
* Fathin
Bunyi suara adzan isya berkumandang tak jauh dari rumah kost bernuansa hijau yang Ia tempati bersama Mitha sahabatnya.
Rumah kost khusus cewek tersebut merupakan bangunan panjang berlantai dua dengan masing-masing lantainya terdiri dari satu buah ruangan lebar di bagian depan sebagai ruang tamu dan deretan kamar-kamar persegi yang saling berhadapan, dengan ukuran masing-masing 4x5m. Di tiap kamar terdapat toilet yang menyatukan wc dan kamar mandi, juga mini kitchen yang terletak di bagian sisi ujung dalam.
Walaupun terbilang kecil, tapi suhu di dalam cukup adem sebab terdapat dua fentilasi yang cukup lebar di bagian mini kitchen dan toilet yang yang membuat sirkulasi udara di dalam cukup bagus. Ditambah lagi sebuah jendela panjang tepat di samping pintu keluar yang praktis membawa lebih banyak angin ke dalam.
Bagian depan bagunan rumah kost begitu rapi tertata dengan sebuah taman mungil di samping sebelah kiri dan disebelah kanan terdapat garasi terbuka yang memanjang tempat anak-anak kost menyimpan motor atau parkiran untuk tamu.
Di bagian atas pintu gerbang masuk terpampang tulisan besar berwarna hijau yang match dengan warna pagar betonnya yang kuning lembut.
"PONDOK SRIKANDI khusus CEWEK/AKHWAT".
Sedangkan di pintu masuk rumah kost terlampir dengan jelas sebuah pamflet berisi S&K ( Syarat dan Ketentuan ) berlaku.
#Hanya terbuka untuk cewek dan muslim.
#Tamu laki-laki hanya boleh masuk sampai di
ruang tamu kecuali keluarga.
#Batas waktu bertamu pkl 22.00.
#Pintu gerbang di tutup pkl 00.00.
#Menjaga kebersihan kamar masing-masing dan bekerja sama menjaga kebersihan koridor, ruang tamu dan halaman kost.
#Wajib shalat shubuh di masjid dekat kostan dan
mengikuti ta'lim pagi bersama.
#Istiqamah menjaga shalat lima waktu.
"Hmmm., pantas aja sewa kostnya murah. Nggak sebanding ama kenyamanan yang diberikan. Ternyata nih, syaratnya yang berat. Apalagi bagi cewek-cewek yg pengen bebas, nggak mau terikat aturan!" Celetuk Mitha pada kali pertama mereka masuk di rumah kost itu.
"Tapi btw, katanya khusus buat cewek. Tapi kok di kamar depan isinya cowok? Mana gantengnya kebangetan lagi. Blum lagi aura sholehnya nguar banget kalau pas lagi pake baju gamis. Heideeh, bikin kembang-kempis dada tau nggak sih?" Tambah Mitha dengan gaya centilnya.
"Hahahaha! Kamu tuh yah, kalau urusan cowok ganteng nggak pernah luput emang dari liputan kamu. Kata anak-anak yang lain sih, itu ponakan bapak kost yang diinstruksikan buat ngejaga kita semua disini. Beliau itu kuliah di UNHALU. Anak Pertanian semester akhir, jago silat lho! Trus baik, ramah, cerdas. Pokonya bibit, bebet, bobotnya unggul, Guyyss!" Ia mencoba menambah level ketakjuban Mitha menjadi tingkat dewa.
"Astaga, Fhat! Kamu, kok tau banyak soal ini? Hemm, Kamu diam-diam stalking_in si Abang, yah?" Goda Mitha padanya sembari cengengasan tak jelasnya.
"Ihhh, jangan fitnah! Aku cuma denger-denger juga dari anak-anak. Udah ah, ayo masuk!" Alihkan Ia perhatian Mitha sembari manarik tangannya masuk ke dalam kamar kost mereka pada kali kesekian mereka berpapasan dengan Bang Arsyil di pintu utama.
