MUJAHADAH CINTAKU

MUJAHADAH CINTAKU
#. Episode 18. Kanebo Kering


__ADS_3

* Mitha


Ia masih belum bisa berfikir cepat tanggap untuk beberapa saat berselang. Keterkejutannya mendapati Fathin yang kembali dalam keadaan lemas tak berdaya membuatnya blank dan sedikit linglung.


Ia gelagapan tak tahu harus berbuat apa saat seseorang yang tak lain adalah si pemaksa membawa masuk Fathin dan membaringkan sahabatnya itu perlahan, menyelimuti tubuh lemah Fathin yang entah sedang pinsan atau tertidur.


"Udah sadar, tadi pinsan. Biarkan tidur dulu, masih lemas." Pria itu bersuara pelan, seakan takut membangunkan Fathin. Ia yang masih nampak bingung bercampur khawatir hanya mampu ber-oh pelan. Ia buru-buru duduk memijiti kaki sahabatnya itu untuk menetralisir keteganggan plus kekakuan yang tercipta.


"Tolong jagain bentar, aku ambil sesuatu di mobil dulu!" Lagi-lagi Ia hanya mampu mengangguk tanpa menyahuti. Melirik sebentar wajah tampan menegas itu lalu buru-buru mengalihkan pandangannya ke arah Fathin yang masih terpejam. Dalam hati Ia membayangkan bagaimana Fathin menghadapi si wajah datar itu.


"Hiiii, aku ajha ngeri ama kekakuannya. Perhatian sih tapi kayak kanebo kering!" Gumamnya bergidik.


Ia masih dengan gumaman tak jelasnya saat bang yusuf kembali bersama beberapa paperbag di tangannya. Membuatnya seketika pura-pura kembali focus memijiti kaki Fathin. Ekor matanya dengan penuh awas mengamati gerak-gerik si pemaksa itu yang nampak begitu khawatir dengan kondisi Fathin.


Untunglah Akram dan Azhar tidak terlalu lama membiarkan Ia dalam situasi tak mengenakkan itu dengan kedatangan mereka. Ia tidak bisa membayangkan bersama dengan manusia kaku tanpa basa basi itu menunggui Fathin.


Azhar yang nampak begitu khawatir langsung memberi tatapan dengan menaikkan alisnya bermaksud bertanya apa yang terjadi. Ia pun memberi jawaban ketidaktahuannya dengan menunjuk Bang yusuf dengan lirikan matanya.


"Tadi Fathin hampir jatuh dari lantai dua mall. Tiba-tiba dia gemetar ketakutan, keringat dingin dan akhirnya pinsan. Aku udah mau bawa dia ke rumah sakit biar ditangani dengan baik tapi dia nolak, nggak mau. Maunya diantar ke sini." Seakan mengerti keingintahuan mereka bertiga tiba-tiba si pemaksa itu bersuara.


Ketiganya saling pandang. Dan suara datar itu kembali bersuara, kali ini bertanya soal obat apa yang diminum Fathin jika sedang kambuh seperti saat ini. Ia mencoba mengingati kali terakhir Fathin kambuh. Seingatnya, Fathin memang tidak pernah mengkonsumsi obat apapun terkait phobia yang di alaminya. Sebab Sahabatnya itu merasa jika yang kerap dialaminya itu adalah trauma biasa.


"Seingat aku, Fathin nggak pernah minum obat apapun kecuali lagi flu. Selama ini, kalau lagi kambuh gini, abis pinsan, Ia hanya perlu istrahat bentar sambil nenangin diri ama perasaannya dengan terapi mandiri lewat sugesti nya sendiri, Kak!" Ia yang menjawab sebab Ia yang paling sering bersama Fathin selama ini.


"Ini nggak boleh di biarin. Sudah harus ada penanganan serius, minimal minum Beta Blockers biar nggak sampe pinsan kayak tadi."


Ia mengangguk tanda setuju. Netranya kembali melirik ke arah duo gesrek, Azhar dan Akram yang ikutan mengangguk setuju dengan kata-kata bang yusuf.


