MUJAHADAH CINTAKU

MUJAHADAH CINTAKU
#Episode 42. Love at the first sight


__ADS_3

*Yusuf


Sepertinya mengajak Vero khuruj bersama adalah pilihan tepat dan terbaik. Ia bisa melihat perubahan-perubahan kecil mulai ditunjukkan oleh adiknya tersebut setelah dua hari program berjalan. Vero jadi banyak duduk seraya merenung dalam rangka muhasabah diri. Ia juga banyak bertanya banyak hal terkait point-point penting dalam menjaga kekuatan iman dan ibadah.


"Boleh nggak pacaran, Ustad?"


Sudut bibirnya tertarik saat mengingat kembali pertanyaan refleks sang adik kemarin saat sesi mudzakarah iman. Pikirnya lalu mulai menebak jika adiknya itu sedang menyukai seseorang, terlebih saat belanja peralatan khuruj tempo hari Ia sempat melihat Vero membeli beberapa jilbab dan mukena. Awalnya Ia mengira itu semua untuk si kembar, tapi saat menyadari kedua adiknya bukan hijabers, Ia pun curiga meski belum pasti menyimpulkan.


Ia memilih menyimpan semua rasa ingin tahunya. Tak beda dengan dirinya, Vero pun butuh waktu untuk berproses. Butuh jeda untuk kemudian selangkah demi selangkah sang adik bisa memahami lalu menarik dirinya sendiri.


Ahh, pikirannya kembali berlari pada drama perpisahan sementara antara dirinya dan Fathin, sang calon kekasih halal. Lagi-lagi Ia harus menelan pil pahitnya tak berjumpa. Bohong jika Ia tak rindu. Bahkan rasa itu seakan kian menyiksanya tanpa ampun terlebih jika mengingat wajah penuh tangis Fathin di teras kostan waktu itu.


Kadang terbersit ragu yang coba menipu, bisakah Ia konsisten dengan komitment yang telah Ia buat itu? Ini pertama kalinya Ia menyukai seorang gadis setelah sekian lama. Bahkan dalam sekejap wajah teduh dengan manik sendu itu telah berhasil mencuri seluruh dunianya secara total. Tak ada saat yang terlewati kecuali hati dan pikirannya dipenuhi dengan rasa aneh yang menggertarkan. Gadis itu benar-benar berhasil mengalihkan dunianya. Ia bahkan bisa sejauh ini ingin merubah diri adalah karena Fathin.


Wajah yang selalu bersemburat merah saat beradu tatap dengannya. Senyum manis yang selalu sukses menciptakan degup tak wajar di dada.


"Gue harus bisa nahan diri." Ia kembali menguatkan tekadnya untuk tidak lemah dan terpedaya.


Tak terasa semua program telah usai. Saatnya kembali. Hari ketiga dalam rutinitas ijtimai amal. Semua personil kembali duduk tawajjuh mendengarkan beberapa arahan dan nasehat pelepasan. Beberapa kali Ia melirik Vero yang tampak serius mendengarkan setiap ucapan sang mubayyin. Hingga tak terasa semua kembali menitikkan air mata saat tiba di part betapa baiknya Allah yang tak henti memberi petunjuk pada hamba_Nya.


Ia masih tak bisa mengira bagaimana Ia bisa sampai bisa sejauh ini ingin berubah. Mengingati bagaimana kehidupannya dulu membuatnya kembali marasa malu di hadapan Allah. Setelah semua keburukan dan kebobrokan akhlaknya selama ini, tapi Allah masih berkenan memberinya hidayah. Lagi-lagi Ia berazam kuat dalam hati untuk menggunakan kesempatan ini. Ia harus total merubah diri ke arah yang lebih baik.


Ia harus benar-benar pantas dulu untuk kemudian bisa berani melamar Fathin. Menjadi iman yang baik dalam sebuah biduk rumah tangga bukanlah hal gampang. Tidak semudah membalikkan tapak tangan. Butuh ilmu dan pemahaman yang baik untuk bisa memasuki dunia itu. Dunia yang begitu kompleks dengan segala konflik dan permasalahan hidup.


Menjelang sore majelis bayan wabsyi di tutup. Rombongan jamaah istirahat sembari menunggu shalat ashar. Mereka pun terlihat berkumpul membentuk kelompok-kelompok yang banyak. Saling bermudzakarah, diskusi soal dakwah dan agenda selanjutnya setelah dari sini.