Kamar mereka berada tepat di deretan pertama setelah ruang tamu. Berhadapn dengan kamar Bang Arsyil di samping tangga. Keponakan sekaligus selaku tangan kanan bapak kost. Satu-satunya laki-laki yang tinggal di pondok tersebut.
Kamar dengan nuansa hijau kulit jeruk, dengan design yang cukup membuat nyaman siapapun yang berada di dalam.
Ia yang memiliki hoby dan skill mumpuni dalam menyulap limbah plastik menjadi berbagai macam craft yang unik dan Mitha yang begitu apik dalam segala hal plus jago di bidang Tata Ruang, fix menjadi sinergi komplit yang menjadikan kamar mereka sangat decorativ.
Di bagian sudut depan springbed terdapat sebuah rak sudut yang berisi beberapa boneka ukuran kecil dan sedang, foto-foto mereka berdua yang tlah dibingkai dengan gulungan bekas kertas undangan multi warna yang digulung membentuk pipet dan direkatkan di keempat sisinya, juga beberapa buah buku plus container untuk alat tulis dari botol bekas yang dibungkusi kain flanel membentuk gambar smile.
Ada beberapa foto keduanya yang berukuran 10R terpampang di dinding, juga pigura-pigura bertuliskan beberapa kalimat wise word penyemangat. Salah satunya,
"Jangan pernah tinggalkan shalat jika Ingin ada campur tangan Allah dalam setiap urusanmu!"
Sedangkan di sisi depan tempat tidur terdapat sebuah lukisan yang terbuat dari potongan-potongan kardus berwarna yang ditempel di dinding membentuk pohon beringin raksasa.
hampir tiap sudut ada saja pernak-pernik hasil daur ulang dari limbah.
Semarak kamar tersebut kian unik dengan penampakan serba hijau di hampir setiap barang yang ada. Mulai dari seprei, taplak, gorden, hingga perabot dapur.
Ahh, semua ini tak lepas dari andil besar dua sahabatnya, Azhar dan Akram. Keduanya bahkan rela menghabiskan gaji mereka selama sebulan demi membeli perabot plus pernak pernik yang Ia dan Mitha butuhkan.
Bahkan selama tiga bulan kedepan mereke berdua tidak perlu pusing memikirkan pembayaran kost sebab kedua sahabat nya itu telah menyelesaikannya, lunas.
Mengingat mereka tiba-tiba Ia menoleh kearah Mitha yang hendak beranjak ke kamar mandi untuk berwudhu dan berseru,
"Aku hanya sering mendengar dongeng tentang persahabatan sejati. Tapi bersahabat dengan Azhar dan Akram juga kamu, membuat Aku benner-benner yakin dan percaya kalau kisah itu bukan sekedar dongeng tapi nyata ada!"
"Lihatlah kamar ini, Mhit, mereka bener-bener ngorbanin banyak hal untuk ini. Demi agar kita nyaman di sini!" Lirihnya sembari mengitarkan pandangannya di seantero kamar. Maniknya mulai dipenuhi bulir bening yang siap meluncur dari peraduan.
"Iya, Fhat! Aku juga sama mikirnya kayak kamu. Kita berdua tuh beruntung banget bisa kenal dan bersahabat ama mereka berdua. Mereka emang bener-bener orang baik dan tulus. Terlalu baik malah!"
"Mereka nggak pernah sedikitpun ngebiarin kita terluka atau susah!"
"Untung kemaren waktu mau masuk sini mereka udah laporan duluan kalau kita berempat spupuan, kalau nggak, bisa -bisa mereka cuma bisa nyampe ruang tamu kalau kesini. Nggak asyik banget, kan?" Celetuk Mitha lagi.
"Ahahahahhha! Iya bener bener!" Keduanyapun terbahak bersama.
"Eh, ya udah buruan shalat sono. Trus dandan yang super cantik. Bentar lagi pangeran kamu dateng. Tuh air matanya dihapus dulu!" Mitha mulai menggodanya sembari melanjutkan rencana awalnya yang hendak ke kamar mandi untuk berwudhu.
