
*Azhar
Ia keluar dari rumah gadis bernama Mala dengan perasaan campur aduk. Ia yang tadinya sedikit kesal dengan kelakuan salah satu gadis kembar bernama Marwa itu, kini mulai merubah asumsinya. Melihat adegan yang terjadi di dalam sana barusan membuat Ia bisa melihat sisi lain dari gadis bar-bar itu.
Meski cerewet dan sedikit suka memaksakan kehendak, tapi kedua gadis itu punya sifat peduli dan hati yang tulus. Ia yakin uang di dalam amplop tadi bukan uang yang sedikit sebab nampak tebal. Belum lagi dua kantong belanjaan yang sempat Ia tenteng tadi, cukup menjelaskan jika harga kesemua makanan plus minuman itu pasti ratusan ribu.
Berkali-kali Ia memaksa otaknya untuk bekerja optimal, berusaha mengingat-ingat kedua gadis itu mirip seseorang, tapi siapa? Mata bulat bening sedikit tajam juga hidung mancung yang sangat mirip seseorang yang lagi-lagi tak mampu Ia ingat.
Harus Ia akui kedua gadis itu sangat cantik. Kulit putih terawat selembut kulit bayi dengan pipi dan ujung hidung yang sedikit kemerahan. Bibir tipis mungil yang jika tertawa praktis memperlihatkan dua gigi gingsul yang sedikitpun tak mengurangi kecantikan keduanya.
"Nih!" Ia menyodorkan helm ke arah Marwa saat mereka sudah berada disisi motor sportnya.
"Makasih!" Gadis itu meraih pemberiannya itu seraya satu tangannya menghapus bulir bening yang mulai merembes keluar dari pelupuk matanya.
"Itu matanya kenapa? kelilipan?" Ia kembali ke mode awal padahal niat awalnya ingin menggoda gadis itu.
"Ihh, nyebelin banget, sih! ini tuh lagi nangis. Gue lagi sedih tauk!" Gadis itu mencebik seraya menimpuk lengannya. Tanpa aba-aba Marwa langsung berpegang di bahu kokohnya dan naik di belakangnya.
Untuk pertama kalinya Ia terkekeh pelan dan Ia liat lewat kaca spion gadis itu ikut tersenyum kecil di belakang. Ada sesuatu yang menjalari hatinya seketika entah apa. Untuk menepis itu Ia berucap datar,
"Pegangan. Kita balap biar cepet sampainya. Ntar kalian dihukum lagi kalau telat balik!" Gadis itu terlihat mengangguk tanpa berniat protes. Ia jadi bisa membayangkan seketat apa kedua gadis itu di jaga.
Akram dan Shafa sudah mendahului di depan. Mereka melambai ke arah Mala dan Ibunya yang masih setia berdiri di depan pintu mengantar kepergian mereka. Mala dan Ibunya pun membalas dengan ikut melambaikan tangan bersama senyum hangat.
Tak ada yang bersuara di sepanjang perjalanan tersebut. Masing-masing tenggelam dengan pikirannya. Sebenarnya Ia ingin protes sebab tadi kedua gadis itu mengatakan pada Ibu Mala jika semua pemberian tadi adalah dari mereka berempat. Padahala Ia dan Akram hanya sebagai pengantar, itupun tanpa disengaja.
Tapi sepertinya gadis di belakangnya kini sedang tidak ingin banyak bicara. Sudut bibirnya tertarik. Ia fikir gadis itu manis juga jika sedang tidak kambuh cerewetnya.
Kedua motor sport itu tiba di depan sebuah rumah besar dan nampak mewah. Halaman luas dengan taman bunga yang sangat terawat dan beberapa mobil terparkir di garasi. Ia menelan saliva. Ternyata kedua gadis itu anak sulthan. Lagi-lagi Ia menemukan sisi baik dari kedua gadis tersebut. Hidup dengan gelimang harta dan kasih sayang tentu saja, tapi sedikitpun tak membuat kedunya sombong. Mereka dengan rendah hati tulus berteman dan membantu gadis bernama Mala itu yang notabene memiliki kehidupan yang berbanding terbalik dengan kehidupan mereka.
"Salut Gue!" Batinnya seraya melirik wajah Fathin yang sedang sibuk membuka helmnya.
"Makasih banyak yah, Kak, udah bantuin tadi!" Kedua gadis itu berucap hampir bersamaan. Membuat Ia dan Akram terkekeh geli.
"Sama-sama!" Sahut Akram, sementara Ia hanya menyahut dengan deheman.
