My Girlfriend Is Vampire

My Girlfriend Is Vampire
Sepasang Viero Abadi


__ADS_3

"Fyuhhh!"


Viona menyeka peluh di dahinya , ada kepuasan tersendiri dalam hatinya saat bisa menghabisi semua mahluk-mahluk itu dengan tangannya sendiri. "Kau merasa puas?" tanya Lucas sambil menatap Viona yang tengah tersenyum lebar.


"Yes, aku merasa sangat-sangat puas sekali. Sungguh perburuan yang sangat menyenangkan." Jawabnya dengan senyum yang sama. Lucas mengacak gemas rambut panjang Viona seraya mengulum senyum setipis kertas.


"Lu, kau merusak tatanan rambutku. Dan bisakah kita pulang sekarang? Aku sangat lelah. Lu, bawah aku terbang" rengek gadis itu memohon, lagi-lagi Lucas mendengus geli. Meskipun sudah dewasa tapi terkadang tingkah Viona sangatlah kekanakan.


"Bukan hal yang sulit." jawabnya lalu mengangkat tubuh Viona bridal style dan membawanya terbang menuju kastinya.


Tidak butuh waktu yang lama untuk mereka tiba di kastil. Dengan terbang mereka bisa menghemat waktu. Lucas segera menurunkan Viona dari gendongannya dan kedatangan mereka langsung disambut oleh kedatangan sepasang angel bersaudara 'Lay dan Jey'


"Nunna...Hyung, kami datang."


"Omo?" nyaris saja Viona terjengkang kebelakang karna kemunculan mereka yang sangat tiba-tiba. "Yakkk!! Apa kalian ingin membuatku terkena serangan jantung dadakan, eo?" amuk Viona.


Jey dan Lay menggaruk tengkuknya yang tidak gatal, awalnya mereka ingin memberikan kejutan pada Lucas dan Viona tapi sepertinya mereka berdua malah membangunkan seekor singa betina yang sedang kelaparan. Tanpa mengatakan apa pun. Gadis itu melenggang masuk meninggalkan para pria termasuk Lucas. Ia sangat lelah dan ingin segera membersihkan diri.


"Huaaaa!! Sepertinya kami berdua sudah membuat, Viona nunna kesal." seru Jey seraya menatap punggung Viona yang semakin menjauh.


"Padahal niatnya aku dan bocah mesum ini hanya ingin memberinya sedikit kejutan." timpal Lay menambahkan. Jey menoleh seketika dan menatap sinis Lay yang berdiri di sampingnya. Lay yang sadar sedang ditatap pun segera menoleh. "Wae? Kenapa menatapku seperti itu?" tanya Lay dengan polosnya.


"Berhenti memanggilku bocah mesu*, Angel pikun. Aku ini tidak mesum hanya saja...??


"Itu sama saja, Park Jimin. Sekali mesu* tetap saja mesu*." sahut Lay tak mau kalah.


"Aku tidak mesu*, pikun."


"Mesu*."


"Tidak."


Lucas mendengus berat. Mendengar mereka berdebat hanya akan membuat kepalanya menjadi pusing. Mengabaikan Lay dan Jey yang sedang berdebat, Luhan melenggang masuk kedalam kastil. Sama halnya dengan Viona, Lucas pun merasa jika badannya lengket semua 'Krieeettt' terbukanya pintu kamar berbarengan dengan terbukanya pintu kamar mandi.


Terlihat Viona keluar dari sana dengan sebuah handuk melingkari dada sampai atas lututnya. Aroma bunta sakura yang khas sampai kedalam indera penciuman Lucas saat gadis itu keluar dari dalam sana. Dengan langkah tenang Lucas memasuki kamarnya lalu merebahkan tubuhnya pada kasur king size miliknya tanpa menanggalkan satu pun pakaiannya. Tubuh atasnya masih terbungkus utuh oleh long vest kulit berleher tinggi serta turleneck hitam lengan terbuka.


