MUJAHADAH CINTAKU

MUJAHADAH CINTAKU
#Episode 27. "You Reap What You Sow" (Apa yang kau tabur itu yang akan kau tuai)


__ADS_3

*Fahry


Matahari sudah mulai merangkak naik sepenggalahan. Ia masih saja bergeming di atas pembaringan, sembari bersandar malas di atas tumpukan bantal. Menatap kosong pada langit-langit kamar kostnya. Sungguh penampakan yang menjelaskan suasana hatinya saat ini.


Dilema yang dirasakannya beberapa hari belakangan, nampaknya telah berganti status menjadi galau level akut. Cerita telah berganti alur. Bukan lagi tentang memilih. Tapi tentang melepaskan.


Setelah kemarin Ia di buat panik oleh Sherin yang tiba-tiba menghilang dari Hotel, malam tadi Ia kembali dirundung nestapa yang kian memupus habis harapannya.


Pemandangan menyesakkan dari drama yang dilakoni oleh Fathin dan Yusuf yang disaksikannya semalam, sekejap menghempas asa yang masih tersisa. Benar-benar akumulasi kepelikan yang membuat denyut di kepala kian menyiksanya tanpa ampun.


Hatinya patah bahkan sebelum Ia meyakinkan diri akan perasaan Fathin untuknya. Kisahnya usai dengan ending mengenaskan, bahkan sebelum kasihnya tersambut. Menjadi definisi sesungguhnya dari ungkapan,


"Layu sebelum berkembang"


Ia mendesah resah sekali lagi. Otaknya lagi-lagi tak bisa diajak berdamai dengan kenyataan. Masih saja betah menghadirkan semua kenangan tentang gadis itu, mengabaikan rintihan hatinya yang kian gundah gulana.


Ia mengusap wajahnya kasar lalu bangkit dari pembaringan. Sejurus kemudian memunguti rokok yang tergeletak asal di lantai dan membawanya keluar menuju teras kostan.


Duduk menghempaskan diri di sebuah kursi santai berbahan fiber seraya memantik korek dan menyalakan rokok. Menghisap dalam-dalam lalu menghembuskannya kasar. Sekejap suasana sekeliling menjadi pekat oleh asap yang keluar dari hidung dan mulutnya.


Ia bergeming cukup lama. Merenung dan merenung. Berulang kali meyakinkan pilihan hati. Sepertinya Ia memang harus melepaskan gadis tersebut dengan ikhlas, lalu, kembali focus pada perjuangan cintanya bersama Sherin, cinta pertama yang kini kembali hadir.


"Kenapa, lo? kayak perawan ditinggal kawin aja! nggak cocok, tau nggak!" Ia terhenyak seketika. Ia terlalu asyik bermain dan tenggelam dalam dilema hatinya hingga sedikitpun tak menyadari, jika sedari tadi ada sosok yang telah ikut duduk di kursi sebelahnya.


Buru-buru memalingkan wajah dan langsung mendapati wajah penuh ejekan dari rekan sekaligus sahabatnya, Arga, yang Ia tahu menjadi MC di acara makrab malam tadi.


Ia berdecak samar lalu kembali focus menghisap rokoknya. Menghisapnya dalam, menghembuskan lagi dan terakhir menggerus puntungnya yang masih bersisa banyak.


"Yang mana orangnya?" tanya Arga tanpa basa-basi, seakan sudah tau pasti apa yang sedang bergumul di otaknya saat ini. Ia tertawa sumbang bersama ekspresi jengahnya.


"Jangan nuduh!" Sahutnya datar tanpa menoleh.


"Lo udah bisa move on dari Sherin?" Masih dengan lagak sok taunya pria itu bertanya.


"Itu yang semalam, reality show atau gimik doang?" Ia malah manimpali dengan pertanyaan impulsifnya.


