
* Fathin
Ia akhirnya bisa bernafas lega setelah beberapa kali menoleh ke arah barisan prodi bahasa Indonesia. Maniknya kini berhasil menemukan sosok Mitha. Ia benar-benar tidak bisa membayangkan, jika sahabatnya itu terjebak dalam permainan iseng para senior lepas di gerbang tiga tadi. Ah, mengingat kejadian tadi, tanpa sengaja memorinya kembali menghadirkan rentetan adegan memalukan sebelumnya. Terutama pada part pelukan erat yang begitu intim nan menggelisahkan itu.
"Astaga....! Bodoh, bodoh! Kenapa, sih aku nggak bisa punya nyali menghadapi orang-orang seperti itu?" Ia memukul kecil kepalanya sendiri atas kebodohannya. Perasaan malu yang bertubi dan ketidakberdayaan benar-benar mendominasinya kini.
"Kenapa aku terlalu takut kalau naek motor yang sdikit laju? Aaaa, Aku malu, sumpah!" Pekiknya dalam hati merutuki kelemahannya.
"Ya Tuhan, tolong jangan pertemukan aku lagi dengan orang itu. Aku sungguh tidak akan sanggup menampakkan wajahku di hadapannya!" Harapnya menetralkan kecamuk batinnya yang sedari tadi memecah konsentrasinya. Bahkan saat Fahry menjadi pembicara tadi, semua kecamuk itu praktis membuat otaknya blank dengan isi materi tersebut.
Waktu Isoma tiba. Ia berjalan ke arah Mitha yang sedang berbicara dengan seorang maba, rekan se prodinya, tiba-tiba Ia mendegar namanya di panggil oleh seorang senior cewek, lewat pengeras suara.
"Fathin Althaf annisa, jurusan bahasa inggris!"
"Tolong ke depan sebentar!" Sebuah suara milik panitia cewek memanggil namanya, membuatnya ciut dalam sekajab. Tapi, Ia memberanikan diri berjalan cepat ke arah suara yang dimaksud.
"Ikut saya!" Tanpa ba bi bu Ia pun patuh mengikuti langkah lincah panitia cewek itu menuju sebuah bangunan bertingkat yang tertulis Lab. MIPA. Batinnya berkecamuk menerka-nerka kesalahan apa yang telah dilakukannya sehingga Ia mendapat panggilan khusus kali ini.
Saat tiba di pintu masuk, seketika hatinya mencelos saat matanya menangkap sosok yang sontak membuatnya terpaku di sana. Sosok yang Ia berharap dengan sangat untuk tidak bertemu lagi dengannya. ya, si Pemaksa itu sedang berdiri di sana bersama beberapa rekannya sedang tertawa lepas.
Ia hampir saja membalikkan badannya hendak kembali ketika tiba-tiba panitia cewek itu berseru,
"Bang Yusuf, nih, pesanannya udah dateng!" Seketika keringat dinginnya bercucuran. Membayangkan hal memalukan apalagi yang akan Ia lakukan sebentar lagi.
Si pemaksa itu seketika berbalik dan berjalan ke arah nya. Degup jantungnya yang ketakutan seakan seirama dengan langkah kaki di depannya yang kian mendekat.
"Thanks, Vit!" Ucap si Pemaksa itu dengan ekspresi andalannya.
"Don't mention it!"
"Kakak tinggal, yah! tenang! Abang yang satu ini baik, kok ama cewek cantik!" Ia kian gelagapan saat senior cewek bernama Vita itu berucap sambil tersenyum kearahnya dan berbalik pergi meninggalkannya, yang kini termangu penuh dilema, menunduk bergeming.
"Udah makan?" Ia sedikit terlonjak mendengar suara berat itu bertanya ke arahnya. Tapi sesegera mungkin Ia berusaha mengumpulkan keberaniannya, lalu berucap pelan,
"Belum, dan Saya juga blum shalat, Kak!"
Ia sengaja menambahkan kata belum shalat berharap diizinkan pergi. Tapi harapan tinggallah harapan. Si pemaksa itu malah meraih tangannya dan membawanya ke dalam ruangan tersebut. Dan, untuk kesekian kalinya bulu kuduknya meremang ngeri tanpa mampu membantah. Sejenak Ia melirik para senior tadi sedang duduk berdiskusi di beberapa kursi dan meja di sudut lain ruangan tersebut.
"Duduk!"
