MUJAHADAH CINTAKU

MUJAHADAH CINTAKU
#Episode 7. "Bantu Aku Ya Allah"


__ADS_3

* Fahry


Bukan hal yang sulit baginya untuk mendapatkan nomor ponsel Fathin, camaba yang belakangan ini begitu memenuhi pikirannya. Ia tinggal menginstruksikan rekannya Dian si Sekum untuk mencari datanya di sekret Hippelwana.


Pagi ini Ia telah membeli sebuah koran pagi dimana Headlinenya adalah pengumuman hasil SPMB di kampusnya, UNHALU. Beberapa anak-anak Hippelwana yang diketahuinya mengikuti tes seleksi tersebut dinyatakan lulus.


Salah satu nama yang paling menyita perhatiannya di sana adalah nama yang sangat Ia kenal.


"Fathin Althaf AnNisa!"


"Ini pasti kabar yang paling mereka tunggu hari ini. Aku pake modus ini ajha kali ya telfon dia!" Ia mendadak grogian seperti remaja yang sedang kasmaran.


Yang benar saja, bahkan selama ini para cewek itu lah yang selalu modus untuk mendekatinya. Tapi kali ini malah dia yang sibuk caper pada seseorang.


"Astaga! Hal konyol apa lagi ini!" Batinnya tak habis pikir. Tapi lagi- lagi logikanya tunduk menyerah pada pesona si pemilik "senyum membunuh" itu.


Ia pun memutuskan mendial nomor fathin.


"Hallo...!"


"Assalaamu'alaikum...!" suara lembut menyahut di sana memberi salam.


"Wa'alaikumsalaam..!" Jawabnya sedikit gugup mendengar suara Fathin yang Ia rasa seakan hendak melumpuhkan ingatannya.


"Siapa?"


"Ehhm, ini Aku Fahry!" Sekuatnya Ia mencoba menetralkan suaranya.


"Ohh, iya, Bang. Ada apa?"


"Kalian udah liat pengumuman di koran? Aku liat tadi ada nama Kamu. Kamu lulus!" Ucapnya yakin.


"Beneran, Bang? Aaaa.. Mhit, Mhitha, buruan sini! Aku lulus, Mhit!" Ia terkekeh kecil, hampir saja Ia menjatuhkan ponselnya mendengar pekikkan Fathin di seberang.


"Uppss, maaf, Bang! Saya, Saya kelepasan tadi suara saya keras banget ya??"


"Ehmm, Nggak papa, Saya ngerti kok! Btw biar kalian lebih yakin gimana kalau korannya saya bawa ke tempat kalian, saya nggak ingat nama-nama teman kalian yang ikut tes soalnya!" Ia mulai menjalankan aksi modusnya.


"T-tapi, Bang, ntar ngerepotin lagi!"


"Nggak sama skali. Oh ya, alamat kost kalian dimana? Nggak ada larangan bertamu kan?" Tanyanya basa basi.


"Di lorong Kambu, Pondok Srikandi, no 23, Bang! Ruang tamunya ada, kok!" Jawab fathin di sebrang.


"Ya udah, see you, bye!!" Ucapnya dan menutup panggilannya setelah mendengar jawaban Fathin.


"Bye!"


Dalam sekejap Ia sudah siap. Celana jeans dan atasan kaos polos abu menjadi pilihan outfitnya kali ini. Tak lupa jacket denim navy kesayangannya, menambah kesan cool di wajah tampannya.


Ia mengeluarkan motor besarnya dari teras rumah kostnya sembari bersiul. Ia menjalankan motornya membelah jalanan ramai sekitaran kampus.


___ ___ ___


* Fathin


Setelah drama panjang yang begitu epic akhirnya Ibu Masyitah tahu akan dirinya yang nekat ikut tes seleksi di kampus. Dengan beberapa tanya jawab yang Ia rasa cuma sekedar basa-basi Ia pun di izinkan keluar dari rumah besar tersebut.


Ia pun di lepas dengan seabrek petuah alias wejangan dari yang empunya rumah juga kawan- kawan seperjuangannya di rumah itu, sebelum memulai hidup baru di kost nanti.


