MUJAHADAH CINTAKU

MUJAHADAH CINTAKU
# Episode 31. Muhajir Ummu Qais


__ADS_3

*Yusuf


Adzan dzuhur berkumandang, menggaungkan gema yang cukup membahana di seantero masjid dengan kubah menjulang itu. Sekumpulan besar jamaah laki-laki berdiri setelah melafal do'a kiffaratul majlis. Berjalan menuju tempat wudhu. Suara sapaan yang saling sahut-sahutan antara puluhan pria dengan setelan agamis itu terdengar begitu riuh penuh semangat.


Ia yang merasa dirinya belum melakukan hal-hal pembatal wudhu, nampak masih bergeming. Memilih duduk menekur lalu tenggelam dalam muhasabah diri yang membuatnya kian didera rasa bersalah dan sesal yang bertubi.


Gery yang hendak menuju tempat wudhu menatap sekilas ke arahnya. Tak ingin mengusik perenungannya, pria itu memilih membiarkan Ia dengan ketenangannya. Ia pun memang tak ingin sedikitpun mengalihkan focusnya saat ini.


Ia kembali memantapkan hatinya. Niatnya bulat sudah untuk berhijrah. Meninggalkan fantasi dunia yang melalaikan. Berdiri tegak menatap tajam dan lurus ke depan layaknya rajawali saat hendak menangkap mangsa. Ia harus keluar dari zona nyamannya selama ini, lalu mencoba focus menata kualitas hati, jiwa dan pikiran lewat jalan risalah ini, dakwah dan tabligh.


Ingatannya kembali menghadirkan memory akan nasehat-nasehat Gery sebelum ini, bahwa kesempatan kedua itu tidak selalu ada. Ia hanya datang pada segelintir orang yang dikehendaki Sang Pencipta.


Hidup hanya akan memberi manusia kesempatan sekali untuk membuat keputusan yang kelak akan menentukan baik buruknya masa depan mereka. Dan masa depan yang sesungguhnya adalah negeri akhirat yang kekal abadi.


Ia yakin, kesempatan emas itu kini hadir di hadapannya. Kesempatan pertama, hadiah dari Allah SWT untuk setiap hamba-Nya. Ia tak mungkin melepasnya pergi. Ia bertekad kuat untuk menggunakannya sebaik mungkin. Mengecap sebanyak-banyaknya nikmat kebaikannya. Menyelami lautan ilmunya sedalam-dalamnya.


"Bismillahir Rahmaanir Rahiim!" Ucapnya mengawali "pengembaraan"nya kali ini penuh semangat.


*


Ritual ibadah shalat dzuhur berjama'ah baru saja usai. Ia merubah posisi duduknya dari mode Iftirasy menjadi menyila. Melafal lirih beberapa bacaan tasbihat yang masih tersisa di ingatanya . Terutama Istighfar sebagai representasi kelemahan dan ketidakberdayaan manusia di hadapan Sang Pencipta.


Ia masih tenggelam dalam refleksi diri hingga doa bersama usai. Ia menoleh dan mendapati Gery yang memberi kode dengan isyarat mengangkat kedua tangannya sejajar telinga. Ia pun mafhum jika sahabatnya itu mengajaknya shalat sunnah. Ia pun mengangguk mengiyakan. Sejurus kemudian Ia kembali focus tenggelam dalam iftitah-nya, sebuah pengakuan akan kepasrahan total dari seorang hamba kepada Allah swt.


Dua rakaat cukuplah baginya. Ia belum bisa mengikuti jejak Gery yang tingkat kekuatan ibadahnya sudah di level ajiib! Dalam sehari semalam, Gery bisa menghimpun rakaat shalatnya hampir seratus rakaat. Amazing!


Ia baru saja beranjak dari duduknya setelah salam, saat Ia melihat Bang Thoriq bersama beberapa pria bertato datang menghampirinya. Senyumnya seketika terkembang. Kali ini penampilan Bang Thoriq lebih segar dan benar-benar nampak aura keshalehan dari wajahnya.


Wajah cerah bercahaya, dengan janggut hitam yang menghiasinya, juga tubuh ideal yang di balut jubah warna putih bersih dan sorban warna senada, menjadikan level ketampanan pria itu kian paripurna. Perfecto! sempurna!.


"Assalaamu'alaikum, saudaraku!" Bang Thoriq menyapa hangat sembari menjabat tangan dan sedikit merangkul bahunya.


