
* Azhar
Ia sedikit bisa bernafas lega sebab selama ospek berjalan, Bang Fadhil memberi mereka kompensasi waktu untuk tidak masuk kerja dulu. Tidak bisa di bayangkan jika Ia dan Akram masih harus masuk kerja setelah seharian menjalani ospek yang cukup menyita energi.
Ia baru keluar dari kamar mandi. Terlihat tubuhnya dengan lilitan handuk yang menutupi sepotong tubuhnya bagian bawah. Sepotong tubuh putih atletisnya bagian atas terekspose dengan sempurna. Ia berjalan sembari mengibas-ngibaskankan rambut basahnya setelah keramas dengan selembar handuk kecil berwarna putih bersih.
Yap... Dou loundry berjalan, Fathin dan Mitha memang tak pernah membiarkan ada sdikitpun noda yang melekat di pakaian miliknya dan Akram walau setitik.
Ia melintasi mini kitchen tempat Fathin dan Mitha sedang sibuk menyiapkan makan malam untuk mereka berempat.
Tiba-tiba Ia dikejutkan oleh suara Fathin yang memekik sembari menutup matanya,
"Aaaaaaa, Zhar, Kamu apa-apaan sih? Vulgar banget, Kamu tuh menodai kesucian mata kita yang masih virgin tau!"
"Iya, nih! Mancing kualat datang nih yang kayak gini. Bisa-bisa selama empat puluh hari kita nggak bakal liat uang gegara ngelanggar pantangan!" Tambah Mitha dramatis.
"Hahahaha! Parah, copas bid'ah dari mana lagi tuh, Mhit?" Timpal nya tergelak sembari berlari cepat ke sebalik tirai yang membatasi antara tempat tidur dan dapur.
"Dari Tuan guru Sang pemilik aji panglimunan, tuh, si Akram!"
Akram yang sudah masuk ke dalam kamar mandi, kembali membuka pintu dan menyembulkan kepalanya.
"Fitnah lebih kejam dari si Hitler, guysss!"
Ketiga sahabatnya kembali tergelak.
Ia berdiri tegap di depan cermin, menatap pada bayangan dirinya di sana. Ia tersenyum simpul kala menyadari jika penampakkan tubuhnya memang gagah saat Ia tidak memakai baju.
"Pantas aja si Fahin ampe teriak-teriak tadi!" Batinnya sedikit kepedean.
Ia dan akram memang memiliki postur tubuh yang tinggi dan tubuh yang atletis meski belum masuk kategori six pack. Wajah tampan dengan kulit putih bersih khas pemuda kabaena pada umumnya, membuat keduanya selalu menjadi pusat perhatian di manapun mereka berada.
Bahkan Bang Fadhil sang owner "The Royals Coffe" harus mengakui jikalau kemajuan dan perkembangan omzet tiap bulan di kafe miliknya tersebut tak lepas dari andil buah dari ketampanan kedua karyawannya itu. Betapa tidak, tiap saat kaffenya tak pernah sepi pengunjung sebab pesona keduanya.
Bahkan banyak dari mereka yang datang tak segan-segan minta izin untuk berphoto ria dengan dou karyawan beraura "menyihir" ( begitu lah Bang Fadhil menyebut mereka berdua ) itu.
Awalnya Bang Fadhil mengira mereka ber empat adalah pasangan-pasangan kekasih sebab kerap melihat kebersamannya dengan Fathin juga Akram dan Mitha. Tapi kemudian Ia berusaha menjelaskan bahwa hubungan mereka berempat hanyalah sahabat.
Mungkin dengan alasan yang sama juga, mengingat konsep pelayanan prima termasuk memanjakan mata para pengunjung kaffenya, Bang Fadhil akhirnya menerima ajuan pekerjaan untuk Fathin dan Mitha di caffe cabang yang baru dibukanya di sekitaran depan mall Mandonga.
