
* Mitha
Langit kampus malam ini cukup cerah oleh tebaran jutaan bintang yang menghiasi selasarnya. Hawanya pun terasa besahabat. Ia berharap, malam ini akan menoreh kisah dengan begitu indahnya tentang keseruan hari kemarin, semangat hari ini dan harapan di hari esok.
Ia dan Akram sudah tiba beberapa menit yang lalu di stadion mini kampus, di mana acara sakral untuk para new comers di kampus hijau itu akan diadakan.
Di depan sana telah berdiri sebuah panggung mini bergaya eclectic. Back drop sederhana dengan baliho bertuliskan tema acara makrab malam ini,
"Hilangkan perbedaan, Satukan langkah, Menuju FKIP yang madani"
Keempat sisi panggung dikelilingi tali dengan kertas multi colour menggantung dengan tertata rapi. Setiap sudut di gantungkan balon lampu LED berbagai warna sebagai penerang
Suasana di sana nampak mulai riuh oleh suara para peserta makrab. Menunggu acara opening di mulai sembari membentuk grup-grup sendiri-sendiri. Saling berbincang, berdiskusi atau sekedar kumpul berkisah lucu yang menimbulkan tawa serempak dari para audiencenya.
Sementara itu, puluhan senior yang bertugas sebagai panitia penyelenggara terlihat begitu takzim dengan kesibukan masing-masing.
Beberapa panitia cowok nampak serius menyetel perangkat soundsistem. Memastikan volumenya balance agar suara para speakers tidak terdengar sengau nantinya. Sebagian sedang menata posisi kursi-kursi untuk pemateri dan MC, juga memasang lampu thumbler di beberapa sudut maupun sisi area untuk para peserta.
Tak ketinggalan juga dari panitia cewek yang terlihat antusias menghandle konsumsi. Sebagian membantu panitia cowok yang bertugas menghampar koran-koran bekas untuk alas duduk.
Dengan berbagai pertimbangan, acara makrab kali ini hanya akan berlangsung dari ba'da Isya hingga pukul 00.00. Tak ada acara menginap atau bermalam. Hukum keikutsertaan pun tidak wajib. Tergantung kesiapan, Kemauan, juga izin dari orang tua bagi yang bermukin di luaran area kampus.
Ia duduk menekuk sambil menopang dagu. Berusaha mengusir kantuk yang belum apa-apa sudah mulai bergelayut manja di pelupuk matanya, dengan mengisap permen rasa kopi.
Sedari tadi Ia begitu seksama melempar pandangan kagumnya ke arah giat para senior yang sedang berlangsung di depan sana. Seketika sudut bibirnya tertarik. Tersenyum penuh penghargaan membayangkan batapa lelahnya menjadi mereka.
Dari sejak pra ospek, masa ospek hingga makrab saat ini, kesibukan mereka tiada henti. Capek? it's so pasti. Tapi wajah-wajah itu masih sama seperti saat tatap muka di hari perdana ospek. Penuh antusias dan energik. Yang beda sepertinya adalah ekspresi. Sudah ekstra senyum minus sangarnya. Yeeaahh, tentu saja.
"Keren, yah?" Tanyanya tanpa menoleh ke arah Akram yang sedari tadi duduk dengan gaya malas di atas undakan stadion sambil mengunyah bubblebum.
"Apanya?" Sahut Akram masih malas.
"Kakak-kakak panitia itu." Ia menunjuk dengan dagu ke arah yang Ia maksud.
"Mereka ngerjain semuanya tanpa pamrih. Nggak digaji. Malah adanya capek doang yang didapet. Tapi mereka tetap semangat dan happy." Ia masih dengan senyum penghargaannya.
Akram pun ikut melayangkan pandangan ke arah tersebut. Manggut-manggut pertanda setuju lalu menyahut mulai sedikit antusias,
"Yes, volunteer sejati." Akram mengangkat jari membentuk two thumbs up.
