
"Lu, apa kau pernah merasakan yang namanya jatuh cinta?" tanya Viona mengakhiri keheningan antara dirinya dan Lucas.
Viona membuka matanya dan menatap lurus mata kiri Lucas yang juga menatap padanya, lagi-lagi Viona merasakan desiran aneh saat menatap mata itu. "Apakah gadis itu kekasihmu? Sepertinya dia sangat tidak menyukaiku, mungkinkah dia merasa marah karena aku dekat denganmu?"
"Namanya Kamilla Song, kami sempat menjalin hubungan namun hanya beberapa minggu saja. Dia menghinataiku dan berselingkuh dengan pria dari bangsa Wolf, dan sejak saat itu hubungan kami berakhir." jelas Lucas.
"Dan kau mencintainya?"
"Entah, aku sendiri tidak tau dan aku tidak bisa menyebutkan yang aku rasakan padanya adalah cinta. Karena aku tidak merasakan getaran apapun saat bersamanya."
"Jika tidak, lalu kenapa kau mengencaninya?" tanya Viona untuk yang kesekian kalinya.
"Aku sendiri tidak tau, lagi pula itu hanyalah masa lalu. Jadi untuk apa dibahas lagi."
"Tapi, Lu. Pernahkah kau berciuman dengannya? Ma-maksudku, bukankah dalam setiap hubungan, pasti pasangan akan selalu berciuman? Itulah yang sering aku lihat antara kakakku dan suaminya, apakah kau juga selalu melakukan hal itu dengan mantan kekasihmu itu?"
Lucas memicingkan matanya. "Kenapa kau bertanya seperti itu? Kau semakin banyak bicara saja." kata Lucas dengan nada dingin. Viona mendengus dan segera menundukkan wajahnya.
"Maaf." sesalnya. "Bisakah kau menurunkanku? Aku tau kau pasti merasa lelah, aku sudah tidak apa-apa. Aku akan berjalan sendiri."
"Kau yakin?" Viona mengangguk.
Keduanya berjalan beriringan diantara hamparan ilalang yang luas sejauh mata memandang. Beberapa kali Viona memetik bunga yang tumbuh dan mekar diantara ilalang-ilalang itu. "Eoh?" tiba-tiba Viona menghentikan langkahnya saat tanpa sengaja ia melihat bunga Dandelion ,beranjak dari sisi Lucas dan menghampiri bunga cantik itu.
Viona memetik bunga itu kemudian meniupnya, senyum di wajah gadis itu mengembang semakin lebar saat melihat kelopak-kelopaknya terbang tertiup angin.
Melihat senyum manis dibibir Viona membuat Lucas terpana, pemuda itu meninggalkan tempatnya dan menghampiri Viona. Salah satu tangannya menarik tengkuk gadis itu sampai akhirnya....
CHU!!
Mata Viona membelalak dan bunga-bunga yang berada dalam genggamannya jatuh begitu saja karena Lucas menciumnya dengan sangat tiba-tiba. Perlahan tapi pasti Viona menutup matanya, kedua tangannya dia angkat yang kemudian ia kalungkan pada leher Lucas. Meskipun awalnya sempat merasa terkejut, tapi pada akhirnya dia menerima ciuman itu dan berusaha mengimbangi ciuman Lucas.
Sadar Viona membalas ciumannya. Lucas merubah posisi mereka dengan menyandarkan gadis itu pada sebuah pohon. Sebelah tangannya menekan tengkuk Viona supaya ciuman mereka tidak mudah terlepas.
Berbeda dengan Viona yang menutup rapat-rapat matanya. Justru mata Lucas masih tetap terbuka. Memandang gadis dalam dekapannya itu dalam dan sulit diartikan.
"Ya Tuhan, mungkinkah aku benar-benar sudah jatuh cinta pada gadis ini?"
-
-
"KKKYYYYAAAA!!"
Jeritan seorang gadis memecah didalam keheningan malam. Membuat hewan-hewan malam tidak berani keluar dari persembunyiaannya. Langit malam terlihat terang, cahaya bulan yang terang sampai pada permukaan bumi. Malam yang paling dinantikan oleh kaum penghisap darah untuk keluar dan berburu mangsanya.
Dari kejauhan, samar-samar terdengar derap langkah kaki seseorang yang semakin lama semakin jelas. Dari dalam keheningan malam, terlihat sedikitnya empat orang, tiga laki-laki dan satu perempuan berlari dengan cepat menuju sumber suara itu berasal.
Dari kejauhan keempatnya melihat seorang gadis yang tengah mengulurkan tangannya seperti meminta pertolongan. Tubuhnya terhimpit pada pohon dengan seorang laki-laki berkulit pucat yang tentah menenggelamkan kepalanya pada leher kanan gadis itu.
Tubuh gadis itu menegang saat merasakan sepasang taring dingin dan tajam mulai menembus kulit lehernya yang perpahan masuk semakin dalam. Cairan merah segar mengalir dari luka yang diakibatkan taring mahluk itu.