Viona mengurungkan niatnya untuk memakai pakaiannya dan malah menghampiri Lucas yang tengah berbaring. Gadis itu merangkak naik keatas tubuh Lucas kemudian mencium singkat bibirnya.


"Aku sudah siap, apa kau masih ingin menundanya lagi?" bisik Viona seraya menatap dalam mata kiri Lucas.


Alih-alih memberikan sebuah jawaban, Lucas malah mencium dan ******* bibir Viona dengan keras. Hangat dan lembut, itulah sensasi yang di rasakan oleh gadis itu saat ini. Perasaannya mengalir seperti hujan yang tiba-tiba saja mengguyur langit kota Castlegar. Bibir merah tipis milik Viona semakin membangkitkan hasrat Lucas untuk bisa segera memilikinya dengan seutuhnya.


Nafasnya yang sedikit memburu dan ******* yang berkali-kali lolos dari bibirnya bagaikan sebuah irama merdu yang semakin membangkitkan gairah Lucas Kulit putih mulus tanpa cacat sedikit pun itu membuat Lucas ingin segera menyentuhnya.


Perlahan tapi pasti Lucas menarik turun handuk putih yang melingkari tubuh Viona hingga tubuh polos tanpa sehelai benang pun itu terpampang jelas di depan matanya. Lucas terpaku untuk sesaat, Viona segera tersadar dan menutupi bagian dadanya dengan kedua tangannya


"Lu, pasti kau kecewa karna melonku tidaklah besar seperti kebanyakan wanita di luaran sana." ujarnya dengan wajah memerah.


Lucas menyeringai kemudian menyingkirkan tangan Viona dari sana. "Siapa bilang? Lihatlah, Sayang, betapa pas mereka dalam genggamanku." Bisik Lucas dengan seringai yang sama.


Lucas kembali membawa bibir Viona dalam bibirnya sementara tangannya terus berkeliaran bebas pada tub*h polos gadis itu. Des*han panjang yang lolos dari bibir Viona semakin membuncahkan hasrat Lucas untuk segera melakukannya.


Saraf sens*riknya merespon dengan sangat cepat kemudian mengirimkan sinyal ke otaknya. Setelah puas bermain-main pada perut dan bagian tubuh lainnya, jari-jari Lucas bergerak menuju leher jenjangnya yang tampak penuh bercak-bercak merah tanda kepemilikan yang Lucas tinggalkan di sana


Malam ini akan menjadi malam yang panjang bagi mereka, malam yang akan menjadi sejarah karna terakhirnya sepasang Viero abadi yang sepenuhnya.


Kini bukan hanya hati dan cinta mereka saja yang saling menyatu namun juga jiwa dan raganya yang membuat mereka menjadi sebuah satu kesatuan yang tidak mudah untuk diretaskan dan akan mati bila dipisahkan. Lahirnya sepasang Viero abadi sama dengan lahirnya sebuah cahaya baru demi sebuah cinta dan harapan.

__ADS_1


.


.


.


Jlederrrr...


Zrazzzh....


Jlederrr....


Zrasssh...


Suara gemuruh petir yang diiringi dengan datangnya badai besar serta kilatan biru yang menyambar di segala penjuru arah terlihat diatas langit kota Castlegar. Semua gejala itu terjadi seiring dengan hilangnya kes*cian Viona yang merupakan sang pemilik keabadian.


Gumpalan cahaya menyilaukan menjulang menembus langit malam yang kelam. Cahaya itu kemudian pecah dan menyebar memenuhi seluruh angkasa luas diatas sana.


Orang-orang pun berhamburan keluar demi bisa menyaksikan fenomena langkah yang belum pernah terjadi sebelumnya. Cahaya itu begitu terang dan dapat menyilaukan mata siapa pun yang melihatnya. Cahaya yang merubah malam menjadi siang meskipun matahari belum terbangun dari peraduannya.