Arga sontak mengerutkan kening mendengar pertanyaannya yang serasa bak curhatan emak-emak rempong di gerobak mang sayur. Rekannya itu tiba-tiba menyadari jika yang Ia maksud adalah deklarasi Yusuf si jenderal kampus di depan khalayak makrab malam tadi.


"Tunggu, tunggu, Lo kenal ama cewek itu?" Arga bertanya tak menyangka sedikit kurang percaya. Ia mengangguk pelan. Sekali lagi mendesah putus asa, dan Arga bisa melihat itu tentunya.


"Gue saranin, lo mundur deh sebelum ketahuan. Rival lo yang ini berat. Nggak bakal ada kesempatan lo nikung. Lagian gue liat kayaknya cewek itu suka ama Bang Yusuf!"


Kali ini Arga bak seorang wasit yang tetiba memberi Referee Stops Fight dalam sebuah pertunjukan tinju amatir, sebab layangan sebuah Jab yang membuatnya Knock Out alias KO di ronde awal.


Benar-benar kian memperjelas ujung alur kisah kasih tak sampainya. Lagi-lagi Ia tertawa sumbang. Sungguh gambaran nasib yang amat mengenaskan.


"Btw, gue heran sama lo, di samping lo ada berlian yang bersinar banget, lo malah masih ngarep aja bintang yang nggak kegapai!"


"Maksud, lo?" Ia yang sejak awal masih enggan meladeni ocehan rekannya itu, mendadak antusias bertanya seraya menghadap kearah Arga. Dan sialnya yang di tatap malah tertawa lebar sembari menggelengkan kepala berkali-kali.


"Ini, Lo yang nggak peka atau emang anak-anak yang baperan, gimana sih?" Ia kembali memijit kepalanya yang terasa kian mumet. Cerita konyol apalagi yang di tawarkan oleh Arga. Ia benar-benar tidak mengerti.


"Ck, lo apaan sih, gue tanya lo malah balik nanya, siapa yang lo maksud berlian bercahaya itu?" Ia berdecak sedikit kesal.


"Sekum lo itu! Selama ini otak lo udah ke_gap ama kisah cinta lama lo ama Sherin, so, lo nggak nyadar kalau selama ini Dian suka sama lo!" Ia tercekat tak mampu berucap. Suaranya hilang di tenggorokan sebelum tiba di bibir.


Astaga, apalagi ini. Scene episode satu, dua belum finish, malah di briefing secuel yang tak kalah dramatisnya.


"Di_Dian? Ngaco lo. Dian itu udah gue anggap adik sendiri. Lagian dia itu anak rohis, mustahil dia mau ama mahasiswa brantakan kayak gue. Nggap pantes tau nggak?" Kilahnya beralibi.


"Of to you, lo mau percaya atau nggak, yang jelas kalau boleh gue saranin lo mending mundur dari rivalan ama bang Yusuf, trus lo coba bales tuh, perasaan Dian ke lo."


"Bullshit!"


"Hari gini, mana ada cewek yang mau ngasih perhatian lebih kalau nggak ada something di balik itu. Dan heyy, lagian cewek itu makhluk ekspresif, suasana hatinya, isi hatinya slalu bisa kebaca lewat ekspresinya. Lo aja yang nggak peka!" Arga masih bersikukuh dengan keyakinan yang Ia rasa aneh itu. Membuat lipatan di keningnya kian berlapis-lapis.


"Ck, tau ah, gue skarang udah cukup pusing sama feeling gue ke Fathin yang baru mulai tumbuh, tapi tiba-tiba Sherin kembali. So please! jangan nambah beban otak gue dengan ocehan lo itu!" Ia berucap bersama rahang yang sedikit mengeras menggambarkan emosinya sedang tidak stabil saat ini.


"Sherin kembali? maksud lo?"


Lagi-lagi Ia membuang nafasnya kasar. Sejurus kemudian Ia pun mengangguk lemah bersama tatapan kosong yang kian hampa.