Ia kembali merapikan selimut Fathin yang sedari tadi tertidur pulas. Seketika Ia sadar belum menyuguhkan apapun untuk si tamu.


"Aku bikin minum dulu!" Ia hendak berdiri ke dapur, tapi suara datar bang Yusuf menahan gerakannya seketika.


"Nggak usah. Aku nggak akan lama. Aku harus pulang ke rumah bentar lagi. Tolong jaga dia. Ntar malam aku balik ke sini lagi. Jangan biarin dia banyak gerak dulu abis ini."


"Siaap, Kak!"


"Siip, Kak!"


Ia dan Akram bersamaan menyahut. Sementara Azhar seperti biasa, hanya mengangguk bersama ekspresi datarnya.


______


* Fathin


Ia terbangun dengan kepala sedikit pusing. Matanya masih terpejam saat tangannya terangkat menyentuh pelipisnya. Mendesis pelan tertahan. Mencoba mengumpulkan ingatannya tentang apa yang barusan terjadi padanya. Tapi yang terlintas di pikirannya malah pelukan erat menghangat dan menenangkan dari tubuh beraroma maskulin milik bang Yusuf.


"Fathin, Kamu udah bangun?" Sebuah suara yang sangat dikenalnya membuatnya sadar sedang berada di mana. Ia berusaha membuka matanya perlahan. Kaget bercampur heran sebab Ia kini sedang di kerumuni tiga wajah penuh kekhawatiran.


"Kamu jangan banyak gerak dulu, Kamu istrahat, kayaknya kamu masih lemes!" Azhar menahan bahunya saat Ia berusaha ingin bangun duduk. Ia pun menurut patuh.


"Kamu kenapa bisa hampir jatuh tadi? Abang itu ngerjain kamu lagi?" Azhar kembali bersuara sedikit menekan.


Ia mencoba mengingati sesuatu dan tiba-tiba Ia merasakan wajahnya panas merona. Ingatannya kembali. Seketika rasa malu menderanya mendapati Ia yang sudah memeluk erat bang yusuf saat insiden di mall itu.


"Fhat, kok nggak dijawab malah mukanya blushing gitu?" Mitha si miss kepo seperti biasa tidak akan membiarkan nya lepas begitu saja dari informasi penting dan berharga semisal ini.


"Ng_nggak, kok! Aku nggak dikerjain, malah abang itu yang nyelamatin aku yang hampir jatuh tadi. I_itu tadi kaki aku terantuk sesuatu pas mau turun tangga."


Terangnya, tentu saja itu cerita fiktif sebab Ia tidak cukup berani menceritakan kejadian yang sebenarnya. Bagaimanapun yang baru saja menimpanya itu murni ketidaksengajaan. Sudah bisa di pastikan apa yang akan duo laki sahabatnya itu lakukan jika keduanya mengetahui yang terjadi sebenarnya adalah sebab keisengan si pemaksa itu.


"Ya udah, yang penting kamu nggak kenapa-napa. Nih, kamu minum dulu!" Akram yang sedari tadi diam akhirnya menimpali dan meraih segelas air minum di samping tempat tidur dan menyodorkan ke arahnya. Azhar dengan sigap membantunya untuk duduk sementara Mitha memperbaiki posisi bantalnya agar Ia bisa duduk sambil bersandar.


"Makasih, kalian selalu ada untukku." Ucapnya tersenyum sembari menyapukan pandangannya satu persatu ke wajah ketiga sahabatnya. Seketika rasa haru menyergapinya. Manik sendunya mulai berkaca-kaca. Entahlah, jika sudah tentang mereka berempat, Ia begitu gampang terbawa perasaan.


"Eh, eh, kok malah mewek lagi sih, jangan nangis ah, ntar kalau si pemaksa itu tahu tuan putrinya nangis, kita bertiga bisa dapat tatapan tajam yang uhh, nyeremin kayak malaikat maut tau nggak!" Mitha lagi-lagi berusaha mencairkan suasana. Membuat Ia mau tidak mau tersenyum sembari menyeka kubangan air mata yang hampir jebol tumpah.

