
* Yusuf
Lalu lintas jalan kota Kendari malam ini cukup ramai. Ia melajukan kendaraannya dengan kecepatan sedang. Melewati rute by pass yang level kepadatan kendaraannya minimalis, meski belum terbilang sunyi. Tapi lumayan, ketimbang Ia harus melewati pusat kota yang padat merayap.
Ia menyetir sembari mengetuk-ngetuk stang stir mobilnya. Sesekali melempar pandangannya ke sisi kiri_kanan jalan saat melewati tempat-tempat nongkrong para pasangan muda-mudi yang sedang di lambung oleh indahnya masa memadu kasih. Saling melempar senyum dan tangan menguntai erat.
Sudut bibirnya tertarik. Pemandangan menggelitik itu praktis mengalihkan lamunannya pada wajah ayu Fathin, wajah yang belakangan kian sering bersemburat merah. Ia bisa sedikit percaya diri kini. Tak sekedar menerka-nerka lagi jika rasa yang Ia tawarkan pada gadis memesona itu telah bersambut. Dengan rasa yang sama tentunya.
"I've got you, I'm sure!" Pekiknya sembari memukul stir. Wajahnya berubah sumringah.
Bagaimanapun, Ia cukup mahir untuk rumus yang satu ini. Jika pipi wanita sering terlihat merona, tersipu malu saat bersitatap ditambah mulai menunjukkan perhatian maka hasilnya sama dengan Ia sedang jatuh cinta. Lagi-lagi senyum selebar duchenne smile menghiasi wajah tampannya.
Ia hanya butuh waktu kurang lebih lima belas menit untuk tiba di lokasi yang di sebutkan Gery sang sahabat di panggilan teleponnya sebelumnya.
Sebuah area eksklusif sepanjang teluk di pesisir kota, yang di penuhi puluhan caffe bertema outdoor. Beberapa malah hanya berupa caffe tenda dengan sajian beragam kuliner dengan harga merakyat.
Ia memasuki sebuah gerbang mini sebagai pintu masuk. Membayar tagihan sewa parkiran untuk kendaraan roda empat. Sejurus kemudian mobil kesayangannya itu telah berada pada posisi ternyamannya dengan posisi siap keluar. Sejatinya Ia tidak suka jika harus saling berdesak-desak saat keluar dari area sesempit itu.
Bip.. bip..
Ia mengunci mobil seraya berjalan gagah. Lagi-lagi tanganya masuk ke dalam saku celana casualnya. Melenggang santai melewati puluhan mata liar para wanita pengunjung beberapa caffe, yang menatapnya penuh rasa damba. Seperti biasa, wajah datar plus cueknya selalu menjadi sihir pemikat lawan jenis.
"Suit...suit.. mampir dong ganteng!"
"Gratis juga aku mau, kok, Bang!"
"Aduhh, bodynya si Mas pelukable banget!"
Di antara seruan dari para pengagum itu. Dengan gaya centil dan suara yang mendayu-dayu. Mendadak perutnya terasa mual mendengar sepik-sepik yang entah kenapa kali ini Ia rasa menjijikan. Padahal suara-suara "khas" semacam itu bukan sekali dua kali mampir di telinganya.
Buru-buru Ia menambah lebar langkahnya.
Kembali menyapukan pandangan ke kiri kanan teluk tersebut. Tak ada satupun sudut yang tak terisi kumpulan orang.
Pencahaan seadanya ditambah hingar bingar musik yang bersahut-sahutan antara satu caffe dengan yang lainnya menambah kesan erotis yang terasa kian kental. Ia sedikit meragukan pilihan Gery soal lokasi yang menurutnya kurang sinkron dengan tema acara.
"Ck, ini gimana sih, katanya ngobrolin agama, kok di tempat kayak gini sih? ini mah judulnya Yang di omongin apa, tempatnya gimana." Sungutnya sembari memijit ujung hidungnya.
Di depan sana netra elangnya sudah melihat Gery sang mantan residivis insyaf bersama sekumpulan pria multi style sedang duduk santai mengelilingi sebuah meja besar.
Nampaknya acara "Ngopi" itu sudah berjalan sedari tadi sebab sajian makanan-makanan berupa dessert juga minuman pendampingnya masing-masing sudah berkurang.
"Gue telat lama nih kayaknya." Ucapnya pada diri sendiri.