"Wa'alaikum salam, Bang! Dari tadi nih nungguin Abang!" Ia mendadak merasa mendapat angin segar juga mood booster saat berjumpa lagi dengan sosok "keren" yang satu itu.


"MaasyaAllah! gitu yah? Sorry, abis jemput dulu nih, kawan-kawan alumni acara "Ngopi" yang bulan kemaren. Beliau-beliau baru pulang juga dari khuruju yang kedua, tiga hari. Abis Tho'am alias makan InsyaAllah bayan wabsiy, semacam nasehat pelepasan para pekerja dakwah sebelum kembali ke tempat tinggal atau maqomi!" Terang Bang Thoriq sedikit padanya. Ia pun sampai sumringah dibuatnya.


"Oh, yah? gimana, kesan pertamanya, seru nggak?" Tanyanya tak sabar.


"Intro dulu, ayo, biar saling kenal!" Ujar Bang Thoriq masih dengan senyum hangatnya.


Satu persatu dari mereka mulai saling menyalami. Di mulai dari pria bertato di bagian leher, berjubah krem dengan padanan sorban warna hitam. Janggut tipis mulai menghitam di dagunya.


"Salman! selamat bergabung, Bro!" Ucap pria tersebut ramah penuh persahabatan.


"Yusuf!" Sahutnya bersama senyum cerahnya.


Ia lalu beralih pada pria seumuran Gery dengan tampilan cool. Memakai kemko biru lembut dan celana cingkrang warna navy kotak. Pecinya sama dengan yang Ia kenakan, kupluk warna hitam.


"Hudzaifah! Wellcome to the jungle, Bro! Lu bakal ngerti beratnya beban hidup yang sebenarnya di sini, InsyaAllah!" Pria itu terkekeh kecil seraya melayangkan kepalan tinju untuk diadu.


"Yusuf, Bang!" Ia ikut tersenyum lebar dan menyambut kepalan tangan pria itu.


"Ammar, semoga kita bisa colabs dengan baik setelah ini! Aamiin!"


"Semoga! Yusuf, Bang!" Pria yang satu ini cukup bersahaja dan nampak berwibawa menurutnya. Pembawaannya juga terlihat tenang.


"Khalid!"


"Hamzah!"


Selanjutnya Ia pun tak henti dibuat kagum oleh aura yang keluar dari hampir kesemua pria tersebut yang belakangan diketahuinya merupakan personel band underground "Luciver" yang kini telah berganti nama menjadi "Badar War" semenjak kesemua personelnya hijrah.


"Pantesan gue tadi kayak familiar sama wajah Abang-abang semua, ternyata personil band favorite gue!" Ia terkekeh kecil, merasa lucu akan kelemotan daya ingatnya lagi-lagi.


Sepertinya wajar jika Ia sampai pangling, selain wajah kelimanya yang nampak berubah lebih bersih, cerah dan kian gagah dengan bulu-bulu hitam yang mulai memenuhi dagu. Belum lagi tampilan outfit yang agamis, yang begitu contras dengan style mereka selama ini yang serba metal. Mereka juga telah berganti nama dengan nama-nama islami.


Tak lama berselang Gery pun ikut bergabung bersama lima pemuda lainnya yang ternyata adalah mahasiswa semester akhir di IAIN Sultan Kaimuddin, Kendari. Kelimanya adalah rekan satu rombongan khuruj dengan para personil Badar War itu. Kembali mereka semua saling menyalami penuh kehangatan. Ada semacam buncah rasa yang menenangkan batinnya tiap kali Ia menyalami setiap orang di sana. Entahlah, Ia juga tak mengerti. Yang jelas hatinya tenang dan hangat, penuh suka cita.


"Tho'am,,, tho'am! InsyaAllah semua waktunya Tho'am siang!" Seru salah seorang petugas hikmad (koki) di pintu masjid.


Dengan sekali gerak seakan dikomando, kesemua orang yang sedang membentuk beberapa majelis, serentak berdiri keluar menuju teras, termasuk majelisnya saat ini.


Ia menatap heran di sana, di mana telah berjejer rapi dan memanjang puluhan nampan ukuran besar yang berisi nasi putih. Di antara nampan satu dengan yang lainnya terdapat mangkuk besar berisi sayur, lauk berupa ikan, juga sambal. Ada buah semangka segar yang sudah dipotong-potong, ada sedikit garam di piring kecil juga set ceret untuk cuci tangan yang bentuknya jujur saja belum pernah Ia lihat sebelumnya.