"Blajar yang benner, jaga diri, dan hati-hatilah bergaul! Jangan sembarang ikut kajian-kajian yang aneh-aneh. Cek and recek dulu sebelum bergabung dengan harokah apapun nanti!" Beberapa petuah Ibu Masyitah yang masih sangat lekat di ingatannya.


Jadilah kini Ia sekamar dengan sahabatnya Mitha sebagaimana rencana awal mereka.


Hari ini kedua sahabatnya Azhar dan Akram akan merekomendasikan mereka berdua pada Bos di tempat kerja keduanya. Bagaimanapun Ia harus bekerja untuk menutupi biaya hidup dan kuliahnya. Komitmen untuk tidak menjadikan kuliahnya sebagai beban tambahan untuk kedua orangtuanya telah terpatri kuat dihatinya.


Ia tetiba teringat untuk melihat kalender melihat tanggal berapa hari ini. Tiba- tiba Ia histeris ternyata hari ini adalah hari keluarnya pengumuman hasil tes SPMB di koran. Ia seketika terfikir menelfon mengingatkan Azhar dan Akram untuk mencarikan koran edisi hari ini.


Tapi tiba- tiba ponselnya berdering tanda ada panggilan masuk. Segera Ia meraih hpnya di atas rak sudut dan melihat ke layar ponsel tersebut. Ia beranjak menelungkupkan badannya di atas tempat tidurnya bersiap membuka percakapan dengan menekan tombol hijau di tuts ponselnya.


"Nomor baru, siapa ya?" Gumamnya, sejenak kemudian Ia mengangkatnya.


"Hallo...!" Suara di sebrang menyapa, membuatnya seketika berdebar-debar. Sepertinya Ia kenal suara ini.


"Assalaamu'alaikum...!" Ia mencoba menyapa balik, memberi salam.


"Wa'alaikumsalaam..!" Terdengar di sana menjawab salamnya.


"Siapa ?" Ia pura-pura bertanya untuk lebih meyakinkan dugaannya.


"Ehhm, ini Aku Fahry!" Ia menenggelamkan wajahnya ke bantal untuk meredam suara histerisnya demi mendengar sahutan tersebut, ternyata dugaannya benar, ini Bang Fahry.


"Ohh iya, Bang! ada apa?" Ia mencoba menetralkan kegugupannya.


"Kalian udah liat pengumuman di koran? Aku liat tadi ada nama kamu. Kamu lulus!"


"Beneran, bang? Aaaaa, Mhit, Mhitha! Buruan sini, Aku lulus, Mhit!" Tanpa sadar Ia refleks berteriak memanggil Mitha yang sedang di dalam kamar mandi. tapi sejurus kemudian Ingatannya kembali .


"Astaga! Memalukan, ngapain sih pake teriak gini?" Batinnya sembari membekap mulutnya sendiri.


"Uppss, m_maaf, Bang, saya, saya kelepasan tadi suara saya keras banget ya??" Ia meringis malu.


"Ehmm, nggak papa. Saya ngerti, kok! Btw biar kalian lebih yakin gimana kalau korannya saya bawa ke tempat kalian, saya nggak ingat nama-nama teman kalian yang ikut tes soalnya!"


"T-tapi, bang, ntar ngerepotin lagi!"

__ADS_1


"Nggak sama skali. Oh ya, alamat kost kalian dimana? nggak ada larangan bertamu kan?"


"Ng_nggak, kok! Di lorong Kambu, Pondok Srikandi, no 23, Bang! Ruang tamunya ada kok!" Jawabnya sedikit gelagapan.


"Ya udah, see you, bye!!" Ucap Bang Fahry menutup panggilannya setelah mendengar jawaban darinya.


"Bye!"


Ia pun mulai beberes diri. Mitha jadi cengengesan melampirkan senyum menggoda kearahnya.


"Aduuhhh, bahagianya yang mau diapelin siang- siang bolong. Nggak asyik ah, gerah atuh neng, biasanya kebawa-bawa tuh hati ntar ikutan gerah!" Mitha mengerling lucu ke arahnya.


"Nggak papa, Nek! Ntar disegerin aja pake Freshtea!" Ia terkekeh geli mendapati ekspresi Mitha yang mencebik disebut Nenek.