Ia kian dekat. Mulai liar menyapukan pandangan ke seantero wajah-wajah yang nampak antusias mendengar salah seorang dari mereka dengan style semi agamis, sedang memberi semacam tausiyah ringan tapi lebih mirip sharing biasa sebab bahasa yang digunakan lebih santai.
Pria itu mengenakan setelan celana sirwal cingkrang warna gelap berpadu kemko warna abu cerah. Di kepalanya bertengger songkok ala pejuang taliban. Alisnya sedikit terangkat menatap wajah gagah itu.,
Meski pencahayaan di sana kurang terang, namun wajah bersih dengan janggut yang menghiasi nya, terlihat memancarkan cahaya yang membuat pria itu nampak gagah penuh karisma.
Gery yang melihat kedatangannya langsung mengangkat tangan melambai kearahnya bersama senyum lebarnya. Ia sedikit menelisik wajah gagah itu, yang kian lebat ditumbuhi janggut di hampir sepanjang garis rahang dan dagunya.
"Hai, Brow, Assalaamu'alaikum.!" Gery dengan gaya yang kian karismatik berdiri menyalami. Ia pun manjawab salam tersebut sembari balas menjabat tangan sahabatnya itu erat, menyilangkan ibu jari dan terakhir mengadu kepalan tangan, fist bump.
Pria berjanggut tadi sejenak menjeda ulasannya. Memberi senyum bersahabat dan ikut menyalaminya ramah.
"MaasyaAllah. Alhamdulillah Allah hantar lagi satu hamba pilihan untuk berbagi kebaikan. Alhamdulillah." Ucap pria itu dengan semangat empat_lima.
Entah kenapa saat manik keduanya bertemu, ada secercah rasa tenang, tenteram namun berselimut gelisah yang entah apa dan mengapa.
Wajah tenang dan teduh bercahaya itu mendadak mengingatkannya pada Sang Pencipta yang telah cukup lama di "abai" kannya.
Seketika hatinya nelangsa, gelisah dan sedikit ciut kala tangan nya di jabat erat oleh pria itu bersama ucapan salamnya. Ditambah ungkapan "hamba pilihan" yang di dengarnya barusan, benar-benar membuatnya bingung dengan apa maksudnya.
"Gue kenapa gelisah gini yah, nih orang lagi melet gue apa gimana sih?" Batinnya.
Meski masih diliputi tanda tanya di hati, tapi Ia berusaha sebiasa mungkin menjawab salam lengkap itu, juga dengan senyum ramah.
Satu persatu semua personil tersebut berdiri menyalaminya. Beberapa di antaranya malah merangkul sedikit mengadu bahu.
Ia mulai menginsyafi kekeliruan persepsinya sebelum ke tempat tersebut. Sebelumnya Ia membayangkan sebuah acara penuh khidmat yang diisi ceramah agama, yang Ia rasa horor, sebab selalu berbunyi ancaman neraka dan adzab-adzab yang mengerikan lainnya.
Sempat berfikir enggan untuk hadir, sebab menurutnya Ia akan menjadi seperti "vocal point" di tengah-tengah para hijrah mania ini.
But, No! Ia malah menjumpai banyak dari "audience" itu, wajah-wajah sangar dengan tampilan khas preman kelas kakap. Ia sedikit familiar dengan hampir semua wajah tersebut. Bukan sekali dua kali Ia berjumpa orang-orang itu meski sekedar berpapasan di beberapa club malam.
Mendadak skill interpersonalnya bereaksi cepat berjumpa jiwa-jiwa se_server dengannya. Dengan lagak sok akrab seakan telah kenal lama, Ia ber high five penuh semangat.
"Sehat, Bang?"
"Sehat, sehat. Kemana aja lama nggak keliatan?" Salah satu dari mereka bertanya sembari menepuk bahunya pelan.
"Biasa, Bang, lagi focus cari bini. Bosan gua "solo karier" mulu." Sahutnya asal, berniat mencairkan suasana. Semua terbahak kecuali Gery dan pria itu. Keduanya hanya terkekeh kecil.
"Sorry, sorry, just kidding!" Imbuhnya terkekeh.
__ADS_1
"Oh yah, kenalin, Bang, ini Yusuf. Sahabat terbaik yang gua bilangin kemaren itu. Dan Suf, ini Bang Thoriq, Abang keren yang Gua omongin ke lu waktu itu." Ucap Gery mengenalkan keduanya.