"Ck, dasar mahluk sialan. Aku tidak akan membiarkanmu lolos." satu-satunya wanita dalam tim itu mengangkat senjatanya dan siap membidik punggung Vampire itu, matanya menyipit dan...
__ADS_1
Syuuuhh!!!
Sebuah panah perak melintas tepat disamping wanita itu dan menembus punggung mahluk tersebut. Terdengar geraman dan lolongan kesakitan sebelum sosoknya melebur menjadi abu ,semua meboleh pada asal panah itu datang.
"Lucas," seru Milla kegirangan.
Lucas menghampiri teman-temannya yang tampak terkejut melihat kedatangannya, bukan karna kemunculan Lucas yang sangat tiba-tiba melainkan karna benda hitam bertali yang menutupi mata kanannya. "Lu, matamu? Baik-baik saja bukan?" tanya Carl penuh kecemasan.
"Lu, apa ini perbuatan gadis sialan itu? Apa yang telah dia perbuat padamu? Apa dia mencelakaimu? Tunggu saja, aku akan membalasnya." Milla hendak pergi namun langkahnya segera ditahan oleh Lucas. Lucas mencengkram pergelangan tangannya."Lucas, sakit." Jerit Milla tertahan.
"Mau apa kau?"
"Tentu saja memberi pelajaran gadis sialan itu."
"Berhenti memanggilnya gadis sialan, Song. Aku tidak suka. Dia tidak melakukan apapun padaku, jadi jangan asal menuduh."
"Tapi, Lu? Kenapa kau begitu sangat membelanya? Apa seistimewah itu arti kehadiran gadis itu untukmu? Jika dia bisa, lalu kenapa aku tidak?" teriak Milla sambil memukul dada bidang Lucas sedikit brutal.
"Cih, berhentilah mendrama, Kamilla Song. Kau pikir, Lucas Gege akan simpatik padamu kemudian memelukmu? Qween of drama sepertimu tidak akan pernah bisa meluluhkan hati Luge setelah apa yang kau lakukan padamu." cicit Tao dengan mata menyipit, Kai hanya melipat kedua tangannya dan menatap wanita itu sedikit jengah.
"Drama lagi, eh." Sindirnya. Sontak saja Milla menoleh dan menatap Kai tajam.
"Apa maksudmu?"
"Fikir saja sendiri."
"Kai, aku membencimu."
"Masa bodoh."
Mengabaikan Kai dan Milla yang sedang bertengkar. Carl menghampiri sang ketua timnya sambil mengulum senyum tipis. "Apakah yang terjadi mata kananmu ada hubungannya dengan darah Viero itu?" tebak Carl 100% benar.
"Ya."
"Apa yang membuatmu tiba-tiba mau menerima darah itu, Lu? Bukankah darah itu adalah darah yang sangat istimewah? Jujur saja aku merasa cemas, Lu. Bagaimana jika kekuatanmu yang saat ini sampai mengambil alih dirimu jika kau tidak bisa mengendalikannya, Lu?" Ujar Carl.
Lucas menepuk bahu Carl dan meyakinkan padanya jika semua akan baik-baik saja."Kau tidak perlu mencemaskan apapun, ge. Aku akan mengatasi hal ini, baiklah aku pergi dulu." Sekali lagi Lucas menepuk bahu Carl dan berlalu begitu saja. Carl menatap punggung Lucas yang semakin menjauh, ia hanya bisa berharap semoga ketakutannya tidak menjadi kenyataan.
-
-
Yohan tidak dapat menahan diri untuk tidak tersenyum saat melihat istri cantinya berdiri dibalkon kamar mereka. Yohan melingkarkan kedua tangannya pada perut rata Ellena dan meletakkan dagunya di atas bahu kanan wanita itu.
"Sayang,"
"Apa yang membuatmu berdiri selama ini disini, masuklah udara diluar sangat dingin." pinta Yohan pada sang Istri.
Alih-alih menuruti permintaan Yohan, Ellena malah melepas pelukan laki-laki itu kemudian berbalik lalu melingkarkan kedua tangannya pada leher Yohan dan mengunci sepasang mutiara coklatnya. "Aku mencintaimu, Kim Yohan," bisik Ellena lirih "Sangat-sangat mencintaimu." Imbuhnya.
Yohan menakup wajah Ellena dengan penuh kelembutan. "Begitupun diriku." Jawabnya lalu memagut singkat bibir merah Ellena. Wanita itu menutup matanya merasakan pagutan lembut pada bibirnya. Ellena begitu menikmati ciuman itu dan berusaha mengimbangi ciuman Yohan.
Namun ciuman mereka tidak berlangsung lama, Yohan segera mengakhirinya tanpa melepas kontak matanya. Jari-jarinya menghapus sisa liur di bibir wanita itu.
__ADS_1
"Sudah malam, sebaiknya kita masuk." Ellena menggeleng membuat Yohan memicingkan sebelah matanya "Wae?"
"Gendong." Laki-laki itu mendengus geli melihat ekspresi menggemaskan wanitanya. Mungkin di depan semua orang Ellena adalah sosok wanita yang lembut dan tegas, namun sikapnya akan berubah 180° jika dia hanya bersama suaminya.
