
Setelah melakukan pertarungan yang cukup pelik dan melelahkan. Akhirnya para mahluk abadi serta para Hunter bisa mengalahkan para mahluk penghisap darah yang mengejar dan memburu Viona.
Kini semua berkumpul menjadi satu, meskipun baru saja bertemu, namun para Hunter dan mahluk abadi dapat berteman dengan baik kecuali Milla yang sejak awal memang tidak menyukai pergabungan mereka. Gadis itu terlihat begitu kesal apalagi saat dia tau Lucas pergi bersama Viona. Milla merasa tidak suka, cemburu lebih tepatnya.
"Kalian semua tidak apa-apa?" tanya Carl memastikan.
"Ya, kami semua tidak apa-apa." balas Antolin mewakili yang lain.
"Ini sudah larut malam dan harus kemana kita sekarang?" Chen menatap Antolin dan Ara bergantian.
"Kembali ke kastil." sahut Ellena yang baru saja tiba bersama suaminya, Kim Yohan.
Ellena menghampiri Ara dan Jia dan memastikan sesuatu. "Apakah semua berjalan semestinya?" ucap Ellana yang seperti mengetahui semua yang baru saja terjadi. Termasuk pertemuan antara Viona dan Dark Lephrica.
"Tidak ada yang perlu kau cemaskan, Nona." sahut seseorang dari arah belakang. Semua yang di sana menoleh pada asal suara. "Viona sudah berada di tempat yang aman dan untuk sementara waktu biarkan dia bersama pemuda itu, aku yakin dia bisa menjaga dan melindunginya." ujar orang itu yang tidak lain adalah L.
Mendengar perbincangan antara Ellena dan L membuat Milla merasa jengah. Gadis itu memutar matanya malas, ia merasa tidak suka dan tidak nyaman berada di tengah-tengah mereka semua. Terlebih karena Lucas tidak ada.
Milla menghampiri ketiga rekannya. "Hei kalian bertiga. Apa maksud kalian membiarkan Lucas pergi bersama perempuan itu? Bagaimana jika sampai hal buruk sampai terjadi padanya? Kita tidak mengenal mereka, bagaimana jika mereka memiliki niat buruk pada kita." ujar Milla.
"Jaga ucapanmu, Kamilla Song." geram Kai sambil menatap tajam gadis itu.
"Jaga ucapanku? Untuk apa? Memangnya apa yang salah pada ucapanku? Aku hanya mengatakan apa adanya, memangnya salah? Lagi pula kita juga tidak tau mahluk seperti apa yang saat ini bersama Lucas."
Rasanya Kai dan Tao ingin sekali merobek mulut Milla yang tidak memiliki sopan santun itu. Mereka merasa tidak enak pada para mahluk abadi, bukan hanya Kai dan Tao saja. Namun Carl juga dan itu karna ulah Kamilla. Ara yang naik pitam hendak menghampiri Milla dan memberi pelajaran pada perempuan itu, namun segera di hentikan oleh Chen.
"Tahan emosimu, Ara-ya." bisik Chen menenangkan.
"Sekali lagi kau bicara seperti itu, aku tidak akan segan-segan untuk merobek mulutmu dan akan ku remukkan tulang-tulangmu." ancam Ara dan melewati Kamilla begitu saja. Chika yang ditinggalkan oleh gadis itu pun segera mengejarnya.
"Yakkk!!! Kim Ara, tunggu aku."
__ADS_1
-
-
Malam berlalu dengan cepat. Sang dewi malam telah kembali keperaduannya dan posisinya digantikan oleh sang surya. Pagi datang menyambut, cahaya matahari yang hangat berada di ujung cakrawala. Cicitan burung pipit yang saling bersahutan terdengar.
Di sebuah kastil yang berdiri kokoh di dalam hutan. Seorang pemuda tampan dalam balutan pakaian hitamnya berdiri menatap bunga-bunga yang tubuh dengan subur di taman belakang kastil miliknya. Taman itu masih terlihat sama seperti belasan tahun yang lalu , bunga-bunganya masih terlihat cantik.. secantik yang Lucas ingat.
Pemuda itu mengulum senyum perih saat melihat bayangan seorang wanita yang tengah merawat bunga-bunganya dan seorang bocah laki-laki yang sedang tersenyum lebar saat seekor kupu-kupu hinggap di atas bahunya.
"Ma, lihatlah. Sepertinya kupu-kupu cantik ini sangat menyukaiku."Seru bocah itu dengan senyumnya yang semakin lebar.
"Sepertinya begitu, mungkin kupu-kupu itu mengira kau adalah bagian dari bagian bunga-bunga itu, Lu." jawab si Ibu pada putranya yang tak lain adalah Lucas kecil.
