaimana menjaga marwah saudara muslim, saling menghargai dn tetap menyampaikan kebaikan dengan mahabbah atau berlemah lembut dan penuh kasih sayang pada ummat.
Tanamkan sifat tawadhu, sabar dan tahammul atau tahan uji dalam menghadapi setiap kesusahan dalam berdakwah.
Di akhir pembahasan, tak lupa Pembicara mengajak semua peserta majelis untuk memanjatkan do'a bersama. Memohon dengan tawadhu di hadapan Allah swt agar Allah berkenan menolong ummat ini sebagaimana Dia telah menolong para shahabat R.hum terdahulu. Melangitkan asa berharap setiap mujahadah dan pengorbanan di jalan Allah swt bisa menjadi asbab hidayah bagi diri sendiri terutama, keluarga dan ummat di seluruh alam.
"Untuk sempurnanya majelis ini mari kita tutup dengan do'a kiffaratul majlis. Semoga Allah swt ganti stiap kelalaian kita di dalamnya dengan ampunan dan kebaikan yang banyak, aamiin!" Tambah sang pembicara di ujung ulasannya. Serentak semua peserta majelis menggaungkan do'a yang di maksud,
"Subhaanakallaahumma wa bihamdika, asyhadu al-laa ilaaha illaa anta, astaghfiruka, wa atuubu ilaik."
Artinya: “Maha Suci Engkau ya Allah, aku memujiMu. Aku bersaksi bahwa tidak ada sesembahan yang berhak disembah kecuali Engkau, aku minta ampun dan bertaubat kepada-Mu.”
"Assalaamu'alaikum warahmatullah wabarakatuh."
"Wa'alaikumsalaam warahmatullah wbarakatuh."
Majelis pun di tutup dengan sesi saling berjabat tangan. Saling menyalami sebelum akhirnya semua berpisah. Tapi tentu bukan untuk saling jauh dan sling melupakan setelahnya namun berpisah untuk menjadi awal yang baru. Kembali ke maqomi untuk menghidupkan amal-amal agama agar dapat tersebar ke segala arah.
"Bang gue balik dulu! InsyaAllah abis ini kita harus jumpa lagi sharing. Kayaknya masih banyak stock pertanyaan gue yang blum kejawab nih!" Serunya terkekeh saat Ia menghampiri Bang Thoriq yang sedang bernincang serius dengan grup band underground Badar War.
"InsyaAllah, saudaraku! dengan senang hati. Oh yah jangan lupa malam Musyawarah nanti ke sini lagi!"
"Siap, Bang! kalau gitu gue duluan yah, semua, Assalaamu'alaikum!" Ucapnya seraya menyalami semua yang ada di sana. Tak lupa seperti biasa layangan tinju pelan yang hendak di adu, fist bump.
"Wa'laikumsalaam, hati-hati!"
"Yoi, thanks, semua!"
Ia lalu berjalan ke sisis lain di mana Gery, Erick dan yang lain masih asyik berbincang sembari sesekali tergelak. Melihatnya mendekat semua serentak berdiri seraya tersenyum penuh kemenangan.
"Cabut skarang?" Tanyanya ikut tersenyum tipis.
"Ayo! kita ikut Abang boleh? soalnya mobil Yudha yang dipinjem kemaren masih di bengkel!"
__ADS_1
"It's Ok!Ger, Gue cabut, yah?"
"Ok, Bro! bye, take care! Assalaamu'alaikum!"
"Wa'alaikumsalaam, Ok, Thanks and Jazaakallah khair!" Ucapnya sambil terkekeh
"Waiyyaka!" Sahut Gery ikut tersenyum simpul.
Semuanya kembali saling menyalami, saling merangkul meski beberapa anggota gengnya sempat merasa segan di awal namun akhirnya ikut membalas setelah Ia yang berjalan duluan merangkul mereka satu persatu. Tentu saja mereka segan, selama ini mereka cukup hormat dan tidak berani berkutik jika berhadapan dengan kemarahannya. Seperti biasa terakhir saling tos ala laki andalan.
