
*Fathin
Di sebuah gerai kecantikan. Sebuah bangunan dua lantai bergaya minimalis dengan dominasi warna lime dan hitam. Deretan set meja rias warna senada plus cermin raksasa di sepanjang dindingnya tertata rapi.
"El'moro Beauty Salon & Day Spa"
Ia sempat membaca tulisan besar di dinding kaca lantai atas bangunan tersebut sebelum masuk.
Suasana di sana cukup ramai. Beberapa hair stylist dan MUA nampak sedang sibuk dengan costumer masing-masing. Hampir semua orang di sana tersenyum ke arah mereka, lebih tepatnya ke arah bang yusuf.
Ia berjalan sembari menggandeng tangan si gadis Chubby, Farah. Tangan kirinya menenteng paperbag yang Ia terima dari seorang gadis yang hampir sebaya dengannya, yang mereka temui sebelumnya di lobby. Ia berusaha mengingat di mana Ia pernah bertemu gadis tersebut tapi entah kenapa kali ini otaknya lemot.
Sepertinya Farah bukan yang pertama kalinya ke tempat tersebut sebab setiap orang yang mereka lewati, ikut menyapa gadis kecil itu.
Ia tak bisa berbohong jika saat ini dadanya kembang-kempis sebab rasa yang campur aduk. Perasaan takjub, grogi, malu, insecure juga tubuh yang terasa melayang, ringan. Betapa tidak dari sejak memasuki ruangan tersebut, semua mata seketika tertuju padanya. Selain itu, ini adalah untuk pertama kalinya Ia masuk salon yang menurutnya luxury.
Beberapa di antaranya malah sampai berucap memuji,
"Pasangan serasi."
Bulu kuduknya kian meremang saat tangannya di gandeng tiba-tiba oleh bang yusuf. Berjalan melewati puluhan mata yang menatap takjub ke arah mereka bertiga, menuju lantai dua dimana deretan kamar perawatan VIP dan satu ruangan sang owner, yang belakangan diketahuinya bernama Theo. Ia berusaha melepas kan tangannya, tapi manik elang itu langsung menatapnya tajam.
Lagi-lagi Ia mendesah tak berdaya. Tak ada yang bisa Ia lakukan selain pasrah pada setiap titah pria yang kini bersamanya. Sekian banyak penolakan yang Ia berikan, tak ada satupun yang bisa menyelamatkannya dari jeratan absurd si Pemaksa itu.
Ia bahkan tak bisa berkutik saat seorang pria dengan gaya yang dibuat kemayu, menarik tangannya, meninggalkan Farah yang sedari tadi tak pernah melepasnya. Membawanya ke dalam salah satu ruangan khusus pelanggan VIP, tentu saja atas perintah si wajah datar, Yusuf. Menambah rasa insecure nya kian berlipat-lipat.
"Waaooww.. Surprise! bisa jadi bahan renyah, gurih, garing, greget, alot plus hot news nih buat para lambe terong alias gosipers, beb. Iiihhhh gemeess deh!" Pekik pria berbentuk wanita itu saat pintu ruangannya terbuka. Melampirkan ekspresi kaget bercampur takjub dengan netra plus bibir yang membulat sempurna.
Seketika Ia merasa keki dengan tingkah si empunya salon yang sepertinya cukup akrab dengan bang Yusuf. Ia berusaha menetralkan perasaannya dengan mencoba tersenyum manis kearah pria berparas cantik itu.
"Apaan sih, Gue mau lo bikin dia secantik model-model lo. Awas jangan terlalu di sentuh, gue nggak rela." Ia berdecak pelan. Tersenyum kecut ke arah pria itu.
"Oklah! eh, betewe, selingan, sampingan ata__,"
"Calon istri. Udah, cepetan, gue nggak punya banyak waktu." Seperti biasa, si pemaksa itu memang hoby memotong pembicaraan orang lain.
"Dasar yah emang!" Umpatnya dalam hati.
