
*Yusuf
Seorang mahasiswa tampan dengan segenap kesempurnaan fisik yang di anugerahkan Tuhan untuknya. Dari postur tubuh tinggi tegap, atletis, kulit cerah khas pria dan paduan anggota wajah yang begitu sempurna membuat deretan wanita-wanita cantik termasuk mahasiswi-mahasiswi di kampusnya senantiasa menahan nafas bila berpapasan dengannya.
Ketampanannya itu seakan menjadi buah dari harapan kedua orang tuanya dengan memberinya nama Yusuf. Nabi yang terkenal dengan ketampanannya yang sukses membuat seorang wanita bangsawan, Zulaikha tidak bisa menahan diri untuk tidak menggodanya.
Tapi sayang, wajah tampan menyihir plus otak cerdas pentium empat itu berbanding terbalik dengan sifat dan karakternya. Sifat bandel yang di labeli sebab beberapa kebiasaan buruk yang kerap dilakukannya, karakter dingin dan masabodoh dalam segala hal membuat dirinya bak bintang di langit, Indah tapi tak tergapai.
Di kampus Ia terkenal dengan sebutan MAPALA alias Mahasiswa Paling Lama. Seharusnya Ia sudah harus di Drop Out dari kampus itu. Tapi nyatanya dengan kemampuan soft skill berupa keterampilan Interpersonal yang dimilikinya, Ia bisa menghandle semuanya. Membuat integritas keabadiannya di kampus tak terjamah aturan-aturan kampus.
Berada dalam jajaran preman kampus yang menjadi garda terdepan penjaga stabilitas "miniatur negara" itu, yang berada di bawah naungan dominasi Sang Penguasa kampus hijau tersebut, juga menjadi alasan kesekian baginya tetap betah wara-wiri di kampus.
Dalam menjalankan fungsi ini, Ia memiliki dua hari raya yang Ia anggap moment pemuas dahaga premanismenya. Saat pelaksanaan dua agenda tahunan yakni Pemilihan Umum dan Ospek yang Ia anggap refreshing setelah huru hara pasca pesta demokrasi. Betapa tidak, di sana tersedia ribuan jiwa dan raga yang pasrah lahir dan bathin untuk dieksekusi eksistensinya sebagai manusia merdeka.
Seperti saat ini, Ia tengah berada di antara kerumunan rekan-rekannya dan ratusan mahasiswa baru yang berhasil terjaring dalam jebakan di depan pintu gerbang tiga kampus.
Ia masih mengitarkan pandangannya pada wajah-wajah pucat pias dan ketakutan khas peserta ospek pada umumnya, tiba-tiba netranya menangkap satu wajah yang untuk pertama kalinya harus Ia akui mampu menciptakan satu desiran menggelitik di hatinya.
Wajah cantik dengan tatapan manik sendu yang tidak berlebihan jika Ia katakan "membunuh".
Seketika Ia bak harimau kehilangan taring. Melemah dalam sekejap. Menghidupkan kembali jiwa empati yang telah sekian tahun ia kubur dalam-dalam.
Ia mendadak tidak tega plus tidak rela membiarkan gadis bermata sendu itu jadi bahan buliyan rekan-rekannya. Dengan gerakan cepat Ia berjalan ke arah gadis itu yang baru turun dari motor besar yang di kendarai seorang cowok, rekannya sesama maba. Keduanya nampak akrab bak dua sejoli, tapi Ia tak perduli. Ia hanya ingin membawa gadis itu dari kerumunan rekan-rekannya yang hampir semua menatap gadis itu dengan manik mendamba. Sekelebat perasaan tidak suka menyusup di kedalaman sana.
Dengan amunisi andalan sebagai tokoh antagonis dalam drama senior vs junior kali ini, Ia dengan sigap melampirkan mimik tegas lewat tatapan matanya yang tajam mengintimidasi sembari menarik tangan gadis itu menjauhi kerumunan di sana. Berjalan masuk ke sisi dalam gerbang kampus.
Ia lalu mulai menilik penampakan di hadapannya itu. Postur yang proporsional, wajah putih mulus bak kulit bayi, mata sendu yang menghanyutkan itu sedang tertunduk dengan ekspresi ketakutan, membuat nya tidak bisa menahan diri untuk membuat si gadis bersuara.