"Kata Pak Ustad, kalau lagi laper, makan dulu baru shalat. Nih, Kamu makan dulu! Tadi pagi kamu cuma makan sepotong roti!" Matanya seketika beralih ke arah paperbag yang di sodorkan padanya. Ia nampak ragu dan memilih memberanikan diri menatap wajah datar di depannya yang sedang menatapnya juga. Cepat-cepat Ia kembali menundukkan pandangannya, mencoba mencari alasan yang tepat agar Ia bisa beranjak dari sana.
"M_maaf, Kak, tapi saya nggak bisa makan sendiri kalau sahabat saya Mitha blum makan!" Ia akhirnya menemukan alasan yang tepat sekaligus jujur.
"Tapi Aku mau lihat kamu makan di sini dan Aku nggak suka penolakan. Ayo, cepet makan sekarang! abis itu kamu boleh pergi!" Lagi-lagi perintah mengintimidasi itu membuatnya tidak bisa berkutik. Dengan terpaksa Ia pun duduk dan mengeluarkan isi paperbag tersebut dan menyiapkan untuknya dan Si pemaksa itu.
"Ini, Kak, makanannya!" Ucapnya gugup bersamaan dengan gerakan tangan lentiknya membuka penutup stereofoam yang menjadi wadah makanan itu.
"Sebenarnya Aku nggak laper, tapi kalau kamu butuh teman makan, ya udah, Aku temani!"
"Astaga, siapa juga yang butuh teman makan? ini kan makanannya dua porsi. Emang untuk siapa lagi kalau bukan untuknya? Ihh, pengen di kutuk jadi batu tawas kali yah nih orang!" Sungutnya membatin sambil tangannya mulai menyuapkan makanan ke mulutnya.
Ia makan secepat kilat bak orang kelaparan. Padahal, sebenarnya Ia hanya ingin cepat beranjak dari tempat itu. Agar Ia bisa terhindar dari tatapan tajam menghujam dari wajah tampan ber rambut gondrong di depannya kini.
"Kalau kamu masih laper, Aku akan suruh anak-anak belikan makanannya lagi!" Suara datar itu kembali mengejutkannya.
"Ng_nggak. Jangan.. jangan.. Saya udah kenyang, kok, bener!" Pekiknya Tanpa sadar disertai nyengir lucu.
"Ehemm, t_tadi itu saya makannya buru-buru soalnya Saya blum shalat, Kak. Takut ntar keburu Isoma nya selesai. Saya.. boleh Shalat sekarang kan?please..!!" Ia menangkupkan kedua tangannya di depan dada, memohon agar diizinkan pergi. Tapi, lagi-lagi wajah di depannya itu hanya melampirkan senyum misterius, sembari menyandarkan punggung dengan santai di kursi yang sedang didudukinya.
"Aku paling suka liat ekspresi pengharapan. Baiklah, karna kamu mau shalat, kali ini Kamu selamat!" Sahut Si tampan kemudian dengan berlagak memegang ujung hidungnya.
__ADS_1
"Makasih, Kak. Saya.. Saya ke mushola dulu. Permisi!" Tapi belum lagi Ia berdiri, suara berat di depannya kembali menyahut dengan mimik tegas masih dengan tatapan sedikit tajam menghujam.
"Tunggu dulu, Gadis. Ini tidak gratis. Ntar malem kamu harus temani Aku makan malam. Dan ini wajib hukumnya. Aku nggak pernah terima penolakan!"
Ia terkesiap. Seketika wajahnya terangkat menatap tak percaya pada apa yang tengah didengarnya. Wajah di depannya itu benar-benar tidak memberinya celah sedikitpun untuk sekedar menyela, apalagi menolak. Dan, bak disihir Ia pun seketika tak memiliki daya dan upaya untuk mengatakan tidak bisa atau minimal menggeleng.
"Udah sana buruan shalatnya. Soalnya Aku nggak bisa nyelamatin lagi kalau kamu dihukum ntar!" Tanpa ingin mengulur waktu Ia pun kembali berucap "permisi" lalu dengan tergesa Ia berdiri dan berlari keluar tanpa menoleh lagi.
Secepat kilat Ia menuju toilet yang berada di belakang mushala dan berwudhu. Setelah itu Ia berjalan ke arah mushola yang masih dipenuhi maba maupun Senior yang hendak menunaikan shalat sepertinya. Dalam sekejap Ia sudah berdiri menyatu dengan deretan shaf di belakang sebagai makmum masbuk. Ia sudah terlambat dua rakaat.
