MUJAHADAH CINTAKU

MUJAHADAH CINTAKU
#Episode 19. Like a Small Family (Seperti sebuah keluarga kecil)


__ADS_3

*Fathin


Setelah drama epic yang dibumbui rayuan pulau kelapa oleh Ia dan Mitha demi meyakinkan Azhar, akhirnya Ia diizinkan ikut acara makrab malam ini. Comitment untuk saling menjaga dan melindungi dalam prinsip persahabatan mereka menjadikannya tak mau berbuat apapun itu di luar persetujuan dari ketiga sahabatnya. Hingga saat Azhar melarangnya ikut agenda terakhir dari rangkaian Ospek kali ini, Ia dan Mitha terpaksa kompak meyakinkan Azhar bahwa everything's ok.


"Makasih ya, Zhar. Pokonya aku janji bakal baik-baik aja. Lagian ada Mitha kan? Kita berdua bakal barengan trus di sana. So, don't worry, I'll be ok!" Ucapnya meyakinkan.


"Ya udah, yang penting kalian tetap hati-hati. Cepet hubungi Aku sama Akram kalau ada apa-apa!" Sahut Azhar pasrah akhirnya.


"Pasti, Zhar!" Mitha yang menyahuti sembari berjingkrak kesenangan.


***


Azhar dan Akram belum kembali dari salon. Keduanya hendak merapikan rambut, sementara di kamar kost, Ia dan Mitha masih sibuk mematut beberapa model outfit yang hendak mereka pakai ketika lamat-lamat keduanya mendengar ketukan pintu di sertai suara cempreng anak perempuan memberi salam. Keduanya seketika menghentikan pergerakan dan sekejap saling melempar tanya lewat tatapan mengernyit dari kedua wajah cantik itu.


"Kayak suara anak perempuan, siapa ya?" Mitha bergumam pelan.


"Ponakan kamu kali, cepetan buka pintunya!" Sahutnya asal. Keduanya pun berjalan menuju pintu dan dalam hitungan detik, saat pintu terbuka, Ia tergagap tak bisa berucap untuk beberapa selang kemudian. Mitha yang cepat bisa menguasai keadaan dengan suara terputus mempersilahkan masuk dua orang berbeda usia yang sedang berdiri terpaku di depan pintu yang sedang memandangi keduanya bergantian. Tapi sebelum bergeming anak perempuan berpipi bulat tembem itu tiba-tiba bercuap-cuap riang.


"Aunty cantiknya uncle yang mana?" gadis kecil itu berucap sembari mendongak ke arah si pemaksa yang sedari tadi menatapnya sedikit tajam tak berkedip. Ia sampai salah tingkah dengan adegan di hadapannya kini.


"Ehmm, masuk dulu yuk sweet chubby, nanti di dalam baru kita main tebak-tabakkan yang mana, auntynya!" Mitha seperti biasa paling bisa kalau bagian bercuap-cuap ria apalagi dengan anak kecil.


"Ok, makasih, Aunty!" Ia masih belum sepenuhnya bisa menguasai diri. Entah kenapa kali ini suasana hatinya benar-benar berbeda saat berhadapan dengan si pemaksa. Ada rasa tak terdefinisi yang entah apa itu, tiba-tiba menyusupi relung di dalam sana. Bayangan pelukan erat dari tubuh tegap beraroma maskulin lagi-lagi menguasai debaran dadanya yang seakan hendak melumpuhkan kesadarannya.


"Aku kenapa sih nggak bisa focus gini, Astaga Fathin jangan bilang kamu udah mulai suka sama si pemaksa ini?" Ia bermonolog merutuki hatinya sendiri, memejamkan mata berusaha menghindari tatapan si manik elang yang kini tanpa Ia sadari telah duduk di hadapannya.


"Ya Allah, cobaan apalagi ini? Semoga orang ini nggak macem-macem lagi kali ini, kok sampe bawa anak kecil segala, udah punya anak atau gimana sih ini?" Ia berusaha memaksakan diri untuk tersenyum samar sembari bergumam bertanya-tanya dalam hati.