"Beberapa hari yang lalu, Sherin tiba-tiba hubungin gue, __," Ia akhirnya menceritakan semuanya dari awal, tentang Ia yang jatuh hati pada salah satu kader barunya, Fathin. Tentang Yusuf yang tiba-tiba mengambil alih perhatian si gadis hingga kehadiran Sherin yang mendadak bersama perubahannya yang begitu mengejutkan sebab telah menjadi mualaf.


Tak ketinggalan juga soal dilema yang menderanya akhir-akhir ini, bingung antara memilih merelakan si gadis untuk Yusuf lalu kembali fokus berjuang bersama Sherin atau bersikukuh dengan rasa yang baru saja tumbuh dengan resiko menyakiti hati Sherin.


Arga yang sedari tadi begitu antusias menyimak setiap penuturannya, kini nampak ikut terpekur, diam tak bereaksi. Seakan ikut dilema menentukan apa yang hendak diucapkannya sebagai saran untuknya.


"Lo udah denger smuanya. Menurut, lo, gue harus gimana? jujur, gue masih blom yakin sama prasaan gue sendiri!" Lirihnya ragu bersama mimik datarnya.


"Prasaan ke siapa?" Arga menatapnya intens.


"Dua-duanya!" Sahutnya lagi.


Arga ikutan menghembuskan nafas berat. Sedikit menghela lagi sebelum kemudian berucap yakin,


"Kalau boleh gue saranin, mending lo balik serius ama Sherin. Pengorbanan dia untuk bisa sama-sama lo nggak main-main, Bro! lagian lo udah nggak punya celah untuk masuk di antara Bang Yusuf sama cewek itu. Ehmm, kalau soal Dian, gue yakin dia pasti bakal ngerti. Apalagi kalau dia tau soal Sherin yang udah jadi mualaf, Dian pasti akan menomor duakan prasaannya demi kebahagiaan Sherin!"


"Gue juga mikirnya gitu, tapi tetep aja gue illfeel liat Fathin ama bang Yusuf!"


"Gue ngerti, tapi gue yakin, pelan tapi pasti, lo bisa terima, cuman nunggu waktu doang yang bakal nyembuhin semuanya." Sahut Arga mencoba membesarkan hatinya.


"Sometimes life doesn't give you what you want, not because you don't deserve it, but because you deserve so much more! (Terkadang hidup tidak memberi apa yang kita mau, bukan karena kita tidak pantas untuk menerimanya, tetapi karena kita pantas untuk menerima yang lebih dari itu!)."


Arga kembali meyakinkannya. Sudut bibirnya tertarik demi mendapati Sahabatnya kali ini mendadak berubah menjadi tabib asmara untuknya.


Ia nampak mulai manggut-manggut. Sedikit banyak quotes penyemangat Arga mulai mempengaruhinya. Setidaknya denyut di kepalanya yang sejak semalam menyiksanya kini mulai berkurang.

__ADS_1


"Thank's, Bro!" Ucapnya kemudian yang dibalas anggukan dari sahabatnya itu sebagai sahutan.


Pada dasarnya Ia sudah berfikir untuk memutuskan hal serupa. Tapi, pesona si gadis bermanik sendu itu sedikit susah terenyahkan dari ingatannya. Menjadikannya terjebak lama dalam permainan hati yang masih meragu sebab masih menyimpan setitik asa. Mencoba mencari celah yang bisa merubah an impossible to being a possible. Tapi kenyataannya tak ada sedikitpun sela kosong baginya. Gerakannya benar-benar terkunci mati, Skak Mat!


"Btw, tumben nyamperin gue, lo mau laporan kalau udah putus ama Andin?" Ia tergelak diujung kalimatnya saat Ia bertanya sebab wajah Arga mendadak berubah masam demi mendengar nama Andin, sang kekasih posesifnya.


"Huh, gue mau nanyain sesuatu. Lo kenal Mitha?" Arga mendengus saat melempar tanya padanya. Sepertinya hati sahabatnya itu masih menyimpan kesal pada Andin.


