
*Yusuf
Akhir-akhir ini Ia mulai sering pulang ke rumah. Jika pagi hari Ia keluar maka sore atau malam hari Ia pasti kembali. Benar-benar sebuah transformasi yang begitu masif. Seisi rumah di buat bengong syahdu dan bergantian saling bertanya, ada apa dengannya.
Ia bukan tidak tau akan wajah-wajah penuh tanda tanya yang selalu menyambutnya tiap kali Ia memasuki rumah plus ucapan salam yang terasa asing bagi seisi penghuni rumah besar nan mewah itu. Namun Ia seperti biasa, cuek dan malas perduli pada hal-hal yang tidak dianggapnya urgen. Kecuali soal Fathin, lain cerita. Sosok yang mulai menjadi epicentrum tiap prilakunya kini, tiada henti mengisi kepalanya.
Satu-satunya orang yang mengetahui sebab musabab perubahannya yang begitu signifikan itu adalah Citra, sang kakak yang menjadi alasan semua ini. Yaah,, ucapan menohok dari kakaknya itu tempo hari telah sukses membuatnya berniat merubah pola pikir dan tingkahnya. Ia mulai sering tersenyum meski masih samar, membuat setiap orang yang di jumpainya nampak sedikit meringis keheranan akan tingkahnya.
Juga ajakan Gery sahabatnya untuk mengikuti jejaknya yang Ia ketahui telah hijrah itu, tak pelak membuat kian kuatnya dorongan hatinya untuk berubah demi sang pujaan hati.
Gery, sang mantan residivis, tubuh penuh tatto. entah sudah berapa puluh kali keluar masuk sel sebab beberapa kali tertangkap tangan saat transaksi maupun pesta narkoba. Namun Ia begitu lihai "bermain" di dalam sampai Ia tak pernah lama di sana. Ia juga terjaring dalam sebuah organisasi mafia kelas tak "tersentuh" yang membuat sahabatnya itu aktif wara-wiri ke luar negeri.
Hidup bebas bergonta ganti pasangan menjadi suatu hal yang biasa. Halal haram menjadi tiada sekat bagi Gery. Tapi beberapa bulan terakhir Gery benar-benar berubah. Life style nya benar-benar berubah. Ia bahkan membiarkan bulu-bulu di sekitar dagu tumbuh subur. Wajah yang dasarnya tampan menjadi kian menawan dengan style pria itu kini.
"Lo pasti bisa bro! asal udah ada niat ke arah sana, InsyaAllah, Allah pasti ngasi jalan. Lo bisa jadiin gue patokan. Nggak usah gue critain gimana rusaknya gue sebelum ini, you know me well. Gue bisa bantuin lu untuk ini!"
"Caranya? Jangan bilang lo mau ngajak gue ikutan jadi jamaah kompor kayak lo. Ogah gue. Gue mau yang elit dikit. Bisa jatuh harga diri gue di suruh mikul kompor keliling kota!" tuduhnya begitu mendengar ajakan Gery semalam saat keduanya berjumpa di sebuah club di bilangan by pass.
"Hahaha.. bisa aja, Lo! Pokonya serahin ke gue soal ini. Minggu depan Gue jemput Lo. Gue bakal kenalin lo sama orang yang udah bikin gue bisa gini, orangnya keren, Man!" Geri tergelak demi mendengar istilah jamaah kompor yang di sematkannya.
Ia masih di atas tempat tidur empuknya dengan gaya malas saat Ia kembali teringat ajakan Gery semalam. Ia bukan tidak tau kalau sahabatnya itu kini bergabung dengan kelompok jamaah dakwah yang menamai kelompoknya dengan istilah jamaah tabligh. Entahlah!
Tapi terlepas dari itu, Ia memang berniat. berubah. Sudah cukup lama Ia berkubang dalam lumpur dosa dan lalai. Hidup bebas dan tanpa embel-embel takut dosa telah membawanya pada pola hidup memuakkan orang-orang di sekitarnya terutama keluarga besarnya.
