
"Apa kabar, Dark Lephrica. Lama sekali tidak bertemu."
"Masih hidup kau rupanya, aku pikir kau sudah mati di tangan para sekutumu itu." Sinis Lucas namun terlihat tenang.
"HAHAHAHHA! Mati kau bilang? Aku ini abadi jadi aku tidak akan mati semudah itu, dan aku datang untuk menuntaskan dendam lama diantara kita." tuturnya.
"Baiklah, jika itu yang kau inginkan. Aku akan meladenimu."
Adu fisik antara Lucas dan Iblis itu pun tidak dapat terelakkan lagi. Mereka bertarung karena dendam masa lalu, Lucas tidak menyangka jika kekuatan salah satu musuh bebuyutannya itu berkembang cukup pesat. Ia akui jika kemampuan laki-laki itu saat ini lebih hebat dari yang terakhir yang dia ingat.
Mahluk itu terus memberikan serangan bertubi-tubi pada Lucas, Dark Lephrica itu masih belum melakukan serangan apapun hanya berusaha menghindari setiap serangan yang mengarah padanya. Lucas membaca serangan lawannya sebelum akhirnya membalas serangannya dengan telak
"Dark Lephrica, dimana kekuatanmu yang selangit itu? Apakah ini saja kekuatanmu? Ayo kerahkan semuanya dan kalahkan aku jika kau memang hebat."
Lucas menyeringai tajam, Dark Lephrica itu melepas anting yang menjadi segel kekuatannya. Dan inilah saatnya pembalasan. Lucas akan memberi pelajaran pada mahluk itu karena telah meremehkan dirinya.
"Aku akan membungkam kesombonganmu itu, Darco Hong." ucap Lucas dengan seringai tajam andalannya.
Sebuah cahaya hitam kemerahan muncul dari telapak tangan Lucas. Dark Lephrica itu kembali menyeringai, ia lemparkan bola cahaya itu pada Darco, mata hitam laki-laki itu membelalak.
Brakkk!!!
Tubuhnya menghantak pepohonan sebelum akhirnya berakhir di tanah. Darco memuntahkan darah dari dalam mulutnya, serangan Lucas terlalu cepat hingga Darco tak memiliki kesempatan untuk menghindar. Lucas menghampiri laki-laki itu dan berlutut didepannya, menjadikan salah satu lututnya sebagai tumpuan lengannya sedangkan kaki yang satu lagi ia tekuk kebelakang.
"Berhentilah menjadi mahluk yang sombong dan tamak, Darco Hong. Jadi terimalah kekalahanmu." Lucas bangkit dari posisinya dan melangkah pergi. Namun tanpa dia sadari, Darco memgeluarkan senjata dari balik pakaian yang dia pakai dan....
Jlesss..!! "Aaaahhh." rintihan keluar dari sudut bibir Lucas setelah sebuah belati kecil menusuk lengan kiri atasnya. Darah mengalir dari luka itu, dengan mengabaikan rasa sakit yang luar biasa... Lucas menutup matanya."Aaahhh." Dia segera mencabut belati itu dan membuangnya ketanah.
"Kita akan bertemu kembali, Xiao Lucas." ucap Darco sebelum akhirnya sosoknya menghilang di balik kabut hitam.
Lucas menekan lengannya dan segera kembali ke kastil. Sesekali ia meringis karena rasa sakit dan perih pada lengan kirinya.
BRAKKK!!!
__ADS_1
Dobrakan keras pada pintu mengejutkan Viona yang berada di taman belakang. Gadis itu beranjak dan berlari menuju sumber suara itu berasal. Mata Viona membelalak sempurna melihat Lucas pulang dalam keadaan terluka.
"Lucas." Viona memegangi lengan Lucas dan membantunya untuk duduk di sofa ruang keluarga. "Bagaimana kau bisa terluka seperti ini?" Dia mengangkat wajahnya dan menatap Lucas cemas.
"Aku bertarung dengan musuh lamaku, dia berhasil melukaiku di saat aku sedang lengah." Terang Lucas. "Apa yang kau lakukan?" Lucas menarik lengan Viona dengan refleks saat gadis itu tiba-tiba saja menggigit ujung jarinya sendiri.