"Kenapa? Ini ponakan aku, mikirnya nggak usah kejauhan," Tiba-tiba suara datar itu berucap blak plus ekspresi cueknya. Maniknya seketika mendelik ke arah wajah tampan dengan sudut bibir tertarik itu. Benar-benar misterius, entah kenapa pria di hadapannya itu selalu saja bisa menebak apa yang sedang difikirkannya.


"Eh, ehmm, sampe lupa, Chubby mau minum apa biar aunty bikinin?" Mitha lagi-lagi berusaha memecah kekakuan yang tercipta, sebab sedari tadi mereka semua hanya duduk saling melempar tatapan satu sama lain.


"No, Aunty! Farah nggak mau minum, Farah ke sini mau jenguk Auntynya Uncle yang lagi sakit, mana Aunty sakitnya?" Keduanya mengernyit tapi sejurus kemudian Mitha tersenyum simpul.


"Oh, Nih, Aunty nya udah baikan, kok!" Sahut Mitha sembari memegang lengannya.


"Horeee! Berarti Aunty bisa dong ikut Uncle ke acara Ultahnya Eyang! Mau yah Aunty, soalnya aku udah janji bakal serahin Aunty ke Eyang jadi kado, biar di jadiin teman nya Uncle, kayak Ayah sama bunda, gitu!"


Ppffftt...


Mitha menahan tawa. Ia yang sedari tadi menunduk grogi sebab manik elang milik bang yusuf tak henti menatapnya. Ia sampai menilik penampilannya, khawatir ada yang salah. Seketika kesadarannya kembali mendengar gadis kecil dihadapannya terus merengek manja plus wajah puppy eyes nya, memintanya ikut bersama ke acara ultah eyangnya.


"Ehhmm, gimana yah, Aunty ada acara juga nih di kampus malam ini, gimana dong?" Ia akhirnya berucap dengan mimik yang dibuat seakan sedang memelas, memohon pengertian.


"Udah baikan?" suara datar bang yusuf tiba-tiba menyela.


"U_udah, Alhamdulillah. Makasih udah nolongin tadi." jawabnya terbata, seketika Ia teringat belum berterimakasih pada si pemaksa itu.


"Humm," Bang yusuf menjawab dengan deheman.


"Ehmm, kalau gitu, kita ke acara papa dulu. Abis dari sana kita ke kampus. Ntar aku ngomong sama Herdin ketua BEM dan semua panitia di sana!"


"Tunggu bentar!" ucap bang yusuf lagi. Ia mengangkat wajah menatap wajah tampan di hadapannya yang tampak sedang sibuk dengan ponsel di tangannya.


"Hallo, Tante, masih di butik? Fina masuk?"


"......."


"Tolong bawain beberapa stel baju buat acara ultah papa, warna peach kalau ada, trus yang hijab, untuk cewek seukuran Fina, Suruh antar ke Depan kampus, lorong bintang, cari pondok cemara, kamar nomer 3."


"............"


"Hahaha...! Atur aja tante!"


"........"

__ADS_1


"Aku Transfer ntar harganya. Aku tunggu tante, bilangin Fina, jangan lama, Makasih!"


Ia mengernyit ke arah si pemaksa, berharap penjelasan dengan apa yang barusan di lakukan pria itu. Tapi alih-alih memberi jawaban, wajah datar itu malah memberikan kerlingan matanya sembari tersenyum samar. Ia seketika salah tingkah, sedikit melirik Mitha yang sedari tadi asyik dengan gadis kecil berpipi chuby.


Dalam hati Ia lega sebab sahabatnya itu tidak menyaksikan tingkah konyol si pemaksa itu. Tapi satu hal yang membuatnya amazing barusan, pria kaku itu tertawa, for the first time (untuk yang pertama kalinya).


"Bisa juga tertawa ternyata. Kirain cuma bisa senyum doang." Batinnya.


"Apaan sih, ngapain coba pake pesan baju segala, itu baju butik, pasti harganya di luar jangkauan dompet aku, astaga, nih orang sekaya apa sih, suka banget hamburin uang!" sungutnya lagi dalam hati.


Ia mencoba menatap tajam wajah yang telah kembali ke mode seperti biasa, datar plus manik membunuh. Ia menggeleng sebagai tanda kurang setuju tapi pria di hadapannya itu malah kian menajamkan tatapannya.


