My Girlfriend Is Vampire

My Girlfriend Is Vampire
Minta Maaf


__ADS_3

Viona memejamkan matanya rapat-rapat saat melihat orang yang baru saja dia lukai perasaannya duduk dan bersandar pada pohon Sakura yang tumbuh dengan subur dihalaman belakang kastil besar ini sambil menekuk salah satu lututnya yang menjadi tumpuan lengannya.


Gadis itu meremas gaun panjang yang membalut tubuhnya sambil menggigit bibir bawahnya. Bulu kuduknya tiba-tiba saja berdiri melihat ekspresi wajah Lucas yang terlewat dingin dengan sorot matanya yang setajam Elang.


"Ya Tuhan, lindungi aku." Lirih gadis itu membatin.


Viona menarik nafasnya dalam-dalan dan menghempaskan secara perlahan. Dengan mengumpulkan semua keberanian yang dia miliki. Gadis itu sudah membulatkan tekadnya untuk menghampiri Lucas dan meninta maaf padanya.


Mendengar derap langkah kaki yang semakin mendekat, mau tidak mau Lucas mengangkat wajahnya dan menatap tajam sosok Viona yang berjalan menghampirinya


"Mau apa kau ke sini?"


Gadis itu memejamkan matanya. Dia sudah menduga dengan respon yang akan Lucas berikan padanya. Dia menarik nafasnya sebelum menjawab pertanyaan Lucas.


"Aku ingin meminta maaf padamu. Aku tau jika kata-kataku tadi sudah sangat melukai perasaanmu. Dan dari lubuk hatiku yang paling dalam aku sungguh-sungguh meminta maaf padamu, aku tidak bermaksud untuk melukai apalagi menyinggung perasaanmu."


"Bagus jika kau menyadari kesalahanmu." sahut Lucas dengan sinis.


"Dan untuk itu, aku ingin membagi keabadian ini denganmu. Anggap saja ini sebagai permintaan maaf dariku juga sebagai ucapan terimakasih atas semua kebaikanmu padaku selama ini. Lucas, aku harap kau tidak menolaknya."


Lucas mendengus seraya mengusap wajahnya kasar. Dark Lephrica itu menatap Viona dengan tatapan begitu menusuk yang tidak dapat diartikan.


"Dengar, Nona. Aku akui, aku memang membutuhkan keabadian yang kau miliki. Tapi sayangnya aku bukanlah mahluk serakah dan rendahan seperti yang kau pikirkan. Aku masih bisa hidup panjang meskipun tanpa keabadianmu itu. Aku tidak akan merampas sesuatu yang menjadi hak orang lain hanya demi kepentingan pribadiku dan menghancurkan masa depanmu. Kau benar-benar sudah salah menilai tentang diriku." tutur Lucas sebelum akhirnya beranjak dan pergi meninggalkan Viona sendiri di sana.


Menerima keabadian sama halnya dengan merenggut kesucian gadis itu. Selain merampas darahnya, Lucas juga harus menyettubuhuinya dan itulah alasan kuat kenapa Lucas menolak mentah-mentah saat gadis itu ingin memberikan keabadiannya.


Lucas tidak ingin menghancurkan masa depan seorang gadis hanya demi memenuhi keinginan pribadinya. Dan karna alasan itu pula semua orang begitu melindungi gadis bermarga Jung tersebut.


"Justru kaulah yang salah menafsirkan ucapanku, Lu."


Tapp!!


Lucas menghentikan langkahnya setelah mendengar ucapan Viona. Lantas dia berbalik badan dan menatap gadis itu masih dengan tatapan yang sama, dingin dan menusuk.


"Aku mengambil keputusan ini bukan tanpa pertimbangan. Ada sesuatu dalam dirimu yang membuatku ingin membagi keabadian ini denganmu. Kau boleh menganggapku gila arau tidak waras. Namun keyakinanku begitu kuat bila dirimulah orang yang akan menjadi takdirku kelak. Dan pertemuan kita di bar malam itu bukanlah sebuah kebetulan melainkan takdir yang memang telah ditentukan." ujar Viona panjang lebar.

__ADS_1


Viona mengangkat tangan kanannya dan langsung menggigit ujung jari tengahnya, membuat darah seketika keluar dari luka itu. Dan hal nekat yang Viona lakukan membuat mata Lucas membelalak.


"Apa yang kau lakukan?" bentak Lucas marah.


"Lihatlah darah ini, Lu. Apa kau sungguh-sungguh tidak merasa tergoda? Aromanya begitu segar dan memabukkan." dengan cepat Lucas meraih jari Viona yang terluka dan menghisapnya sebelum akhirnya meludahkannya, agar pendarahannya segera berhenti. Namun tanpa Lucas sadari, ada setetes darah yang tidak sengaja tertelan olehnya yang akan menumbuhkan sebuah ikatan tak kasat mata antara dirinya dan Gadis vampir ini.


"Kau sudah gila? Apa kau tidak sadar dengan perbuatanmu ini? Tindakanmu bisa mengundang mahluk-mahluk itu untuk menemukanmu." tutur Lucas dengan nada tajam, setajam tatapan matanya.


Tidak ada satupun dari mereka yang sama-sama menyadarinya. Jika pertemuan singkat mereka malam itu hanyalah sebuah awal. Bahwa nantinya mereka akan menjadi sepasang jiwa yang akan segera mati jika di pisahkan. Yang akan terjebak dalam suatu ikatan yang terlalu erat untuk diretas. Bahwa mereka akan menjadi satu kesatuan yang tidak mungkin lagi terbelah.


-


-


Bukan sebuah rahasia jika Antolin dan Jia saling bermusuhan. Mereka akan terlihat seperti kucing dan anjing jika bersama. Jia yang selalu dibuat kesal oleh Antolin yang memiliki sifat kelewat jahil.


