
*Yusuf
Ia memarkir kendaraannya di halaman sebuah masjid yang cukup besar dan megah. Kembali Ia menelisik ulang eksterior masjid terutama pada ukiran besar kaligrafi bertuliskan nama tempat ibadah itu juga warna keseluruhan badan masjid tersebut. Sekedar untuk memastikan jika Ia tidak salah alamat sesuai petunjuk yang diberikan Gery di panggilan teleponnya beberapa menit yang lalu.
"MASJID BAITURRAHMAN"
Ia membaca tulisan besar yang terpampang di bagian atas masjid tersebut. Masjid berdaya tampung lumayan besar plus kubah yang cukup megah dengan dominasi warna gold mix hijau pada keseluruhan bangunannya.
Beberapa orang yang berada di luar terlihat sibuk berlalu lalang, keluar masuk di sebuah ruangan kecil yang terpisah dari badan masjid. Sepertinya ruangan itu berfungsi sebagai dapur melihat dua orang bergantian keluar membawa panci berisi sesuatu yang nampak masih panas.
Ia masih sibuk menyapukan pandangan takjubnya saat netranya menangkap bayangan Gery yang berjalan keluar dari masjid mengarah padanya. Ia pun dengan cepat menarik kunci mobil dan keluar bersama senyum lebar yang menawan.
Gery ikut sumringah, tapi sejenak kemudian nampak sedikit terkejut menatap takjub pada tampilan dirinya. Ia memang sudah berganti kostum dengan setelan kurtah pemberian pria itu. Ingin tampil tetap stylish, Ia memilih memakai peci kupluk warna gelap. Rambut gondrongnya diikat cepol dan Ia sembunyikan di sebalik penutup kepalanya itu. Kacamata hitam yang bertengger manis di atas hidung mancungnya, menjadikan wajah tampannya kian paripurna. Gery terlihat berdecak kagum.
"Assalaamu'alaikum, Bro!" Seru Gery mengangkat tangannya mendekat. Keduanya saling berjabat tangan dan menyilangkan ibu jari, terakhir seperti biasa mengadu kepalan tinju, tos ala laki andalan.
"Wa'alaikumsalaam, Bang!" Ia mulai sering akrab dengan lafaz ini semenjak Gery bertransformasi menjadi pria alim. Sebelumnya Ia lebih banyak berinteraksi dengan umpatan yang sebab terlalu sering digunakan malah berubah menjadi sebuah habit. Miris!
"Level kegantengan lu naik berlipat-lipat kalau kayak gini, Bro! Gue sampe pangling tadi!" Ia tergelak menanggapi pujian Gery yang dirasanya over.
"Btw, dari mana ajha, lama banget prepare-nya?"
"Biasa, Bang, izin dulu ama calon bini!" Ia tergelak bersamaan dengan kekehan kecil dari pria gagah di hadapannya itu.
"MaasyaAllah, beneran nih?"
"Doa'in, Bang!"
"Subhanallah, Baarokallah! perlu gue sujud syukurin nggak nih?"
"Dipuasain skalian, Bang!" Keduanya tergelak sembari saling merangkul.
"Ayo masuk, udah banyak yang dateng tuh tasykilan smalem!" Ia mengangguk dan berjalan mensejajari langkah Gery.
Sebenarnya Ia masih asing dengan banyak istilah yang kian sering Gery gunakan, tapi Ia memilih menyimpan dulu pertanyaan-pertanyaannya itu. Ia fikir akan mencari waktu yang tepat soal ini.
Saat kakinya menapaki dinginnya lantai ubin teras masjid, mendadak hatinya terenyuh. Ini adalah the first time after a long time. Setelah sekian tahun, Ia seakan lupa akan keberadaan tempat suci ini. Ia benar-benar telah lama alpa berkunjung di rumah Sang Pencipta. Getaran di tubuhnya saat ini sungguh menjelaskan jika betapa selama ini Ia telah begitu jauh dari Tuhan. Hati dan imannya sungguh jauh dari kata baik-baik saja.
