
Viona tidak merasa terkejut saat tiba-tiba saja Lucas menarik tengkuknya dan mencium bibirnya dengan kasar saat mereka baru saja tiba di kamar pengantin.
Lucas meluapkan rasa cemburunya melalui ciuman itu. Ia terbakar api cemburu saat melihat dirinya di peluk dengan hangat oleh Sammy meskipun Lucas tau bila hubungan mereka berdua tidak lebih dari sebatas teman. Tapi tetap saja dia tidak terima melihat istrinya di peluk oleh pria lain.
"Aku tidak suka melihatmu dipeluk laki-laki lain di hari pernikahan kita," ujar Lucas sinis, mata kirinya yang menatap tajam pada Viona memancarkan kecemburuan yang begitu besar.
Viona menangkup wajah Lucas dan mengunci manik kirinya. "Kau cemburu padanya? Aku dan dia berteman sejak kecil, bertahun-tahun kami tidak bertemu dan tiba-tiba dia datang di pernikahan kita." ujar Viona memberi penjelasan.
"Lalu kenapa kau tidak pernah bercerita padaku jika memiliki teman kecil seorang laki-laki?" tanya Lucas menekankan.
"Karena aku pikir itu tidaklah penting," Lucas menggeram tertahan mendengar jawaban Viona.
"Dengarkan aku, Viona Jung. Kita sudah menikah dan aku harap kita bisa saling terbuka. Kau harus menceritakan segala yang menyangkut tentang dirimu padaku, tidak peduli itu tentang kisah masa lalumu atau apapun itu. Kau adalah milikku dan aku berhak untuk mengetahui apa pun tentang dirimu." ujar Lucas panjang lebar, nada bicaranya begitu tegas, sorot matanya semakin dingin dan auranya kian menggelap membuat Viona sedikit merinding melihatnya.
CHU!
Viona kembali menangkup wajah Lucas dan mencium bibirnya, memagutnya dengan begitu lembut. Lucas tidak merasa terkejut karna Viona sudah sering melakukannya ketika dirinya tengah diliputi amarah. Dan cara itu berhasil untuk meluluhkan amarah yang menyelimuti diri Lucas.
Viona tersenyum lembut saat menyadari tidak ada lagi amarah apalagi kecemburuan yang terpancar dari mata kiri Lucas, senyum manis yang mampu menghipnotis siapa pun yang melihatnya. Senyum yang seolah mengatakan bahwa Lucas tidak memiliki alasan lagi untuk cemburu karna dirinya hanya milik laki-laki itu sepenuhnya
"Aku harap ini terakhir kalinya kau cemburu padaku, Lu. Dan jangan pernah berfikir jika ada yang lain selain dirimu karna hanya kaulah satu-satunya yang aku cintai dan aku inginkan di dunia ini." ujar Viona tanpa melepas kontak matanya.
"Aku tau," jawab Lucas dan kembali mencium bibir Viona.
Viona tersenyum dan segera mengalungkan kedua tangannya pada leher Lucas. Ciuman kali ini jauh lebih lembut dan penuh perasaan, lama kelamaan ciuman itu berubah menjadi lum*tan.
Lucas berusaha untuk memasukkan lidahnya kedalam mulut Viona, dan Viona yang menyadarinya dengan senang hati mempersilahkan lidah Lucas untuk masuk kedalam mulutnya. Ciuman Lucas semakin ganas, tidak hanya mengabsen deretan gigi putihnya namun lidahnya juga memilin lidah Viona dan membawanya untuk menari bersama.
Beberapa menit terlewatkan dengan pergulatan bibir mereka yang semakin menggila, lidah Lucas bergerak dengan lincah di dalam mulut Viona Membuat des*han dan erangan berkali-kali meluncur bebas dari bibirnya.