Ia pun segera menunaikan shalat isya. Sejurus kemudian Ia sudah mengganti pakaiannya. Setelan celana casual dan kaos warna putih. Sedikit memolesi wajahnya dengan pelembab dan baby powder. Memberi sedikit sentuhan lipgloss warna pink bibir dibibir mungilnya. Simple, natural. Ok, cukup!
Ia masih sibuk menata hijabnya ketika pintu diketuk disertai suara duo soulmate mereka yang bersalam dan memanggil namanya dan Mitha bergantian.
"Biar Aku yang buka, Fhat! Kamu lanjutin aja siap-siapnya!" Mitha beranjak dari sajadahnya selepas shalat isya menuju pintu dan membukanya.
"Loh, udah cantik aja, Fhat, mau kemana?" Akram yang duluan masuk tidak sabar menanyainya.
"Iya nih, mau kemana? sendirian? nggak barengan ma kita-kita? ma siapa?" Azhar meliriknya sedikit tajam sembari memberi pertanyaan beruntun.
"Aduuhh, satu satu dong nanyanya. Bingung kan mau jawabnya darimana dulu, hehehe!" Ia mencoba mencairkan tatapan beku Azhar sedari masuk.
Ia melirik sekilas kearah Mitha yang langsung difahami olehnya .
__ADS_1
Tap..tap..tap..
Mitha bertepuk tangan mengalihkan atensi kedua sahabatnya itu.
"Gini, Guys, malam ini Fathin hendak dijemput pangeran untuk menghadiri pesta dansa in the Castle!" Dengan gaya dibuat-buat Mitha pun sukses membuat keduanya melongo menatap serius ke arahnya.
"Maksudnya? Siapa? kok bisa kita nggak tau?" Azhar mulai lagi dengan soalan tanpa komanya.
"Ya iya lah, kan diajaknya juga baru tadi siang, Guyss, jadi mana sempet laporan ke amang-amang juragan kita ini!" Mitha lagi-lagi mencoba mengurai tatapan Azhar yang belum berubah mode.
Ia yang menyadari atmosfer dalam ruangan tersebut kian berubah mendadak grogi tak berani memandang ke arah Azhar dan Akram. Hingga ketukan dari luar membuyarkan semuanya.
Tok..tok..tok..
"Fathin, ada yang nyariin, tuh di depan!" Teriak Faza penghuni kamar sebelah kanan.
"Iya, Mbak! Nih udah mau keluar. Makasih, mbak!" Mitha yang menyahuti.
"Ehemm, jadi gimana, Zhar, Ram, Aku boleh kan keluar sebentar? Nggak lama, kok! Boleh yah, please..!!" Pintanya sedikit memelas.
"Ama siapa sih sebenarnya?" Azhar menyahutinya sembari melihat sekilas penampilannya.
"Uhmm, sama Bang Fahry!"
*Ppfffttt..
"Sesuai dugaan*!" Akram menahan tawa sembari menghempaskan tubuhnya di atas tempat tidur.
"Ya udah, jalan sana! Noh Si Abang udah nungguin!" imbuh Mitha kemudian.
"Pake jaketnya! Diluar dingin!" Azhar akhirnya berucap datar.
Tanpa sadar Ia berjingkrak senang,
"Thanks, yah udah ngizinin!"
Bagaimanapun mereka sudah seperti keluarga. Ia tidak ingin melakukan apapun tanpa persetujuan ketiganya. Dan Ia sangat memaklumi sikap ketiga sahabatnya tersebut terutama Azhar yang memang punya jiwa mengayomi.
"Ya udah, aku jalan, yah, bye!" Wajahnya sumringah sambil melangkah keluar.
"Bye! take care!" jawab ketiganya serempak.
__ ___ __
* Fahry
Ia tiba di kostan Fathin sesuai janjinya, setelah shalat Isya. Saat sedang memarkir motor tetiba Ia melihat dua motor besar yang biasa dipakai oleh dua sahabat Fathin ikut terparkir di sana.
Sekelebat rasa was-was menjalari hatinya.