Tapi, eits, ada satu pemandangan menarik dan unik yang mendadak membuyarkan bisikan-bisikan hatinya yang sedang melankolis, yaitu deretan sandal juga sepatu yang tertata dengan sangat rapi dan sudah di setting sedemikian rupa, agar penggunanya tinggal memakainya tanpa harus repot memutar posisinya lagi. Ia sampai tak sanggup menahan diri untuk tidak bertanya,
"Bang, ini sandalnya semua udah ready to used gini siapa yang inisiatif?" Gery yang hendak masuk ke dalam masjid seketika menahan langkah dan berbalik menatap mengikuti arah pandangannya pada puluhan alaskaki yang tersusun dengan sangat rapi. Pria itu nampak tersenyum lebar seraya kembali menghampirinya.
"Orang-orang banyak yang nganggap ini sepele. Hal biasa yang orang kadang pikir, semua orang bisa lakuin ini, atau paling banter dikasi pujian. Tapi percaya nggak, banyak orang yang ter-tasykil ikut ambil bagian dalam kerja agama ini (Dakwah), malah gara-gara amalan ini, hikmad ngatur-ngatur sandal jamaah masjid yang dateng!"
"Lo bener. Gue aja excited tadi liatnya. Ini luar biasa, keren banget, nggak smua orang mau soalnya bikin kayak gini! Apalagi Kalau mikir gengsi, ini bisa nurunin prestise, kan?" Ia tak henti memuji sembari menggeleng takjub.
"Right!" Gery manggut-manggut membenarkan.
"Kerjaan ini emang masuk dalam agenda program khuruj-nya, yah, Bang? atau inisiatif doang?" Ia masih begitu tertarik dengan vocal point yang satu ini, dan beruntung Gery tak merasa keberatan sama sekali untuk berbagi ilmu dengannya.
"Kalau dibilang bagian dari program kerja sih nggak juga. Ini lebih ke arah adab aja. Adab sebagai Istiqbal atau penerima tamu. Posisinya skarang kan kita yang ngundang, manggil orang-orang datang ke masjid, otomatis kita jadi tuan rumah yang punya tanggungjawab moral untuk nyenangin tamunya, dan ini sunnah Baginda Nabi!"
"Nah, gimana nyenangin hati tamu, yah, salah satunya hal kecil gini. Lagian nggak rugi, Bro, nyenangin hati orang itu berpahala di sisi Allah. Khidmat itu salah satu amalan yang secara horizontal dapat, yaitu tadi, reward pahala dari Allah dan secara vertical dapat juga, manusia jadi senang sama kita. Orang kalau udah senang ma kita, biasanya ajakan atau nasehat kita gampang diterima. So, impact positifnya dapet semua!" Ia berkali-kali mengangguk mengerti. Keduanya masih berdiri di teras masjid sembari menatap jejeran alas kaki itu.
"Btw, Abang udah pernah lakuin ini?" Ia nampak meragukan sahabatnya itu. Pria dengan janggut rapi itu malah tergelak menanggapi pertanyaan impulsifnya. Tapi sejurus kemudian Ia dibuat termangu dengan jawaban Gery,
"Hijrah itu totalitas tanpa batas, Bro! Islam itu kaffah alias sempurna dalam petunjuk. Kita nggak bisa main seleksi mana yang mau diamalkan dan nggak. Nabi SAW udah kasi contoh, tauladan terbaik dalam Iman, Ibadah, Muamalah, Muasyarah juga akhlak. Dan kerjaan ini adalah bagian dari tauladan akhlak Nabi dalam hal nyenangin hati saudara muslim!" Ia kembali manggut-manggut mengerti sekaligus takjub akan transformasi masif dari sahabatnya itu. Gery benar-benar terkader dengan baik di sini. Buncah keingintahuannya kian besar.
"Di dalam masih ada Ta'lim, dengerin Ayat-ayat sama hadist Nabi! Tapi sebelum gabung ke majelisnya kita wudhu dulu!"
