
* Yusuf
Biasanya Ia selalu menghindari acara semacam ini. Bukan menganggap tak penting, tapi lebih karna Ia malas selalu menjadi center di komunitas manapun di seantero jagad kampus itu.
Pergaulannya yang begitu luas tanpa pandang bulu, membuat tak ada satupun mahasiswa yang tak mengenal dirinya kecuali para new comers, tentunya.
Tak terkecuali malam ini, saat tanpa sengaja hadir di acara makrab mahasiswa FKIP sebab menemani sang pujaan hati, Ia sontak jadi alasan keriuhan para panitia dan senior lepas yang ikut hadir di giat kali ini.
Herdin malah meminta kesediaannya mengganti posisinya menjadi pembicara, saat sesi pembekalan bertema fungsi mahasiswa. Berkali-kali menolak tapi tatapan penuh permintaan dari Fathin pada akhirnya membuatnya give up.
Astaga! Ia bahkan tak mampu menolak keinginan gadis tersebut meski hanya dengan isyarat seperti itu. Amazing!
"Alhamdulillah, a rare moment, kali ini kita kedatangan Abang idola kita, Jenderal kampus kita yang ganteng permanent, yang all about him, you won't know him, if you're not close to him."
Ia tertawa pelan sembari menggeleng mendengar intro dari Arga, sang MC.
"Too much!" Ucapnya masih menggeleng bersama senyum simpulnya.
Seperti biasa Ia selalu dengan gaya santai, cuek tapi tetap cool. Berdiri dengan tangan kanan memegang Mic, tangan kiri bersembunyi di saku celana. Masih dengan senyum yang mendadak membuat semua mata seakan terbius ke arahnya.
Pertama-tama Ia mengucap salam. Memuji Sang Penguasa jagat. Tak luput melafal shalawat dengan fasihnya kepada baginda Nabi saw. Meski Ia bukan muslim yang taat tapi Ia cukup aware dengan hal prinsip seperti itu.
Menyapa kawan-kawan panitia, senior lepas yang ikut hadir juga ratusan maba yang nampak antusias menunggu.
"First of all, Gue mau jujur dulu kalau ini bukan passion gue. Yang ahli juga pas ama materinya ini yah, ketua terganteng kita ini. Bang Herdin. Nggak tau tiba-tiba beliau limpahin ini ke gue. But, no problem, gue anggap ini kado yang mendahului moment.. Bentar lagi gue mo merid."
Sorot mata nya kini benar-benar tertuju pada gadis bermanik sendu_nya. Wajah yang seketika itu lansung menunduk. Meski agak jauh, Ia yakin wajah itu pasti sedang tersipu. Lagi-lagi Ia mengulum senyum. Menawan.
"Yuhuuuuuuuuuuu...........!" Semua bersorak.
"Ok!"
"Mahasiswa...!" Ia menjeda.
"Sebuah status akademik tertinggi. Golongan Intelektual muda dengan segala compleksitas nya. Ia adalah kebanggan skaligus tantangan, peluang skaligus ancaman. Ia juga sebuah idealisme skaligus Realitas. Dunia bebas berekspresi tanpa takut intervensi." Lanjutnya.
Ia berbicara pelan, tenang, teratur dan sedikit penjiwaan meski masih dengan gaya santainya.
Kali ini para maba itu pasti tidak akan percaya jika yang sedang berbicara di depan mereka itu adalah pria paling bebal, cuek masa nodoh, paling anarkis jika ada cecunguk pendatang baru yang ingin unjuk taring di kampus hijau tersebut.
"But, Terlepas dari apa dan siapa mereka ini, yang jelas ada banyak tanggung jawab skaligus peran moral yang praktis dan otomatis memerangkapnya. Terutama sebagai bagian dari bangsa dan negri ini."
Mendadak semua terhipnotis mendengar ulasan panjang kali lebar yang Ia sampaikan. Ia mengawali dengan mengisahkan bagaimana
Sejarah mencatat kalangan muda di Indonesia sebagai kalangan terpelajar yang telah menggerakkan perjuangan bangsa.
Memaparkan bahwa sejarah reformasi tahun 1998 adalah catatan kegemilangan perjuangan mahasiswa dalam menuntut keadilan di negerinya sendiri. Bahwa saat rakyat tak bisa bicara, mahasiswalah tonggak terdepan yang seharusnya mengaspirasikan suara masyarakat.