"Farah sama uncle dulu, Aunty cantiknya mau dibikin tambah cantik sama Om Theo, Ok?" Ajak pria itu pada sang ponakan, tapi gadis kecil itu malah berlari kearahnya dan,
"Nggak mau, Farah mau liat Aunty cantiknya di dandanin sama Om." Rengek gadis kecil itu sembari kembali menggenggam tangannya. Ia dengan cepat mengusap lembut kepala Farah, mengangguk tanda setuju.
"Iya, sayang. Ayo!" Ucapnya lembut. Sekilas melirik pria kemayu di hadapannya, dan memberi senyum termanisnya guna mengakrabkan diri. Pria itu membalas senyumnya ramah.
"Aduh, ponakan Eikehh yang cantik, please deh, manggilnya jangan Om dong, masa udah secantik ini masih di panggil Om, panggil Kakak aja yah, sayang, Kak Tya, Ok?"
"Ok, Kak Tya." Suara cempreng itu menyahut riang.
"Ini beneran apa canda sih?" Lagi-lagi pria kemayu itu berucap tak puas.
"You know me well (kamu mengenalku dengan baik),Theo." Sahut pria itu sembari menghempaskan diri di sebuah sofa mini set yang berada di sudut ruangan tersebut.
"Theo.. Theo, Thya , Nyusup. Udah secetar ini masih di panggil Theo, gimana, sih?" Pria kemayu itu mencebik tak terima. Membuatnya tak bisa menahan tawa.
"Nyusup, nyusup.. pala lo!"
"Satu sama dong. hehehe!" Theo kembali cengengesan.
"Oh ya, Outfitnya warna apa nih?"
"Peach, Kak!" Sahutnya singkat. Sudut bibirnya tertarik, teringat si pemaksa itu benar-benar mengingat warna favoritnya.
"Ok, Let's get started, (ayo kita mulai)!" Pekik Theo semangat. Ia mengangguk setuju, lagi-lagi Ia tersenyum sembari tangannya melepas pentul jilbab nya. Sedikit melonggarkannya agar tak menghalangi aktifitas tangan gemulai Theo saat merias wajahnya.
Ia dipersilahkan duduk manis di depan sebuah cermin besar. Sedikit ragu awalnya, namun keramahan sang owner pelan-pelan mengikis kekakuannya. Ia mulai rilex saat wajahnya mulai di make over dengan segala macam bahan dan alat make up yang tidak Ia ketahui nama juga fungsinya satu persatu. Maklum selama ini Ia hanya mengenal facial foam dan baby powder.
Ia memuji kelincahan tangan Theo saat me make over wajahnya. Sesekali pria itu memberi pertanyaan seputar hubungannya dengan bang Yusuf. Jadilah ia bergantian menjawab setiap pertanyaan dari pria itu dan si chuby, Farah yang tak mau kalah, apa saja yang ia liat seketika itu juga pasti bertanya.
Sementara Bang yusuf sedari tadi sibuk dengan panggilan di ponselnya.
"Astaga, baru sadar kalau kita ternyata blum kenalan loh dari tadi, ya khaan?" Ia mengangguk kearah pantulan wajah lawan bicaranya dibalik cermin di depannya.
"Eikeeh pasti udah tau yah kan? Tya, tuh si kanebo kering ajha tuh yang nggak ada akhlak manggil nya Theo." Ucap Pria itu sembari menunjuk si pemaksa dengan dagunya. Ia tersenyum.
"Aku Fathin, Kak!"
"Kuliah ya?"
"Iya, baru masuk!"
"I know,, I know.. pasti ketemu si preman kampus ini waktu ospek kan?"
"I_iya, Kak!" Ia menyahut ragu sebab Ia yakin saat ini pasti manik elang itu sedang melihat ke arahnya.