"Semua, kenalin, sahabat Gua, Yusuf. Pasti udah kenal kan, yang punya Hotel di depan tuh."
Gery berseru untuk kesekian kalinya sembari menunjuk sebuah hotel besar yang berdiri megah tepat di depan pintu keluar area eksklusif itu. Tapi di kali yang ini, Ia sontak menatap tajam wajah sahabatnya itu.
Pada dasarnya Ia kurang berkenan jika berteman tapi membawa embel-embel nama besar keluarga. Tapi yang di tatap malah terkekeh.
Tapi sejurus kemudian focusnya beralih. Mengangguk mengerti. Mulai mafhum bahwa "keren" yang dimaksud Gery adalah pembawaan yang karismatik dan menenangkan hati saat bersitatap. agree!
"Oh yah? sesuai kargozari lu, keren dan gagah. Kalau Gua liat InsyaAllah bakal jadi salah satu "Umar" di akhir zaman ini." Bang thoriq berucap dengan mimik yakin.
"Aamiin.. I hope so!" Gery berucap tulus. Dan Ia bisa liat itu dari sorot mata juga gerakan tangan yang menyapu wajah, khidmat saat berucap amin.
Hatinya mulai tergelitik. Otak kritisnya mulai membenak banyak pertanyaan yang selama ini belum pernah terpuaskan dengan jawaban-jawaban klasik yang diterimanya dari kawan-kawan rohis di kampus.
Aura Bang Thoriq seakan memiliki maghnet kuat yang membuat siapapun betah mendengarnya berbicara.
"Mungkin biar sharingnya lebih ngena, gimana kalau Abang intro dulu." Gery memberi usul.
"InsyaAllah.. Ok!"
"Sambil nunggu yang lain datang, Gua mau berbagi kargozari pengalaman, gimana Gua bisa kayak skarang." Dengan gaya santai Bang Thoriq mulai bertutur tenang.
"Dulu..., hidup Gua kacau dan hancur banget. Hidup bebas tanpa mau diikat aturan apapun. Ya, Gua sih mikirnya, kita kan manusia merdeka, ditambah kita hidup di negara demokrasi, so bebas dong, terserah kita mau ngatur hidup kita gimana."
"Semua lakon buruk bahkan yang paling buruk kayaknya udah Gua lakuin smua. Nyuri, mabuk-mabukan, judi, nyabu, nipu, ngehabisin orang, berzina....," Pria itu menjeda.
"Jangankan mau nyembah Tuhan, kenal aja nggak. Ck... Astaghfirullah!" Bang Thoriq berdecak disertai mimik penuh sesal. Menggeleng sembari memohon ampunan.
"Gua lahir dan besar dalam keluarga yang ngaku Islam tapi syahadat aja nggak tau, Brow. Ditambah pergaulan Gua ama sesama pengagum dunia kelam, fix bikin Gua makin tenggelam dalam lumpur dosa yang nggak ada ujung sama skali."
"Kalau pernah dengar nama daerah ......., di Palu, itu syurga dunia bagi para penyembah dunia gelap. Di tempat itu lu bakal nemuin semua model kejahatan." Bang Thoriq berhenti sejenak. Meneguk air mineral yang telah berkurang setengah. Menutup kembali botol tersebut lalu melanjutkan,
"Gua sampe punya wisma prostitusi di sana. Tempat itu multi fungsi. Gua jadiin casino, bandar judi juga transaksi sama pesta narkoba. Markas **** bebas terbesar di......... !" Ucapnya sembari menyebut nama daerah yang di maksud.
"Tapi lu tau, tempat terburuk yang harusnya Allah swt udah turunin adzab di situ, Gua malah dapat hidayah di tempat itu." Bang Thoriq kembali menghela nafas berat.
"Gimana critanya tuh, Bang?" Ia yang sedari tadi mulai hanyut dalam cerita, tak bisa menahan diri untuk tidak menyela, bertanya. Beberapa wajah sangar itu mengangguk sepakat, terlihat antusias menunggu kelanjutan cerita.
"Jadi gini, waktu itu ada satu rombongan jamaah tabligh, jamaah dakwah yang biasa di sebut jemaah kompor ama orang-orang, lagi "gerak", keluar dakwah selama empat bulan di tempat Gua."
Gery nampak tersenyum simpul sembari meliriknya. Mungkin teringat akan istilah "jamaah kompor" yang pernah di sematkannya untuk kelompok tersebut. Ia ikut tersenyum samar.
