
*Fatin
Suara adzan terdengar bersahut-sahutan dari beberapa mesjid yang saling berdekatan.
Shubuh yang damai kembali menyapa separuh bumi. Waktu fajar baru saja melipat selimut malam. Mengusir sunyi dan menggantinya dengan gema tasbih semesta. Membawa jiwa-jiwa yang telah berkelana dalam dunia mimpi, kembali menyatu dengan raga-raga yang masih lelap terbuai.
Sejenak alam menjadi hening dalam diam.
Seakan ikut takzim mendengar seruan malaikat shubuh yang turun di langit pertama, atas titah Sang Penguasa Jagat. Menyeru segenap penghuninya untuk bangun,
"Wahai manusia, bangunlah! dan padamkan api yang akan membakar dirimu!"
Suasana seketika begitu syahdu. Seolah memberi celah pada lantunan suara adzan shubuh untuk mendendang.
Membangunkan jiwa-jiwa tanpa terkecuali, untuk "kembali" memenuhi panggilan fitrah. Lalu, manusia terbagi menjadi dua golongan. Sebagian menyambut seruan itu dengan suka cita. Sebagian yang lain kembali lelap dalam pelukan mimpi yang melalaikan.
Ia mengerjap pelan. Sebagian nyawanya masih enggan menyatu. Ada bisikan lain yang mengajaknya kembali ke alam mimpi. Tapi seruan sang Muadzin dari masjid terdekat, memaksa nyawanya berkumpul segera. Menenggelamkan bisikan melalaikan itu dalam sekejap.
"Ashshalaatu khairum minannauuumm!"
Sebuah kalimat sarat makna. Mengingatkan manusia bahwa sungguh, shalat, berdiri menghadap Sang Khaliq, jauh lebih baik dari pada tidur berkawan mimpi yang melenakan.
Ia kembali mengerjap berkali-kali. Rasanya Ia Baru beberapa jam terlelap, tapi sudah harus bangun demi mendengar seruan "Sang Penguasa Jagat".
Ya, meski sedikit bar-bar, tapi perkara shalat sebisa mungkin ia berusaha untuk tidak melalaikannya. Selain karena perintah wajib yang terpenting setelah Iman, Ia juga tak ingin menghianati amanah Bapak dan Ibu yang tak memberinya hak untuk meninggalkannya meski satu waktu pun.
Dalam hati melafazkan Hamdalah. Memuji kebaikan Sang Khalik Sebab masih diberi nikmat bangun dalam keadaan afiat lagi.
Ia bangkit dari tempat tidur setelah membaca doa sesudah adzan. Menyapukan pandangan ke sekeliling sembari sedikit merenggangkan otot-ototnya. Seharian beberes rumah kemarin membuat Ia begitu pulas malam ini.
Beberapa teman yang menghuni kamar yang sama dengannya masih begitu lelap terbuai mimpi. Ia bangkit dan melipat selimut yang Ia gunakan untuk melindungi tubuh dari dingin malam. Meletakkannya di dalam almari box pakaian.
Ia beranjak menuju kamar mandi untuk berwudhu. Ia masih merapikan rambutnya seusai wudhu, ketika tiba-tiba ia mendengar Zahra, teman sekamar mengetuk pintu kamar mandi dengan buru-buru.
"Dek, cepetan dikit dong! kebelet nih. Kamu ngapain sih di dalam, lama banget?" rengek Zahra tak sabar.
"Iya kak, ini udah mau keluar kok" sahutnya sambil buru-buru membuka pintu.
"Maaf kak lama." ucapnya sambil tersenyum kaku. Melangkah keluar dan menepi segera, memberi laluan untuk Zahra masuk.
__ADS_1
"Hmm.. kakak mau ditungguin biar barengan shalatnya?" Tanyanya basa-basi.
"Kamu duluan aja. Takutnya saya lama di dalem. Udah ah, keburu keluar nih pipisnya" Ucap zahra sambil menutup pintu dengan gerakan secepat kilat. Lagi-lagi Ia tersenyum kaku.
Ia pun kembali ke kamar. Sejurus kemudian, Ia telah tenggelam dalam kesyahduan ayat-ayat suci yang Ia baca dalam ibadah shubuhnya. Melangitkan jutaan munajah kebaikan dunia akhirat.