Satu-satunya perbuatan tercela yang masih luput dari prilakunya adalah free ****. Bukan sebab takut dosa, tapi lebih kearah enggan berurusan dengan wanita. Terlebih bila gelagat si wanita menjurus ke arah ajakan berumahtangga. Ia Sedikitpun Ia tak pernah berniat memikirkan pernikahan. Ia malas pusing dengan konflik yang begitu kompleks dalam dunia yang satu ini.
Tapi sepertinya sebentar lagi pikiran kolotnya tersebut akan segera sirna seiring hadirnya Fathin dalam hatinya. Sudut bibirnya tertarik demi mengingat tingkah menggelikan gadis itu. Saat gugup, ketakutan, kaget dan ekspresi ingin protes tapi tak berdaya juga bibir mungilnya yang kadang mengerucut bila sedang kesal juga senyum samar yang membunuh.
"Aahh, semua ekspresi nya bener2 bikin gue jadi nggga' waras. Apalagi pelukan yang sempat bangunin juniorku waktu itu. So, dia harus membayar aku nahan perasaan selama ini!" Gumamnya dalam senyum simpulnya.
"Damned!"
Ia mengumpat dalam hati, seketika ingatannya beralih pada dua orang pemuda yang berada di kamar yang sama dengan Fathin saat dinner yang batal disebabkan sakitnya gadis tersebut tempo hari. Ia merasa seperti pernah bertemu keduanya. Tapi ingatannya kali ini benar-benar lemah. Tiba-tiba ada rasa yang tidak menyenangkan di hatinya. Tanpa pikir panjang, seperti biasa tanpa basa basi Ia menulis sebuah pesan singkat berisi warning,
To: GadisQu
"Aku nggak mau liat kamu ke kampus hari ini bareng teman cowok kamu itu. Ngebantah? maka kamu akan ada dalam masa Ospek stiap hari setelah ini. Biar aku yang jemput!"
Ia tersenyum melihat nama yang Ia sematkan untuk contak Fathin. Ia merasa geli sendiri. Lagi-lagi Ia membayangkan jika Fadhil tiba-tiba membacanya. Sudah bisa Ia pastikan ekspresi menyebalkan yang akan ditampakkan sepupunya itu. Ia melempar ponselnya ke sembarang arah sembari bangkit dari tempat tidur, dan sekejap menghilang di sebalik pintu kamar mandi. Mencoba menyegarkan diri dengan berendam air hangat dalam bath up.
Sejam kemudian Ia siap meluncur dengan moge kesayangannya. Ia lebih suka mengendarai motor besarnya itu ketimbang naik mobil. Alasan paling klisenya adalah, ribet, nggak bisa ngebut, nyelip trus paling malas ngantri dalam kemacetan. Ia bisa stengah waras jika menunggu dengan bodoh dalam mobil saat macet. Membosankan!
Saat hendak membunyikan kendaraannya, telinganya tiba-tiba menangkap sebuah suara cempreng yang memanggil namanya. Membuatnya berbalik seketika untuk melihat ke arah suara tersebut. Farah anak bang Tio, kakak tertuanya sedang berlari kearahnya.
"Uncle...uncle.. tunggu!"
"Hahh! Farah mau ikut. Biar ntar Uncle pulangnya nggak telat!" Bocah empat tahun itu berusaha mengatur nafasnya yang sedikit ngos-ngosan akibat lari barusan. Berbicara dengan melampirkan wajah puppy eyes nya yang menggemaskan sembari bertolak pinggang mendongak kearahnya.
"No!"
"Please, Uncle!"