Lucas menarik dirinya sesaat untuk menatap wajah Viona yang sedikit memerah akibat kehabisan nafas karna ciuman panas mereka, laki-laki itu menyeringai tipis. "Waktu istirahat sudah berakhir, Sayang." bisik Lucas dan kembali menyergap bibir Stella.
"Apa malam ini kita akan melakukannya?" tanya Viona sesaat setelah Lucas mengakhiri tautan bibirnya.
Lucas mengecup singkat bibir Viona sebelum akhirnya bangkit dari atas tubuh gadis itu."Tidak, karna aku ingin malam pertama kita bukan di tempat ini. Kita akan melakukannya di kastil milikku, apa kau keberatan?" Viona menggeleng.
Gadis itu bangkit dari posisi berbaringnya dan duduk berhadapan dengan Lucas. "Sama sekali tidak, kebetulan malam ini hingga beberapa hari ke depan kita belum bisa melakukannya. Tanpa aku jelaskan lebih rinci lagi pasti kau tau jawabannya." tutur Viona tersenyum.
"Hm, sebaiknya ganti pakaianmu. Kita masih harus menemui para tamu yang datang." ucap Lucas yang kemudian di balas anggukan oleh Stella.
__ADS_1
"Baiklah, beri aku waktu lima belas menit untuk bersiap."
.
.
Suasana di aula begitu meriah , semua orang berkumpul di sana. Saling berbincang-bincang dan berbagi cerita. Diantara banyaknya orang yang hadir, ada satu wanita yang begitu menarik perhatian beberapa vampir yang masih kerabat dekat Stella.
Bukannya bahagia karna bisa di kelilingi oleh banyak pria, gadis itu justru terlihat tidak nyaman , dan itu terlihat dari raut wajahnya.
"Menjauh darinya, kalian semua." seru seseorang dari arah belakang.
Sontak saja semua orang menoleh kearah sumber suara. Seorang gadis dalam balutan gaun hitam panjang terlihat menuruni tangga dengan anggunnya, di sampingnya berjalan seorang pria tampan berwajah stoic yang hanya menatap datar kumpulan para vampir tersebut.
Pria dengan penutup mata hitam itu mendecih dan menatap muak kumpulan menjijikkan yang berkerumun mengelilingi wanita berambut coklat yang sebenarnya adalah Kai. Rasanya Lucas ingin melenyapkan mereka semua jika ia tidak sadar dengan posisinya saat ini.
"Nunna, Hyung. Huaaa! Akhirnya kalian datang juga. Hiks.. selamatkan aku dari para mahluk menjijikkan ini." Adu Kai pada Lucas dan Viona.
"Dimana, Chen? Tumben dia tidak menjadi ekormu? Biasanya dia selalu mengikuti kemana pun kau pergi?" tanya Viona penasaran
"Di sana." Lucas dan Viona mengikuti arah tunjuk Kai dan mendengus berat
"Carilah, Carl dan Tao, jangan keliaran sendiri." Nasehat Lucas namun dibalas gelengan oleh Kai membuat alis kiri Lucas terangkat.
"Kenapa?"
"Mereka sedang mencumbu para vampir di luar istana, acara seperti ini memberi kesempatan mereka untuk melakukan tindakan mesu* dan aku tidak ingin didekat mereka. Jika aku di sana bagaimana kalau tiba-tiba saja muncul vampir hidung belang yang langsung mengangkangiku? Aku tidak sudi, aku tidak mau kehilangan keper*wanan dan keperj*kaanku," ujar Kai panjang lebar, penuturan Kai membuat Lucas dan Viona ingin muntah.
"Hoek! Dasar hunter sinting," sinis Viona dan berlalu begitu saja. Setelah meminta ijin pada Lucas tentunya.
Viona menghampiri Jia, Ara dan beberapa vampir wanita yang sedang berkumpul di satu titik. Demi menghormati yang lain, terlihat Ara dan Jia meminum dar*h segar yang telah di siapkan. Meskipun tidak pernah, bukan berarti mereka tidak bisa meminum darah.
