My Girlfriend Is Vampire

My Girlfriend Is Vampire
Kembali Untukku


__ADS_3

Awan gelap bergerak perlahan di iringi semilir angin malam, bulan bersembunyi dibalik awan hitam. Rintik hujan dan kilatan petir menyambar diatas langit kota Castlegar ditambah suara gemuruh diatas sana


"Aaaauuummmm..." lolongan serigala semakin menambah suana mencekam di dalam kegelapan malam.


Kilatan petir terlihat menyambar di seluruh penjuru arah. Awan hitam menggulung diujung cakrawala. Langit murka dan menumpahkan seluruh isinya, ditengah badai dan dibawah guyuran air hujan, terlihat tiga orang gadis bertarung melawan para mahluk penghisap darah serta para sekutu Dark Shadow yang lainnya.


Tidak ada rasa gentar meskipun yang mereka hadapi bukanlah mahluk lemah melainkan para mahluk berbahaya yang bisa mengancam keselamatan ketiganya. Meskipun mereka bertiga hanyalah gadis yang tampak lemah, namun siapa sangka jika mereka memiliki kemampuan bertarung yang sangat luar biasa dan kemampuan mereka tidaklah bisa dianggap sebelah mata.


Mereka begitu terlatih dan cara bertarung serta mengeksekusi para lawannya juga tidak kalah dari para Vampire Hunter yang handal dan terlatih. Buktinya tidak sampai sepuluh menit sudah banyak sekali mahluk penghisap darah yang hidupnya berakhir ditangan ketiga gadis itu.


"Hei, Nona-Nona bagaimana bisa kalian melakukan pertarungan sehebat ini tanpa kami," seru seorang pria jangkung yang kemudian bergabung bersama ketiga gadis itu yang tak lain adalah Viona, Ara dan Jia.


"Kalian terlambat," sahut Jia menimpali.


"Untuk itu aku minta maaf, Sayangku." kata Antolin lalu mencium singkat bibir Chika.


"Ck, dasar pasangan mesu*. Hentikan itu dan fokuslah pada mahluk-mahluk menjijikkan itu." ujar Ara seraya berdecak lidah.


Jiq dan Antolin sama-sama mendesah berat, terpaksa mereka menghentikan kegiatannya dan menundanya sampai pertarungan berakhir.


Pertarungan kali ini tidak hanya melibatkan ketiga gadis cantik itu saja , namun ada Antolin, Chen dan dua angel bersaudara. Mereka bertujuh begitu kompak dalam menghabisi mahluk-mahluk itu yang jumlahnya semakin bertambah meskipun banyak diantaranya yang telah melebur menjadi abu


"Sial, kenapa mereka malah semakin banyak?" keluh Chen mendumal. Namun keluhan Chen tertangkap jelas oleh indera pendengaran Viona yang langsung mendelik tajam pada padanya.


"Ck, berhentilah mengeluh, Chen. Sebaiknya kau fokus saja pada pertarungannya." Sinis Viona tajam.


"Tapi ngomong-ngomong dimana ke empat Vampire Hunter itu? Apa mereka tidak tau jika di sini ada pertarungan yang sangat mengasikkan." Ujar Antolin ditengah pertarungannya.


"Bagaimana mungkin kami bisa melewatkannya, Hyung." sahut Kai dari arah belakang.


Pemuda yang kini dalam wujud wanita itu tidak hanya datang sendiri saja, ada Carl, Lucas serta Tao yang juga langsung melibatkan diri dalam pertarungan. Melihat Viona yang hanya bertarung sendiri saja tidak lantas membuat Lucas tinggal diam, laki-laki bermarga Xiao itu segera bergabung dengan sang kekasih


"Kau membutuhkan bantuanku, Nona?" serunya, sontak saja Viona menoleh. Gadis itu tidak dapat menahan diri untuk tidak tersenyum melihat kedatangan Lucas.


"Lucas." serunya kegirangan.


Pertarungan antara mahluk abadi dan para Vampire Hunter melawan sekutu Dark Shadow berlangsung semakin sengit. Jumlah mereka yang semakin banyak akan lebih menguntungkan ditambah kemampuan bertarung mereka yang sangat luar biasa, dan dalam waktu singkat mahluk-mahluk itu dapat dibinasakan dengan sangat muda


Bruggg!!!'