Bagaimana seharusnya mahasiswa berpolah dalam menjalankan fungsinya sebagai Agent of change (Agen perubahan), Iron stock (Penerus bangsa), Social control (Pengendali sosial), Force moral (Kekuatan moral) juga Sang Guardian of value (Penjaga nilai-nilai).
Bagaimana men_sinergikan lima kekuatan fungsi ini demi perubahan dan perbaikan dalam setiap lini kehidupan berbangsa dan bernegara.
Tak nampak sedikitpun wajah-wajah boring dari para audiens mendengar Ia ngalor ngidul, sebab sesekali Ia menyelipkan jokes ringan di sela-sela pembicaraannya. Hingga di ujung kalimatnya, sebagai penutup Ia berseru,
"Gue ngomong ini, jujur agak kesentil juga ama omongan gue sendiri. Soalnya, gue minjem Wise word nya anak bahasa, "Jauh panggang dari api." nggak sinkron talk ama action."
"So, gue bilang ini bukan cuma buat adik-adik semua tapi self reminder juga buat gue. Gue minjem lagi kata-katanya bang Gery, Senior gue yang udah tobat, lari "kabur" ninggalin Gue, katanya ngomong kebaikan itu hakikatnya kita lagi ngingetin diri sendiri sebab telinga yang paling dekat ama mulut kita ya telinga sendiri."
"Tapi benner, ngomong ini gue jadi sadar, ternyata gue udah cukup lama "tiduran" di kampus ini."
"Hahahahhhha...!" Semua terbahak tak terkecuali para maba.
"Hahaha! Tapi "tiduran" nya keren, Bang, bikin "melek" banyak orang." Seru Rasdan, ketua HMPS (Himpunan Mahasiswa Program Study) Sejarah sembari tergelak.
Semua tertawa untuk kesekian kalinya.
"Well, The last but not least, percayalah satu-satunya yang abadi di dunia yang fana ini adalah Perubahan. So, jangan jadi pecundang dengan membiarkan masa berlalu dan pergi tanpa menorehkan satu perubahan di dalamnya."
"Trimakasih untuk kesempatan ngalor ngidul ini!"
''Push your limit. Put your hands up and shout,...''
"Hidup Mahasiswa!" Ia mengacungkan kepalan tangannya ke atas. Semua ikut berteriak antusias,
"Hidup Mahasiswa!"
Ia tersenyum ke arah semua dan menutup ulasannya dengan kembali memberi salam. Berjalan menuju kumpulan panitia-panitia yang menatapnya dengam binar semangat baru. Lagi-lagi memberi kepalan tinju untuk di adu, tos ala laki andalan, fist bump. Ia memang selalu menjadi "vocal point" di komunitas manapun. as usual.
"Thanks, Bang!" Ucap semua hampir bersamaan.
"Aman nggak, nih?" Sahutnya niat bergurau sembari menyalakan rokok yang sudah sedari tadi ingin di hisapnya.
"Kalau gue di depak dari fakultas gue, Lo yang tanggungjawab. Nyuruh gue jadi Tuan rumah di negri orang."
"Hahaha..! Ini jagat bebas, Komandan! Lagian untouchable gini ama aturan kampus, makanya gue brani." Lagi-lagi Herdin terbahak di sana.
"Ok, semua. Silahkan di lanjut. Gue nggak bisa lama, geng preman insyaf ngundang gue acara "ngopi." Serunya sembari mengangkat tangan ke atas, isyarat permisi.
"Siaap, Bang!" Serempak panitia maupun senior itu menyahut kompak. Beberapa dari mereka masih sempat berseru,
"Kita dukung banget, Bang! Udah Idealis ditambah religius bakal jadi bius beneran."
__ADS_1
"Itu acaranya keren, Bang! Ngopi alias Ngobrol perkara iman. Gue pernah di ajak Bang Arsyil, yang anak pertanian ikut. Itu acaranya di liput ama Kendari TV."
"Oh, ya! kalau gitu bisalah Gue masuk TV selain urusan adu jotos." Semua kembali tertawa.
"Ok yah smua, good luck!" Gue cabut!"