__ADS_1
"But, don't worry, meskipun si kanebo kering itu terlihat mengerikan tapi doi itu super baik. The best friend deh pokoke. Eikeeh ajha nih yah, kalau bukan karna doi, mungkin sekarang udah jadi gembel mengenas__,"
"Bisa diem nggak, brisik!" Bariton itu tetiba menyela kicauan Theo, membuat pria kemayu itu akhirnya cengengesan sembari membekap mulutnya sendiri.
"Hehehe... Sorry, Beb, jiwa gosip Eikeh tiba-tiba meronta-ronta." Sahut Theo membela diri. Sebenarnya Ia masih ingin mendengarkan kelanjutan cerita tentang si pemaksa itu, tapi sepertinya pria itu tidak ingin mengumbar kabaikannya.
"Ok, Finish. Sekarang Fathin ke ruangan yang sana, trus ganti baju." Ucap Theo sambil menunjuk sebuah pintu bertuliskan Walk in Closet.
"Aunty ganti baju dulu yah, sayang!" Pamitnya pada Farah yang sedari tadi tak henti memujinya. Gadis kecil itu mengangguk dan mengangkat dua jempolnya,
"Ok, Aunty cantik!" Ia mengusap pipi anak kecil itu dan berlalu menuju ruang ganti. Sedari tadi Ia belum pernah berani menatap manik Yusuf yang Ia ketahui sedari tadi sudah menatapnya. Memilih berjalan cepat dan secepat kilat masuk dan menutup pintu dengan tergesa.
Ia menghembuskan nafas lega. Seakan baru lepas dari kejaran hantu. Seketika netranya membulat sempurna saat kesadarannya kembali. Ia begitu takjub menyaksikan keempat sisi dinding ruangan tersebut di penuhi deretan baju-baju dengan design mewah di dalam lemari kaca seukuran lebar dindingnya. Sepatu, tas juga beragam accesories ikut tertata rapi dalam etalase di sisi kiri kanan pintu di mana Ia berdiri kini.
Sebuah cermin seukuran tinggi melebihi posturnya berdiri tegap di tengah-tengah ruangan tersebut. Sekali lagi Ia menatap wajahnya di sana. Semua terasa bagai mimpi. Ia seperti sedang berada di dunia antah berantah. Bahkan kali ini Ia seperti tidak mengenal wajah di balik cermin itu.
"Jika ini mimpi, aku pengen cepet bangun dari semua ini. Ini bukan duniaku." gumamnya lirih.
Ia sama sekali tidak tertarik akan mimpi indah di depan mata, yaitu hidup dengan gelimang harta bersama si pemaksa. Ia selalu berusaha menyadarkan dirinya bahwa Ia bukan siapa-siapa. Bahwa Ia berasal dari keluarga tak mampu. Bahwa Ia amatlah berbeda level dengan Bang yusuf bak langit dan bumi.
Ia tak ingin terlena dengan buaian mimpi ini, sebab Ia takut terhempas jatuh yang begitu menyakitkan.
Seketika Ia sadar tujuannya berada di ruangan tersebut. Buru-buru Ia mengeluarkan isi paperbag yang Ia bawa. beberapa setel pakaian hijab warna senada tapi beda model. Ia mematut satu persatu, dan pilihannya jatuh pada sebuah long dress flowly dengan pilihan hijab pashmina warna ungu.
Beberapa menit berlalu.
Kecantikan nya kini kian bertambah level setelah semuanya sempurna. Ia kini benar pangling dengan dirinya sendiri. Seketika Ia merasa malu untuk keluar dari ruangan tersebut. Tapi suara Farah yang sedari tadi memanggil-manggil namanya, akhirnya memaksa Ia perlahan membuka pintu.
Ceklek. Pintu terbuka.
Ia keluar dengan menunduk. Tak berani menatap wajah si Pemaksa yang kini entah seperti apa ekspresi yang ditunjukkannya.
"Waaoow, amazing, so beautiful!" Pekik Theo histeris saat Ia berjalan mendekat.
