
*Azhar
Semilir angin menerpa lembut wajah tampannya. Rambut lurusnya terlihat meriap-riap oleh hembusan angin tersebut. Telah berkali-kali Ia terdengar menghela nafas berat. Perasaan bersalah pada Fathin bertubi-tubi menderanya saat ini.
Cemburu berat yang menghempas seketika asa pada sahabatnya itu membuat hatinya seakan mati dan tertutup. Seketika sikap apatis pada keadaan Fathin bahkan juga sahabatnya yang lain, Mitha dan Akram mendadak merubahnya menjadi seperti orang lain.
Sebuah kenyataan pahit yang Ia dengar beberapa waktu yang lalu, tentang Fathin sang sahabat, benar-benar membuatnya terpukul dan seakan ditenggelamkan ke dalam palung mariana.
Bertahun-tahun menyimpan perasaannya sendiri tanpa seorangpun yang tahu, hingga kemarin, harapan untuk membuat Fathin menyambut perasaannya, mendadak sirna tersaput habis oleh pengakuan Fathin yang mencintai orang lain.
Orang itu adalah si Jenderal kampus yang menjadi idola plus rentetan kelebihan-kelebihan lainnya yang praktis menciutkan nyalinya untuk bersaing. Pria itu memiliki segala kriteria pria idaman setiap wanita.
Ia merasa insecure. Tidak pe_de tentu saja. An as k ingusan yang untuk hidup saja masih bergantung pada orang tua. Apa yang bisa membuat Fathin jatuh cinta padanya?
Ia tersenyum kecut. Sejurus kemudian tertawa sumbang membayangkan sifat kekanak-kanakannya akhir-akhir ini. Ia bahkan berusaha menghindari Fathin. Bahkan saat berkali-kali Ia berniat menjenguk sahabatnya itu saat sakit beberapa hari yang lalu, Ia benar-benar tak punya nyali sebab mobil Yusuf sang rival selalu saja terparkir manis di sana.
Ia mendesah berat lagi-lagi. Tangannya merogoh saku celana casualnya dan mengeluarkan bungkus rokok dari sana. Mengambil sebatang lalu membakarnya. Sejurus kemudian menghisapnya begitu dalam dan mengembuskannya kasar. Asap pekat yang mengepul seketika mencemari segar udara di sekitarnya.
Lagi-lagi Ia tersenyum kecut. Ia bahkan telah berubah menjadi perokok aktif terhitung sejak malam makrab itu. Ia melarikan semua kegundahan hatinya pada barang yang sangat dibenci Fathin itu. Ini semacam pelampiasan kekecewaannya.
Ia masih asyik dengan rokok di tangan dan lamunan akan masa-masa kebersamaannya bersama tiga personl geng re-bink lainnya, saat tiba-tiba Ia merasakan pundaknya disentuh seseorang dari belakang. Ia menoleh seketika dan mendapati wajah Akram yang sedang menatapnya sendu.
"Sampai kapan Lo mau kayak gini trus? Lo nggak kasian sama Fathin? dia tuh sakit kemaren bukan gegara lelah latihan doang, dia tuh sedih mikirin Lo yang ngehindarin dia terus!" Akram berucap datar seraya ikut duduk di sisinya di atas hamparan rumput stadion mini kampus.
Ia tersentak sejenak. Ia tidak berfikir sampai sejauh itu. Ia benar-benar tidak menyangka perbuatannya kemaren-kemaren telah membuat sahabatnya itu menderita.
"Sorry!" Hanya itu kata yang mampu terucap dari bibirnya.
"Lo nggak perlu minta maaf sama Gue. Lo harusnya minta maaf sama Fathin. Selama ini Lo kan yang slalu ngomong kalau kita berempat adalah sahabat solid sampai kapanpun. Apapun yang terjadi kita nggak boleh ada yang berubah. Sekarang? Lo malah yang kayak gini!"
Lagi-lagi seperti biasa Akram menceramahinya panjang lebar. Biasanya Ia akan men-cutnya cepat tapi kali ini tidak. Ia membiarkan Akram berkicau semaunya.
Ia menghisap sekali lagi rokok di tangannya dan menggerus ujungnya di rerumputan di sana. Ia menyeringai kaku. Melempar tatapannya jauh ke depan sana di mana gerombolan-gerombolan mahasiswa fakultas MIPA keluar menuju gerbang satu kampus.
"Menurut Lo, Fathin masih mau nggak maafin Gue?" Tanyanya tanpa menoleh.