__ADS_1


Akram dan Azhar pun ikutan tersenyum dan mengangguk seolah mengiyakan kicauan Mitha.


"Tolong jagain bentar. Aku ambil sesuatu di mobil dulu!" Mitha lagi-lagi berseloroh, menirukan gaya bicara dan ekspresi datar bang yusuf. Kali ini Ia tergelak sebab, gaya Mitha lebih mirip robot kaku.


"Ahahahaha! Kamu bisa ajha, Mhit!" Ia masih dengan tawa lepasnya dan seperti biasa jika sudah di mode ini, maka paha siapapun yang berada di dekatnya akan babak belur dengan tabokannya. Salah satu kebiasaan buruknya. Kali ini yang jadi korban adalah Akram sebab dialah yang paling dekat dengannya.


"Aaooww, Fhat, apaan sih, ini mah bukan refleks, sengaja. Nih paha gue bisa cedera nih!"


"Sorry, sorry, Ini gegara si Mitha nih, lagian udah tau ada yang lucu, nggak ngehindar duluan." kilahnya masih dengan tawa tertahannya.


"Btw, kayaknya kamu udah baikan Fhat, berarti bisa dong kita ke acara Makrab ntar malam?" tanya Mitha sumringah.


"Bisa dong, kapan lagi coba, kita bisa seru-seruan ama kakak-kakak itu tanpa ada gap junior-senior. Iya nggak?" Akram yang menyahuti.


"Kalau kamu masih ngerasa blum kuat, nggak usah paksain. Aku bakal temenin kamu." Azhar juga menyahut datar.


"Aku udah nggak apa-apa kok, Zhar!" Ia melirik Mitha yang sedari tadi mencebik tak terima usulan Azhar. Tapi tiba-tiba netra sendunya membulat saat mendapati memar membentuk lima jari di pipi sahabatnya itu, menjadikan wajah cantiknya sedikit membengkak.


"Lho, lho, Mhit, itu muka kamu kenapa, memar gitu, kamu abis di pukul orang? siapa yang udah berani nampar kamu? ini nih keras banget pasti mukulnya sampe bengkak gitu mukaknya!" Ia mencecar Mitha dengan pertanyaan beruntun sebab khawatir bercampur tidak rela melihat kondisi wajah Mitha. Tangannya dengan cepat menangkup wajah sahabatnya dan menyentuh bekas tamparan itu, membuat Mitha mengaduh dan meringis kesakitan.


Akram yang sedari tadi berdiri langsung duduk, ikut meraih pipi Mitha dan meniliknya dengan seksama. Seketika mukanya merah padam menahan marah.


"Siapa yang udah mukul kamu kayak gini, Mhit? cepat bilang!" Rahang Akram mulai mengeras.


"Oh, i_ini bukan apa_apa, Ram. Cuma salah paham dikit, biasalah namanya juga dunia plural gitu, kita pasti ketemu dengan segala macam tipikal orang kan?" Mitha tergagap nampak berusaha menyembunyikan sesuatu.


"Mhit, kita sahabatanan, kan? Kamu pasti nggak lupa kan kalau apapun yang menimpa kita berempat nggak boleh ada yang di sembunyiin?" Ia ikut menimpali, berucap dengan lembut menatap manik Mitha yang kini mulai berkaca-kaca. Ia buru-buru merengkuh Mitha dan mengusap lembut punggungn sahabatnya itu.


"Hikss.. hiksss.. hiksss...," Mitha terisak di sana.


"A_aku nggak tahu salah aku apa, cewek itu datang-datang langsung nampar aku, bla.. bla.. blaaa..," Mitha akhirnya menceritakan kronologis insiden yang menimpa sahabatnya itu di kampus siang tadi. Seketika hatinya mencelos mendengar nama Fahry. Akhir-akhir ini Ia benar-benar lupa akan sosok itu, sebab otak dan hatinya sedang di sibukkan dengan perintah-perintah absurd si pemaksa, muka datar.