"Nama kamu siapa?" Ia berbasa-basi sembari berusaha menetralkan perasaan yang berkecamuk di dadanya, dengan Iseng mengambil sebatang rokok dari dalam saku celana jeansnya dan membakarnya.
"Fa_fathin, Kak!" Ia masih memandang gadis itu lekat-lekat saat Ia mendengar suara lembut yang tergagap menyahutinya. Membuat Ia tidak puas sebab suara itu seketika mencanduinya. Ia pun kembali melemparkan beberapa pertanyaan basa-basi.
Hingga di menit berikutnya Ia kian tergoda untuk sdikit bermain-main dengan si pemilik mata sendu dengan sengaja menghembuskan asap rokok yang dihisapnya ke wajah putih menawan itu. Terlebih saat Ia mendengar salah satu rekannya memberi tahunya kalau gadis itu berasal dari pulau yang Ia tahu terkenal dengan kecantikan gadis-gadisnya, Pulau Kabaena.
Asap putih yang berasal dari mulut dan hidungnya itu memenuhi wajah gadis itu. Membuatnya terbatuk-batuk sambil mengibas-ngibaskan tangannya mengusir gumpalan asap tersebut.
Pemandangan menggemaskan itu membuatnya iseng kembali memenuhi wajah cantik itu dengan asap rokoknya untuk kedua kalinya. Gadis itu tampak kewalahan dan segera berlari menjauh masih dengan batuknya yang tak kunjung reda. Sudut bibirnya tertarik memandang lucu ke arah itu.
Tapi sejurus kemudian Ia mulai khawatir diliputi penyesalan sebab gadis itu terbatuk sampai muntah-muntah. Dengan refleks Ia berlari ke tempat itu dan tanpa sadar tangannya nekat terangkat dan menyentuh tengkuk gadis tersebut sembari mengurutnya pelan.
"So sorry, Kamu nggak apa-apa?" Ia ikut merendahkan tubuhnya dan bertanya.
Gadis cantik itu hanya mengangguk lemah akibat muntah panjang yang di alaminya. Kecemasannya berlipat ganda mengingat ini adalah masa ospek. Ada banyak agenda ospek yang menanti di dalam sana. Ia melihat jam tangannya hampir menunjukkan angka enam.
"Bahaya kalau gadis ini di hukum lagi di dalem!" batinnya.
"Tunggu di sini!" Titahnya sembari berbalik dan berlari ke arah warung kecil di seberang jalan. Ia membeli air mineral dan sebungkus besar roti.
Ia lalu berjalan ke arah motornya dan membunyikannya. Terlihat rekan-rekannya memberi two thumbs up untuknya. Membuat Ia terkekeh kecil.
"Nih, minum dulu! Trus makan rotinya. Kamu udah muntah tadi, pasti perut kamu udah kosong sekarang!" gadis itu nampak ragu. Tapi Ia punya senjata ampuh sebab Ia tidak mau mengulur-ulur waktu.
"Cepet, Kamu lupa kalau kamu lagi ospek? Ini perintah! Jangan coba-coba ngebantah kalau mau selamat!" Dan triknya berhasil. Gadis itu dengan capat meraih pemberiannya itu dan secepat kilat memakannya dengan ekspresi yang Ia rasa sangat menggemaskan. Dalam hati Ia tertawa.
"Ayo naek! Aku antar ke dalam biar nggak telat!" Titahnya kembali memberi perintah yang di sambut dengan tergagap lagi oleh si gadis.
"Saya.. saya..!"
Tapi lagi-lagi Ia memberi ancaman frontal.
"Cepat! nih udah mau jam enam. Kamu mau dihukum lagi di dalem? Atau kamu mau coba nyungsep di got kayak yang lain?"
Akhirnya setelah sedikit perdebatan, Si gadis mau di antar masuk. Demi mengejar deadline Ia pun membawa kendaraannya dengan kecepatan tinggi dan gadis di belakangnya sontak memeluk erat pinggangnya dengan tubuh bagian depan gadis itu menempel erat di punggungnya. Membuatnya benar-benar kewalahan menentramkan jiwa dan raganya akibat posisi intim tersebut. Ah, bagaimanapun Ia adalah lelaki normal. Kelelakiannya refleks berubah menjadi mode on.