Jia langsung menjatuhkan tubuhnya pada aspal dingin dan basah setelah menyelesaikan pertarungannya dalam posisi terlentang.

__ADS_1


"Huaaa... lelah sekali rasanya." serunya seraya menutup matanya. "Kkkyyyyyaaaa.." gadis Delf itu berteriak histeris saat merasakan ada sepasang tangan kekar yang melingkari perutnya. Dan saat menolehkan kepalanya, sosok Antolin-lah yang pertama tertangkap oleh mata hazelnya."Huuaaa...!! Tolin, apa yang kau lakukan?" serunya histeris.


"Menciptakan moment indah di sini." jawabnya lalu mencium bibir ranum Jia. membuat si empunya bibir langsung membulatkan matanya selebar mata Dio dan lebih gilanya lagi Antolin melakukannya di tempat terbuka serta didepan teman-temannya. Wajah Jia langsung memerah karna menahan malu.


"YAKKK!! PASANGAN GILA, JIKA KALIAN INGIN MELAKUKAN ITU JANGAN DITEMPAT TERBUKA SEPERTI INI APALAGI DI DEPAN PARA BU-DI SEPERTI KAMI. " teriak Chen.


"Hyung, kenapa kau malah menghalangi mereka untuk melakukannya? Seharusnya biarkan saja, jarang-jarang kami melihat live kiss seperti ini. Dan aku akan menjadi orang pertama yang mendukungnya." seru Kai dengan nada berapi-api yang langsung mendapatkan beberapa jitakan pada kepalanya


"Aaappooo.... Kyyyaaa sakit, "jeritnya sambil mengusap kepalanya yang baru saja di jitak oleh Ara. Chen dan Viona."Yakkk!!! Nunna, Hyung apa kalian ingin membuat otakku yang sudah pas-pasan ini menjadi semakin pintar." keluhnya.


"Dasar mesu*, sepertinya otakmu perlu diperbaiki." umpat Viona sambil menjitak Kai sekali lagi.


Perdebatan di antara teman-temannya segera dimanfaatkan ole Jia dan Antolin untuk melanjutkan aksi gilanya. .


Meskipun masih ada beberapa pasang mata yang menatap mereka namun hal itu sama sekali tidak dihiraukan. Mereka tetap asik dengan dunia dan kegiatan gilanya sampai akhirnya....


Byurrrr....!!!'


Namun aksi gila mereka berdua terhenti detik itu juga setelah Ara mengguyur tubuh keduanya dengan seember air yang entah Ara dapatkan dari mana.


"KALIAN BERDUA, APA KALIAN TIDAK BISA MENAHANNYA?? SEHARUSNYA KALIAN MELAKUKANNYA DITEMPAT TERTUTUP BUKAN DITEMPAT TERBUKA SEPERTI INI. DASAR PASANGAN MESU*." teriak Ara panjang lebar, suaranya sedikit meninggi. Sementara Jia dan Antolin malah mengulum senyum tanpa dosa.


"Dasar."


.


.


Menikmati udara malam sambil menatap bintang adalah rutinitas yang selalu Viona lakukan setiap malamnya. Bukan rahasia lagi dan semua orang mengetahui tentang hobi tidak biasa gadis itu.


Sejak kecil dia memang sangat menyukai bintang, bahkan Viona sampai rela naik keatas tebing hanya demi bisa melihat bintang dalam jarak yang lebih dekat yang endingnya dia mendapat amukan dari Ellena yang begitu mencemaskannya.


Viona terlonjak kaget saat merasakan ada sepasang tangan kekar yang tengah memeluknya dari belakang, tanpa melihatnya pun Viona udah pasti tau siapa orang itu.


"Ini hampir larut malam, kenapa tidak pergi tidur dan malah berdiri di sini?" bisik orang itu 'Lucas'' sambil mencium leher jenjang Viona dengan lembut.


"Aku sedang melihat bintang." jawabnya.


