MUJAHADAH CINTAKU

MUJAHADAH CINTAKU
# Episode 14. Rasa yang tertinggal


__ADS_3

* Fathin


Hari ini begitu melelahkan. Badannya terasa hendak remuk sebab agenda-agenda ospek yang cukup menyita stok tenaganya. Ia ingin segera merebahkan tubuh lelahnya meski sejenak sebelum membersihkan tubuhnya yang kini terasa lengket. Tapi tatapan penuh selidik dari wajah-wajah sedikit sangar di hadapannya kini membuat harapannya tak tertunai. Seketika Ia sadar telah membuat ketiga sahabatnya khawatir akan dirinya.


"Pleasee, jangan marah dulu. Ini semua gara-gara si Pemaksa menyebalkan itu!" Ia akhirnya berucap meluahkan kejengkelan hatinya yang coba ia tahan sedari tadi.


"Si Pemaksa? Siapa?" Mitha mengernyit kearahnya meminta penjelasan.


"Huuffft... ceritanya panjang bang__!"


"Ya udah, di singkat ajha. Point-point pentingnya ajha. Atau yang paling bikin greget kita bertiga, sepulang Ospek tadi kamu kemana? ama siapa? Aku ampe hampir keseleo gegara lari-lari keliling kampus, naik turun semua gedung nyariin kamu!" Mitha menyela sebelum ucapannya usai dengan mode cerocos tanpa koma seperti biasa.


Ia mendesah terpaksa, sejurus kemudian, ia mulai menceritakan semua yang menimpanya hari ini. Mulai dari insiden kecil di gerbang tiga kampus, sampai kelakuan absurd seorang panitia lepas yang kemudian Ia sebut si Pemaksa, yang memaksanya makan di hadapannya, hingga seenaknya Ia di bawa ke Ke-Bi, lagi-lagi untuk mengikuti perintah tak berakhlak dari si Pemaksa itu.


"Dan, yang paling menyebalkan, aku di paksa harus temanin dia dinner malam ini. Dia nggak mikir apa, aku tuh lelah banget. Hari ini semua rangkaian ospek nya berat banget!" Ia kembali menggerutu dengan wajah menahan kesal.


"Kenapa kamu nggak tolak ajha. Toh ini udah bukan jam ospek kan?Dia udah nggak punya hak ngatur-ngatur kamu!" Tukas Mitha sedikit ngegas.


"Biar aku yang hadapi si Pemaksa itu ntar. Enak ajha. Pokonya kamu mandi trus Istrahat!"


"Tapi, Mhit, __!"


"Pokonya nggak ada tapi-tapian. Meski kita Maba, Kita jangan mau ditindas ama senior-senior kuker and menyebalkan itu!"


"Wihh, kayaknya bakal jadi rival bang Fahry tuh. Aku bisa pastiin kalau si abang pemaksa itu suka sama kamu, Fhat!" Akram menaik turunkan alisnya mencoba mencairkan kebekuan yang tercipta terutama dari Azhar, si wajah datar.


"Ck, tauk ah. Kalian udah nggak marah kan? Aku mau rebahan dikit sebelum mandi!" Ucapnya sambil beranjak di ikuti Azhar yang ikut berjalan menuju kamar mandi.


____


* Mitha


Jangan sebut nama nya Mitha bila Ia tidak bisa memanfaatkan peluang dalam tiap situasi. Menyadari akan posisi Fathin, sahabatnya kini yang sedang menjadi perhatian khusus dari dua senior ganteng di kampus, Ia pun tak mau menyia-nyiakan moment berharga itu dengan motif asas manfaat demi kepentingan dan keberlangsungan hidup mereka ber empat. Terlebih soal kampung tengah yang sering kali membuatnya khilaf tanpa mengindahkan rasa gengsi.


Membayangkan cerita Fathin barusan, Ia tiba-tiba berubah raut, seketika berseru hega ke arah Akram yang sedari tadi masih bergeming menunggu nya dengan tatapan curiga.


"Hmmm, ahaa! Kebetulan yang pas bingits nih, kita kan udah lama nggak makan Pitzza, nih ada korban baru, kita manfaatin, gimana Ram?"


