MUJAHADAH CINTAKU

MUJAHADAH CINTAKU
# Episode 43. Menyalahi Janji


__ADS_3

*Fathin


Ia sedang duduk di sebuah taman kecil di depan gedung bahasa menunggu Mitha yang masih belum usai jam kuliahnya. Seminggu berlalu sejak perpisahannya dengan Yusuf. Ia mulai bisa menerima keputusan Yusuf untuk saling menjauh alias menjaga jarak untuk sementara waktu. Sedikit banyak Ia mulai faham apa maksud semua ini setelah beberapa kali mendengar penjelasan panjang kali lebar kakak-kakak senior di MPM jika sedang diskusi soal kepemudaan di Mushola.


Mitha pun tak henti memberinya semangat dan pengertian bahwa apa yang dilakukan oleh Kak Yusuf adalah yang terbaik.


"Menurut gue, nih, yah, itu malah sebentuk posesif ter-sweet dari seorang cowok untuk ceweknya yang pernah gue denger. Secara hari gini semua orang malah menjadikan pacaran itu seperti trend. Nggak pacaran berarti nggak gaul, nggak laku. Sampe ada yang karna terlalu asyik jadi lupa diri, ngelakuin hal-hal di luar batas kewajaran. Nah, lo, Bang Yusuf malah ingin menjaga lo dengan cara menjauh dan nunggu dia siap dulu, trus go pelaminan, deh. Posesifnya Bang Yusuf itu bukan cuma ngejaga lo dari gangguan cowok lain, tapi lebih dari itu, ngejaga lo berdua dari dosa. Sweet nggak, sih?"


Sudut bibirnya tertarik saat kembali teringat ocehan panjang Mitha tentang si Abang. Ia masih dengan senyum simpulnya saat tetiba ada suara dari belakang yang memanggil namanya. Ia berbalik dan mendapati teman barunya, Rafael dengan senyum hangatnya.


"Hai, blum pulang?" Rafael bertanya seraya ikut duduk tak jauh darinya setelah Ia mengangguk memberi izin.


"Blum. Masih nunggu temen. Kamu sendiri, kok blum pulang?" Ia bertanya balik sekedar basa-basi.


"Sama. Lagi nunggu temen juga. Oh, iya, kalau boleh tau kamu tinggal di mana Fhat?" Rafael bertanya hati-hati.


" Deket, kok. Pondok Srikandi yang di lorong kambu." sahutnya santai tanpa menaruh curiga.


"Oh, di situ rupanya. Berarti kamu kenal Bang Arsyil, dong."


"Kenal tapi nggak akrab. Kamu kenal sama Bang Arsyil?"


"Bang Arsyil kakak aku."


"Oh, ya? Haha. Pantes aja kemaren pas pertama liat kamu, aku tuh kepikiran kayak pernah ketemu kamu di manaa gitu. Ternyata muka kamu yang mirip sama Bang Arsyil. Sodara ternyata." Ia terkekeh tak menyangka.


Perbincangan pun merembet ke mana-mana, sampai ke tema mata kuliah mereka hari ini. Rafael cukup bisa membuat suasana cair dan hangat dengan candaan recehnya.


Ia masih asyik menjadi pendengar terbaik teman barunya itu saat tetiba ponselnya berdering tanda ada panggilan masuk. Ia menatap pada layar kuning gawainya dan,


Degh..


Benar. Ia tidak salah lihat. Si penelepon adalah orang yang telah seminggu menghilang lagi dari hidupnya. Orang yang sejujurnya sangat Ia harapkan ingin bertemu dengannya. Buru-buru Ia meminta izin sedikit menjauh dari Rafael dan dengan tangan gemetar Ia menekan tombol terima.


"Assalaamu'alaikum, Kak!" Ucapnya memulai dengan suara yang terbata. Manik sendunya bahkan mulai memanas. Rasa itu, kini hadir lagi. Rasa yang tak terperikan. Rindu.


Suara di seberang terdengar ditarik kasar. Agak lama kemudian suara datar itu menjawab salamnya, lalu,


"Pulang sekarang!"


Pulang? pulang kemana? Ia masih belum mengerti. Hendak bertanya tapi suara berat di sana kembali bersuara.


"Aku tunggu di depan fakultas kamu. Sekarang!" masih datar.


"I-iya, kak!"


Meski masih bertanya-tanya dalam hati, tapi Ia tidak ingin bertanya. Suara datar Yusuf seperti mengembalikan ingatannya pada sosok Yusuf sebelum ini. Tegas, datar, dan pemaksa, tak terima penolakan.