Ia menatap Gery berharap penjelasan dari sahabatnya itu, dan seakan mengerti, Gery langsung terkekeh kecil.


"Ini namanya makan berjama'ah. Salah satu sunnah Nabi saw. Fadhilahnya, selain untuk meringankan kerja petugas hikmad juga bisa menyatukan hati kita. Menghilangkan sifat sombong dari dalam hati kita. Dengan berada di satu nampan otomatis posisi kita smua sama. kita cuma bisa menyaksikan keharmonisan Orang kaya bertemu dengan orang miskin, mantan penjahat ketemu polisi, rakyat jelata ketemu pejabat, guru ketemu murid, ulama dengan awam, ya cuma di acara makan berjamaah begini. Ya nggak?"

__ADS_1


"Iya juga, sih!" Ia pun manggut-manggut pertanda mengerti. Sejurus kemudian puluhan orang tadi sudah duduk membentuk kelompok-kelompok kecil, masing-masing nampan di kelilingi empat orang. Duduk di atas suprah atau alas dari plastik tahan air. Lagi-lagi Gery memberitahu jika itu adalah sunnah.


Ia berada di satu tempat mengelilingi nampan bersama Gery, dan dua personil band metal tadi, Khalid dan Ammar.


"Cuci tangan harus di air mengalir seperti ini. . Baca, Bismillaahi khairum min'hu!" Ujar Gery seraya menuangkan air di tangannnya di atas wadah yang berlobang tutupnya agar air bisa jatuh kedalam wadah itu.


Ia pun mulai mengikuti setiap gerak gerik Gery, dari cuci tangan, menjumput sedikit garam menggunakan jari manis seraya melafal Basmalah dan sepotong doa yang masih begitu asing baginya,


"Bismillaahi hani'am mar,iah!" Kata Gery bermanfaat menetralkan asam lambung. Di susul mengkonsumsi buah sebagai pembuka agar tidak mengagetkan lambung katanya. Untuk bagian ini Ia sedikit takjub sebab teorinya sejalan dengan materi kuliahnya selama ini soal sistem pencernaan.


Kecuali dirinya sebab Ia belum mengerti, ketiga anggota lainnya duduk dengan posisi melipat kaki kiri dan mendudukinya, sementara kaki kanan ditekuk berdiri. Yang satu ini pun Ia memiliki kajian ilmu yang sejalan, bahwa dengan duduk seperti itu maka otomatis perut akan terbagi tiga bagian. Satu bagian untuk makanan, minuman lalu udara.


Awalnya Ia ragu tapi sejurus kemudian Ia pun ikut setiap arahan Gery. Sedikit-sedikit Ia mulai memahami bahwa makan merupakan salah satu keperluan yang setiap saat manusia lakukan. Kemudian terkait asas manfaat, maka hal urgent ini harus di lakukan sesuai contoh baginda Nabi saw agar semuanya bernilai ibadah dan pada akhirnya impact-nya adalah kekuatan ibadah dan kesehatan lahir dan batin.


"Subhanallah! perfect banget, yah ternyata risalah ini. Sampai-sampai soal ginian diatur sedemikian rupa!" Ucapnya mulai sering menirukan gaya bicara Gery yang senantiasa memuji Allah swt dalam setiap pembicaraannya.


"Right. Jangankan dalam hal gini, mau buang air aja ada rulenya, Bro!"


"Yang benner?" Tanyanya ragu.


Gery malah tergelak seraya mengangguk mengiyakan. Ia kembali berdecak kagum.


*


Kini semua penghuni masjid tersebut mulai sibuk dengan agenda masing-masing. Beberapa orang Zumidar atau penanggungjawab markas sedang duduk melingkar, berembuk, bermusyawarah untuk memutuskan siapa yang akan memberi bayan hidayah untuk jamaah yang hendak berangkat khuruj. Lalu masjid mana rute berikutnya yng akan dituju jamaah yang sementara bergerak. Juga siapa yang bertugas memberi bayan wabsy para jamaah yang baru kembali pasca khuruj. Selain itu, menentukan Amiir (pimpinan) jama'ah.


Ada dua rombongan jama'ah gerak empat bulan jalan kaki, lima rombongan yang hendak keluar tiga hari dan tiga rombongan jama'ah wabsy. Masing-masing dari mereka pun akhirnya sibuk memisahkan diri sesuai passion nya.


