MUJAHADAH CINTAKU

MUJAHADAH CINTAKU
#Episode 41. "Uhibbuki Fillah!!"


__ADS_3

*Yusuf


Ia dan Vero melangkah gagah keluar dari area lobby sebuah pusat perbelanjaan dengan beberapa paperbag di tangan. Ia baru saja menemani Sang adik belanja perlengkapan khurujnya. Ia juga membeli beberapa setel pakaian sunnah, siwak, tasbih juga parfum untuk Ia bagikan nanti di tempat khuruj sebagai hadiah. Kebiasaan berbagi kepada sebagian besar anggota gengnya selama ini sepertinya telah mendarah daging dalam dirinya.


Ia tak pernah melewatkan moment berbagi jika ada. Mungkin hal ini yang menjadi salah satu sebab keberkahan harta keluarga besarnya selama ini. Banyak jiwa-jiwa yang terbantu oleh sebab kebaikan-kebaikan keluarga mereka. Terutama Papa yang tak pernah abai dengan masalah zakat harta yang mesti dikeluarkan sebagai pembersih harta mereka dari bagian yang seharusnya menjadi milik mereka yang berhak.


Keduanya berjalan menuju mobil masing-masing. Sengaja Ia menitahkan Vero membawa mobil sendiri sebab Ia masih ada beberapa urusan yang butuh penyelesaian segera. Ia masih harus menemui beberapa tasykilan yang gagal Ia temui sebelumnya.


"Lo balik aja duluan. Gue masih ada urusan dikit!"


"Mau izin dulu ma kakak ipar?" Vero tersenyum simpul ingin menggodanya.


Ia hanya tersenyum miring tak menyahuti. Kali ini Vero tergelak merasa telak dengan tuduhannya barusan.


Ia mengenakan kacamatanya, membuka pintu mobil dan masuk tanpa mempedulikan tawaan Vero. Sejurus kemudian mobil miliknya telah keluar dari sana, meluncur mulus dan menyatu dengan keramaian siang hari jalanan ibukota. Vero pun melakukan hal yang sama, mengambil arah berlawanan dengannya menuju ke suatu tempat, entah di mana. Yang jelas arah itu bukan jalan menuju rumah mereka, tapi menuju kota lama.


Ia sempat bertanya-tanya kemana adiknya itu akan pergi. Tapi kemudian ingatannya akan wajah Fathin yang akan ditemuinya mendadak mengalihkan perhatiannya. Ia menambah laju kendaraannya setelah melewati lampu merah. Di depan sana sudah terlihat gang yang akan Ia tuju. Hatinya tetiba berdesir hebat. Membayangkan apa yang Ia katakan sebagai jawaban jika Fathin bertanya dari mana saja Ia menghilang selama ini.


Ia menyugar rambutnya kasar. Otak jahiliahnya mulai berselancar mencari alasan-alasan klise yang bisa diterima oleh gadis tersebut meski harus dibumbui dengan sedikit ketidakjujuran.


Yah, lagi-lagi kaidah hukum berbunyi,


"Tidak apa berbohong asal niatnya untuk menghindari pertengkaran atau mendamaikan perselisihan"


Sepertinya akan berguna baginya kali ini. Ia tidak ingin memperkeruh suasana dengan nekat jujur. Tapi, bagaimana jika suatu saat Fathin tahu semuanya, bukankah itu akan lebih mengacaukan segalanya.


Tanpa terasa mobilnya telah memasuki pelataran kostan Fathin. Ia masih bergeming seraya merenung. Hingga di ujung kecamuk dilema di hatinya yang kian besar, Ia pun akhirnya memutuskan untuk jujur mengatakan alasan Ia menghilang selama ini. Ia akan memberi pengertian pada gadisnya tersebut agar Ia mau sama-sama berjuang, bermujahadah mencari kebaikan dan ridha Ilahi dari hubungan mereka berdua. Bagaimanapun ujung dari semua ini adalah kebersamaan mereka yang sesungguhnya. Ia harus mengajak Fathin bersama memahami hakikat hubungan ini.