Ia pun melangkah kearah pintu masuk dan mendapati seorang gadis sebayanya yang Ia yakini adalah salah satu penghuni di kostan itu juga.
"Assalaamu'alaikum!"
"Wa'alaikumsalaam!"
"Cari siapa ya?"
"Saya mau ketemu Fathin. Fathinnya ada?"
"Oh itu, ada, kok! Tunggu, saya panggil dulu!"
"Iya, makasih!"
Gadis itu pun beranjak masuk ke dalam dan tidak lama berselang kembali dan berucap ramah,
"Fathinnya udah siap, kok! Bentar lagi kelua. Silahkan tunggu dulu, z tinggal ke dalam yah!"
"Oh, iya, makasih!"
Ia Akhirnya memilih duduk di ruang tamu menunggu Fathin sembari membuka sebuah pesan masuk di ponselnya.
Ia masih sibuk mengetik balasan sms di handphone miliknya ketika tetiba ekor matanya menangkap bayangan Fathin yang berjalan kearahnya. Ia pun seketika menoleh dan mendapati Fathin yang sedang berdiri di sana bak seorang model yang sedang memperagakan busananya.
satu tangannya memegang tali tas slempangnya, dan satu tangan yang lain merogoh saku jaketnya. Tak luput senyum semanis madu yang membunuh tersungging di bibir pink mungilnya.
Sejenak pandangan keduanya bertemu dan,
Deghhh...
Lagi-lagi senyum membunuh itu membuatnya tak berdaya untuk mengalihkan pandangan takjubnya. Desiran aneh yang telah lama tak dirasakannya sejak kepergian Sherin kini kian sering Ia rasakan kembali bila beradu tatap dengan mata sayu milik Fathin.
"K_kok, malah bengong? Ada yang salah ya dari penampilan aku?" Fathin berucap dan kembali menilik penampilannya dengan sedikit keki.
"Oh, ng_nggak, kok! Aku cuma pangling aja liat kamu. Malam ini kamu cantik banget!" Ucapnya jujur.
"Gombal! Hehehe!"
"Serius!"
"Jalan, ayo! Keburu malem nanti. Tuh, ada S&K berlaku!" Tunjuk Fathin dengan dagunya ke arah pamflet di pintu masuk.
"Ayo!" Ia terkekeh kecil ikut melihat kearah pamflet tersebut.
Keduanyapun berjalan keluar menuju motornya di parkiran.
__ADS_1
Ia membantu Fathin memasang helm. Tanpa sengaja tangannya menyentuh pipi mulus selembut kulit bayi milik Fathin. Sontak membuat degupan dadanya kian bertalu-talu.
"So sorry! Aku nggak sengaja!"
"I_iya, Bang. Sa_saya ngerti. Maaf!"
Adegan berikutnya Fathin terlihat kesusahan naik di motor besarnya dan praktis Ia pun memberinya arahan dengan menunjuk bahunya. Fathin sepertinya sudah tahu caranya hanya sedikit canggung untuk berpegang di bahunya.
Mereka tiba sesaat sebelum film dimulai. Ia berjalan ke arah kasir untuk membeli karcis dan keduanyapun masuk ke dalam bioskop.
Filmnya bergendre romantis. The Butterfly, sebuah film yang berkisah tentang sebuah perjalanan tiga orang sahabat yaitu Fano (Andhika Pratama), Tia (Poppy Sovia) dan Desi (Debby Kristy) dalam pencarian jati diri dan mencari makna kehidupan bagi mereka. Persahabatan mereka diawali dengan pertemuan yang tidak disengaja di awal masuk kuliah. Walaupun mereka memiliki karakter yang jauh berbeda satu sama lain, tetapi itu tidak menghalangi persahabatan mereka.
Sejak awal sebenarnya Ia tidak focus pada film yang sedang di tayangkan. Ia lebih memilih serius memperhatikan ekspresi Fathin yang kadang senyum, tertawa kadang sendu. Hingga di akhir cerita Ia melihat Fathin menangis tersedu menyaksikan salahsatu pemeran utama dalam film itu pada akhirnya harus pergi untuk selama-lamanya.