"Aku nggak suka penolakan!" Jawaban klasik itu lagi-lagi membuatnya jengah. Ia memilih berdiri hendak ke dapur, tapi suara bang yusuf seketika menghentikannya.


"Mau ngapain?"


"Buatin minum!"


"Nggak usah repot!"


"Ng_nggak repot, kok!" Kali ini Ia memberanikan diri memaksa agar Ia bisa lepas dari tatapan bang yusuf. Buru-buru Ia beranjak sembari tersenyum manis ke arah gadis kecil nan cantik di hadapannya.


"Bentar yah, cantik, Aunty bikinin minum dulu. Oh ya, di sini adanya cuma teh manis doang, nggak pa pa yah?" Ia mencoba rileks dengan berusaha menyapa gadis itu dengan gaya dibuat-buat seperti anak-anak.


"Farah nggak pernah minum teh, Aunty. Dirumah Farah biasanya minum susu. Kata bunda nggak boleh minum teh, ntar perutnya sakit," Gadis kecil itu berucap sembari menggeleng.


"Yaahh, uncle aja yah berarti yang di buatin teh nya. Kalau gitu, Aunty ke dapur dulu yah!"


"Ok, Aunty cantik!" Ia tersenyum, sekilas melirik wajah tampan bang yusuf yang sedang tersenyum tipis. Ia dengan cepat berlalu masuk ke dapur.


Ia menyeduh teh wangi yang tersedia, memberi gula sesuai takaran sewajarnya, mengaduk perlahan. Ia mencecap sesendok kecil, sekedar memastikan rasanya. Ia tersenyum getir, rasa manis teh buatannya kini tetiba menghadirkan kembali wajah Fahry yang sedang tersenyum sembari memuji teh buatannya,


"Teh nya manis, semanis yang bikin."


"Bang Fahry kok nggak pernah hubungin aku, sekedar tanya kabar atau apalah?" Gumamnya membatin.


"Lama banget. Gulanya blum larut, daritadi di aduk trus?" Sebuah bariton tepat di belakang telinganya sontak membuatnya kaget parah dan bulu kuduknya seketika meremang sempurna. sampai membuat teh panas yang sedang di aduknya sedikit tertumpah dan mengenai jari lentiknya.


"Aaoooww, aduh, panas, perih banget." Ia mengibas-ngibaskan jarinya sambil meniupnya, tapi belum lagi Ia sempat meniupnya tiba-tiba jarinya terasa hangat. Si pemaksa itu dengan sigap meraih ibu jarinya dan mengulumnya lembut. Ingatannya lumpuh untuk beberapa saat, seketika Ia merasa sekujur tubuhnya panas dingin, jantungnya berdebar cepat seakan saling berkejaran, hangat mulut dan lidah si pemaksa yang melekat erat di jarinya seketika menciptakan gelenyar aneh yang menjalari sekujur tubuhnya, meremang dengan begitu sempurna. Hingga saat Kesadarannya kembali, Ia buru-buru hendak menarik tangannya tapi tertahan oleh tangan kekar nan halus milik bang yusuf.


"Astaga, apalagi ini, ayolah bersikaplah biasa, Fathin! "batinnya merutuki kelemahan hatinya.


Ia menunduk, tak berani menatap wajah bersih nan memesona yang hanya berjarak beberapa centi dari wajahnya. Aroma maskulin yang menyeruak dari tubuh tegap itu seketika membawa ingatannya kembali pada sebuah pelukan erat menghangat. Wajahnya kini entah sudah seperti apa merahnya saking malunya. Berada dengan jarak sedekat ini benar-benar membuatnya kelimpungan mengatur degupan dada yang kian tak bisa diajak kompromi.


"M_maaf, Kak, i_itu jari aku udah nggak sakit." Ucapnya terbata, sebab tak sanggup lagi dengan adegan yang Ia rasa sebentar lagi akan benar-benar membuatnya pinsan jika tidak segera dihentikan.


