
Setelah cukup lama memisahkan diri dari teman-temannya. Jia dan Antolin kembali dengan suasana yang berbanding balik dari sebelumnya. Mereka berjalan beriringan sambil bergandengan tangan membuat sebuah tanda tanya besar muncul dibenak semua orang Ara terutama.
"Adakah yang bisa menjelaskan pada kami?" Ara menghadang langkah mereka sambil bersidekap dada. Alih-alih menjawab, Jia malah menutup wajahnya yang memerah dengan kedua tangannya.
"Aku dan, Antolin. Kami sudah jadian dan berjanji untuk saling setia." jawab Jia masih dengan menutupi wajahnya.
"Apa? Jadian? Bagaimana bisa?" pekik Chen tidak percaya. "Bukankah selama ini kalian berdua seperti kucing dan anjing, lalu bagaimana bisa tiba-tiba kalian malah pacaran?" lanjutnya penuh keheranan.
Antolin merangkul bahu Jia dan tersenyum."Tentu saja bisalah. Buktinya sekarang si cantik, Jia sudah resmi menjadi kekasihku." jawabnya malu-malu.
Sementara itu. Ellena dan L hanya bisa menghela nafas, semoga bukan bencana jika mereka menjadi pasangan kekasih. Bukan apa-apa, hanya saja mengingat jika Antolin seorang playboy kelas kakap dan memiliki sifat mesum akut yang tidak bisa dibantahkan. Namun hanya satu yang L harapkan, Antolin bisa membahagiakan Jia tanpa melukai perasaannya
"Kisah cinta kalian pasti akan menjadi sejarah, karena baru kali ini seorang Delf memadu cinta dengan seorang Nephilim. Sama halnya dengan kisah abadi yang akan menjadi legenda sepanjang masa. Kisah cinta antara, Dark Lephrica, dan seorang, Va-" Yohan tidak melanjutkan ucapannya setelah melihat tatapan Ellen yang seolah berkata
'Cukup, Suamiku. Jika kau mengungkapkan sekarang sama artinya dengan kau mengantarkan kematian untuk Viona.'
Kamilla yang baru saja tiba memicingkan matanya mendengar kalimat yang baru saja dilontarkan oleh Yohan. "Va? Apa maksudmu? Mungkinkah Vampire? Sebenarnya rahasia apa yang sedang kalian sembunyikan dari kami dari para Hunter?" tanya Milla dengan nada meremehkan. Dan Jieun langsung mendapatkan delikan tajam dari Carl.
"Jaga bicaramu, Kamilla Song." geram Carl sambil melirik tajam Milla.
"Jaga bicara bagaimana, Huh? Memangnya apa yang salah dengan ucapanku? Jika memang salah, lalu di mana letak kesalahannya? Aku hanya bertanya," jawab Milla santai.
Rasanya Kai dan Tao ingin merobek mulut Milla yang tidak memiliki sopan santun itu, dengan emosi dan menahan rasa malu ."Kemari kau." dengan emosi Kai menarik wanita itu dan membanya meninggalkan ruangan.
Di sisi lain, ketiga Hunter itu merasa lega karna Lucas tidak ada di sana , mereka tidak tau bagaimana nasib Milla bila Lucas sampai mengetahuinya. Dan mereka benar-benar merasa tidak enak pada para mahluk abadi itu.
-
-
Malam semakin larut. Namun Ellena masih belum juga bisa menutup matanya. Wanita itu berdiri di balkon kastil hanya bertemakan keheningan, wajahnya mendongak... menatap langit malam bertabur bintang.
Waktu telah menunjukkan pukul 11 malam, namun mata Ellena masih juga enggan untuk dipinjamkan Banyak sekali hal yang mengganjal di hati dan pikirannya. Dan semua itu tentang adik tercintanya 'Viona'
__ADS_1
Pukk!!
Ellena menoleh saat merasakan sesuatu yang hangat jatuh di atas bahunya, senyum hangat menyambut kedatangan sang suami. "Hampir tengah malam, apa yang kau lakukan di sini?" tegur Yohan sambil mengeratkan mantel itu pada tubuh Ellena. "Kau tau? Aku panik karena tidak menemukanmu di mana pun." lanjutnya.
Ellena menatap suaminya itu dengan sendu."Maaf, Sayang. Sudah membuatmu cemas, aku tidak bisa tidur. Terlalu banyak hal yang aku pikirkan."
"Apa kau memikirkan Viona dan pemuda itu?" tebak Yohan 100% benar.
Ellena menarik nafas panjang dan menghelanya. Memang tidak ada hal yang bisa mengganggu pikirannya dan membuatnya cemas sepanjang waktu kecuali itu berhubungan dengan Viona.
Terlalu berat beban yang ditanggung oleh gadis itu. Keabadian yang mengalir dalam darahnya membuat dia menjadi incaran banyak mahluk abadi, termasuk dari klannya sendiri. Semua berlomba-lomba untuk memburunya demi keabadian yang Viona miliki. Meskipun banyak yang melindunginya, namun tetap saja Ellena merasa cemas apalagi saat ini Viona berada jauh darinya.
Ellena belum bisa mempercayai Lucas sepenuhnya, meskipun L pernah mengatakan jika pemuda itulah orang yang akan menjadi takdir Viona kelak. Terlebih lagi jika pemuda itu adalah seorang Hunter dan Ellena tidak tau tragedi seperti apa yang akan menimpanya jika Lucas sampai mengetahui jati diri Viona yang sebenarnya.