"Yang bikin gua heran bin takjub, Gua masa bodoh gitu malah bikin mereka lebih smangat datangin gua tiap saat. Gila tau nggak?"
"Sampai akhirnya Gua udah nggak tahan ama "ocehan" mereka yang nggak ada bosan-bosannya manggil Gua shalat sebelum di shalatin. Gua ngajakin geng brutalan langganan "wisma" Gua buat gebukin tuh jamaah rame-rame."
"Gua kira mereka bakal nglaporin ke polisi, ternyata nggak. Malah bikin Gua nggak habis pikir, besoknya orang-orang itu masih nggak kapok, datang lagi, masih dengan seruan yang sama. Dan waktu itu gua lagi nggak mabok."
Semua tergelak untuk pertama kalinya, tak terkecuali dirinya. Ia malah sambil berseru,
"Kalau waktu itu mikirnya pasti lagi apes yah, Bang?" Ia masih terkekeh kecil.
Bang Thoriq kembali tergelak.
"Apes yang nyelamatin jadinya."
"Gua ingat banget waktu itu yang jadi mutakallim (pembicara) adalah Bang Abudzar, mantan preman yang pernah "pegang" pasar......., di Makassar." Lanjut abang itu sembari menyebut nama pasar terbesar di kota Makassar.
"Katanya gini, Kita ini adalah hamba Allah swt yang udah dipersaudarakan oleh Allah dengan Islam. Hubungan kita kuat, diikat oleh satu kalimah yang Agung, kalimah yang mulia, kalimah yang karenanya Allah ciptakan langit dan bumi beserta seluruh isinya. Kalimah yang kemudian menghantarkan kami ketempat ini untuk mengajak Antum kembali kepada kebaikan. Kalimah yang menjadi sebab selamatnya kita di dunia hingga akhirat, Laa Ilaaha IllaLLah! "
"Trus katanya lagi, Allah kuasa, Makhluk tak kuasa, dunia hanya tempat singgah, tempat meninggal bukan tempat tinggal. Tempat tinggal kita yang sebenarnya adalah akhirat yang abadi."
"Dan di alinea yang terakhir ini,
Gua bener-bener ngerasa tertampar habis-habisan.
"Tapi Gua juga kayak ngerasa ada hawa sejuk yang bikin hati Gua tiba-tiba bergetar, badan gua kayak meremang takut dan sumpah, waktu itu Gua pengen nangis, entah untuk apa dan karna siapa, Gua bingung. Orang itu ngomong gini,
"Saya, Antum (anda) , kita semua jumpa di tempat ini bukanlah suatu kebetulan belaka. Bukan sebab kami yang berkeinginan untuk datang ke sini, tapi semua ini adalah kehendak Allah swt."
"Allah inginkan kebaikan datang dalam hidup antum. Banyak kebaikan yang terhijab dari kasat mata lemah manusia, yang Allah pandang dalam diri antum, hingga Allah berkehendak hantar kami ke tempat ini."
"Allah inginkan Antum mendekat pada_Nya. Allah ingin Antum menyambut uluran "tangan" ranmat Allah berupa cahaya Hidayah ke dalam hati Antum. Allah sungguh sayang pada Antum hingga tak memberi kami alasan untuk berhenti mengajak Antum menuju kasih sayang Allah."
"Shalat, Bang! Allah cuma ingin kita selamat dengan menunaikan perintahnya. Shalat sebelum di shalatin!" Bang Thoriq kembali menjeda ucapannya.
Ia terhenyak saat mendengar kata,
"shalat sebelum dishalatin".
Bak sebuah dam raksasa yang tetiba berdebam keras, menghalau mimpi yang melenakan "tidur panjang"nya selama ini dan membuatnya terbangun seketika.
Padahal bukan sekali ini saja Ia mendengar ungkapan semacam itu. Tapi entah kenapa kali ini Ia begitu terkesan. Harus Ia akui betapa selama ini, Ia tak pernah menganggap penting satu perkara ini.
__ADS_1
Jangankan yang lima kali sehari, rutunitas seminggu sekali yang wajib bagi pria pun tak sekalipun membuatnya tertarik meski sekedar unjuk identitas ke_islamannya. Ia hanya pernah sekali dua kali mengikuti shalat Ied yang dilakukan sekali setahun. Ironis!