Setengah jam kemudian Ia sudah duduk tawajjuh menghadap ke depan di mana seorang pria dewasa dengan jubah maroon plus sorban putih bersih sedang berbicara. Memberi Bayan Hidayah atau semacam pembekalan pra khuruj. Biasanya berisi arahan tentang apa, bagaimana, juga mengapa saat berada dalam masa khuruj.


Dari kesemua perkara yang disampaikan, satu hal yang paling berkesan di hatinya adalah mengenai pentingnya meluruskan niat sebelum beramal. Saking pentingnya urusan niat ini sampai Allah swt dan Rasul-Nya telah banyak memberi warning bahwa beramal tanpa niat itu tertolak bahkan sia-sia. Sebaliknya niat tanpa amal berpahala.


Ia sedikit tertampar dengan analogi kedudukan niat dalam beramal seperti seorang laki-laki yang dijuluki Muhajir Ummu Qois di zaman Nabi saw, sebab berhijrah dengan niat karena wanita yang ingin dinikahinya. Persis sama dengan apa yang tengah melandanya saat ini. Ia berniat berubah oleh sebab keinginan hatinya yang hendak mempersunting gadis bermata sendunya, Fathin. Wanita yang begitu memenuhi seluruh relung di hatinya saat ini.


Ia pun kembali merevisi niat awalnya. Menggantinya dengan niat tulus ingin memperbaiki diri sebagaimana imbauan Sang Pembicara di depan sana.


Sebelum berangkat seperti biasa, semua di ajak melakukan shalat shafar (perjalanan) dan berdo'a kebaikan. Lalu mendengarkan beberapa arahan tentang adab dalam shafar.


Menjelang ashar, rombongan jamaah pun siap berangkat menuju rute masjid sesuai hasil keputusan musyawarah markas. Ia bersama rombongannya mendapat rute dalam kota, masjid di sekitaran alun-alun kota. Ia begitu semangat setelah mengetahui ternyata Ia berada dalam rombongan yang di amiri oleh Bang Thoriq. Meski sedikit kecewa sebab Gery di putus untuk menjadi amir rombongan jamaah yang lain.


Seperti kebiasaan jama'ah, sebagaimana sunnah Nabi saw saat masuk masjid sebelum duduk dianjurkan melakukan shalat sunnah "Tahiyyayul Masjid". Semuanya pun diarahkan untuk berwudhu dan tunaikan hak masjid dengan shalat sunnah dua raka'at.


Ia yang belum terlalu faham dengan perkara ini, berjalan mendekati Bang Thoriq dan bertanya niat juga tata caranya. Dengan penuh kesabaran dan kelembutan, Pria gagah itu memberinya sedikit ulasan tentang hal tersebut.


"Caranya sama dengan shalat seperti biasa. Jumlah raka'atnya dua. Trus niatnya, Ushalli tahiyyatal masjid rak'ataini sunnatan lillâhi ta'ala. "Saya niat shalat tahiyat masjid dua rakaat karena Allah ta'ala." Terang Bang Thoriq yang diangguki olehnya kemudian.


Semua kembali berembuk setelah finish dengan shalat sunnah. Mendengarkan Bang Thoriq selaku amiir memberi sedikit ulasan tentang adab selama berada di masjid, dan terakhir berdo'a bersama.


Ia masih begitu asyik melafal beberapa bacaan dzikir petang berupa Tasbihat, Shalawat juga Istighfar sebagaimana arahan sang Amiir, saat lamat-lamat telinganya menangkap bunyi ponselnya tanda ada panggilan masuk. Bergegas Ia mengeluarkan dari saku baju gamisnya.


"Assalaamu'alaikum.. Pak, ini kami dari loundry Cleany, bagaimana, Pak, ini paket bajunya udah selesai, mau di antar ke alamat mana yah?" Sebuah suara wanita terdengar menyapa ramah dari seberang. Ia seketika sadar, soal baju-baju muslim pilihan Fathin yang di belinya tadi pagi, yang Ia bawa ke sebuah loundry didekat masjid markas. Ia memang tak pernah mau langsung memakai barang yang baru di beli sebelum di cuci terlebih dahulu.


"Wa'alaikumsalaam.. antar ke masjid Jabal Rahmah yang dekat alun-alun. Trimakasih!"