"Ya udah, kita masuk dulu, yah!" Marwa hendak melangkah pergi tapi entah ide dari mana Ia tiba-tiba ingin modus meminta nomor ponsel gadis bar-bar itu.
"Eh, eh, enak aja. Bayar dulu, tadi Lo bilang mau bayar kan? ya udah, sekarang bayar!" Azhar melebarkan telapak tangannya ke arah gadis itu.
"Ck, Astaga, pelit amat, sih!" Gadis tersebut terkesiap dengan netra yang membulat.
"Janji adalah utang!"
"Kalau gitu Gue utang dulu. Uangnya habis tadi gegara beli nih helm!"
"Nggak bisa!"
"Ish, apaan, sih, nggak toleran banget jadi orang!"
"Kalau gitu sebagai jaminan, nih, tulis nomor hp Lo di situ! Biar Gue nggak kehilangan jejak Lo!" Lagi-lagi dengan gaya dominasi yang dibuat-buat, Ia menyerahkan ponsel miliknya pada Marwa.
"Ya, udah, sini!" Gadis itu masih dengan cebikan lucunya seraya tangan lentiknya lincah mengetik sesuatu di sana.
"Nih, udah!"
"Ok! satu lagi, ntar kirimin ke Gue foto Lo, biar Gue nggak lupa sama muka utang Lo ini!" Ucapnya menahan tawa.
"Ih, dasar nyebelin! Btw, nih, helmnya buat Kakak aja. Kali aja ada nenek-nenek atau cowok kemayu yang tiba-tiba minta tebengan di jalan ntar, biar nggak ditilang!" Gadis itu menyodorkan helm itu dengan menahan tawa.
"Nenek-nenek? pria kemayu? awas Lo ya, udah seganteng ini masa yang minta tebengan barang expire gitu?"
"Biarin, biar tau rasa Lo, Cowok pelit!"
"Eh, eh.. !"
Bleeeewww
Marwa menjulurrkan lidahnya mengejek dan buru-buru berlari masuk mengejar Shafa yang telah membuka pintu pagar besi di sana.
Ia kembali terkekeh di sana. Hatinya tiba-tiba berdesir, menghangat. Ada setitik rasa bahagia yang menyelimuti di dalam sana yang mencoba menghalau pergi rasa kecewa yang masih betah bercokol di sana.
"Damn it!"
**
*Vero
Ia kembali berdiri di depan pintu gerbang sekolah si kembar Shafa-Marwa seraya menilik awas ke dalam sana. Suasana di sana sudah sunyi senyap. Pintu gerbang tersebut bahkan sudah digembok pertanda sudah tidak ada siswa ataupun siapapun di dalam.
Ini kali ke tiga Ia kembali ke tempat tersebut mencari keberadaan kedua adiknya itu. Tidak biasanya mereka seperti ini. Menghilang tanpa ada yang melihat mereka, bahkan satpam penjaga sekolah pun tak tahu kapan kedua gadis kembar itu keluar melewati gerbang itu.
__ADS_1
Sejak tadi hatinya diliputi perasaan was-was. Ia mulai panik. Ia menyugar rambutnya frustasi saat mulai terbayang olehnya ekspresi kemarahan sang Papa jika tahu akan hal ini.
"Tuh anak berdua kemana, sih? mana ponselnya pada nggak aktif lagi!" Sungutnya sedikit kesal seraya kembali masuk ke dalam mobilnya.
Ia menjalankan kendaraannya. Mulai terpikir olehnya untuk memberi tahu Bang Yusuf terlebih dahulu sebelum Papa. Tapi nyalinya ciut membayangkan akan bagaimana marahnya Abangnya itu jika tahu Ia tidak becus menjaga para adik bungsu itu.
Ia masih sibuk dengan pilihan putusan yang hendak Ia ambil saat tiba-tiba Ia teringat akan teman satu kelompok belajar kedua adiknya yang tinggal di perkampungan kumuh di pinggir kota.
Tanpa pikir panjang Ia memutar haluan cepat dan meluncur ke tempat yang dimaksud. Tempo hari Ia tidak ikut masuk ke dalam gang itu sebab mobil tak bisa masuk. Gang tersebut hanya bisa dilewati kendaraan roda dua.
Ia tiba di depan gang sempit itu setelah beberapa menit berlalu. Buru-buru Ia turun dan berjalan masuk setelah memarkir mobilnya di tepi jalan. Beruntung Ia masih ingat ucapan Marwa yang mengatakan rumah temannya itu berada tepat di ujung gang tersebut.
