
* Yusuf
Sejak Fathin keluar dari walk in closet di beauty house milik Theo, Ia tak henti menatap wajah cantik memesona itu. Wajah yang dalam waktu yang terlalu singkat, telah berhasil mengalihkan dunianya. Merubah banyak hal dalam dirinya terutama pada interaksi pada lawan jenis, wanita.
Untung kesadarannya masih di level di atas abnormal meski tidak sepenuhnya normal. Jika tidak, mungkin saat ini Ia sudah menangkup wajah cantik itu, menatap nya intens tanpa jeda dan menelusuri tiap inci dari keindahan dihadapannya itu yang tidak berlebihan jika Ia sebut salah satu maha karya Sang Pencipta. Atau bahkan memberi sentuhan kecil di bibir menggairahkan yang kini tampak sedikit sensual akibat polesan lipstik pink-nude yang sempurna membalut bibir mungil itu. Damned!
Hingga di titik Ia tak bisa menahan diri, Ia akhirnya memberi pujian yang begitu jujur dan tulus dari hati terdalam pada gadis tersebut, saat keduanya tiba di rumah besar nan megah miliknya.
"Kamu cantik banget malam ini. Aku suka." Pujinya disertai tatapan mendamba.
Ia bisa merasakan kegundahan hati Fathin sedari tadi. Dalam hati Ia tertawa geli saat tanpa sadar tangan gadis itu mencengkeram kuat lengannya di menit dimana keduanya hendak masuk ke dalam. Mencoba menawarkan penolakan demi penolakan atas ajakannya segera masuk. Tapi Ia tetaplah Yusuf, si pemaksa seperti istilah yang disematkan gadis tersebut untuknya.
"Everything will be Ok!"
Ia berusaha menenangkan Gadisnya dengan kata-kata manis plus suara yang dibuat lembut sedemikian rupa untuk sekedar memberi rasa nyaman dan tenang.
Sedikit terasa aneh baginya sebab, lagi-lagi itu bukan dirinya. Selama ini Ia hanya biasa berbicara dengan sedikit lembut jika berhadapan dengan para keponakannya. Tapi dengan wanita, tanda kutip special, never!
Ia berjalan dengan penuh percaya diri. Menautkan jari dengan jemari lentik dan halus milik Fathin. Sesekali menyahuti setiap sapaan satu persatu kerabat dan keluarga yang di lewatinya. Hampir semua yang hadir adalah keluarga dan kerabat dari papa, mama juga si step mother.
Undangan memang hanya diperuntukkan untuk keluarga dan yang masih terhitung kerabat dekat. Entahlah, sejak ketiadaan mama, papa tak pernah lagi merayakan acara ultahnya dengan party besar-besaran. Duka yang mendalam atas kehilangan mama yang tak pernah sepenuhnya hilang meski telah ada wanita lain di sisinya, menjadi kemungkinan alasan di balik ini.
Ia tahu kegugupan yang melanda gadis yang kini bersamanya. Sebab kini tangannya ikut basah oleh keringat yang berasal dari tangan dingin Fathin.
Untuk kesekian kalinya Ia menenangkannya, bahwa semua akan baik-baik saja. Tidak ada hal yang perlu dikhawatirkan, tentu saja bersama senyum simpul menawan yang Ia harap bisa memberi ketenangan di hati gadisnya.
Berangkat dari keyakinan akan petuah andalan Citra kakaknya, bahwa mata adalah jendela hati. Memberi senyum terindah bisa saja memberi keteduhan di hati orang yang memandangnya. Ok, why not?.
Dari jauh Ia sudah bisa membaca ekspresi keterkejutan Papa, kakak-kakak perempuannya juga para pria tampan yang telah menjadi bagian dari keluarganya, ipar-iparnya.
Tak ketinggalan bocah-bocah menggemaskan yang sedang saling kejar-kejaran bahkan tiba-tiba berhenti dan seketika membuat barisan rapi berjejer seakan ada komando khusus yang memberi instruksi agar masing-masing mengambil tempat.
Di beberapa set sofa yang yang tersebar di keempat sisi ruang tengah yang luasnya hampir menyamai luas aula hotel, juga ada keluarga para paman dan bibi, saudara dari papa juga mama beserta keluarga masing-masing. Tidak sedikit juga dari keluarga si step mother ikut hadir. Semuanya ikut melempar tatapan yang sama.
