
Pagi-pagi sekali Lucas sudah pergi meninggalkan kastilnya untuk bertemu seseorang. Lucas tidak tau hal penting apa yang ingin orang itu bicarakan dengannya sampai-sampai ingin bertemu secara tertutup.
Mobil sport mewah milik Lucas baru saja memasuki sebuah area yang jauh dari peradaban manusia. Sepanjang jalan yang dia lihat hanyalah pohon-pohon tinggi yang tumbuh di sisi kiri dan kanan jalan dengan kabut tebal yang menyelimuti.
Tidak ada satu kendaraan pun yang bisa Dark Lephrica itu temui, jalanan benar-benar legang dan sepi. Meskipun demikian, tidak ada sedikit pun rasa takut yang terlihat pada raut wajah dan sorot matanya. Lucas tetap terlihat tenang dengan stoic face yang menjadi ciri khasnya.
Dan setelah cukup lama berkendara. Akhirnya Lucas tiba di tempat tujuannya. Mobil sport mewah keluaran terbaru itu berhenti di sebuah bangunan tua namun masih terlihat indah dan kokoh. Bangunan itu terlihat lebih megah dari kastil miliknya, hingga muncul sebuah pertanyaan dalam benaknya.
Lucas tidak ingin terlalu ambil pusing, pemuda itu lekas turun dari mobilnya dan berjalan tenang memasuki mansion klasik bergaya eropa tersebut.
Krieett!!
Pintu tinggi bercat coklat elegan itu terbuka dengan sendirinya, meskipun sempat terlihat bingung. Namun Lucas tetap tidak menghentikan langkahnya. Pemuda itu tiba di sebuah ruangan yang sangat megah dan sangat luas. Dia sedikit terpukau dengan keindahan dan dekorasi ruangan itu, ada sebuah lampu kristal berukuran sangat besar yang begitu indah dan elegan menggantung ditengah ruangan.
Lucas berjalan melewati lorong panjang yang di kedua sisinya di penuhi dengan berbagai lusikan klask yang cantik. Banyak sekali interior mawar yang Lucas lihat sepanjang langkah kakinya berjalan, sehingga Lucas memiliki satu kesimpulan ... jika pemilik mansion ini sangat menyukai mawar.
Tapp!!
Dia menghentikan sejenak langkahnya, pasalnya dia belum bertemu siapapun meskipun sudah cukup lama berjalan dan langkahnya membawanya sampai pada pintu bercat putih yang terlihat indah dan elegan. Pemuda itu menutup matanya saat merasakan seseorang mencoba berbicara melalui mata batinnya.
"Apa sebenarnya tujuanmu memanggilku kemari?" batin Lucas.
'Bukan aku, tapi majikanku. Nona-lah yang ingin bertemu dan bicara denganmu. Masuklah kami menunggumu di dalam ruangan. Bukanlah pintu dihadapanmu.'
"Kami?"
'Kau akan mengetahuinya setelah masui ke dalam'
Lucas membuka kembali matanya. Raut wajahnya tetep terlihat dingin, perlahan-lahan Lucas mendorong pintu besar di depannya dan tiga orang di dalam sana langsung menyambut kedatangannya. Satu-satunya wanita dalam ruangan itu mengulum senyum tipis kemudian bangkit dari duduknya.
"Kau sudah datang?" ucapnya.
"Tidak perlu berbasa-basi, langsung saja pada intinya. Sebenarnya apa tujuan kalian memintaku bertemu secara tertutup seperti ini?" tanyanya to the poin.
__ADS_1
"Huft, kau terlalu serius. Tidak bisakah kita lebih santai sedikit? Duduklah, kami sudah menyiapkan makanan dan minuman. Setidaknya kita sarapan terlebih dulu." Ujar ramah seorang pria yang duduk di samping Ellena yang pastinya adalah Yohan.
"Oh baiklah, jika memang tidak ada hal penting. Sebaiknya aku pergi saja dari sini. Kalian sudah membuat waktuku terbuang sia-sia." Ujarnya datar.
"Lucas-ssi, tunggu." tahan wanita bertubuh mungil itu kemudian menghampiri Lucas yang berdiri memunggunginya. "Maaf jika yang kami lakukan membuatmu tidak nyaman, kami mengundangmu kemari karna kami ingin meminta bantuanmu. Dan hal ini ada hubungannya dengan adikku, Viona."
Sementara itu......
Kepanikan terlihat pada seorang gadis yang berusaha memadamkan api yang memercik dari masakan yang telah hitam menjadi arang di atas penggorengan. Bukan hanya gadis itu yang panik, namun juga dua Angel bersaudara yang saat ini tengah sibuk memadamlan kobaran api yang hampir membakar dapur kastil.
Dan beruntung api tidak merambat kemana pun hingga tidak sulit bagi mereka bertiga untuk mengatasinya.
"Huaaa!! Aku panik, aku panik. Bagaimana ini? Bagaimana ini." histeris salah satu dari kedua Angel itu 'Jey'.