"Oh, God, Help me!" Batinnya.
***
* Yusuf
Entah sudah berapa kali Ia berganti posisi duduk di sofa empuk yang Ia duduki. Ini kali pertama Ia menunggui seorang wanita di salon. Sesuatu yang selama ini dihindarinya. Menunggu dengan bodoh tanpa tahu harus ngapain.
"Astaga bisa stress gue kalau tiap hari harus ngantarin dia ke salon gini." Sungutnya sembari manyandarkan kepala di bahu sofa yang sedang didudukinya.
Ia seketika bak tersihir untuk tidak berkedip saat menatap penampakkan yang begitu memesona sedang berdiri menatapnya. Yah, Fathin, si gadis bermata sendu sedang berdiri dengan begitu anggunnya di sana.
Gadis itu kini nampak sedikit lebih dewasa. Benar-benar pemandangan yang menakjubkan baginya. Kecantikan gadis itu kian berlipat-lipat. Tanpa sadar Ia berdiri dan berjalan perlahan mendekat. Berdiri tepat di hadapan Fathin yang kini telah menundukkan wajahnya.
Ia tidak bisa untuk tidak memuji gadis yang kini kian memenuhi seluruh ruang di hatinya itu. Tapi senyum simpul yang di tujukan Theo seketika menahannya. Gengsinya tiba-tiba membuatnya kesulitan menemukan kata-kata yang pas.
"Thank's, brow!" Ia malah memuji Theo yang sedari tadi sibuk memberi segala macam pujian untuk gadisnya itu.
"Gimenong? Kasi penilaian dong, Ihh gemmoy deh, gengsi amat sih!"
"Orangnya nunduk trus dari tadi, jadi nggak tau hasilnya gimana?" Ucapnya datar berniat memancing ekspresi gadis itu, dan benar saja, seketika Fathin mengangkat wajah cantiknya. Menatap dengan mata sendu tapi menghujam, sedikit tersenyum tapi cukup menciptakan desiran indah yang menambah debaran di dadanya.
"Apa ini, kenapa jantung gue berdebar gini? Gue sakit jantung?" Seketika Ia tidak mengerti dengan apa yang dirasakannya kini. Ia tidak pernah merasakan desiran serupa sebelum ini.
Tap.. tap..
Tepukan tangan Theo sontak menyadarkannya. Ia berlagak mengusap ujung hidungnya. Satu tangannya masuk ke dalam saku celananya.
"Perfecto!" Pujinya kemudian.
"Huumm biar lebih cucco, lo gantian juga gih warna senada biar couple-an, Ok?"
"Harus ya?"
"Ya iyalah, masa ceweknya udah seperfect ini, cowoknya amburadul. Jangan dong, kalau kayak gini lo dikira abang yang lagi anterin adiknya ke tempat acara tau nggak?"
"Lo bilangin gua tua?" Sungutnya tidak terima.
Ppffftt..
Gadis cantik di depannya menahan tawa, membuatnya seketika menatap tajam wajah itu. Tapi Ia sedang malas berdebat. Sebentar lagi acara papanya akan dimulai. Ia pun mengikut pasrah saat Theo mulai beraksi di rambut dan wajahnya. Merapikan segala macam bulu di sekitar wajah tampan miliknya.
"Exelent! Eikeh yakin, lo berdua bakal jadi The center of attention di sana!" Pekik Theo saat keduanya telah siap beranjak meninggalkan tempat itu.
"Lo emang jago banget yah cari calon bini, cantiknya kebangetan, saingan eikeh bingits. hihihi.. eh btw, eikeh kelarin sisa kerjaan dulu yah, ntar eikeh nyusul, ehem, ehmm, Sup, gebetan eikeh si Eric yang cakepnya ngalahin lo da__,?" Ia seketika memberi tatapan tajam ke arah Theo yang masih cengengesan dengan gaya centilnya. Seketika pria kemayu itu menghentikan ocehannya, meringis lucu dan berucap pelan,
"Iya, iyah, lo yang terganteng. Erik mah lewat, hehehe!"