"Harus yah? emang mau langsung shalat gitu?" Bukan tanpa alasan Ia bertanya demikian. Selama ini Ia tak memahami hal prinsip seperti ini, bahwa masjid itu tempat ibadah, tempat suci. Jadi, sudah seyogyanya memasukinya dalam keadaan suci pula. Di tambah sempitnya pemahamannya selama ini yang mengira wudhu itu hanya dilakukan jika hendak shalat.
"Adab! biar pahalanya dobel!" Sahut Gery masih dengan kekehan kecilnya.
"Oh, gitu? okelah! Gue ngekor deh pokoknya! Katanya kalau pengen jadi ekspert wajib punya mentor. So, Abang jadi mentor gue mulai skarang!"
__ADS_1
"Bisa aja, lu, InsyaAllah kita sama-sama belajar lah!" Sahut Gery lembut seraya menepuk bahunya pelan.
Ia kian menemukan sisi lain dari sahabatnya itu. Gery bukan hanya berubah sebatas looking, tapi mindset juga pola interaksi yang lebih wise sejak bergabung dengan komunitas dakwah itu. Ia kian terlecut dengan ini untuk berubah lebih baik.
Ia melangkah seraya menggulung ujung lengan bajunya. Menaikkan sedikit songkok yang Ia kenakan lalu mulai membasuh tangan bersamaan lisannya yang melafaz basmalah. Ia lalu berkumur, membasuh hidung dan membasuh wajah seraya melaungkan niat wudhu yang sukses kembali segar diingatannya berkat bantuan mbah google.
"Nawaitul wudhuu-a liraf'll hadatsil ashghari fardhal lilaahi ta'aalaa!"
("Saya niat berwudhu untuk menghilangkan hadast kecil wajib karena Allah Ta’ala!”)
Senyum kecut tetiba menghias bibirnya sebab kembali teringat pengalaman buruknya shubuh tadi.
Ia melirik Gery yang begitu hati-hati, pelan dan tidak terburu-buru seperti dirinya saat membasuh tangan. Pertama-tama gery membasahi telapak tangannya lalu keseluruhan punggung tangan terakhir menggosok sela-sela jari-jarinya bergantian kanan dan kiri.
Gery yang sadar sedang diperhatikan olehnya ikut melirik balik dan memberi instruksi lewat isyarat agar Ia mengikuti setiap gerakannya. Ia pun mengiyakan lewat gerakan alis dan bibirnya. Tangannya terangkat menautkan jari telunjuk dan jempol membentuk huruf O.
Lagi-lagi sudut bibirnya tertarik. Mentor yang satu ini ternyata penganut mode tauladan dan teori jalan beriring, speak and than show it.
Ia mulai focus memperhatikan dengan seksama gerakan Gery satu persatu lalu mengikutinya dengan baik. Saat di part membasuh hidung, Ia sedikit ngeri saat hendak menghirup air dalam-dalam. Tapi Ia berusaha ikut saja sampai-sampai Ia tersedak dan terbatuk-batuk sebab terlambat mengeluarkan air itu kembali. Ia merasakan perih di sepanjang rongga hingga area pangkal hidung antara kedua alisnya. Matanya bahkan sampai berair.
"Be slowly!" Ucap Gery yang nampak sedikit khawatir melihatnya terbatuk-batuk.
"Harus sampai masuk ke dalem banget, yah airnya? Kok lu anteng aja, Bang? Ada tekhnik khusus atau gimana?" Ia masih sesekali terbatuk meski tak separah tadi.
"Masukkin air sampai ke pangkal hidung kayak gitu tadi namanya Istinsyaq, ngeluarinnya dengan ngasi dorongan dari dalam namanya Istintsar. Istinsyaq fungsinya membersihkan rongga hidung mulai dari rongga hidung depan, sekat hidung sampai ke nasofaring atau bagian hidung belakang markas besar tempat para bakteri sama virus ngumpet!" Sepertinya Gery tak ingin satupun moment terlewatkan tanpa memberinya nutrisi ilmu-ilmu baru.
"Airnya di hirup dengan satu tarikan napas trus di semburin melalui dorongan napas yang agak kuat keluar! diulang tiga kali!"