Akram merangkul bahunya seraya berucap yakin,
"Pasti! Lo salah, Zhar! Fathin malah merasa bersalah banget sama Lo, coz dia nggak bisa peka dengan perasaan Lo ke dia selama ini. Dia kangen banget sama Lo. Dia pengen ketemu dan minta maaf!"
Ia menoleh cepat, mencoba mencari keseriusan di wajah Akram. Pemuda itu langsung mengangguk meyakinkannya.
"Ayo! kita ke tempat mereka skarang! masa' Lo nggak kangen ama duo mak rempong kita itu?" Akram terkekeh pelan seraya berdiri mengulur tangan ke arahnya. Ia pun menyambut tangan sahabatnya itu lalu berdiri seraya tersenyum kecil.
"Kita singgah beli cemilan dulu. Bisa diusir kita kalau tiba nggak bawa makanan!" Keduanya tergelak membayangkan dou mak rempong itu memang jago ngemil.
Keduanya berjalan ke arah motor sport kesayangannya masing-masing. Dalam sekejap kedua motor tersebut telah meraung-raung dan melesat cepat keluar dari area kampus. Menyatu dengan kendaraan lainnya di jalan raya.
____
* Shafa_Marwa
Di sebuah super market. Keduanya baru saja masuk menyelinap seraya bersembunyi di sebalik rak-rak snack yang berjejer rapi. Keduanya nampak sibuk mengambil berbagai macam makanan ringan plus minumannya dan memasukkannya ke dalam troley.
Sesekali mata keduanya awas menatap ke arah pintu masuk. Was-was jangan sampai Vero sang kakak menemukan jejak mereka sebelum misi keduanya berhasil.
Ya, hari ini mereka berencana banyak snack untuk di bawa di perkampungan kumuh yang ada di pinggir kota, tepatnya di rumah Mala, teman baru mereka di sekolah.
Mala adalah salah satu siswi berprestasi di sekolah yang sama dengan mereka berdua, ternyata memiliki kehidupan yang cukup memprihatinkan. Punya adik banyak dan masih kecil-kecil. Belum lagi keadaan ekonomi yang jauh dari kata cukup. Ayah Mala hanya seorang buruh bangunan yang gaji hariannya cuma cukup untuk makan. Sementara Ibunya hanya seorang Ibu rumah tangga biasa yang hari-harinya disibukkan dengan urusan anak-anaknya.
Untunglah kemarin mereka disatukan dalam satu kelompok belajar untuk tugas sekolah dan dengan rayuan maut seindah rayuan pulau kelapa, akhirnya keduanya berhasil memaksa agar tugas tersebut dikerja di rumah Mala saja. Akhirnya mereka pun jadi tahu keadaan Mala yang sebenarnya.
Semalaman keduanya mengatur rencana untuk misi hari ini. Mereka bahkan nekat memakai uang jajan selama sebulan ke depan untuk membantu keluarga Mala. Uang sebesar sepuluh juta sudah aman di amplop. Tinggal buah tangan untuk para adik-adik Mala.
Keduanya sengaja memilih kabur dari sekolah sebelum Vero tiba di sana, dan mencari barang-barang yang mereka butuhkan di super market yang jauh dari sekolah.
"Ini kan super market yang deket kampusnya Abang. Ntar kalau tiba-tiba Abang liatin kita di sini, gimana dong? bakal labih nyeremin tau nggak sih ketimbang di dapet sama Kak Vero!" Shafa berbisik pelan ke arah saudara kembarnya, Marwa.
"Ih, brisik banget, sih! Positiv thinking. Jangan mikir yang macem-macem. Lo mau misi kita gagal?" Marwah malah bersungut dengan suara yang agak keras, membuat dua orang pemuda sebaya yang sedang memilih beberapa makanan ringan di sebelah mereka seketika menatap keduanya heran.
Shafa tersenyum kaku sementara Marwa mendengus dan berpaling cepat.
"Lo sih, ngapain sih ngomongnya harus kenceng-kenceng gitu?"
"Lagian Lo juga ngapain bisik-bisik kayak tadi? Lo mau kita di kira mau nyolong di sini?"
"Ck, apaan sih! masa' udah secantik ini masih dikira maling, enak aja!" Shafa tak mau kalah. Kedua pemuda tadi masih sesekali melirik ke arah mereka.
"Ya udah, gimana, udah cukup blum ini kira-kira?" Marwa bertanya seraya matanya kembali awas menatap pintu masuk.