__ __ __
*Mitha
Usai shalat dzuhur di mushola kampus, Ia kembali mencari Fathin setelah sebelumnya mendengar panggilan khusus untuk sahabatnya itu. Ia mulai menerka-nerka kesalahan apa yang telah dilakukan Fathin sampai Ia harus di panggil lewat pengeras suara.
"Fathin kenapa, yah tadi? Apa ada hubungan sama bang Fahry?"
"Btw, tadi kok bang Fahry kayak nggak focus gitu yah bawa materinya?" Ia masih bermonolog tak terarah tetiba ekor matanya menangkap bayangan Fathin keluar dari mushola. Membuatnya menghembuskan nafas lega. Ia pun langsung berjalan menghampiri sahabatnya itu.
"Fhat, Astaga Aku tuh nyariin kamu dari tadi. Aku khawatir banget sama kamu soalnya tadi Aku dengar kamu di panggil lewat pengeras suara gitu? Ada apa Fhat?" Cecarnya saat mereka saling melepas pelukan masing-masing.
"Huuufff, It's A horrible day!" Jawab Fathin sembari menghembuskan nafasnya kasar.
Ia mengernyit sebagai ekspresi tanda tak mengerti. berharap penjelasan lebih. Tapi, depresi yang sedang menimpa sahabatnya itu, tampaknya belum memberi ruang bagi Fathin untuk berbagi cerita dengannya. Ia pun membiarkan sahabatnya itu menenangkan hati meski rasa Kepo begitu bertubi-tubi menderanya.
Saat jam pulang, Ia kembali mencari-cari keberadaan Fathin. Ia berjalan ke arah kerumunan maba prodi bahasa inggris. Tapi Ia sudah menelisik ke setiap sudut gerombolan tersebut tapi, sosok yang sedang dicarinya belum ada tanda-tanda berada di sana.
"Fathin mana sih? hilang mulu seharian ini!" Ia berjalan kesana kemari sambil mengitarkan kembali pandangannya ke segala arah. bibirnya tak henti berkomat kamit bermonolog mencari keberadaan sahabatnya.
Setelah hampir stengah jam Ia berkeliling menyusuri tiap koridor gedung-gedung di sana akhirnya Ia memutuskan untuk pulang ke kost berharap Fathin sudah tiba lebih dulu mendahuluinya.
Saat hendak keluar gerbang FKIP Ia melihat dou sahabatnya Akram dan Azhar di sana. Ia pun berlari ke arah keduanya. Ia mengernyit mendapati keduanya tanpa Fathin di sana.
"Ck, kok nanyanya ama kita sih, kan Kamu yang seharusnya tau keberadaan Fathin di mana!" Azhar mengernyit ke arahnya.
"Ini makanya Aku nanya kalian berdua. Aku tuh udah stengah jam keliling nyari Fathin di dalam, dan, hasilnya nihil!" Terangnya mulai khawatir.
"Kalian berdua nggak lagi bikin surprise kan ini?" Akram masih mencoba berspekulasi.
"Astaga Akram, ngapain coba Aku buang-buang waktu bikin ginian. Aku tuh udah cape seharian ngikutin ospek yang nguras tenaga sama otak. Aku khawatir banget. Kalian tau sendiri kan Fathin orangnya paling nggak bisa nolak permintaan orang lain. Aku takut Fathin dikerjain nggak beneer ama panitia cowok Zar, Ram..!" Ia sedikit tak terkontrol saat mengucapkan ini kepada kedua sahabatnya. Membuat raut keduanya seketika berubah ikut khawatir.
"Kamu yakin udah periksa semua ruangan di dalam Mhit?" Azhar yang seketika berubah panik berusaha meyakinkan hatinya.
"Udah, Zar! Nggak ada. Aku juga udah coba hubungi ponselnya tapi nggak aktif!"
"Kita pulang sekarang! Siapa tau Fathin udah ada yang anter pulang ke kost!" Akram mencoba memberi alternatif untuk menenangkannya.
"Ya udah, ayo!" sahutnya.
Ketiganya pun pulang ke kamar kost dengan perasaan yang berkecamuk.