Tanpa sadar Ia refleks menggenggam jemari lentik Fathin. Selanjutnya dengan gerakan lebih frontal Ia meraih kepala Fathin dan menyandarkan di bahu kokohnya berharap bisa menenangkannya.
Ia memejam sejenak meresapi aroma wangi yang berasal dari rambut Fathin di balik jilbabnya..
Adegan menyenangkan itu akhirnya harus berakhir ketika tiba-tiba Fathin tersadar dari kebaperannya dan refleks menarik diri. Dengan gugup gadis itu berucap malu,
"M_maaf, Bang, saya, saya nggak sengaja!"
"Nggak, nggak papa! Saya yang harusnya minta maaf karna udah lancang meraih kamu tadi. Aku refleks soalnya Aku liat kamu sedih banget liat filmnya!" ucapnya terbata.
Keduanyapun kini keluar dari dalam bioskop. Ia kembali meraih tangan Fathin dan menggandengnya menuju parkiran di mana motornya berada.
Ia mencoba rileks walaupun Fathin merasa risih dan berusaha meraih tangannya dari genggamannya. Tapi Ia tidak mau melepasnya.
"Please, jangan dilepas. Aku nggak suka sama tuh pandangan cowok-cowok di sana tadi ngeliatin kamu kayak nggak pernah liat cewek aja!" Akunya tanpa malu.
Fathin akhirnya terlihat pasrah dan mengangguk membiarkannya hingga mereka sampai di mana motornya terparkir.
"Fath, Aku lapar. Kita singgah makan dulu, yah? Aku ada tempat makan yang enak. Tempatnya sederhana tapi Aku yakin kamu pasti suka. Kamu nggak pa-pa kan?" Ia yang blum bisa move on dari hangatnya genggaman tangan itu blum ingin malam berlalu begitu cepat. Ia masih ingin menambah ritmenya dengan ide makan malamnya.
"Oh ya, ya udah, buruan ayo! Ntar Abang sakit kalau telat makannya!" Ucap Fathin sambil naik ke atas motor setelah di pakaikan helm olehnya. Kali ini Ia lebih hati-hati. Tidak ingin membuat Fathin merasa tidak nyaman.
"But, wait, wait, apa tadi katanya? Ntar Abang sakit kalau telat makannya?" Hatinya seketika menghangat mendapati Fathin yang tampak khawatir dengannya.
Ia pun membawa Fathin di sebuah tempat makan lesehan sederhana nan elegan dengan design interior bernuansa nature, dengan bahan kayu dan bambu yang mendominasi. Beberapa gazebo dengan set meja bulat plus bantal duduk melingkar mengelilingi meja tersebut. Menghadap sebuah kolam cantik yang berisi Ikan hias segala warna. Ditambah pencahayaan seadanya, membuat nuansa romantis kian terasa. Cukup membuat betah duduk berlama- lama di sana.
"Kamu mau pesen apa?" Tanyanya memecah keterpakuan Fathin dengan pilihan tempatnya.
"Ummm, samain aja ama Abang, Aku belum pernah ke sini jadi blum tau menu terbaiknya apa aja?" Fathin berucap pelan.
"Oh ya? Di sini menu andalannya adalah semua makanan khas Indonesia timur khusus nya Sulawesi. gimana kalau kita coba makanan khas Manado dulu?"
"Of to you!" Angguk fatin sambil tersenyum manis kearahnya.
Ia pun memanggil pelayan dan memesan makanan. Nasi hangat, sayur Ganemo * dan ikan bakar plus sambal Dabu-dabu ** menjadi menu pilihannya kali ini. Sembari menunggu makanan datang Ia mencoba memecah kebisuan di antara mereka.
"Oh ya, Fhat, Kamu nggak masalah ama duo pengawal setia kalian, jalan gini sama cowok? Soalnya Aku liat yang Azhar sdikit posesif ma kalian?"