"Ummm, udah kayaknya segini dulu. Kita kan nggak bawa mobil trus Papa udah nggak bolehin naik taksi!"
"Kalau gitu ayok kita ke kasir!"
"Yuk!"
Keduanya pun berjalan ke meja kasir. Di saat yang sama kedua pemuda tadi ikut berjalan ke arah yang sama hendak membayar belanjaannya, membuat dua gadis kembar itu menoleh dan menatap keduanya dengan alis berkerut. Mereka jadi berfikir sedang di kuntit sejak tadi.
"Kenapa? ini tempat umum. Semua orang yang belanja pasti ke sini untuk bayar belanjaan. Nggak perlu sampe mikir macem-macem!" Salah satu dari mereka berucap datar seraya menatap sedikit tajam terutama ke arah Marwa yang tak henti menatap curiga.
Kedua gadis itu lagi-lagi saling menatap shock. Marwa yang lebih bar-bar daripada Shafa tak tahan untuk tidak menyela.
__ADS_1
"Eh, maksud Lo, apa? Perasaan tadi kita berdua nggak ngomong apa-apa!"
"Lo tuh yang kenapa? liatin kita daritadi aneh gitu. Lo pasti mikir kita ngintilin Lo berdua kan?" Pria datar itu lagi-lagi nyolot sementara yang satunya sedari tadi melampirkan senyum simpulnya.
"Ih, dasar sotoy!"
"Udah, udah dong Wa! nih udah beres. Ayo cabut skarang sebelum Kak Vero keburu ke sini!" Shafa dengan cepat melerai perdebatan itu dan memberi satu kantongan besar belanjaan untuk Marwa.
Marwa mendengus sedikit kesal dan menatap tajam ke arah si pria datar dan berlalu bersama kantong belanjaannya yang nampak membuatnya susah melangkah.
Dua pemuda yang ternyata Azhar si muka datar dan si somplak Akram hanya bisa geleng kepala menyaksikan dua gadis mirip pinang di belah dua itu tapi punya sifat yang berbeda.
"Dasar tukang makan! Belanja cemilan segitu banyaknya!" Lagi-lagi Azhar mengumpat di sana seraya meraih belanjaan mereka.
Marwa yang masih bisa mendengar omelan pemuda itu hendak berbalik tapi manik bulatnya tiba-tiba menangkap bayangan Vero di depan sana yang hendak masuk ke dalam super market tersebut.
Sontak keduanya berlarian panik bersembunyi di sebalik rak khusus kosmetik yang terletak di dekat pintu keluar.
Saat keduanya melihat Vero sudah benar-benar masuk ke dalam, mereka pun buru-buru berlari keluar dari sana.
Lagi-lagi keduanya menjumpai dua pemuda itu tafi yang sedang men-starter moyornya masing-masing di parkiran. Tanpa pikir panjang keduanya sontak berlari dan tanpa aba-aba, tanpa permisi, tanpa berfikir siapa dan bagaimana si pemilik motor, langsung naik dan berteriak panik,
"Ayo jalan, Kak, cepet!" Marwa memukul pelan bahu Azhar si muka datar.
"Eh, eh, apaan, sih! Lo turun nggak?"
"Nggak, idih, pelit amat sih! nyebelin banget, kita bayar deh, yang penting sekarang bantu dulu ini!" Marwa bersikeras.
"Gue bukan tukang ojek, turun!"
"Kak, tolongin yah, please..!" Ia tiba-tiba merengek berpikir pemuda berwajah datar itu akan luluh dan bersedia membantu. Nyatanya tidak semudah itu. Membuatnya kian panik takut Vero tiba-tiba keluar dari dalam sana.
"Minta maaf dulu, Lo udah ngatain Gue tadi di dalem!"
"Ok, ok, Gue minta maaf dari ujung kaki sampe ujung rambut. Skarang please.. jalan, dong, ntar Kak Veronya keburu keluar tuh!" Rengeknya kian panik sambil mata beningnya menatap awas ke arah pintu keluar super market tersebut.
Huffft...
Marwah dan Shafa menghembuskan nafas lega. Kedua pemuda itu akhirnya mau diajak kerjasama. Shafa yang lebih pendiam memilih tak banyak bicara. Satu-satunya kalimat yang terucap dari bibir mungilnya hanya,
"Sorry, yah, udah ngrepotin!"
"It's Ok! btw kalian mau ke mana sih bawa belanjaan segitu banyak?"