Hanya beberapa anak remaja yang menjadi keponakannya yang nampak cuek, malah sibuk berkutat dengan ponsel. As usual.
Juga Farah yang sedari tadi tersenyum lebar menatap ke arah mereka berdua.
Seketika gadis itu berusaha melepas tautan jarinya dengan sedikit gerakan menyentak, saat keduanya benar-benar telah berada di hadapan kumpulan keluarga besarnya. Kali ini Ia membiarkannya.
"Pah, Kak, Bang, kenalin, ini Fathin,__" Ia menjeda ucapannya. Tanpa permisi merengkuh bahu Fathin lalu melanjutkan,
"Calon istri aku." Tanpa basa basi Ia mengenalkan Fathin sebagai calon isteri. Seketika semua wajah di hadapannya kini melampirkan berbagai macam ekspresi. Tidak terkecuali Fathin yang ikut menatapnya sedikit tajam.
"Fathin, ini keluarga aku. Papah, Kakak-kakak aku yang cantik-cantik and para abang dan adik terganteng, si saingan berat, lalu para bocah-bocah keponakan aku." Imbuhnya sembari menunjuk satu per satu orang yang Ia maksud tanpa memperdulikan kesemua wajah penuh tanda tanya itu.
Fathin nampak memberi anggukan kepada semua yang ada di tempat itu. Gadis tersebut ternyata memiliki pengendalian diri yang cukup baik, meski sedang dalam keadaan tertekan seperti ini. Luar biasa!
Pertama-tama gadis itu bergerak maju ke arah papa yang sedari tadi menatapnya sedikit tajam dan kening berkerut. Jelas sekali jika saat ini papa mengharapkan penjelasan darinya.
"Assalaamu'alaikum, Om." Bersama senyum mengembang, Fathin menyalami dengan penuh penghormatan dan penghargaan pada papa yang seketika mengalihkan perhatian dari wajahnya pada gadis bermanik sendu itu.
"Wa'alaikumsalam, Nak__?" papa menjeda sapaannya.
"Fathin, Om" sahut Fathin menyebutkan namanya sebab Papa seperti kesusahan mengingat nama gadis itu. Masih dengan senyum manis yang tak henti tersungging yang acap kali mendebarkan jantungnya tiba-tiba, bersama desiran indah di hati.
"Ehmm, hay, Aku Citra, kakak ketiga." Seperti biasa, dintara kesemua kakaknya, Citra memang yang paling humble. Cepat bisa akrab dengan siapapun meski baru bertemu.
"Fathin, Kak." Satu persatu mulai menyalami gadis tersebut kecuali perempuan di samping papa yang berpenampilan rapi dan elegan. siapa lagi kalau bukan si step mother.
Perempuan baru di sisi papa yang hingga detik ini belum sepenuhnya Ia sukai. Baginya Istri papa hanya mama seorang. Wanita hebat luar biasa yang sukses membersamai papa berjuang dari nol hingga papa sesukses hari ini.
"Kamu nggak niat ngenalin mami sama calon menantu mami, Suf? " wanita paruh baya itu berucap kearahnya sembari tersenyum simpul. Ia mengangkat bahu yang bermakna terserah jika mau.
Lagi-lagi wanita itu tersenyum. Meski sikapnya selalu kurang respect begitu berhadapan dengannya, tapi wanita yang menyebut namanya mami itu tak pernah sekalipun menampakkan mimik tersinggung apalagi marah padanya. What the hell!.
"Hallo, cantik, saya ibu nya Yusuf. Panggil ajha mami." Wanita itu mengulurkan tangan, menyalami Fathin yang masih nampak keki dan malu-malu.
"Fathin, tante, eh ma_mami." jawab Fathin sembari memberi perlakuan hormat sebagaimana yang dilakukan pada papa.
Para anak-anak terlihat berbinar. Satu sama lain saling dorong dan berbisik riuh siapa yang akan duluan menyalami Fathin.
"Kamu!"
"Ih, Kamu aja. "
"Sini biar aku aja! " tiba-tiba Kiki, anak kak Citra, si bungsu dari semua, maju dan menarik tangan Fathin mendekati kumpulan bocah itu.