Ia menyeringai, menunduk dalam mulai menyesali diri. Rentetan pelanggaran demi pelanggaran akan perintah Sang Khalik, perlahan muncul satu persatu bak slide film yang berputar. Menambah subur bibit-bibit rasa sesal di dalam sana.
Meski tak se_kelam alur hidup Bang Thoriq atau Gery sahabatnya, Tapi tetap saja, dosa tetap dosa kan?. Harus ada harga yang harus di bayar dari pelanggaran-pelanggaran itu. Ada banyak nota kecerobohan yang mesti kita lunasi.
Batinnya mulai menghimpun ribuan kecamuk menggelisahkan. Bisakah semua harga pelanggaran dan Nota kelalaian itu Ia tebus? lalu dengan apa? apakah ini bisa seperti barter? membayar semua nota keburukan itu dengan lembar kebaikan biar impas?
Lamunannya terhenti saat beberapa pemuda yang lebih muda darinya baru tiba di tempat tersebut. Bang Thoriq kembali menjeda sejenak.
Dengan wajah berbinar menyapa lima orang personil baru itu. Dua di antaranya Ia kenal.
Mahasiswa semester akhir jurusan komunikasi publik di Fisip. Tiga orang lainnya adalah pemuda dengan tampilan rapi dan cool. Di lihat dari tampilan nya, sepertinya ketiganya adalah pengusaha-pengusaha muda.
Semua kembali saling menyalami dan menyapa ringan.
"Akhirnya Gua pasrah, ikutin tuh ke masjid. Nyampe di sana pas lagi ada bayan atau ceramah. Yang bayan Ustad jebolan Pondok Kerincing. Materinya tentang bagaimana Maha baiknya Allah ama kita. Bener-bener merefleksikan keadaan Gua saat itu."
Mata pria itu mulai berkaca-kaca. Semua yang hadir seakan ikut hanyut dan menyatu dalam keharuan kisah tersebut
"Waktu itu Gua nggak pulang, langsung ikut jamaah selama tiga hari. Selama tiga hari itu Gua di ajarin wudhu sama shalat. Dan lu tau yang ngajarin Gua malah orang yang pernah Gua gebukin malam itu. Gua ampe mikir, nih orang-orang hatinya kayak apa sih."
"Satu yang nggak akan pernah Gua lupa. Yaitu gimana rasanya pas Gua shalat untuk yang pertama kalinya seumur hidup Gua. Apalagi pas tahajjud malam pertama, MaasyaAllah.. Gua tuh nangis kayak perasaan Gua udah mau mati, Bro."
"Ampe skarang Gua nggak pernah tau, kebaikan yang mana yang Allah pandang dalam diri Gua, hingga tanpa aba-aba, tanpa tawar menawar Allah ngirimin Gua orang-orang yang mau dengan sabar ngajak Gua balik dekat ma Dia"
"Allah itu terlalu baik. Sumpah, Gua malu banget, setelah semua maksiat yang Gua lakuin tapi Allah masih ngasi kesempatan Gua tobat."
"Dan Gua yakin, kita semua jumpa di tempat ini bukan kebetulan. Tapi ada maunya Allah di balik ini. Allah udah milih antum semua untuk jadi hamba yang kembali."
"Gua yakin, ada banyak kebaikan yang Allah liat dalam diri abang-abang semua yang nggak kebaca ama manusia lemah seperti kita. Allah inginkan kebaikan itu datang dalam diri abang-abang smua. Nabi saw sampaikan bahwa,
"Jika Allah menginginkan kebaikan untuk seorang hamba maka ia akan difahamkan atas agama."
"Abang-abang mau di ajak ke sini, itu udah indikasi kalau Allah udah beri secercah hidayah dalam hati abang-abang smua. Mau luangin waktu dengerin kita ngalor ngidul itu Allah udah buka satu tabir kebaikan. Sisanya Gua tunggu besok di Masjid ........, kita sama-sama "keluar" belajar agama, dengerin ayat-ayat Allah sama kisah-kisah orang yang sukses dunia akhirat."