"Ntar aja yah jelasinnya, Gue capek teriak-teriak di atas motor?" Sahut shafa menyahut asal. Akrampun tergelak mendengar kejujurannya.
"Stop! stop dulu. Kita singgah beli helm dulu, Gue takut di tilang!" Marwa memekik refleks tak sadar memukul bahu Azhar saat melewati sebuah store penjualan helm.
"Ck, astaga... sakit tau!" Azhar berdecak kesal dengan gadis cerewet di belakangnya itu yang seenaknya main pukul.
"Pegang dulu!"
"Astaga! mimpi apa sih Gue semalam sampe bisa ketemu cewek kayak gini?"
"Fa, nih, pake! bahaya kalau nggak pake ini, bisa berabe kalau sampe kita ditilang. Sebagai warga negara yang baik, aturan harus tetap ditaati!" Marwa cengengesan ke arah Azhar yang masih dengan wajah ditekuk. Tapi Ia tidak peduli. Lagi-lagi Ia berpegang erat di bahu pemuda itu dan naik duduk dengan tenang plus wajah tanpa dosa.
Dua puluh menit berlalu. Berbekal petunjuk arah oleh kedua gadis kembar itu mereka pun tiba di sebuah gang masuk ke perkampungan kumuh di mana Mala tinggal.
"Masuk ke dalam, Kak! rumahnya pas di ujung gang ini!" Titah Marwa yang langsung di balas Azhar dengan decakan.
"Ck, bilang minta tolong. Jangan kayak ngasi perintah gitu!"
"Ish, nyebelin banget, sih!"
"Bilang minta tolong nggak? Gue turunin nih di sini."
"Iya, iya, Kakak kanebo kering, Marwa MINTA TOLONG yah, please..! puas?"
"Gitu dong, yang sopan sama yang lebih tua!"
Marwa menyeringai seraya mengangkat tangannya hendak mencekik pemuda yang Ia rasa sangat menyebalkan itu, tapi mendadak motor sport itu sedikit melompat gegara Azhar yang menginjak pedal gas tiba-tiba. Membuatnya kaget dan panik memeluk pinggang pemuda itu seraya refleks menutup matanya.
"Udah sampai. Turun cepet!" Suara datar itu sukses membuatnya keki, malu bersama debar jantungnya yang berdetak tak karuan entah apa sebabnya. Ia sampai keringat dingin karenanya.
"Ma_maaf, abisnya Kakak balap banget tadi. Ini kan gang sempit, kalau kita jatuh tadi gimana?" Bibirnya mengerucut berusaha menutupi rasa groginya.
"Alesan. dasar modus!"
"Ish, apaan sih, sumpah! itu nggak bener itu!" Ia turun seraya menyentakkan kakinya. Dengan susah payah menenteng kantong besar berisi penuh makanan ringan itu.
"Kak, bantuin, dong! ini tuh berat banget tauk!"
"Minta tolong!"
"Iya, iya, minta tolong, dong, Kak, bantuin angkat ininya!"
"Ya udah, sini biar Gue yang bawa!"
"Makasih!" Ia mulai menyahut lembut seraya tersenyum manis.
Shafa dan Akrampun akhirnya tiba juga. Tanpa diminta pemuda itu turun dari motornya dan langsung meminta kantongan besar yang dipegang oleh Shafa.
__ADS_1
"Sini, biar Gue yang bawa!" Ia sedikit terkesiap tak menyangka pemuda itu akan bersikap baik begitu. Ia sempat berfikir Orang ini sama dengan temannya si muka datar.
"Makasih!" Ucapnya tulus yang dibalas anggukan oleh Akram.
Mereka berempat pun telah berdiri di depan pintu rumah sederhana milik Mala. Kondisi rumah berdinding jelajah itu sungguh memprihatinkan. Dua pemuda itu sejenak mengitarkan pandangan ke sekeliling rumah tersebut yang menurut mereka tidak layak huni itu.
Rumah nampak sepi. Hanya ada suara samar Mala dan ibunya yang sepertinya sedang berada di dapur.
Tok..tok.. tok..
Marwa mengetuk pintu pelan disusul Shafa yang memberi salam,
"Assalaamu'alaikum, Mala!"
Tak lama terdengar suara lembut Mala yang menyahuti dari dalam.
"Wa'alaikum salaam!"
Sreettt...
Pintu yang nampak rapuh dan kusam itu tiba-tiba terbuka perlahan bersamaan menyembulnya wajah manis Mala.
"Hai, Ma_marwa, Shafa, Kalian di sini?" Mala tergagap di sana.
