My Girlfriend Is Vampire

My Girlfriend Is Vampire
Demi Cinta & Harapan


__ADS_3

Tappp!!!


Langkah Dark Lephrica itu kembali terhenti karna kemunculan sosok pria bersayap kelelawar. "Tidak disangka kita bertemu lagi Dark Lephrica, Putri Lord Ruthven," ucap laki-laki itu menyeringai.


"Black Dagger."


"Mundurlah, mahluk ini biar aku yang menghadapi." Lucas mendorong Viona untuk mundur dengan menarik pergelangan tangannya. Lucas melirik Viona melalui ekor matanya, gadis itu menggeleng kuat. Kecemasan terlihat jelas dari raut wajahnya.


"Aku akan menyelesaikan pertarungan ini dengan segera."


"Sepertinya kau begitu yakin akan bisa mengalahkanku, Dark Lephrica," ujar mahluk bersayap itu meremehkan.


Viona yang melihat hal itu tentu saja tidak bisa membiarkan Lucas bertarung sendiri melawan mahluk bersayap tersebut. Dia terkenal sangat berbahaya dan juga licik. Bukan maksud Viona meragukan kekuatan yang Lucas miliki, namun dia merasa cemas jika mahluk bersayap kelelawar itu akan melukai Lucas dengan cara yang licik.


Gadis itu mengedarkan pandangannya mencoba mencari sesuatu namun tidak menemukan benda apapun. Tidak kehabisan akal, Viona segera menggigit ujung jarinya sendiri hingga terluka dan entah sejak kapan gadis itu berdiri didepan Lucas.


"Bukan dia yang akan menghabisimu, tapi aku." ucap Viona yang sudah merubah wujudnya menjadi Vampire.


Mahluk bersayap itu menutup matanya rapat-rapat saat mencium aroma memabukkan yang berasal dari darah Viero Viona berkaur di dalam hidungnya. Lucas hendak menghentikan gadis itu namun hal itu dia urungkan ketika melihat Viona mengangkat tangan kanannya, gadis itu menoleh dan menatap Lucas melalui ekor matanya


"Jika aku tidak mampu menghadapinya kau boleh mengambil alih pertarungan ini, tapi berikan aku kesempatan," ucap Viona memohon.


Aroma darah Viona begitu memabukkan membuat laki-laki bersayap itu tidak tahan untuk segera merasakannya.


"Hhm, aromanya begitu segar. Setelah menunggunya sekian lama akhirnya aku bisa menikmatinya juga. Tunggulah sebentar lagi Putri, aku pasti akan menghabiskan darah Vieromu itu. Setelah ini aku akan menjadi sangat kuat dan tidak bisa terkalahkan lagi. Dan aku akan menjadi penguasa kegelapan, hahahhahah."


"Begitukah?" Viona tersenyum meremehkan."Tapi sayangnya aku tidak akan membiarkanmu menyentuh darahku walaupun hanya satu tetes saja," lanjutnya dengan seringai yang sama.


Viona memercikkan darah itu keudara dengan kekuatan telepathy-nya gadis itu mencoba mengendalikan darah itu yang kini menggelilingi tubuh mahluk bersayap tersebut.


Perbagian keabadian ternyata bukan hanya dapat membangkitkan kekuatan terpendam dalam diri Lucas namun juga Bloodstone dalam tubuh Viona, kekuatan terbesar sang pemilik keabadian atau yang biasa disebut darah Viero.


Dengan gerakan cepat, Viona melayangkan serangannya pada mahluk bersayap tersebut. Tubuhnya terdorong kedepan, Viona mencekik lehernya membuat mata mahluk itu menyipit. Gadis itu menyeringai tajam.


Brakkk...


Tubuh mahluk bersayap itu terhempas kebelakang karna pukulan telak pada dada kirihya dan suara dentuman yang berasal dari atap kereta membuat semua orang terkejut.


Para Hunter dan mahluk abadi berbondong-bondong menuju atap kereta. Setibanya di sana mereka langsung disambut dengan pertarungan antara Stella dan Black Dagger. Mata Ellena membelalak.


"Bloodstone,"gumamnya tidak percaya.


Ellena melihat kemampuan Viona berkembang sangat pesat, ia tidak menyangka bila kekuatan Bloodstone dalam tubuh Viona akan bangkit secepat itu. L dan Kangmin hanya mampu terperangah melihat bagaimana pesatnya kekuatan Viona.


"Kekuatan itu?" Yohan yang berdiri disamping Ellena tidak sedikit pun meloloskan pandangannya dari pertarungan itu.


"Apakah itu kekuatan Viero yang sebenarnya?" ucap Yohan yang segera dibalas anggukan oleh Ellena.


Pertarungan antara Viona dan Black Dagger berlangsung semakin sengit, Black Dagger sedikit kewalahan menghadapi serangan Viona yang bertubi-tubi. Tubuh Black Dagger terdorong kebelakang karena tekanan Viona, namun keadaan segera diambil alih oleh laki-laki bersayap itu.