"Baik, pak! sama_sama!"


Lagi-lagi semua di seru untuk berkumpul membentuk lingkaran. Waktunya musyawarah untuk program kerja yang akan mulai dilakukan. Ia diputus menemani Amiir untuk "Jaulah" atau berkunjung ke rumah-rumah warga untuk menyampaikan kalimat iman dan mengajak mereka ta'at pada perintah-perintah Allah swt terutama perintah shalat yang merupakan tiang tegaknya agama Islam. Mengajak mereka untuk hadir di masjid untuk shalat berjama'ah untuk para laki-laki dan mendengarkan pembicaraan iman.


Sementara yang lain bertugas standby di masjid manunggu jika ada tasykilan yang datang lalu melayani mereka dengan menyenangkn hati mereka melalui hikmad makan berupa snack dan di ajak duduk bersama dalam majelis ta'lim yang membacakan beberapa ayat maupun hadist tentang keutamaan amal-amal agama.


Sesaat sebelum majelis bubar ponselnya kembali bergetar tanda ada panggilan masuk. Ternyata panggilan dari admin loundry. Ia pun memberi isyarat keluar sebentar dan menyambangi seorang pengendara motor yang baru saja masuk di area halaman masjid. Setelah tanda tangan sebagai bukti dan serah terima, Ia pun berlalu masuk seraya berucap terimakasih.


Majelis musyawarah berakhir. Waktunya persiapan program sore. Masih ada waktu sedikit untuk bersiap.


Ia menggunakan waktu yang disediakan untuk prepare sebelum bergerak dengan mandi. Membersihkan badan yang sudah sangat lengket oleh keringat.


Sabun mandi yang bisa digunakan untuk wajah dan juga rambut menjadi senjata andalan baginya dalam menaklukkan keringat lengket itu. Sebuah produk branded dengan harga yang tidak murah tentu saja, yang diformulasikan dengan kandungan menthol serta caffeine sehingga mampu menyegarkan tubuh, juga kandungan vitamin E, C, serta zinc untuk menutrisi, melembapkan, mencerahkan, dan mengontrol produksi minyak berlebih. As usual!


Pertama-tama mereka berkunjung ke rumah pemerintah setempat untuk meminta izin stay di masjid selama tiga hari. Bang Thoriq selaku Mutakallim atau pembicara memang selalu menghipnotis siapapun yang menjadi Mustami' atau pendengarnya.


Skill interpersonalnya berupa gaya retorika yang luar biasa hebat membuat Pak Lurah dan para penanggungjawab masjid terpana dan dalam sekejap bersedia ikut ke masjid. Semua berjalan lancar dengan izin Allah swt tentunya. Alhamdulillah!


Seusai shalat maghrib, beberapa orang yang berhasil diajak ke masjid nampak sudah duduk tawajjuh menghadap kearah mimbar. Menunggu Bang Thoriq selaku petugas bayan maghrib berbicara. Ia mengitarkan pandangannya ke sekeliling. Cukup banyak juga yang duduk menunggu. Sudut bibirnya tertarik. Entahlah, hatinya ikut bahagia. Lisannya pelan melafaz hamdalah.


"Hadirnya kita semua di tempat ini, Tuan-tuan sekalian mau meluangkan, meringankan langkahnya ke tempat ini, sesungguhnya bukanlah sebab karena kesehatan, kekuatan ataupun kesempatan yang kita miliki. Tapi, semua ini karena kasih sayang Allah. Allah yang memberi taufik dan hidayah kepada kita semua."


"Majelis seperti ini adalah majelis yang sangat di senangi Allah swt. Andai saat ini Allah swt berkenan membuka hijab mata kita, maka InsyaAllah kita akan saksikan malaikat-malaikat Allah bershaf-shaf hingga di Arsy yang menaungi kita semua. Sesuai hadist Nabi saw,

__ADS_1


"Tidaklah suatu kaum berkumpul di suatu masjid daripada masjid-masjid Allah, sedangkan mereka membaca Al-Quran dan mempelajarinya kecuali akan turun kepada mereka ketenteraman, mereka diliputi dengan rahmat, malaikat mengelilingi mereka dan Allah menyebut-nyebut mereka dihadapan makhluk yang ada disisi-Nya.” Ucap Bang Thoriq setelah sebelumnya memberi salam, memuji Allah swt dan melafal shalawat untuk Baginda Rasul saw.