Ia membuka kacamata yang sedari tadi bertengger di atas hidung mancungnya. Mengitarkan pandangannya ke luar. Suasana di sana nampak sepi. Ia tahu Fathin ada di dalam sana. Sebab hari ini Ia baru akan ke kampus sore nanti. Ia pun turun dan berjalan gagah masuk ke pintu utama.


Tok.. tok.. tok..


"Assalaamu'alaikum..!" ucapnya ragu setelah mengetuk pintu kamar Fathin.


Ia menunggu dengan debar di jantung yang seirama dengan langkah di dalam yang terdengar mendekati pintu.


"Wa'alaikum salaam..!"


Ceklek..


Deghhh..


Ia tak bisa untuk tidak menatap intens wajah bermanik sendu yang telah begitu Ia rindukan. Netra bening itu terlihat berkaca-kaca ikut menatapnya dalam. Ia tercekat tak mampu berucap. Andai Ia tidak ingat akan ultimatum Bang thoriq dan Gery, mungkin saat ini Ia sudah memeluk gadisnya tersebut demi melepas rindu yang begitu menyiksanya beberapa minggu belakangan.


Wajah itu begitu membiusnya sampai Ia tak sadar jika sedari tadi keduanya hanya berdiri terpaku saling menatap, mengunci beberapa saat seakan ingin mencoba menyelami sedalam apa rasa yang coba mereka tahan selama ini.


Manik sendu yang tadi berkaca-kaca, kini benar-benar menangis. Terisak di sana dengan wajah menyedihkan, membuatnya ikut berkaca-kaca. Ia sampai kehilangan kata-kata bahkan untuk sekedar menyapa, "Hai!".


Hingga di dentang ke sekian Ia sadar akan keterpakuannya. Tangannya hampir saja terulur hendak menghapus air mata Fathin. Beruntung salah satu penghuni kost tiba-tiba keluar dari kamar dan melewati keduanya sehingga Ia urung berbuat di luar kehendaknya.


"Astaghfirullahal 'Adziim..!" batinnya menyesali kelemahan tekadnya yang ingin menghindari kontak fisik dengan sang gadis. Buru-buru Ia menundukkan pandangan. Mencoba menghindari tatapan Fathin yang Ia rasa akan menghancurkan iman lemahnya sebentar lagi jika Ia sedikit saja terlambat mengelak.


"A_aku tunggu di depan. Arsyil udah ngasi warning kalau aku nggak boleh lagi masuk ke dalem." Ia akhirnya bersuara pelan dan tanpa menunggu jawaban Fathin, Ia pun berbalik dan berjalan ke arah ruang tamu di depan sana. Detak jantungnya benar-benar menyiksanya kali ini.


Berkali-kali meyakinkan hati jika ini yang terakhir kalinya. Ia akan benar-benar menghindari pertemuan seperti ini. Imannya tidak cukup kuat ternyata. Lagi-lagi ocehan Gery kembali berputar di kepalanya. Ia memang lemah untuk perkara yang satu ini.


*

__ADS_1


Ia masih menunduk mengotak-atik ponsel miliknya saat suara deheman Fathin mengalihkan focusnya. Ia mengangkat wajahnya sekilas lalu kembali menunduk cepat.


"Gimana kabar?" Ia tak tahu harus berucap apa selain pertanyaan basic seperti itu. Fathin yang ikutan menunduk pun menyahut pelan,


"B_baik! K_kakak sendiri gimana?"


"Alhamdulillah. Aku baik. Kuliah kamu gimana?" mendadak Ia berubah suka berbasa-basi. Dalam hati Ia mengumpat kegugupannya yang tak biasa.


"Lancar! ehm, Kakak kenapa? ada apa sebenernya?" Ia menelan saliva kasar. Pertanyaan itu akhirnya muncul juga. Ia gelagapan, berusaha mencari start yang pas untuk memulai penjelasannya.