Tak bisa di pungkiri kedua sahabat wanitanya tersebut memang memiliki paras yang rupawan. Deretan cogan (Cowok Ganteng ) sering antri ingin mendekati mereka, tapi selalu mundur teratur kala menyadari ada Ia dan Akram yang seakan menjadi kutukan kejombloan kronis untuk keduanya.
Bang Fadhil adalah pebisnis muda yang kejelian strategi bisnisnya tak diragukan lagi. Tidak butuh waktu yang lama, lima tahun cukup baginya untuk bisa berkembang dinamis. Dengan membuat nama "The Royals Coffe" meroket dan menjadi buah bibir para pecinta hang out terutama para kaula muda yang memang menjadi kiblat pangsa pasarnya.
Ditambah lagi keberhasilannya membuka beberapa anak cabang kaffenya di beberapa kota di sulawesi tenggara seperti Bau-bau, Bombana, Kolaka dan Unaaha.
"Ngapain aja dari tadi kok belum pake baju?" Suara berat Akram tiba-tiba mengejutkannya.
"Aku Lagi mikir gimana caranya bisa kayak Bang Fadhil. Udah ganteng, keren, cerdas, sukses lagi. Benner_bener Idaman kaum hawa dan role model untuk para pemuda kayak kita-kita, Man!" Ia melampirkan wajah kagumnya ke arah Akram yang nampak mengendik acuh.
Akram memang tipe rileks yang membiarkan hidupnya mengalir tanpa ingin menantang arus. Ia tak pernah berminat untuk berspekulasi dengan hari esok. Baginya hidup adalah hari ini. Urusan esok biarlah waktu yang menjawabnya.
Ia memahami sahabatnya itu sehingga Ia pun mengakhiri pembahasan tentang Bang Fadil. Memilih beranjak ke arah lemari dan mengambil setelan casual untuk dipakainya keluar sore ini.
Mereka semua akan ke sebuah toko Serba Ada yang ada di depan pasar baru, hendak mencari pernak-pernik ospek sebagaimana Instruksi tegas para senior.
Setelah Ia dan Akram bersiap, kini giliran kedua shahabatnya Fathin dan Mitha yang berkemas setelah semua tugas dapur usai. Sesaat kemudian keempatnya pun berangkat .
__ __ ____
* Fathin
Malam ini Ia tidak lagi menyetel alarm dengan ritme beruntun. Sebab ketiga sahabatnya telah memberi ultimatum agar Ia menyetel alarm sesaat sebelum adzan shubuh. Awalnya Ia hendak acuh tapi Mitha si miss kepo dengan sejuta akal bulus langsung mengancamnya dengan ancaman mematikan karakter. Di tambah rencana jahat Azhar yang Ia rasa bakal mengancam kelangsungan kisah kasih blum sampainya.
"Pokoknya malam ini kalau kamu nyetel alarm kayak semalam, Aku bakal bilangin ke Abang Fahry kalau kamu tidurnya ngoroknya gede, trus mulut mangap plus ileran yang menganak sungai!"
__ADS_1
"Aaaaaa, pleasee, jangan, Mhit! Kamu kok tega banget mbuka aib temen sendiri, itu tuh pembunuhan karakter namanya. Bisa-bisa Aku langsung pindah kewarganegaraan ke Mars!" Ia terkesiap berucap sembari menutup wajahnya malu.
"Dan Aku, bakal nempelin kamu trus biar Bang Fahry nggak akan bisa deketin kamu sampe kiamat!" Azhar menimpali ikut mengancamnya.
"Astaga, kalian ini yah, kejam banget jadi temen!" sungutnya pura-pura bersedih.
"Kamu, Ram, gimana?" Mitha yang belum puas beralih ke arah akram menanti ancaman apa yang hendak Akram ajukan untuknya.
"Nggak ada, Aku kan sahabat sejati. So apapun itu Aku pasti ngedukung kalian semua!" Lagi_lagi smirk menyebalkan Akram membuat mereka tergelak.