__ __ __ __
* Yusuf
Ia tak berhenti mengutuk semua hal-hal ekstrim yang Ia lakukan sepanjang hari ini. Pelukan erat Si gadis bermanik sendu dan posisi intim yang hampir membuatnya lupa diri, pagi tadi, benar-benar menyisakan sensasi tersendiri di lubuk sana. Merubah kemampuan berfikirnya menjadi stag. Logikanya pasrah dalam sekejab bak tersihir.
Ia bahkan seperti tak mengenal dirinya sendiri. Ia tak pernah merasa sebodoh ini sebelumnya. Tinggal seharian di kampus untuk sekedar melihat-lihat situasi bukanlah dirinya. Bahkan Ia sampai rela stay di kampus, tepatnya di Fakultas FKIP demi menunggui gadis bermata sendu itu.
Beberapa pihak terkait, yang ikut ambil bagian dalam transformasinya yang begitu masif kali ini, bahkan ikut meragukanya.
__ADS_1
Seperti Fadhil sepupunya, sang Owner The Royals Coffe. Yang dengan sepenuh hati meluangkan waktunya datang ke kampus, membawakan pesanan makanan yang Ia niatkan untuk gadis unik itu.
"Ck, Parah lu, man! Gue yakin, Lu bakal lebih parah dari gua, calon bucin akut bin kronis!" Ucapan absurd yang dilontarkan Fadhil itu malah membuatnya terbahak sebab Ia rasa sebentar lagi nasibnya akan menyusul sepupunya itu. Mengenaskan!
Juga Vita, salah satu panitia cewek yang Ia perintahkan untuk memanggil Fathin lewat pengeras suara, malah tak henti meyakinkan dirinya atas aksinya yang dirasa sedikit frontal.
Kali ini, posisi Fathin yang sedang dalam masa ospek, yang mengharuskan gadis itu tunduk dan sami'na wa atho'na atas tiap titahnya benar-benar menjadi sebuah oase baginya. Ia menjadi ngelunjak dengan seenaknya memberi perintah absurd pada gadis itu. Memaksanya makan di hadapannya, meminta menemaninya makan malam malam nanti, dan saat ini, lagi-lagi Ia memaksa gadis itu naek motor bersamanya dengan modus hendak mengantarnya pulang. Meski, gadis itu telah mengemukakan 1001 macam alasan penolakannya, tapi Ia punya 1002 macam solusi untuk pemaksaannya.
Jadilah kini Ia menjalankan motornya keluar dari area kampus bersama kepasrahan bertabur gerutuan dari gadis itu. Tapi Ia tidak mengarahkan kendaraannya ke kamar kost sebagaimana yang di sebut penumpangnya itu.
Dengan santai dan ekspresi tanpa dosa, Ia malah menuju salah satu tempat nongkrong yang berada di pinggir laut di bilangan KeBi alias Kendari Beach.
Ia sempat mendengar gadis di belakangnya protes. Tapi, lagi-lagi Ia berlagak cuek. Ia memarkirkan motornya di pelataran tempat nongkrong tersebut. Lalu tanpa merasa risih meski gadis itu menolak, Ia menggandeng tangan gadis bermanik sendu itu berjalan ke arah sebuah meja yang berada paling dekat dengan laut. Ia ingin menikmati sunset sembari menyegarkan perasaannya dengan suguhan minuman dingin di tempat itu.
Beberapa pasang mata asyik memperhatikan mereka berdua. Bila tidk jeli menelisik ekspresi si wanitanya, sekilas keduanya bak pasangan sejoli yang sedang dilanda api asmara. Sebab Ia dengan begitu pe_de nya mendudukkan gadis itu di salah satu kursi yang telah Ia tarik sedikit untuk memberi ruang agar gadisnya bisa duduk dengan nyaman.
Saat Ia duduk di hadapan gadis itu seketika Ia menahan tawa sebab Ia baru sadar ternyata Fathin masih memakai seragam ospek plus pernak-pernik yang membuat wajah cantik itu terlihat lucu di matanya. Setelan hitam putih, loyang merah yang menjadi topi di kepala, juga tas kresek warna senada, fix menjadi pemandangan yang mengundang perhatian orang-orang di sana.
ppfftt...
"Pantesan aja semua orang pada ngeliat kesini!" Gumamnya sembari menatap wajah cantik di hadapannya yang nampak tegang dan kelelahan.