"Andin? anak fakultas mana? jurusan apa?" Tanya Azhar yang wajah datarnya kini ikut berubah menegas.


"Nggak tau. Cuman kata bang Fahry, Andin itu Orangnya nekat, sombong dan suka seenaknya."


"Udah dong, Ram, Zar. lagian Mitha kan udah balas mukul tadi katanya. Kita nggak perlu ngebalas keberukan dengan keburukan, nggak akan pernah ada habisnya. Kalau emang benar dia itu orangnya nekatan, maka dia bisa lakuin apa ajha ke kita smua. Kalian nggak mungkin akan slalu ada di samping kita kan? Jangan yah?"


Ia memang si ahli wise word yang selalu bisa meredamkan amarah kedua sahabatnya itu. Tatapan maniknya yang penuh kelembutan, sendu namun menghujam selalu menjadi penentram hati siapapun yang berada di sekitarnya.


"Ram, Zar, janji yah, jangan lakuin apapun?" Ia menatap menunggu jawaban keduanya lama, hingga keduanya mengangguk pasrah, barulah Ia bernafas lega.


"Sampe lupa, tadi si abang pemaksa itu bawa masuk paperbag buat kamu. Trus katanya ntar malam ke sini lagi!" tiba-tiba si miss keppo kambuh.


"Modus plus keppo!" Giliran Azhar yang menggoda Mitha.


"Biarin, sirik aja lu!" Kerucuti Mitha bibirnya. Dan seperti biasa tanpa aba-aba seakan telah melupakan pembahasan tentang wajah memarnya, seketika beranjak dan mengeluarkan semua isi dari dalam paperbag tersebut, dan,


"Waooowww..amazing! habis brapa jetong ini Fhat? Ini semua barang mehong guyyss. Astaga Fathin, ini kok perlengkapan shalat? dua set? banyak banget. Bagus banget Fathin, ada banyak jilbab juga, Mushaf Alqur'an, tasbih, kok dua dua semua?" Azhar dan Akram melampirkan ekspresi memutar bola mata, sementara Ia hanya mengulum senyum sembari geleng-geleng kepala. Merasa lucu dengan tingkah Mitha.


"Satu setnya untuk kamu lah, aku kan sahabat terbaik, tercantik, terimut, dan ter, ter lainnya. So, itu untuk kamu, kita samaan biar keren, ya khan??" Ia dengan cepat memotong berniat menghentikan kicauan Mitha, sebab jika tidak maka kehegaan ini tak akan ada ujungnya.


"Hehehehe! Dari tadi kek ngomongnya biar Ngalor-ngidulnya nggak kepanjangan. Ok, oleh sebab sekarang udah Ashar, aku mau coba deh mukena mehongnya, pen ngrasain khusyuknya beda apa nggak ama punya kita yang abal-abal!" Mitha cengengesan bersama seringai mengejek dari duo cogan sahabatnya.


"Ahahaha! Ada-ada ajha deh, ya udah shalat sono, aku lagi libur!" Ucapnya tergelak, menanggapi ocehan si gesrek Mitha.


Ketiga sahabatnya itupun seketika bubar berebut siapa yang mau masuk kamar mandi duluan untuk berwudhu.


"Eit, eit, eit.. Lady's first (cewek duluan), Ok!" Teriak Mitha dengan gaya centilnya sembari menarik baju Azhar dan Akram dari belakang. Mau tidak mau keduanya mengalah. Lagi-lagi Ia tersenyum lucu.


"And half lady's second, Right?" Akram si somplak tak mau kalah, menarik baju Azhar dengan gaya di buat kemayu. Sontak Ia memegang perutnya sebab tak kuat menahan tawa yang hendak pecah.


"Ada bakat emang jadi waria ya?" Azhar ikut tergelak.


