
*Yusuf
Ia memutar balik kendaraannya setelah memastikan Fathin telah benar-benar masuk ke dalam. Ada buncah bahagia yang kembali menguasai hatinya setelah berjumpa dengan pemilik wajah teduh menghanyutkan itu. Namun di sisi lain, Ia juga tak henti merutuki kelemahannya kali ini.
Ia yang sudah berkali-kali menegaskan bahwa akan menjauh untuk sementara waktu tapi masih bisa kalah oleh sebuah rasa tak terkendali, cemburu. Ia tidak tahan saat melewati fakultas FKIP untuk sekedar bisa melihat Fathin dari jauh, malah disuguhi pemandangan yang tak Ia inginkan. Melihat Fathin begitu cerianya bercengkerama dengan seorang pria.
Ia benar-benar tak bisa menahan diri. Sebuah rasa tak mengenakkan bergejolak di dalam sana, membuatnya sekejab berubah menjadi seperti dirinya yang dulu. Pemaksa dan tidak terima penolakan. Memaksa Fathin pulang cepat dan tentu saja pertemuan dan jarak yang begitu dekat kembali terjadi.
Degup di dada yang tak henti praktis membuatnya bekerja keras menetralkannya dengan berbicara datar dan kaku pada gadisnya. Beberapa kali mencuri tatap wajah yang kian hari kian membuatnya kelimpungan menahan rindu. Wajah yang selalu bersemburat merah dengan manik sendu yang menawan. Belum lagi saat Fathin tertawa tadi, memperlihatkan gigi gingsul dan lesung pipi di sudut bibirnya, menjadi akumulasi penghilang kewarasannya sekejap.
Ia mengulum senyum membayangkan semuanya. Tapi setelahnya, sepanjang jalan Ia kembali beristighfar banyak. Di titik ini harus Ia akui, menundukkan godaan dari dalam diri bukan perkara mudah ternyata. Maka pantaslah jika baginda Rasul memberi warning keras untuk tidak mendekati zina.
Teringat kembali semua nasehat bang Thoriq bahwa maksud mendekati zina adalah mencoba melakukan hal-hal yang bisa menarik atau menjerumuskan kita ke arah itu. Melihat, mendekati atau menyentuh perempuan yang bukan muhrim. Di sinilah pentingnya ghadul bashar, menjaga atau menundukkan pandangan.
Bagaimana Ia tidak tergoda untuk mendekati Fathin lagi. Tipuan syetan yang memberi celah dengan membisiki "hanya liat doang dari jauh, nggak apa-apa.", tak henti memberinya dorongan impulsif hingga semuanya tak terkendali dan pada akhirnya kembali terjadi.
Beruntung Ia masih bisa kuat menahan diri untuk tidak menyentuh tangan Fathin. Hal yang sangat ingin dilakukannya sebelum berpisah tadi. Ia benar-benar lemah jika berkaitan dengan Fathin. Padahal Ia sudah bisa menjaga pandangan dari semua yang berjenis wanita selama ini. Cewek-cewek di kampus yang banyak mengidolakan dirinya itu bahkan tak sedikitpun bisa mengusiknya lagi.
"Astaghfirullahal 'adziim. Ampuni hamba ya Allah yang masih belum bisa menahan diri." Ia kembali menyesali diri.
Ia tidak langsung pulang. Sore ini ada musyawarah mingguan di masjid markas. Ia akan ke sana bersama Vero dan semua personil gengnya yang sudah pernah keluar khuruj, yang telah Ia titahkan untuk menuju masjid yang dimaksud.
Tak ada cara lain..Ia harus menyibukkan diri dengan agenda dakwah dan urusan skripsi agar Ia tidak melulu memikirkan bagaimana bertemu Fathin.
*
__ADS_1
Musyawarah berjalan baik. Beberapa agenda khuruj bulan ini telah terdata. Ada banyak kargozari atau laporan hasil kerja dakwah di beberapa muhalla atau daerah yang baru di masuki jamaah gerak tak diberi izin muqim di masjid dengan berbagai alasan. Bahkan ada beberapa yang diusir dengan kasar dan tak sopan.
Ia yang memang belum terlalu faham dinamika dalam dakwah sempat bersuara menanggapi laporan tersebut dengan kekesalan. Ia fikir masjid adalah milik umat. Siapapun punya hak bahkan kewajiban yang sama untuk memakmurkannya. Mengapa malah dilarang?
