
"YAKK!! APA YANG TERJADI DI SINI? LALU DI MANA, VIONA?"
Baru saja kembali, Victoria langsung saja dikejutkan dengan keadaan ruangan yang begitu berantakan. Tampak Rose, Alena dan dua laki-laki itu terkapar di lantai dalam keadaan terluka parah. Victoria yang merasa penasaran segera menghampiri sang adik 'Alena'. Victoria membantu Alena untuk berdiri.
"Apa yang sebenarnya terjadi di sini? Lalu di mana, Viona?" tanyanya meminta penjelasan.
"Dark Lephrica, tiba-tiba saja datang dan membawanya pergi, dia juga yang sudah membuat kami semua terluka," ujarnya panjang lebar.
"Apa?" Victoria membulatkan matanya terkejut mendengar jawaban Alena, ia begitu terkejut sekaligus tidak percaya karna setahunnya Dark Lephrica telah musnah sejak lama. "Kau pasti bercanda? Bagaimana mungkin seorang Dark Lephrica tiba-tiba datang dan menyelamatkannya? Bukankah mahluk itu sudah lama binasa," lanjutnya masih tidak percaya.
"Itu tidaklah benar, karena Dark Lephrica masih ada dan dia satu-satunya yang tersisa di dunia ini." Sahut seseorang dari arah belakang.
"Kim Marco?" Victoria menatap Voltaire tampan itu dengan tatapan menusuk, tak lama setelahnya muncul dua pria lain dan membuat Victoria terkejut melihat kedatangannya.
"Yang Mulia, Lord Ruthven perbuatanmu sungguh sangat keterlaluan. Apa kau tau akibat dari perbuatanmu ini? Bagaimana bisa kau membiarkan, Dark Lephrica itu datang dan menyelamatkan putrimu, apa kau tau apa akibatnya jika keabadian Viero sampai jatuh ke tangan yang salah,"
"Justru akan lebih berbahaya jika keabadian itu sampai jatuh ke tangan kalian." sahut Lord Ruthven menimpali.
"Aku tau betul apa tujuan utama kalian mengeluarkan inti kekuatan itu dari dalam tubuh putriku, itu bukan semata-mata demi kepentingan umat manusia dan kelangsungan hidup jutaan ribu nyawa melainkan demi kepentingan, Seiz." ujar Lord Ruthven meremehkan.
"Lancang, berani sekali kau berbicara seperti itu padaku, JUNG DANIEL!! Bagaimana pun aku adalah putri dari pimpinan tertinggi dari dewan di dunia, Seiz." Amuk Victoria tidak terima. Ia marah mendengar ucapan Lord Ruthven yang menurutnya adalah sebuah penghinaan baginya.
"Aku berhak bersuara di sini karena apa yang kalian lakukan menyangkut hidup dan mati putriku. Aku memang seorang Raja tapi bagaimana pun juga aku adalah seorang ayah, jadi sudah sepatutnya aku melindungi putriku saat dia berada dalam bahaya."
"Dan aku tegaskan di sini, kalian tidak akan pernah bisa mendapatkan keabadian itu karena Viona akan menyerahkannya dan membaginya dengan laki-laki yang telah ditakdirkan untuk menjadi pendamping hidupnya, Dark Lephrica." tutur Lord Ruthven.
Gyuttt!!
Victoria mengepalkan kedua tangannya setelah mendengar penuturan penuturan raja Vampire di hadapannya. Ia benar-benar terbakar api kemarahan karna ucapan laki-laki itu.
Diam-diam Victoria menggeluarkan bola api berukuran besar dari tangan kanannya kemudian ia arahkan pada Daniel yang segera dipadamkan oleh sang Raja dengan begitu mudah.
__ADS_1
"Kau memang putri dari dewan tertinggi dalam dunia, Seiz. Tetapi aku tetaplah Raja yang berkuasa. L, Antolin, kita pergi dari sini."
"Baik Yang Mulia."
.
.
Lucas menurunkan tubuh Viona dari dekapannya setelah mereka tiba di sebuah tempat yang tidak Viona kenali sama sekali. Tempat itu begitu asing, iris abu-abunya memandang ke segala penjuru arah dan memandang setiap inci dari ruangan itu penuh rasa kagum. Satu pertanyaan bersarang di kepalanya, siapa pemilik dari kastil itu.
"Lu, sebenarnya kita berada di mana? Dan kastil siapa ini?" ucap Viona penuh keheranan.
".... " namun legang dan tidak ada sahutan.
Viona mengerutkan dahinya karena tidak lagi menemukan Lucas di dalam ruangan itu. Tidak mau ambil pusing, Viona berjalan menuju kasur king size ditengah ruangan lalu membaringkan tubuhnya yang terasa lelah di sana.
Gadis itu merasakan tubuhnya begitu lemas setelah apa yang ia alami hari ini. Meskipun sempat putus asa, namun ia merasa lega karna Lucas datang untuk menyelamatkannya.