"Caranya?" Akram berkerut dahi.


"Aku sefaham sama kamu, Ram. Kalaw si Abang Pemaksa itu beneran suka sama Fathin, pasti dia mau dong di mintai apa ajha demi si pujaan hati. Kita suruh ajha Fathin pura-pura sakit trus kita bilangin kalo Fathin mendadak pengen makan Pitzaa. Gimana, briliant kan ide akuhh?" Mitha mulai ketularan Akram yang suka melampirkan smirk menyebalkan itu.


"Tumben gak lemot, hehehe!" Akram terkekeh sembari manggut-manggut menyetujui ide gesreknya.


"Enak ajha. Aku tuh gak lemot yah, cuman Lalod dikit, hehehehe!"


Akram ikut tergelak. Keduanya pun Tos ala geng nya.


____


* Yusuf


Sore ini Ia sengaja pulang ke rumah besar milik orangtuanya. Rumah yang jarang Ia kunjungi sebab bosan mendengar ocehan kakak-kakaknya yang tiada habisnya mendikte agar Ia jangan terlalu main-main dengan kuliah yang sedang dijalaninya kini. Alasan kedua adalah Ia menjadi kurang respect dengan suasana rumah yang seakan kehilangan aura keluarga yang sesungguhnya sejak wanita yang di panggilnya Ibu, wanita yang sangat dicintainya pergi untuk selama-lamanya.


Di tambah Pak Wahyu, sang papa kini telah menikah lagi dengan seorang wanita pilihan Mama tua, kakak tertua papa. Praktis menjadi akumulasi alasan klise yang membuatnya lebih betah wara-wiri di kamar-kamar kost rekan-rekan se geng nya atau bila Ia sedang bad mood, Ia memilih menghabiskan waktu di kafe milik Fadhil sepupunya.


Ahh, benar-benar hidup yang membosankan. Bahkan deretan wanita yang kerap menginginkan dirinya tak pernah sedikitpun bisa merubah pola pikirnya. Ia menganggap hidup sebatas menikmati alurnya saja. Ia tak pernah berminat berurusan dengan hati. Baginya menjalin hubungan dengan lawan jenis tidak lebih dari perbuatan membuang-buang waktu.


Tapi, pertemuan dengan seorang gadis bermanik sendu pagi tadi, sukses membuatnya berubah dalam sekejab.


Bahkan saat ini, Ia nampak begitu bersemangat turun dari motor sport kesayangannya dan berlari kecil kearah tangga, hendak menuju kamarnya di lantai atas sambil bersiul menirukan sebuah lagu dari group Band favoritnya ST12..


"Bila asmaraku telah tiba

__ADS_1


Merenggut nafas dijiwa


Itu dia yang datang hadirkan cinta


Menyebar ke dalam rasa


Dapatkah ku mengatakannya


Perasaan yang ku punya


Untuk dia mestinya ku ungkapkan saja


Tuk dapat jawaban darinya


Dapatkah aku memeluknya


Menjadikan bintang di Surga


Memberikan warna yang bisa


Menjadikan indah


Aku tak mampu mengatakan


Aku tak mampu tuk mengungkapkan


Hingga sampai saat ini


Perasaan tlah tertinggal


Dapatkah dia merasakan


Satu nafas yang tersimpan


Sekedar cinta biasa


Yang sesaat dan trus hilang


Dapatkah aku memeluknya


Menjadikan bintang di Surga


Memberikan warna yang bisa


Menjadikan indah


Aku tak mampu mengatakan


Aku tak mampu tuk mengungkapkan


Hingga sampai saat ini


Perasaan tlah tertinggal…"


#Rasa Yang Tertinggal


by: ST12


Ia tak henti menirukan lagu tersebut bahkan saat Ia sedang berada di kamar mandi. Membuat seisi rumah saling bertanya, apa yang sedang terjadi dengan si Keras kepala itu.