"Aku benar-benar mencemaskannya. Bagaimana jika pemuda itu sampai mengetahui tentang jati diri Viona yang sebenarnya? Aku takut dia akan membunuhnya setelah tau bila adikku adalah seorang vampire. Aku takut, Suamiku. Aku benar-benar takut." ujarnya panjang. Yohan mendesah berat, diraihnya bahu Ellena dan membawa wanita itu kedalam pelukannya.
"Kita hanya bisa berdoa dan berharap tidak ada hal buruk sampai menimpanya dan tidak ada yang bisa kita lakukan karna takdir sendiri yang menunjuk pemuda itu sebagai pasangannya." Yohan mengusap punggung Ellena dengan gerakan naik-turun, mencoba memberikan ketenangan pada wanita itu.
"Dan sampai kapan pun, tidak akan ada yang bisa merubah takdir ini." Sahat L menimpali.
"Lalu apa yang kau lihat dalam takdir mereka ,L?" tanya Yohan penasaran. Lu menghela nafas dan menatap Yohan sejenak, sorot matanya berubah sendu.
"Tragedi."
Ellena memicingkan matanya menatap L penuh tanya. "Tragedi?" L mengangguk.
"Apa maksudmu, L?"
"Kisah mereka baru saja di mulai, Nona. Sebuah tragedi mengerikan akan menjadi langkah awal untuk menguji kekuatan cinta mereka. Namun tragedi itu pula yang akhirnya akan mengikat jiwa mereka menjadi satu kesatuan yang tidak mungkin dapat dipisahkan, meskipun kekecewaan akan hadir di hati pemuda itu untuk Viona yang menjadi awal tragedi itu terjadi."
"Namun percayalah, karna pada akhirnya cinta mereka akan bersatu dan tidak bisa diretaskan lagi. Bahkan maut sekalipun. Dan kisah cinta mereka akan menjadi sebuah legenda." Tutur L panjang lebar.
Tubuh Ellena terhuyung kebelakang setelah mendengar penuturan L wanita itu mendongakkan wajahnya dan menatap L dengan pandangan tidak percaya
__ADS_1
"Apakah itu artinya dia akan mengetahui jati diri Viona yang sebenarnya? Dan tragedi yang kau maksud? Mungkinkah ada hubungannya dengan hal itu? Mungkinkah hidup, Viona akan berakhir di tangan pemuda itu?" L menggeleng
"Cepat atau lambat dia pasti akan tau. Dan membunuh Viona sama saja dengan bunuh diri. Dia tidak mungkin sanggup untuk melakukannya, bahkan sebesar apapun benci dan kecewa yang dia miliki padanya."
"Apakah tragedi itu benar-benar tidak bisa dicegah, L?" L menatap Yohan lalu menggeleng.
Yohan melirik Ellena yang berdiri disampingnya. Dia tidak tau seberapa hancur hati Ellena setelah mendengar ucapan L. Yohan memahami apa yang di rasakan oleh Ellena saat ini. Sama halnya Ellena, dia pun merasa cemas.
Sementara itu. Tanpa mereka bertiga sadari, seseorang tengah menguping dan mendengarkan semua yang mereka bicarakan. Seringai tajam terlukis dibibir dengan polesan lipstik merah itu, sorot matanya sarat akan kemenangan.
"Oh, jadi gadis sialan itu adalah seorang Vampire? Bagus, akhirnya aku memiliki senjata untuk menghancurkannya." gumamnya.
Orang itu kembali memasang baik-baik indera pendengarannya ,dia tidak ingin melewatkan apapun dari apa yang mereka bahas.
"Tragedi itu akan tetap terjadi. Tidak ada satupun dari kita yang bisa mencegahnya, itulah yang tertulis dalam suratan takdir. Karena pada akhirnya, kekuatan cinta merekalah yang akan bertahta. Mereka terlahir untuk saling melengkapi dan ditakdirkan bersama, dan tidak ada yang bisa merubahnya. Bahkan Dewa sekalipun."
Darah dalam tubuh orang itu mendidih mendengar ucapan L, api cemburu dalam hatinya berkobar dan siap untuk membakar apa pun yang berada didekatkan. Kedua tangannya terkepal kuat, mata hitamnya semakin menggelap
"Kalian pikir aku akan membiarkannya, akulah yang akan merubah takdir mereka. Aku akan melakukan segala cara untuk memisahkan mereka berdua karna Lucas hanya milikku! Milikku!"
"Memangnya takdir siapa yang akan kau ubah, Kamilla Song?" Tegur seseorang dari arah belakang.
Deggg!!!
Milla tersentak mendengar suara datar seorang pria masuk kedalam indera pendengarannya. Sontak ia menoleh dan mendapati Kai tengah bersandar pada tembok sambil melipat kedua tangannya, sorot matanya tajam penuh intimidasi
"Ka-Kai?" pekiknya kaget.
Tidak ingin di curigai, Milla segera meninggalkan tempat itu termasuk Kai. Dan Kai yang malas berdebat dengan wanita itu memilih untuk kembali ke kamarnya, namun Kai tidak akan membiarkan Milla melakukan apapun yang merugikan orang lain. Kai akan mengawasi wanita itu dan memastikan jika dia tidak akan menimbulkan masalah.
-
-
__ADS_1
Bersambung.