
Samar-samar Viona mendengar derap langkah kaki seseorang yang berjalan mendekat ke arahnya, tidak hanya seorang, namun lebih dari tiga orang. Tapi siapa? Mungkinkah itu Lucas?
Bukan, Viona yakin itu bukan Lucas karna jika memang kekasihnya tidak mungkin dia datang beramai-ramai. Lalu siapa? Mungkinkah para mahluk yang memburu dirinya atau para mahluk dari dunia Seiz? Bodoh! Apakah mereka sudah bosan hidup semua? Karna tidak mungkin Lucas akan mengampuni mereka jika mengetahui dia berada dalam bahaya.
Mata gadis itu sudah berubah menjadi merah saat mahluk-mahluk itu mendekat kearahnya. Viona mendengus lelah, ternyata memang benar dugaannya, mereka adalah para mahluk menjijikkan yang mengincar keabadiannya dan saat ini Kamila yang menjadi pemimpinnya.
"Akhirnya kita bertemu lagi, Viona Jung." Ucap Milla menyeringai.
"Oh, kau rupanya. Apa kau datang untuk menghantarkan nyawamu?" sinis Viona menyeringai. Gadis itu tidak terlihat gentar sedikit pun meskipun ada beberapa mahluk abadi di hadapannya.
"Tetua, sebaiknya segera tangkap saja vampire ini. Kami sudah tidak sabar untuk melihat bangkitnya pimpinan kita." Ucap seorang wanita berwajah pucat bermata hitam legam.
"Tenanglah Millea, kita memang akan segera menangkapnya. Bukankah akan lebih menyenangkan jika kita bermain-main lebih dulu dengannya." Sahut Kamilla menimpali.
"Setelah puas bermain-main dengannya, kita akan menguras habis darahnya untuk membangkitkan, Dark Shadow." imbuhnya.
"Begitukah, kalau begitu tunggu apa lagi, langsung saja kita mulai." Ujar wanita bernama Millea itu kemudian melayangkan serangannya pada Viona.
Blammm!!!
Cahaya kemerahan yang Millea lemparkan kearah Viona menghantam bantu besar di belakangnya hingga membuat batu itu hancur berkeping-keping. Viona dapat menghindari serangan Millea dengan cepat. Tidak hanya satu kali saja, namun berkali-kali Millea melayangkan serangannya pada gadis itu.
Bukan hanya Millea namun juga Kamilla dan dua vampire kasta rendah yang datang bersama mereka berdua. Viona menghindari semua serangan yang mengarah padanya. Gadis itu masih belum melayangkan serangan balasan pada Mila dan Millea, Viona masih ingin melihat seberapa besar kekuatan Milla dan wanita itu. Gadis itu menyeringai, ternyata mereka tidak sekuat yang dia bayangkan.
"Jadi hanya itu kekuatan yang kalian miliki, sangat tidak berguna dan sudah saatnya kalian aku kirim ke neraka." Viona menutup matanya, gadis itu melukai ujung jari telunjuknya hingga berdarah.
Baru saja Viona akan menggunakan kekuatan tersembunyinya namun tiba-tiba saja tubuh Milla dan Millea sudah terlempar dan menghantam pohon dengan begitu keras.
Sontak saja Viona menoleh dan mendapati Lucas berdiri dibelakangnya dengan tatapan datarnya membuat gadis itu menelan ludah. Gadis itu sudah siap jika harus terkena amukan Lucas karna sikap keras kepalanya. Meskipun terlihat tenang, namun pancaran matanya menyiratkan ketakutan yang luar biasa.
Lucas menatap sinis pada Viona yang kini berdiri kaku di hadapannya. Mata kirinya lalu melirik sekilas pada dua wanita yang saat ini tengah merintih kesakitan sambil memegangi dadanya, Lucas memilih mengabaikan kedua wanita itu untuk sementara waktu.
Lucas berjalan dengan tenang menghampiri Viona yang masih berdiri kaku sambil mengulum senyum yang terlihat begitu mengerikan di mata Viona terpatri di wajah tampannya.