"Sorry! I'm so sorry!" lagi-lagi hanya kata maaf yang mampu terucap.


"Aku akan maafin kalau Kakak jujur. Kemana aja selama ini? Aku sampe mikir yang enggak_nggak kalau Kakak tuh slingkuh. Ponsel Kakak nggak aktif, dicari-cari ke mana-mana juga nggak ada. Kakak udah bosen, yah ma aku?"


Fathin mulai emosional. Meluahkan segalanya tanpa ragu. Sepertinya gadis itu sudah mempersiapkan dengan matang konser ini. Ia yang sedari tadi menunduk berusaha menghindari kontak mata dengan sang gadis pun akhirnya mendesah berat, lalu berucap pelan,


"Aku emang sengaja ngehindar, Fhat. Tapi kamu jangan salah faham dulu. Aku ngelakuin ini karna pengen jagain kamu. Aku takut nggak bisa nahan diri. Kamu udah cukup dewasa untuk bisa ngerti apa yang aku maksud."


Ia menjeda sejenak dan sedikit melirik ekspresi Fathin saat ini. Wajah itu terlihat bingung meski masih tenang tak berniat menyela. Ia pun melanjutkan,


"Selama ini aku udah agak jauh memperlakukan kamu. Kamu pasti udah denger dari orang-orang gimana rusaknya aku sebelum ini. Aku ini pendosa, Fhat! kita bisa sampai sejauh ini pun karna aku yang udah maksain kehendak sama kamu."


"Aku lagi belajar memperbaiki diri. Aku pengen mantasin diri dulu buat kamu sebelum kita bener-bener bersama. Aku baru tau kalau ternyata hubungan seperti yang kita jalanin skarang adalah salah. Kita bukan muhrim, Fhat! Allah nggak suka sama hubungan yang nggak halal seperti ini. Aku takut Allah marah trus misahin kita dan nggak ngejodohin kita nantinya."


Ia masih tertunduk dalam berusaha menahan gejolak entah apa di dalam sana. Perasaannya campur aduk tak terdefinisi. Manik elangnya bahkan memerah. Fathin masih diam di tempatnya, mencoba menelaah dan berusaha memahami maksud setiap ucapannya.


"Perjalanan mencari jodoh dan menuju pernikahan yang diridhai Allah adalah perjuangan dan mujahadah panjang yang menuntut kesabaran. Jika kamu masih nganggap ini serius dan percaya sama aku, aku harap kamu bisa ngerti. Kamu mau, kan sabar nungguin aku belajar dulu?"


Fathin mulai mengangkat wajahnya. Menatap sekilas ke arahnya dan kembali menunduk.


"A_aku, aku_ belum sepenuhnya ngerti maksud Kakak, ta_tapi aku mau Kakak tau kalau aku_, aku_, udah terlanjur sayang dan cinta sama Kakak!" Fathin menyahut gugup. Terlihat gadis tersebut memilin jari-jemarinya. Hatinya lega mendengar pengakuan fathin.


Fathin mengangguk pelan seraya tersenyum malu. Sudut bibirnya mulai tertarik. Hatinya seketika menghangat, bahagia. Ia mulai tenang tak segugup tadi. Lagi-lagi Ia tak bisa menahan diri. Ia mengangkat wajahnya dan menatap dalam, wajah bersemburat merah di hadapannya itu. Hatinya kembali berdesir hebat. Wajah putih sedikit memerah itu benar-benar menawan.


Fathin yang merasa sedang ditatap pun akhirnya ikut mengangkat wajah dan balik menatap. Sedetik kemudian mengulum senyum. Ia membalas dengan senyum yang sama. Sama-sama malu-malu, grogi dan endingnya salah tingkah.


"Ehm, aku ke sini juga skalian mau laporan kalau hari ini aku mau keluar khuruj lagi tiga hari. Kali ini bareng Vero sama anak-anak kampus."


