MUJAHADAH CINTAKU

MUJAHADAH CINTAKU
* Episode 17. One Step Closer


__ADS_3

* Fathin


Di salah satu resto terfavorit di lantai tiga sebuah pusat perbelanjaan terbesar di kota ini. Keduanya duduk saling berhadapan. Menikmati hidangan makan siang. Sesekali Ia melayangkan pandangannya ke wajah bersih milik bang Yusuf di hadapannya. Mencoba mencari keseriusan atas ucapannya di kampus sejam yang lalu. Tapi, ekspresi datar dan cuek yang sedang di tunjukkan membuatnya kesulitan untuk menebak.


Otaknya kembali melakukan flashback. Tak pernah sedikitpun terbersit di kepalanya akan bertemu makhluk paling menyebalkan seperti Yusuf. Orang dengan type to the point dalam segala hal. Tak perduli orang suka atau tidak, si pemaksa itu akan melakukan apapun yang Ia mau, bahkan pada hal-hal yang sebagian orang butuh stok keberanian yang banyak juga strategi mumpuni untuk bisa melakukannya, semisal mengutarakan perasaan cinta pada lawan jenis. Sekali lagi dengan gaya khasnya, tanpa basa-basi.


Ia tak henti menyesali nasib sialnya mengenal sosok Yusuf. Sosok yang dalam sekejab, hanya dalam hitungan beberapa hari telah membuat hidupnya jungkir balik bak roller coaster. Masuk kampus pada akhirnya tidak sesuai ekspectasinya selama ini. Ia telah banyak membayangkan bagaimana bahagianya menjadi mahasiswa, sebuah simbol pencapaian akademik terbaik. Menjalani kuliah dengan seabrek planning pencapaian demi pencapaian yang ingin diraihnya. Tapi, sepertinya teori Mengelola Hidup dan Merencanakan Masa Depan seperti yang sudah Ia petakan, harus Ia rubah polanya.


Kali ini sepertinya Ia harus mengelola strategi dengan menyatukan planning fase kuliah dan menikah dalam satu pola sekaligus. Pria yang satu ini bisa dipastikan tidak main-main dengan ucapannya. Membantah, sama saja dengan bunuh diri. Lagian dalam hal ini Ia tidak diberi pilihan.


Pass word "Aku nggak pernah terima penolakan!", menjadi kode keras bahwa Ia hanya boleh mendengar lalu patuhi sebab,


His wish is her command. Titik.


Ia terus mendesah tak percaya dengan apa yang dialaminya kini. Mendengarkan semua hal tentang Pria itu, tentang planningnya setelah wisuda, tentang rencana melamarnya setelah semua urusan kampus si pemaksa itu selesai juga perintah absurd kali ini yang memaksanya keliling mall mencari kado ultah yang cocok untuk papanya bang Yusuf. Bahkan si Pemaksa itu tidak memberinya izin untuk terlalu lama bersepik-sepik ria dengan Mitha di panggilan telephonnya barusan.


Ingin rasanya Ia meluahkan umpatan kekesalannya, tapi nyalinya tidak cukup besar untuk melakukan itu. Bahkan untuk sekedar melawan tatapan tajam manik coklat menawan itu, Ia benar-benar menciut. Telak!


"Menurut kamu, kado apa yang cocok untuk papa?" Lamunannya seketika buyar dengan pertanyaan yusuf yang tiba-tiba. Ia gelagapan tak memiliki siapan ide apapun.


"Ng_nggak ada bayangan sama skali. Saya_ maksudnya aku nggak tau beliau sukanya apa, ketemu orangnya aja belum, kan?" Ia menggeleng dengan mata yang kian sendu. Menambah level kecantikannya naik bertingkat-tingkat. Wajah tampan itu seketika Tersenyum simpul menatapnya lekat. Menyadari hal ini, Ia secepat kilat menundukkan wajahnya yang terasa meremang.


"Jangan liat!" Ketusnya pura-pura sembari masih menunduk, melihat makanannya yang hampir ludes tersapu masuk ke perut laparnya.


"Kenapa, salah, liat calon istri sendiri?" Ia membulatkan netranya kembali terangkat, menyorot jengah menatap kearah wajah yang tak berhenti dengan senyum simpulnya.


"Aku nggak main-main soal ini. Ntar malam acara ultah papa. Aku akan ngenalin kamu ke keluarga besar aku." lagi-lagi hatinya mencelos. Membuatnya tanpa sadar berucap lirih.