"Hahahaha!" Mereka terbahak bersama.


Keduanya masih saling melempar jokes ketika pintu kamar mereka diketuk dari luar.


Tok..tok..tok..


"Fathin, Mitha ada yang cariin tuh di depan!" Suara Rara tetangga kamar mereka berteriak di luar.


Ia segera membuka pintu dan melihat Rara berdiri di depan pintu sambil senyam-senyum.


"Tuh ada cowok ganteng nyariin Kamu di depan. Ehhmm... Fhat itu yang dateng kalau spupu kamu, aku titip salam yah, tapi kalau gebetan kamu, Aku mundur lah!" Goda Rara sambil memainkan alisnya naik turun.


"Hahaha! Apaan sih, Kak! Nggak boleh pacaran, dilarang ma agama!" Ia tergelak sambil menepuk bahu Rara dan berjalan cepat ke depan menyambut Fahry.


"Gaya lu, awas, ntar kemakan omongan sendiri nanti!" Rara masih sempat menggodanya sebelum Ia menghilang di balik dinding pemisah antara kamar mereka dengan ruang tamu.


Sejenak memperhatikan penampilannya. Merapikan hijab instantnya sebelum akhirnya Ia berjalan pelan kearah Fahry yang sedang duduk di kursi tamu sembari mengetik sesuatu di ponselnya.


Ia pun sengaja berdehem demi mengalihkan perhatian Fahry ke arahnya.


"Ehhemm, m_maaf, Bang! Lama ya nunggunya?" Tanya nya basa_basi.


"Oh, nggak, kok! Oh ya, nih korannya kalian liat_liat ajha dulu! Aku liat kayaknya banyak juga anak_anak hippelwana yang lulus!" Fahry berucap sambil menyodorkan sebuah koran ke arahnya.


"Oh ya, Syukurlah!" Ia tersenyum lebar sambil meraih koran tersebut dari tangan Fahry. Tapi ketika Ia hendak menariknya koran itu malah di tarik balik sama Fahry, sontak matanya berbinar melihat kearah Fahry.


"Eits, bilang apa dulu?" Fahry ternyata hendak menggodanya.


"Oh iya, sory, Bang lupa! Iya, iya, Terimakasih Abang senior kami yang terbaik!" Ucapnya balik menggoda.


Mereka akhirnya tergelak bersama. Membuat kecanggungan diantara mereka perlahan menguap. Berubah dengan suasana lebih cair terkesan keduanya kini sdikit kian akrab.


"Aduuhh, Mitha mana sih? Tadi katanya mau nyusul kesini. Saya tinggal bentar kedalam dulu buatin minum yah, nggak papa kan?"


"Ehh, nggak usah repot!"


Dengan tergesa Ia membuka pintu kamar dan,


"Astaga, nih nenek sihir ditungguin dari tadi di depan juga, malah asyik ngorok disini. Ihh, nggak ada akhlak emang ya jadi temen!" Ia beranjak hendak menggelitik tapi niatnya urung melihat sahabatnya itu begitu menikmati acara ngorok syahdunya.


Ia pun hanya bisa menggeleng dan berlalu cepat ke arah meja dispenser, menyeduh teh dan berlalu kembali ke depan bersama nampan berisi dua cangkir teh plus sedikit camilan yang di belikan Azhar dan akram kemarin sepulang kerja.


"Hmmm, Mitha lagi tidur ternyata. Nih diminum dulu Bang, sorry yang ada cuma ini doang!" Ucapnya sembari menyodorkan satu cangkir teh kearah Fahry.


"Ck, ini udah lumayan malah untuk ukuran anak kost!" Ia terkekeh kecil sembari melirik sekilas Fahry yang sedang tersenyum simpul setelah menyeruput teh buatannya.


Ia pun ikutan menyeruput teh buatannya.


"Hmm, tehnya manis, semanis yang bikin!"


"Uhukk,,uhukk,,,!" Ia tersedak teh yang sedang diminumnya. Ia terbatuk_batuk mendengar ucapan Fahry barusan yang Ia nilai semacam sepik-sepik gombal yang harus Ia akui cukup membuatnya seketika meremang.


"So sorry, just kidding!"


