MUJAHADAH CINTAKU

MUJAHADAH CINTAKU
#.Episode 4. "R_Bink" Side Story


__ADS_3

"Friendship is the hardest thing in the world to explain. It's not something you learn in school. But if you haven't learned the meaning of friendship, you really haven't learned anything."


"Persahabatan adalah hal tersulit di dunia untuk dijelaskan. Itu bukan sesuatu yang kamu pelajari di sekolah. Tetapi jika kamu belum belajar arti persahabatan, kamu benar-benar tidak mempelajari apa pun"


*Fathin , Mitha ,Azhar dan Akram


Fathin terlahir dan besar dari keluarga yang sederhana. Ayahnya hanyalah seorang petani jambu mente di kampung. Sedangkan ibunya seorang IRT biasa. Ia anak sulung dari empat bersaudara. Keadaan keluarga yang sederhana bahkan sering kekurangan membuat Ia kemudian tumbuh menjadi gadis yang sedikit lebih dewasa melebihi ukuran umurnya .


Mitha anak seorang pengusaha kayu. Untuk ukuran mereka berempat, kehidupannya lebih diatas Fathin. Meski begitu Ia tetap menjadi gadis yang sederhana. Tidak pernah merasa lebih dari Fathin sahabatnya.


Sementara Azhar dan Arkam keduanya adalah saudara sepupu. Ayah mereka bersaudara dan keduanya adalah PNS . Ayah Azhar menjabat sebagai KaDis. PerTanian Kabupaten Bombana sedangkan Ayah Akram adalah Kepala sekolah di SD setempat. Walaupun keadaan ekonomi mereka terbilang cukup berada, tapi tidak lantas membuat keduanya lupa diri.


Mereka berempat adalah sahabat solid sejak SMP. Persahabatan mereka berawal dari kasus aksi panjat pagar beton sekolah saat bersamaan terlambat apel dan pintu gerbang sudah terkunci rapat. Sebelumnya mereka tidak saling kenal sebab beda kelas dan di gedung yang berbeda plus sedikit berjauhan.


Pagar beton sekolah cukup tinggi untuk ukuran cewek seperti Fathin dan Mitha. Mereka berempat akhirnya kompak saling bantu untuk bisa lolos masuk ke dalam sekolah setelah mereka berkenalan, saling menyebutkan nama dan kelas masing-masing.


Azhar bak pahlawan memberi instruksi.


"Itu sepatunya dilepas dulu! Aku sama Akram bakal jongkok, ntar kalian naik berinjak di punggung kita. abis itu kalian lompat ke dalem. Kalian pasti ga' bisa naik kalau nggak pake landasan, tinggi soalnya!"


"T_tapi ntar baju kalian kotor!" Fathin merasa tidak enak hati, terlebih mereka baru saja saling mengenal.


"Nggak bakal. Makanya tuh sepatunya dilepas dulu! kalau kalian udah lolos baru sepatunya kita lempar kedalem!" Yakinkan Akram.


"Ayo buruan! Sebelum pada masuk tuh, Kamu sama Aku, Mitha sama Akram!" ucap Azhar ke arah fathin sambil duduk berjongkok dan memberi isyarat dengan menyentuh bahunya.


"Doa, Ayo Doa dulu, semoga berhasil! Aamiinn!!" Akram mencoba mencairkan suasana.


"Aduh, sorry banget ya ini. Bismillah!" Fatin menyeringai dan mendesis pelan merasa tidak nyaman menginjak bahu orang lain terlebih mereka baru saja bertemu.


"It's OK!"


Dan ...Yess, mereka berhasil lolos.

__ADS_1


Tapi benar- benar hari yang naas. Sebelum mereka sempat berjalan menuju ruangan masing- masing, mereka malah kepergok oleh Pak Bahar, si guru killer yang melihat mereka dari jendela ruang guru.


"Astaga! Apes banget, sih! Padahal kan kita udah berdoa tadi, malahan tadi ngikut tuh aji pamungkas Nenek biar kita tembus pandang. Nggak keliatan ama orang-orang!" Celoteh Arkam saat mendengar bentakan pak Bahar.