Semua kembali tertunduk, tenggelam dalam penghayatan pada setiap ucapan Bang Thoriq kemudian. Bagaimana pentingnya iman dan amal sholeh sebagai bekal hidup di dunia dan akhirat. Satu hal yang paling berkesan baginya adalah betapa maha penyayangnya Allah pada setiap hambanya.


"Allah tak pernah lelah menanti hamba yang "kembali". Allah yang maha sabar menghadapi setiap keburukan yang dilakukan hamba-hamba-Nya, dengan tetap memberi ampunan pada setiap yang bertobat. Bahkan Allah swt menjadikan setiap keadaan seorang muslim itu baik baginya. Saat diberi nikmat dan mereka bersyukur, maka pahala baginya dan Allah tambahi nikmat itu baginya. Ketika nikmatnya ditahan dan Ia bersabar maka pahala baginya. Saat sakit, dosanya diampuni. Saat didzolimi pun Allah mengijabah doanya tanpa syarat. Semua baik jika Iman dan amal baik."


Seluruh rangkaian program malam ini berakhir dengan Tho'am atau makam berjama'ah. Semua "orang baru" itu begitu semangat terlebih setelah mendengarkan bayan nasehat tadi. Di penghujung pertemuan kali ini beberapa orang berniat "keluar khuruj" tiga hari minggu berikutnya. Alhamdulillah!


*


Pukul 03.30.


Ia terbangun saat sebuah suara lembut membangunkannya. Kantuk yang begitu menyiksa membuatnya kesulitan membuka mata yang masih betah mengatup rapat. Berkali-kali Ia menggeliat sekedar mengulur waktu agar rasa kantuknya benar-benar sirna.


Suara gemericik air di tempat wudhu yang terdengar mulai ramai membuatnya terbangun seketika. Ia mendapati wajah Bang Thoriq yang sudah basah oleh air wudhu di hadapannya, sedang tersenyum padanya.


"Tahajjud!" Masih dengan senyumnya yang menenangkan bathin, Bang Thoriq berseru. Gegas tanpa pikir panjang, Ia pun mengangguk semangat dan beranjak ke toilet. Seperti biasa ritual wajib selepas bangun tidur pun Ia lakukan. Tak ingin di buru waktu shubuh, Ia pun segara berwudhu dan sejurus kemudian Ia telah kembali ke dalam masjid. Mencari tempat sunyi yang belum terisi.


"Allaaahu Akbar!!" Tubuhnya kembali bergetar hebat saat tangannya terangkat sejajar telinga. Entahlah! padahal Ia sudah berusaha setenang mungkin. Mencoba focus tapi tetap saja Ia tak mampu menahan suatu gejolak "aneh" yang mendadak membuncah di dadanya.


Saat lisannya memulai melafaz bacaan Al-Fatihah, gemuruh di dadanya kian memburu. Perasaan bersalah dan sesal yang bertubi sekejap menyergap hatinya. Manik yang selama ini setajam elang, tiba-tiba meredup oleh kubangan air mata yang sedari tadi mengaca kini memaksa jebol, tumpah ruah.


Ia sungguh sedang di "hajar" habis-habisan oleh penyesalan. Sesal sebab telah banyak membiarkan masa berlalu tanpa amal di dalamnya. Menyesali keterlambatannya menyambut sinyal hidayah yang Allah SWT kirimkan lewat nasehat-nasehat Gery selama ini untuknya. Menyayangkan pesan rindu dari Sang Maha Cinta, yang gagal Ia fahami, berupa rentetan masalah beserta gundah gelisah yang menggerogoti jiwanya selama ini. Allah ingin Ia ta'aluq pada-Nya. Allah ingin agar Ia kembali tunduk pada keagungan-Nya.


Ia terlalu na,if dan angkuh untuk mengakui kelemahan itu kemarin. Rasa aman dan sentosa akibat gelimang harta yang dirasakannya selama ini telah sukses menghidupkan arogansi dalam dirinya, hingga membuat Ia merasa kuat dan tak butuh siapapun.


Padahal selain raga yang senantiasa Ia penuhi setiap tuntutannya selama ini, ternyata ada jiwa yang hampa, merana menanti asupan nasehat dan hikmah sebagai makanannya.