"Nggak papa, Bang, maaf!" Jujur Ia ingin berlari ke dalam sekedar menyembunyikan wajahnya yang kini entah seperti apa karna malu.


Sejurus kemudian keduanya hening. Sibuk mencari bahan apa yang dirasa menarik untuk diperbincangkan.


Fahry yang lebih bisa menguasai medan akhirnya berucap,


"Oh ya, btw , nanti abis ini kalian harus daftar ulang lagi, ngumpulin berkasnya yang lebih komplit trus sama stor uang SPP, Almamater dll!"


"Abis itu siapin jiwa raganya buat nyambut OSPEK!"


"Nggak usah takut selama kamu nggak buat salah, and tetep ngikutin aturan yang ada kamu __." Ia jadi tidak sabar untuk menyela,


"Tapi nggak dipukul kan bang kalau misalkan kita tiba-tiba nggak sengaja ngelanggar?" Ia meringis membayangkan betapa malunya jika di pukul udah sebesar ini depan orang banyak.


mendengar pertanyaan nya kali ini Fahry bukannya menjawab tapi tertawa sambil menggeleng.


"Hahahaha! Kamu bisa ajha, Mana ada. Paling di Bully atau dihukum ama panitianya!"


"Abang masuk panitia kan nantinya?" tanyanya penuh harap


"Iyah, kenapa?"


"Yah, biar nanti kalau ada yang Bully, Abang bisa ngebelain kita, gitu. Aduh Fathin please... pede amat sih, emang kamu siapa sampe bang fahry mau ngebela kamu segala!" gumamnya membatin. Ia tersenyum merasa malu sendiri dengan angannya.


"Ng_nggak, kok, senang ajha kalau ketua kita jadi panitia OSPEK, kan Beliau pasti nggak bakal ngebiarin anggotanya teraniaya!" Ia meremang sendiri ketika berucap ini.


Ia melirik Fahry hanya manggut-manggut sembari tersenyum.

__ADS_1


Hening lagi..


"Ehemm, Fathin ntar malam kamu ada acara nggak?" Ia mulai berdebar tak terarah mendengar pertanyaan Fahry seakan Ia tahu kemana ujungnya.


"Ummm, nggak ada bang, paling di kamar ajha, kenapa emang?" Tanyanya sedikit gugup.


"Kita keluar yuk, oh ya, ntar malam ada film bagus, kita nonton yuk!"


"Sa-saya , saya.....!"


"Kalau kamu keberatan, kita....!" Fahry belum menyelesaikan bicaranya tapi Ia dengan cepat menyela.


"Nggak, kok! Iya saya siap, Bang!" Ia menunduk menyembunyikan wajah kekinya menunggu tanggapan fahry selanjutnya.


"Ya udah, ntar malam aku jemput kamu abis Isya yah? btw aku udah lama nih ngganggu, Aku balik dulu yah!"


"Sampai jumpa ntar malam!" Iya mengangguk malu.


Setelah acara pamit-pamitan akhirnya keduanyapun berpisah.


"Bye!"


"Bye!"


Ia pun beranjak masuk membawa nampan dan cangkir kosong ke dalam kamar. Senyumnya tak henti tersungging di bibir mungilnya.


"Ahayy, Aku yakin ini bakal jadi trending topicnya para "R_Binkers"


___ ___ ___


*Mitha


Ia terbangun ketika adzan ashar berkumandang. Sejenak Ia mengitarkan pandangannya mencari keberadaan Fathin. Tetiba Matanya menyipit demi mendapati sahabatnya itu sedang berdiri menyeka wajahnya yang basah di depan cermin sambil senyam-senyum melihat ke arahnya. Sepertinya baru selesai berwudhu.


"Eh, kesambet apa nih senyum- senyum sendiri ?" Ia mengernyit kearah pantulan Fathin dicermin.


"Hehehehe! Udah bangun, Neng?? Btw, Aku lagi senang tau, for the first Aku bakal ngerasain gimana rasanya ngedate!"


"Maksudnya?" Ia mulai curiga.


"Tau nggak ....!"


"Nggak...!"


"Ih blum ngomong juga. Mmm... Bang Fahry ngajak Aku nonton ntar malam!" Ia seketika terlonjak dan langsung terduduk.