Demi mendengar nama Mitha, ingatannya akhirnya kembali sepenuhnya akan insiden yang terjadi antara Mitha dan Andin di kantin kampus kemarin.


"Dia kader baru gue di Hippelwana. Sahabatan ama Fathin. Lo jangan macem-macem ama dia. Gue nggak mau Andin ngapa-ngapain Mitha gara-gara cemburu, lo deketin dia!" Ia menyahut datar tapi cukup tegas melalui tekanan suaranya.


Kali ini Arga tidak lantas menyahutinya. Pria itu malah tertawa sumbang. Kali ini sepertinya posisi terjepit tak bercelah ikut menjerat sahabatnya itu. Ia dengan lantang menvonis jika Arga sedang merasakan dilema yang sama dengannya meski sedikit berbeda alur.


"Lo gimana critanya bisa kenal Mi__,"


"Gue suka ama anak itu!" Arga menyahut to the point sebelum Ia menuntaskan tanya.


"Gue nggak tau sejak kapan, yang jelas gue pengen lebih deket ma dia. Gue udah capek ngimbangin pola koneksi Andin yang makin lama makin bikin muak tau nggak! She's so childish. Her bad that I hate so much! (dia terlalu kekanak-kanakan. Keburukannya yang sangat gue benci!"


Arga sepertinya ingin meluahkan semua kesah dihati. Ia pun memilih diam, menyimak sembari mencari-cari benang merah dari masalah yang dituturkan sahabatnya itu.


"Lo beresin dulu tuh hubungan lo ama si Andin baru lo mulai bikin plan strategi buat naklukin Mitha. Simple!" Timpalnya santai.


"Lo sih simple-simple aja tinggal ngomong doang, lah gue, Andin itu salah satu cpecies langka, egois, nekatan, pengen dipertahanin tapi nggak mau brubah. Ck, Stress gue lama-lama hadapin dia. Lo punya ide gesrek nggak bikin dia ngejauhin gue tanpa harus nyalahin "the next people" gue ntar?"


Kali ini Ia terbahak sembari melayangkan tinju pelan di bahu Arga yang nampak buncah dengan ekspresi menunggu. Seketika terlintas ide yang benar-benar gesrek sesuai request sahabatnya itu. Ia kembali tergelak sebelum kemudian berucap sok yakin,


"Cuma ada satu cara, Lo pura-pura stress aja, Ga!" Sahutnya masih bersama tawa lepasnya seraya meletakkan jari telunjuknya di dahi dengan posisi miring, membuat Arga terbatuk-batuk sebab tersedak dengan asap rokok yang sedari tadi mengepuli wajah tampannya.


"Andin ba__," Ia tak melanjutkan ocehannya sebab Arga menyela cepat,


"Gila, lo! Lo nyuruh gue jadi pasien RSJ? Apaan, sih, kurang kerjaan banget! lagian gue nggak ada bakat jadi orang gila. Gue nggak bisa acting gila!" Sungut Arga tak henti menyumpahinya.


"Gue cuman punya ide itu doang, lagian lu mintanya ide gesrek, sih. Jadinya yang nongol di otak gue ya itu!" Lagi-lagi Ia tergelak. Belum-belum ia sudah membayangkan gimana jadinya kalau Arga pura-pura gila. Pasti akan sangat teramat lucu, pikirnya.


"Ya udah, gue masuk dulu, siap-siap. Hari ini gue mau ke tempatnya Sherin. Lo nggak masuk?" Ia berucap sembari beranjak berdiri hendak meninggalkan Arga yang masih dengan ekspresi "tak habis pikir"_nya.


"Nggak, gue mau balik. Ntar malam gue tunggu lo di caffe baru milik bang Fadhil di depan mall Mandonga." Sahut Arga akhirnya ikut berdiri. Keduanya bersalaman dengan mengadu kepalan tinju pelan sebagai isyarat pamit.


"See, you!"


"Too!"