"Hari ini Uncle bakal sibuk. Nanti ajha ya? Pokoknya kalau princess nya uncle ini nurut kali ini, Uncle bakal bawain aunty yang cantik kayak bidadari ntar, Ok?" Ia mencoba mencari cara agar keponakan cantiknya itu tidak ikut denganya sebab entah akan tampak seperti apa dia jika ke kampus membawa anak-anak. No!itu bisa menjatuhkan pamor kemacho-annya. Dan beruntung, kali ini ide nya tidak terlalu buruk sebab wajah puppy eyes di hadapannya kini terlihat berubah mode. Gadis cilik itu seketika sumringah.
"Ok! uncle. promise?"
"Promise!" sahutnya sembari menautkan jari kelingking keduanya dan mengecup pipi chuby keponakannya itu.
"Ok, chubby, uncle jemput aunty cantiknya dulu!"
"Ok, uncle. Aunty nya harus cantik kayak Farah ya?"
"Siiap tuan putri!" Selorohnya dan perlahan mulai meninggalkan rumah besar itu bersama raungan moge miliknya yang sedikit memekakkan telinga.
____
* Fathin
Ia akhirnya bisa bernafas lapang setelah sukses melewati segala pernak-pernik dan hiruk pikuk ospek yang begitu menyita segalanya. Lima hari yang serasa sebulan itu tak menyisakan apapun kecuali penat yang melelahkan.
Semua wajah terlihat sumringah. Sebab berakhirnya masa ospek menandai datangnya kemerdekaan dari penjajahan para senior pemeran antagonis dalam drama ini. Tak terkecuali dirinya yang kini terlihat antusias dengan langkah meyakinkan, berjalan menuju kampus hijau tersebut. Senyum manisnya tak henti tersungging di bibir pink mungil miliknya, tiap kali berpapasan dengan maba maupun senior se prodi. Ia sengaja menolak saat Azhar hendak mengajaknya barengan ke kampus.
"Kamu duluan ajha, Zhar! Hari ini aku pengen nostalgia jalan kaki sembari menghirup udara pagi yang seger!" Kilahnya saat Sahabatnya itu menanyakan alasan penolakannya. Mimiknya cukup menjelaskan jika Ia sedang berbohong, tapi Ia benar- benar tak berdaya saat ini.
"Astaga, siapa sih dia itu. Bukan panitia Ospek tapi semua pada tunduk dan patuh ama dia!" Sungutnya.
"Ck, Tauk bakal serunyam ini, mending waktu itu aku milih masuk got ama Azhar daripada ngikutin tuh monster!" Ia berdecak penuh sesal.
Ia mendesah tak percaya dengan kelemahan dan kepasrahan tak beralasannya akhir-akhir ini, kala menghadapi perintah-perintah absurd dari Bang Yusuf, si Pemaksa menyebalkan yang suka seenaknya itu.
Tapi, tidak. Kali ini Ia punya alasan. Yah, sebuah pesan singkat dari nomor tak di kenal yang masuk di ponselnya pagi tadi, benar-benar membuat Ia tak punya pilihan lain selain memilih mengalah dan patuh. Meski si pengirim tidak menyebut nama tapi Ia sudah bisa mengenalnya dengan benar. Tiada lain , ini pasti si Pemaksa berwajah datar itu,
Dari:
(081156XXXX)
__ADS_1
"Aku nggak mau liat kamu ke kampus hari ini bareng teman cowok kamu itu. Ngebantah? maka kamu akan ada dalam masa Ospek stiap hari setelah ini. Biar aku yang jemput!"
Membantah saat ini sepertinya bukanlah pilihan bijak. Resikonya tak main-main. Perintah absurd ini akan abadi sampai Ia meninggalkan kampus ini.
"Aaahhh! Parah banget sih nasib aku. Aku bener-bener benci banget sama monster itu!" teriaknya tanpa sadar. Ia nekat tak mengindahkan pesan singkat dari si pemaksa. Lebih memilih berjalan kaki menuju kampus. Ia sudah siap dengan resiko nya kali ini.