"Kakak, biar aku ajha yang kenalin semua nya ke kakak. Semuanya pada malu-malu meong. hihihi.. " Kiki cekikikan sembari menutup mulutnya dengan kedua tangannya.
Gadis itu ikut tersenyum kikuk kearah semua. Ia memberi anggukan kecil sebagai isyarat perintah agar gadis tersebut ikut aja apa maunya para bocah itu.
"Tuh yang paling gendut namanya Kak Nino. Aku suka sebel sama dia. Soalnya suka abisin susu sama cereal aku kalau lagi wiken di sini. "
Kiki bersedekap di dada dan mencebik dengan pura-pura membuang muka ke samping, membuat Fathin sedikit tergelak dengan tingkah ponakan cerewetnya itu.
Kiki benar-benar mirip kak Citra, supel dan selalu bisa akrab dengan siapapun dalam sekejap. Definisi sesungguhnya dari Like mother like daughter.
"Jadi ini yang dibilang anak gue, kado buat papa?, Suf?" Tio kakak tertuanya tiba-tiba sudah berada di sampingnya, bersuara berniat menggodanya.
"Dapat dimana lo tuh bocah? cantik sih, tapi masih di bawah level istri gue lah." Ia menyeringai sembari mengurai rambut gondrongnya dengan jarinya.
"Umur boleh tua tapi mata harus tetap awas. Apalagi soal ginian, gue masih melek. " Ia tergelak. Kakaknya yang satu ini memang master untuk urusan yang satu ini. Seorang womanizer sejati di masanya. Entah mantra apa yang di gunakan Mbak Sarah hingga bisa membuat kakaknya itu berubah sebegitu tunduknya pada wanita cantik bersahaja yang kini menjadi istri bang Tio itu.
"Hahaha, You're the expert (kamu memang ahlinya) !" Ia tergelak sembari meninju pelan lengan kakaknya itu.
"Masih ada stock nggak? one for me ( satu untukku) ! "
__ADS_1
"Gaya lo, baru liat mata Mbak melek dikit aja, udah kayak kucing kecebur got lo! "
"Nantangin gue lo? "
"Mbak __ !"
"Sialan, pengen liat gue jadi duda muda lo? "
"Es_De_Ka_I, belagu! "
"Apaan? "
"Suami di bawah ketek Istri. "
"Sialan lo!
Ia tergelak.
***
* Fathin
Ia berjalan mengikuti langkah Yusuf. Terlalu focus dengan kegugupannya hingga Ia lupa sekedar membaca bismillah dan mengucap salam. Meski terlambat Ia tetap bersalam lirih dan melafal bacaan basmalah jika terlupa di awal,
"Bismillaah awwalahu wa aakhirahu"
Ia masih berharap yang dialaminya kali ini hanyalah mimpi, yang sebentar lagi akan berakhir saat kesadarannya kembali. Tapi ucapan Yusuf yang memperkenalkan dirinya sebagai calon istri di depan wajah-wajah penuh tanda tanya itu, seketika bak cubitan keras di pipi yang sekejap menyadarkannya jika ini semua bukan mimpi tapi nyata.
Ia mencoba protes dengan memberi tatapan sedikit tajam ke arah pria itu, tapi seakan menganggap ini sebuah lelucon, si pemaksa itu malah melampirkan senyum yang sejujurnya begitu manis memesona tapi sebab momentnya sedang tidak tepat, maka Ia menyebutnya smirk menyebalkan seperti yang kerap di lampirkan Akram.
"Astaga ternyata pria ini tidak main-main dengan ucapannya. Aku harus gimana ya Allah? " Geramnya dalam hati.
Otaknya berputar cepat. Hingga kelebat wajah teduh bapak dan Ibu melintas di kepalanya. Bapak yang selalu tegas dalam didikannya dan Ibu yang selalu lembut dalam nasehatnya. Bapak dan Ibu yang tak pernah lalai dari menghujaninya dengan seabrek wejangan berharga.