"Okey, Bang! Thanks waktunya!"
"Never mind!" Ia berucap sembari berjalan ke arah tempat Fathin hendak memberitahu jika Ia harus pergi. Gadis itu sedari tadi menundukkan wajahnya. Membuatnya kembali tersenyum.
"Aku duluan yah, ada urusan mendadak. Kamu nggak apa-apakan pulang sama Mitha kalau aku telat jemput ntar?" Ucapnya saat Ia sudah berada di dekat gadis tersebut.
Gadis itu seperti biasa, gelagapan, menyahut tergagap, menunduk malu dan yeahhh semuanya adalah hal yang Ia suka darinya.
_____
* Fathin
Belum hilang desiran indah sebab hatinya yang berbunga-bunga dan buncah oleh rasa bangga melihat Yusuf menjadi pembicara barusan, Ia kembali kalang kabut mengatur degup jantung yang kembali bertalu-talu saat sudut matanya menangkap bayangan Yusuf berjalan ke arahnya.
Pria itu benar-benar memiliki tingkat kepercayaan diri yang luar biasa. Ia tak pernah peduli dengan sikon apapun di sekelilingnya. Ratusan mata maba yang menatap dengan 1001 macam ekspresi sama sekali tak membuatnya keki.
Ia mendesah resah. Sedikit meremang saat langkah itu kian medekat. Mitha yang mengetahui keresahan hatinya, tiba-tiba menyikutnya berusaha menggoda.
"Cie.. cie.. cie yang lagi berbunga-bunga."
"Ih, apaan sih!" Ia membalas menyenggol bahu sahabatnya itu. Tapi, what?
"Mhita kenapa godain gue yah? Apa jangan-jangan dia udah tau tentang prasaan aku sama Bang Yusuf?" Batinnya sedikit panik.
"Aku duluan yah, ada urusan mendadak. Kamu nggak apa-apakan pulang sama Mitha kalau aku telat jemput ntar?"
Ia menatap wajah itu tak percaya. Sepenting inikah dirinya bagi pria itu hingga harus pake acara minta izin dulu sebelum bertindak.
"Astaga...! haruskah se_care ini? My God!!" Ada rasa tak terperikan yang kian Ia rasakan kini.
"Acara apa?" Sebenarnya Ia hanya ingin mengiyakan, tapi entah kenapa yang terucap di bibir manisnya malah pertanyaan posesif seperti itu.
"Astaga, apalagi ini, ngapain sih pake nanyain ini sgala?" Batinnya merutuki pertanyaan bar-barnya, masih menatap wajah itu dengan mimik menunggu.
"M_maksud aku nggak aneh-aneh, kan? Bukan mau brantem kan?" Lagi-lagi Ia masih memberi pertanyaan konyol. Tapi wajah yang sejak beberapa jam yang lalu mendadak begitu memenuhi seluruh ruang di hatinya itu tiba-tiba tersenyum.
"Kamu udah mulai khawatir yah ama aku? Aku suka kamu begini. My type!" Pria itu mulai bersepik-sepik rasa gombal menurutnya.
"Cuma mau menuhin undangan abang-abang komunitas hijrah acara "ngopi" santai di caffe pirla. Kamu nggak keberatan kan?" Lagi-lagi pertanyaan Yusuf melambungkannya tanpa ampun.
"Kalau keberatan, emang kakak siap batalin perginya?" Ia pura-pura bertanya, hendak menguji seberapa penting keputusannya bagi pria itu. Tapi jawaban dari Yusuf benar-benar membuatnya tersanjung.
"Eh,, eh, kok malah ikut duduk, itu tadi canda doang, Kakak pergi ajha. Nggak baik nolak undangan!" Tanpa sadar tangannya menarik tangan Yusuf yang terlihat tersenyum lebar.
"Kalau kayak gini kamu udah kayak istri beneran. But, I like it!" Pipinya kembali bersemburat merah. Desiran itu kembali menyentil dan menggelitik uluhatinya.
Ia tak bisa menahan diri untuk tidak menatap wajah tampan penuh pesona itu. Mencari kejujuran di manik tajam menghanyutkan itu. Dan yang Ia temukan adalah keyakinan tentang rasa yang sama seperti yang tengah buncah di hatinya saat ini, Cinta.