***


*Yusuf


Pagi-pagi Ia sudah menghubungi Gery, sang sahabat, demi menanyakan apa-apa saja yang hendak Ia siapkan sebelum berangkat. Bagaimanapun Ia harus menyiapkan segala sesuatunya sebab Ia harus ikut menginap di masjid selama tiga hari.


Ia mulai mengobrak-abrik isi lemari pakaiannya mencari baju shalat, tapi tak satupun yang Ia temukan. Satu-satunya yang Ia punya, ya setelan kurtah pemberian Gery semalam. Ia berdecak merutuki diri. Benar-benar apatis sangat dirinya ternyata selama ini untuk urusan agama. Sampai-sampai baju shalatpun tak pernah terbersit di otaknya untuk menyimpannya minimal selaku antisipasi jika sewaktu-waktu di butuhkan.


Ia pun mengambil beberapa lembar baju casual, boxer, sarung, handuk, celana juga peralatan mandi plus pernak-pernik perawatan wajah pria yang biasa digunakannya. Tak ketinggalan parfum mewah beraroma maskulin andalannya, lalu memasukkan kesemuanya ke dalam tas ransel.


Demi menghindari banyak tanya dari para penghuni rumah, Ia memutuskan tidak langsung mengenakan baju pemberian Gery. Ia mengenakan outfit seperti biasa, celana panjang plus kemeja yang ujung lengannya digulung asal.


Ia melangkah mendekati cermin. Mematut wajah tampannya di sana. Merapikan rambut gondrongnya. Terakhir menyambar kunci mobil, dompet juga ponselnya di atas nakas.


"Let's start the adventure!" Pekiknya bersama senyum lebarnya sebelum akhirnya berjalan keluar kamar. Melangkah menuruni undakan tangga menuju sebuah ruangan besar dimana terdapat satu set meja makan super lebar dan panjang.


Suasana di ruang makan sudah mulai riuh oleh suara kakak-kakaknya beserta keluarga masing-masing. Kecuali Mas Tio dan Mbak Tiana sebab keduanya memutuskan tidak menginap di rumah itu semalam.


Seperti biasa Ia dengan gaya santai dan cueknya menghempaskan diri di kursi yang paling dekat dengan pak Surya, papanya. Ia bukan tidak tahu, sejak Ia muncul di sebalik dinding pemisah antara ruangan tersebut dan ruang keluarga, hampir semua mata tertuju padanya. Tapi Ia pura-pura masa bodoh.


Ia malah sibuk menyapa para keponakannya yang sedang duduk manis di mini kursi menikmati suapan demi suapan dari ibunya masing-masing.


"Good morning childs!" Serunya semangat.


"Morning, uncle ganteng!" Serempak bak dikomando semua bocah itu menyahuti.


"Makan yang banyak biar cepet gede!" Sahutnya lagi sembari mengisi piringnya dengan nasi goreng.


"Siaap, Bos!" Lagi-lagi para bocah itu menjawab serempak.


"Loh, mw kemana nih, bawa-bawa ransel sgala?" Mbak Meisya bertanya selidik saat Ia baru mulai menikmati sarapannya.


"Ada acara ma temen!" Sahutnya asal.


"Ck, gimana sih, baru mau di tanyain soal semalem udah mau pergi aja. Nggak bisa di tunda apa perginya, mumpung lagi ada semua nih di sini?" Sungut mbak Tiara bertanya sesaat setelah anak-anak itu berlarian menuju ruang depan sebab telah selesai sarapan.


"Ya, udah, skarang aja ngomongnya. Mau nanyain apa?" Sahutnya santai masih serius menikmati sarapannya.


"Itu yang smalem serius, Suf? maksud Mbak, kamu nggak niat mainin anak orang kan?" Kali ini Mbak Citra yang menyerobot bertanya. As usual.


"Gue nggak suka basa-basi. Gue srius lah. Ngapain juga gue buang-buang waktu gitu kalau nggak srius!" Sahutnya masih dengan gaya cueknya. Sejurus sekilas manik elangnya melirik papa yang sedari tadi belum bersuara. Papa nampak takzim dengan makanan di hadapannya. Seperti biasa Papa memang kurang suka berbincang saat berada di meja makan.