"Aku jadi pengen kayak kakak-kakak itu kelak jika kita sudah di level mereka saat ini. Pasti seru." Ucapnya bersama senyum lebar mengembang.
"Cakep...! Aku dukung 1000 persen." Akram kembali memberi dua jempol untuknya.
"Nanti kamu pilih di divisi humas. Bekali para maba itu dengan skill permodusan sama keahlian ngorek berita. Baru seru!" Akram tergelak bersama tinju pelan yang Ia layangkan di bahu nya.
"Hahahaha...!Bisa aja kamu. Eh, tapi kalau aku bilang yah, dua-duanya tuh modal krusial buat efisiensi juga pedekate ama senior, apalagi jika ada yang pengen di gaet, ye khaaaaan?" Ia masih terbahak sembari menimpuk paha Akram dengan mini bag miliknya.
"Eh, eh, eh, kamu udah ketularan Fathin suka main timpuk."
"Btw, kamu jagonya ngomong doang soal gaet menggaet, tapi masih jomblo aja mpe skarang. Tuh Fathin malah udah mau merid aja!"
"Hah? merried? ama siapa? ih, jangan asal deh!"
Ia sedikit kelepasan berteriak. Tanpa sadar volume suaranya memancing beberapa wajah sontak beralih ke tempat keduanya berada. Seketika Ia meringis kaku lalu kembali focus ke wajah Akram yang kini nampak menyeringai.
"Tumben kamu kufo, kudet?" Akram menyahut santai.
"Ini seriusan, Ram? denger dari mana kamu? masa sih hal sepenting ini Fathin nggak ngomong ke aku?"
"Tuh abang yang tadi sore ngantarin Fathin pulang."
"Emang kamu kenal ama bang Yusuf?" Kejarnya kian serius.
"Critanya panjang. Kamu tau nggak__,?"
"Enggak!"
"Ck, blum juga ngomong."
"Cepetan dong, Ram. Itu gimana ceritanya Fathin sama abang itu bisa mo nikah?" Cecarnya masih dengan nada yang sama.
"Jadi gini, abis "insiden" se_container pitzza malam itu, siangnya Bang yusuf datang nyariin aku di kampus. Katanya pen ngobrolin sesuatu."
"Dan kamu tau nggak ternyata kalau udah saling ngobrol dan kenal, Orangnya nggak sekaku yang kita liat selama ini. Bang yusuf cukup humble dan enak di ajak ngobrol."
"Aduh... intronya kepanjangan. Langsung ke reef aja dong!" Tak sabar Ia pun menimpali.
"Nggak seru kalau langsung ke inti berita. Feel nya nggak bakal dapet." lagi-lagi Akram melampirkan smirk andalan.
"Gaya' lo!"
"Kok pake elo skarang?"
"Hehehehe! Nggak pa_pa, biar kedengaran lebih gaul ajha. Biar keren khan kayak abang-abang senior kita?" Ia cengengesan plus ekspresi lucunya.
"Jadi sekarang aku pake gue juga?" Akram tak mau kalah.
"Si Azhar pasti bakal ngakak abis nih kalau dengerin kita skarang." Akram kembali tergelak. Ia ikut terbahak.
"Jadi mau lanjut nggak nih crita yang tadi?"
"Iya yah, kok malah nglantur nggak jelas gini. ya udah, lanjut.. lanjut!"
__ADS_1
"Abang itu nanyain banyak hal tentang Fathin. Gimana sifat, karakter juga keluarga Fathin. Ya..gue jawab jujur dan apa adanya."
"Yang bikin gue shock akhirnya adalah saat Bang Yusuf nanyain gimana pendapat gue soal dia mau nglamar Fathin skarang."
"Hah? trus lo jawab apa?" Ia kembali histeris tak sadar.
"Apa lagi? gue jawab dong, kalau Fathinnya mau dan abang serius, mau ngejagain Fathin dengan baik.... why not?"
"O Em Ji, Lo kenapa ngasi jalan mulus gitu sih?Fathin itu ke sini mau kuliah. Kok malah lo dukung dia merid cepet?"