"Kak, pleasee..! Aku salah apa sih sebenarnya, ngehukumnya segini banget! Ok, kalau aku ada salah, aku minta maaf dari ujung kaki sampe ujung rambut Kakak." Tanpa sadar tangannya terulur dan menyentuh lembut tangan Yusuf.


"Aku cuma mau kuliah. Aku pengen berhasil dan bisa pulang ke kampung dengan bawa titel sarjana. Aku mohon, tolong biarkan aku kuliah, Kak! aku bakal lakuin apa ajha buat kakak, terserah mau dijadiin kacung skalian nggak apa2.. asal jangan paksa aku nikah, pacaran aja aku nggak pernah, masa tiba-tiba mau nikah. Tolong, Kak, Pleasee...!" Manik sendunya mulai berkaca-kaca.


"Ck, pacarannya ntar abis nikah, kamu nggak akan berhenti kuliah. Kampus itu dunia yang memberi kita ruang bebas untuk berekspresi. Kamu bisa menjadi mahasiswi plus IRT sekaligus!"


"Kamu nggak usah kerja. Aku yang akan biayain kuliah kamu. Kamu akan jadi sarjana, I promise! kamu tetap kuliah sembari jadi istri untukku dan Ibu untuk anak-anak kita. Titik. Aku nggak mau bahas ini lagi!" Wajah itu kembali menegas.


"T_tapi, Kak! Kita ajha baru kenal beberapa hari yang lalu. Kita blum saling mengenal dalam segala hal. Dan, aku ngerasa bukan orang yang tepat untuk kakak. Aku dari keluarga yang nggak punya. Keluarga kita nggak selevel. Gimana kalau nantinya aku nggak bisa jadi istri yang baik buat kakak atw sebaliknya?"


"Lagian aku masih muda sementara kakak udah tua. Nggak cocok. Kita terpaut ja__," Ia tercekat tak berani melanjutkan kicauannya sebab tatapan tajam menghujam di depannya kini bersorot mengerikan.


"Sekali lagi kamu ngelantur nggak jelas gini, aku nggak akan segan cium kamu di tempat ini!" Kali ini fix Ia kehabisan kata, bahkan stok tenaganya seakan ikut terkuras sebab seketika kakinya lemas tak berdaya. Ia menggeleng keras, menutup mulutnya dan menunduk cepat.


"Kita cari kado skarang!" blum sempat Ia menyahuti tangannya sudah di tarik oleh yusuf. Berjalan keluar dari restaurant setelah sebelumnya membayar makanan mereka.


Ingin rasanya Ia mencekik si pemaksa itu. Kesabarannya benar-benar sedang diuji.


Keduanya mulai menyusuri tiap store di lantai tiga. Ia berkali-kali berdecih menyaksikan banyaknya gadis-gadis yang melayangkan tatapan mendamba pada sosok yusuf. Tidak sedikit dari mereka yang malah nekat pura-pura menabrak tubuh gagah pria itu. Awalnya Ia berlagak cuek tak perduli. Tapi lama-lama Ia mulai jengah dengan tingkah para gadis itu yang dinilainya tiada rasa malu lagi sebagai wanita.


Beberapa kali Ia berusaha melepas genggaman tangan yusuf, tapi gagal. Hampir semua orang yang mereka lewati menatap sembari senyum-senyum, membuat tangan itu malah kian erat menautkan jari ke jari lentiknya.


"Kenapa, kamu cemburu sama gadis-gadis itu, hum?"


"Cih, ngapain juga cemburu. Tuh banyak yang gila ama kakak, Kenapa nggak salah satu dari mereka ajha yang kakak jadiin istri?"


"Ya udah, kalau nggak cemburu mukanya jangan gitu. Ngurangin cantiknya, aku nggak suka!" Ia bersungut tak jelas.


"Blum ada ide untuk kado papa?" Bariton itu kembali berbunyi.


"Ehmm,, ini ultah yang keberapa?"


"Tujuh lima!" Ia terlihat berfikir keras.


"Gimana kalau perlengkapan shalat ajha. Ya, untuk mewakili doa dan harapan keluarga. Sebagai anak, pastinya kita berharap papa bisa semakin baik sebagai imam dalam keluaga. Juga semoga di usianya yang udah senja beliau bisa lebih dekat sama Allah dengan memperbanyak ibadah."