"Hahahhha! So, di sini Kamu dukung siapa, Fathin atau Kita?" Mitha terbahak, bertanya sambil menunjuk dirinya sendiri dan Azhar.
"Uhhmmm, karna semalem aku ikut terdzolimi lahir dan batin maka, dengan ini saya memutuskan untuk memilih sesuai dengan kata hati saya yang paling dalam untuk mendukung suara terbanyak!" Akram berlagak bak seorang Hakim dalam sidang putusan perkara.
Semuanya terbahak kecuali dirinya. Ia pun terpaksa memilih jalan aman, mengalah menuruti ultimatum ketiga sahabatnya itu.
Pukul 05.30 Ia dan keempat sahabatnya telah siap berangkat. Masih tersisa setengah jam dari waktu apel yang ditentukan panitia.
"Zhar, liat tuh di depan gerbang, kok banyak banget maba ama senior-senior berkumpul di situ?" Ia menunjuk ke arah kerumunan besar di depan gerbang tiga kampus.
Tapi belum sempat Azhar menyahutinya, keduanya sudah diteriaki oleh beberapa senior berjaket kuning cerah itu.
"Turun, turun! Jadi mahasiswa jangan manja! Turun, turun, jalan kaki masuk ke dalam. Motornya disimpan!" seketika wajahnya pucat pias saat dua orang dari senior yang lebih mirip preman sebab rambutnya gondrong ditambah penampilan yang asal_asalan itu menghampiri mereka dengan wajah sangar yang di buat-buat membuat nyalinya menguap entah kemana dalam hitungan detik.
Dengan tergesa Ia pun buru_buru turun dari motor besar Azhar dengan seabrek do'a plus mantra warisan leluhur yang berguna untuk meluruhkan hati orang di hadapannya. Berharap Ia di biarkan masuk, sebab sebentar lagi apel di dalam sana akan segera dimulai. Tapi sungguh hari yang naas, kali ini wajah cantiknya malah jadi boomerang baginya, mengalahkan mantra peluruh hati yang barusan Ia baca.
"Kamu, ya kamu, yang cantik turun sini!" Salah satu senior iseng itu berjalan ke arahnya dan seketika menarik tangannya menjauhi kerumunan tersebut membuat sebagian mata jengah para maba yang ikut ditahan melihat ke arahnya.
"Nama Kamu siapa?"
"Fa_Fathin, Kak!" Ia gugup setengah mati sambil menunduk takut.
"Asal dari mana?" Lagi_lagi senior itu bertanya sembari meniliknya dari ujung kaki sampai ujung rambut.
"Anggotanya si Fahri itu, Bang!" Teriak salah satu senior yang sedang berdiri tidak jauh darinya.
"Fahry HMJ bahasa?" Tanya senior itu sembari menyalakan rokoknya dengan santai. Menghisapnya dalam-dalam.
"Iya, Bang!"
Ia masih berdiri menunduk dalam_dalam saat kedua senior itu saling tanya Jawab. Dalam hati tak henti Ia menggumamkan do'a, berharap ada seseorang yang datang menyelamatkannya.
"Gerbang ini ditutup. Kalau mau masuk ke dalam, turun semua, turun. Lewat sini sampai di gerbang satu!" Sebuah suara keras mengintimidasi terdengar di antara gerombolan senior di sana memberi komando sembari menunjuk ke arah got yang terbentang di sepanjang depan pagar beton kampus.
"Astaga, itu kan jauh banget. Bisa telat satu jam nyampenya ke dalem. Bakal dihukum panitia lagi dong kalau telat lagi!" Batinnya penuh dilema.
Tangannya memainkan tali tas kantong kreseknya sembari memberanikan diri mengangkat wajahnya dan menatap wajah senior yang sebelumnya menarik tangannya.