"Kamu harus selalu cantik dimanapun dan dalam keadaan apapun, Nak! "
"Maksudnya setiap saat Fathin harus dandan terus biar selalu cantik, Bu? "
"Kecantikan wanita itu bukan pada fisik, Nak. Tapi pada kebaikannya. Sebab cantik itu hanya setipis kulit, tapi kebaikan, ketulusan, kejujuran, kelembutan juga penghargaanmu pada orang lain itu akan menyelam jauh ke dasar hati orang yang mengenalmu. "
Yah, Ia harus bersikap baik, sopan dan bersahaja. Bukan untuk dipuja dan di puji. Bukan juga hendak mencari perhatian. Tapi, lebih kepada agar tak ada yang meragukan betapa baiknya bapak dan ibu mendidiknya selama ini.
Hatinya sekejap diliputi ketenangan. Kegugupannya sirna tersapu, berganti keyakinan yang kuat bahwa niat baik selalu beriring dengan kebaikan.
Dengan langkah pasti Ia berjalan mendekati laki-laki paruh baya yang nampak berwibawa, dan mengucap salam. Ia mengulurkan tangan hendak menyalami tangan laki-laki itu lalu menciumnya penuh takzim.
"Assalaamu'alaikum, Om. " Sapanya sopan lalu tersenyum manis.
"Wa'alaikumsalaam, Nak__" Sepertinya dikarenakan syok dengan ucapan absurd bang Yusuf, pria paruh baya itu sampai lupa dengan namanya.
"Fhatin, Om. " Sahutnya masih dengan senyum manisnya.
Ia baru hendak menyapa saat tiba-tiba salah satu dari wanita cantik itu berdehem, lalu berjalan mendekatinya dan menyapanya lebih dulu.
"Ehmm, Hai, aku Citra, kakak ketiga, dan ini mas Yoga, my husband. " Ucap wanita itu sembari memegang lengan seorang pria tampan di sisinya. Ia pun menyalami keduanya.
Saat tangannya menjabat tangan lembut nan halus milik Citra, tiba-tiba Ia teringat akan model salam pertemuan dan perpisahan ala kak Dian dan kawan-kawan rohisnya, cipika-cipiki.
Ahaay! Seketika terlintas ide mempraktekkannya. Ia pun refleks bercipika-cipiki yang ternyata disambut hangat oleh wanita tersebut.
Ia pun menyalami satu persatu orang yang ada di tempat tersebut.
"Tiana, Kakak ke dua. Trus ini Mas Risyad, papahnya anak-anak. " Lagi-lagi tangannya terulur menyalami kedua pasangan dengan tampilan match warna nude yang elegan.
"Cantik. " pujinya dalam hati.
"Tiara, Kakak ke empat dan Ini pangeran aku, Mas Pras." ucap seorang perempuan cantik berlesung pipi.
"Manis banget! " Pujinya lagi.
"Aku Meisya, Kakak kelima. ini Mas Pandu. Oh, ya, selamat datang yah di keluarga kami. Semoga kamu nyaman. " kali ini Ia sedikit tergagap, bingung mau jawab apa.
Jika Iya, berarti Ia setuju dengan aksi konyol si pemaksa itu. Tapi untuk menjawab tidak juga Ia tidak cukup berani sebab itu artinya Ia siap dengan segala ancaman pria itu. Jadilah Ia hanya menanggapinya dengan senyum kecut, fake smile.
"Hai, panggil Kak Amirah, aku kakak ke enam. papanya Arky kebetulan lagi di malaysia, ambil masternya. Ehhmm, btw kalau beneran serius ama si keras kepala ini, kamu harus siap mental yang super duper tahan banting. Soalnya dia ini paling bebal diantara kita semua. Rese, keras kepala trus cueknya minta ampun. Biasanya nih ya, pria seperti itu kaku kayak kanebo kering. Nggak romantis, payah! "
Kali ini Ia tersenyum simpul. Ternyata bukan hanya dirinya yang menyebut si pemaksa itu kanebo kering.
"Satu lagi, Kamu harus siap reproduksi loh, soalnya di antara kita semua kayaknya Yusuf nih yang bakal warisin rekor gen pencetak bibit unggul tersubur." Semua tergelak kecuali dirinya tentunya.
Netranya kini beralih pada dua wajah mirip. Plek ketiplek sampai-sampai Ia tidak bisa membedakan di antara keduanya. Ia menebak kedua remaja cantik berkulit seputih susu itu adalah saudara kembar.