"Lagian gue denger-denger Abang yusuf itu bad senior, preman kampus. Gue yakin dia itu pasti salah satu cowok brengsek yang hoby mainin cewek polos kayak Fathin. Kita nggak boleh biarin itu terjadi, Ram!" Kecamnya berapi-api. Akram sampai di buat bengong oleh reaksinya yang sedikit berlebihan.
"Nggak, lo salah!" Akram menggeleng sembari menggoyangkan telunjuk kekiri_kanan. Tidak terima dengan ucapannya.
"Bang Yusuf itu beneran serius dan sayang ama Fathin. Dia itu cowok baik. Dia emang preman kampus tapi nggak brutalan srampangan kayak preman pasar. Dia sama gengnya cuma bertindak kalau ada anak-anak yang bikin kacau di kampus, atau kalau ada yang pengen anarkis ama "Kosong Satu". Protes Akram padanya.
"Dan lo pasti nggak tau kan kalau bang Yusuf itu ternyata calon dokter, juga orang deketnya pak rektor?" Ia kian mangap tak percaya.
"Papanya abang itu pengusaha sukses yang menguasai hampir seper tiga kekayaan yang ada di kota ini. Beberapa hotel sama restoran mewah di sini ternyata punya keluarga mereka." Akram semakin bersemangat memuji bang Yusuf.
"Dan kedekatan dia ama "Kosong Satu" itu nggak disia-siain ama dia, hampir semua yang dapet beasiswa nggak mampu itu atas recomendasi dia ke rektor."
"Bukan itu doang, Mhit, semua mahasiswa nggak mampu yang tergabung dalam geng nya bang Yusuf itu semua dapat kucuran dana untuk tambahan biaya hidup tiap bulan. Lo tau? Sebagian besar dana itu pake uang pribadi, Mhit. Keren kan? Kebayang nggak gimana tajirnya keluarga mereka?" Lagi-lagi Akram memberi pujian pada si Pemaksa itu.
Ia kembali speechless. Kali ini maniknya membulat sempurna. Ia merasa seakan sedang menyaksikan sebuah triller film. Menyenangkan sekaligus menegangkan.
"Lo ngorek di mana info sedetil ini tentang abang itu, Ram? Atau cerita dari bang Yusuf sendiri?" Tanyanya sedikit meragukan ketulusan pria yang dimaksud.
"Itu bukan style bang Yusuf, Mhit. Dia malah paling nggak suka kalau ada yang ngungkit itu semua ke orang-orang. Aku dapat semua ini dari Bang Nathan. Yaa, gue sih percaya 100 persen soalnya Bang Nathan itu salah satu anggotanya Bang Yusuf. Tiap bulan dapat duit panas dari Abang itu." Ia tercekat kehabisan kata. Antara percaya nggak percaya.
"Tapi, lo yakin kan abang itu beneran baik? dia nggak akan nyakitin Fathin, kan?" Tanyanya ingin memastikan.
"Gue yakin, Mhit. Aku bisa liat dari mata Bang Yusuf kalau dia itu beneran sayang ama Fathin. Sebagai Teman, sahabat yang pengen kalian selalu bahagia, gue dukung kalau Fathin ama abang itu!" Akram berucap mantap penuh keyakinan.
Tak ada yang bisa dilakukannya selain mengangguk setuju menanggapi keyakinan Akram akan pilihannya. Bagaimanapun Ia adalah salah satu orang yang selalu mengharapkan kebaikan untuk sahabat terbaiknya itu.
Ia masih ingin mencecari Akram dengan ribuan pertanyaan penting lainnya terkait bang Yusuf tapi, seruan MC lewat microfon yang memberi instruksi agar segera berkumpul di arena, terpaksa membuat bibir manisnya urung bertanya lagi.
"Kita lanjutin nanti, Ram. Ayo kita gabung ke sana!" Akram mengangguk sebagai jawaban dan keduanya langsung bangkit dan berjalan menuju tempat yang disediakan.