Ia pun pamit duluan pada Rafael yang masih setia menunggunya di tempat tadi. Keduanya lalu berpisah. Ia masih sempat mengirim pesan singkat ke nomor Mitha, Azhar dan Akram memberitahu jika Ia pulang duluan sebab ada urusan mendadak.


Ia berjalan agak cepat keluar dari area fakultas. Dari jauh Ia sudah bisa melihat sosok dengan wajah tampannya berhias kacamata hitam di sana. Berdiri menyilang kaki seraya merogoh saku celana menatap gawai yang sedang dipegangnya.


Ia tiba di hadapan sang pria. Entahlah Ia tak mampu menatap tatapan yang sudah Ia duga pasti sedang menatapnya tajam. Ia memilih menunduk seraya meremasi tali mini ranselnya.


Ia yang mengira akan duduk di belakang kemudi tapi Yusuf membuka pintu di samping kemudi dan menyuruhnya masuk. Masih dengan suara datar. Ia gugup tentu saja. Setelah Ia meneguhkan hatinya dan yakin bahwa pertemuan seperti ini tidak akan terjadi lagi, tapi nyatanya hari ini mereka kembali bersama. Dan, jujur saja sedari tadi dadanya tak henti kembang kempis sebab rasa bahagia yang begitu menguasainya.


Rindu yang seminggu menyiksa seketika terobati dengan sendirinya. Ia sampai meragukan apakah ini nyata atau tidak. Bukan. tanpa sebab, Ia sungguh mengira pertemuan minggu lalu adalah yang terakhir kali hingga tiba masa yang dijanjikan itu. Ia mengulas senyum simpul seraya melirik sekejap Yusuf yang sedang mengitar mobilnya hendak masuk setelah menutup pintu mobil untuknya. Ia pun duduk masih dengan mode yang sama, diam dan menunduk.


Yusuf menoleh sekilas. Lalu tiba-tiba mencondongkan tubuh meraih seatbelt dan memasangkan untuknya. Wangi parfum mahal yang maskulin seketika memenuhi rongga penciumannya. Dadanya seketika berdesir hebat kembali menghadirkan bayangan-bayangan kedekatan serupa yang pernah mereka lalui.


Wajah yang begitu dekat dan hembusan nafas yang hangat sekelebat menyapu wajahnya. Benar-benar akumulasi godaan syetan yang begitu melenakannya.


Yusuf kembali ke posisi awal. Masih diam belum berniat menghidupkan kendaraannya. Pria itu menatap lurus ke depan. Menoleh ke arahnya sebentar dan buru-buru mengalihkan kembali pandangan. Ia menelan saliva terpaksa. Ada sebuah dorongan yang kuat dari dalam sana yang menyuruhnya untuk ikut menatap wajah di sampingnya. Tak tahan juga akhirnya, Ia pun ikut menoleh saat Ia rasa tatapan itu kembali terarah padanya. Dan,

__ADS_1


Degh...


Dadanya kembali berdegup kencang. Betapa tidak wajah yang kian tampan dan bersih itu seperti memiliki sihir tersendiri yang membuatnya enggan untuk berpaling cepat. Tapi sungguh menyebalkan, Yusuf malah berpaling cepat membuatnya tersadar seketika dan salah tingkah. Wajahnya seketika merona malu.


Seperti ingin melebur kegrogiannya pria itu akhirnya memutar kunci kontak dan menjalankan kendaraannya. Ia kembali mengatur degup di dada dan menenangkan hatinya.


"Siapa tadi?" suara Yusuf akhirnya memecah kesenyian yang terjadi. Datar dan dengan tatapan tajam menahan kesal.


"Y-yang mana?" Ia gelagapan menyahut asal padahal Ia sangat tahu yang dimaksud pria itu adalah Rafael.


"Cowok yang bikin kamu sampe tertawa lepas kayak tadi."


Ia tercekat. Itu berarti Yusuf melihat semuanya.


"Astaga, katanya jangan dulu bertemu, saling menjauh tapi, kok, malah jadi penguntit, sih!" batinnya tak habis pikir. Ia ingin tertawa tapi tak cukup berani melihat gelagat tak mengenakkan dari si pembicara. Ia akhirnya hanya bisa tersenyum simpul, sialnya Yusuf melihat itu.


"Ada yang lucu? Senyam- senyum nggak jelas kayak gitu." yusuf menatapnya sekilas.


"Ng-nggak ada." Ia menggeleng tapi masih belum berhenti dari senyumnya.


"Trus?"


"Ih, apaan, sih. Nggak ada yang lucu. Beneran." Ia kini malah kelepasan tertawa kecil. Memperlihatkan gigi ginsulnya yang praktis membuat Yusuf kembali menatapnya tajam. Kali ini sedikit lama.