"Ehemm, kalian pacaran?" tanyanya hati-hati berharap jawaban Fathin adalah "tidak"
Tapi pesanan mereka datang sebelum Fathin sempat menjawab pertanyaannya. Jadilah akhirnya mereka makan dengan membawa perasaan masing-masing. Bunyi denting sendok dan garpu yang beradu dengan piring menjadi sound track kebisuan keduanya.
Sesekali pandangan mereka bertemu dan saling melempar senyum. Di menit kesekian Fathin mulai memberanikan diri bertanya padanya, membuatnya berbinar bahagia.
"Abang sering ke sini, yah?"
"Kadang- kadang kalau lagi pengen!" Jawabnya antusias berharap Fathin bertanya lagi.
"Ummm, ama siapa?" Ia memandang gadis itu dengan seksama mencari makna ekspresi wajahnya kini. Tapi buru- buru Fathin menunduk sambil menyuapkan makanannya lagi.
"Biasa, ama temen-temen, kenapa emang?" Ia tidak mau jujur tentang Sherin yang beberapa kali di bawanya ke tempat ini.
"Ng_nggak, kok! Nanya doang, takut aja ada yang marah Abang bawa cewek ke sini!"
"Marah? Maksudnya? siapa?" Dahinya berkerut menatap wajah cantik di depannya yang sedari tadi tertunduk malu.
"Pacar Abang misalkan! Masa' udah seumur gini blum punya pacar?"
"Aku akan jawab kalau kamu jawab dulu pertanyaan aku tadi. Kamu sama Azhar pacaran?" Tanyanya lagi mengulang pertanyaan sebelumnya yang belum dijawab oleh Fathin.
"Ih, Abang, apaan sih! Kita berempat tuh cuma sahabatan. Nggak lebih. Tuh udah di jawab. Sekarang giliran abang jawab soalan aku tadi!"
Acara makan mereka sudah selesai. Tapi mereka masih betah di sana sembari bercengkerama. Ia terlihat kurang semangat membahas masalalunya yang sudah hampir Ia kubur dalam - dalam sejak kehadiran Fathin di hatinya akhir-akhir ini.
"Pacar aku udah pergi ninggalin aku dua tahun yang lalu. Ayahnya seorang petinggi pilisi di Polda tiba-tiba di mutasi ke Bandung dan mboyong semua keluarganya ke sana. Sejak itu hubungan kami renggang bahkan berakhir. Entahlah! Lagian terlalu dalam jurang yang menjadi penghalang di antara kami. Dia seorang non muslim ternyata!" Akunya jujur sembari maniknya menerawang kembali membayangkan wajah Shiren. Sejujurnya Ia masih menyisakan sedikit rasa untuknya di dalam sana.
"Ehemm, udah ah, ngapain sih ngomongin ini. Ayo kita pulang, ntar gerbang nya ketutup lagi!" Ia beranjak sembari meraih tangan Fathin yang hanya menurut tak berkutik dan berjalan membawanya keluar dari rumah makan tersebut setelah sebelumnya Ia ke kasir membayar makanan mereka.
Sepanjang jalan keduanya diam. Tenggelam dalam pikiran masing-masing. Ia tak henti berharap Fathin tidak terpengaruh dengan ceritanya barusan tentang Sherin. Juga Semoga kelak Fathin bisa membuka hati untuknya.
"Semoga!" Batinnya penuh harap.
__ __ __ __
Next >>>
* Sayur Ganemo , salah satu makanan khas. Manado , adalah olahan sayur berupa campuran dari daun melinjo, bunga pepaya, serta labu kuning dengan kuah santan kental.
Hidangan ini diberikan bumbu khusus, sehingga dapat menghilangkan rasa pahit dari sayur dan mengeluarkan cita rasa yang menarik.
__ADS_1
** Sambal Dabu-Dabu adalah sambal khas Manado yang terbuat dari bawang, cabai dan tomat. Rasa sambalnya segar sekali karena menggunakan air jeruk nipis dan tambahan daun kemangi.