"I_itu saran ajha, Kak, nggak ada niat menggurui apalagi nyumpahin. benner!"


"Ehmm, Kita? Iya yah, kita berdua emang berharap begitu. Kamu emang calon menantu terbaik papa. Aku ajha nggak kepikiran kearah sana." Sudut bibir pria itu tertarik untuk kesekian kalinya.


"Apaan sih, itu tadi lidah aku lagi keseleo, salah ngomong!" Ia mencebik, tapi dalam hati ikutan tertawa.


Setelah berkeliling mereka akhirnya mendapati sebuah gerai perlengkapan muslim terlengkap di lantai dua.


"ANDALUSIA Moeslem Store"


Ia sempat membaca nama gerai tersebut. Ia pun mulai memilah dan memilih sesuai instruksi dari bang Yusuf. Warna yang dipilih sesuai warna kesukaan papa dari si pemaksa itu, Abu atau Navi. Berkali-kali manik plus mulutnya membulat bersamaan tiap kali mendengar harga dari tiap item yang di pilih bang Yusuf. Merasa amazing sebab ini jauh dari gaya hidup sederhananya, Sungguh perbedaan bak langit dan bumi. Sebenarnya Ia ingin protes tapi isyarat jari telunjuk di bibir si pemaksa itu seketika menahannya.


"Tolong kamu pilihin juga untuk si ratu yang dirumah, Istri kesayangan papa!" Nada bang Yusuf sedikit ketus saat menyebut istri kesayangan papanya. Seketika rasa kepo melandanya.


"Istri papa? bukannya itu berarti mamanya Kakak?" Ia tak bisa menahan diri untuk tidak bertanya.

__ADS_1


"Step mother!" Kembali ketus.


Ia pun mengangguk. Memilih untuk tidak melanjutkan pembahasan dan kembali menyapukan pandangannya pada deretan mukena design mewah nan elegan yang sedang di pajang di beberapa manekin. Ia pun mengambil salah satu yang berwarna senada dengan perlengkapan shalat milik pak wahyu. Ia juga memilih sajadah yang super tebal dan lembut demi kenyamanan ibadah keduanya.


Urusan kado kelar. Untung saja gerai tersebut menyediakan layanan packing kado sehingga Ia tidak harus di buat sibuk mengurusi bungkusan kado tersebut.


"Kamu juga pilih sekalian yang kamu suka. Apa aja." Bang Yusuf menatapnya sekilas.


"Nggak usah. Aku masih ada di rumah."


"Ini perintah bukan tawaran, Cepat!"


"T_tapi aku nggak biasa pake barang mahal. Di sini semua serba mahal harganya. Kita ca__,"


"Kamu suka warna apa?" Lagi-lagi si pemaksa itu tidak memberinya celah untuk menolak.


"Peach!" Jawabnya singkat.


"Tunggu di sini!" Ia menunduk tapi ekor matanya masih sempat menangkap bayangan bang Yusuf berjalan ke arah jejeran manekin bermukena mewah khusus cewek di sisi lainnya. Dengan di bantu seorang pelayan gerai tersebut Yusuf benar-benar membeli apapun yang menurutnya bagus untuk nya. Perasaannya menjadi tidak karuan.


"Astaga, uangnya sebanyak apa sih? Hobby banget hamburin uang!" Desahnya dalam hati. Ia ingin menghentikan aksi pria itu tapi tertahan sebab si pemaksa sudah lebih dulu berjalan kearahnya dengan menenteng beberapa paper bag bermuatan penuh.


"Buat kamu. Nggak terima penolakan!" Lagi-lagi pass wordnya seperti biasa. Apalagi yang bisa dilakukannya selain menerima, patuh, mendesah kesal trus mengutuk ,tentunya dalam hati. Ia hendak meraih, mengambil alih semua paperbag itu tapi di cegah oleh yusuf.


"Biar aku yang bawa!"


"Makasih! Dasar orang kaya. Nggak bijak ngeluarin duit. Daripada di hamburin nggak guna mending sedekah sana sama anak jalanan atau ke siapa kek, biar ber__,"


"Kah... berkah! itukan yang mau kamu bilang? kamu nggak tau kalau sedekah terbaik itu adalah kepada ahli keluarga, dan itu yang lagi aku lakukan sekarang. Sedekah untuk bokap dan calon istri aku, salahnya dimana?" Ia mengendik tak menyahuti. Bagaimanapun Ia tidak akan pernah menang dari si pemaksa itu dalam hal apapun.