Hari ini hari terakhir dari seluruh rangkaian agenda Ospek. Para Maba bisa bernafas lega sebab hari ini drama senior vs junior sudah berakhir. Sembari menunggu acara Makrab sekaligus closing ceremonial, agenda di isi dengan perdana tatap muka sekaligus introduce dari para dosen matkul di jurusan Bahasa. yeaahh!!, akhirnya Ia bisa merasakan sensasi pertama kali berada di ruang perkuliahan, bertatap muka dengan dosen-dosen yang akan menemani sepanjang perjuangannya kedepan, mencecap manisnya menimba ilmu di kampus idamannya ini.
Perkenalan dengan para dosenpun kelar.
Selanjutnya pembagian kelas sesuai prodi. Ia mendapati namanya tertera di barisan kelas A1 dengan posisi ruangan 10, lantai 2 gedung bahasa. Usai mencatat kelas dan ruangan study nya sebagai pengingat, maniknya lalu bergeser menatap jadwal matkul sesuai SKS yang di ambilnya. Tanpa menimbang Ia pun kembali meng_copas di buku yang sama.
"Hai, kamu di kelas 1A ya?" seseorang sedang berusaha menyapanya saat Ia sedang asyik mencatat jadwal matkul.
"Eh, iyah nih. Kamu anak english juga yah?" Ia tergagap sebab sedikit tersentak tak menduga suara yang tiba-tiba menyapanya. Ia mencoba tersenyum. Ia sedikit tidak asing dengan wajah yang sedang di sampingnya kini sebab beberapa kali menyaksikan aksi nekatnya membela beberapa rekannya saat hendak dihukum panitia ospek.
"Iyah, kita sekelas berarti. btw, kenalin, aku Rafael!" Ucap pemuda itu sembari mengulur tangan hendak menyalaminya. Sejenak Ia nampak ragu. Menatap uluran tangan dan wajah si pemilik nama secara bergantian, dengan ekspresi bingung. Namun sejurus kemudian, anggukan dan senyum penuh persahabatan dari Rafael membuatnya menyambut perkenalan tersebut.
"Fathin!" Ia berusaha tersenyum saat menyebut namanya.
"Okey, Fathin. Mudah-mudahan setelah ini kita bisa menjadi teman yang baik!" Ia kembali tersenyum mengangguk.
"Oh, ya, kamu ikut kan Makrab ntar malam?"
"InsyaAllah ikut. Pen ngerasain juga gimana aslinya senior-senior itu tanpa topeng senioritas!"
"Hehehe! Kamu bisa ajha. Ya udah, aku tinggal dulu, ada sdikit urusan di Aula!" Ia kembali mengangguk bersamaan bayangan Rafael plus senyum ramah sang teman baru yang berlalu dari hadapannya.
Ia kembali focus dengan buku agenda kecil di tangannya, berniat hendak melanjutkan coretan yang sempat tertunda sebelumnya. Tapi belum lagi Ia sempat menorehkan sesuatu di sana, Ia kembali di kejutkan oleh sebuah bariton yang sukses membuatnya terlonjak sampai ballpoint di tangannya terlepas dan jatuh.
"Itu siapa lagi?" Telinganya menangkap sebuah suara datar yang tidak asing, yang seketika suksess dengan sempurna membuatnya meremang dan ingin lari atau jika kuasa ingin raib dalam sekejap mata dari sana. Tapi sayang Ia tidak sedang berada dalam dongeng negeri para peri dengan segala kekuatan supranaturalnya. Ini nyata dan mesti di hadapi, suka atau tidak.
Ia buru-buru memunguti ballpoint miliknya lalu dengan refleks berbalik meyakinkan dugaannya, dan, yapp,,, wajah datar itu sedang berdiri dengan memasukkan tangan di saku celana dan menatapnya sedikit tajam. Ia kembali tergagap mendapati ekspresi di hadapannya yang kini berubah mode. Mengernyit menanti jawaban darinya.