"Dasar keras kepala, bukankah aku sudah memperingatkanmu untuk tidak kelayapan seorang diri." Omel Lucas pada gadis dihadapannya.
"Salah sendiri meninggalkanku di kastil selama beberapa hari, aku kan merasa kesepian." gadis itu mencerutkan bibirnya seraya menatap kesal pada Lucas
Lucas mendengus berat.
__ADS_1
Niatnya ingin marah pada Viona karna sikap keras kepalanya itu, namun melihat ekspresi gadis itu membuat kemarahan Lucas luluh begitu saja. Lucas mencium singkat bibir Viona lalu pandangannya bergulir pada dua wanita di hadapannya
"Untuk mahluk seperti kalian, aku akan berbaik hati dengan tidak memberikan penderitaan berkepanjangan pada kalian berdua. Sepertinya api hitam sudah cukup untuk membuat tubuh kalian lebur menjadi abu." Ujar Lucas sinis, aura kebencian begitu ketara ketika melihat Milla dan Millea, Milla terutama.
Millea yang sedari tadi berdiri di samping Milla menjadi semakin pucat setelah mendengar ucapan Lucas. Di liriknya Milla yang tengah mengepalkan kedua tangannya seraya menatap pasangan itu penuh kebencian. Milla memegangi dadanya yang terasa sesak akibat hantaman Lucas.
Sepertinya wanita itu mengalami keretakan pada punggungnya akibat tubuhnya bertabrakan dengan pohon. Millea tidak tau apa alasan Milla begitu marah pada mereka, sepertinya dia tidak mengerti apapun di sini.
"Tapi sayangnya aku tidak berniat mati di tanganmu, Lucas Xiao." ucap Milla dengan nada rendah. "Lea, kita pergi dari sini. Sudah cukup, kita bisa mati konyol jika melanjutkan ini. Masih ada waktu lain kali." lanjutnya.
"Huft, baiklah."
Tanpa menghiraukan Lucas yang masih belum bergerak seinci pun dari tempatnya berdiri. Viona beranjak dan pergi begitu saja. Lucas menatap bingung kepergian kekasihnya itu. Bukankah seharusnya dia yang marah? Tapi kenapa malah Viona yang marah padanya, laki-laki itu mendengus berat.
Dengan langah tenang, Lucas menyusul Viona yang sedang menghentakkan kakinya sambil mendumal tidak jelas. Lagi-lagi Lucas hanya bisa mendengus melihat tingkah kekanakan gadisnya itu.
Grepp!!
Cengkraman pada pergelangan tangannya menghentikan langkah Viona, tubuhnya terjerembab ke depan karna tarikan Lucas pada lengannya. Lucas menakan tengkuk Viona dan menyatukan bibir mereka. Tidak ada penolakan dari gadis itu, meskipun sempat merasa kesal dan marah pada Lucas namun ia tidak bisa menolak ciuman sang kekasih.
Gadis itu begitu menikmati saat Lucas menciumnya semakin dalam. Viona tersenyum tipis, gadis itu mengalungkan kedua tangannya pada leher Lucas saat merasakan ciumannya semakin dalam. Dan tidak sampai dua menit Lucas sudah mengakhiri tautan bibirnya.
"Baiklah,"
Setibanya di kastil. Pasangan itu langsung masuk ke dalam kamar milik Lucas, sejak memutuskan untuk tinggal dengan sang kekasih. Viona tidak mau jika harus tidur di kamar yang terpisah dengan kekasihnya dan Lucas tidak merasa keberatan.
Gadis itu merebahkan tubuhnya yang terasa lelah pada kasur king size dalam ruangan bernuansa emas tersebut, namun matanya tidak lolos sedikit pun dari sosok tampan yang berjalan menghampirinya.
"Berhentilah menatapku seperti itu, Viona Jung." Sinis Lucas saat mendapati mutiara abu-abu Viona yang tengah menatapnya, nadanya dingin dan sedikit datar.