***
*Fathin
"Ok, Enough! Cukup untuk hari ini. Kita lanjutin ntar abis Isya!" Seru Pak Radit selaku instruktur setelah hampir seharian mereka latihan.
Huufffttt...
"Akhirnya, kelar juga!" Ucap Mitha seraya menghembuskan nafas lega.
"Iya, Mhit! Latihan hari ini kayaknya berat banget, yah? tapi Gue angkat dua jempol untuk smangat kalian, Gue sampe kewalahan tadi ngimbangin temponya pas di bagian Chorus!" Sahutnya menimpali dan ikut bernafas lega.
"Oh, yah? but, btw Gue yang paling parah, mana pegang Celo baru kali ini, HuhH, asli, Gue kelimpungan banget!" Timpal Mitha seraya ikut berjalan mensejajari langkahnya menuju sebuah kamar yang disediakan untuk mereka.
Keduanya refleks melempar tubuh ke pembaringan. Sedikit meluruskan punggung setelah seharian brkutat dengan gendang dan mic.
Ia baru hendak mengatup maniknya sejenak saat tiba-tiba ponselnya berdering tanda ada panggilan masuk. Awalnya Ia merasa enggan untuk menerimanya tapi saat terbaca olehnya nama si pemanggil, mendadak matanya terbuka lebar bersama desiran indah yang lagi-lagi datang tanpa permisi meraba hatinya.
"Assalaamu'alaikum, Kak!" Ucapnya dengan suara yang agak serak sebab kantuk yang hampir membuatnya terlelap. Sekilas di liriknya Mitha yang sudah mulai mendengkur lembut. Astaga..
"Wa'alaikumsalam, tidur?"
"Hampir, capek banget, hari ini latihannya agak ekstrem!" Ia terkekeh kecil.
"Kapan mau di jemput?"
"Ummm, kayaknya ntar malam abis latihan. Soalnya besok udah mau ngampus. Kakak udah balik? Aku liat mesjidnya udah sepi?"
"Baru nyampe rumah. Tadi nggak sempet kabarin soalnya di mobil ada anak-anak!"
"Kalau gitu Kakak istrahat aja dulu. Kakak pasti capek kan? Aku nggak apa-apa, Kok! Ntar Aku pulang bareng Mitha."
"Diantar sama orang itu lagi?" Suara di seberang kembali datar.
"Bukan, m_maksud Aku__"
"Ntar Aku jemput!" Lagi-lagi suara itu menyela.
"M_maaf ngrepotin!"
"Ck, nggak ada yang repot."
"Makasih!"
"I miss you!" Ia tercekat. Dadanya kembali kembang kempis. Mendengar ucapan manis dari seberang. Wajahnya sudah jelas bersemburat merah bersama desiran itu lagi. Ia ingin membalas sama dengan ungkapan serupa tapi rasa malunya lebih mendominasi.
"Hemmm.." Yang keluar dari bibirnya malah hanya deheman.
"Kok nggak di bales? Kamu nggak rindu?"
"Ishh, apaan sih?malu tauk!"
"malu? sama calon sua__,"
"I miss you too!" Ia segera memutus ucapan Yusuf sebelum pria pujaannya itu terlanjur mengeluarkan sepik-sepik gombal seperti biasa.
Pria itu terdengar terkekeh kecil. Dan,
"I love you!"
"I love you more!" Ia mulai berani membalas. Suara berat Pria di seberang kembali terkekeh membuatnya tak henti menyimpul senyum manis di bibir pink alami miliknya.
Pembicaraan singkat di bumbui rayu-rayuan menghanyutkanpun berlanjut hingga keduanya memutuskan mengakhiri panggilan setelah saling berbalas salam.
Ahhh, indahnya jatuh cinta..
***
__ADS_1
TBC>>>