"Pah, tumben tuh anak bandel kesayangan papah ingat pulang? Malah pulang-pulang kayak kesambet setan cinta. Kayak orang yang lagi kasmaran!" Citra, kakak ke tiganya sengaja membesarkan suara saat bertanya pada papa, satu-satunya orang tua yang Ia miliki, saat Ia berjalan melewati ruang keluarga hendak ke dapur mengambil air minum.


Seperti biasa, Ia malas meladeni kakaknya yang satu ini. Sebab, paling-paling ujung-ujungnya, pembicaraan akan berakhir dengan pembahasan tentang kapan Ia akan merampungkan studynya. Hal membosankan yang menjadi alasan kemalasan nya pulang ke rumah. Tapi, berhubung hari ini Ia sedang good mood, Ia pun berusaha membalas kakaknya itu, lebih ke arah agar pembahasan masalah kuliahnya ter cut segera.

__ADS_1


"Papa sama kakak tenang ajha, kalau kali ini misi aku berhasil, aku janji tahun ini aku akan selesaiin semuanya. Dan tahun depan Papa akan berdiri dengan bangga di samping aku yang lagi pake toga. Aku janji !"


"Misi? misi apaan? Ck, PHP paling!" Kakaknya berdecak tak percaya sembari mengerucutkan bibirnya.


"Btw, yang lain pada kemana? Kok sepi! Biasanya kan Papa selalu di temani tuh sama si Nyai ratu yang suka sok kuasa itu!" Ketusnya sambil dengan santai melenggang hendak kembali ke kamarnya.


"Jaga ucapan kamu. Papa nggak pernah ngajarin kalian nggak sopan begitu!" Nada suara Papa mulai tidak terkontrol.


"Belain ajha truuss tuh Istri kesayangan Papa!"


"Yusuf, udah!" Citra sang Kakak dengan segera memutus rantai perdebatan yang sebentar lagi akan memanjang bila tidak segra di cut.


As usual.


Tanpa berniat memperpanjang, Ia pun kembali ke kamarnya.


Tepat pukul 07.00 Ia sudah siap dengan style semi formalnya. Begitu kontras dengan penampilan asalnya selama ini. Rambut gondrongnya diikat rapi. Merapikan bulu-bulu halus yang tumbuh di sekitaran wajah dan dagunya. Benar-benar pemandangan menggelikan jika saat ini Fadhil, sepupunya berdiri di hadapannya. Ia pasti akan jadi bulan-bulanannya.


Ini pasti akan menjadi moment balas dendam bagi sepupunya itu. Sebab selama ini, Ia paling sering menertawakan kebucinan Fadhil yang suka bertingkah konyol dan menggelikan sebab mengejar cinta seorang calon dokter cantik yang sekampus dengannya.


"Gue jadi kemakan omongan sendiri sekarang. Kayaknya malam ini Gue nggak boleh ke tempat Fadhil. Bisa kacau acara dinner gue kalau si cunguk itu mergokin gue ngerayu cewek!" Gumamnya tak sadar kalau sedari tadi Citra, sang kakak sedang senyam-senyum di balik pintu yang tidak tertutup rapat, sedang asyik meniliknya dari atas sampai bawah.


"Aduh, cowok terganteng di rumah ini udah mau ngapelin anak orang nih kayaknya!" Ia tergagap tak menyangka ada orang lain di kamarnya.


"Kakak ngapain di sini?" ketusnya masih fokus dengan penampakkan dirinya di balik cermin di hadapannya.


"Jangan ketus gitu ah, biar kakak doain misi kamu secepatnya berhasil. Ini kan yang kamu bilangin Misi yang masih tertunda?"


"Ayolah, Suf. Kamu nggak kasian sama papa yang udah ngorbanin banyak untuk biaya kuliah kamu. Trus kamu nggak mikir, mama nggak akan pernah tenang di alam sana kalau kamu kayak gini trus. Nggak mau berubah menjadi pribadi yang lebih baik lagi seperti harapan beliau sampai mama pergi ninggalin kita!" Seperti biasa air mata selalu jadi senjata andalan kakaknya itu.