"Hahaha! Pantas aja Doa kita kalah. Kamu, sih pake acara baca mantra segala. Syirik tau!" Azhar tergelak. Sementara Mitha dan Fathin hanya geleng kepala sembari tersenyum.


Tanpa bisa dielak akhirnya mereka digiring ke depan ratusan siswa yang sedang apel pagi di lapangan depan kantor.


Dengan penuh dramatis Pak Bahar mempublikasikan mereka sebagai, "4 Serangkai Siswa Teladan", dan dengan bangga mengumumkan hukuman paling frontal untuk mereka, membersihkan seluruh toilet yang ada di semua gedung sekolah.


Alhasil, dengan terpaksa mereka melaksanakan hukuman itu. dan fix, hari itu tak ada satupun matpel yang mereka ikuti saking banyaknya toilet yang harus dibersihkan.


Dari keseruan mencuci toilet sampai basah-basahan akibat aksi saling siram, lalu sering terlihat jalan bersama, menjadi awal keakraban mereka berempat, hingga mereka kompak menamai geng mereka dengan nama "R_Bink" alias Remaja Bisink".


Seiring berjalannya kekompakkan mereka dalam segala hal, dari hal receh sampai hal-hal yang paling ekstrim, membuat nama R_Bink seakan melekat dan mewakili kegesrekkan mereka.


Istilah "Always Together in joy and sorrow" bukan hanya sekedar motto dalam persahabatan mereka. Tapi benar-benar teraplikasi dengan nyata. Sangking kompaknya ya, kalau salah satu dari mereka dihukum guru, maka semua kompak menjalankan hukuman tersebut. Sampai-sampai salah satu guru mereka yang terkenal paling bijaksana pernah memuji persahabatan mereka.


"Bapak salut dengan persahabatan kalian. Semoga tetap seperti ini hingga kelak!" Ucap pak Sofyan suatu hari kala mendapati mereka saling tangis-tangisan sambil pelukan berempat di mushola sekolah, berusaha memberi kakuatan pada Akram yang baru saja kehilangan ayahnya.


Sebaliknya, banyak siswa-siswi yang merasa Jengah melihat kebersamaan mereka. Pasalnya beberapa siswa dan siswi yang ingin mendekati salah satu dari mereka, terpaksa harus mengubur dalam-dalam harapan mereka, sebab hampir tidak ada celah sedikitpun untuk masuk. Karna tidak pernah ada waktu dan tempat yang terlewatkan kecuali mereka pasti bersama.


Akhirnya mereka berempat sering menuai ejekan yang senada,


"Percuma cakep tapi jomblo!"


Tapi jawaban klasik yang selalu menjadi senjata mereka adalah,


"We don't care!"


Sembari tergelak dan menjauh pergi. Jadilah mereka jomblo akut hinga tamat SMA. Sampai pernah ada yang iseng merubah nama geng mereka menjadi "R_Bink JoNes" Remaja Bisink Jomblo Ngenes". Tapi sekali lagi they don't care!


Mengenai orang tua mereka, pada akhirnya mereka ikutan kompak mendukung kebersamaan anak-anak mereka. Jadilah keempat sahabat solid tersebut hanya akan diizinkan keluar jauh jika mereka Izin jalan berempat.

__ADS_1


Tapi, jangan dikira tak pernah ada konflik dalam persahabatan tersebut. Sering malah. Tapi mereka bisa mengatasi semuanya. Jika ada dua yang saling berselisih, maka dua orang lainnya akan mengerahkan segala daya dan upaya untuk mendamaikan keduanya. Dan yang paling akan berperan dalam hal ini adalah Fathin, si ahli wise word, dan Akram, si somplak gesrek.