"Itu tadi karna lu telat ngeluarinnya. Airnya udah terlanjur masuk ke tenggorokan bagian dalam, baru ada dorongan keluar jadi bikin tersedak. Biasalah perdana. Ntar kalau udah sering bakal biasa!"
"Gitu? Ribet juga, yah?" Gery hanya tergelak menimpali,
"Nggak, kok! kalau udah jatuh cinta sama amal agama, semua bakal terasa mudah, bahkan nikmat!"
"Ya udah, ulang kalau gitu!" Timpalnya semangat.
Keduanya pun akhirnya mengulang gerakan wudhu dari awal. Kini Ia lebih hati-hati agar tak mengulang drama tersedak tadi, dan yeahhh, berhasil.
Kali ini Ia kembali melek akan kekeliruan pada beberapa gerakan wudhu yang biasa dilakukannya. Misal, saat membasuh wajah, ternyata batas basuhannya adalah batas tumbuhnya rambut mengikuti garis rahang hingga ke bawah dagu. Lalu, pembagian posisi jari saat membasuh telinga di mana jari telunjuk untuk bagian dalam dan jempol untuk di luar. Belum lagi sesi menyela-nyela dengan teliti di antara sela-sela jari hingga ke mata kaki pada gerakan penutup.
Keduanya pun akhirnya keluar dari area tempat wudhu setelah takzim melafal do'a seusai berwudhu,
"Asyhadu allaa ilaaha illallaah, wahdahu laa syariika lahu, wa asyhadu anna muhammadan 'abduhu wa Rasuuluhu. Allahumma j'alnii minat tawwabiina, waj'alnii minal mutathahiriina waj'alnii min 'ibaadikash shalihiina!
("Aku bersaksi bahwa tiada Tuhan melainkan Allah, tiada sekutu baginya, dan aku bersaksi bahwa Nabi Muhammad itu hamba dan utusanNya. Ya Allah! Jadikanlah aku dari golongan orang-orang yang bertaubat dan jadikanlah aku dari golongan orang-orang yang bersuci dan jadikanlah aku bagian dari hamba-hamba-Mu yang sholeh.")
Beberapa pria dewasa yang dilihatnya sibuk wara-wiri di ruangan kecil sebelumnya, terlihat berjalan menghampiri keduanya, saat Ia dan Gery hendak masuk ke dalam. Sama seperti yang biasa Gery lakukan padanya saat bertemu, orang-orang itu menyapa riang penuh semangat, dengan ucapan salam tentunya. Ia pun mencoba merubah ekspresi wajah datar dan cueknya dengan senyum terbaiknya, lalu membalas salam itu.
Keduanya pun masuk kedalam setelah basa-basi secukupnya. Gery mengajaknya langsung bergabung dengan majelis yang ada, di mana puluhan jamaah pria segala umur sedang duduk terpekur, begitu focus menghadap ke arah samping mimbar, di mana seorang pria paruh baya bertongkat, sedang duduk di atas sebuah kursi seraya berbicara memberi semacam ceramah agama.
Ia menyapukan netranya dan seketika tatapannya berhenti pada wajah-wajah yang sama di acara "Ngopi" semalam. Ia pun refleks mengangkat tangannya isyarat menyapa sembari tersenyum lebar. Tak ingin terlalu menjadi pusat perhatian Ia pun memilih mengajak Gery duduk di bagian belakang.
"Ta'lim kitabi alias baca kitabnya udah kelar. Sekarang Mudzakarah (saling mengingatkan) tentang sifat-sifat mulia para shahabat Nabi SAW!" Bisik Gery saat mereka sudah duduk menyatu dengan barisan para pendengar itu.
Seperti biasa Ia hanya bisa ber_ooh panjang dan manggut-manggut. Ia mulai berpikir jika otaknya benar-benar harus berpentium empat plus muatan seratus Ram untuk men-save istilah-istilah yang biasa Gery gunakan.
Manik elangnya kini beralih focus pada wajah bersahaja penuh wibawa dan meneduhkan di depan sana yang sedang berbicara lembut tapi cukup tegas menghujam dada.