Ia berjalan dengan sesekali menjumpai anak-anak yang berlarian membawa buku Iqro. Sepertinya mereka hendak belajar mengaji. Rumah-rumah di sepanjang Gang tersebut benar-benar menyedihkan menurutnya. Seketika terbayang rumah Papa yang luas nya mungkin menyamai luas perkampungan tersebut.
Setelah berjalan menyusuri gang itu, Ia pun tiba di depan sebuah rumah yang tak kalah memprihatinkannya dari rumah-rumah yang dilewatinya tadi. Ia mengitarkan pandangannya ke sekeliling rumah tersebut. Sejenak Ia ragu, apakah benar itu rumah teman Shafa dan Marwa, mengingat mayoritas siswa SMANSA adalah dari kalangan atas dan menengah.
Keraguannya kemudian memaksanya untuk kembali. Namun langkahnya tertahan saat tiba-tiba telinganya menangkap bunyi pintu dibuka di belakangnya. Suara itu sukses menahan langkah tegapnya.
Ia berbalik dan mendapati sesosok wajah cantik dengan tatapan teduh berbalut pasmina warna coksu, berdiri di depan pintu terbuka itu dengan alis terangkat menatap curiga padanya.
Tatapan keduanya bertemu dan mengunci untuk beberapa detik berselang. Hingga tiba-tiba suara lembut gadis itu membuyarkan keterpanaannya,
"Cari siapa, yah, Mas?"
"Ehm, I_itu, saya mau tanya sedikit. Maaf, Kamu kenal Shafa sama Marwa yang anak SMANSA?" Tanyanya tergagap. Ia menatap gadis itu yang terlihat menghela nafas kemudian tersenyum ramah.
"Iya, kenal. Mas ini kakaknya si kembar yah?"
"Iya. Kamu tau mereka pergi kemana tadi pas pulang sekolah? Aku udah cari keliling kota tapi nihil. Nggak ketemu. Kira-kira__,"
"Iya, tadi ke sini mas tapi udah balik dari tadi. Mungkin mereka udah sampe rumah sekarang." Gadis itu menyela cepat.
Hufftt..
Ia menghembuskan nafas lega.
"Astaga, syukurlah! ya, udah, makasih, yah infonya! kalau gitu Saya balik dulu, Permisi!"
"Iya, Mas. Sama-sama!"
Ia tersenyum. Gadis itu juga. Ia sudah berbalik pergi tapi tiba-tiba Ia berbalik lagi mengingat gadis itu mambawa tas, sepertinya hendak pergi.
"Oh, ng_nggak. Sa_saya mau ke surau ngajar anak-anak ngaji. Deket kok!" Gadis itu menyahut terbata seraya menunduk.
"Oh gitu. Ya udah saya duluan, yah?" Serunya seraya mengangkat tangannya dan berlalu setelah melihat gadis tersebut mengangguk malu-malu.
Sudut bibirnya tertarik. Ia menggeleng sedikit merasa lucu.
"Gitu aja malu!" Pikirnya.
*
Ia tiba di rumah dengan emosi yang memuncak sekaligus perasaan lega sebab kedua adiknya telah di rumah menurut laporan kedua satpam di pos depan sana.
Ia berlari masuk setelah memarkir mobilnya. Menaiki tangga dengan sedikit berlari menuju kamar si kembar. Tanpa mengetok pintu terlebih dahulu Ia mendorong kasar pintu itu dan seketika terkesima melihat pemandangan di hadapannya.
Kedua adik menyebalkan itu sedang tertidur dengan begitu damainya seakan-akan tidak terjadi apa-apa. Setelah membuatnya panik dan kesana-kemari seperti orang tidak waras, mereka malah asyik-asyikan tidur dengan wajah polos tanpa dosa.
Keduanya bergelimpangan saling menindih di sana masih dengan pakaian shalat menutupi wajah imut keduanya. Seketika emosinya mereda bak disiram air dingin. Ia memang tidak pernah bisa marah jika sudah berhadapan dengan kedua adiknya itu. Dua wajah identik yang selalu membawa ingatannya pada wajah teduh dan cantik mama.
Rasa sayangnya itu bahkan membuatnya rela menunda pendidikannya demi menjadi sopir sekaligus body guard untuk keduanya sesuai permintaan Papa. Ia harus bersabar menunggu sampai si kembar tamat SMA baru bisa mengikuti tes perwira angkatan darat. Papa tidak cukup berani mengambil resiko dengan membiarkan dua anak bungsu itu bebas bergaul di luar sana.