Vero ikutan duduk bergabung. Adiknya itu memang type supel yang bisa cepat menyesuaikan diri dengan lingkungan di manapun Ia berada. Ia cepat akrab dengan siapapun. Belum lagi kebiasaan bercanda yang membuatnya mudah di kenali. Jadilah Vero pembicara dalam sekejap di sana. Sementara Ia yang nota bene tidak terlalu banyak bicara akhirnya menjadi pendengar terbaik sembari sesekali ikut tersenyum atau tertawa kecil jika ada hal yang Ia rasa lucu. Dalam banyak hal Ia memang berbeda dari Vero.


Adzan pun berkumandang. Seusai shalat semuanya pun berpisah. Ia dan sang adik berpisah di mobil masing-masing. Sesuai musyawarah sebelumnya Ia akan membawa pulang empat orang ke tempat mereka masing-masing. Sementara Vero juga membawa empat orang lainnya.


Setelah semuanya kelar, Ia pun memutuskan kembali ke rumah. Membawa pulang semua ilmu baru di dadanya dengan niat untuk mengamalkannya meski belum bisa sempurna.


Ia memilih arah yang melewati gang di mana kostan Fathin berada. Ia sengaja memelankan laju kendaraannya sembari melihat-melihat ke dalam. Ia tak melihat Fathin di sana. Setelah agak lama menilik Ia pun kembali melaju. Pulang dengan sedikit kecewa sebab tak melihat Fathin meski dari jauh. Seketika Ia sadar.


"Apa-apaan ini. Aku, kan, udah bertekad untuk nggak temuin dia dulu. Astaghfirullahal 'adziim!" Ia menepuk jidatnya pelan. Ah, hampir saja Ia lepas kendali lagi.


**


*Vero


Ia kembali lagi di tempat ini. Duduk ragu seraya menatap intens ke arah gang sempit di depannya, seperti tiga hari yang lalu. Ia menyeringai, sedikit merasa lucu dengan apa yang sedang Ia lakukan. Ia bahkan baru sekali bertemu dengan Mala, gadis yang tinggal di ujung gang sempit tersebut, tapi Ia sudah nekat bertindak lebih.


Ia menoleh ke samping kemudi dan menatap dua buah paper bag berisi perangkat hijab wanita. Entahlah, tetiba terbersit ingin memberi sesuatu pada gadis dengan tatapsn teduh tersebut.

__ADS_1


"Kalau gue samperin ke sana, alasan gue ntar apa kalau tuh cewek nanya ini itu?"


"Apa gue bilang aja ini titipan dari si kembar? Tapi kalau mereka ketemu di sekolah dan cewek itu ngomong ke si kembar, gimana? Bisa hilang muka gue dibully sama tuh dua bocah."


"Aarrgghhh.. Ribet banget, sih. Baru juga mau pedekate." Ia mengacak rambutnya frustasi.


"Turun nggak, yah?" Lagi-lagi Ia bergumam seraya mengetuk-ngetuk stir mobilnya.


"Ah, gue samperin aja, deh. Gue bilang aja ini dari si kembar. Urusan kemudian nanti gue pikirin lagi. Bismillah!" Ia memantapkan hati.


Ia lalu turun dan dengan gagah melangkah masuk menyusuri gang sempit itu. Untuk kesekian kalinya Ia kembali mendengar suara samar-samar ibu-ibu di sepanjang gang memuji ketampanannya. Membuatnya kian pede berjalan.


Ia berdiri tegang di depan pintu rumah mala lagi setelah mengetuk pintu dan bersalam. Terlebih saat terdengar sahutan dari dalam dan langkah yang kian mendekat. Ia lalu menilik cepat penampilannya. Astaga, ternyata Ia masih memakai setelah gamis yang Ia pakai dari tempat khuruj. Ia sedikit merutuki kelalaiannya. Tapi, sudahlah. Ini malah terlihat seperti pria alim sesungguhnya, pikirnya.


Cekrek.


Pintu terbuka dan menyembullah wajah wanita paruh baya dengan senyum ramahnya, tapi kemudian berubah menjadi senyum kikuk setelah ibu itu memperhatikannya dengan seksama.


"Siapa, ya?"