Lucas menutup matanya rapat-rapat saat mencium aroma darah yang keluar dari ujung jari Viona. Begitu harum dan segar, tidak pernah Lucas mencium aroma darah seharum darah Viona. Hampir saja Lucas tergoda dengan darah itu namun dia masih bisa menahannya.
"Apa kau sadar jika yang kau lakukan ini bisa memancing kedatangan mereka." ujar Lucas sambil menatap gadis itu tajam.
"Aku tau, tapi darah ini bisa menyembuhkan lukamu dengan cepat. Jadi hisaplah." mohon Viona. Lucas mendorong tangan gadis itu dan segera menutup luka itu dengan saputangan miliknya. "Lucas-ssi kenapa? Aku hanya ingin membantumu."
"Dengar Nona. Apa kau tidak sadar dengan yang kau lakukan ini? Jika darahmu sampai masuk kedalam tubuhku itu artinya kita-"
"Aku tau dan aku sangat sadar dengan apa yang aku lakukan. Aku mempercayaimu dan aku ingin membagi keabadian ini denganmu." Viona menyela cepat.
"Dan aku tidak ingin memiliki keterikatan apapun dengan seorang pun termasuk dirimu."
"Apakah yang aku lakukan ini salah?"
BRAKKK!!
Kembali, dobrakan keras pada pintu mengalihkan perhatian Viona, gadis itu menoleh dan mendapati dua pemuda masuk sambil membawa berbagai jenis buah dalam pelukan mereka. "Halo Nunna." sapa kedua angel bersaudara itu pada Viona.
"Kami membawakan banyak buah-buahan untukmu, kau pasti lapar." ucap Lay lalu meletakkan buah-buahan itu di atas meja.
"Dimana Lucas Hyung?" tanya Jey karena tidak melihat keberadaan pemuda itu.
"Dia ada di kamarnya." balas Viona tersenyum.
"Nunna, jangan merasa sungkan. Ayo di makan, ini masih sangat segar karena kami baru saja memetiknya. Oya, perkenalkan namaku Lay, dan si Mesum ini namanya Jimin dan kau bisa memanggilnya Jey. Jangan tertipu dengan tampang polosnya, dia itu mesum akut, hahahha." cerocos Lay tanpa jeda.
Plakk!!
__ADS_1
Dengan kesal Jey memukul kepala Lay dan membuat pria itu memekik saking kesalnya."Yakkk!! Berhenti memukulku, Jey. Apa kau mau membuatku menjadi semakin pikun. Dasar Angel mesum."
"Bodoh amat." Jey menjulurkan lidahnya kemudian duduk disamping Viona.
Kedua laki-laki tampan itu mengapit Viona dari sisi kiri dan kanan. Sementara itu, sosok laki-laki dalam balutan pakaian serba hitam-nya berdiri di lantai dua kastilnya sambil menatap kebersamaan mereka dengan pandangan tidak terbaca. Pemuda itu beranjak dan kembali ke kamarnya
"Nunna, kau mau kemana?" tanya Jey melihat Viona bangkit dari duduknya.
"Aku akan mengantarkan buah-buahan ini untuk Lucas, dia juga pasti merasa lapar."
Tokk Tokk Tokk!!
Lucas melirik sekilas kearah pintu yang di ketuk dari luar, tidak ada keinginan untuk pemuda itu beranjak dan meninggalkan tempatnya.
Tokk Tokk Tokk!!
Ketukan kembali terdengar. Lucas mendengus dan berjalan menuju pintu lalu membukanya
"Ada apa?"
"Aku membawakan buah-buahan untukmu. Kau pasti merasa lapar." ujarnya, lalu pandangannya bergulir pada lengan kiri Lucas
Viona melepas kain yang dia gunakan untuk mengikat rambutnya kemudian maju dua langkah menghampiri Lucas. Lucas memperhatikan wajah gadis itu yang sedang serius mengikat luka di lengannya.
Ada desiran aneh yang ia rasakan saat melihat senyum yang tersungging di bibir gadis itu. "Begini jauh lebih baik. Aku akan meletakkan buah-buahan ini di atas meja dan jangan lupa memakannya. Aku permisi." ucap Viona dan berlalu. Lucas menutup matanya dan menghela nafas panjang.
"Sebenarnya apa artinya pertemuan ini?"
-
-
Bersambung.
__ADS_1