Ia baru mulai menginsyafi, bahwa ternyata jiwa dan raga, jasmani dan rohani, adalah dua ciptaan yang berbeda meski berada di satu tubuh yang sama. Keduanya berbeda dalam banyak hal meski memiliki tujuan penciptaan yang sama, yaitu tunduk dan patuh pada kehendak dan perintah Allah Azza wa Jalla.


Hingga Ia tersungkur sujud yang begitu dalam. Hatinya benar-benar hancur. Ia menangis sejadi-jadinya. Bayangan pelanggaran demi pelanggaran yang kerap dilakukannya kini seakan terpanpang jelas di hadapannya. Ia takut jangan sampai do'a, harapan akan ampunan Allah tak diijabah oleh-Nya.


_____


*Fathin


Senja mulai membungkus seantero kota. Lampu-lampu jalan mulai memberi cahaya remang yang beradu terang mentari kemerahan yang sebentar lagi tenggelam di peraduan ufuknya. Hawa panas bumi berangsur mulai sejuk, sebab angin yang berembus membawa sedikit demi sedikit angin malam.


Senja selalu memberi warna tersendiri bagi setiap makhluk penghuni semesta. Ia adalah tabir terbuka yang selalu memberi salam perpisahan penuh cinta bagi terangnya siang, lalu dengan suka cita menyapa selamat datang pada gelapnya malam.


Ia masih diam diatas pembaringan bersama senyum malu-malu yang tak pernah lepas dari wajah cantiknya. Mitha yang sedang bersiap hendak ke masjid sampai terbengong syahdu menyaksikannya berkali-kali berguling diri memeluk bantal guling.


"Lo lagi kesamber setan apa, sih? dari tadi senyam-senyum mlulu?" Mitha tak bisa tidak untuk tak bertanya, seperti biasa.


"Mau tau aja atau mau tau banget?" Tanyanya masih dengan senyum dikulum.


"Banget, dong!"


"Gue... gue... abis di cium sama Ka' Yusuf! Ih, jangan kaget gitu, dong! di kening doang nggak lebih, kok!" Ucapnya seraya menangkup kedua pipinya yang terasa kebas sebab blushing parah mendadak. Mitha sampai mangap tak sadar.


"Fhat, lo nggak takut hamil? kok lo mau sih dicium sama Abang itu?" Mitha bertanya histeris. Membuatnya sedikit horor dan ciut seketika.


"Lo jangan nakutin gue, Ka' Yusuf bilang ciuman itu nggak bikin hamil, kok!"


"Yang benner? berarti selama ini Azhar sama Akram bo'ongin kita! kalau gitu, apa dong yang bikin cewek hamil?" Ia hanya menggeleng polos tak tahu-menahu.


"Betewe, gimana rasanya, Fhat? enak nggak?" Lagi-lagi Mitha bertanya kepo.


"Hmm, pokonya rasanya kayak ada manis-manisnya gitu! trus perut gue kayak digelitik banyak kupu-kupu, Mhit. Geli banget deh pokoknya. Gue sampe nggak pengen berenti. Gue malah pengen ciuman pake bibir gitu. Tapi, mendadak gue ingat wajah Bapak sama Ibu. Akhirnya gue narik diri dan lari keluar dari mobilnya cepet!" Terangnya malu. Di lihatnya sahabatnya itu ikut senyam-senyum menatapnya.


"Jadi pengen nyoba rasanya. hihihihi!" Mitha terkikik sendiri merasa lucu dengan harapan konyolnya. Ia ikutan terkekeh kecil.


"Udah ah, ke masjid sono! tuh Bang Arsyil udah nungguin di gerbang masjid!" Ia melempar Mitha dengan boneka beruang besar. Mitha pun beranjak cepat berkelit dari lemparannya seraya terbahak.


"Bye.. mau jumpa fans gue dulu. Si Abang sholeh pujaan hati!" Mitha masih sempat mencandainya sebelum menutup pintu dan pergi. Ia menyahut cepat yang ditannggapi Mitha dengan cekikikan andalannya.


"Nggak kebalik tuh? lo kali yang nge-fans berat sama baliau!"


"Hihihihihi!"


Tinggallah Ia dengan rasa hati yang melambung. Ia mulai dihinggapi rindu yang teramat sangat. Ia ingin menghubungi Pria pujaannya itu, namun rasa malu yang belum kelat-kelar membuatnya menahan diri sekuat-kuatnya. Hanya hatinya yang terdengar berbisik lembut,


"I miss you!"


***


TBC>>>

__ADS_1


__ADS_2