"Bersulang untuk pengantin kita," seru Ara sambil mengangkat gelas ditangannya di ikuti oleh Jia dan tiga wanita yang berada di antara mereka.
Semua mengangkat gelasnya dan berseru riang. "Bersulang." Viona terkekeh, melihat pemandangan di mana Ara dan Jiq meminum darah adalah sesuatu yang langkah.
Viona menyapukan pandangannya dan melihat Lucas tengah berbincang dengan L dan Yohan. Viona merasa senang melihat mereka bisa sangat akrab. Gadis itu mengulum senyum manisnya melihat kedatangan sang kakak.
"Eonni." Serunya dan berhambur memeluk Ellena.
__ADS_1
"Selamat untuk pernikahanmu, Viona-ya. Eonni harap kau bisa selalu bahagia." Wanita itu mengusap punggung Viona dengan gerakan naik turun. Saking bahagianya sampai-sampai Ellena tidak kuasa menahan air matanya
"Terima Kasih untuk doanya."
Sementara itu, tampak seorang wanita yang sejak tadi menatap kebahagiaan Viona dengan tatapan sinis. Wanita itu adalah Victoria, wanita dengan posisi tertinggi dalam dunia Seiz itu terlihat mengepalkan kedua tangannya melihat gadis itu tertawa lebar. Kemudian pandangannya dia gulirkan pada sang mempelai pria yang sedang berbincang dengan orang-orang terdekat Lord Ruthven.
Gyuttt!
Sekali lagi Victoria mengepalkan tangannya, mata hitamnya menatap kedua mempelai penuh kebencian. "Viona Jung, aku tidak rela melihatmu bahagia seperti ini. Aku bersumpah, suatu saat nanti aku pasti akan menghancurkan kebahagiaanmu."
"Wanita itu, sepertinya dia masih belum puas membuat masalah." geram Lucas menggumam.
Ternyata gerak gerik Victoria terus di perhatikan oleh Lucas sejak tadi. Lucas tidak sedikit pun meloloskan tatapannya dari wanita itu sejak mata merahnya mendapati keberadaan wanita itu di tengah acara pernikahannya. Lucas terus mengawasinya karna takut hal serupa kembali menimpa istrinya.
"Kau juga menyadarinya, Lu?" Lucas memutar lehernya dan menatap Yohan yang berdiri di samping kirinya.
"Hm!"
"Kau tidak ingin memberikan sedikit kejutan untuknya?" usul L membuat seringai tipis tersungging di bibir Lucas. Yohan merinding sendiri melihat seringai Lucas.
"Kau memberiku ide yang menarik, Kim Marco."
Lucas menggerakkan jarinya dan entah apa yang terjadi tiba-tiba saja tubuh Victoria terhuyung kebelakang, kedua tangannya memegangi lehernya yang rasanya seperti di cekik. "Vic, ada apa denganmu?" Angella mendadak panik melihat keadaan temannya itu.
"Uhhgg! Rasanya seperti ada yang mencekikku." jawabnya terbata-bata.
"Apa?'
Angella menyapukan pandangannya dan mencoba menemukan siapa pelakunya namun tidak membuahkan hasil. Tidak ada pergerakan mencurigakan sama sekali di sana. Angella pun berlari keluar istana dan memastikan apakah pelakunya berada di luar atau tidak? Dan Angella tidak akan mengampuni orang itu jika dia sampai menemukan pelakunya.
"Kau mencariku?" suara dingin terlewat datar itu menginterupsi Angella untuk menoleh pada sumber suara dan matanya membelalak melihat sosok tampan yang sedang bersandar pada tembok sambil bersidekap dada. Meskipun hanya melalui mata kirinya, namun tatapan orang itu mampu membuat tubuh Angella menegang.
"Dark Lephrica?"
.
.
BERSAMBUNG.
__ADS_1