"Jangan nunda Tobat, Bro! mati tuh nggak nunggu lu nyadar dulu. Dunia sementara akhirat selama-lamanya. Allah kuasa makhluk tiada kuasa. Laa ilahaa....... "Bang Thoriq menjeda menunggu semua menyambung kalimah itu. Semua akhirnya berseru lantang penuh semangat,
"Ilallah! "
Entah kenapa saat menyebut kata "IllaLLah" seluruh tubuhnya meremang sempurna. Hatinya bergetar. Semua kalimat demi kalimat yang di ucapkan Bang Thoriq sejak awal begitu mempengaruhinya. Manik coklatmya malah ikut berkaca-kaca. Hati yang sekian lama kosong, hampa, gelisah tak pernah terasa tenang perlahan berubah.
Serasa ada sebuah hawa yang begitu sejuk menyapa jantungnya. Menenangkan. Ada suatu rasa yang begitu buncah yang entah apa. Ia sendiri tidak mengerti. Kekosongan di dalam sana menuntut secepatnya di isi. Gelisah yang ada selama ini menggerogoti di dalam sana menuntut di tentramkan.
Tanpa bisa dicegah meski masih ada se_noktah ragu, belalai syetan yang menggelitik dadanya hendak menghalanginya dari semburat cahaya hidayah yang memaksa masuk ke dalam hatinya, Ia pun akhirnya menerima ajakan Bang Thoriq untuk khuruj tiga hari.
"Gue siap, Bang!" Ucapnya mantap penuh keyakinan.
Gery yang sedari tadi sibuk menyusut airmata di sudut netranya seketika berbinar. Tanpa basa-basi langsung berdiri merangkulnya sembari berucap semangat, masih dengan mata berkaca-kaca.
"Hari ini Allah ngabulin do'a Gue. Nggak sekalipun Gue minta sesuatu sama Allah kecuali Gue minta Allah ngembaliin lo. Lo orang baik. Allah nggak pernah lalai dari melihat semua kebaikan lo selama ini."
"Gue juga." semua pria se-server dengannya tiba-tiba berteriak kompak.
Keduanya melepas rangkulan. Menatap bergantian semua yang hadir dan heyy, semua ikut berkaca-kaca. Sedramatis inikah rasanya "kembali" Tuhan?
"Kita juga mau, Bang coba-coba!" Seru tiga pemuda berpenampilan cool tadi
"Hahaha..! Semua memang harus dicoba kan? InsyaAllah antum bakal ketagihan. Yang ini candunya permanent InsyaAllah. Spiritnya bakal ngalahin etos kerja lo smua." Bang Thoriq tergelak.
Kali ini Ia kembali mengakui jika Abang yang satu ini memang keren, seperti kata Gery.
Semuanya ikut tergelak.
Tanpa terasa malam kian beranjak menyapa waktu dini hari yang mengawali datangnya shubuh. Perbincangan panjang lebar tapi entah mengapa tak sedikitpun membuat semua bosan.
Bang Thoriq memang memiliki skill retorika yang luar biasa. Paparannya asyik, teratur dan lebih banyak memberi semangat dengan menceritakan fadhilah (keutamaan amal) ketimbang memberi ancaman horor yang bisa menciutkan nyali para pendosa semacam dirinya.
"Ok smua, Gue tunggu di masjid........ besok. Kebetulan ada rombongan jamaah dari Bandung lagi "gerak" empat bulan keliling sulawesi tenggara." Seru Bang Thoriq menyebut nama sebuah masjid besar di bilangan kampus lama yang menjadi "markas" dakwah Sulawesi Tenggara.
"Siap, Bang!" Serempak semua menyahuti.
"Biar kelalaian atau omongan ngelantur kita nggak di tulis ama malaikat kita tutup dulu majelis kita ini dengan Do'a kaffaratul majlis."
"Kaffarah itu maksudnya pengganti. Dengan baca Doa ini kita pengen semua pembicaraan kita barusan bisa jadi pengganti dosa-dosa kita menjadi kebaikan-jebaikan. Hidayah InsyaAllah." Ucap Bang Thoriq.
Sejurus kemudian Ia ikut menunduk khidmat mengamini sebab Ia belum ngeh dengan lafal do'a tersebut.
"Subhaanakallaahumma wa bihamdika, asyhadu al-laa ilaaha illaa anta, astaghfiruka, wa atuubu ilaik."
"Maha Suci Engkau ya Allah, aku memujiMu. Aku bersaksi bahwa tidak ada sesembahan yang berhak disembah kecuali Engkau, aku minta ampun dan bertaubat kepada-Mu."
Semua nya pun berpisah setelah saling menyalami, tos ala laki andalan, Fist bump.
TBC>>>
__ADS_1