"Papa stuju kan sama Fathin?" Sejenak menghentikan suapannya. Netranya kini benar-benar tertuju pada wajah penuh wibawa itu.


Hening...


Untuk beberapa saat, semua diam seraya menatap papa dengan mimik menunggu. Tapi yang ditunggu masih belum mau bersuara. Bukannya menjawab, Pria paruh baya itu malah meraih tisyu lalu mengelap sekitaran bibirnya setelah meneguk segelas air putih pemberian si step mother. Sejurus kemudian berdiri hendak beranjak sembari berucap,


"Papa tunggu kalian di ruang tengah!"


Semua saling melempar pandangan satu sama lain, kecuali dirinya. Ia memilih menyelasaikan makannya segera lalu buru-buru berdiri hendak menyusul langkah papanya.


"Gue duluan!" Ucapnya pada semua yang ada di sana. Berjalan meninggalkan meja makan tanpa menunggu jawaban semua.

__ADS_1


"Papa cuma ingin perjelas sebelum kita mulai semuanya. Apa kamu benar-benar serius dengan niatan kamu itu?" Papa membuka percakapan, memecah keheningan yang tercipta. Ia yang menyadari jika Pertanyaan itu ditujukan untuknya. Ia pun mengangguk tanpa suara.


Semua yang ada di tempat itu tak ada yang bersuara. Pak Surya terlihat manggut-manggut, lalu melanjutkan,


"Papa suka anak itu. Sopan dan tahu membawa diri. Papa anggap jawaban kamu ini sebagai janji seorang lelaki. Kamu tau kan, laki-laki yang di pegang adalah ucapannya, janjinya?"


"Kamu beresin semua urusan kamu di kampus. Papa yang akan bertemu orang tuanya untuk melamar gadis itu untukmu. Sebagai adab dan penghargaan kepada keluarganya, jangan kamu yang kesana!" Kali ini Ia ingin menyela protes tapi tatapan tajam dari Mbak Tiara yang bermakna larangan membuat Ia akhirnya diam, pasrah menerima keputusan sang papa.


"Papa harap, setelah ini kamu bisa stop bermain-main dengan hidup. Kamu udah cukup dewasa. Sudah saatnya serius menata hidup. Gimana kamu mau ngatur keluarga nantinya kalau ngatur diri sendiri aja kamu masih nggak becus! Ingat berumah tangga itu bukan ranah coba-coba yang kalau cocok dilanjutin kalau nggak bubar. Kamu harus jadi laki-laki bertanggungjawab dulu sebelum memutuskan masuk ke ranah ini!"


"Kamu harus jadi laki-laki yang menghormati wanitamu. Kamu lihat wajah-wajah semua saudara perempuan kamu, terutama si kembar yang masih dalam fase pencarian jati diri. Kamu nggak ingin kan mereka diperlakukan dengan tidak baik oleh suami-suami mereka?"


"Iyah, Pah!" Ia menyahut singkat.


"Itu tergantung dari bagaimana Papah, Tio, Kamu juga Fero memperlakukan perempuan yang ada di samping kita. Sebab Papa yakin dengan adanya hukum tabur tuai, hukum karma selalu ada. Itulah sebabnya selama ini Papa slalu berusaha berlaku baik dan menghargai Mami kalian sebab Papa ingin kalian semua mendapat perlakuan serupa dari pasangan kalian!"


Papa berucap lirih sembari meraih bahu wanita yang berada di sampingnya, wanita yang selama ini belum sepenuhnya Ia terima, padahal sebenarnya wanita itu baik dan tulus. Papa menatap wajah anak-anak perempuannya satu persatu dengan manik berkaca-kaca. Suasana di ruangan tersebut seketika diliputi haru. Semua mata ikut berkaca-kaca tak terkecuali dirinya.