Lucas memicingkan matanya seraya melepaskan pelukannya pada pinggang gadis ini. "Melihat bintang?" Viona mengangguk."Tapi tidak ada satu pun bintang diatas sana." sambung Lucas penuh keheranan.


"Ya, jika kau melihat dengan mata telanjan*." Viona berbalik, posisinya dan Lucas kini saling berhadapan.

__ADS_1


Gadis itu maju beberapa langkah kemudian mengalungkan kedua tangannya pada leher Lucas. "Tapi kau akan menemukan sebuah keajaiban jika kau melihatnya dengan hati." Viona meletakkan jari-jarinya pada dada kiri Lucas, senyum di bibirnya semakin lebar


"Begitukah?" Viona mengangguk "Dan aku sudah menemukan bintang itu, satu-satunya bintang yang bersinar paling terang dan bintang itu saat ini berdiri di hadapanku." Viona memejamkan matanya saat merasakan benda lunak dan basah menyentuh permukaan bibirnya.


Tubuh mereka semakin merapat untuk memperdalam ciumannya. Salah satu tangan Lucas memeluk pinggang ramping Viona sementara tangan satu lagi menekan tengkuk gadis itu agar ciumannya tidak mudah terlepas. Kedua mata Viona tertutup rapat namun tidak dengan mata Lucas, mata kiri itu tetap terbuka dan memperhatikan wajah cantik kekasihnya yang begitu luar biasa.


Vionw terlihat begitu menikmati ciuman panjang itu, hampir dua menit dan mereka masih sama-sama enggan untuk mengakhirinya meskipun paru-paru mereka mulai menipis dan membutuhkan banyak asupan oksigen. Dan Lucas baru mengakhirinya saat kembali merasakan pukulan pada dada bidangnya yang hanya tertutup kain kemeja hitamnya.


'Hosh Hosh Hosh.' nafas Viona memburu, nafas gadis itu sedikit tersengal-sengal.


"Ternyata kau sangat payah, Sayang." ucap Lucas sambil menarik hidung mancung Viona.


Gadis itu mencerutkan bibirnya. "Itu karena aku belum berpengalaman," jawabnya.


Lucas kembali terkekeh. "Ini sudah sangat larut, sebaiknya masuk dan segera tidur." Pinta Lucas sambil mengusap wajah Viona 'lembut'.


Gadis itu menggeleng "Aku tidak mau. Lu, aku masih sangat merindukanmu. Tidak bisakah kita bersama lebih lama lagi? Apa kau tidak merindukanku?" rengek Viona, Lucas mendengus geli.


Rasanya Lucas ingin menerkam Viona detik itu juga. Lucas mendengus, dia tidak memiliki pilihan lain selain menuruti keinginan gadis itu.


Untuk sesaat kebersamaan mereka hanya di isi keheningan. Tidak ada sepatah kata pun yang keluar dari bibir Viona maupun Lucas. Semua memiliki kesibukan masing-masing seperti Viona yang terus mengamati langit malam yang mulai dipenuhi gemerlap bintang dan Lucas yang terus menatap wajah cantik di sampingnya tanpa lelah.


"Lucas, look." Teriak Viona histeris, Lucas mengikuti arah tunjuk gadis itu. "Itu adalah bintang Rigel, satu-satunya bintang paling terang dalam gugusan rasi bintang Orion. Bukankah Rigel sangat cantik?"


"Hm."


"Ck, dasar patung es. Aku sudah bicara panjang lebar tapi kau malah merespon dengan deheman saja. Menyebalkan." Viona melipat kedua tangannya, bibirnya mencerut menatap kesal Lucas.


Melihat tingkah Viona membuat Lucas tidak tahan untuk tidak menjitak kepalanya. "Dasar kau ini, masuk dan tidur sekarang atau aku akan melahapmu di sini?" ancam Lucas yang sontak membuat kedua mata Viona membulat dan muncul rona merah dikedua pipinya.


"Dasar mesu*." serunya dan pergi begitu saja.


Lucas terkekeh dan menggelengkan kepalanya melihat tingkah kekanakan kekasihnya itu. "Terimakasih karena sudah kembali untukku, Viona Jung."


.


.


.


BERSAMBUNG.

__ADS_1


__ADS_2