"Lagi mikirin apa tadi?" tanya bang yusuf sesaat setelah melepaskan isapan jari nya. Masih dengan jarak sejengkal plus tatapan tajam yang sedari tadi tak pernah lepas dari wajahnya. Aroma mint yang terhirup olehnya dari hembusan nafas yang menerpa lembut wajahnya membuatnya kesulitan mengatur nafas. Lagi-lagi Ia bingung hendak menjawab apa. Ia tidak mungkin memberi tahu yang sebenarnya tentang Ia yang sedang memikirkan Bang Fahry. Entah hukuman apa lagi yang akan Si pemaksa itu berikan padanya jika Ia tahu soal ini.


"Ng_nggak, A_aku cuma lagi mikirin gimana nanti saat ketemu keluarga kakak, A_aku blum siap, Kak." Ia seketika menemukan jawaban untuk mengalihkan suasana hatinya.


"Gimana apanya. Kamu tinggal ikut ke sana, kenalan ama smuanya, selebihnya biar aku yang urus. Udah, kamu nggak usah mikir macem-macem."


"Harus yah aku ikut? ehmm, maksud aku, harus sekarang? lain kali aja yah, Kak, jangan sekarang, aku blum siap, please!" Ucapnya memelas, menangkup kedua tangannya berharap si pemaksa itu mengabulkan permintaannya, tapi jawaban klasik yang sudah Ia hafal mati bahkan intonasinya, lagi-lagi membuatnya down, merasa sia-sia saja berusaha. Sebab selain, suka memaksakan kehendak, muka datar, cuek, to the point tanpa basa-basi, pria di hadapannya itu asli keras kepala.


"Aku nggak suka__,"


"Penolakan! Iiihhh, Dasar pemaksa! Muka datar, kanebo kering!"


"Tuh tau!, makanya ikut aja, nggak usah banyak protes, kamu mau hukumannya aku tambah? hmmm?"


"Iya...iya.. apaan sih, taunya main ancam aja." Sungutnya sembari memberengut kesal. Tapi Ia benar-benar tak berdaya.


"Aku tunggu di depan," Bariton itu kembali terdengar dan sejurus kemudian pemiliknya tlah raib ke depan. Ia meraih cangkir teh dan dengan cepat menyusul pria itu bersama sungutan kekesalannya yang tiada henti. Merutuki nasib sialnya bertemu si pemaksa menyebalkan itu.


***

__ADS_1


*Yusuf


Meski sebenarnya Ia tak berkenan, tapi rengekan keponakan cantiknya, Farah yang bersikeras ingin ikut menjenguk Fathin, membuatnya mau tidak mau akhirnya mengikuti kemauan bocah itu. Seketika Ia tersenyum simpul, ponakannya itu benar-benar mewarisi sifat keras kepala dari kebanyakan keluarga mereka. Kebiasaan memaksakan sesuatu, apapun yang menjadi keinginannya, menjadi salah satu sifat dasar sebagian besar penghuni rumah besar itu.


Ia sedikit lega, saat pintu kamar kost di mana Fathin menginap terbuka, gadis itu sudah berdiri dengan wajah yang sudah segar seperti biasa, sedikitpun tidak menunjukkan tanda-tanda sakit. Ia tidak bisa menahan diri untuk tidak menatap intens wajah cantik di hadapannya itu.


Ia tak henti tertawa dalam hati membayangkan ekspresi wajah gadis itu saat memelas berharap acara ke ultah papanya batal. Tapi, Seperti biasa, Ia adalah Yusuf, yang tidak pernah bisa menerima penolakan. Apapun yang Ia ucapkan, itu adalah titah bagi gadis itu. Entah kenapa Ia seperti merasakan kepuasan tersendiri tiap mendapati wajah cantik itu menatap sdikit tajam kearahnya, memelas, bersungut kesal, mencebik, tersenyum manis atau tertawa lepas. Hal sepele yang berubah menjadi sesuatu sebab berasal dari wajah cantik bermanik sendu yang telah sukses mencuri hatinya sejak pandangan pertamanya di gerbang tiga kampus beberapa waktu lalu.


