
* Yusuf
Ia baru saja kembali ke rumah setelah shalat isya berjamaah di masjid yang terletak tak jauh dari rumah papa. Ia bukan tidak menyadari tatapan dengan segala macam ekspresi dari Papa juga beberapa kakak dan iparnya yang masih belum kembali ke rumah mereka masing-masing sejak kepulangannya sore tadi. Tapi Ia tetaplah Yusuf dengan sifat cuek dan masa bodohnya, seperti biasa. Ia sama sekali tidak ingin ambil pusing tentang semua itu. Yang Ia tau Ia harus berubah, apapun tanggapan orang.
Pakaian yang Ia kenakanpun benar-benar sudah menyerupai Gery sang sahabat. Setelan agamis yang terlihat pas di tubuh atletisnya dan menyatu dengan warna kulitnya yang cerah layaknya kulit pria terawat pada umumnya. Benar-benar membuat ketampanannya kian paripurna.
Citra sampai berdiri terpana dan tanpa sadar berjalan menghampirinya saat Ia masuk ke rumah dengan teriakan salam yang sontak membuat seisi rumah berbalik menatapnya takjub.
"Suf, ini beneran kamu? adik mbak yang super bebal?" Citra bertanya lirih seraya memegang kedua bahunya. Jangan ditanya ekspresi. Kakaknya itu pasti tak kan puas jika bicara tanpa berkaca-kaca.
"Iyalah Mbak, ini Gue, Yusuf pria tertampan di rumah ini. Emang Mbak kira siapa lagi?" Ia malah menggoda kakaknya itu.
Mbak Meisya juga Tiana ikut berdiri dan berjalan ke arahnya dan tanpa aba-aba refleks menarik tangannya dan membawanya duduk bergabung di ruang keluarga, di mana semua sedang terkumpul.
"K_kamu dari mana, Suf? pulang-pulang udah kayak orang kesambet malaikat gini?" Mas Yoga suami dari mbak Citra bertanya tergagap ikut shock.
"Ck, apaan sih! dari masjid lah. Abang nggak liat gue lagi pakaian shalat gini?" Tanyanya masih dengan lagak cueknya.
Mbak citra yang notabene selalu mendadak melankolis seketika beranjak dari sisi suaminya dan menghampirinya dan tanpa basa-basi langsung memeluknya seraya terisak lirih.
"Kamu beneran berubah, Suf? Mbak bahagia banget liat kamu kayak gini. Mama pasti ikutan bahagia liat kamu dari sana, Suf. Mbak bener-bener bangga sama kamu!"
"Makasih, Mbak!" Ia ikutan balas memeluk kakaknya itu.
Ia masih mengusap lembut bahu Citra saat manik tajamnya yang nampak sedikit berkaca-kaca menangkap bayangan Papa bak slow motion yang berdiri dari tempat duduknya dan berjalan ke arahnya. Berdiri di hadapannya dan menatapnya dengan tatapan haru, membuatnya pelan melepas pelukan Citra. Entah kenapa sesal yang begitu besar mendadak menerjang hatinya seketika. Ia pun refleks menunduk dan memeluk lutut Papa seraya terisak.
"Maafin Yusuf, Pah! Selama ini Aku udah sangat ngecewain Papa! Maaf!" Ia terisak dengan bahu yang terguncang menandakan betapa penyesalan besar sedang begitu menderanya saat ini.
Papa dengan buru-buru menarik bahunya menyuruhnya berdiri. Ia pun berdiri masih dengan kepala yang tertunduk tak berani menatap manik tajam tapi lembut berwibawa milik Papa.
"Liat Papa!"
Perlahan Ia pun mengangkat kepalanya dan saat menatap wajah Papa Ia kembali tak kuasa menahan deraian air matanya sebab ternyata Papa juga sedang menangis. Dengan gerakan cepat Ia pun meraih Pria paruh baya itu. Memeluknya seraya tak henti lisannya berucap maaf.
"Papa bahagia liat kamu hari ini, Nak! Telah bertahun-tahun Papa menunggu hari ini tiba. Makasih, Kamu udah mau berubah!"