"Ehm, saya.. saya kakaknya Shafa sama Marwa, Bu!" sahutnya gelagapan.


"Oh, kakaknya si kembar. Ayo, ayo, masuk, Nak! Tapi maaf rumahnya kotor berantakan, Nak!" Ia tersenyum kian kaku menggeleng. Ibu Mala seketika sumringah dan tanpa ragu seakan sudah kenal lama menarik tangannya dan mendusukkannya di kursi tamu yang sudah cukup usang.


"Nggak usah, Bu. Saya nggak akan lama. Cuma mau sampein ini titipan si kembar untuk Mala." Ia menyahut cepat seraya menyodorkan bawaannya.


Ibu Mala yang hendak ke dalam akhirnya kembali duduk setelah menerima paper bag darinya.


"Oh, gitu, yah. Ya udah, Ibu panggilin Mala dulu, yah, di dalam."


"Siapa, Bu?" belum sempat Ibu Mala bangun, gadis itu sudah menyahut lembut dari dalam menuju ke tempat tersebut. Membuatnya kian gelisah gak tenang.


Mendadak Ia gugup dan bingung hendak berucap apa pada gadis yang kini telah berdiri menatapnya kikuk dan heran. Ia membalas pada wajah lembut itu yang kini malah menunduk menghindari adu tatap dengannya.


"Duduk to, Nak. Ada tamu, kok malah berdiri bengong." sang Ibu memutus keterpanaan masing-masing.


"Iya, Bu. Maaf."


"Hai!" Ia menyapa ragu.


Mala mengangguk sebagai sahutan. Tak bersuara.


"Loh, kalian udah pernah ketemu sebelumnya?"

__ADS_1


"Udah, Bu!"


"Udah Tante!"


Astaga, kenapa harus bersamaan, sih nyahutnya, batinnya kian keki.


"Ya, udah. Ibu tinggal ke dalem. Kalian ngobrol aja dulu. Mungkin Nak..,"


"Vero, tante."


"Iyah. Mungkin Nak Vero ada yang mau disampein sama Mala."


"Iya, tante."


Ia kembali tegang sepeninggal ibu Mala. Tentu saja, ini pertama kali Ia senekat ini menyambangi seorang gadis. Ia bahkan tak mengindahkan nasehat ustad Risyad saat khuruj kemarin, untuk menghindari hal semacam in, berdekatan dengan yang bukan muhrim.


Ia menatap sekilas wajah imut Mala. Gadis itu pun ikut menatapnya ragu-ragu.


"Itu titipan dari Shafa sama Marwa untuk kamu." Ia akhirnya membuka suara, memecah kesunyian yang sempat tercipta.


"A-apa ini, Kak?"


Ia mengendikkan bahunya pura-pura tidak tahu. Mala seperti kebingungan.


"Hadiah atau kado kali."


Mala kembali mengernyit tapi tidak bertanya lagi. Membuatnya menarik kesimpulan jika gadis itu tipe pendiam. Sepertinya Ia yang harus lebih aktif bicara. Tapi, mau bicara apa? Mereka bahkan baru kali ini bisa berbicara sedikit banyak. Baiklah. Ini baru permulaan. Santai. Masih banyak kesempatan di depan. Ia harus menjaga image juga. Fiks. Hari ini cukup. Saatnya pulang dan susun langkah selanjutnya.


"Ya, udah, kalau gitu saya pamit dulu. Udah sore juga."


"Oh, iyah. Nggak nunggu minumnya dulu?"


"Nggak usah. InsyaAllah lain kali aja."


"K-kalau gitu trima kasih udah di bawaain ininya. Maaf udah ngerepotin. Bilangin si kembar trima kasih banyak kirimannya." Mala berucap gugup. Ia membalas dengan anggukan sembari tersenyum tipis.


Setelah pamitan Ia pun beranjak pulang. Mala ikut berdiri mengantarnya hingga ke teras. Ia mesih sempat melempar senyum ke arah Mala sebelum kembali berjalan gagah menyusuri gang sempit itu.


Wajahnya kembali mengulas senyum. Lagi-lagi merasa gila dengan apa yang barusan dilakukannya. Tapi, Ia sudah kepalang tanggung menyukai Mala sejak pertama bertemu.


Ah, love at the first sight.


TBC>>

__ADS_1


__ADS_2