Jari-jarinya yang ditumbuhi kuku-kuku panjang mencekik leher Viona sedangkan salah satu tangannya memukul dada gadis itu hingga terdorong kebelakang yang dengan sigap ditahan oleh Lucas


"Hahahha! Kau masih bukanlah tandinganku, Viona Jung." ucap mahluk itu seraya tertawa penuh kemenangan.


Syutttt!!!

__ADS_1


Brakkk!!!


Entah apa yang terjadi tiba-tiba tubuh laki-laki terhempas kebelakang dan langsung muntah darah. Sesak ia rasakan menghantam dada kirinya


"Kau terlalu sombong, mahluk rendahani," ucap Lucas meremehkan. Laki-laki itu membuka sarung tangan kirinya ,sebuah cahaya menyilaukan muncul dari telapak tangan Lucas.


Bersamaan dengan terlepasnya sarung tangan itu, sebuah badai muncul mengelilingi tubuh Lucas. Lucas menyeringai tajam, dengan gerakan cepat Lucas melayangkan serangan bertubi-tubi pada mahluk bersayap itu.


Sedikit pun Lucas tidak memberikan kesempatan padanya untuk melayangkan serangan balasan. Viona yang melihat bagaimana sadisnya Lucas merasa ngeri sendiri, Lucas terlihat begitu berbeda saat menghadapi lawannya bahkan setelah mahluk itu tidak berdaya.


"Sepertinya ini sudah saatnya kau pergi ke neraka."


'Uhuk uhuk.' Black Dagger terbatuk dan kembali memuntahkan darah dari mulutnya."Sayangnya Tuhan masih belum mengijinkanku untuk mati. Kita akan bertemu lagi, Dark Lephrica." sosoknya menghilang dibalik kabut hitam.


Carl, Tao dan Kai menghampiri Lucas. "Hyung, kau tidak apa-apa?"


"Tidak, sebaiknya kita kembali ke dalam gerbong." ucap Lucas, lalu pandangannya bergulir pada Viona yang tengah menatapnya dari kejauhan.


Namun kontak mata diantara mereka tidaklah berlangsung lama karena Lucas sendiri yang mengakhirinya dan melanggang pergi.


Gadis itu menundukkan wajahnya sampai ia merasakan tepukan pada bahunya serta pelukan dua pasang tangan dan dua dagu yang bersandar pada kedua bahunya.


Viona tersenyum perih. "Tidak perlu merasa sedih, kami ada bersamamu," ucap Ara sambil mengeratkan pelukannya


"Jika kalian memang berjodoh, pasti suatu saat nanti kalian akan kembali bersatu," imbuh Jia menambahkan


"Sudah-sudah, dramanya sampai disini dulu. Sebaiknya kita kembali ke gerbong ,ini hampir malam." ucap Ellena menengahi. Ketiga gadis itu tersenyum dan mengangguk kompak.


"Baik, Eonni,"


.


.


"Nona di mana, Viona nunna? Kenapa kau malah kembali bersama, Tuan Kim?" tanya Kai penasaran, dan pertanyaan Kai mewakili rasa penasaran Lucas.


"Dia berada diruangan sebelah bersama, Kangmin, dan yang lainnya." jawab Ellena tersenyum.


"Ahhh, begitu ya." Ellena mengangguk.


Carl melirik Lucas yang hanya memandang kosong pada pemandangan luar jendela. Tidak ada ekspresi apapun yang dia tunjukkan, datar. Carl mencoba membaca apa yang tengah Lucas fikirkan namun tidak bisa, terlalu sulit menebak apa yang dia fikirkan.


"Tuan Kim, Nona, apa kalian ingin makan sesuatu? Lihatlah kami membeli banyak sekali makanan dan minuman." seru Tao mencoba mencairkan suasana.


"Terimakasih, Tao. Tapi aku tidak haus ataupun lapar, mungkin Ellen." Yohan menatap Ellena. "Kau ingin makan atau minum sesuatu? Sejak kita berangkat kau belum makan apa pun." Ellena menggeleng.


"Aku juga tidak lapar maupun haus, Suamiku," Ellena tersenyum, meyakinkan Yohan jika ia tidak lapar dan tidak ingin makan apa-apa. Laki-laki itu mendengus. Istrinya itu memanglah keras kepala.


"Lu, kau mau kemana?" seru Carl melihat Lucas bangkit dari duduknya. Namun tidak ada jawaban, Lucas tidak mengatakan apapun dan pergi begitu saja.


.


.


Perhatian Viona dan semua mahluk abadi yang satu ruangan dengannya teralihkan karna gesekan pada pintu. Seorang pemuda dalam balutan pakaian serba hitam lengan terbuka juga sebuah eyepacth hitan pada mata kanannya berdiri di sana dengan tatapa dinginnya.