Sekuat-kuatnya Ia menahan diri. Sebab bisa dilihat gadis ini bukan perempuan sembarang. Gadis ini terlalu berharga. Dalam hati Ia bertekad kuat untuk bisa mendapatkan gadis ini dengan cara yang baik.
"Kamu mau di atas motor trus? Nggak mau turun?" Ia berusaha menyadarkan wajah tegang dengan manik tertutup rapat yang sedari tadi menempel erat di bahunya dengan suara datarnya. Membuat gadis itu tergagap dan segera turun dan berlari cepat meninggalkannya yang masih mengulum senyum sebab merasa lucu atas ekspresi wajah itu.
__ADS_1
Tapi belum berapa langkah gadis itu berbalik menuju ke arahnya kembali.
"Maaf dan trimakasih, Kak!" Gadis itu berucap gugup.
"Udah sana gabung cepet sebelum telat!" Ia manyahut dan di saat yang sama wajah yang selalu menunduk itu terangkat dan pandangan mereka bertemu.
Deghh..
Ia berusaha menenangkan degupan yang melandanya dengan mencoba tersenyum ke arah gadis bermata sendu itu.
Gadis itu langsung berlari menerobos karumunan maba yang hendak berbaris. Ia masih di atas motor gede kesayangannya memperhatikan suasana di depannya. Beberapa panitia senior yang melihatnya mengangkat tangan ke arahnya. Ia pun membalas bersama senyum miringnya seperti biasa.
"Damn it!"
Tiba-tiba Ia merasa enggan beranjak dari tempat itu. Pesona si Manik sendu yang menyihir itu benar-benar sukses membuatnya betah berlama-lama di sana. Seketika Ia merasa bodoh dan berubah menjadi bukan dirinya dalam sekejap.
"Bahaya nih kalau Aku ikut-ikutan si Fadhil kena Bucin akut!" Ia menyeringai sembari pikirannya melayang mengingat sepupunya yang lagi cinta mati pada seorang Mahasiswa kedokteran yang setingkat dengannya.
Ia akhirnya memarkirkan motornya di bawah pohon akasia yang berada di parkiran lalu berjalan ke arah tempat di mana beberapa senior lepas sedang berdiri sembari memperhatikan ratusan maba yang sedang berbaris mengikuti arahan salah satu dari mereka.
__ __ __
*Fahry
Fikiran dan hatinya saat ini benar-benar tidak karuan. Focusnya seketika pecah membuat
point-point nateri "Fungsi Mahasiswa dalam tatanan bernegara" yang dibawakannya hari ini di luar konsep yang telah disiapkannya. Kacau!
Pemandangan menyesakkan yang disaksikannya tadi pagi bak puluhan panah menghujam dadanya. Seketika hatinya panas menyaksikan adegan dua insan yang begitu intim di atas sebuah moge.
Asumsi baik yang Ia sematkan pada pesona gadis yang mulai dikaguminya itu seketika menguap entah kemana. Berubah menjadi bibit-bibit rasa muak yang berpotensi tumbuh subur jika tidak diberantas sedini mungkin. Cemburu buta yang melandanya membuat logikanya tak mampu mengindahkan konsep praduga tak bersalah.
"Dan kenapa harus bang yusuf, sih? Aku paling malas berurusan dengannya!" Ia merutuki nasibnya kali ini yang ujung alurnya predictable ending. Seakan menjadi definisi sesungguhnya dari ungkapan "Layu sebelum berkembang".
Ia mengenal Yusuf dengan begitu baik. Bukan sekali dua kali Ia bertemu dengan sosok itu dalam beberapa diskusi lepas di beberapa sesi pertemuan mereka.
Salah satu keunikan Yusuf yang Ia rasa cukup misterius adalah nekat berada di jurusan kedokteran yang notabene merupakan tempat mahasiswa-mahasiswi dengan pola mainstream yang sedikitpun tak tertarik menantang arus dalam hiruk-pikuk dunia kampus yang plural. Kawasan dengan tingkat disiplin yang tinggi, dimana mayoritas penghuninya menjalani kuliah dengan petunjuk peta hidup yang sudah tersistematis dengan baik. Sangat kontras dengan karakternya yang anti mainstream, bebal dan cuek juga stigma yang terlanjur melekat padanya tentang yang Ia adalah preman kampus. *U*nbelieveable!