_____

__ADS_1


*Yusuf


Hatinya belum sepenuhnya tenang meski Fathin sudah siuman dan bisa tertidur. Membayangkan kejadian barusan, seketika Ia menyadari, Ia begitu khawatir pada gadis itu, sekelebat perasaan takut kehilangan tetiba menjalari hatinya.


"Apa ini nggak terlalu cepat?" sungutnya pada dirinya sendiri saat kesadarannya kembali bahwa Ia baru saja mengenal gadis cantik itu. Ia berusaha mencari pembenaran atas rasa yang baru saja tumbuh liar di dalam sana.


Tiba-tiba sudut bibirnya tertarik. Ingatan akan pelukan hangat yang begitu erat merapat seketika mengambil alih seluruh ingatan dan perhatiannya saat ini. Membuat hampir saja mobilnya menyerempet seorang pengendara motor.


"****!"


"Woi! Kalau lagi bawa kendaraan jangan menghayal dong!" Suara pengendara tersebut terdengar berteriak kearahnya. Ia dengan segera menurunkan kaca mobilnya dan berseru datar,


"Sorry!" Ia masih menatap lurus ke depan tanpa menoleh ke samping di mana pengendara itu berada.


"Sorry, sorry, tanggung jawab kali, nih motor saya lecet gara-gara mo__,"


"Brapa?" Seperti biasa, Ia kurang suka basa basi.


"Sejuta!" Lagi-lagi pengendara itu berteriak, membuat hampir saja kebiasaan buruk yang sudah coba Ia kubur dalam-dalam seketika mencuat kembali. Untung saja bayangan wajah cantik menawan bermanik sendu yang sedang tersenyum manis tiba-tiba melintas di ingatannya sehingga dengan tergesa Ia mengeluarkan uang sebanyak nominal yang disebut si pengendara motor tersebut.


"Ambil ini, dan minggir cepat sebelum beneran gue tabrak!" Ketusnya dan tanpa menunggu tanggapan lawan bicaranya, Ia pun melesat pergi dari sana bersama umpatan plus makian dari si pengendara motor. Tapi mana mau dia perduli pada hal-hal tidak penting seperti itu.


Ia tiba di rumah menjelang maghrib. Dari luar Ia sudah bisa mendengar keriuhan saudara-saudari nya beserta anak-anak mereka. Ia berjalan masuk ke dalam rumah sambil memutar-mutar gantungan kunci mobilnya. Berlari kecil menaiki undakan teras sembari bersiul menirukan sebuah lagu dari sebuah band favoritnya. Lagu yang pernah membuatnya begitu terobsesi ingin menjadi pemain band di kampus, tapi berakhir dengan bubarnya anggota band nya di sebabkan masalah cewek. Yah, itu juga salah satu alasan klise yang membuatnya malas berurusan dengan perempuan.


Rumah sudah di decor sedemikian rupa. Membuatnya sedikit pangling dengan suasana baru itu.


"Bahagia banget kayaknya, Suf! Menang berapa?" Sebuah suara yang tak asing tiba-tiba terdengar dari arah kumpulan kakak-kakak juga para abang iparnya di ruang keluarga yang dilewatinya. Ia seketika menoleh sekedar meyakinkan dugaannya dan benar saja, itu barusan suara Bang Tio, kakak tertuanya.


"Apaan sih, Bang. Nuduh ajha!" Ia menyahut datar. Berniat melanjutkan langkah nya yang sempat tertahan, tapi buru-buru dicegah oleh Bang Risyad, suami dari mbak Tiana, kakak keduanya. Dengan terpaksa Ia pun ikutan duduk bergabung. Memilih duduk menghempaskan diri di samping papa yang sedari tadi belum bersuara.


"Sini dulu, dong! Udah lama kan kita nggak ngumpul kayak gini. Gimana nih, kuliahnya lancar?" Ia berdecak kesal, lagi-lagi pembahasan klasik itu lagi yang jadi topik pembuka kali ini.