"Semanis yang bikin!" Ia mencoba bersuara, memuji teh buatan Fathin, berniat memancing ekspresi wajah cantik itu. Dan benar saja, manik sendu itu tetiba membulat dan menyipit kemudian, menatap ke arahnya. Mengunci untuk beberapa saat. Tapi selalu saja ada gangguan di moment eksklusif seperti itull. Tiba-tiba ponselnya berdering pertanda panggilan masuk. Milirik sejenak ke layar handphonenya. Di sana tertera nama Tante Randa,


"Iya, Tante, gimana?"


"Suf, itu, fina udah jalan, Dia tau kok alamatnya soalnya katanya teman kuliahnya ada yang ngekost di situ juga."


"Ok, makasih, Tan."


"Iyah, Nak, sama-sama."


Ia masih mengotak-atik ponselnya. Kali ini Ia melakukan panggilan ke nomor hp Fina, sepupu dari jalur Ibu, yang kerja parttime di butik Tante Randa, Adik papanya.


"Hallo, Fin, lo nggak usah ke kampus, kita ketemu di tempatnya Theo aja, Ok? "


"Ok, Siap, Kak! btw, bukan Theo tapi Tia, nggak dilayanin ntar kalau do'i di panggil Theo."


"Berani dia? Gue tutup tuh salonnya ntar kalau brani macem-macem. "


"Hahahaha! Ya udah yah, Kak. lagi di atas motor nih!"


"Ok, see you!"


Ia mengakhiri panggilan. Menatap kembali Wajah di hadapannya, yang nampak gelisah.


"Kita jalan sekarang!" Ajaknya pada gadis itu.


"A_aku ambil tas dulu." Sahut Fathin sembari beranjak masuk ke sebalik tirai pemisah antara tempat tidur dan ruang tamu dimana Ia berada.


"Farah, let's go!" Ia memanggil ponakan cantiknya yang tanpa Ia sadari telah di bawa menjauh oleh gadis yang menjadi sahabat Fathin sedari tadi. Sudut bibirnya tertarik sedikit. Dalam hati Ia memuji kedewasaan gadis itu. Ia tidak membiarkan adegan antara Ia dan Fathin disaksikan anak sekecil Farah. Astaga bahkan Ia tak bisa berfikir ke arah sana.


Ia benar-benar melupakan segalanya bila sedang berada di hadapan Fathin, si gadis bermanik sendu itu. Pesona kecantikan gadis itu sungguh tak terbantahkan.


"Mau ikut?" Tanyanya ke arah gadis yang berjalan menggandeng tangan Farah.


"Hehehe....! Nggak, Kak. Saya udah janjian sama temen soalnya. iyah. Lain kali aja, Kak!" Sahut Mitha cengengesan.


"Ya udah, kita jalan dulu,"


"Siaap, Kak!"


"Yah, kok Aunty Mitha nya nggak ikut? Farah kan mau kenalin Aunty juga ke Ayah sama Bunda." Tiba-tiba ponakan cantiknya itu memberengut.


"Iyah nih, Aunty lagi ada urusan yang penting..... banget. Lain kali aja yah, sayang!"


"Promise (janji)?"


"Yes, I'm promise (iya, Aunty janji)."


Sekilas Ia melirik Fathin yang nampak kian gelisah. Ia menyeringai puas. Kali ini Ia sudah bertekad untuk mengenalkan Gadisnya pada seluruh keluarga besarnya. Ia sama sekali tidak perduli dengan perbedaan status yang selama ini dikhawatirkan oleh gadis itu.


"Kamu harus jadi milikku, Gadis!" Batinnya yakin.


Mereka bertigapun beranjak keluar setelah acara pamitan yang menurutnya sdikit dramatis. Entah kenapa kali ini, Ia membiarkan pemandangan menggelikan terjadi di hadapannya. Lagi-lagi Ia tersenyum simpul. Berjalan beriringan, bertiga dengan menggandeng anak kecil seperti itu menjadikan mereka nampak seperti sebuah keluarga kecil. Gadis itu menggandeng tangan Farah yang tak henti bercerita apa saja. Dadanya seketika menghangat.


"Damn it!"


"Apa-apaan ini. Lama-lama gue bisa gila nih!" Umpatnya merutuki diri sendiri yang Ia rasa kian jauh melenceng dari dirinya yang sebenarnya.

__ADS_1


****


TBC>>>


__ADS_2