"Maafin Yusuf, Pah! Maafin!" Ia masih terisak.
Ia begitu terguncang. Membayangkan semua keburukan yang kerap dilakoninya kemaren-kemaren, bahkan tak jarang bersitegang dengan sang Papa membuatnya sungguh hancur kali ini. Ia begitu menyesal telah banyak melewati hari tanpa bakti pada satu-satunya orang tua kandung yang Ia miliki.
"Papa selalu memaafkan Kamu bahkan sebelum kamu memintanya. Papa bisa menjalani hari tua dengan tenang sekarang. Kamu udah bisa Papa harapkan setelah Tio." Papa masih mendekapnya erat. Ia seperti merasakan pelukan Mama dan Papa sekaligus.
"Makasih, Pah!"
Pak Wahyu mengangguk bersama senyum lebar penuh haru. Ia masih berusaha menyeka air matanya saat lamat-lamat telinganya menangkap suara lembut Sang Step Mother yang menyebut namanya. Sontak hatinya kembali terenyuh. Bayangan keketusan nya selama ini pada wanita itu lagi-lagi menyergapnya.
"Ma_mamy, Aku juga minta maaf selama ini udah sering banget nggak sopan sama Mamy!" Ia menunduk tak sanggup menatap wajah teduh wanita paruh baya itu. Manik elangnya kembali berkaca-kaca. Tanpa Ia duga tubuh tegapnya tiba-tiba dipeluk oleh wanita tersebut seraya terisak lirih.
"Mamy nggak pernah marah sama kamu, Nak. Mamy mengerti perasaan kamu. Mamy tau kamu anak baik!"
Tanpa ada rasa malu lagi Ia pun membalas pelukan wanita itu. Ia sampai berjanji akan memperlakukannya seperti Almarhumah Mama.
"Makasih, My!"
"Sama-sama, Nak!"
Satu persatu ipar-iparnya pun ikut berdiri merangkulnya. Semua dilanda haru sekaligus bahagia melihat transformasinya yang begitu mengejutkan itu. Ia pun membalas rangkulan mereka seraya brrucap terimakasih.
"Kalau gitu kita makan dulu, yuk? kayaknya Bibi udah selesai nyiapin semuanya!" Ucap Mamy kemudian memutus rantai keharuan di ruangan tersebut.
Ia pun mengangguk seraya ikut beranjak mengikuti yang lainnya.
"Aku ke atas dulu, mau ganti baju."
"Iyah. kita tunggu di meja makan yah?" Kali ini Mbak Tiana yang menyahut.
"Ok! btw, si kembar sama Fero kemana? dari tadi nggak kedengeran suaranya?" Entah kenapa Ia mulai peduli dengan keberadaan para penghuni rumah besar itu.
"Vero lagi nungguin si kembar yang lagi kerja kelompok sama temennya. Paling bentar lagi pulang!" Kali ini Mbak Citra yang menjawab.
"Anak-anak?" Ia sedikit heran sebab tak melihat ponakan-ponakan super ribut nya sedari tadi.
"Pada main di kamar. Udah pada kenyang smua. Tadi sore di traktir sama Mas Tio!" Sahut Citra lagi.
"Ohh, ya udah, Aku ke atas dulu!" Ucapnya seraya berlari kecil menaiki undakan tangga tanpa menunggu sahutan Mbak Citra di sana.
Ia masuk ke dalam kamarnya. Mencari kaos oblong dan mengganti baju gamis yang Ia kenakan tanpa berniat mengganti celananya. Seketika Ia teringat akan menjemput Fathin. Manik coklatnya segera mencari-cari keberadaan ponselnya. Ia hendak bertanya jam berapa gadisnya mau dijemput tapi sial, ponselnya mati.
"Ntar aja deh, abis makan!" Gumamnya.
Ia pun keluar dari kamarnya setelah men-charge ponsel miliknya dan kembali menuruni tangga menuju ruang makan. Sebelum duduk Ia berjalan ke arah wastafel untuk mencuci tangan sebagaimana sunnah yang diamalkannya selama khuruj. Sudah pasti semua heran melihatnya sebab biasanya Ia mencuci tangan di wadah kecil yang disediakan di meja makan.