Hingga kemudian penjelasan Ustad Arif selaku amir musyawarah kali ini membuatnya mafhum bahwa tidak semua orang mau menerima kerja dakwan ini. Terlebih banyak doktrin yang sengaja dibuat oleh orang_orang yang ikhtilaf bahwa metode dakwah tabligh adalah perbuatan sesat dan menyimpang.
Ustad Arif juga menambahkan bahwa kesusahan, mujahadah, pengusiran, cacian, hinaan dan lain sebagainya merupakan hal yang niscaya dalam dakwah. Merujuk pada kisah-kisah para Nabi dan Rasul juga orang-orang setelahnya yang mencoba meniti jalan ini, semua tak lepas dari penderitaan dan kesusahan.
Baginda Nabi saw adalah salah satu diantaranya. Beliau telah banyak menelan kesusahan demi sampainya risalah suci ini kepada umat. Dihina, dicela, diboikot, diusir, disakiti jiwa pun raganya bahkan percobaan pembunuhan telah beliau alami. Dengan segenap penderitaan itu, tapi tak sedikitpun membuat langkah beliau surut. Sebab ada tanggung jawab untuk menjadikan seluruh manusia taat kepada Allah.
Tetap berlaku sopan dan jangan membalas dengan keburukan. Tetap memandang seluruh makhluk dengan mahabbah tanpa ada benci dan dengki, sebab kita hanya diperintah menyampaikan kebaikan, urusan hidayah adalah hak mutlak Allah Azza wajalla.
Ia kembali teringat cerita Bang Thoriq pertama kali dapat hidayah oleh jamaah dakwah yang tidak kenal lelah mendatanginya dan menyampaikan kalimat iman. Bahkan meski sudah didzolimi mereka tetap tak hilang rasa mahabbah. Sungguh kerja yang membutuhkan hati selapang samudera.
Hatinya benar-benar terketuk untuk bisa ikut merasakan kesusahan dan pengorbanan serupa. Ia dan beberapa orang yang hadir pun akhirnya berniat nushroh atau mengunjungi jamaah yang sedang gerak empat bulan di kolaka. Jika sempat Ia akan membawa serta Vero. Adiknya itu memang tidak sebebas dirinya sebab ada si kembar yang menjadi tanggung jawabnya.
Majelis bubar setelah do'a. Vero pamit pulang duluan sementara Ia kembali bertemu Gery yang datang terlambat tadi. Keduanya saling merangkul setelah bersalaman dan tak lupa tos ala mereka.
"Kemana aja, Bang? Nomor Abang susah banget dihubungi?"
"Sibuk nyari teman hidup, calon bidadari syurga."
Keduanya terkekeh.
"Udah dapat?"
__ADS_1
"Man jadda wajada. Kalau serius pasti Allah kasi, Bro!"
"Orang mana? Kapan rencana eksekusinya?"
"Baru ta'arufan. Masih nunggu beliau khataman kubro bulan ini baru lanjut khitbah."
Ia berdecak takjub. Membayangkan bagaimana sisi kelam Gery di masa lalu tapi Allah yang Maha Baik masih berkenan memberinya calon pendamping terbaik. Meski bukan alim tapi Ia cukup faham jika calon jodoh yang dimaksud Gery adalah seorang hafidzoh, makhluk Tuhan yang telah diberi karunia Al _Qur'an di dadanya.
"Abang emang keren. Nggak nyangka gue."
Gery kembali terkekeh di sana.
"Lo harus temenin gue nanti biar gue nggak mati grogi."
" Ck, masih grogian aja lo kayak nggak kenal cewek."
"Yang ini beda, Bro.Yang gue hadapin ini bukan cewek biasa. Lo bakal ngerti gimana rasanya kalau ntar lo ketemu cewek kayak gitu. Mati gaya kita, Bro! Benar-benar nggak ada celah untuk mendekat sebelum halal."
Kali ini Ia yang terkekeh pelan sebab ingatannya seketika berlari pada wajah cantik Fathin. Kembali bertanya dalam hati bagaimana caranya agar bisa saling menjauh untuk sementara.
Perbincangan pun berlanjut sampai tak terasa keduanya suduh cukup lama duduk di teras masjid itu. Keduanya akhirnya memutuskan berpisah setelah saling berjanji akan bertemu kembali untuk membahas acara khitbah tersebut.
Sepanjang jalan merenungi setiap ucapan Gery.
"Jika kita berusaha menjaga diri maka InsyaAllah, Allah pasti akan ngasi kita jodoh yang sama, menjaga dirinya."
__ADS_1
"Aku bakal usahain, Fhat. Semoga dengan begitu Allah bakal menjaga kamu juga. Aamiinn." batinnya penuh takzim.
TBC>>>