Keduanya terkekeh pelan dengan kata "laporan" itu. Fathin hanya mengangguk mengiyakan. Ok! semuanya sudah clear. Waktunya pamit pulang. Lagi-lagi alasan kenyaman dan untuk kebaikan bersama. Ia tak ingin otak jahiliahnya khilaf lagi.


"Aku masih ada urusan dikit yang blum kelar. Aku jalan sekarang, yah?" Ia akhirnya berucap ragu.


Meski berat hati tapi Fathin tetap mengangguk pasrah. Keduanya pun berdiri dan berjalan keluar. Saat tiba di teras kostan Ia kembali berdiri menghadap gadisnya. Ia kembali khilaf untuk kesekian kalinya, menatap sendu wajah ayu di hadapannya yang kini kembali berkaca-kaca.


"Aku balik dulu! Jaga diri baik-baik. Jaga kesehatan!" suaranya serak menahan sesak. Fathin malah sudah benar-benar berlinang air mata.


Gadis itu hanya mengangguk tak bersuara. Ia menyeringai menahan sesuatu di dalam sana.


"Jangan nangis, dong, sayang! yang sabar, yah! Insyaallah ini nggak akan lama. Aku_ aku, sebenernya ini blum boleh. Tapi aku nggak bisa nahan diri untuk tidak ngomong ini,,, I love you, Fathin! demi Allah aku mencintaimu!" kali ini manik elangnya benar-benar memerah menahan tangis.


"I love you too. Aku juga mencintaimu! aku akan selalu menunggumu, Kak. Sampai kapanpun. I'm promise!" Fathin berucap lirih masih dengan netra yang tak henti berair.


"Makasih, sayang! aku jalan, yah! Assalaamu'alaikum..!"


"Wa'alaikumsalaam.. Hati-hati di jalan!"


Ia mengangguk seraya tersenyum hangat dan berjalan menuju mobilnya. Ia masih sempat melambaikan tangan ke arah Fathin yang masih setia berdiri di sana menatap sedih. Ia masuk dan sejurus kemudian pergi dari sana setelah memberi kode dengan bunyi klakson sekali. Ia tak henti menatap gadisnya dari balik kaca spion. Rasa rindu kembali bertubi menyerangnya. Kali ini tidak ada lagi yang menghalanginya untuk menitikkan air mata. Bukankah tidak ada larangan laki-laki menangis? mereka juga punya hati. Sekuat apapun mereka, akan ada masa di mana tangis adalah satu-satunya penawar duka.

__ADS_1


**


*Fathin


Ia masih berdiri menatap kosong di teras kostan itu. Entahlah, mendadak hatinya terasa hampa. Seperti ada sesuatu yang hilang. Sepotong hatinya serasa ikut terbawa pergi bersama hilangnya bayangan mobil Yusuf dari pandangannya. Manik sendunya yang sedari tadi basah kini Ia pejamkan. Mencoba meresapi kecamuk batinnya yang tak henti bergejolak. Perasaannya sungguh tak mampu Ia definisikan. Campur aduk antara sedih, tak rela, rindu, kecewa, ingin marah juga ada senoktah bahagia berbalut harap.


Sesak di dadanya masih saja terasa menghimpit. Ia baru saja melambung tinggi oleh buncah bahagia sebab kembali bertemu sang pujaan hati, tapi kemudian kembali terbenam, tenggelam dalam palung rindu yang kian menyiksa. Ia bukan tidak mengerti dan sadar akan kenyataan yang coba Yusuf fahamkan padanya. Ia cukup faham. Tapi lagi-lagi ego dan rasa yang belum sepenuhnya terobati membuatnya seakan sulit menerima itu.


Hatinya kian sakit membayangkan setelah ini Ia akan kembali di dera rindu seperti hari-hari kemarin. Yusuf sungguh akan menghilang lagi. Melihat sikap pria tersebut yang berubah drastis tadi, membuatnya kian menyadari bahwa sosok Yusuf bukanlah Yusuf yang dulu. Ia berubah. Bahkan pandangan mata sang kekasih selalu tertunduk berusaha menghindari adu tatap dengannya.