"Kalian tau?, Kenakalan yang nggak pernah aku sesali dan paling Aku syukuri dalam hidup adalah kejadian manjat pagar skolah waktu itu. Sebab gegara itulah kita bisa berkenalan, berteman, bersahabat dan always together till now. Kita tuh udah ngelewatin banyak hal. dari hal yang nyenengin, ngeselin, nyedihin, hal-hal receh sampe situasi rumit kayak gini. Dan itu semua nggak singkat. Aku masih sangat ingat Insiden waktu Mitha tiba- tiba ngilang di camping kemaren. Kita tuh sampe panik yang kayak mau kiamat, nangis-nangis histeris sampe kita shalat hajat bareng buat Doa biar Mitha ketemu dan akhirnya Allah ngabulin Doa kita. Di titik yang ini Aku bener-bener ngerasa kalau kita bukan cuma sahabat. Tapi, lebih dari itu, We're family! Ayolah, guys! jangan kayak gini, dong! ini nih ngundang kiamat beneran!"


Kata-kata seperti ini selalu senjata Fathin kalau diantara mereka ada yang salah falam.


Selanjutnya mereka akan berkaca-kaca, diikuti pantun gesrek bin absurd plus ga' nyambung dari Akram. Fix, merekapun akan tergelak bersama dan saling berpelukan. Always like that.


Hingga tiba hari perpisahan sekolah setelah kelulusan mereka. Fathin mengatakan tidak bisa lanjut kuliah karna tak ada biaya. Jadilah yang lain kompak ikutan menganggur selama setahun. Padahal waktu itu, mereka semua lolos bebas tes masuk UNHALU.


Tapi Allah ternyata berkehendak lain. Tujuh bulan kemudian Fathin diajak kerabat neneknya yang menjadi anggota Dewan Propinsi, Ibu Masyitah, untuk ikut tinggal bersamanya di Kendari sambil kursus menjahit.


"Kita semua ikut ke Kendari. Sambil nunggu tahun ajaran baru and kita ikut tes SPMB. Biar kita tetap ada di kota yang sama. Nanti kita bisa sambil cari kerja, biar pas kuliah kita bisa mandiri. Nggak terlalu bergantung ma Ortu. Gimana guys?" Akram memberi ide kala Fathin meminta saran mereka.


Mereka akhirnya kompak berangkat bersama. Azhar dan Akram memutuskan untuk kost di depan kampus. Sedangkan Mitha tinggal di rumah kakaknya. Selama di Kendari mereka masih sering jalan bersama meski tak seintens saat di Kabaena dulu.


Setelah sebulan menganggur di kota, Azhar dan Akram akhirnya diterima kerja part time di sebuah cafe di bilangan Wua-wua. Mitha ikut membantu kakaknya di ruko miliknya. Sementara Fathin, begitu betah menjadi tukang sapu plus ngepel dirumah besar milik Ibu Masyitah.


"Kita harus ngeyakinin Fathin biar dia mau ikut tes bareng kita. Lagian ngapain, sih, dia betah banget jadi kacung dirumah itu?" sungut Mitha pada kedua sahabat nya, beberapa minggu lalu sebelum mereka masuk mendaftar di campus.


"Kamu benar, Mhit! Nanti kalau kita semua udah bener-bener lulus and kuliah, kamu sama Fathin kost aja kayak kita. Kalian ambil satu kamar berdua. Tapi jangan depan campus, bahaya! di kampus suka ada kekacauan kalau pas pemilihan ketua BEM!" dukung Azhar.


"Nanti kita berdua yang antar jemput. Kemarin Aku dengar Bang Fadil yang punya cafe tempat kita kerja mau buka cabang di depan Mall Mandonga. Nanti kita coba rekomendasiin kalian berdua kerja disitu. Semoga kalian diterima! Jadi Fathin nggak akan ngerasa ngebebanin ortunya!" Arkam menambahkan.


"Wah, ide bagus, tuh! Fathin pasti mau. I'm sure!!" Pekik Mitha bersemangat.


Setelah drama panjang untuk meyakinkan Fathin agar bersedia ikut tes, akhirnya semua berjalan sesuai rencana.


Kini mereka sedang menunggu hari H ujian tersebut.


(Semoga mereka ber empat lulus yah pemirsah....😇😇😇😍😍😍!!)


TBC>>>

__ADS_1



__ADS_2