"Eh, oh, ehem, it_itu tadi rekan seprodi. Iyah,, benner. Kami satu kelas. Gg_gitu, Kak!" Sahutnya gugup.
"Hmm, Trus kenapa kamu nggak nunggu aku jemput tadi?" Tatapan tajam menghujam itu seakan menghentikan aliran darahnya. Ia seketika kesulitan menemukan kata-kata yang pas untuk pertanyaan penuh tekanan itu.
"Ehm, itu, Kak, maaf tadi sa-saya udah nunggu hampir sejam tapi kakak lama datengnya. Ya ya udah s-saya putusin jalan kaki dari pada ntar telat, Kak!" sahutnya tergagap memberi alasan.
"Hmm, kalau udah kelar semua, ikut aku sekarang. Kamu harus dihukum untuk ini!" Ia tertegun tak percaya. Dalam hati Ia mengutuk tingkah menyebalkan Senior yang satu ini, yang suka seenaknya memberi perintah memaksa.
Lagi-lagi Ia gelagapan. Dan, sebelum bibir manisnya sempat memberi sanggahan, tangannya telah di tarik oleh sipemaksa. Berjalan menjauhi papan pengumuman itu.
"Astaga,,! Ospek kan udah selesai. Ngapain sih masih seenaknya ngasi perintah?" lagi-lagi Ia hanya mampu berdecak kesal dalam hati tanpa berani meluahkannya.
"Loh, loh, Dia kok bisa tau apa yang aku pikirin, pas banget ama jawabannya!" Sedikit takjub tapi Ia pura-pura tidak tau dan memilih ikut berjalan mengikuti langkah panjang di sampingnya. Sebab membantah hanya akan menambah panjang ritme intimidasi yang akan di terimanya.
"T-tapi..itu nulis jadwal nya tadi blum selesai, Kak!" Ia berusaha memberi alasan.
"Ntar di lanjutin!" Lagi-lagi jawaban datar.
"I-iya tapi ini tangannya tolong di lepas dulu. Jadi keseret-seret nih. Saya nggak akan kabur kok, Kak!" Ia mencoba negosiasi sebab Ia baru sadar kini puluhan mata sedang memandang takjub bin kaget ke arah keduanya. Tapi lagi-lagi penolakannya tidak ngaruh. Tangan itu malah kian mempererat genggamannya.
Matanya sejenak melirik kedua tangan itu yang saling menggenggam. Astaga, tanpa di sadarinya tangannya kini ikut menggenggam erat tangan halus itu. Membuat sudut bibir si pemilik wajah cuek plus datar itu tertarik membentuk senyum tipis. Seketika wajahnya blushing dan secepat kilat Ia merenggangkan genggamannya. Tapi, lagi-lagi tidak ada celah baginya.
"Tangannya kok halus banget sih kayak cewek. Cih, tampang ajha sok Macho, anak mami paling!" Ia berdecih dalam hati tapi sejurus kemudian kembali sadar dengan situasi terkini di sekitar.
"Kok semua pada melongo gitu?.Aduh, nih orang siapa sih sebenarnya? Anak rektor? Atau keponakan pak dekan? atau ortunya dosen di sini? atau apa sih?" Ia kembali bermonolog dalam hati sembari matanya tak lepas dari wajah cuek nan tegas yang masih berjalan dengan santainya, masih dengan tangan menggenggam erat tangannya.
"Bukan siapa-siapa. Aku hanya manusia biasa yang Nggak suka penolakan, dan berhenti melihatku seperti itu. Kamu nggak takut jatuh cinta ama aku ntar?" wajah tampan si pemaksa itu kembali tersenyum simpul seakan menertawakan wajah bengongnya yang kian tak mengerti, kenapa jawaban pria yang sedang bersamanya kini selalu saja conect dengan gumaman hatinya.