__ADS_1


"Lucas." seru L sedikit memekik.


"Ada yang ingin aku bicarakan denganmu, bisakah kau ikut aku sebentar?" ucap Lucas sambil mengunci manik mata Viona, Gadis itu terdiam untuk beberapa saat sebelum akhirnya mengangguk


"Baiklah."


.


.


Di sini mereka sekarang, Lucas membawa Viona menuju gerbong paling belakang. Sejauh ini kebersamaan mereka hanya diwarnai keheningan, tidak ada sepatah kata pun yang keluar dari bibir Viona maupun Lucas.


Mereka menatap dalam diam dan saling menyelami keindahan mata masing-masing, meskipun hanya melalui mata kirinya namun tatapan Lucas benar-benar membuat Viona menjadi lemah


"Sebenarnya apa yang ingin kau bicarakan denganku?" Viona mengangkat wajahnya dan memberanikan diri untuk menatap mata Lucas, gadis itu mencoba bersikap tenang meskipun sebenarnya dia sangat gugup. Lucas maju dan menghampiri gadis itu. Salah satu tangannya menarik tengkuk Viona sampai akhirnya.....??


Chhuu!!


Kedua mata Viona membelalak sempurna saat merasakan benda lunak dan basah menyentuh permukaan bibirnya yang disusul pagutan-pagutan kecil yang memabukkan. Stella mulai kehilangan kekuatan pada kakinya. 'Ya Tuhan, aku tidak sanggup lagi berdiri? Rasanya kakiku bertrasformasi menjadi jelly!' gumam Viona membatin.


Viona mengalungkan kedua tangannya pada leher Lucas mencoba agar tidak jatuh dari posisinya. Dan seperti mengetahui kekuatan kaki Viona yang hanya tinggal beberapa persen lagi, Lucas segera memeluk pinggang gadis itu dan menariknya lebih dekat hingga tidak ada jarak lagi diantara mereka berdua.


Melalui ciuman itu Lucas mencoba menyampaikan semua yang dia rasakan selama satu tahun belakangan ini. Viona tidak bisa menolak ciuman itu, dan Lucas sedikit tersentak saat saat merasakan sesuatu yang basah pada permukaan pipinya. Dark Lephrica itu mengakhiri ciumannya dan terkejut melihat wajah Viona yang penuh air mata.


"Jangan menangis, aku mohon," mohon Lucas sambil menyeka air mata itu dengan jari-jarinya.


Brugg!!


Tubuh Lucas sedikit terhuyung kebelakang karna terjangan Viona yang memeluknya dengan tiba-tiba, isakan terdengar jelas ditelinga Lucas.


"Aku merindukanmu, Viona Jung." Lirih Lucas berbisik seraya membalas pelukan gadis itu.


"Aku juga."


"Bisakah kita mulai semuanya dari awal lagi? Aku tidak bisa kehilanganmu lagi. Aku baru saja menyadari betapa besar arti hadirmu untukku setelah kehilanganmu, aku tidak ingin kehilanganmu lagi untuk yang kedua kalinya." Ucap Lucas seraya menutup mata kirinya.


Rasanya seperti ada jutaan kupu-kupu yang terbang kesana kemari didalam hati Viona, rasanya seperti mimpi mendengar Lucas berbicara seperti itu.


Viona mengangkat wajahnya dan memandang wajah Lucas. "Apakah ini mimpi? Lu, mungkinkah aku sedang bermimpi?" Lucas menggeleng, sudut bibirnya tertarik keatas menciptakan lengkungan indah diwajah tampannya.


Viona terpanah untuk beberapa detik, sepanjang ia menggenal Lucas.. ini adalah pertama kalinya Viona melihat senyum langkah diwajah Lucas, sangat indah.


"Bisakah kau memberiku kesempatan yang kedua? Aku berjanji untuk menerimu apa adanya, aku tidak akan mempermasalahkan lagi walaupun kau seorang Vampire."


Viona menatap Lucas dengan berkaca-kaca."Tentu," Jawab gadis itu mantab. Lucas menghapus jejak air mata dipipi Viona masih dengan senyum yang sama.


"Jangan menangis lagi, kau terlihat sangat jelek." Viona mencerutkan bibirnya mendengar ucapan Lucas, pemuda itu terkekeh. Untuk kedua kalinya Lucas mencium dan memagut bibir Viona


Tanpa keduanya sadari, beberapa pasang mata menatap mereka dengan pandangan haru. Bahkan beberapa diantaranya sampai tidak kuasa menahan air matanya.Persatuan dua jiwa yang saling bersebrangan telah melahirkan sebuah kekuatan baru untuk kedamaian semua mahluk demi cinta dan harapan.


.


.


BERSAMBUNG.

__ADS_1


__ADS_2