"Gue gabung ama anak-anak sejurusan yah? lo nggak apa-apa kan sendiri dulu tanpa Fathin?" Akram menatapnya tak tega.
"It's ok! lagian gue emang harus mulai biasain sendiri kan? bentar lagi Fathin bakal nggak bisa sering bareng kita lagi. Waktunya pasti bakal habis banyak untuk abang itu." Ucapnya mulai sedih.
"Jangan bahas yang nggak enak dulu ah, gue blum siap kalau salah satu di antara kita ada yang resign dari R_bink." Akram berjalan sambil menggandeng tangannya.
"Sorry, gue mendadak baperan abis denger semua ini." lirihnya.
Keduanya berpisah setelah Ia duduk manis di tempat yang telah disediakan untuk maba. Akram pun bergabung di jejeran prodi pendidikan penjaskes. Sedikit berjauhan dari tempat di mana Ia berada.
Acara pertama pembacaan ayat suci Alqur'an oleh Bang Ikbal, salah satu pengurus MPM (Mahasiswa Pecinta Mushala). Selanjutnya sepatah kata dan sambutan dari pak Muhaimin S.Pd. M. Pd selaku Dekan FKIP.
Acara ketiga bincang cerdas materi makrab sesuai tema. Ia begitu antusias menyimak setiap penjabaran, penjelasan betapa pentingnya peran mahasiswa dalam tatanan bernegara.
Pukul 09.00 waktunya break makan. Kali ini selera makannya mendadak rusak. Ia begitu khawatir Fathin belum datang juga. Entah sudah berapa ratus kali Ia menilik ponselnya jika ada panggilan masuk tak terjawab atau pesan singkat dari Fathin. Tapi hasilnya selalu sama, nihil.
***
*Fathin
Bak selamat dari kejaran hantu, Ia menghembuskan nafas sesaknya. Sedikit terengah sebab terlalu lama menahan nafas. Tegang oleh keisengan Yusuf yang hampir saja membuat kesadarannya raib andai tidak terhenti segera. Mendadak hatinya diliputi resah dan gelisah. Takut, malu dan perasaan bersalah yang entah kepada siapa.
Ia tidak bisa membohongi hatinya. Berada pada posisi wajah nyaris tak berjarak, Ia benar-benar hampir saja lepas kendali. Pesona raut nyaris sempurna dengan manik yang tetiba begitu lembut, di tambah wangi tubuh dan nafas yang melenakan, praktis menjadi sinergi sihir yang dalam sekejap sukses membiusnya tanpa ampun.
Bagaimanapun ini pertama kali baginya berada pada jarak yang terlalu intim dengan lawan jenis. Gelenyar aneh yang masih belum sepenuhnya hilang membuatnya berkali-kali menelan saliva. Bertanya-tanya dalam hati, apa yang sedang terjadi dengan uluhatinya.
Meski sudah hampir setengah jam berlalu tapi degup jantungnya masih belum normal seutuhnya. Dadanya masih kembang kempis seirama deru nafasnya yang masih sedikit memburu. Ia sudah berkali-kali menyeka keringat dingin yang tak henti membasahi keningnya. Sedikitpun Ia tak berani melayangkan pandangan ke wajah di sampingnya.
Jarak ke kostan Azhar kian dekat. Ia harus mampir sebentar untuk ganti pakaian dengan outfit casual yang lebih santai. Tapi lidahnya seakan kelu kala hendak berucap. Bibirnya bahkan masih terkatup rapat. Hingga di jarak yang sudah sangat dekat, bariton itu akhirnya bersuara.
"Kamu nggak mau ganti baju dulu?" Suara itu sudah kembali seperti biasa, datar.
"M_mau, Kak!" Ia menyahut gugup. Masih menunduk. Memilin jarinya keki.
Mobil sudah berhenti tepat di depan asrama. Tanpa menunggu Yusuf membukakan pintu untuknya, Ia buru-buru membuka pintu. Keluar dan berjalan cepat sambil tangannya merogoh kunci duplikat kamar kost Azhar.