Semua tatapan kembali tertuju padanya saat Ia berucap santai,
"Sunnah Nabi kita. Mencuci tangan harus di air mengalir. Biar bersih dari kuman dan yang paling penting, dapat pahala!"
Semua bengong, Terpana dan takjub tentu saja. Ia sekilas melempar senyum tipis ke semua orang di sana dan duduk menyendok makanannya. Tak lupa pelan melafaz basmalah.
__ADS_1
Ia menyendok sedikit garam meja di wadah kecil yang memang selalu sedia di meja makan lalu menjumputnya dengan jari manis dan mencicipinya dengan melafaz lirih do'anya. Lalu makan buah sebelum benar-benar menyantap makanannya.
"Untuk kesehatan lambung!" Ucapnya masih dengan gaya santainya seakan tau tanda tanya pada semua wajah itu.
Semua Gerak-geriknya tak pernah lepas dari semua mata di sana hingga Pak Surya mengurai keheningan tersebut.
"Kamu masih utang janji sama Papa, Kamu bakalan kelarin urusan kampus kamu tahun ini." Papa kembali bersuara tenang penuh wibawa.
"Iya, Pah! Hari senin aku udah pengajuan judul. Mudah-mudahan Allah mudahkan segala sesuatunya biar cepet kelar, Aamiin!" Ucapnya yakin tanpa menyadari tatapan takjub dari semua yang ada di sana. Sebab ini adalah kali pertama baginya berbicara dengan membawa embel-embel nama Tuhan. Papa malah sambil tersenyum tipis sembari mengangguk-angguk.
"Gadis itu, gimana?"
"Baik!"
"Udah mulai kuliah?" Papa bertanya lagi.
"Besok. Sekarang lagi sibuk latihan itu, apa, Qasidah, nggak tau pokoknya yang kayak gitu-gitu deh, katanya sih mereka mw tampil di acara opening MTQ nanti." Sahutnya santai masih mengunyah.
"Wah, keren tuh, Kita harus saksiin tuh penampilan calon ipar nanti, iya nggak, Mbak?" Citra berseru sumringah ke arah Mbak Meisya dan Tiana.
"Pasti, dong! Papa kayaknya dapat undangan khusus deh dari dinas terkait. Ia kan, Pah?" Tanya meisya ikut sumringah.
"Ada kayaknya, ada nggak, My?" Pria berumur itu malah bertanya pada sang Istri yang kemudian dibalas dengan anggukan oleh si mamy.
"Pokonya kita harus bilangin ke Mas Tio sama yang lain kalau malam opening nanti kita semua ke sana biar calon adik ipar tambah semangat, iya nggak?" Citra lagi-lagi riuh tanpa peduli ekspresi Mas Yoga yang malah geleng-geleng kepala melihat kehegaannya.
"Gue duluan. Aku mau jemput Fathin dari tempat latihan."
"Pah, My, Aku ke atas duluan. Ganti baju!"
"Hemm" Papa berdehen sebagai jawaban. Sementara Mamy dan yang lain mengiyakan. Ia pun beranjak.
_____
*Fathin
Sementara di sebuah rumah besar sedari tadi terdengar instrument musik yang menyatu dengan suara rebana dengan beragam bunyi. Menghasilkan musikalisasi yang begitu indah di dengar. Di tambah suara indahnya sebagai Solis menjadikan hampir semua yang mendengarkan maupun yang menyaksikannya nampak terkagum-kagum.
Latihan selama kurang lebih tiga jam benar-benar menguras suaranya. Sebagai solis dalam grup qasidah kali ini jelas Ia harus hati-hati dengan kestabilan suaranya. Jangan sampai tiba hari H suaranya sudah habis selama latihan. Ia memang memiliki suara emas yang lembut dan mendayu. Cengkok lagu Qasidah memang berbeda dari genre lagu yang lain. Tapi Ia sudah cukup berpengalaman untuk warna musik yang satu ini.