Meskipun Ellena seorang Putri, namun tetap saja dia hanya wanita biasa yang membutuhkan perhatian dan kasih sayang dari sosok yang bisa melindungi dirinya. Meskipun Yohan hanya manusia biasam namun Ellena sangat mencintainya dan begitu pula sebaliknya.
"Ayolah Suamiku gendong aku." renggeknya sekali lagi.
"Dasar kau ini." dengan gemas Yohan menjitak kepala Ellena kemudian membungkuk didepan wanita itu. Ellena tersenyum dan segera naik keatas punggung sang Suam. "Kau semakin berat saja, ehh?" cibir Yohan dan langsung mendapatkan sebuah jitakan pada kepalannya.
Keduanya sama-sama terkekeh, Ellena semakin mengeratkan pelukannya pada leher Yohan dan menyandarkan kepalanya pada punggung lebar laki-laki itu.
-
-
Jika waktu bisa di ibaratkan dengan sesuatu, maka hakikatnya waktu mirip seperti air yang mengalir dari hulu ke hilir. Jika air sudah melaju menuju hilir, maka tidak ada satupun yang bisa menghentikannya untuk mengalir.
Meskipun ada yang mencoba menghalanginya, maka air akan selalu mencari celah bahkan sekecil apapun itu. Sama halnya dengan waktu yang akan terus bergerak kedepan tanpa memiliki keinginan untuk menoleh kebelakang. Jika seseorang terlena oleh masa lalu, maka waktu yang akan menariknya untuk maju.
Tidak terasa dua bulan sudah ia terpisah jauh dari keluarganya dan tinggal satu atap dengan orang asing yang tidak pernah ada dalam hidup Viona sebelumnya. Meakipun sempat merasa tidak nyaman, namun seiring berjalannya waktu Viona mulai terbiasa dengan kehadiran mereka.
Tidak ada hari yang Viona lewatkan tanpa kehadiran mereka bertiga, dinding tak kasat mata yang selama ini menjadi penghalang antara dirinya dan Lucas perlahan mulai terhapuskan..
Viona tidak lagi secanggung sebelumnya saat bersama Lucas, pemuda itu pun tidak sedingin sebelumnya dan mulai menunjukkan perhatiannya.
"Ini masih malam, apa yang kau lakukan di sini?" tegur Lucas yang datang sambil membawa sebuah mantel hangat yang kemudian dia sampirkan pada bahu mungil Viona. "Udaranya sangat dingin, kau bisa sakit jika berdiri disini tanpa penghangat apapun." Imbuhnya.
Viona merapatkan mantel itu dan tersenyum tipis. "Terimakasih, Lu,"
"Apa yang membuatmu betah berdiri lama-lama berdiri di sini?" tanya Lucas penasaran, pasalnya gadis itu selalu berdiri ditempat yang sana ketika malam tiba.
Viona menarik sudut bibirnya dan tersenyum tipis. "Bintang, sejak kecil aku sangat suka melihat bintang. Kakak, sering memarahiku karna aku selalu menyelinap keluar kamar hanya untuk melihat bintang. Melihat bintang membuat perasaanku menjadi begitu tenang dan sedikit menghangat.
"Ayah, pernah berkata padaku. Jika orang yang telah tiada dan pergi ke surga pasti akan menjadi bintang di langit, itulah kenapa aku selalu memandang langit saat malam hari karna aku yakin bila, Ibuku, berada diantara bintang-bintang itu." tuturnya.
"Begitukah?" gadis itu mengangguk.
Lucas meraih bahu Viona dan membiarkan gadis itu bersandar pada bahunya. Wajahnya mendongak, mata kirinya menatap bintang-bintang itu yang terlihat indah kemudian pandangannya bergulir pada sosok jelita yang berdiri di sampingnya.. menatap gadis itu melalui ekor matanya.
"Kau merindukannya?"
"Kadang. Aku selalu sedih saat memikirkannya. Ibu pergi saat melahirkanku dan aku sering berfikir jika aku adalah penyebab kematian Ibu tapi ayah dan kak Ellena selalu mengatakan jika kepergiannya bukan karena diriku. Dan itu membuatku menjadi sangat sedih." ujar Viona dengan mata berkaca-kaca.
Gadis itu menyeka air matanya yang hampir saja menetes. "Oya Lu, tiba-tiba aku merasa lelah. Aku akan istirahat sekarang." ucap Viona sambil mengulum senyum setipis kertas..
Lucas menghentikan langkah Viona lalu menarik lengan gadis itu dan membawanya kedalam pelukannya. "Jika kau ingin berbagi dan membutuhkan seseorang sebagai sandaran, jangan merasa ragu untuk datang padaku. Bahuku, akan selalu ada kapan pun kau membutuhkannya." gumam Lucas setengah berbisik.
Viona menutup matanya dan membalas pelukan Lucas, rasanya begitu nyaman saat berada dalam dekapan hangat Lucas. Jika memang takdir mengijinkan, Viona ingin selalu berada di sisi Lucas bukan hanya untuk saat ini tapi selamanya.
.
.
__ADS_1
.
BERSAMBUNG.