"Kita tidak akan pernah tau pergaulan macam apa yang akan mereka dapatkan di luar sana jika diberi kebebasan itu. So, mencegah lebih baik daripada memperbaiki yang sudah rusak!"
Ucapan Papa saat pertama kali memberi titah padanya untuk bertanggung jawab menjaga si kembar. Papa bahkan mengirimnya masuk ke beberapa kelas bela diri untuk mendukung tugas tersebut.
Ia menghela nafas dalam dan mengembuskannya perlahan. Ia berjalan masuk dan perlahan menjatuhkan diri di tepian tempat tidur. Manik elangnya kembali menatap dua wajah menggemaskan itu. Sudut bibirnya tertarik menyaksikan betapa kacaunya posisi keduanya saat tidur.
Tangannya terulur mengusap kepala si kembar bergantian. Terakhir mengecup puncak kepala keduanya. Sudut bibirnya tertarik lagi. Betapa lelapnya mereka tertidur. Sedikitpun tak terusik dengan gerakannya.
Ia pun berdiri dan keluar dari sana. Menutup pintu perlahan dan berjalan turun ke bawah. Perutnya keroncongan dari tadi minta diisi. Kepanikannya tadi membuat selera makannya hilang dan baru muncul setelah Ia kembali tenang.
Ia menuju meja makan dan segera membuka tudung saji di sana. Mengisi piring dan makan dengan tergesa saking laparnya.
Astaga...
**
*Mitha
Ia sedang dibuat sibuk berfikir oleh Fathin yang sedari tadi menyuruhnya mencari ide bagaimana caranya agar sahabatnya itu bisa bertemu dengan Abang Yusuf sang pujaan hati. Sudah berjam-jam Ia duduk tawajjuh mendengarkan curhatan Fathin yang tiada habisnya. Masalah Azhar lah, tentang Yusuf lah, tentang urusan kampus lah, tentang pembicaraan dengan ibunya lewat telfon lah. Astaga, complicated!
__ADS_1
Berkali-kali Ia mendesah ikut galau tiap kali Fathin mulai berkaca-kaca. Terlebih jika mengisahkan kisah cintanya yang baru mau berkuncup malah kini sudah menunjukkan tanda layu di tangkai.
"Gue jadi serem sendiri mau jatuh cinta. Cinta itu kayak permen nano-nano yah? Manis asem asin trus ada pahit-pahitnya juga. Rame rasanya!" Ia mencoba menghibur sahabatnya itu. Tapi sepertinya kali ini Fathin benar-benar lagi galau tingkat dewa. Fathin bergeming.
Tok.. tok.. tok..
Keduanya saling melempar tatapan heran. Ia dengan rasa kepponya dan Fathin dengan wajah penuh pengharapan semoga yang datang adalah sang pangeran. Keduanya sontak berlari dan dengan gerakan cepat bin gugup membuka pintu dan,
"Taraaaa!"
Ia dan Fathin berdiri ternganga plus manik membulat. Dua orang berwajah tampan yang begitu mereka rindukan berdiri dengan senyum terkembang sempurna di sana.
Siapa lagi kalau bukan si serius Azhar dan si somplak Akram.
"Awas, kelamaan mangap, ntar masuk lalat!" Akram mengurai keterpanaan mereka dengan kicauan menyebalkannya seperti biasa.
"Ih, apaan sih! mulut kita tuh harum semerbak bak taman bunga, jadi yang namanya lalat nggak bakal deket-deket. Paling yang masuk kumbang, tawon penghisap madu!" Celetuknya seraya mencebik.
Azhar dan Fathin tak menyahut. Mereka malah sibuk saling menatap grogi.
"Kita nggak disuruh masuk, nih?" Azhar tiba-tiba berucap datar bertabur senyum kaku.
"Oh iya, sampe lupa. Masuk, masuk tuan-tuan!" lagi-lagi Ia yang bersuara.
"Nih, bekal seminggu ke depan!" Akram meletakkan kantongan agak besar berisi banyak makanan ringan segala merk plus minuman kemasan pack.
"Waooow! kalian masih ingat aja kalau kita berdua hoby ngunyah!"
"Ck, kita cuma pisah dua minggu woii, bukan se abad. Lebbay Lo!"
"Biarin! lagian Lo berdua kenapa sih lama amat ngambeknya, finally, kita tuh jadi kayak anak ayam kehilangan induk tau nggak! hidup kita jadi garing, nolep tanpa Lo berdua!" Mitha bercuap-cuap alay membuat yang lainnya tergelak.