Sudut matanya menangkap senyum simpul dari beberapa pelayan gerai yang sedang menatap keduanya.


"Kita ke butik tante Randa dulu. Kamu cari baju. Aku mau kamu tampil cantik di acara papa ntar malam. Sekalian cari baju untuk kamu pake ke acara makrab."


"Kamu bosnya. ini perintah, bukan tawaran kan?" sahutnya mencebik, membuat si pemaksa itu tergelak untuk pertama kalinya.


"Ya Tuhan,, ganteng banget kalau lagi tertawa gitu!" Gumamnya takjub dalam hati. Ia tertawa tertahan membentuk senyum di kulum.


Sama-sama untuk yang pertama kalinya bagi keduanya. Senyum dan tawa yang seakan manyibak salah satu dari ribuan tabir yang dibuatnya selama ini.


One step closer! bagi si pemaksa itu tentunya.


_____


Serasa mendapat sebuah golden ticket untuk melanjutkan perjuangannya meraih hati gadis bermata sendu itu, saat netranya menyaksikan untuk pertama kalinya, si gadis tersenyum simpul di hadapannya. Ia kian yakin dengan takdir baik yang Ia harapkan akan menyatukan mereka berdua, sebentar lagi.


Ia terlanjur jatuh hati dengan pesona gadis itu pada pandangan pertama. Entah sihir apa yang melekat pada sorot manik sendu itu. Selama ini puluhan gadis cantik yang antri ingin menjadi kekasihnya, tak sedikitpun membuatnya bergeming. Beberapa di antaranya bahkan tanpa malu-malu menawarkan diri meski sebatas One night stand, berharap bisa memiliki anak darinya. Lagi-lagi tak pernah sekalipun digubrisnya. Wajah tampan rupawan, kulit putih khas pria, sifat cuek dan sulit di dekati menjadi daya tarik tersendiri untuknya.


Jika mau, Ia bisa dengan mudah memilih satu diantara mereka untuk dijadikan istri. Tapi baginya sesuatu yang berharga pasti akan butuh usaha yang tidak sedikit untuk menggapainya.


Fathin adalah sesuatu yang berharga, sebab mendapatkannya ternyata tidak mudah. Ia sampai harus dengan tega menjadikan posisi ketidakberdayaan gadis itu di masa ospek untuk bisa memberi perintah-perintah absurd sebagai aksi modusnya untuk mendekati gadis bermata indah itu. Ia tidak begitu perduli dengan kata cinta.


Satu hal yang Ia yakini, rasa cinta itu akan tumbuh dengan seringnya bersama. Untuk itulah Ia tidak memberi jeda untuk mempepeti gadis itu setiap ada kesempatan.


Seperti biasa Ia tidak bisa membiarkan perjalanan kali ini terlewatkan begitu saja tanpa menggenggam tangan halus itu. Berjalan dengan senyum simpulnya, melewati tatapan kagum para fans sejatinya, para emak-emak pemburu mantu setampan dirinya.


Sesekali Ia memberi hormat dengan sedikit membungkukkan badannya sebagai tanda penghargaannya kepada para wanita hebat itu. Meskipun sifatnya brutalan, masa bodoh dalam banyak hal tapi Ia peduli dengan satu sosok luarbiasa yang bernama "Ibu". Mungkin satu-satunya wanita bernama ibu yang tidak disukainya adalah wanita yang telah sah jadi Istri papanya saat ini. Entahlah!


"Hallo tampan,, aduh adiknya cantik banget ya, bisa nih kayaknya saya jadiin mantu. Anak saya baik lho, gantengnya juga beda tipis sama abangnya. hehehehe!" Seorang wanita paruh baya pemilik toko aksesoris yang mereka lewati tiba-tiba berseru cengengesan sembari memegang pipi Fathin.


Ppffft...


Fathin terlihat menahan tawa.


"Ehm, maaf, ini calon istri saya, bukan adik, ok!"


"Di jodohin yah, kayak baru tamat SMA nih!" Ibu itu nampak terkesima tak percaya, kembali mengelus pipi sehalus kulit bayi milik gadisnya yang sedari tadi masih mengulum senyum, menahan tawa.