Ia menutup pintu dan menguncinya dengan gerakan cepat sekali putar. Merapatkan punggung di sana, Terduduk sambil memejam. Kembali menenangkan kecamuk di hatinya. Desiran lembut di dalam sana datang lagi. Ia kembali memejam. Mencoba meraba akalnya, mencari jawaban atas tanya di hati akan apa yang sedang terjadi.
Tapi yang muncul malah desiran itu lagi. Menggelitik lagi dan lagi.
Ia mengusap wajahnya kasar. Apa ini yang di sebut jatuh cinta? Seperti yang sering Ia baca dalam puisi dan sya'ir_sya'ir para pujangga?
Hatinya mulai membenak banyak tanya.
"Jangan-jangan aku udah mulai jatuh cinta ama abang itu?"
"Kenapa tadi aku mendadak pengen di cium sama Bang yusuf saat wajah nya udah deket banget?"
"Astaga, memalukan banget! Apa ini yang di bilang murahan? Gampangan?"
"Kenapa aku tiba-tiba lupa diri gitu tadi?"
Seketika wajahnya memanas. Manik sendunya mulai berkaca-kaca. Entahlah. Tiba-tiba Ia ingin menangis, entah untuk apa dan siapa.
__ADS_1
"Seaneh inikah jika sedang jatuh cinta? Bahkan skarang aku pengen banget liat mukanya lagi, pengen deket tapi pas ketemu nggak berani natap mukanya. Aneh!"
Ia kian asyik dengan tanya jawab antara hati dan akalnya. Tenggelam dalam kesibukan menguntai simpul pertanda cinta.
Tok.. Tok.. Tok....
"Udah selesai blum?" Ia terhenyak dari lamunan panjangnya.
Seeeeerrrrrrr...
Suara itu lagi-lagi membuatnya berdesir. Ia gelagapan. Seketika grogi. Bingung mau buat apa. Kian bingung, saat Yusuf mengetok pintu untuk kedua kalinya sebab Ia tak kunjung memberi sahutan.
"Fathin, kamu baik-baik aja di dalam?" Kali ini suara itu terdengar sedikit khawatir. Membuatnya bersuara memberi jawaban setelah Ia berusaha menenangkan degupan dadanya.
"I_iya, bentar lagi aku selesai!" Suaranya sedikit bergetar.
Ia buru-buru masuk ke dalam kamar mandi setelah mengambil setelan casual yang hendak di pakainya.
Membersihkan badan, sebab memakai long dress seperti tadi membuatnya sedikit berkeringat. Mencuci wajah. Menyikat gigi sebentar dan merapikan rambutnya.
Sedikit mematut diri di depan cermin setelah rapi. Touch up lagi. Entah kenapa kali ini Ia begitu peduli dengan detil penampilannya. Bahkan mendadak Ia ingin memakai parfum. Padahal selama ini Ia jarang menggunakannya. Ingin tampil perfect, ingin nampak cantik, ingin wangi dan tentu saja ingin segera bertemu lagi.
Ia berjalan ke arah pintu, bersama buncah rasa tak terdefinisi. Dada kembali kembang kempis. Membuka pintu pelan penuh perasaan dan,
Ceklek..
Ia ingin tersenyum manis. Ingin menatap wajah itu dalam seakan telah lama tak jumpa. Ingin menyapa lebih dulu meski sekedar minta maaf karna telah menunggu lama. Tapi aneh bin ajaib. Ia malah diam menunduk malu. Bagaimana tidak, manik tajam itu kini sedang menatapnya tak berkedip.
"Apa kamu emang selalu cantik seperti ini?" Bertanya dengan senyum di kulum.
Blushing.....
Meski serasa di awang-awang, Ia pura-pura menyangkal semuanya dengan mencibir,
"Gombal!"
Si pemaksa itu tergelak dan selalu dengan tanpa permisi menggandeng tangannya lembut. Astaga, desiran itu datang lagi. Membuatnya tanpa sadar buru-buru menyentakkan tangannya panik.