Ia membangunkan tiga orang teman yang lainnya, Reni, Aira dan Dawiah. Ada empat orang lainnya lagi dikamar itu selain dirinya. Mereka adalah mahasiswa-mahasiswa yang sedang menuntut ilmu di kampus yang berbeda. Ia dan keempat temannya tinggal menumpang di rumah besar milik salah seorang anggota DPRD di kota ini, Kendari.
Reni dan Aira adalah mahasiswa semester lima di STAIN. Sementara Zahrah dan Dawiah baru saja menyelesaikan gelar sarjana di kampus terbaik dikota ini, UNHALU.
Ahh, mengingat mereka ia kembali sendu. Mengingat tujuan awalnya datang ke Kendari. Ia yang dari awal tidak berencana melanjutkan kuliah setamat SMA karna masalah biaya, mendadak begitu semangat ketika Ibu Masyitah, kerabat nenek yang menjabat anggota DPRD Propinsi Sultra, mengajaknya ke Ibu kota, pada kunjungan kerjanya lima bulan yang lalu di daerah tempat Ia dan keluarganya bermukim.
"Dari pada kamu nganggur di kampung, mending kamu ikut tante aja ke kota, kamu bisa ikut kursus jahit, sklian cari pengalaman."
Ia yang dari awal memang ingin mengasah bakatnya di dunia itu, begitu speechless mendengar tawaran tersebut. Jadilah ia sekarang tinggal di rumah ini.
Ya, sudah lima bulan ia disini. Tapi entah kenapa ibu Masyitah belum pernah menyinggung masalah kursus yang pernah dijanjikannya. Ia malah tinggal di rumah ini layaknya seorang pembantu. Ia sedikit kecewa namun Ia tidak bisa berbuat apa-apa.
Selama ini Ia mencoba husnudzon. Mungkin Bu Masyitah masih sibuk dan belum ada waktu untuk membawanya ke tempat kursus. Mengingat Beliau adalah anggota Dewan, tugas dan tanggungjawab yang diemban wanita paruh baya itu cukup banyak menyita waktu.
"Awas, kesambet setan nanti ngelamun se_shubuh gini, mikirin apa sih, serius banget?" sentak Aira bahunya. Ia gelagapan menatap wajah cantik itu sedang tersenyum menatapnya.
"Ng-nggak kok, Kak. Ini Aku lagi kepikiran aja sama ajakan Mitha kemarin. Dia ngajak aku ikutan Tes SPMB di kampusnya Kak Dawiah" terangnya mencoba terbuka.
Ia terkekeh kecil mendengar ocehan temannya itu. Dalam hati sepakat dengan apa yang diucapkan Aira. Selama ini Ia memang hanya disibukkan dengan segala urusan ***** bengek dalam rumah ini.
"Aku sich mau banget Kak, tapi tau sendiri kan tujuanku datang ke sini?. Aku pasti nggak dibolehin Ibu sama bapak kalau mau kuliah." Ungkapnya dengan suara lemah.
"Dengan kondisi Bapak skarang, kayaknya nggak mungkin beliau izinin. Untuk makan sehari-hari aja bapak sama ibu harus kerja keras ga' kenal waktu. Aku jadi nggak tega, Kak, kalau harus nambah beban mereka dengan biaya kuliah lagi." Imbuhnya lirih sedikit berbinar.
Aira mengusap bahunya lembut. Mungkin merasa ikut prihatin dengan dilema yang sedang menimpanya kini.
"Ehmm, kalau aku boleh nyumbang saran, kamu coba aja dulu. Yahh, itung- itung cari kesibukan selain nyapu sama ngepel dirumah besar ini. Nanti kalau kamu benar- benar lulus, baru kita pikirin lagi gimana cara ngeyakinin bapak sama ibu kamu. Kamu kan bisa kuliah sambil kerja. Jadi kamu nggak akan ngebebanin mereka, Fhat". Ia berpaling menatap wajah lembut Aira. Mencoba mencari keyakinan atas ucapan gadis tersebut.
"Pokok nya kamu ikut tes aja dulu, selanjutnya nanti kita minta solusi sama abang-abang, kakak senior di HIPELWANA. Moga aja mereka punya solusi terbaik untuk kamu." papar Aira mencoba menenangkannya. Ia kembali menunduk. Masih ada sejumput ragu di dalam sana yang masih coba Ia tepis. Lagi-lagi alasan ekonomi keluarga menjadi penyebab nomor wahid.