Ia kembali menarik nafas dalam mencoba melegakan sesak di dada lalu mengembuskannya kasar. Seperti mantra ajaib Mitha yang selalu jadi andalan jika mereka sedang di dera masalah pelik, "Inhale exhale! Tarik nafas..hembuskan!"


Ia kembali ke kamar. Menjatuhkan diri di pembaringan dan tentu saja kembali meluahkan kesedihan dengan tangis berkepanjangan. Ia rindu. Benar-benar rindu. Sekali lagi hatinya membenarkan bahwa cinta itu ambigu. Membahagiakan namun juga menyakitkan.


Ting..


Ia sedikit terlonjak saat bunyi notif pesan masuk terdengar dari ponselnya. Buru-buru Ia meraih benda lipat tersebut yang berada tak jauh darinya dan membukanya cepat.


Degh..


Ia berdebar-debar indah membaca nama si pengirim, yang ternyata dari orang yang sangat diharapkannya, Yusuf. Dengan tangan sedikit gemetar Ia pun membuka pesan tersebut dan membacanya dengan sepenuh hati, pelan, dan begitu hati-hati.


From: My Dear


Uhibbuki Fillah..


Tuhan telah merangkai kisah yang begitu indah..


Tuhan menciptakan rasa dalam kisah. Rasa itu adalah anugrah dari sang pencipta. Kau memiliki rasa aku pun sama. Rasamu juga rasaku…


Berbagai cara dalam mengungkapkan rasa. Menghilang namun bukan lenyap. Bukan memotong atau mematahkan. Tidak peduli, bukan berarti tidak ingin memiliki


Bukan goresan luka yang ingin aku lakukan tapi ukiran cinta dari Sang Maha Pencipta yang berusaha aku perjuangkan.


Aku gaguk dalam berkata namun aku berusaha terus dalam doa. Dalam setiap doa ku sebut namamu. Agar Tuhan tau bahwa aku ingin membawamu mengenal lebih dekat Tuhan Sang Maha Cinta.


Aku bodoh dalam rasa, tapi aku ingin ikhtiar dalam cinta karena cinta terkadang menghancurkan logika.


Aku tidak pergi. Aku juga tidak akan berlari. Aku disini menunggumu. Dan aku hanya berusaha menjagamu. Menjaga cinta kita.


Aku memang pendosa. Entah berapa banyak dosa yang telah aku lakukan. Tetapi, Aku ingin menjagamu dari dosa karena aku tidak ingin engkau terbakar api neraka.


Jika caraku membuat masamu rumit, itulah kekuranganku. Hanya maaf yang dapat kurangkai dalam tulisan ini dan memohon ampunan dari Sang Pencipta. Harapku ingin menemukan rasa dan asa dengan jalan yangg di ridhoi oleh-Nya.


Temui aku dalam doa. Semoga kita dipertemukan pada asa yang sama disatukan pada saat yang tepat hingga milikmu akan menjadi milikku dan aku seutuhnya milikmu.


Tidak akan pernah tertukar sesuatu yang akan kau peroleh dari-Nya. Berdoa dan memintalah karena DIA sang penjawab setiap doa dan pinta


Dan percayalah kita akan di pertemukan dan disatukan dengan cara yang tidak terduga karena Rencana Tuhan akan indah pada waktunya.


I love you more, my future wife!


*


Ia kembali berderai air mata. Memeluk ponselnya seraya membayangkan sedang memeluk sang pemilik kata-kata indah menyentuh itu. Hati yang sebelumnya lemah dan rapuh kini kembali kuat. Ia menghangat. Ia percaya Yusuf adalah laki-laki terbaik yang Allah persiapkan untuk menjadi imamnya kelak. Dalam hati kembali merajut asa dan janji, Ia akan menjaga hatinya untuk sang kekasih.


"Uhibbuka fillah, pria sholehku! I love you more!" Ucapnya lirih kian erat mendekap ponsel miliknya.

__ADS_1


TBC>>>


__ADS_2