"Eh, ngeliat ke sininya jangan lama, fokus tuh nyetir, kita blum nikah. Aku nggak mau mati muda." Ia kembali tertawa berusaha keras memancing setidaknya senyum dari wajah tampan sang kekasih. Dan kali ini berhasil meski samar.


"Kamu blum jawab. Itu tadi siapa?"


Ia memutar bola mata jengah. Haruskah di jawab?


"Cuma temen sekelas, Kak. Beneran. Bukan siapa-siapa."


"Hemm. Cuma teman tapi kayak bahagia banget."


"Ih, bahagia apaan, sih. Orang cuma tertawa doang."


"Jangan-jangan karena ini kakak nggak nepatin janji buat kita jauhan dulu."


Yusuf nampak gelagapan.


"Makanya jangan mancing."


"Ng-nggak, kok. Kakak aja yang bawaannya curigaan. Lagian kenapa, sih, harus jadi penguntit?"


"Aku nggak mau liat kamu dekat seperti tadi dengan cowok manapun. Jangan macam-macam! Banyak mata- mata di sini yang udah aku kasi mandat buat mantau kamu."


"Kakak nggak percaya sama aku?"


"Cuma pengen mastiin."


"Ck, Itu tadi kebetulan doang kita lagi sama-sama nungguin temen. Dia tiba-tiba nyamperin, ajak ngobrol. Udah gitu aja."


"Udah makan?" Ia kembali berdecak. Selalu saja mengalihkan pembicaraan tiba-tiba.


"Udah tadi di kantin."


"Nggak laper lagi?" sudah mulai melunak. Ia akhirnya melega.


"Masih kenyang."


"Nggak belanja dulu, kebutuhan kamu atau makanan?"


"Nggak. Aku capek. Pen cepet-cepet pulang mandi."

__ADS_1


"Kalau gitu aku antar pulang sekarang. Bentar lagi juga ashar."


Ia mengangguk tak berniat membantah.


Keduanya kembali diam.


"Tadi ke kampus bareng siapa?"


"Azhar."


"Kamu bisa nyetir?" Ia terhenyak mulai menyadari kalau Yusuf sedang kembali ke mode no basa-basi, to the point dan berpotensi memaksa lagi.


"Jangan ngadi-ngadi. Aku nggak bisa."


"Kamu mau mobil atau motor ke kampus?"


"Apaan, sih, Kak. Bareng Azhar doang, masa nggak boleh."


"Aku nggak suka. Tinggal jawab aja. Mobil atau motor?" tatapan Yusuf masih lurus dan tajam ke depan.


"Nggak ada. Aku naik angkot aja kalau gitu."


"Nggak. Nanti dempet-dempetan sama laki-laki lagi." kembali posesif.


"Tap-,"


"Nggak ada tapi-tapian. Ntar malam Erick ke sini bawain motor karna kamu belum bisa nyetir."


"Kak...,"


"Aku nggak suka dibantah. Please! Bantu aku kuat jauhan dari kamu dengan kamu lebih membatasi diri dengan siapa pun itu jika dia laki-laki."


Mobil sudah berhenti di pelataran kostan. Tapi Yusuf masih bergeming. Ia pun ikut bergeming.


"Aku sedang belajar. Tolong! Aku nggak kuat kalau liat kamu sama cowok lain, siapapun itu." suara bang Yusuf kini memelan dan luluh. Tak sedatar tadi.


Ia tertunduk berusaha menjadi pendengar yang baik meski sebagian hatinya seperti sedikit protes jika Ia harus menjauhi Azhar dan Akram.


"Maaf kalau terkesan egois."


Ia masih bergeming menunduk dalam.


"Kamu marah?"


"Nggak." Ia menggeleng.


"Kok, diam?"


Ia menghela nafas pelan.


"Aku akan usahain. Tapi nggak bisa sekaligus. Kita udah lama sahabatan soalnya. Kita udah seperti saudara."


Yusuf mengangguk dan kembali berucap,


"Tapi ntar malam Erick akan tetap ke sini bawain motor."


"Ih, apaan, sih. Maksa banget!"


Yusuf tak menanggapi malah tersenyum. Ia melirik dan lagi-lagi tatapan keduanya bertemu.


"I miss you."


Ia ikut tersenyum. Ingin membalas dengan ucapan yang sama tapi rasa malu lebih menguasainya. Pipinya malah bersemburat merah.

__ADS_1


Ah, semua rindu serasa terbayar sekejap.


TBC>>>


__ADS_2