"M-maaf, Kak, sebenarnya kita mau kemana sih?" Ia mulai kurang nyaman dengan tatapan tiap mata yang mereka lewati.
"Ikut ajha!"
"Tinggal jawab kenapa sih? pelit amat!" Kerucuti Ia bibirnya mendapat jawaban singkat itu. Tapi sedetik kemudian keningnya berkerut saat memasuki sebuah gerbang salah satu fakultas dan melihat tulisan besar tepat di samping gerbang tersebut.
"FAKULTAS KEDOKTERAN"
"Hah? Ngapain ke sini?"
"Aku mau tunjukkin ke kamu semua tentang Aku!"
"Maksudnya?"
"Mulai sekarang kamu harus tau semua tentang aku. Sebab sebentar lagi kamu akan jadi Istriku!" lagi-lagi wajah itu datar dan cuek.
"Gila! Nih orang emang nggak ada basa-basinya sama sekali yah!" Sungutnya lagi-lagi dalam hati. Matanya kini membulat sempurna bersamaan mulutnya yang tanpa disadarinya ikut terbuka
"Hah? Istri? Ihh, Kakak jangan ngadi-ngadi ah! Nggak kenal juga, gimana ceritanya mau jadi istri. Aduh nyiksanya jangan kelewat gini dong, Kak!" Ia mulai protes dengan wajah sedikit memelas.
"Sa-saya mending di hukum apa aja. Saya bisa terima. Tapi jangan sampe kayak gini juga kali, Kak, please! saya ke sini bukan main-main, tapi mau kuliah. Hiks..hikss!" Pertahanannya kini ambruk. Sedikit emosional mendengar penuturan si pemaksa yang Ia rasa sudah melewati batas wajar.
"Cengeng banget! gaya kayak gini yang kamu mau bawa di kampus? bisa mati di bulliy kamu kalau baperan gini!"
__ADS_1
"Payah!"
"Biarin! Pokoknya saya nggak mau jadi istri, Kakak!" Ia mulai berani memberi penolakan. Maniknya membalas tatapan tajam di depannya kini.
"Kenapa?"
"Ya..ya k-karna Kakak orangnya jahat. Pemaksa menyebalkan yang suka semena-mena, trus Saya ke sini mau kuliah, bukan mau nikah, enak ajha!" Sungutnya kemudian.
"Kamu udah berani membantah?"
Tatapan kian tajam itu lag-lagi menyiutkan nyalinya yang sudah mulai tumbuh sebelumnya.
"Ng-nggak, Kak! i-itu maksud saya _"
"Ikut skarang!"
"Ke mana? ngapain? nggak nikah kan?"
"Cerewet!"
Ia kembali mencebik ke arah wajah tampan yang sedang mengulum senyum samar.
Keduanya kembali berjalan mengelilingi area fakultas tersebut. Di tiap bundaran taman, koridor dan ruangan penuh oleh wajah-wajah bahagia dari maba maupun senior yang kini terlihat sibuk persiapan makrab nanti malam. Ketakjubannya kian berlipat ganda saat hampir semua mahasiswa-mahasiswi yang mereka lewati begitu menaruh hormat pada si pemaksa itu.
Beberapa diantara mahasiswi itu nampak menatap tajam ke arahnya, membuat tanpa sadar tangannya kian erat menggenggam tangan lebar dan halus yang sedari tadi tidak berniat melepas tautannya.
Ia hanya bisa manggut-manggut tiap wajah datar itu menyebutkan nama dan fungsi setiap gedung bertingkat yang mereka lewati. Sejatinya Ia tidak berniat menanggapi, tapi ekspresi si pembicara yang Ia rasa seketika berubah lembut dan berwibawa, pelan tapi pasti sedikit mulai menyibak tabir kegugupannya, memberi sugesti agar suasana hatinya berubah rileks.