Tanpa aba-aba, Ia mangangsurkan badannya ke depan agar mereka lebih dekat. Tangannya terangkat dan memberi perintah agar Gadis itu menunduk agar memudahkannya membuka topi loyang dari atas kepala Fathin dan tas kreseknya. Tapi gadis itu buru-buru tersadar dan dengan cepat membuka sendiri semua pernak-pernik yang di kenakan olehnya.
"M_maaf, Kak. Saya bisa sendiri!" Gadis itu benar-benar membuat batasan dengannya. Terlihat dari penolakan-penolakan dari setiap permintaannya. Tapi, lagi-lagi Ia dengan gaya khas andalannya, Tegas terkesan memaksakan kehendak, mampu merobohkan tiap dinding pembatas itu.
"Aku nggak suka penolakan. Dan Kamu harus mulai membiasakan diri dengan ini!" Ucapnya dengan manik yang masih mengunci gerakan salting di hadapannya itu. sekejap menjadi pemandangan yang mengundang gelitik di hatinya.
"Gila, Apa-apaan ini!"Batinnya mengutuk rasa aneh yang mulai menjalarinya tiap kali mata sendu itu bersitatap dengannya.
"Kamu mau minum apa? Kamu udah cape seharian dengan semua agenda ispek. Segerin dulu pake yang dingin-dingin!" Tawarnya kemudian untuk memecah kebisuan keduanya.
"Nggak ngerti. Sa_saya blum pernah ke sini sebelumnya. Kakak aja yang milih!" Gadis itu berucap sembari mengitarkan pandangannya ke seantero tempat tersebut. Sebuah tempat dengan konsep outdoor, menghadap langsung ke arah pantai lepas.
Hembusan angin sepoi dari arah laut membuat keduanya merasa sejuk. Ia pun memesan dua buah kelapa muda. Ia sengaja memilih air kelapa sebab menurutnya, gadis itu butuh recovery setelah energinya tersita seharian. Sebagai seorang calon dokter, Ia tentu memahami banyak literasi mengenai manfaat air kelapa. Air buah ini sangat kaya akan elektrolit dan antioksidan juga memiliki kandungan kalium. Kalium merupakan zat elektrolit penting yang hilang dalam keringat, zat ini membantu tubuh menyimpan karbohidrat untuk energi.
Mengandung kalium lima kali lebih banyak dibanding minuman olahraga pada umumnya, menjadikan air kelapa, minuman isotonik alami yang sangat baik.
Untuk pilihan snack nya, Ia memilih roti isi telur plus keju. salah satu makanan penambah tenaga setelah beraktifitas seharian. Ia tidak ingin memberi makan dengan makanan berat sebab, masih ada acara dinner malam nanti.
"Kamu makan ini dulu trus minum air kelapanya, biar bisa recovery, tenaga kamu banyak tersita ama semua agenda ospek hari ini!" Ucapnya sesaat setelah pelayan datang membawa pesanan mereka.
Ia mencoba tersenyum meyakinkan gadis itu dan untuk pertama kalinya sang gadis tersenyum ke padanya meski samar.
"Damn it!"
"Samar gitu ajha udah bikin kelimpungan gini, gimana yang manisnya?" Batinnya tak henti merutuki otak labilnya yang hendak kumat. Bagaimanapun Ia adalah salah satu dari deretan cogan yang tak pernah lepas dari godaan-godaan terkutuk dari para wanita.
Lagi-lagi Ia mengerahkan sisa-sisa amunisi pertahanan hati yang Ia miliki agar focus yang sedang di hadapannya kini tetap merasa nyaman sehingga usahanya tidak akan sia-sia.
Mereka mulai menikmati hidangan di hadapan keduanya. Sesekali Ia memancing gadis itu agar bersuara dengan melempar beberapa pertanyaan basa-basi atau jokes receh sekedar mengundang senyum Si mata sendu itu. Dan, berhasil. beberapa kali netranya menangkap senyum membunuh itu tersungging di bibir pink milik Si gadis. Benar-benar definisi sesungguhnya dari ikhtiar tidak pernah menghianati hasil.
Dalam hati Ia menertawakan dirinya sendiri. Benar-benar distorsi jejak tak terbantahkan. Tapi lagi-lagi logikanya kalah telak dengan pesona mata sendu menghanyutkan itu. Benar kata pujangga,
"Love can change everything."
Hingga Ia kembali dari mengantar gadis itu, sudut bibirnya tak henti tertarik membayangkan senyum semanis madu yang sempat tertangkap camera ponselnya.
"Damned!!"
TBC........>>
__ADS_1