"Ayolah! kamu jangan pesimis gitu dong, sebelum berjuang. Spirit..spirit..!" semangati Aira padanya. Kali ini Ia seakan mendapati angin segar di tengah panas yang terik.
Sebuah senyum terbit dibibirnya, dibarengi ucapan terimakasih pada Aira. Ia seakan mendapat jalan keluar dari dilema yang menderanya beberapa hari ini, setelah ajakan Mitha sahabatnya tempo hari.
__ADS_1
Selain berwajah cantik, kebaikan hati Aira memang selalu bisa menjadi solusi dari setiap masalahnya selama ini.
Diantara semua teman yang sekamar dengannya, Aira memang lebih friendly. Keramahannya selalu membuat nyaman siapapun yang dekat dengan gadis itu.
Berbeda dengan tiga penghuni lainnya yang cenderung lebih kalem. Terutama Dawiah, pembawaan yang sedikit pendiam dan cuek, membuat Ia sedikit ragu untuk mengakrabkan diri.
Tapi meski begitu, Ia selalu berusaha tetap bersikap baik dengan siapapun. Baginya selama tidak ada yang mengusik kehidupannya, maka Ia tidak perlu memusingkan apapun mengenai orang lain.Perbedaan adalah hal yang niscaya.
Bukankah semua orang memang diciptakan berbeda satu sama lain?. Bahkan di taman bunga pun kau pasti akan menjumpai beragam warna dan harum bunga yang berbeda?.
It's so simple !!.
"Ck, ngelamun lagi, ayo ah, this day's begin!" Lagi-lagi Aira membuatnya gelagapan.
"Kakak ih, hoby banget ngagetin aku." Ucapnya sembari terkekeh, tanpa sadar menimpuk paha Aira dengan sajadah yang sedari tadi sudah Ia lipat rapi, tapi belum sempat di letakkan di lemari sebab keasyikan melamun.
"hahahaha.. Abisnya kamu dari bangun udah ngelamun aja kayak orang ditinggal kawin. Galau tingkat dewa!" Aira tertawa seketika.
Ia pun ikutan tergelak mendapati Aira yang masih tertawa lucu. Membuat ketiga penghuni lainnya yang baru kembali dari kamar mandi melampirkan wajah penuh tanda tanya.
"Seru banget kayaknya, ngetawain apa sih shubuh-subuh gini?" Reny yang bertanya ikut tersenyum.
Ia mengulum senyum. Menggeleng sembari beranjak. Sedikit memberi isyarat agar apa yang Ia bicarakan barusan cukup mereka berdua yang tahu. Setidaknya sampai Ia lulus.
Untuk urusan yang ini, Ia hanya ingin terbuka pada Aira. Ia tidak ingin jika niatnya ini sampai ke telinga Tuan rumah sebelum waktunya.
Semburat cahaya kekuningan di ufuk timur mulai mengintip perlahan. Saatnya memulai hari seperti biasa.
Semua penghuni rumah khususnya penghuni kamar yang Ia tempati, mulai bergiat dengan tugas masing-masing. Di rumah ini tak ada satupun asisten rumah tangga. Semua tugas rumah di serahkan kepada mereka berlima.
Reny dengan tugas prepare perlengkapan sekolah anak-anak Buk Masyitah. Zahrah kembali sibuk dengan tumpukan cucian yang tak pernah ada habisnya. Aira Membersihkan halaman depan dan belakang. Sementara Dawiah, sebagai koki handal, sedari tadi focus pada menu makanan hari ini. Dan, Ia sendiri seperti biasa, sebagai petugas cleaning service, siap beraksi dengan senjata andalan, Sapu plus kain pel.
Yah, nasib "anak tinggal".
Next >>
# Note :
* SPMB: Seleksi Penerimaan Mahasiswa Baru
__ADS_1
* HIPELWANA : Himpunan Pelajar Mahasiswa
Kabaena. (sebuah organisasi yang yang beranggotakan pelajar dan mahasiswa yang notabene berasal dari pulau Kabaena.sebuah pulau nan indah dengan gunung-gunungnya yang tinggi menjulang. yang berada di kabupaten Bombana, Sultra ).