"Allah SWT telah menetapkan kebahagiaan dan kejayaan seluruh makhluk ciptaannya pada fitrahnya masing-masing. Sebagaimana Burung, Ia hanya akan bahagia apabila hidupnya bebas terbang kesana-kemari, dari pohon ke pohon, dari negeri yang satu ke negeri yang lain. Bila Ia mencoba keluar dari fitrah ini, meskipun Ia tinggal dalam sangkar emas, di beri makanan yang enak-enak tanpa harus bersusah payah berusaha, maka Ia tetap akan merasa sengsara bahkan binasa. Atau ikan, Ia hanya akan bahagia saat tetap berada pada fitrahnya yaitu berenang bebas dalam air. Bila Ia mencoba keluar dari fitrah ini maka Ia pun pasti akan binasa."
"Lalu bagaimana dengan manusia? makhluk paling sempurna dari segi penciptaannya. Allah Azza wa Jalla pun telah meletakkan kebahagiaan, kesuksesan, kejayaannya yaitu pada sejaumana mereka mengamalkan agama secara sempurna!"
"Agama yang sempurna adalah menunaikan segala perintah Allah SWT dan menjauhi segala larangan-Nya dengan mengikuti atau Ittiba dengan baik pada contoh, tauladan dari Baginda Rasulullah SAW!"
Ia yang awalnya begitu gelisah entah sebab apa, tiba-tiba merasa tersentuh dengan kalimat-kalimat yang disampaikan oleh sang pembicara. Lagi-lagi sebuah hawa sejuk terasa mengembus menyapa jantungnya lembut. Dingin, menenangkan. Ia mulai ikutan terpekur menunduk. Sepenuh hati menanti hendak menyimak takzim.
__ADS_1
"Hari ini banyak manusia yang salah kaprah. Menganggap kebahagiaan dan kejayaan ada dalam dunia yang siang malam mereka usahakan itu. Padahal telah banyak berlalu Ibrah ( pelajaran) dari kehidupan orang-orang terdahulu yang telah mencoba menjadikan dunia ini sebagai asbab (sebab) bahagia dan jaya namun semua berakhir pada kebinasaan bahkan kehinaan."
"Sebut saja Qarun. Ia telah menumpuk harta yang begitu banyak, berharap perkara ini akan membuatnya bahagia. Namun apa yang terjadi saat Qarun tidak ada iman dan amal? Ia binasa bersama timbunan hartanya."
"Fir'aun, Ia dengan pongahnya menganggap imperium raksasa miliknya, kerajaan dan kuasanya akan membuatnya bahagia. Bahkan Ia begitu berani mengaku dirinya Tuhan. Maka apa yang terjadi saat Ia hidup tanpa agama? Allah binasakan!"
"Ada Namrud, lalu kaum A'ad dan Tsamud, juga orang-orang setelah mereka dari zaman ke zaman yang hidup tanpa agama bahkan durhaka pada Allah, Semua binasa bersama murka Allah SWT ke atas mereka!"
"Kebahagiaan dan kejayaan dunia akhirat hanya dalam iman dan amal agama yang sempurna. Sudah menjadi kaidah yang absolut, bahwa jika ingin sukses maka kita perlu mengikuti gaya hidup orang yang telah sukses duluan. Sama dalam perkara ini, kita perlu mencontoh kehidupan mereka yang telah sukses dalam iman dan amal agama. Siapa mereka? Para shahabat- shahabiyah Nabi SAW."
"Definisi sukses yang sesungguhnya adalah saat mati membawa kalimat Laailaaha illallah, lalu Allah jauhkan dari neraka dan masuk syurga tanpa hisab!"
"..... Faman zuhziha ‘aninnaari wa-udkhilal jannata faqad faaza wamaal hayaatud-dunyaa ilaa mataa’ul ghuruur."
("...Barangsiapa dijauhkan dari neraka dan dimasukkan ke dalam surga, sungguh, dia memperoleh kemenangan.
Kehidupan dunia hanyalah kesenangan yang memperdaya.") (Q.S.Ali Imran:185).