"Gue jalan dulu. Gue udah transfer!" Ucapnya datar. Berpaling sejenak ke arah Fathin dan seperti biasa tanpa permisi, menggandeng tangan halus milik gadis itu.
__ADS_1
"Eh, lo apaan sih, lo nganggap eikeh orang lain? pake acara te-ef segala."
"No, lagi seneng aja, lo udah jadiin gadis gue bidadari malam ini. So, you worth it!"
"Kalau gitu, sering-sering ajha ke sini, biar salon gue bisa cepet guede. hehehe!" Ia tak berniat meladeni sepik-sepik unfaedah dari Theo, memilih beranjak menuju pintu keluar masih dengan posisi menggandeng tangan Fathin.
***
*Fathin
Sepanjang perjalanan hatinya tak henti berdebar tak menentu. Ia bukan tak menyadari jika sedari tadi bang Yusuf sering sekali menatapnya dengan tatapan yang sulit diartikan.
Ia benar-benar sedang berada di situasi yang sangat tidak nyaman. Tatapan manik elang di sampingnya, belum lagi bayangan pertemuan dengan keluarga besar si pemaksa sebentar lagi. Sungguh membuat adrenalinnya berpacu kuat. Debaran dada yang Ia rasa kian menyiksanya tak pelak menjadikannya tak tenang.
Seketika telapak tangannya dingin dan berkeringat, membuat si kecil Farah bertanya polos,
"Aunty lagi takut di hukum yah, kok tangannya keringatan? soalnya Farah juga suka gitu kalau pas lagi telat atau nggak ngerjain pe er. Takut di marahin sama bu guru." Jelas saja gadis kecil itu bisa merasakannya sebab sedari tadi tangannya tak pernah lepas dari genggaman tangan kecil itu.
"Eng_enggak, kok. I_ini mungkin aunty kepanasan sayang, soalnya nggak biasa pake make up kayak gini!" Kilahnya menjawab asal. Sekilas melirik si pemaksa yang yang seketika bersuara menekankan.
"Nggak ingat aku ngomong apa tadi? nggak usah mikir yang macem-macem." Seperti biasa pria itu selalu bisa menebak apa yang ada di pikirannya. Wajahnya seketika memanas. Entah kenapa saat ini Ia ingin meluahkan perasaannya. Tapi, keberaadaan Farah di tempat yang sama membuatnya sekuat hati menahan diri.
Bagaimanapun hal-hal seperti itu tak layak terjadi di hadapan anak kecil polos seperti itu.
"Ya, Tuhan, nih orang jahat banget sih. Kenapa aku harus bertemu dengannya?" Sesalnya dalam hati.
Tanpa terasa mobil tersebut memasuki pelataran sebuah rumah besar nan megah. Sepanjang jalanan masuk dan pelataran rumah tersebut berjejer segala macam type mobil. Ia kian bisa menebak seperti apa orang-orang yang ada di dalam sana.
Ia mulai membayangkan wajah-wajah cantik dan tampan plus dandanan glamour seperti yang biasa di tontonnya dalam sinetron-sinetron di TV.
"Nih, minum dulu. Biar lebih rileks!" Ia terhenyak dari lamunannya saat bang Yusuf menyodorkannya botol mineral yang sudah ia buka sealnya beserta pipet. Ia nampak ragu. Tapi anggukan si wajah datar itu membuat Ia akhirnya meraih botol tersebut. menyedot sedikit, sekedar membasahi tenggorokannya yang terasa kering kerontang akibat nervous yang dialaminya.
Wajahnya kembali menegang saat pintu mobil terbuka oleh pria itu yang kemudian mengajaknya turun. Ia terhenyak saat gadis kecil, Farah turun dari mobil mendahuluinya dan langsung berlari masuk ke dalam rumah.
"Ayo!"
