
Langkah Ara terhenti detik itu juga begitu pula dengan Jia dan Antolin karna kemunculan Milla. Wanita bermarga Song itu menyeringai tajam, dengan angkuh ia menghampiri ketiga mahluk abadi itu.
Kamilla melipat kedua tangannya dan meletakkan di depan dada. "Kenapa wajahmu terlihat panik? Oh, apakah kau berfikir jika aku pergi untuk menemui Lucas, dan memberi tau tentang jati diri gadis itu yang sebenarnya?" Tebak Milla 100% banar
"Hahahha! Aku sangat kasian pada kalian semua, apakah kalian sebegitu takutnya jika Lucas akan membunuh gadis Vampire itu? Ya, aku memang akan melakukannya tapi tidak hari ini. Aku akan menunggu mereka berdua saling mencintai dulu, dan aku ingin gadis itu merasakan apa yang selama ini aku rasakan."
"Bukankah dibenci orang yang kita cintai itu rasakan sangat menyakitkan? Dan aku ingin dia merasakannya juga kemudian akan menbuat gadis itu mati di tangan, Lucas,." ujar Milla dengan senyum penuh kemenangan.
"KAMILLA SONG."
"JANGAN BERTERIAK DIDEPANKU MAHLUK SIALAN." Bentak Milla pada Ara.
Brakkk!!
Tubuh Milla terhempas dan menabrak dinding karna serangan tiba-tiba yang Ara layangkan padanya. "Aku peringatkan padamu, jika kau berani membuatnya celaka maka aku tidak akan segan-segan untuk memisahkan jantung dari tubuhmu. Tertawalah sepuas yang kau bisa sebelum kau menemui mautmu." Ujar Ara dengan nada yang begitu menusuk.
"Hahahhaha!" alih-alih merasa takut. Milla malah tertawa seperti orang kesetanan. Wanita itu menyeka darah di bibirnya."Begitukah? Mahluk sepertimu bukanlah tandinganku jadi berhentilah bermimpi jika kau mampu menbunuhku." Balas Kamilla penuh penekanan, matanya menggelap dan aura membunuh pada dirinya menjadi begitu kuat.
Kai mencoba menahan dirinya untuk tidak lepas kendali, bisa saja dia menghajar Kamilla namun Kai masih memandang Ellena, Marco dan yang lainnya.
Ellena menghampiri Milla yang hanya menatap datar padanya. "Pergilah dari sini, tinggalkan tempat ini. Tempat ini tertutup untuk wanita sepertimu."
"Cuih." Kamilla meludah tepat di depan Ellena dan menatapnya tidak suka. "Kau pikir aku senang tinggal disini bersama mahluk-mahluk lemah seperti kalian. Aku memang akan pergi. Tapi jangan merasa senang dulu kau, Ellena Jung. Kartu as adikmu berada di tanganku. Cepat atau lambat aku akan membuat Lucas membunuhnya jadi siapkan mentalmu untuk kehilangan adik tercintamu itu. Aku pergi."
Gyuttt!!
Ellena menggepalkan kedua tangannya. Kata-kata Milla benar-benar membuatnya hampir kehilangan kesabaran. Bisa saja dia membunuh Kamilla detik ini juga, namun hal itu tidaklah memungkinkan dengan keadaannya yang sekarang. Ellena tidak boleh kelelahan apalagi mengeluarkan banyak sekali tenaga.
Ada kehidupan lain di dalam rahimnya yang harus ia jaga dengan baik. Pandangan Ellena bergulir pada Yohan. "Antarkan aku ke kamar." Pintanya dan segera dibalas anggukan oleh Yohan.
"Pelan-pelan saja, sebaiknya kau beristirahat dan jangan memaksakan dirimu terlalu keras." ujar Yohan menasehati. Ellena tersenyum dan mengangguk
"Tentu, suamiku."