"Jaya adalah saat Allah SWT Ridho atas hidup dan mati kita! Allah SWT telah mengabarkan kepada kita melalui kalam suci-Nya, tentang siapa mereka yang telah diridhoi kehidupan dunia dan akhiratnya?"
"Wassaabiquunal aw-waluuna minal muhaajiriina wal anshaari waal-ladziina-ttaba’uuhum biihsaanin radhiyallahu ‘anhum waradhuu ‘anhu wa-a’adda lahum jannaatin tajrii tahtahaal anhaaru khaalidiina fiihaa abadan dzalikal fauzul ‘azhiim."(Q.S.At-taubah:100).
"Orang-orang yang terdahulu lagi yang pertama-tama (masuk Islam) dari golongan muhajirin dan anshar dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik, Allah ridha kepada mereka dan merekapun ridha kepada Allah dan Allah menyediakan bagi mereka surga-surga yang mengalir sungai-sungai di dalamnya selama-lamanya. Mereka kekal di dalamnya. Itulah kemenangan yang besar."
"Ittiba' dengan baik pada jalan hidup mereka, maka InsyaAllah kita pun akan diberi kebahagiaan dan kejayaan dunia dan akhirat. Mereka, para shahabat, kata Nabi SAW adalah khairul kurun. Kurun atau generasi terbaik sepanjang peradaban manusia. Tidak ada kehidupan yang lebih baik dari kehidupan mereka, sebelum maupun sesudahnya."
"Keimanan mereka, shalat, ilmu, dzikir, akhlak juga semangat memperjuangkan agama sungguh tiada tandingannya. Kecintaan dan ketaatan mereka pada Allah dan Rasul-Nya melebihi kecintaan mereka bahkan pada diri mereka sendiri."
"Tingkat keimanan para shahabat ini, sudah pada level menafikan pandangan mata sendiri lalu meyakini sepenuhnya pada apa yang dikatakan Baginda Rasulullah SAW. Saat Nabi memperlihatkan sesuatu pada para shahabat r. hum, mereka tak pernah sekalipun langsung menjawab meskipun jelas didepan mata, lalu jawaban mereka sebagai bukti kesempurnaan iman mereka?
"Allaahu wa Rasuuluhu a’lam (Allah dan Rasul-Nya lebih mengetahui).
Ia kian asyik tenggelam dalam suasana penuh khidmat. Semua tertunduk meresapi kata per kata, kalimat demi kalimat dari pria bertongkat itu. Setidaknya Ia boleh berasumsi jika laki-laki paruh baya di depan sana bukanlah orang biasa. Wawasan ilmunya terlihat begitu dalam.
Panjang kali lebar Pria paruh bata itu menjabarkan bagaimana sifat shalat para Shahabat yang begitu sempurna khusyu dan khudu-nya. Beberapa kisah mereka pada saat shalat sungguh membuatnya meremang. Ia masih bisa mengingatnya dengan baik mengenai beberapa diantaranya sebelum di bunuh oleh kaum kuraisy, satu-satunya permintaan mereka adalah izinkan shalat untuk yang terakhir kalinya.
Belum lagi urusan kecintaan terhadap ilmu, Dzikir yang tiada pernah putus dari lisan hingga kematian datang. Ditambah kesempurnaan akhlak para shahabat yang sudah di level Itsar atau mendahulukan kepentingan orang lain di atas kepentingan diri sendiri.
Dan di part yang terakhir ini, Ia benar-benar terpukul. Tanpa terasa air matanya menetes, mengalir. Ia seakan ikut terbawa suasana saat cerita tentang pengorbanan para shahabat dalam menemani, mendampingi dan membela perjuangan Baginda Nabi SAW dalam mendakwahkan dan memperjuangkan islam.
"Hadirin yang dimuliakan Allah SWT, Agama ini tidak ujug-ujug hadir di tengah-tengah kita hari ini. Agama ini tidak di bawa oleh angin, ataupun air. Tapi Agama ini ada dalam diri kita hari ini adalah sebab adanya pengorbanan Nabi SAW dan para Shahabatnya. Nikmat agama, nikmat ibadah yang kita rasakan hari ini adalah hasil dari peluh, airmata bahkan darah para syuhada dan syahidah dari kalangan Shahabat r. hum."