"Hey, Man, itu tadi kenapa, sih nggak focus gitu? Lagi broken heart atw gimana?" Bambang, salah satu rekan sesama panitia tiba-tiba datang menepuk bahunya yang sontak membuat nya tergagap dan kesulitan mencari alasan yang tepat untuk ketidak profesionalannya barusan.
Akhirnya Ia memutuskan untuk memberi alasan klise,
"Bingung tadi soalnya yang duduk pas di depan tadi pada cantik-cantik semua, bikin beku otak!"
"Hahahaha! Bisa aja Lo ngelesnya! Yang lain malah pada minta kalau lagi bawa materi maunya di depan harus yang cakep-cakep. Biar jadi mood booster!" Bambang tergelak demi mendengar jawaban asalnya.
"Jadi curiga, inceran Lo diembat ma yang laen?" Kali ini terkaan rekannya telak.
"Boleh asal jangan nuduh, dosa!" Ia kembali menutupi kebenaran yang diungkap Bambang.
"Ck, besaran dosa bohong kali. Ya udah ah, Gue balik dulu, istri Gue lagi nunggu di kost!" Seloroh rekannya itu.
"****! Hahaha! Istri ke berapa tuh? Blum pensiun Lo? Udah mau kiamat, brow, tobat!" Ia terkekeh meninju lengan rekannya yang kembali terbahak mendengar umpatannya.
mereka pun berpisah setelah berbalas jokes receh.
Kali ini Ia belum berniat menemui Fathin sebab gejolak di dadanya belum benar-benar reda.
"Aaargghh! Btw, kenapa aku secemburu ini? Aku sama fathin kan blum ada hubungan apa-apa. Jadi dia masih bebas mau milih siapa!" Ia mengusap rambutnya kasar.
Ia akhirnya memutuskan untuk pulang lebih dulu. Memilih menenangkan pikiran buruknya lebihdulu sebelum benar-benar bertemu si pemilik manik sendu itu.
__ __ __
*Mitha
Ia berjalan cepat menuju barisan maba yang hendak apel pagi. Matanya liar mencari-cari keberadaan sahabatnya Fathin. Hatinya diliputi was-was dan pikiran buruk mengenai nasib sahabatnya itu. Terlebih tadi Ia sempat melihat kerumunan maba dan senior berjas kuning di gerbang tiga dimana Azhar dan Fathin menuju.
__ADS_1
"Fathin, Azhar sama Akram gimana yah, semoga aja ada malaikat berbentuk senior yang bermurah hati menolongnya kayak pangeran tadi menyelamatkanku dari keisengan preman-preman kampus di gerbang tiga tadi!" Batinnya berharap.
#Flashback on#
"Akram buruan cepet. Tuh Azhar ama Fathin udah jalan duluan!" Mitha meneriaki sahabatnya Akram yang masih sibuk dengan pernak-pernik ospeknya supaya bergegas keluar.
"Iya, sorry sorry. Ayo!" Akram dengan secepat kilat menjalankan motornya. Saat keduanya hendak menyusul Azhar tiba-tiba netranya menangkap kerumunan maba juga senior berjas kuning di depan gerbang tiga.
"Ram, belok belok, kita lewat gerbang satu. Cepetan, ntar kita di kerjain di situ!" Ia panik sembari menepuk bahu Akram.
"Tapi itu Fathin sama Azhar di situ gimana dong? kamu udah nggak setia kawan ?biarin ajha kita di hukum bareng!" Sahut Akram dengan gaya cueknya.
"Iya yah, sorry, Ram, Aku tadi terlalu panik jadinya amnesia dalam sekejab. Hehehe!" Ia cengengesan di belakang Akram yang meski kaget tapi tak membuatnya gentar, tetap tenang.