"Tuh kan misi aku berhasil dengan milih nggak ikut nimbrung tadi!" Ia terkikik melampirkan senyum menggodanya.


"Astaga! Jadi tadi itu kamu sengaja Mhit?" Ia pun memainkan alisnya.


"Dasar kamu emang yah!" Kerucuti Fathin bibirnya.


"Tapi kamu senang kan?" Ia terkekeh melihat ekspresi Fathin di sana.


"Oh ya, tuh korannya di atas meja noh, kita berempat lulus guyss!" Tunjuk Fathin koran diatas meja dengan dagunya.


Ia terlonjak dan secepat kilat meraih koran yang ditunjuk Fathin barusan.. sejurus kemudian Ia histeris setelah menemukan namanya dan ketiga sahabatnya yang lain tertera disana.


"Waoow Fhat, nih kamu tembus di bahasa inggris nih, selamat yah sayangkuh!" Histerisnya melihat kearah Fathin.


"Iya, Mhit! Makasih yah. Kamu juga selamat yah cintakuh!" Balas Fathin tak kalah dramatis nya.


"Nggak seru ihh. Pelukan dong...!" Ia merentangkan tanganya kearah Fathin bersama ocehan manjahnya.


Merekapun berpelukan melampirkan senyum bahagia. Fathin tiba-tiba melepas diri beranjak mengambil alat shalatnya untuk menunaikan shalat Ashar.


"Aku duluan yah, kamu juga buruan wudhu sana!" Ucap Fathin sembari bersiap khusyuk dan memulai Takbiratul Ula.


"Allahu Akbar!!"


Ia sudah melangkah ke arah kamar mandi tapi tiba- tiba ponselnya bergetar di atas pembaringan. Ia pun seketika lupa akan titah Fathin barusan dan dengan cepat meraih ponselnya.


Ada pesan dari Akram yang memberitahunya bahwa kedua sahabatnya itu akan singgah di kamar kost mereka. Ia pun tanpa sadar saling berbalas pesan dengan Akram hingga Fathin selesai dari shalatnya.


"Mhit, kamu kok masih sibuk sama Handphone sih? Kata Om Risyad suami bibiku, kalau mereka lagi ngumpul baca kitab ta'lim,"


"Shalat tuh harus di awal waktu. Nggak boleh ditunda-tunda. Apalagi bagi kaum wanita yang suka kedatangan "Tamu Istimewa setiap bulan". Jangan sampe udah masuk waktu shalat, trus ditunda shalatnya dan tiba- tiba "tamu" itu datang, maka jatuhnya udah dihukumi meninggalkan satu waktu shalat!" Terang Fathin panjang lebar mengenai shalat padanya.


"Kamu tau nggak hukuman bagi yang ninggalin shalat?" Imbuh Fathin lagi.


"Bellum...!" Akunya menggeleng dibarengi wajah kikuk karna merasa bersalah.


"Satu waktu shalat kita tinggalin bakal di celup tuh dalam api neraka selama satu huqub!"


"Satu huqub? Apaan tuh, Fhat?" Tanyanya penasaran mulai ngeri.


"Satu huqub itu sama dengan 70 atau 80 tahun. Tahunnya jangan dikira sama seperti di dunia. Tahunnya tuh ngikutin aturan main di Akhirat. 1 hari di sana sebanding dengan 1000 tahun di sini. So, silahkan hitung sendiri noh lamanya kayak gimana!" Ia pun bergidik ngeri mendengar penuturan Fathin barusan


"Ya Ampun...! Horor banget sih! Iya..iya.. Aku wudhu sekarang deh!" Ucapnya sambil berlari masuk ke dalam kamar mandi untuk berwudhu. Sejurus kemudian Ia tlah berdiri khusyuk untuk menunaikan perintah wajib dari Sang Khalik. Dalam hati Ia berjanji untuk tidak melalaikan shalat dengan hal- hal remeh yang sia-sia dan melenakan.


"Ya Allah bantulah hambamu ini untuk menjaga shalat selalu di awal waktu, Aamiinn!" Doanya saat sujud terakhirnya.


___ ___ __


Next >>>

__ADS_1



__ADS_2