Entah kenapa hatinya mencelos mendengar setiap untaian petuah papa kali ini. Padahal selama ini, Ia selalu berusaha menghindari pertemuan seperti ini sebab enggan mendengar nasehat yang Ia anggap tak lebih dari ocehan unfaedah yang hanya masuk di telinga kanan lalu tanpa permisi keluar lewat telinga kiri. Tapi hari ini Ia malah diam terpekur di sini. Meresapi dengan begitu dalam apa yang di ucapkan papanya.


Hatinya sejuk, bak kemarau panjang berjumpa rintik hujan. Membasahi kering hatinya yang telah sekian lama gersang dengan nasehat. Seketika Ia berjanji untuk benar-benar berubah. tentunya ke arah yang lebih baik sebagaimana harapan orang-orang yang berada di hadapannya kini.


"Makasih, Pah!"


Ia sebenarnya ingin berucap banyak tapi entah mengapa, yang berhasil keluar dari lisannya hanya seruan sesingkat itu. Ia tak bisa menemukan kalimat pendek yang bisa mewakili suasana hatinya saat ini kecuali kata itu.


"Mbak bisa liat, gadis itu adalah cewek baik-baik. Dia terlihat sangat terdidik dari segi tutur kata dan prilaku." Mbak Meisya akhirnya bersuara setelah sebelumnya ikut khidmat menyimak ucapan papa.


"Bener, Mbak! Aku juga bisa liat itu. Anaknya asik, supel dan kayaknya penyayang soalnya anak-anak pada lengket smua tuh smalam." Tambahi Mbak Citra lagi bersama senyum terekah di bibir.


"Aku udah suka dari sejak pertama kenalan. Aku suka tatapan matanya yang sendu tapi tajam terkesan tegas. Kata Mbak Sarah smalam, anak itu punya pembawaan yang tenang meneduhkan tapi bisa berubah tegas untuk hal-hal yang tidak masuk akalnya. Mbak rasa kamu butuh pendamping seperti itu yang bisa ngimbangin sifat cuek masa bodoh kamu itu." Kak Tiara ikut menimpali. Sementara para pria hanya mengangguk membenarkan apa yang dituturkan istri-istri mereka.


Dalam hati Ia sedikit menertawakan ipar-iparnya itu yang begitu tunduk dan mengalah pada para wanita itu. Ia jadi takut sendiri jangan sampai nasibnya akan berujung senaas itu kelak jika Ia sudah berstatus suami.


"Apa emang setragis ini yah nasip semua laki-laki kalau udah beristri? cuma bisa pasrah dan tunduk pada aturan para istri. Kenapa dominasi para wanita dalam rumah tangga begitu kuat?" Batinnya bergumam penuh tanya. Wajahnya melampirkan mimik ngeri. Ia bergidik samar.


"Lo nggak usah ngeri gitu, ntar lo bakal rasain juga kalau udah di posisi kita saat ini, Lo nggak akan pernah menang lawan mereka!" Mas Yoga tergelak saat mengucap ini. Semuanya ikut tertawa mendengar gurauan suami Mbak Citra itu. Ia hanya tersenyum simpul dalam hal ini.


"Ya, udah, gue cabut dulu. Gue udah telat nih!" Pamitnya pada semua.


"Pah, Aku jalan skarang!" Ia berdiri hendak melangkah tapi tiba-tiba ada sebuah bisikan yang menyuruhnya untuk memamiti si step mother. Ia pun kembali berbalik dan berucap datar,


"Aku jalan, Tante!" Entahlah, Ia masih belum bisa memanggil wanita itu dengan sebutan Mami sebagaimana yang lain.


"Ia, sayang! Kamu yang hati-hati yah!" Seperti biasa wanita itu akan menyahutinya dengan lembut penuh kasih sayang. Sama sekali tak merasa tersinggung apalagi marah dengan sebutan "Tante" yang disematkannya. Membuatnya kembali tak habis pikir sedikit merasa bersalah. Entahlah, beberapa jam belakangan hatinya agak melankolis. Mudah peka dan agak tidak tegaan.