"Lu, kau marah padaku?" tanya Viona kemudian.
"Ya, tentu saja aku marah. Rasanya aku ingin sekali mendiamimu selama tujuh hari tujuh malam." Lucas mendengus. "Tapi masalahnya aku tidak bisa melakukannya, terlebih saat melihat wajah polosmu. Aku semakin tidak berdaya ketika melihat air matamu, karna air matamu adalah kelemahanku." lanjutnya menambahkan.
Viona mencerutkan bibirnya. "Tapi itu bukan sepenuhnya salahku, siapa suruh kau meninggalkanku sendiri di kastil ini selama berhari-hari. Kau pikir tiga hari itu adalah waktu yang singkat." ujar Viona mendumal.
Lucas mendesah panjang. Dia tidak tau kenapa Viona menjadi begitu manja padanya. Tapi Lucas tidak merasa keberatan. "Oke, aku bersalah dan aku minta maaf. Sekarang sebaiknya kita tidur, aku sangat lelah." Tutur Lucas seraya merebahkan tubuhnya di samping Viona.
"Lima menit lagi, aku masih belum mengantuk."
__ADS_1
"Tidur." Ucap Lucas penuh penekanan. Tak ingin di bantah. Viona mendesah berat. Dengan terpaksa menuruti perintah Lucas yang terdengar mutlak, gadis itu terlalu malas untuk berdebat dengan sang kekasih.
"Huft, baiklah."
-
-
Malam berlalu dengan cepat. Matahari datang untuk menggantikan keberadaannya. Cahayanya yang agung telah sampai di ujung cakrawala, memberikan rasa hangat pada setiap insan manusia yang bernaung di bumi.
Di sebuah ruangan yang terlihat megah dan luas, seorang gadis baru saja keluar dari kamar mandi. Gaun hitam berbahan brokat memagut tubuhnya, rambut coklat panjangnya di biarkan tergerai hingga mencapai pinggangnya.
Gadis itu tersenyum lebar saat menyadari kedatangan pemuda tampan yang tubuhnya di balut pakaian serba hitam lengan terbuka serta benda hitam bertali pada mata kanannya. "Lucas" serunya. Dengan mesra gadis itu 'Viona' memeluk lengan Lucas.
"Cuaca hari ini cukup bersahabat, bagaimana jika kita jalan-jalan di luar?" tawar laki-laki itu pada gadis di hadapannya. Viona tersenyum dan mengangguk dengan antusias.
"Sepertinya bukan ide buruk. Lu, tapi kau harus temani aku belanja dan belikan beberapa helai pakaian untukku" rengek Viona sambil bergelayut manja pada lengan terbuka Lucas. "Sudah lama aku tidak berbelanja." Ujarnya.
Lucas mendengus dan mengangguk."Baiklah." Viona tersenyum mendengar jawaban pemuda itu.
Setibanya di pusat kota, Lucas membawa Viona memasuki sebuah boutique dan meminta gadis itu untuk memilih pakaian mana pun yang dia inginkan. Sambil menunggu sang kekasih berkeliling. Lucas terlihat menghampiri sebuah lemari kaca yang di dalamnya terdapat sebuah gaun pengantin berwarna putih gading yang terlihat begitu cantik dan elegan.
Lucas memanggil seorang pelayan toko dan meminta wanita itu untuk menggeluarkan gaun tersebut dari lemari kaca dihadapannya.
"Vi, kemarilah. Aku ingin kau mencoba gaun pengantin ini." Ucap Lucas saat menyadari kedatangan Viona. Viona yang tidak mengerti apa pun menatap Lucas penuh kebingungan
"Gaun pengantin? Untuk apa?"
"Tentu saja untuk acara pernikahan kita, karna aku akan menikahimu di akhir bulan ini." Jawab Lucas membuat kedua mata Viona membelalak sempurna.
"APA? MENIKAH!!"
.
.
.
Bersambung.
__ADS_1