Lagi-lagi jantungnya tiba-tiba seperti terseret ke dalam pusaran perasaan yang sungguh tidak Ia mengerti. Ia merasa seluruh semesta alam seketika ikut takzim memberi salam cinta. Semburat cahaya yang menggetarkan muncul menyeruak dari tubuhnya.
Ia tiba-tiba merasa sedang berdiri di atas padang rumput yang maha luas. Semua orang tersaput hilang. Semua benda tersingkir menjauh. Kecuali Ia dan Pangeran tampan rupawan yang sedang berdiri di hadapannya.
Saling menatap intens, mengunci untuk beberapa saat, Saling menyelami lautan rasa yang nyaris menenggelamkan. Saling meraba hati masing-masing seberapa besar asa ingin bersama dan akhirnya saling melempar senyum.
Benar kata pujangga,
"Cinta akan membuatmu lupa akan segalanya. Bahkan saat dunia berteriak soal pantas tidak pantas, dia akan lantang berseru membela, "Cinta tak punya batasan maupun alasan apapun untuk datang, dia selalu hadir di hati siapapun yang menginginkannya."
Hingga di entah menit ke berapa, semburat cahaya menyilaukan itu hilang, padam bersama sorak sorai puluhan suara. Astaga, Ampuuuunnnn!
Keduanya bahkan tak sadar, sedari tadi hampir semua mata tersorot sempurna ke arah mereka. Hingga sorakkan dan tepukkan riuh yang memenuhi area stadion mini itu akhirnya mengembalikan kesadarannya akan suasana terkini.
Lagi-lagi beberapa senior yang tergabung dalam UKM Photografi tak membiarkan moment eksklusif tersebut berlalu begitu saja. Entah sudah berapa puluh kali camera digital mereka mengabadikan spot Indah plus romantis itu.
Wajahnya kembali blushing tak terkira, tersipu, merona hingga terasa kebas. Buru-buru menarik pandangannya menunduk dalam. Malu yang bertubi-tubi. Tapi tidak dengan pria cuek itu. Ia malah tersenyum lebar dan memberi two thumbs up untuk para senior ber_camera itu.
"Good job, guys! Ntar kirimin ke gue hasilnya."
"Aku jalan, yah? Kamu hati-hati. Mhit tolong jagain yah, jangan sampe lecet. Any gift for you!"
Meski masih di landa perasaan malu yang membuatnya salah tingkah, tapi sekuat hati Ia mengangguk menyahuti,
"Hati-hati!" Mencoba menetralkan perasaannya lalu tersenyum manis yang memperlihatkan lesung pipi mungil di sudut bibirnya. Cantik!
Mitha seperti biasa mendengar kata hadiah seketika histeris, tanpa sadar Ia memekik,
"Horee, yeaaayy.... siap, Kak!"
Tapi mendadak raut sumringah Mitha berubah jadi mode meringis senyum kaku,
"Hehehe,,,! Sorry.. sorry.. nggak sngaja!" Ucap Mitha ke arah wajah-wajah kepo itu.
Ia masih sempat melirik malu-malu bayangan Yusuf yang berjalan dengan gaya cool menuju mobilnya. Desiran itu,
"Ah, seindah inikah cinta Tuhan? Jika Iya, aku ingin merasakan ini spanjang."
__ADS_1
Ia tersenyum.
***
Malam kian merangkak menuju dini hari. Suasana kian lengang, dingin dan penuh khidmat. Acara pelantikan para pengurus HIMA untuk periode baru telah usai. Beberapa kandidat terpilih maju di atas panggung mini untuk serah terima jabatan.
Kini tiba saat yang paling di tunggu-tunggu. Duduk Mengelilingi api unggun untuk sesi perenungan. Sejenak khusyuk sembari merefleksikan diri. Apa, siapa, kenapa, untuk apa dan siapa mereka berada di tempat ini
Seorang senior cewek dengan hijab segitiga besar menutupi dada, yang di panggil dengan nama Ukhty Zahrah oleh MC, maju dan mengambil tempat di bagian depan. Cantik dan bersahaja. Menatap segenap wajah maba yang sedang begitu antusias menunggu.
Gadis bersahaja itu mengawali ucapannya dengan melafal Ta'awudz dan basmalah. Memberi salam penuh takzim bersama senyum penuh penghargaan dan anggun penuh wibawa.