"Makasih!" Masih datar tapi setidaknya Ia menyahut.


"Hati-hati!" Semua serempak berucap kearahnya. Ia pun mengangkat tangannya sebagai jawaban.


Ia pun berjalan keluar setelah meraih kunci mobil dan ponselnya di atas meja. Meninggalkan wajah-wajah bahagia berhias senyum simpul di bibir yang menatap punggungnya yang kian menjauh dan akhirnya menghilang di sebalik pintu keluar.


Bip.. bip..


Ia menekan tombol kunci otomatic untuk membuka pintu mobilnya. Ia sudah hendak menjalankan mobilnya tapi tiba-tiba ekor matanya menangkap satu benda yang cukup menyita perhatiannya lewat pantulan di balik rear vision mirror. Sebuah kado berukuran agak besar tergeletak manis di jok belakang kemudi.


"Astaga, lupa. Itu kan kado papa yang udah Fathin siapin kemaren." Ucapnya pada diri sendiri.


Ia akhirnya turun lagi dan membuka pintu di belakang untuk mengambil kotak kado tersebut. Berjalan kembali ke dalam rumah. Semua masih asik bercengkerama di ruang keluarga.


"Pah, sorry ini di lupa smalem. Kado buat papa dari Aku sama Fathin." Ucapnya pelan sembari menyerahkan bungkusan yang agak besar pada papanya.


Ia bisa melihat betapa di wajah papa terpancar perasaan bahagia saat menerima pemberiannya tersebut. Bukan tanpa alasan, ini pertama kalinya setelah sekian lama papa menerima kado ulang tahun dari nya. Selama ini Ia memang begitu abai dan acuh dengan hal-hal seperti ini.


"Aku nggak tau, apa yang Papa suka. Semua itu ide juga pilihan Fathin. Semoga Papa suka!" Ucapnya lagi masih dengan gaya yang sama. Datar. Cuek!


"Makasih, bilang ke calon menantu papa!" Lagi-lagi wajah papa berbinar.


"Iya. Aku jalan!"


Ia kembali berjalan sedikit berlari keluar. Tak lama kemudian mobil kesayangannya itu bergerak pelan keluar dari garasi dan dalam sekejap menghilang, menyatu di keramaian padatnya kendaraan yang saling berkejaran hendak saling mendahului.


Ia mendadak teringat pesan Gery agar membawa perkakas ibadah, terutama pakaian shalat. Ia berpikir untuk mampir di gerai muslim tempat Ia belanja bersama Fathin sebelumnya. Sudut bibirnya tetiba tertarik. Sepertinya ada sesuatu berbentuk ide briliant yang terbersit di kepalanya.


Ia lalu mengirim pesan singkat ke nomor Fathin. Lagi-lagi tersenyum simpul membaca nama contact Fathin di ponselnya.


To: GadisQ


"Siap-siap. Aku jemput dalam 15 menit ke depan. Temani aku ke tempat yang kemaren! Aku nggak terima penolakan!"


"Ok, honey! I'm coming!" Pekiknya dengan wajah berseri. Buncah dengan gelenyar aneh yang kian sering menggelitik jantungnya akhir-akhir ini dengan debaran dan desiran tak menentu.


"Damn it!"


TBC>>>


#Nb>>


Alhamdulillah akhirnya bisa nulis lagi setelah rehat panjang yang sedikit menyita waktu.


Afwan jiddan /maaf yang sebesar-besarnya untuk para readers yang masih setia mengikuti kisah receh ini, sebab satu dan lain hal, z baru bisa melanjutkan bab yang sempat tertunda ini.


Semoga masih berkenan untuk melanjutkan membacanya yah man-teman!


Semoga kita semua selalu dalam lindungan yang Maha Kuasa.. Aamiinn.. 😇😇😇


Happy reading all... 😇😍😘😘

__ADS_1


__ADS_2