Ia berusaha mengadopsi sikap cuek dan pede tingkat dewa yang dimiliki bang yusuf. Memilih berjalan dengan santai, melampirkan senyum terbaiknya tiap kali mereka berpapasan dengan para fans berat si Pemaksa itu yang Ia rasa sedikit lebay, sembari sesekali bertanya sesuatu yang tidak di pahaminya. Ia tak kuasa menahan diri untuk tidak keppo dan akhirnya bertanya,
"Kakak artis yah? kok banyak banget yang ngefans gitu?"
"Kenapa? kamu mau jadi fans aku juga?"
"Ck, lagi serius juga!"
"Mereka bukan ngefans tapi takut!"
"Tuh kan. Kakak emang orang jahat. Nakutin! Das__ " Ia blum sempat melanjutkan sebab suara datar itu kembali menimpali,
"Mereka takut sebab kalau aku marah, mereka semua bisa nggak lulus_lulus dari sini!"
"Hah?"
"So,, kalau kamu nggak mau kayak mereka, patuhi semua perintahku atau kamu akan jadi mahasiswi abadi di sini!"
"Hum??" Si pemaksa itu menatap sedikit tajam dan sedetik kemudian menaik-turunkan alisnya menanti ekspresinya selanjutnya.
"I_iya, Kak. Asal jangan perintah jadi istri, saya siap patuh untuk semuany!"
"Aku yang bikin aturan, bukan kamu. Jelas?"
Sekali lagi ia hendak protes tapi manik se tajam mata elang itu benar-benar menghipnotisnya. Ia hanya mampu berdecak dengan penuh kesal dan sesal.
"Ehm, Ini tempatku. Aku ambil jurusan Pendidikan dokter!" Ujar yusuf kemudian. Keduanya kini sudah berada di dalam kantin fakultas kedokteran. Sengaja mengambil posisi tempat duduk yang menghadap langsung ke kebun praktikum Faperta.
"What?" Tanpa sadar matanya mendelik tak percaya. Selama ini, Ia tak mengira kalau sosok yang terlihat cuek, amburadul dan lebih mirip preman kampus itu adalah seorang calon dokter.
"Kenapa? nggak nyangka kalau calon suamimu ini calon dokter?"
"Ap__"
"Aku mau ngomong sesuatu yang serius. Aku minta kamu dengar baik-baik!"
"Kebiasaan banget motong-motong pembicaraan orang. Giliran dia ajha, maunya di dengerin!" Umpatnya dalam hati.
"Nggak usah ngomong macem-macem dalam hati. Aku bisa denger apapun itu walaupun dalam hati!"
Tanpa memperdulikan wajah cantiknya yang ini terlolong heran bin takjub, Si pemaksa itu mulai menceritakan dirinya tanpa terkecuali. Kehidupannya, keluarganya, kuliahnya dan semua kelakuan buruk nya selama ini. Membuat Ia beberapa kali mendesah tak percaya.
"Aku cerita ini biar kamu tau dari aku. Bukan dari orang lain. Terlalu cepat emang. Tapi aku nggak suka basa basi. Aku suka sama kamu. Aku akan selesaikan semuanya. Setelah wisuda nanti aku akan lamar kamu. Sekali lagi aku nggak suka penolakan!"
Wajah di hadapannya kini benar-benar membuatnya frustasi dalam sekejap. Bagaimana tidak, Ia seperti sedang berhadapan dengan malaikat maut yang tidak perduli suka atau tidak Ia tetap akan menunaikan tugasnya, mencabut nyawanya.
"S-saya..."
"Mulai sekarang pake "aku". Aku nggak mau dengar lagi kata saya!"
"T-tapi__"
"Mulai saat ini kita pacaran!"
"Gila! apa-apaan sih?"
"Nggak pake tapi. Ini perintah!"
__ADS_1
Ia tercekat tak mampu berkata.. Binggung mau bersikap seperti apa menghadapi manusia yang datang entah dari planet mana. Benar-benar species langka yang menyebalkan.
Next>>>