Lucas menutup matanya saat merasakan matanya mulai memanas. Meskipun bertahun-tahun telah berlalu, namun semua kenangan itu masih terasa segar dalam ingatannya. Menyeka air matanya yang hampir menetes, Lucas berbalik dan mendak meninggalkan taman namun langkahnya terhenti karna kemunculan Viona
"Hm, bisakah kita tinggal selama beberapa hari lagi di sini? Aku cemas jika mahluk-mahluk itu masih berusaha mengejar ku." ujar Viona sambil menundukkan wajahnya. Ia merasa tidak enak pada Lucas karna harus merepotkannya lagi.
Namun langkahnya segera di hentikan oleh Viona. "Tunggu dulu." seru Viona sambil menahan lengan Lucas.
Pemuda itu menatap datar lengannya yang dipegang oleh gadis itu kemudian beralih pada wajahnya dengan tatapan yang sama, datar. "Terimakasih karena sudah membantuku dan maaf harus merepotkanmu lagi." ucap Viona tertunduk penuh sesal.
"Untuk itu jangan bertindak sesuka hatimu lagi dan merepotkanku." balas Lucas dan berlalu begitu saja. "Tetaplah di sini dan jangan coba-coba untuk pergi kemana pun."
Lucas tidak merasa resah dan cemas meskipun harus meninggalkan gadis itu sendirian di kastil. Kastilnya memiliki mantra pelindung dan kabut tak kasat mata yang membuat kastil itu tidak mudah terlihat oleh sembarang orang. Semalam Lucas tidak tidur dan membuat segel khusus untuk membentengi kastilnya.
Perbincangan singkatnya dengan L membuat Lucas sadar betul betapa istimewanya gadis itu hingga semua mahluk berlomba-lomba untuk mendapatkannya. Lucas tidak memiliki tujuan apapun pada Viona, murni dari dalam lubuk hatinya yang terdalam ia ingin melindunginya.
Bodoh jika mengatakan dia tidak tertarik dengan keabadian yang Viona memiliki, namun dia tidak akan melakukan suatu hal yang akan merugikan orang lain demi kepentingannya sendri karena Lucas bukanlah seorang mahluk rendahan yang rela melakukan apapun demi tujuannya termasuk mengorbankan kehidupan orang lain.
Kresekkk!!
__ADS_1
Lucas menghentikan langkahnya setelah mendengar suara yang mencurigakan yang berasal dari semak-semak. Pemuda itu mempertajam indranya untuk mengetahui mahluk apa yang tengah mengintainya itu. Lucas mendengus berat, warna matanya yang semula berubah menjadi merah kini kembali pada warnanya semua, coklat jernih.
"Keluarlah kalian berdua, aku tau kalian berada dibalik semak-semak itu." Ucap Lucas dengan nada dingin.
Dua mahluk bersayap putih keluar dari persembunyiannya sambil menunjukkan cengiran khasnya. "Maaf, kami sembunyi-sembunyi, Ge." ucap salah satu dari angel bersaudara itu sambil menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.
"Kali ini kalian aku maafkan, tapi bukan berarti kalian bisa lolos dari hukumanku." Lucas menyeringai culas membuat kedua angel bersaudara itu menelan saliva.
"Hu--kuman?? A--pa?" ucap mereka waswas.
"Jey, Lay. Aku ingin kalian pergi mencari buah-buahan untukku dan gadis itu. Jangan berpura-pura tidak mengerti. Aku yakin jika kalian berdua juga sudah tau mengenai gadis itu." sinis Lucas penuh intimidasi. "Karena kalian sudah mengikuti kami sejak aku dan dia menginjakkan kaki di hutan ini."
"Maaf Ge. Kami hanya ingin memastikan kau dan nunna cantik itu baik-baik saja. Baiklah aku dan si mesum ini akan segera pergi untuk mencari buah-buahan segar."
Plakk!!
Jimin atau yang lebih akrab dipanggil Jey menepis tangan Lay dari depan mukanya dan menatapnya tajam. Jey tidak suka di sebut mesum oleh pemuda itu. "Berhenti menyebutku mesum, pikun. Aku ini tidak mesum hanya mengikuti instingku sebagai seorang Peri. Itu saja, dasar domba pikun." ejek Jey dan terbang meninggalkan Lay serta Lucas.
"Yakkk!! Berhenti memanggilku domba mesum. Tunggu aku."Lucas mendengus berat, mereka memang tidak pernah berubah. Hampir setiap hari ada saja yang di ributkan. Lucas berbalik dan lekas kembali ke kastilnya
"Aura ini?" Lucas kembali menghentikan langkahnya merasakan aura kegelapan yang begitu kuat. Pemuda itu segera merubah dirinya menjadi setengah Dark Lephrica.
Seorang laki-laki bersayap hitam mirip kelelawar dengan cakar-cakar runcing pada ujung sayapnya dan bermata hitam pekat berdiri didepannya dengan seringai iblis andalannya ."Black Dager."
"Apa kabar, Dark Lephrica. Lama sekali tidak bertemu."
-
-
Bersambung.
__ADS_1