Di saat yang sama wajah putih tampan dengan rambut gondrong diikat itu sedang menatapnya tajam sambil bersandar santai di gerbang, menghembuskan asap rokok ke wajah putih mulusnya. Refleks Ia memejamkan matanya saat hembusan itu menerpa wajahnya.
Uhuukk.. uhuukk... uhuuukk..
Ia terbatuk-batuk akibat kepulan asap rokok tersebut. Tangannya berusaha mengusir asap itu dengan mengibas-ngibaskan kedua tangan di hadapannya. Saking banyaknya asap yang menerpa wajahnya membuat batuknya sedikit awet sampai membuat matanya berair.
Tapi wajah tanpa dosa yang berdiri di depannya itu malah cuek menambah volume asap yang masuk di paru-parunya dengan menghembuskan kembali asap rokok itu ke wajahnya. Kali ini Ia sungguh tak tahan lagi. Dadanya sesak. Ia pun berlari menjauhi wajah iseng itu berniat mencari udara segar sekaligus menghentikan batuknya yang tak kunjung reda.
uhuuuk.. uhuuukk...uhuukk... uweeekk... uweekkk..
Ia berjongkok dan terbatuk sampai muntah-muntah, mengeluarkan semua yang Ia makan saat sarapan tadi sebelum berangkat. Ia memegang dadanya yang mulai sakit akibat muntah yang berkepanjangan.
Ia masih berusaha mengatur nafasnya yang sedikit tersengal akibat muntah parah yang dialaminya, tiba-tiba bulu kuduknya meremang tegak saat sebuah tangan kekar tapi lembut menyentuh punuknya sambil mengurut-urutnya pelan.
"So sorry, Kamu nggak apa-apa?" Sebuah suara berat di belakang telinganya membuat Ia kian sulit bernafas, kaku, kelu dan tentu saja malu yang teramat sangat. Ia tak mampu membayangkan betapa banyak mata yang sedang menyaksikan adegan itu kini.
Hingga di dentang berikutnya Ia akhirnya menggeleng lemah tak mampu berucap.
__ADS_1
"Tunggu di sini!" Suara itu kembali terdengar tapi sudah tak sedekat sebelumnya.
Ia hanya diam. Telinganya kembali mendengar suara teriakan tak jauh di belakangnya. Ia pun segera membalikkan badannya dan netranya seketika bertemu tatapan cemas Azhar ke arahnya diantara kerumunan beberapa senior yang menghadangnya. Memerintahkan sahabatnya itu segera turun ke dalam got menyusul yang lain.
Ia pun mengangguk berusaha meyakinkan Azhar jika Ia tidak apa-apa. Setelah dipaksa akhirnya Azhar pasrah, mengikuti arahan para senior lepas itu.
Maniknya masih sibuk mengamati Azhar tiba-tiba sebuah moge berhenti di sisinya. Ia menoleh seketika dan mendapati senior rese si penunggang moge itu menyodorkan sebotol air mineral dan sebungkus roti ke arahnya.
"Nih minum dulu. Trus makan rotinya. Kamu udah muntah tadi, pasti perut kamu udah kosong sekarang!" Ia masih ragu meraih pemberian tersebut. Memilih memalingkan wajahnya ke bawah.
"Cepet. Kamu lupa kalau kamu lagi ospek? Ini perintah! Jangan coba-coba ngebantah kalau mau selamat!" Ia tercekat.
Buru-buru diraihnya air mineral dan roti yang disodorkan kepadanya dan tanpa aba-aba Ia langsung memakannya bersama perasaan gugupnya. Dalam hitungan detik roti tersebut telah raib masuk ke dalam perutnya. Kini Ia sedikit memiliki tenaga.
"Ayo naek! Aku antar ke dalam biar nggak telat!" Suara berat tadi kembali mengejutkannya.
"Saya, saya!" Ia tergagap tak bisa melanjutkan ucapannya sebab suara itu kembali memberinya perintah yang bernada tegas tak ingin dibantah dengan manik yang masih tajam melihat ke depan.