"Nggak, di paksa nikah! permisi!" Ketusnya dan tanpa menunggu si ibu menyahuti Ia kembali menarik tangan Fathin berjalan menjauhi si ibu yang masih cengengesan di sana.


"Ahahahaha...! Muka kakak lucu banget kalau lagi nahan erosi kayak gini." Tawa gadis itu akhirnya pecah, dan seperti biasa wajah datar dan tatapan tajam adalah senjata baginya untuk menghentikannya.


"Apanya yang lucu, hum?" Ia bertanya sembari mendekatkan wajahnya ke wajah Fathin. Gadis itu tergagap dan dengan refleks menghindar dengan melangkah mundur ke belakang. Ia pun mengikuti langkah itu dengan melangkah maju, maju dan maju sampai Fathin berhenti di sebuah besi pembatas di samping tangga eskalator. Gadis itu memekik histeris. Hampir saja gadis itu terjatuh jika saja tangannya kalah cepat menangkap tubuh ramping itu.


Gadis itu terpejam seperti ketakutan dan refleks memeluk tubuh tegapnya dengan erat tak ingin terlepas. Adegan tersebut benar-benar membuat tubuh mereka rapat saling menyentuh. Tanpa sadar pelukan itu saling mengunci, untuk beberapa saat dadanya bergemuruh menahan debaran aneh yang tiba-tiba menjalarinya.


"Kak, tolong, aku takut jatuh! Tolong, Kak, hiks.. hiks..!" Gadis itu benar-benar seperti sedang mengalami phobia. Terisak dengan tubuh gemetar, keningnya berkeringat dingin, dan astaga Ia mulai panik tangan gadisnya kini terasa sedingin es.


Ia menangkup wajah cantik itu yang sedang memejam dengan terisak.

__ADS_1


"Fathin, dek, Kamu kenapa? Hey, tangan kamu dingin banget." Ia mengitarkan pandangannya. orang-orang berlarian kearahnya.


"Itu adiknya kenapa, Mas?"


"Dia lagi shock. Tolong bawain belanjaan saya ke bawah mbak!" Pintanya pada seorang wanita sebaya citra, kakaknya, yang terlihat ikut panik melihat kondisi fathin, Ia mengeluarkan kunci mobil dari saku celana dan secepat kilat mengangkat tubuh mungil Fathin yang sudah lemas tak berdaya. Pinsan! .


Dia berlari menuruni tangga ke lantai satu membawa tubuh Fathin ke arah parkiran dan buru-buru menekan tombol kunci mobil yng sedang dipegangnya.


"Tolong bukain pintunya, Mbak!" Nafasnya sedikit tersengal sebab berlari dari lantai dua bersama tubuh fathin.


"I_iya mas!" Wanita itu dengan sigap membuka pintu. Ia pun membaringkan tubuh fathin di belakang kemudi. Membuka jaketnya cepat dan menutupkannya ke badan gadisnya dengan tergesa.


"Ini blanjaannya, Mas!" Ia meraih semua paperbagnya dan meletakkan di samping kemudi. Menutup cepat pintunya.


"Trima kasih banyak, Mbak. saya ke rumah sakit sekarang!" Tanpa menunggu jawaban dari wanita itu Ia langsung berlari memutari mobilnya, dan dalam sekejap melesat keluar dari parkiran mall itu dan dengan kecepatan tinggi membelah jalan menuju rumah sakit. Beruntung sebelumnya Ia terfikir menukar motor besarnya dengan mobil kesayangannya sebab tidak ingin fathin kepanasan di atas motor.


"Sorry, aku benner-benner nggak sengaja!" Ia berucap frustasi. Menatap wajah cantik yang nampak pucat di belakang sana lewat rear-vision mirror di depannya. Refleks tangannya memukul sterring mobilnya.


"M_maaf, Kak! A_aku cuma becanda tadi." Lamat-lamat gadis itu terdengar bersuara pelan.


Netranya kembali menatap rear-vision mirror dan mendapati gadis itu bergerak pelan, memijit pelan pelipisnya. Ia yang masih panik seketika menepikan mobilnya di bahu jalan. Berlari keluar dari mobil dan masuk kembali di blakang kemudi di mana Fathin berada.


"Kamu nggak apa-apa?" Tanyanya khawatir sembari manangkup wajah cantik itu. Menyapukan pandangannya ke seluruh tubuh gadisnya. Kali ini untuk pertama kalinya Ia begitu mengkhawatirkan seorang gadis selain keluarganya.