Berkali-kali Sang pelatih memuji dengan mengangkat kedua jempol ke arahnya membuatnya beberapa kali mengangguk disertai senyum manisnya. Tanpa sadar ternyata sedari tadi sepasang mata elang yang nampak menahan gejolak di dalam sana, menatap tajam ke arahnya
Hingga di Akhir sesi latihan, saat semuanya berhamburan menuju deretan beberapa sofa di sana untuk merehatkan tubuh, Ia begitu terkesiap saat berbalik hendak mengambil ponselnya di kamar, tetiba manik sendunya bersitatap dengan manik elang sang kekasih, Yusuf yang sedang berdiri di sana dengan kedua tangan masuk ke dalam jaket kulitnya, menatapnya tajam tak berkedip.
Tanpa diminta Ia langsung berjalan cepat ke arah pria itu dan dengan wajah tanpa dosa melampirkan senyum termanisnya bermaksud hendak meluluhkan tatapan beku itu.
"Kak, udah lama?" Tanyanya riang berusaha tenang.
"I-itu tadi, nggak sengaja. Cuma pengen ekspresiin parasaan senang aku soalnya latihannya udah hampir sempurna. Itu aja, kok!" Sahutnya terbata.
"Aku tunggu di luar!" Ia gelagapan melihat dalam sekejap mata, pria gagah itu sudah berbalik pergi tanpa menunggu jawabannya.
"Ishh, Astaga! nyebelin banget, sih!" Ia merutuki kedataran sikap pria itu.
"Huhh, untung ganteng, kalau nggak, ogah gue jatuh cinta sama kanebo kering gitu!" Ia berbalik dan sedikit menghentakan kakinya saat berjalan masuk ke dalam kamar.
Buru-buru Ia meraih tasnya dan menghampiri Mitha yang sedang di dalam kamar mandi.
"Mhit, aku tunggu di luar yah! Kita di jemput sama Kak Yusuf tuh!" Teriaknya.
"Aku juga mau dijemput Akram, Fhat. Kalau mau duluan, jalan ajha, Fhat!"
"Kamu beneran nggak apa-apa, Mhit?"
"It's Ok! kamu duluan ajha!"
"Ya udah, sorry yah gue cabut duluan!"
"Yo'i! see you!"
"Too!"
Ia melangkah buru-buru keluar menuju teras. Tak lupa pamit sebentar pada Pak Radit juga rekan-rekan teamnya yang masih asyik bercengkerama di ruang tengah rumah tersebut. Awalnya Pak Radit tidak setuju Ia pulang malam tapi setelah dijelaskan beberapa alasan real dan diberi tambahan info kalau Ia akan diantar seseorang, Sang instrukturpun akhirnya mengalah pasrah.
"Lama banget! Izin ke orang itu lagi?"
"Iya, kan beliau yang bertanggung jawab sepenuhnya atas kita semua di sini jadi apapun itu, Pak Radit harus tau. Sorry!" Ucapnya hati-hati, takut menambah kekesalan pria itu.
"Ya udah, masuk!" Pintu depan dibuka lebar oleh Yusuf dan Ia pun masuk cepat.
Ia mengikuti bayangan Yusuf yang berjalan di depan memutari mobilnya dan masuk di kursi kemudi.
Suasana mendadak hening dan mencekam. Ia ingin bicara tapi bingung mau membahas apa. Hingga di menit ke sekian, saat mobil sudah meluncur mulus di jalanan ramai kota Ia akhirnya menemukan ide. Yap, dia harus menanyakan bagaimana pengalaman pria itu selama tiga hari di jalan Allah.
"Kak, gimana tiga hari khurujnya? lancar?" Tanyanya pura-pura riang.
Diam..
__ADS_1
Diam..
"Baik, Alhamdulillah!"
"Ouhh, gitu? Ehmm,ngapain ajha sih di masjid selama itu? bosen nggak?" Lagi-lagi Ia bertanya panjang hanya untuk memecah kesunyian yang tercipta sebab pria itu memilih diam.