Semua menjawab salam tersebut serempak dengan nada khidmat.
Berkali-kali Ia berbisik pada Mitha memuji paras jelita sang akhwat.
"Cantik banget, Mhit!"
Menghaturkan segala puja dan puji atas tiap nikmat dari Sang Pencipta lalu mengirim salam juga shalawat kepada baginda Nabi saw atas nikmat cahaya Islam sebagai anugerah terindah untuk ummat ini.
Hatinya sedikit bergetar kali ini. Mendadak ada semacam perasaan rindu yang menyeruak, ingin shalat, ingin memeluk mushaf yang sudah berhari-hari tak pernah disentuhnya sebab sedang berhadas.
"Selamat datang adik-adik sekalian!"
"Selamat datang di dunia kami, dunia mahasiswa. Sebelum kalian melangkah masuk melewati gerbang ini, izinkanlah kami sedikit memberikan pengetahuan kepada kalian semua mengenai dunia kami yang juga telah menjadi dunia kalian."
Wajah-wajah baru itu kini nampak menunduk, tenggelam dalam kekhusyukan dan kesyahduan tiap kata yang terlontar dari suara tenang dan lembut sang senior.
"Dunia kami ini tidak mengenal istilah wajib dan hukum-menghukum. Di sini yang menjadi penentu sesuatu harus dilakukan atau tidak, adalah diri kalian masing-masing. Tidak akan ada lagi guru BK yang mencegat kalian di balik gerbang jika kalian terlambat. Tidak akan ada lagi ceramah rutin setiap Senin. Tidak akan ada lagi seragam yang membatasi hasrat kalian untuk berekspresi dan tampil beda."
Mendadak Ia begitu rindu dengan masa-masa remaja yang penuh gejolak muda dan semangat. Wajahnya seketika panas. Tatapan manik nya mulai terhalang air mata yang mengaca.
"Dunia kami adalah dunia bebas tanpa batas. Tidak akan ada lagi aturan tidur jam sembilan malam dan mengerjakan PR di kamar. Tidak akan ada lagi jam malam untuk malam mingguan. Tidak akan ada lagi orang tua yang akan menghukum kalian dengan sapu atau mengurangi uang jajan setiap kalian melakukan sesuatu yang buruk."
Fix, untuk di part ini Ia tak bisa lagi membendung kubangan yang sedari tadi ingin tumpah dari kelopak mata sendunya. Tapi Ia berusaha tetap focus pada untaian kata-kata pelecut semangat dari senior cantik itu.
"Dunia kami ini dunia yang sangat dinamis, penuh peluang sekaligus ancaman. Kalian bebas menjadi apa saja yang kalian mau. Mengembangkan potensi diri, baik potensi positif maupun negatif."
"Banyak berandal SMK berubah menjadi ustaz dan ketua OSIS menjadi mahasiswa tertua. Tidak terhitung lulusan yang kariernya melejit, namun tidak sedikit juga yang langkahnya tertunda karena salah persepsi tentang makna kebebasan."
Kali ini Ia sedikit merasa horor dengan part yang ini.
"Dunia kami ini bersifat melenakan. Sewaktu-waktu akan memaksa kalian sedikit mengolah kata pada orang tua untuk sekadar mendapat uang saku lebih demi bisa foya-foya dengan teman-teman atau bahkan untuk modal demo."
"Terkadang juga akan membuat kalian takut untuk keluar darinya. Berusaha menghindari kenyataan dengan tidak pernah pulang ke rumah setelah lulus kuliah karena takut dibilang pengangguran, atau tidak mau kembali dan mengabdi pada kampung halaman setelah sukses dengan kariernya."
"Dunia kami ini, dunia mahasiswa, adalah dunia yang dirancang untuk menguji seberapa kuatkah fondasi keimanan kalian dalam menundukkan pandangan dan memelihara ********."
Di kali yang ini, Ia benar-benar merasa tertampar oleh ucapan menohok itu. Kembali teringat beberapa jam yang lalu di mana Ia hampir saja melupakan semua didikan keras Bapak dan Ibu soal jaga diri sebagai seorang perempuan. Dalam hati terbersit rasa malu yang seketika bertubi-tubi menderanya.