Ia masih sibuk dengan tebak-tebakannya saat tiba-tiba seorang pemuda yang tidak kalah tampan dengan Yusuf berseru ke arahnya,
"Yang itu si kembar nyebelin. "
"Iiihh, apaan sih, Kak. Kita bisa kenalan sendiri tauk. " Salah satu dari mereka mencebik lucu tak terima. Ia sedikit berbinar.
"Iya nih. Lagian kita tuh nggak nyebelin tapi ngangenin, hehehe. " Sahut gadis satunya lagi cengengesan. Pemuda itu mencibir. Ia sampai ikut terkekeh kecil menyaksikan tingkah ketiganya.
"Ngangenin dari hongkong? " Pemuda itu tidak mau kalah.
"Buktinya, Kakak suka keppo kalau sejam aja nggak tau kita lagi di mana. Setiap saat kita wajib laporan, ngapain aja, ama siapa trus jalan ke mana. Itu artinya kita ngangenin, kakak suka kangen ama kita. Kan..kan.. kan..?"
"Enak ajha. Itu tuh karna __"
"Fero, __" laki-laki yang di sebut papa itu tiba-tiba bersuara menyela ocehan pemuda tersebut.
__ADS_1
"Iyah pah. Kak kenalin gue__"
"Fero,__"
"Sorry pah, lupa. Hehehe. "lagi-lagi ucapanya di sela, membuat pemuda tersebut seketika cengengesan ke arah papanya.
"Ulang, ulang. Kenalin, Kak, nama Gu_ eh maksudnya nama aku Fero. Adek tertampan Bang Yusuf. " Ucapnya sembari menggosok-gosok kedua telapak tangannya sebelum akhirnya menyalaminya dengan gaya yang di buat lucu. Ia pun tersenyum untuk kesekian kalinya.
"Okey, giliran gue. Aku Tio, kakak pertama dan ini istri tercantik dan terbaik gue." Seorang pria dewasa lainnya yang sedari tadi berdiri di samping bang yusuf juga ikut menangkup tangannya sebagai isyarat bersalaman. Sedikit membungkuk saat Ia membalas isyarat tersebut. Dalam hati Ia memuji kesopanan pria itu.
"Assalamu'alaikum, Dek Fathin, panggil Mbak Sarah aja." Seorang wanita dengan balutan hijab rapi, keibuan dan bersahaja melangkah pelan ke arahnya. Menjabat tangannya lembut dan memeluknya disertai cipika-cipiki. Persis seperti cara kak Dian menyalaminya.
"Kayaknya mbak yang ini satu server ama kak Dian deh. " Tebaknya dalam hati.
"Kamu nggak niat ngenalin calon istri kamu ke mami, Suf? " Wanita paruh baya yang nampak berpenampilan rapi dan elegan di sisi pak surya tiba-tiba bersuara.
Melihat tanggapan si pemaksa yang hanya mengendik acuh, Ia bisa tebak jika perempuan ini adalah istri papanya yang biasa di sebut si step mother oleh yusuf.
"Hallo, cantik. Saya ibunya yusuf. Panggil aja mami. " Sapa wanita itu ramah padanya.
"Fathin, tante, eh ma_mami." sahutnya kembali menyalami tangan wanita tersebut sebagaimana Ia menyalami pa'surya.
"Kamu aja yang duluan"
"Kamu. "
"Ihh, Kamu aja. "
"Kak Farah ajha duluan. "
"Ihh, aku kan sudah tadi, waktu sama uncle. "
Beberapa suara bisik-bisik terdengar saling sahut menyahut di belakangnya. Ia membalikkan badannya dan mendapati anak-anak yang berlari-larian sedari tadi, kini telah berbaris rapi menatapnya.
Ia seketika melampirkan ekspresi gemas melihat wajah-wajah menggemaskan khas anak-anak itu saling dorong ke arahnya.
"Sini biar aku aja! " Tiba-tiba salah satu dari mereka yang paling bungsu dari semua, maju dan menarik tangannya mendekati kumpulan bocah itu.
"Kakak, biar aku ajha yang kenalin semua nya ke kakak. Semuanya pada malu-malu meong. hihihi.. " gadis kecil itu cekikikan sembari menutup mulutnya dengan kedua tangannya.
Ia ikut tersenyum kikuk kearah semua. Bang Yusuf memberi anggukan kecil sebagai isyarat perintah agar Ia ikut aja apa maunya para bocah itu.