"Ehmm, Abang harap tahun ini kamu udah selesai, Suf! Kamu pakein sihir apa sih tuh rektor kamu sampe kamu bisa lolos sama aturan kampus itu. Setau Abang, di tempat kamu itu tujuh tahun nggak kelar udah Drop Out." Bang Tio ikut menimpali, membuat sudut bibirnya sedikit tertarik.


"Sihir apaan sih, Gue klamaan di kampus itu juga gara-gara beliau, makanya aturan itu pengecualian buat gue." sahutnya masih dengan senyum samar yang sama.


"Btw, kamu janjiin apa keponakan kamu, daritadi cariin kamu tuh," Bang Tio berucap bersama senyum simpulnya.


"Janji? Hmm, astaga, sorry gue beneran lupa, mana ponakan cantik gue itu?" baru saja Ia hendak beranjak, satu tubuh mungil berlari kearahnya. Menubruk dan duduk di pangkuannya.


"Uncle, mana janji nya, katanya tadi mau bawain aunty cantik, mana auntynya? Farah udah bilang loh sama eyang, sama ayah, bunda juga ama semua mama!" Ia berlagak memijit ujung hidungnya, menyeringai mencoba mencari alasan yang tepat untuk keponakan cantik nya itu.


"Ehmm, Auntynya lagi sakit sayang jadi nggak bisa dateng. Lain kali ajha ya uncle bawa?ok?" Ia merangkul gadis kecil itu berharap alasannya diterima. Tapi diluar dugaan gadis kecil itu malah menjawab dramatis,


"Sakit, uncle? Kalau gitu kita jenguk aunty cantiknya sekarang uncle, ayo!" Farah seketika turun dari pangkuannya dan seperti biasa, melampirkan wajah puppy eyes, memelas sembari menarik narik tangannya.


"Eyang, Ayah, boleh ya, Farah mau jenguk aunty cantik."


"Katanya mau temenin ngerayain ultah Eyang? udah siapin kado istimewa buat Eyang," Papa akhirnya bersuara. Tersenyum simpul sembari sesekali melayangkan pandangan penuh tanda tanya ke arahnya.


"Kadonya lagi sakit, Eyang. Makanya ini mau dijenguk dulu biar cepat sembuh trus Farah serahin ke Eyang biar dijadiin temennya Uncle, biar bisa kayak ayah sama bunda,"


"Hahahhhaha..!"


Semua tertawa lepas mendengar ocehan Farah, kecuali dirinya tentunya. Ia memilih memberi tatapan kurang setuju untuk ajakan menjenguk Fathin bersama keponakan cerewetnya itu.


"Aunty nya lagi istirahat sayang. So, jenguknya lain kali ajha yah, lagian uncle mau mandi sekarang. Nih, badan uncle udah lengket gara-gara keringat. Ok bos?" Ia mencoba mengelak dari ajakan gadis mungil itu. Tapi, lagi-lagi Ia tidak diberi celah oleh hampir semua orang yang ada di sana. Sepertinya kali ini Ia tidak akan berhasil lolos dari jeratan anak kecil itu.


"Nggak, pokoknya Farah mau jenguk Aunty cantiknya, titik!"


"Astaga, Iyah iyah,, Uncle mandi dulu, abis itu kita jenguk aunty cantiknya, Ok? boleh?" Ia memijit pelipisnya, tiba-tiba kepalanya pening oleh ulah gadis kecil itu.


"Yeeayy! Ok, uncle! Farah tungguin!" Lagi-lagi anak kecil itu menyahut dramatis, membuat semua orang di sana tersenyum penuh makna.


"Gue mandi dulu! Nih gara-gara anak Abang nih yang rese!" Sungutnya sembari beranjak hendak ke kamarnya, meninggalkan wajah wajah sumringah sebab mungkin mereka merasa sebentar lagi akan bertemu dengan sosok yang telah banyak merubahnya.

__ADS_1


TBC>>>


__ADS_2