Ara menatap kepergian pasangan suami-istri itu dengan tatapan yang sulit dijelaskan. Melihat semua orang sudah berpasangan membuatnya ingin memiliki kekasih juga, tapi masalahnya hingga detik ini Ara masih belum menemukan pilihan hatinya
"Kau melamun?" Nyaris saja gadis itu terkena serangan jantung dadakan karna tepukan pada bahunya. Sontak ia menolehkan wajahnya dan mendapati L berdiri disampingnya. Gadis itu mendengus dan menggeleng lemah.
"Apa kau merasa sakit? Atau kau ingin beristirahat?" lagi-lagi Ara menggelengkan kepala. "Lantas?"
Ara menatap L dalam, menghela nafas panjang dan menghempaskannya perlahan."Nunna, lelah sendirian saja, L. Nunna, takut jadi perawan tua. Semua sudah berpasangan dan hanya aku saja yang masih sendiri dan itu membuatku semakin merasa sulit. Aku ingin seperti Jia dan Ellena eonni yang sudah mendapatkan pasangan. Aku ingin dicintai dan dijaga seperti mereka. Aku benar-benar bosan sendirian." Ujarnya panjang lebar.
"Pffttt,, Bwahahahhaha." tawa L pun pecah seketika mendengar penuturan Ara. L tidak menyangka jika gadis seceria seperti Ara bisa curhat tentang perasaan, ternyata di balik sifatnya yang ceria Ara memiliki sisi sensitife yang mudah sekali tersentuh.
"Yakkk! Adik durhaka apa yang kau tertawakan? Memangnya ada yang lucu, aku menyesal mencurahkan isi hatiku padamu." keluh Ara marah, dengan perasaan kesal gadis itu berbalik dan berlalu begitu saja. Sementara L hanya bisa menghela nafas dan menggelengkan kepalanya melihat tingkah saudari perempuannya.
-
-
__ADS_1
Manik kiri itu tidak lepas sedikit pun dari sosok cantik yang sedang sibuk memetik bunga-bunga dibukit dekat kastil megah miliknya. Ada rasa hangat menyelimuti perasaannya melihat senyum manis yang menghiasi wajah cantik itu. Rasa asing yang tidak pernah pemuda itu rasakan sebelumnya, pada siapa pun dan gadis mana pun termasuk mantan kekasihnya.
Derap langkah kaki seseorang yang tertangkap oleh indera pendengarannya memaksa pemuda itu untuk menoleh dan mendapi seorang laki-laki yang selalu mengulum senyum ramah berjalan menghampirinya. "L?"
"Lama tidak bertemu, Lucas-ssi." sapa L kemudian berdiri di samping Lucas. L mengikuti ara pandang Lucas., senyum di bibirnya semakin mengembang lebar."Bukankah dia sangat cantik?"
"....." namun tidak ada sahutan.
L tidak merasa tersinggung sedikit pun dengan sikap dingin Lucas padanya. Lucas memang selalu menunjukkan sikap kurang bersahabat pada orang asing dan sikap itu juga ia tunjukkan diawal pertemuannya dengan Viona beberapa bulan yang lalu.
"Bagaimana kau bisa tau aku dan dia berada di tempat ini?" tanya Luhan tanpa menatap lawan bicaranya.
"Aku adalah penjaganya, jadi aku tau dimana dia berada." jawab L tanpa melunturkan senyum hangat itu dari wajah tampannya. L menepuk bahu kanan Lucas membuat pemuda itu mau tidak mau kembali menatap padanya
"Tolong jaga dan lindungi dia, aku tau aku tidak memiliki hak apapun untuk meminta hal ini padamu. Namun ketahuilah, jika dia adalah sesuatu yang lebih berharga dari sebuah berlian."
"Mungkin saat ini kau masih meragukan apapun yang kau rasakan padanya, namun percayalah jika suatu saat nanti kau akan merasakan betapa besar arti kehadirnya saat kalian saling berjauhan. Maaf, Lucas-ssi. Aku harus pergi sekarang, sampaikan salamku padanya." Dan dalam hitungan detik saja sosok L sudah hilang dari jangkauan mata Lucas.