"Turun, turun semua! Manja banget jadi mahasiswa! Jalan kaki kalau mau nyampe ke dalem!" Seorang senior berwajah garang menghampiri mereka dan satu persatu maba yang masih di atas motor ditarik turun termasuk dirinya juga Akram.
Entah kenapa jiwa bar-barnya seketika meronta-ronta saat Ia ditarik turun dari motor besar milik Akram.
"Eh, eh, apaan sih, nggak usah tarik-tarik dong ah! Kita bisa turun sendiri. Modus banget, sih biar bisa pegang-pegang. Basi!" Ia ikut mengeraskan suaranya dan dengan sisa keberanian yang ada Ia menyentakkan tangannya dari cengkeraman senior berwajah garang yang dibuat-buat itu.
Aksi nekatnya itu memancing sebagian besar mata senior-senior itu mengarah padanya. Banyak yang terlihat kagum, tapi ada juga yang tambah emosi sebab merasa ditentang dan tidak ditaati.
"Berani juga kamu yah! Sini kamu!" Tangannya kembali di tarik menuju pinggir got yang membentang di sepanjang pagar beton kampus.
"Turun dan jalan jongkok sampe gerbang satu!" Netranya seketika membulat sempurna bersama mulut mangapnya sebab kaget tak terkira.
"Nggak, nggak mau!"
"Turun!"
"Nggak!" Apapun itu hatinya sudah bertekad tetap tidak akan mau menghinakan dirinya dengan mengikuti perintah absurd itu.
"Come what may (apapun yang terjadi terjadilah) , tapi aku nggak akan mau di suruh turun got!" Jawabnya tegas dengan mata yang balik menatap tajam kearah wajah garang di depannya.
Tatapan keduanya bertemu tapi sejurus kemudian Ia memalingkan wajahnya dan di saat yang sama Ia sedikit tertegun melihat seorang senior lainnya yang berwajah tampan berjalan ke arahnya sembari tersenyum.
"Ini biar Aku yang handle, Rik!" Ucap si tampan itu ke arah si Garang di hadapannya yang terlihat pasrah.
"Sini, Kamu ikut saya!" Bulu kuduknya seketika meremang saat si tampan itu meraih tangannya dan membawanya menjauh dari kerumunan itu dan berhenti di depan motor sport keluaran terbaru. Si tampan itu lalu menunggangi motor tersebut dan menghidupkannya.
Seketika maniknya bersitatap dengan Akram yang mengangguk ke arahnya menyuruhnya pergi dari tempat itu.
"Ayo naek! Saya antar ke dalam sebelum abang-abang itu semua pada ngamuk sama kamu!" Masih dengan mode speechless bin bengong syahdu Ia akhirnya mengangguk patuh setelah melihat Akram yang sedari tadi memberinya kode agar cepat pergi.
Ia pun naik dengan bantuan tangan lembut plus bahu kokoh tempat Ia berpegang kuat untuk memudahkan gerakannya.
"Ma_makasih, Kak!" Ucapnya tergagap sebelum motor itu melesat meninggalkan kerumunan itu bersama sorakan tidak terima dari para maba yang lagi apes.
"Kamu nggak takut dihukum ama senior tadi, kok berani ngebantah?" Suara itu berteriak agar Ia bisa mendengarnya.
"Nggak, Aku cuma takut ama Allah sama binatang buas!" Jawabnya sekenanya, membuat si tampan itu tergelak.
Tak lama berselang keduanya telah tiba di pelataran FKIP. Ia bersyukur sebab Ia belum terlambat. Ia pun kembali berpegang di bahu kokoh itu dan turun dari motor tersebut.
"Sekali lagi makasih banyak, Kak! Untung tadi ada Kakak, jadi selamat deh!" Ucapnya penuh semangat. Dan lagi-lagi wajah itu melampirkan senyum memukau nya.
"Hahaha! Iya sama-sama, katanya nggak takut. Sana gabung cepet, ntar di hukum lagi kalau telat!" Si tampan itu tergelak lagi.
"Ok, bye!"
"Bye!"
#Flashback off#
Ia kembali mengitarkan pandangannya dan seketika Ia bernafas lega mendapati wajah sahabatnya di sana yang sedang tertunduk seperti sedang memikirkan sesuatu. Entahlah...!
Next >>>
__ADS_1