"Hasil dari tangisan janda-janda shahabat dan raungan anak-anak yatim mereka. Buah dari kejaran kaum kuraisy yang hendak membunuh Rasulullah SAW hingga sampai di gua hira. Hasil dari kotoran unta yang hari-hari mengotori pakaian Nabi SAW saat menyampaikan agama ini pada kaumnya. Hasil dari luka dan darah Baginda Rasul di kota Thoif saat Beliau di lempari batu oleh pemuda-pemuda di sepanjang kota tersebut. Buah dari pengorbanan Ibunda Khadijatul Qubro yang telah rela menghabiskan seluruh hartanya demi membantu perjuangan Nabi SAW. Di sini Ada kelaparan dan penderitaan hidup dari Sayyidatina Fathimah r. ha beserta dua cucu kesayangan Nabi. Ada kapayahan dan kelaparan mereka akibat boikot di hudaibiyah, lalu ratusan ribu nyawa yang terkorban, syahid di medan badar, uhud, mu'tah, khaibar, hunain khandaq juga medan perang lainnya!"
"Jamaah sekalian yang InsyaAllah dimuliakan Allah SWT, rasa syukur dan terimakasih kita atas perjuangan mereka tidak cukup hanya dengan ucapan. Ada tanggungjawab moral yang kita emban sebagai representasi rasa syukur kita yaitu dengan menyambut tongkat estafet dakwah ala minhajin nubuwwah, dengan bersungguh-sungguh menjaga tegaknya Agama ini melalui Dakwah. Jihad Menyampaikan, mengajak manusia pada kebenaran dan mencegah mereka dari kemungkaran!"
"Allah SWT telah melantik Ummat ini menjadi Khairu Ummah atau ummat terbaik. Dengan kerja mulia yang membebaninya yaitu tanggungjawab menyelamatkan manusia dari adzab yang pedih di akhirat kelak, mengajak manusia menuju cahaya hidayah, cahaya kebenaran, cahaya kebaikan dan menarik mereka dari gelapnya kejahilan dan keburukan."
"Semoga Allah SWT, dengan kasih sayangnya yng tiada terbatas memberi kita taufik dan kefahaman dalam perkara ini. Semoga dengan segala keterbatasan yang kita miliki, Allah SWT berkenan memudahkan kita menyampaikan kebaikan itu dan Allah turunkan hidayah ke seluruh alam!"
"Aamiin,, Allaahumma Aamiin!" semua mengamini serempak. Ia pun mengikutinya seraya menyapu wajah sekaligus menyeka sisa lelahan air mata di pipinya.
Sedikit demi sedikit tabir kelam yang selama ini menghalanginya dari nur hidayah mulai tersingkap meski belum bercelah lebar. Ia mulai merasakan rindu yang begitu bertubi-tubi pada sosok Sang Teladan terbaik. Sebaik-baik manusia, seindah-indah ciptaan Tuhan yang telah membuat milyaran manusia bisa mengecap indahnya Islam hari ini.
Manik elangnya kembali berkaca-kaca. Entahlah, rasa insecure juga perasaan bersalah begitu kuat menderanya. Betapa selama ini hatinya begitu angkuh, kufur akan nikmat yang maha besar ini. Nikmat Iman dan Islam.
Tanpa sadar lisannya berucap lirih,
"I miss you, ya Rasulullah.. I love you so much. For give me ya Allah!" Ia kembali terisak kecil seraya menutup wajahnya dengan telapak tangannya. Gery yang sedari tadi menatapnya intens ikut menitikkan air mata dan tanpa aba-aba merangkul bahunya.
"Let's get started it now!"
"Laa raihata ba'da yaum, (katakan, tidak ada lagi istirahat setelah ini)! InsyaAllah?"
Ia hanya menyahuti dengan anggukan. Dalam hati berteriak,
__ADS_1
"InsyaAllah! mudahkan, ya Allah! Aamiin!"
TBC>>>