Decitan pintu terbuka mengalihkan perhatian Viona, gadis itu menoleh dan mendapati Lucas menghampirinya sambil membawa segelas air putih yang kemudian ia berikan padanya. "Minumlah dulu." pinta Lucas sedikit datar, Viona bangkit dari duduknya dan menerima gelas yang Lucas sodorkan padanya.
"Lu, sebenarnya kita ada di mana?" tanya Viona penuh keheranan.
"Istana Dark Lephrica, dan untuk sementara waktu kita akan tinggal disini. Keadaan di luar sana belum aman untukmu. Pasti orang-orang dari dunia Seiz akan tetap mengejar dan memburumu, hanya ini satu-satunya tempat yang paling aman untukmu." Ujar Lucas memaparkan. "Semoga kau tidak keberatan karna harus berpisah dengan keluarga dan teman-temanmu untuk sementara waktu," imbuhnya menambahkan.
"Tentu saja tidak." Viona menjawab cepat,
gadis itu mengalungkan kedua tangannya pada leher Lucas, menatapnya dan mengulum senyum misterius membuat Lucas memicingkan mata. "Karna dengan begini kita bisa memiliki lebih banyak waktu untuk bersama, bukankah begitu?" imbunya kemudian mencium singkat bibir Lucas.
"Aku mengerti maksudmu, Nona Jung." Lucas menarik dagu Viona lalu berbalik memagut bibirnya. Tidak ada penolakan, Viona justru begitu menikmati ciuman itu.
Lucas mengecup bibir bawah dan atas Viona yang terasa manis, Lucas terus bibir Viona dengan perlahan, seolah ingin menikmati setiap inci bagian dari bibir gadis itu. Lucas semakin memperdalam ciumannya, pemuda itu mengarahkan tangan kirinya untuk merengkuh pinggang sang gadis sedangkan tangan kanannya menekan tengkuk gadis itu lebih dalam.
__ADS_1
Tubuh mereka begitu intim dan tidak ada jarak seinci pun, tubuh Lucas dan Viona menempel dengan sempurna hanya ada kain pakaian yang membalut tubuh mereka berdua sebagai dinding penghalangnya.
Kedua tangan Viona meremas rambut belakang Lucas saat laki-laki itu menyusupkan lidahnya untuk mengobrak-abrik seluruh rongga dalam mulutnya, mengabsen deretan gigi putihnya dan membawa lidahnya menari bersama.
Kedua mata Viona yang semula tertutup rapat perlahan terbuka dan bertemu pandang dengan mata kiri milik Lucas. Ciuman itu terus berlanjut sampai Lucas merasakan pukulan ringa pada dadanya. Viona tersenyum manis.
"Lu, jadi kau mengetahui maksudku?"
Lucas menjitak gemas kepala Viona."Keinginanmu sangat mudah ditebak, Sayang. Ini sudah larut malam sebaiknya segera tidur, kau terlihat lelah."
Viona menggeleng. "Tidak mau," jawabnya cepat.
Gadis itu mendekat pada Lucas dan berhambur kedalam pelukannya. "Lu, apa kau tau bagaimana takut dan cemasnya aku tadi? Aku sangat ketakutan, Lu. Aku takut mereka mengeluarkan inti keabadian itu dari dalam tubuhku," Viona menutup matanya, wajahnya bersandar pada dada bidang Lucas yang tertutup kain kemeja hitamnya.
Viona meremas kemeja Lucas sambil menggigit bibir bawahnya untuk meredam isakanya. Mendengar isakan Viona membuat hati Lucas terasa perih, laki-laki itu merengkuh tubuh gadis itu semakin erat. Lucas mengusap punggung Viona dengan gerakan naik turun.
"Maaf Viona karena aku tidak bisa melindungimu dan terlambat datang untuk menyelamatkanmu. Jika saja aku tidak meninggalkanmu tadi, pasti hal semacam ini tidak akan terjadi." Ujar Lucas penuh penyesalan.
Viona menggeleng, gadis itu mengangkat wajahnya dan menatap manik mata milk Lucas dalam. "Itu bukan salahmu, jika saja aku tidak lengah dan tidak membiarkan wanita itu menyegel tubuhku, pasti mereka tidak akan berhasil membawaku,"
"Sebaiknya kita tidak usah membahas hal ini lagi, sudah larut malam sebaiknya segera tidur dan aku tidak mau mendengar penolakan lagi." Tegas Lucas tidak ingin dibantah, seolah-olah ucapannya adalah hal yang mutlak.
Viona mendengus berat, meskipun belum merasa ngantuk tapi dia memilih menuruti ucapan Lucas. "Baiklah," Lucas tersenyum lembut, diraihnya tubuh Viona untuk berbaring di sampingnya.
Lucas berbisik lembut ditelinga Viona membuat sudut bibir gadis itu tertarik keatas. Viona memposisikan dirinya dengan nyaman pada dada bidang Lucas. Dan kecupan lembut pada keningnya mengantarkan gadis itu menuju alam mimpi.
"Aku pasti akan melindungimu dan aku tidak akan membiarkan siapa pun menyentuhmu lagi, Viona Jung. Aku tidak akan kehilanganmu lagi seperti di kehidupan kita yang lalu."
.
.
__ADS_1
BERSAMBUNG.