"Cepat, nih udah mau jam enam. Kamu mau dihukum lagi di dalem?"
"Emang siapa tadi yang nahan_nahan Kita disini sampe telat gini?Dasar kuker!" Sungutnya dengan gumaman yang masih bisa di dengar oleh telinga si pemaksa itu.
"Aku masih bisa denger kamu ngomong apa. Cepet naik atau kamu mau coba nyungsep di got kayak yang lain?"
Demi mendengar ancaman yang terakhir itu, tanpa pikir panjang Ia pun langsung naik di motor gede tersebut. Seperti biasa Ia pasti kesulitan naik dan suara itu lagi-lagi memaksanya berpegang di bahunya.
"Kali ini ajha Fathin, nggak masalah yang penting kamu nggak telat and selamat dari aksi nyungsep di got. Lagian setelah ini kamu bisa pura-pura nggak kenal ama si Pemaksa ini!" Batinnya berkecamuk penuh dilema.
Akhirnya dengan tangan gemetar penuh keterpaksaan Ia pun berpegang di bahu kokoh itu dan naik di atas moge tersebut.
"Huuuuu........!"
Teriakan puluhan maba yang tidak terima Ia tidak ikut dihukum bersama mereka, juga para senior lepas yang menyoraki memberi si pemaksa itu semangat entah apa maksudnya, membuat Ia ingin sesegera mungkin menghilang dalam sekejap dari sana.
"Pegangan! Kita balap. Udah hampir deadline nih!"
"Astaga, nih orang apa_apaan sih, main perintah ajha kayak bos. Ya Tuhan, mimpi apa Aku semalem bisa ketemu ama orang kayak gini. Isshh!" Sungutnya kesal dalam hati.
Ia menyeringai sambil tangannya terangkat ingin mencekik leher si Pemaksa itu tapi urung sebab tiba-tiba laju motor itu berubah menjadi kecepatan tinggi, membuatnya spontan memejamkan mata ketakutan dan memeluk erat di pinggang kokoh itu.
Fix, jarak jauh dari gerbang tiga ke gedung FKIP hanya ditempuh dalam waktu kurang lebih secepat kilat.
Ia baru berani membuka mata saat laju motor terasa sedikit pelan. Perlahan Ia membuka matanya dan betapa kagetnya Ia saat menyadari ternyata si Pemaksa itu tidak berhenti di parkiran tapi tepat beberapa meter dari tempat ratusan maba dari jurusannya sedang bersiap hendak berbaris.
Semua mata sontak menjurus ke arah keduanya. Beberapa senior malah bersorak dan mengangkat tangan ke arah si Pemaksa itu.
"Kamu mau di atas motor trus? Nggak mau turun?" Kali ini suara itu benar-benar membuatnya ingin membenamkan diri ke dasar bumi dalam sekejap.
Betapa tidak Ia baru sadar ternyata tangannya masih memeluk erat tubuh kokoh si pemilik suara berat itu.
Buru-buru Ia melepas diri dan secepat kilat turun dari atas motor besar itu dan berlari pergi. Tapi belum berapa langkah Ia teringat belum berterimakasih. Akhirnya dengan berat hati Ia pun berbalik lagi dan dengan menahan malu Ia meringis masih dengan wajah tertunduk berucap gugup,
"Maaf dan trimakasih, Kak!"
"Udah sana gabung cepet sebelum telat!" Ia sempat melirik sejenak ke arah wajah itu.
Sudut bibir si pemaksa itu tertarik sedikit sembari menatapnya lekat. Membuatnya buru-buru berbalik dan berlari cepat menerobos ke sebalik kerumunan Maba yang sedang berjalan cepat menuju arena berbaris.
Matanya liar mencari keberadaan Mitha dalam jejeran peserta ospek prodi bahasa Indonesia. Tapi Ia tidak menemukannya. Seketika hatinya di liputi rasa khawatir.
__ __ __
Next >>>
__ADS_1