"Hai, La! iya kita di sini. Hehehehe!" Marwa cengengesan salah tingkah.
"Aduh, sampai lupa, masuk, masuk, Wa, Fa, dan Mas-masnya!" Mala tersenyum kaku.
"Iya, La, makasih. Ayo!" Marwa tanpa sadar menarik tangan si datar Azhar. Karena sedang sibuk menilik kondisi di dalam rumah tersebut, pemuda itu sampai tak menyadari jika tangannya sedang digandeng.
Shafa dan Akram hanya tersenyum simpul tanpa berniat merusak adegan tersebut. Marwa baru sadar setelah keduanya hendak duduk. Ia melepas gugup tangan Azhar.
"Sorry! ng_nggak sengaja!" Azhar tak menyahut sebab ikutan keki. Membuat semua yang ada di sana lagi-lagi tersenyum simpul termasuk Mala.
"Oh yah, tunggu yah, aku buatin minum dulu!" Mala hendak berdiri tapi Shafa buru-buru menarik tangannya mencegah.
"Nggak usah, La. Kita nggak bakal lama, Papa bisa marah besar kalau sampe kita telat balik rumah. Kita ke sini cuma mau bawain ini buat adik-adik yang di dalem!" Shafa menyerahkan dua kantongan besar dari tangan Azhar dan Akram.
Marwa mengangguk bersama senyum hangatnya.
"Iya, La. tapi please.. jangan tersinggung yah, kita cuman pengen berbagi sama adik-adik di sini karna lagi ada rezki sedikit. Nggak maksud apa-apa!"
Mala belum sempat menyahuti. Manik lembutnya malah berkaca-kaca menatap mereka semua.
"Ehh, ada nak Marwa sama Shafa. Lo kok nggak dibuatin minum temennya toh, Nak?" Ibu Mala tiba-tiba muncul di ruangan tersebut bersama senyum hangatnya.
"Hehehe, nggak usah, Tante, kita cuma bentar, kok! oh yah kebetulan tante di sini_,"
"Ada apa nak? Ibu jadi was-was, Mala ada bikin salah yah di sekolah?" Ibu Mala beralih menatap intens Mala.
"Bukan, bukan, Tante. Ehm, ini kami berempat ke sini mau ngantarin ini Tante, mohon diterima, yah, Tant! Mudah-mudahan ini bisa berguna untuk keluarga Tante, dan please.. jangan tersinggung ya Tante!"
Marwa yang cerewet berucap lembut sedikit memelas seraya menyerahkan amplop coklat yang agak tebal ke tangan Ibu Mala.
"I_ini apa, Nak?" Netra wanita paruhbaya itu mulai berkaca-kaca seraya menatap mereka berempat bergantian.
"Ini cuma sedikit rezeki untuk Tante dan keluarga. Di terima yah Tant!" Kedua saudari kembar itu bersamaan menyentuh lembut tangan Ibu Mala.
"Hiks.. hiks.. Makasih banyak, Nak! Ibu jadi nggak tau mau ngomong apa. Kalian memang anak-anak yang baik."
"Mala tuh temen kita jadi sudah seharusnya kita saling bantu."
"Sekali lagi, makasih yah, Nak Shafa, Marwa, Nak__"
"Azhar, Tante!"
"Saya Akram, Tante!"
"Oh, makasih yah Nak Azhar, Nak Akram!"
"Tapi__"
"Kalau gitu, kami mau pamit dulu, Tante, salam aja sama Om juga adik-adik yang lagi pada bobok siang!" Shafa segera memotong cepat sebab sepertinya Akram ingin menjelaskan sesuatu.
"Oh, gitu, kok cepet banget sih, Nak. Belum juga disuguhin minum."
"Lain kali aja, Tante!"
"Kalau gitu, hati-hati yah, Nak! Salam sama orang tua kalian. Semoga Allah balas semua ini dengan sebaik-baik balasan. Aamiinn!"
"Aamiin. makasih Tante doanya!"
"Sama-sama, Nak!"
"Kita pamit yah, Mala! sampai jumpa besok di sekolah!" Keduanya bergantian memeluk Mala.
"Makasih banyak yah, Wa, Fa, Kak Azhar, Kak Akram! kalian emang orang-orang baik!" Mala mulai berkaca-kaca.
"Iya, sama-sama. Ish, apaan, sih! jangan nangis, dong! jadi baper, nih!"
"Assalaamu'alaikum...."
__ADS_1
"Wa'alaikumsalaam!"
TBC>>>