"Nggak!"
"Kakak pasti capek yah ngikutin agenda-agenda nya?"
"Nggak juga!"
Ia sudah tak tahan dengan jawaban pendek Yusuf hingga membuatnya tak sadar menyentuh dan mengusap lembut lengan kokoh pria itu.
"Kakak marah?" Tanyanya pelan mulai sendu.
"Maaf kalau aku ada salah! A_aku__,"
"Sorry!" Jawaban pendek lagi tapi cukup membuatnya lega.
Ia mengangguk masih mengusap pelan lengan pria itu.
"Aku nggak suka orang itu kelewat nunjukkin kesenangannya sama kamu. Aku laki-laki. Aku bisa liat dia itu suka sama kamu, dan itu bikin aku sakit!"
"Sorry! Aku cuman pengen kakak percaya sama Aku. Aku udah nggak ada sedikitpun niat nengok kiri kanan. Sebab__," Ia menjeda ucapannya sejenak. Sebab Ia terlalu malu untuk mengutarakan perasaannya lagi.
"Sebab apa?"
"Sebab di hati Aku skarang udah ada Kakak!" Wajahnya lagi-lagi blushing tak terkira.
Pria itu tersenyum simpul masih dengan gaya coolnya saat mengemudi.
"Oh yah? Kalau gitu Aku pengen bukti!" Masih dengan senyum simpul yang menggoda.
"Ish, apaan sih!" Ia terkekeh kecil menanggapi sepik-sepik yusuf lagi.
"Ntar buktinya kalau udah halal!"
"Kalau gitu kita halalin besok!"
"Apaan sih, jangan ngaco!"
"Serius!"
"Iiihhhh, udah ah, nyetir aja yang bener. Aku nggak mau nikah sama preman kampus. Aku cuma mau nikah sama Dokter yang sholeh!" Ucapnya kembali tersipu bersama senyum simpulnya.
"Oh yah? berat juga syaratnya? udah mulai berani rupanya. Pokoknya Kamu harus dihukum." Lagi-lagi Ia terkekeh menanggapi ancaman absurd pria pujaannya itu.
Mobil masih melaju pelan. Saat melewati kafe milik Fadhil, Tiba-tiba Yusuf mengarahkan kendaraannya masuk ke dalam pelataran kafe tersebut. Ia sontak berseru,
"Azhar sama Akram kerja part time di sini, lho! Kakak sering ke sini?"
"Oh ya? pantes aja aku kayak pernah liat mereka sebelumnya. Anggotanya si Fadhil ternyata."
"Kita makan dulu. Kamu pasti udah laper lagi. Latihannya berat kan?" Ia tidak menyahut. Ia malah tersenyum hangat mendapati perhatian kecil Yusuf yang cukup membuatnya melambung dalam sekejap.
"Kenapa, senyum-senyum? ada yang lucu?"
Ia menggeleng. Menatap manik tajam yang sedang menatapnya sama.
"Makasih!" Ucapnya masih tersenyum.
"Untuk?"
"Perhatiannya."
"Masih kurang?"
"Nggak. Udah lebih dari cukup."
"You worth it!" Ucap pria itu lagi seraya menangkup wajahnya.
"Tunggu!" Ia mengangguk sebagai jawaban.
Yusuf turun lebih dulu dan memutari mobilnya lalu membuka pelan pintu mobil untuknya. Lagi-lagi hatinya berbunga-bunga. Ia benar-benar diperlakukan layaknya ratu. Dan sungguh ini membahagiakan baginya. Senyum manisnya tak henti tersungging di bibir pink mungilnya.
"Makasih, Kak!"
"Sama-sama, sayang!"
Blusshhhhh...
"Aaaaaaaa, Mhit, Lo pasti bakal guling-guling diri kalau liat ini! teriaknya membathin.
Keduanya pun berjalan masuk. Yusuf sudah tentu tak akan membiarkannya berjalan tanpa menggandeng tangannya. As usual.
Hemmm....
__ADS_1
***
TBC>>>