"Ng_nggak pa pa! M_makasih, Kakak udah nyelamatin aku tadi." Fathin berusaha membasahi bibirnya yang kering.


"A_aku haus, Kak!" Imbuh gadis itu lirih.


"I_iya, Sorry aku terlalu panik sampe lupa ngasi kamu minum." ucapnya tergagap sembari mengambil air minum di saku jok kemudi. Ia benar-benar lupa segalanya saat ini. Bahkan teori penanganan pasien dalam kondisi seperti ini tetiba tak terpikirkan olehnya saking paniknya.


"Ayo, Kamu minum dulu!" Ia berusaha mendudukkan gadis itu perlahan penuh hati-hati dan meminumkan gadisnya.


"Kita ke rumah sakit sekarang. Aku lagi nggak ada siapan alat skarang. Kita harus memastikan kamu beneran nggak apa-apa!"


"Ng_nggak mau. Aku emang phobia dengan posisi yang hampir jatuh seperti tadi. Aku pernah jatuh dari ketinggian waktu smp dan itu bikin trauma yang nggak selesai sampe jadi phobia sampe sekarang."


"Tapi kamu lemes banget skarang!"


"Ng_nggak mau. Aku nggak suka bau rumah sakit!" Gadis itu tetap bersikeras menolak. Ia bisa saja memaksa fathin seperti biasa, tapi manik sendu yang sedang memelas lemah itu seketika menyihirnya pasrah.


"Tolong anterin aku ke kamar Azhar ajha. Aku cuma butuh istrahat bentar. Ini nggak akan lama, kok! pleasee!"


"Sure?" Ia kembali memastikan.


Gadis cantik itu mengangguk tanpa menyahuti.


"Aku bantuin, kita pindah ke depan. Aku nggak mau kamu sendirian di sini. Jangan membantah lagi!" Ia kembali ke mode awal, tegas memaksa.


Astaga....


_____


*Azhar


Ia telah selesai dengan seabrek agenda hari terakhir ospek. Ia berniat pulang merehatkan diri sembari menunggu acara makrab fakultasnya malam nanti. Ia berjalan ke arah parkiran. Dari jauh Ia sudah melihat Akram sedang melakukan panggilan telephon sembari duduk menegak di atas motor sportnya.


"Ok, ok, aku sama Azhar pulang sekarang!" Ia sempat menangkap pembicaraan Akram dengan seseorang di panggilannya.


"Ada apa?" Tanyanya tak sabar.


"Kita pulang sekarang, Zhar, Fathin kambuh lagi phobianya. Barusan Mitha telfon!"


Tanpa banyak tanya Ia langsung menghidupkan motor sportnya dan melesat cepat meninggalkan halaman fakultas diikuti Akram.


Wajahnya mengernyit penuh tanda tanya menjumpai sebuah mobil sedan metalic di depan asramanya.


Tapi Ia tidak mau ambil pusing. Memilih berjalan cepat beriringan dengan Akram menuju kamar kostnya. Dan wajah paniknya seketika berubah mode mendapati Pria yang sama yang memesan satu mobil box pitzza tempo hari. Seketika khawatir, kegilaan apa lagi yang akan terjadi sebentar lagi.


Ia menaikkan alisnya berniat bertanya pada Mitha, yang sedari tadi memijit lembut telapak kaki Fathin, Tapi sahabatnya itu malah melirik si tampan yang sedang mengusap lembut kepala Fathin yang masih tertutup jilbab tanpa memberi jawaban.


"Tadi Fathin hampir jatuh dari lantai dua mall. Tiba-tiba dia gemetar dan keringat dingin dan akhirnya pinsan. Aku udah mau bawa dia ke rumah sakit biar ditangani dengan baik tapi dia nolak, nggak mau. Maunya diantar ke sini." Pria itu tiba-tiba bersuara seakan mengerti isi hatinya.


"Fathin selama ini nggak ada siapan obat, semisal penghambat peningkatan serotonin (SSRIs) untuk meredakan gangguan kecemasan atau beta blockers untuk menangani gejala akibat panik, seperti detak jantung tidak beraturan, atau mungkin benzodiapine untuk menangani gangguan kecemasan yang parah?" Ia menggeleng takjub dengan sosok yang satu ini.


Satu kata untuk si tampan itu,


Keren....!!


TBC >>>

__ADS_1


__ADS_2