"Yakkk!! Park Jey, jangan hanya mondar-mandir saja. Dasar bodoh, cepat bantu aku dan Lay memadamkan api ini." amuk Viona sambil melempar sebuah kain pada wajah Jey.
"Kkkyyyaaa!!! Nunna, kenapa kau lempar kain kotor ini pada wajahku? Oh my gosh, bagaimana jika make up tebal super mahal yang aku pakai akan luntur." keluh Jey sambil mengusap wajahnya.
Angel tampan itu menggeleng cepat. Membayangkan tatapan Lucas sudah membuat bulu kuduknya berdiri apalagi jika sampai melihat kemarahannya yang super mengerikan. Viona menyeringai tipis.
"Baiklah, aku akan menghitungnya. Dan jika sampai hitungan ketiga kau masih belum-"
"Nunna, Stop! Baiklah, aku akan melakukannya. Tidak lagi-lagi, aku masih sangat trauma melihat kemarahan, Lucas, hyung yang seperti Iblis neraka." Viona tersenyum dan menepuk-nepuk kepala Jey.
"Anak pintar."
"Nunna, messum, sebenarnya kenapa kita di sini?"
Pukk!!
Viona dan Jey segera menepuk jidatnya masing-masing mendengar pertanyaan Lay yang menurut mereka sangatlah menggelikan itu. "Dasar pikun, jelas-jelas kita di sini untuk bekerja bakti membersihkan dapur." sahut Viona menimpali. "Lama-lama aku bisa gila jika berlama-lama bersama kalian berdua. Dasar Angel sintiing." lanjutnya mengelus dada.
Sebenarnya Viona memiliki sebuah niat baik. Dia ingin menyiapkan sarapan untuk semua orang, gadis itu meminta Angel bersaudara untuk mencarikannya bahan makanan yang masih segar. Bukannya solusi, namun dia malah menimbulkan masalah. Kelemahannya dalam hal memasak membuat Viona nyaris membakar dapur kastil.
__ADS_1
Beruntung ia masih bisa mengatasinya hingga api tidak sampai merembet kemana-mana. Viona memang sangat payah dalam hal memasak, dan fakta itu tidak bisa dipungkiri lagi.
Diam-diam Viona mecari keberadaan Lucas, pasalnya sudah sejak pagi tadi dia tidak melihat pemuda itu. Dia tidak tau kemana perginya Lucas karna dia pergi sebelum dirinya bangun.
Setelah memastikan kondisi dapur kembali seperti sedia kala. Viona beranjak dari sana dan hendak pergi ke kamarnya. Namun kedatangan Lucas membuat gadis itu mengurungkan niatnya dan menghampiri Lucas penuh rasa canggung.
"Kau sudah pulang?" tanya gadis itu sedikit berbasa-basi.
Lucas mengangkat tangannya dan memberikan sebuah bingkisan pada gadis dihadapannya. "Sarapan untukmu, aku tidak ingin kau sampai membakar dapurku lagi." Viona terkejut mendengar ucapan Lucas.
"Kau tau? Bagaimana bisa?"
Lucas mendengus geli melihat ekspresi wajah Viona yang terlihat begitu menggemaskan. Membuat Lucas tidak tahan untuk tidak mengacak rambutnya. Dan apa yang Lucas lakukan membuat semburat merah muncul di pipi gadis itu.
"Dasar bodoh, tentu saja aku tau. Karena ada aroma asap saat aku memasuki kastil ini dan itu berasal dari arah dapur. Makanlah, selagi masih hangat," Lucas beranjak dari hadapan Viona dan berlalu begitu saja. Gadis itu tidak tau ada angin apa tiba-tiba Lucas bersifat lembut padanya.
Gadis itu menarik sudut bibirnya dan segera membawa makanan itu menuju dapur, kebetulan sekali Lucas datang membawa makanan. Viona benar-benar merasa kelaparan.
Lucas melepaskan mantelnya kemudian merebahkan tubuhnya pada kasur king size miliknya. Perbincangannya dengan L, Yohan dan Ellena kembali memenuhi fikirannya terutama kata-kata L. Pemuda itu mendesah berat, haruskah ia mempercayai mereka bertiga?
'Kau boleh terus mengingkarinya, Lucas-ssi. Tapi bagaimana dengan hatimu? Bukankah hatimu memiliki sebuah keyakinan yang sangat besar?'
Lucas menutup matanya, kenapa kata-kata L itu begitu membekas dalam ingatannya. 'Aku tau kau pasti bosan dengan apa yang kami katakan. Tapi kau tidak mungkin bisa menghindari tadir Percaya atau tidak jika kau dan adikku memang ditakdirkan untuk saling melengkapi.' Begitu pula dengan yang Ellena katakan.
'Saat ini kau boleh tidak mempercayainya tapi waktulah yang akab menjawab semua keraguan dalam hatimu.' Bukan hanya kata-mata L dan Ellena, namun juga ucapan Yohan. Kata-kata mereka bertiga begitu mengganggu fikirannya.
.
.
.
BERSAMBUNG.
__ADS_1