"Tuh yang paling gendut namanya kak Nino. Aku suka sebel sama dia. Soalnya suka abisin susu sama cereal aku kalau lagi wiken di sini. "
Bocah berponi itu bersedekap di dada dan mencebik dengan pura-pura membuang muka ke samping, membuat Ia dan semua yang ada di situ tergelak.
"O iya, Kakak cantik blom tau nama aku kan? Aku Kiki Ameliya Prayoga. Kata mama, kalau sebutin nama harus lengkap biar bu gurunya senneng." Ia mengusap lembut kepala bocah itu, mengangguk dan tersenyum.
"Yang giginya ompong namanya kak Sisil." Lagi-lagi gadis kecil itu cekikikan sebab tiba-tiba wajah sepupunya itu berubah raut, mencebik tak terima.
"Trus yang itu Kak Noah, Kak Lula, Kak Rian, Kak Rafa, Kak Syila, Kak Syifa" lanjut Kiki dengan menunjuk satu persatu bocah-bocah yang di sebutkannya.
"Salam kenal yang adik-adik semua dari kak Fathin. " Ucapnya sembari tersenyum manis ke arah kumpulan anak-anak lucu itu.
"Di cium dong tangan auntynya. " Mbak Farah memberi instruksi.
"Kok Aunty sih, Bund, bukannya kakak?, kakak cantiknya kan masih muda. " protes anak perempuan yang bernama Syifa. Dalam hati Ia ber oo panjang sebab kini Ia tahu kalau Syifa itu anaknya Mbak Sarah sama mas Tio.
Kali ini Ia harus benar-benar menggunakan skill menghafal secepat kilat dan di luar kepala, sebab jika tidak Ia bisa keliru membedakan masing-masing anggota keluarga itu.
"Iya donk, manggilnya harus Aunty, kan kita semua manggil Uncle ke Uncle ganteng. Kan kata bunda pasangan nya Uncle itu namanya Aunty. " Sahut Farah, gadis kecil cantik yang sedari tadi senyum-senyum simpul ke arahnya.
"Pasangan itu apa sih, kok kayak mainan bongkar pasang?" si cerewet Kiki bertanya polos.
"Pasangan itu maksudnya kayak Ayah sama Bunda. Atau Eyang sama eyang mami. " Jawab Farah sama polosnya. Membuat semua kembali tertawa menyaksikan tanya jawab dari anak-anak itu.
"Kalau gitu, Uncle sama Aunty mau nikah dong?" Netra anak itu seketika berbinar.
"Horeee... Uncle mau nikah.. uncle nikah.. " Bak di komando, semua anak-anak itu sontak memekik riuh dengan satu irama yang sama,
"Uncle mo nikah! "
Ia menyapukan pandangannya pada semua nya. Ia sedikit meringis tak enak hati, sebab bukannya melarang, para orang tua itu malah tersenyum lebar sembari menggelengkan kepala menyaksikan tingkah anak-anak mereka.
"Ampun dah! "
Belum habis rasa terpananya, Ia kian dibuat terhenyak saat serentak kumpulan orang yang sedari tadi duduk di semua sofa yang memenuhi ruangan ber nuansa nude krem itu, menyerbu ke tempat dimana Ia berada.
"Apaan, apaan? "
"Siapa yang mau nikah, siapa? "
"Waaooo, calon dokter kita udah mo nikah? "
"Si preman kampus itu udah insyaf? "
"Yang mana calon mantu kita, Surya? "
"Ampuunn ..dapat di mana, Suf barang bening begini? "
Ia yang sebelumnya masih bisa tersenyum selebar duchenne smile, kini hanya bisa meringis kaku, menatap ke arah si pemaksa yang sedang mengendik disertai alis yang naik turun.
"The Really big family. Baru keluarga inti aja, udah pegel aja nih tangan. Bagaimana meladeni puluhan keluarga lainnya yang ini? " gumamnya membatin.
Mendapati ini semua, sekejap Ia menginsyafi satu hal.
"Jangan terlalu merisaukan perkara yang belum terjadi, sebab bukan hanya harapan yang kadangkala tidak sesuai ekspectasi. Seringkali realita juga tidak seburuk prasangka kita. "
__ADS_1
So, keep calm down! 😃😃😃
TBC>>>