Lucas terdiam dan mencoba mencerna apa yang baru saja L sampaikan padanya. 'Namun percayalah jika suatu saat nanti kau akan merasakan seberapa besar arti kehadirannya saat kalian saling berjauhan.' Saking terlalu larut dalam dunianya sampai-sampai Lucas tidak menyadari kedatangan seorang mahluk bersayap hitam di sana.
"LUCAS, TOLONG AKU." dan jeritan keras Stella menyadarkan Lucas dari lamunan panjangnya.
Mata kirinya membelalak melihat seorang mahluk bersayap menyambar tubuh Viona dan membawa gadis itu terbang menuju langit. "Lepaskan aku mahluk sialan, sebelum aku kehilangan kesabaranku dan membunuhmu."
"Diamlah, Putri. Aku tidak memiliki niat buruk padamu, aku hanya ingin mempersuntingmu dan menjadikanmu Ratu dalam Istanaku."
"Mahluk gila, aku tidak sudi." sinis Viona kemudian menancapkan kuku-kuku tajamnya pada dada mahluk itu.
"Dari pada aku harus menjadi istrimu, lebih baik aku mati saja." Viona mendorong dada mahluk itu yang telah berlumuran cairan hitam yang berasal dari lukanya hingga tubuhnya terlepas dari dekapan mahluk tersebut.
"Kkkkyyyyyaaaa." Akibatnya tubuh Viona melayang kebawah dengan kecepatan tinggi, namun mahluk lain segera menangkapnya sebelum tubuh itu menghantam tanah.
"Lucas?" Viona menghela nafas lega setelah mengetahui jika mahluk yang telah menyelamatkannya ternyata adalah Lucas.
"Kau tidak apa-apa?" tanya Lucas memastikan, Viona menggeleng. "Tunggulah di sini, aku akan mengurus mahluk itu." Namun langkah Lucas segera ditahan oleh Viona, gadis itu menggeleng meminta agar Lucas tidak pergi.
"Tidak perlu di kejar, Lu. Aku tidak ingin kau bertarung lagi apalagi itu hanya untuk melindungiku. Dan bisakah kita pulang sekarang?" pinta Viona memohon.
Lucas mendesah berat, dan dengan terpaksa ia menuruti permintaan Viona apalagi melihat aegyo-nya yang membuat Lucas tidak tahan untuk tidak menyentil keningnya. "Appooo!Lucas, sakit!! Yakk, kenapa malah menyentilku?" keluh Viona sambil mencerutkan bibirnya.
"Ingat umur, Viona Jung." cibir Lucas dan meninggalkan Viona begitu saja. gadis itu terkekeh pelan. Dengan segera Viona menyusul Lucas yang semakin menjauh. "Ada danau disekitar sini, kau ingin melihatnya?" tawar Lucas sambil melirik sosok cantik yang berjalan di sebelahnya.
Mendengar kata danau membuat mata Viona berbinar seketika, dengan antusias gadis itu mengangguk. "Mau, ayo cepat tunjukkan danau itu padaku. Aku ingin melihatnya." Rengek Viona sambil menggoyangkan lengan Lucas. Matanya berkedip lucu dan bibirnya sedikit terbuka membuat Viona terlihat begitu menggemaskan.
Dan setibanya di sana mata Viona langsung di manjakan oleh berbagai jenis bunga warna-warni yang cantik serta kupu-kupu yang berterbangan kesana-kemari membuat gadis itu tidak berhenti berdecak kagum. Air danau yang terlihat jernih didepan sana membuat gadis itu tidak tahan untuk tidak merasakan kesejukannya
"Lu, bagaimana jika kau temani aku berenang." Tanpa menunggu persetujuan dari Lucas terlebih dulu. Viona langsung menarik lengan pemuda itu dan membawanya masuk kedalam air.