"Lebbay, Lo! Modus paling!" Akram menyentil keningnya pelan.
"Isshh, apaan sih, sakit tauk!" Sungutnya seraya menimpuk Akram dengan bantal.
"Hehehe, sorry, sorry, abis Gue kangen ama Lo berdua, terutama Lo, miss keppo wal modus!" Lagi-lagi semuanya terkekeh.
"Hai! udah baikan?" Azhar bertanya seraya duduk di samping Fathin yang sedari tadi betah dengan kegrogiannya.
"U_udah, udah, Alhamdulillah! Lo tau, Zhar Gue abis sakit? kok Lo tega nggak pernah jenguk Gue?" Fathin mulai emosional. Manik sendunya mulai dipenuhi bulir kaca.
"Shhh, sorry, sorry banget. Gue, gue nggak nyali ketemu Lo setelah semua yang udah Gue lakuin. Sorry!" Azhar meraih Fathin dan menyandarkan kepala sahabatnya itu di bahunya.
"Sumpah! Gue udah ke sini berkali-kali tapi Gue nggak enak mau masuk soalnya selalu ada bang Yusuf!"
"Gue minta maaf yah, Zhar, kalau gue ada salah sama Lo. Sumpah, Gue nggak ada maksud nyakitin Lo!" Fathin masih terisak di sana. Sementara Ia dan Akram masih setia dengan ekspresi bengong syahdunya, baper tentu saja, buktinya kini mereka ikut berkaca-kaca.
"Lo nggak salah sama skali. Gue yang salah. Sekali sahabat, maka selamanya kita akan jadi best friends forever. Nggak akan ada yang berubah! Lo mau kan maafin Gue, Fhat?" Azhar kini benar-benar menangis.
Fathin mengangguk sebagai jawaban.
"Ck, nggak seru ah, kalau cuma berdua. Harus berempat!" Ia menarik akram dan menyatu berpelukan berempat.
"Gue kangen banget tauk sama Lo berdua!" Fathin mencebik seraya menimpuk pelan paha Akram dan Azhar bersamaan.
"Hehehe, kita juga kangen, kangen banget. Lo nggak liat Azhar kurusan gini gegara kangen sama Lo berdua?" Akram terkekeh dan mengurai pelukannya. Ia juga dan terakhir Azhar.
"Sekarang, buatin yang dingin-dingin, dong! haus Gue gegara ngurusin tuh bocah rese'!" Azhar tiba-tiba memberi titah.
Seperti biasa, telinganya sangat peka kalau ada bakal bahan ghibahan seperti ini.
"What? bocah? bocah apaan? Jangan bilang Lo berdua mendadak jadi pedofil? bocah apaan, sih? Keppo aku tuh!" Ia yang tadinya sudah berdiri buru-buru duduk kembali menatap curiga pada dou sahabat laki itu.
"Hemmm, dasar miss keppo!"
"Ayo, dong, cerita ih, penasaran banget, nih!"
Akrampun mulai bercerita panjang kali lebar semua yang mereka alami sebelumnya soal bocah-bocah yang katanya kembar itu. Ia dan Fathin begitu serius mendengarkan. Ia sampai menangkup kedua pipinya sendiri dengan ekspresi yang di buat gemas,
"Ya, ampyuunnn, so sweet banget, sih kalian. Btw, tuh bocah cantik-cantik nggak?"
"Cantik banget, guys, kayak Lo berdua! tapi lebih bening tuh bocah, maklumlah anak sulthan. Rumahnya ajha udah kayak lapangan bola luasnya tau nggak!" Sahut Akram berapi-api. Azhar hanya terkekeh.
"Pepet trus, Ram, Zhar, lumayan bisa jadi calon donatur tuh!" Ia cengengesan merasa lucu.
"Apaan, sih, Lo! tuh bocah-bocah anak baik. Bukan cewek sembarangan. Mereka itu laksana pualam. Bidadara tanpa sayap. Matanya bak bintang kejora, dagunya mirip lebah bergantung, bibir tipis, hidung mancung, gigi seputih mutiara.. ! eh, perasaan itu lagu qasidah yang sering Lo nyanyiin bukan Fhat?" Akram mulai melampirkan smirk menyebalkannya.
Fathin sedari tadi menahan tawa dan kini mereka bertiga Akhirnya tertawa terbahak-bahak. Akram memang selalu bisa menghidupkan suasana dengan tingkah-tingkah absurdnya.
TBC>>>
__ADS_1