"A_aku takut, Kak!" Tanpa sadar kedua tangannya mencengkeram lengan pria itu. Ia berucap memelas sembari menggeleng menatap wajah yang kian tampan setelah Theo merapikan wajahnya dan rambut gondrongnya yang dibiarkan terurai.
Untuk sekian detik tatapan keduanya beradu dan mengunci. Sudut bibir si pemaksa tiba-tiba tertarik membentuk senyum tipis. Dalam hati Ia memuji ciptaan Tuhan yang sedang di hadapannya kini.
"Kamu cantik sekali malam ini. Aku suka." suara berat itu tiba-tiba menyadarkan Ia akan keterpanaannya juga cengkeraman tangannya yang masih mengerat di lengan kokoh pria itu. Wajahnya seketika merona sebab rasa malu. Dengan gerakan cepat, Ia menurunkan tangannya.
"M_maaf, Kak. A_aku nggak sengaja." ucapnya tergagap.
"Nggak pa pa, aku suka kamu begini." Yusuf tersenyum simpul tak henti menatapnya.
"Everything's will be Ok, hum?"
"T_tapi, Kak, A_aku nggak pede berada di tengah-tengah orang-orang kaya seperti kalian. Nggak usah masuk yah, Kak, please!"
"Aku bener-bener nggak berani. Aku takut bakal malu-maluin ntar di dalam. Orang seperti kalian kan harus pake aturan ini itu. Makannya harus beginilah, jalannya mesti begitulah. Lain kali aja yah, Kak?"
Untuk kesekian kalinya Ia berusaha menghindari pertemuan menegangkan itu dengan memohon, memelas pada si pemaksa itu meski sebenarnya Ia sudah tahu jawaban apa yang akan diterimanya.
"Ck, bisa nggak kamu tuh berhenti dengan pembahasan tentang orang kaya, orang kaya. Mau sampai kapan kita di sini?" Manik setajam elang kini kembali ke mode seperti biasa.
"M_maaf, Kak! T_tapi di dalem nanti kakak nggak akan ninggalin aku sendirian kan?" Yakin kan Ia sebelum Ia memutuskan untuk masuk.
"Kamu udah mulai takut aku tinggalin?" Yusuf tersenyum simpul.
"Iihh apaan sih, maksud aku ka__,"
"Aku janji bakal ada di samping kamu teruss sampe kamu bosan liat muka aku." Potong yusuf.
"Ck, lagi serius juga." Ia mencebik lucu, membuat pria tampan itu tergelak.
"Iya, iya, yang ini serius. Ayo masuk, Aku kenalin ke papa sama kakak-kakak juga abang-abang aku di dalem!"
"T_tapi ini tangannya di lepas dulu. Nggak enak diliatin orang-orang ntar!" Pintanya lagi.
"Berisik!"
"Come on!"
"Kepalanya di tegakkin, jangan nunduk, trus smile!"
"Ribet amat!" Tapi meski begitu Ia akhirnya dengan terpaksa pasrah saat pria keras kepala itu menautkan jari mereka. Mulai berjalan sesuai arahan si pemaksa tersebut.
Suasana ramai kian menggema di ruangan itu. Kaki serasa tak menyentuh lantai kini, tubuhnya bak melayang, ringan. Debaran dadanya saling berkejaran seirama langkah kakinya. Seluruh tubuhnya ikut meremang. Bagaimana tidak, mereka berdua benar-benar jadi pusat perhatian di sepanjang pintu masuk hingga ke tempat di mana semua orang sedang berkumpul.
Ia tidak sedang bermimpi. Ia kini sedang berada di hadapan seorang pria paruh baya dengan delapan orang perempuan cantik juga Beberapa pria dewasa mengelilinya. Semuanya tersenyum lebar ke arahnya.
"Everything's will be Ok, sayang!" Bisik Yusuf, membuat lagi-lagi bulu kuduknya meremang.
__ADS_1
TBC>>>