"Yakk!! Apa yang kau lakukan?" amuk Lucas sambil memperhatikan pakaiannya yang basah karna ulah Viona. "Yakk! Berhenti, Viona Jung." Lucas meletakkan kedua lengannya di depan wajahnya saat gadis itu mencipratkan air kearahnya. Bukannya menghentikan aksi jahilnya, Viona malah tertawa tanpa dosa.
__ADS_1
"Hahahha, bukankah ini sangat menyenangkan?"
"Hentikan atau aku akan....??"
Byurrrr!
Tubuh mereka berdua sama-sama terjerambah kedalam air danau yang dangkal karma kejahilan Viona. Tubuh gadis itu berada tepat diatas tubuh Lucas. Kedua tangannya bertumpuh pada dada bidang pemuda itu yang tertutup kain kemejanya, mata mereka saling menatap dan mengunci kemudian pandangan Viona beralih pada bibir kemerahan milik Lucas.
Rona merah terlihat pada kedua pipi gadis itu saat membayangkan jika bibir itu akan menyatu dengan bibirnya.
Tukk!!
"Aduhh! Aisss, Lucas berhentilah menyentil keningku. Itu sangat menyakitkan." Jerit Viona sambil mengusap keningnya yang baru saja disentil oleh Lucas.
"Jauhkan pikiran messummu itu. Cepat naik, lihatlah tubuhmu sudah basah kuyup. Kau bisa sakit jika terlalu lama memakai pakaian basah." Nasehat Lucas dan segera naik keatas permukaan.
Lalu mengulurkan tangannya pada gadis yang sedang mencerutkan bibirnya itu. Lucas memberi kode agar gadis itu menerima uluran tangannya. Viona mendengus berat, dengan terpaksa menuruti permintaan Lucas dan menerima uluran tangannya.
"Huft, baiklah."
.
.
"Hyung, Nunna... apa yang terjadi pada kalian berdua? Kenapa bisa basah kuyub begitu?"
Lucas dan Viona yang baru saja tiba langsung disambut beberapa pertanyaan oleh Jey yang kebetulan berada di teras kastil. Angel tampan itu sedang menikmati sorenya sambil melihat video laknak yang tersimpan dimemory ponselnya.
Namun ada yang berbeda kali ini, Jey hanya sendiri saja karna tidak terlihat ada Lay bersamanya.
"Tumben hanya sendiri? Dimana saudara pikunmu itu?" tanya Viona penasaran.
"Dia sedang ada urusan, tapi aku tidak tau urusan apa."
Mengabaikan Viona dan Jey yang sedang berbincang, Lucas melenggang masuk dan meninggalkan mereka begitu saja. Sangat tidak nyaman memakai pakaian yang basah dalam waktu yang lama dan Lucas perlu mengganti pakaiannya dengan segera.
Lucas langsung masuk kedalam kamar mandi dan mulai membuka satu persatu kancing pada kemejanya dan menanggalkan kain tipis itu dari tubuh kekarnya, menyisahkan singlet putih yang menjadi dalaman kemejanya.
Lucas mematut pantulan dirinya pada cermin panjang di hadapannya dengan wajah minim ekspresi, stoic, datar.
Perlahan Lucas menarik turun benda hitam bertali yang menutup mata kanannya sejak beberapa hari yang lalu. Sebenarnya tidak ada yang salah pada mata kanan itu, mata Lucas baik-baik saja hanya saja warnanya berubah sejak Viona membagi keabadiannya.
Ternyata darah Viero gadis itulah yang telah membangkitkan kekuatan Lucas yang sebenarnya sebagai Dark Lephrica.
Keanehan mulai terjadi, sebuah pusaran angin berputar menggelilingi tubuh Lucas sesaat setelah pemuda itu membuka mata kanannya yang sebelumnya terpejam. Beberapa benda yang berada disekitarnya terangkat keudara dan masuk kedalam pusaran itu, namun pusaran angin itu tiba-tiba menghilang saat Lucas menutup kembali mata kanannya.
.
.
__ADS_1
BERSAMBUNG.