Namun sebenarnya yang Antolin lakukan bukanlah tanpa alasan, Antolin hanya ingin menarik perhatian Jia agar mau berinteraksi padanya. Antolin sendiri tidak tau sejak kapan perasaannya untuk Jia tumbuh dan mekar di dalam hatinya.


"JIA, TUNGGU."


"Mau apa lagi kau? Pergi sana, hushus." usir Jia pada Antolin.


Delf tampan itu menggeleng ."Aku tidak mau."


Jia mendengus. "Baiklah, kalau kau tidak mau maka aku yang akan pergi." sahut Jia dan beranjak meninggalkan Antolin yang segera menahan pergelangan tangannya.


Plakk!!


Dengan kasar Jia menyentak tangan Antolin yang tengah menggenggam pergelangan tangannya. "Lepaskan bodoh, aku tidak sudi dipegang oleh pemuda mesum sepertimu."


"Oh ayolah, Jia. Sampai kapan kau akan bersikap sejahat ini padaku? Aku tau aku ini memang sangat tampan dan tidak ada satu pun mahluk yang bisa menolak pesonaku. Dan mereka hanya pelarianku saja karna kau selalu menolakku, percayalah jika satu-satunya yang aku cintai di dunia ini hanyalah dirimu. Jadi aku mohon, percayalah." rengek Antolin memohon.


"Aku bilang jangan menyentuhku." lagi-lagi tangan Antolin disentak kasar oleh Jia


Antolin yang mulai frustasi karna lagi-lagi mendapatkan penolakan dari Jia mulai kehilangan akal sehatnya. Entah sebuah keberanian dari mana, tiba-tiba Antolin menarik tengkuk Jia dan mencium bibirnya.. memagutnya, bibir atas bawah secara bergantian.

__ADS_1


Jia yang merasa terancam segera mendorong tubuh Antolin menjauh, bukannya di lepaskan. Antolin malah semakin memperdalam ciumannya, salah satu tangannya memeluk pinggang ramping Jia. Meskipun awalnya menolak ciuman Antolin dengan susah payah. Tapi lama-lama Jia pun melunak dan tidak meronta lagi.


Kedua tangannya yang terkepal kuat dikedua sisi tubuhnya perlahan naik menuju leher Antolin. Ciuman Antolin membuat perasaan Jia bercampur aduk, antara sedih, kesal dan marah semua menjadi satu didalam hatinya. Hanya saja satu yang Jia inginkan, agar waktu berhenti detik ini juga.


Sementara itu. Perdebatan terjadi antara ketiga Vampire Hunter tidak dapat terhindarkan. Lagi-lagi Kamila membuat keributan dengan kata-katanya yang tidak pernah disaring terlebih dulu sampai-sampai membuat Tao dan Kai merasa tidak enak pada para mahluk abadi yang sudah mau berbaik hati memberikan mereka tumpangan tempat tinggal


"Kenapa? Kenapa kalian berdua menatapku seperti itu?" ucapnya melihat tatapan sinis Kai dan Tao.


"Kau itu begitu menyebalkan, Nunna." sinis Tao seraya bangkit dari duduknya dan berlalu begitu saja.


"Dasar wanita tidak tau diri." Imbuh Kai dan segera menyusul Tao yang sudah semakin menjauh. Hanya menyisakan Carl dan Kamilla berdua di sana Carl sama kecewa dan malunya seperti Tao juga Kai.


"Aku harap ini terakhir kalinya kau berulah, Kamilla Song. Berhenti membuat malu dirimu sendiri dan kita semua terutama, Lucas. Kau tau, sikapmu ini mencerminkan jika kau adalah wanita yang tidak berpendidikan. Jujur, aku sangat kecewa padamu." Ujar Carl dan berlalu, raut wajahnya menunjukkan jika ia sedang kecewa.


"Aaaarrrkkkhhh!!! Brengsekk, sialan, ini semua karna gadis itu. Awas saja kau, Viona Jung. Aku tidak akan pernah rela kau bahagia dengan Lucas. Dan jangan panggil aku Kamilla Song jika tidak bisa membuat kalian saling membenci. Aku akan membuat Lucas membunuhmu." ujar Milla dengan seringai tajamnya.


Gyuttt!!


Kamilla mengepalkan kedua tangannya. Kedua matanya berkilat penuh amarah, rasa benci yang dia miliki untuk Viona sudah sampai ubun-ubun dan dia akan memenuhi sumpahnya untuk membuat Lucas membunuh Viona. Karna dengan lenyapnya gadis itu dari dunia ini maka saingannya untuk mendapatkan Lucas tidak ada lagi.


Selepas kepergian ketiga Hunter tampan itu. Dua orang datang menghampiri Milla dengan stoic facenya. "Lihatlah, betapa menyedihkannya dirimu, Nona. Sikapmu yang seperti ini malah membuatmu tidak akan di hargai lagi. Satu persatu teman-temanmu meninggalkanmu." Ujar salah satu dari mereka berdua 'Chen'


"Dan aku peringatkan padamu. Aku tidak akan segan-segan untuk mencabut jantungmu jika kau sampai berani mengusik ketenangan hidup Viona, apalagi sampai mencelakainya." ancam Ara dengan tatapan nyalangnya.


"Diam kalian mahluk sialan, atau ku robek mulutmu." amuk Milla pada Chen dan Ara.


"Aku sangat kasihan padamu, aku harap kau mau menerima nasibmu." timpal Chen menambahkan.


"BRENGSEKK. PERGI KALIAN SEMUA MAHLUK SIALAN, AAARRRKKKHHHH."


-


-


Bersambung.

__ADS_1


__ADS_2