"Fenomena apa ini? Aku sungguh-sungguh belum pernah melihat sebelumnya." Ujar Ellena penuh keheranan. Wanita itu tidak dapat menyembunyikan keheranan dan keterkejutannya saat melihat peristiwa langkah tersebut.


"Sebuah awal kehidupan baru. Baru saja terlahir dua kekuatan abadi. Dua jiwa telah bersatu, sepasang Viero abadi yang hidup di dunia ini akan menjadi cahaya baru untuk kedamaian, cinta dan harapan." Tutur Marco membuat Ellena dan Yohan menatapnya penuh tanya.


"Apa maksudmu? Mungkinkah mereka?" L mengangguk membenarkan tembakan Yohan.


Tidak ada sepatah kata pun yang terlontar dari bibir mereka bertiga. Meskipun tidak bersuara namun kelegaan dan harapan baru tersirat jelas dari sorot mata ketiganya.


Jika sepasang Viero abadi telah melahirkan sebuah kekuatan baru, itu artinya kekuasaan Black Shadow akan segera berakhir dan hanya kedamaian yang tersisa. Impian dan harapan mereka akan segera menjadi kenyataan, hidup dalam kedamaian tanpa ada bayang-bayang kegelapan.


.


.


"Aku tidak mau jadi pria lagi." ucapan Kai sontak menarik perhatian tiga wanita di hadapannya "Menjadi wanita ternyata jauh lebih menyenangkan dan aku sangat menikmatinya." imbuhnya.


Ketiganya saling bertukar pandang lalu memekik dengan kencang. "WHAT!" dan membuat semua mata kita tertuju pada mereka yang hanya disikapi biasa saja oleh ketiganya. "Kai, apa kau sudah tidak waras? Bagaimana bisa kau mengatakan tidak ingin kembali lagi jadi laki-laki normal?" pekik Ara tak percaya.


"Nunna, jangan terlalu keras saat bicara padaku. Apa kau tidak tau jika perasaanku ini sangat lembut dan mudah tersentuh."


"Astaga." Viona memijit pelipisnya. Rasanya ia ingin sekali memukul kepala Kai sekeras mungkin agar bisa normal kembali. Namun pengakuan laki-laki itu, ralat.. tapi wanita jadi-jadian itu sungguh mencengangkan. Bagaimana tidak? Dengan entengnya Kai mengatakan jika dia tidak ingin kembali normal. "Kau benar-benar sudah tidak waras, Kai."


"Nunna, jangan memanggilku, Kai, lagi. Aku lebih suka di panggil, Kamjong, nama itu adalah pemberian my sweety Chen, dan aku sangat menyukainya." tutur Kai sambil mencerutkan bibirnya.


Plakkk!!


Dengan gemas Jia memukul kepala Kai. Dia benar-benar sudah tidak tahan dengan semua tingkah pemuda itu akhir-akhir ini. "Sadar Kai, sadar." Jia mengguncang tubuh Kai.


"Sebenarnya kau ini baru saja kerasukkan setan apa? Hanya tinggal 30 hari lagi untukmu bisa kembali normal. Tapi kau...??"


"Nunna, Sakit... itu tadi sangat menyakitkan. Kenapa kalian suka sekali menyakiti gadis lemah lembut sepertiku. Dan aku sangat menyesal kenapa hanya tiga puluh hari lagi, aku benar-benar tidak ingin menjadi laki-laki lagi." rengek Kai setengah menangis.


"KAAIIII."


Kai segera menutup telinganya karna teriakkan Viona, Ara dan Jia. Sepertinya ketiga wanita itu sudah kehabisan akalnya untuk bisa membuat Kai menjadi kembali normal. Tapi mereka seakan kehilangan harapan saat Kai mengatakan dengan entengnya jika dirinya tidak ingin kembali menjadi seorang pria.


Entah apa alasannya sampai-sampai Kai memilih ingin menjadi wanita selamanya dan hanya waktu yang bisa menjawabnya.

__ADS_1


Sedikitnya lima orang pria yang mejanya tidak jauh dari Viona cs terlihat beranjak dan menghampiri meja para mereka berempat. Salah satu dari kelima pria itu mengalungkan tangannya pada bahu Viona.