"Kakak nggak capek ngomingin hal yang sama trus?" sahutnya datar sambil menyambar kunci motor dan jasnya di atas tempat tidur berniat menghindari ceramah panjang Citra, kakaknya. Tapi belum lagi Ia berhasil meraih pintu, Citra kembali berucap lebih serius dari sebelumnya. Membuatnya mendadak berhenti dan tidak bisa tidak untuk tidak mendengarkannya dengan seksama sebab ini menyangkut gadis bermata sendu yang sedang begitu di kaguminya.


"Kalau gadis itu adalah perempuan baik-baik, maka jangan harap Ia akan membuka hatinya untuk kamu jika kamu tidak berubah. So, kakak sarankan, berubahlah mulai sekarang atau nggak usah buang-buang waktumu!" Meski tidak menanggapi ucapan kakaknya itu, tapi hatinya sedikit mencelos sebab sejujurnya Ia pun membenarkanya.


"Makasih sarannya!" Sahutnya datar sambil berlalu dan berjalan menuruni tangga menuju motor kesayangannya di garasi. Ia bukan tidak menyadari tatapan penuh selidik dari semua anggota keluarganya yang sedang berkumpul di ruang keluarga. Tapi, Ia pura-pura cuek dan tanpa ba bi bu keluar dan sejurus kemudian Ia telah melesat bersama raungan motor besarnya keluar dari area halaman luas rumahnya.


Ia sudah berdiri di depan pintu kamar kos tempat Fathin menginap. Tapi Ia mendadak panik saat gadis yang mengaku sahabat dari gadis bermata sendu itu memberi tahu bahwa gadis itu sakit.


"Gimana? Sakit? Kok bisa? Tadi sore masih baik-baik ajha. Parah nggak? A_aku,, maksud saya kita bawa dia ke rumah sakit sekarang!" Sahutnya panik dan tanpa permisi Ia langsung menerobos masuk ke dalam, melewati Mitha yang termangu begitu saja di pintu sebab tak menyangka tamunya akan senekat ini.


Ia menjumpai gadis itu sedang terbaring lemah di temani dua orang pemuda sebaya. Tanpa perduli dengan tatapan kurang respect dari keduanya, Ia langsung menghampiri gadis bermata sendu itu..


"Kamu kenapa? Sorry kalau ini gara-gara tadi sore. Kita ke rumah sakit sekarang!" Cecarnya sembari merogoh ponsel miliknya di saku celana bermaksud menghubungi seseorang untuk datang membawakan mobil untuknya. Tapi belum sempat Ia mendial satupun nomor, Gadis itu seketika menyela,


"Ng_nggak usah, Kak, Aku nggak apa-apa, cuma sdikit kelelahan ajha. Istirahat bentar juga bakal pulih, Kok!"


"Kamu yakin?" Ia kembali ke mode datar setelah sadar ternyata sedari tadi ada tiga pasang mata yang sedang menatap bingung kearah mereka berdua akan Interaksi yang sdikit intim seakan mereka telah kenal lama.


Ia berlagak mengusap ujung hidungnya seraya mengarahkan netranya pada dua pemuda yang sedetik yang lalu mulai mengusik di dalam sana. Yang berwajah datar sepertinya Ia ingat adalah anak maba yang bersama Fathin tadi pagi. Sementara Ia mulai cemas dengan si cowok yang satunya. Jangan sampai ia adalah pemutus kisah belum sampainya dengan si Gadis bermata sendu.


Gadis bernama Mitha tiba-tiba menyela,


"Kak, Fathin katanya pengen makan Pitzza. Pengen recovery, hehehe!"


Tanpa pikir panjang Ia seketika merogoh ponsel miliknya dan dengan sekali ketuk Ia sudah tersambung dengan seseorang di sebrang.


"Rick, kamu ke lorong bintang depan kampus sekarang. Singgah beli Pitzza trus bawa ke mari. Pondok cemara. Cepett, jangan pake lama!"


Ia grogi saat mematikan ponselnya Ia kembali mendapati ke empat penghuni kamar itu terlihat bengong menatap takjub kearahnya.


"What's wrong?"


TBC...>>>

__ADS_1



__ADS_2