Ia kembali terisak. Sungguh sangat menyesali diri. Godaan cinta pertama memang luar biasa membinasakan.
"Dunia kami ini, dunia mahasiswa, adalah dunia yang diciptakan untuk menguji seberapa matang kedewasaan kalian dalam memilah dan memilih antara yang baik dan yang buruk."
"Dunia kami ini, dunia mahasiswa, adalah dunia yang akan menjadi cermin kekokohan tekad kalian memegang amanah menuntut ilmu dari kedua orang tua yang terus memutar otak di rumah demi membayar uang bulanan dan semesteran kalian."
"Orang tua yang tak kenal lelah dan bosan menguntai doa dan harapan untuk kesuksesan kalian."
"Orangtua yang begitu optimis, beberapa tahun yang akan datang Ia akan berdiri di sisi kalian dengan bangga saat kalian dengan gagah dan cantik menjadi wisudawan terbaik."
Stadion mini itu kini mulai di penuhi isak tangis dari semua peserta juga para senior panitia. Ingatan tentang bagaimana tulusnya orang tua mengupayakan kesuksesan anak-anaknya, memang selalu menghadirkan rasa rindu dan sedih yang mengharu-biru.
"Dunia kami ini, dunia mahasiswa, adalah dunia yang akan menjadi tempat kalian berproses untuk menjadi “sesuatu” di masa depan.
Di tempat ini tidak akan ada lagi yang bisa menyuruh dan melarang kalian berbuat sesuatu selain diri kalian sendiri."
"Seberapa lama kalian berproses, bagaimana cara kalian berproses, dan untuk menjadi apa kalian berproses, semuanya kami serahkan pada diri kalian masing-masing. Karena kalian adalah “Mahasiswa” yang sudah selayaknya mahadewasa, mahamandiri, maha berkarakter, dan maha-maha yang lain dari siswa biasa."
"Sekali lagi, kami ingatkan kepada kalian, dunia kami ini adalah dunia yang liar. Apa pun bisa terjadi di dalamnya. Maka renungkanlah sejenak segala yang telah kami sampaikan tadi sebelum kalian mantap melangkahkan kaki memasuki gerbang ini."
"Jangan lupa, panjatkan doa kepada Yang Maha Memberi Petunjuk agar kalian tidak tersesat di tengah jalan. Ingatlah wajah kedua orang tua yang menanti kalian dengan penuh harap di kampung halaman. Kemudian kepalkan tanganmu, berteriaklah lantang, “Hidup Mahasiswa!”
"Hidup Mahasiswa!" Semua yang hadir lagi-lagi berteriak serempak penuh semangat.
"Demikian yang bisa kami sampaikan. Sebelum benar-benar saya akhiri, mewakili semua kakak senior yang menjadi panitia ospek maupun acara makrab malam ini, juga semua senior lepas yang mungkin pernah ambil bagian dalam kedua acara tersebut, mohon maaf bila ada salah khilaf, atau pernah iseng ngerjain atau memberi hukuman pada adik-adik semua."
"Tak ada sedikitpun terbersit rasa benci atau jengkel atau apapun itu, selain hanya berusaha menjalankan semua sesuai prosedur ospek yang sudah disepakati bersama."
"Mudah-mudahan setelah ini kita semua bisa menjalin silaturahmi dengan baik dalam konteks akademik, organisasi maupun eksternal kampus. Aamiin ya Rabbal 'Aalamiin."
"Billaahil taufik walhidayah, wassalaamu'alaikum warahmatullaahi wabaarakatuh."
Semua mata nampak sembab. Acara diambil alih oleh MC yang mempersilahkan sang ketua MPM, bang Farhan untuk membaca Do'a penutup. Semua kembali tenggelam dalam ke khusyukan, meng_amini do'a yang sedang di lafalkan.
Satu persatu lalu menyapu wajah, mengucap Aamiin. Sebagai closing, semua saling menyalami satu sama lain sebagai isyarat bahwa malam ini, drama senior vs junior berakhir, finish dengan begitu mengharu biru, membahagiakan sekaligus menyisakan kerinduan yang mendalam akan masa-masa ospek itu.
Ia kembali terisak. Memeluk sahabatnya Mitha yang juga sedang terisak sama.
***
TBC>>>
__ADS_1