"Nggak enak di liat sama penghuni kost yang lain, Kak!" Ucapnya menggeleng.
"It's ok!" Pria itu mengangkat kedua tangannya ke atas pertanda menyerah.
Keduanya tiba di depan stadion mini kampus di mana acara sedang berlangsung. Ia mengirim pesan singkat ke nomor Mitha. Memberitahu jika Ia sudah tiba di kampus. Ia bersiap-siap turun dari mobil tapi bariton itu lagi-lagi menahannya,
"Tunggu! biar aku yang bukain. Aku antar kamu ke sana, biar nggak di tanya-tanya ntar!" Meski sebenarnya Ia trauma akan apa lagi yang akan dilakukan pria ini di sana sebentar lagi, tapi Ia tidak punya pilihan lain selain pasrah.
Duduk menunggu dengan perasaan tak menentu. Ekor matanya mengikuti bayangan yusuf yang berjalan memutari mobil dan membuka pintu untuknya. Mendadak berdebar lagi, menatap tangan bang yusuf yang terulur hendak menggandengnya lagi. Lagi-lagi Ia menggeleng.
"Di sana banyak orang. Ntar diliatin nggak enak."
"Mau di gandeng tangannya atau aku gendong ke sana? pilih mana?"
"T_tapi, Kak, a__,"
Ucapannya terhenti sebab kini tangan dinginnya yang sedari tadi sudah mandi keringat di tarik oleh Yusuf dan sekali lagi Ia tak mampu menolak. Malah makin lama bertaut Ia kian menikmatinya. Hangat tangan yusuf seketika menjalari tangannya, membuatnya tenang dan nyaman merasa terlindungi.
Tapi kenyamanan itu tak bertahan lama sebab kini mereka berdua mendadak jadi bahan sorakkan setelah sepik-sepik yang Ia rasa unfaedah antara Bang yusuf dengan para senior itu.
"Sorry, Din, gue telat balikinnya. Abis kenalin ama calon mertuanya jadi lama." Ucap Yusuf ke arah Herdin yang Ia kenal sedang menjabat ketua BEM FKIP. Si pemaksa itu tersenyum lebar sembari menunjuknya.
"Jenderal kampus kita udah mo pensiun wooyyy!" Teriak salah satu dari panitia itu.
"Bentar lagi dapet undangan mewah nih gengs!" Teriak yang lain.
"Mana Ibu persitnya?"
"Bening gaeess!"
"Yahhh, jangan pensiun dulu dong, Bang,"Party" nya nggak bakal seru kalau nggak ada Abang." Kali ini Bang yusuf tergelak.
"Serasi, Bang!"
"Kalau Abang kita yang satu ini emang melek kalau soal ginian!" Lagi-lagi Bang yusuf tergelak.
"Hmm.., bakal jadi hari berkabung bagi para fans cewek nih pastinya."
Semuanya serentak terbahak.
Kali ini sumpah demi apapun Ia benar-benar seraya melayang tanpa menyentuh tanah. Wajahnya malu bak di telanjangi, saat puluhan panitia itu serempak berdiri berjalan ke arah yusuf dan menyalaminya dengan gaya mengadu kepalan tinju. Para cewek-cewek malah terlihat lebih antusias lagi ketimbang para cowok.
Ratusan maba yang sedang menikmati break makan malamnya pun tak kalah keponya.
Mendadak Ia kurang suka dengan pemandangan itu. Cemburu? apalagi yang bisa di lakukan seorang yang sedang jatuh cinta selain cinta, sayang, rindu dan cemburu.
Astaga.... saking groginya ternyata kedua tangan itu masih saling bertaut, menggenggam seakan takut terpisahkan.
Cekrek..
Sebuah kamera dari salah satu anak photografi dengan gercep nya menangkap penampakan langka tersebut.
"Ampuunn....! Apa lagi ini?" Geramnya membatin.
**
__ADS_1
TBC>>>