"Cantik, boleh kami temani di sini? Kalian cukup kesepian, bukankah begitu?" tanyanya sambil menyentuh dagu Viona yang segera ditepis kasar oleh wanita itu.


"Jauhkan tangan kotormu dari tubuhku jika kau tidak ingin lebur menjadi abu."


Pria itu tertawa tergelak mendengar ucapan tajam Viona.


"Hahahha! Kalian berempat dengar? Dia bilang akan membuatku menjadi abu,"


"Hahahha! Dia sangat lucu, boss. Omong kosong macam apa itu."


Gyutt!!


Viona mengepalkan tangannya. Dengan kasar menarik laki-laki itu menuju gang sepi yang berada dibelakang cafe. Gang itu jarang sekali digunakan apalagi dilewati orang karna seringnya ditemukan mayat yang merupakan korban dari para mahluk penghisap darah.


"Viona tunggu kami." seru Jia dan bergegas menyusul Viona.


"Yakkk!! Mau kau bawa kemana bos kami? Tunggu kau wanita sialan."


BRUGG


Viona melemparkan tubuh laki-laki itu hingga terjengkang kebelakang. Kedua matanya berubah merah dengan taring tajam dikedua sisi mulutnya. Mata laki-laki itu membelalak saat tau jika wanita yang coba dia goda adalah seorang Vampire.


"Kau mencoba menantangku? Manusia berhati hina sepertimu tidak seharusnya berada di dunia ini."


"Sepertinya api hitam cukup untuk membinasakannya," sahut seseorang dari arah belakang.


Sontak saja Viona mengangkat wajahnya dan sosok tampan yang sekujur tubuhnya dalam balutan pakaian serba hitam serta benda hitam bertali pada mata kanannya duduk pada tembok gang yang sedikit berlumut


"Lucas." serunya kaget.


Lucas melompat turun. Laki-laki itu menghampiri pria yang sudah berani menyentuh miliknya. Lucas membuka kepalan tangannya, muncul sebuah api hitam dari telapak tangannya.


"Ja..jangan membunuhku? A..aku minta ampun, aku berjanji tidak akan melakukannya lagi dan menutup rahasi kalian dari semua orang jika kalian adalah seorang vampire,"


"Terlambat." jawab Lucas menyeringai.


"Aaarrrkkkhhh." tubuh laki-laki itu menggeliat saat api hitam menyambar tubuhnya dengan cepat.


Kai yang tidak tahan segera bersembunyi di balik punggung Jia dan Ara sambil sesekali mengintip pada tubuh pria itu yang mulai melebur menjadi abu. Sedangkan empat yang tersisa mencoba untuk melarikan diri namun dihadang oleh Chen yang datang bersama Antolin dan Carl.


"Mau kabur, eh?" ucap Carl menyeringai. Dengan sekali tebasan, Chen dan Antolin menghabisi keempat laki-laki itu.


"Chen," seru Kai dan segera bersembunyi di balik punggung Chen. "Lucas Hyung, sangat mengerikan. Dia membakar tubuh pria itu hidup-hidup dan aku sangat takut." Chen mengusap punggung Kai dan meyakinkan padanya bila semua akan baik-baik saja.


Sementara itu Ara yang kesal dengan kemunculan Carl langsung pergi tanpa menghiraukan laki-laki berdarah China-Canada tersebut "Jia, aku duluan."


"Ara, tunggu."


"Kita pulang." ucap Lucas yang segera dibalas anggukan oleh Viona.


Antolin tersenyum dan tanpa aba-aba langsung melahap bibir Jia. Kai melihat live kiss itu langsung membelalakkan matanya dengan mulut menganga lebar. Kai segera tersadar dan segera berlari meninggalkan tempat itu.


"KKKYYYYAAA!! MEREKA MESU*."


.

__ADS_1


.


BERSAMBUNG.


__ADS_2